parameter spesifik

Top PDF parameter spesifik:

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 70% Daun Fraxinus griffithii Clarke Hasil Maserasi Kinetik - Ubaya Repository

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 70% Daun Fraxinus griffithii Clarke Hasil Maserasi Kinetik - Ubaya Repository

Telah dilakukan penentuan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol 70% daun Fraxinus griffithii Clarke. Parameter spesifik yang ditentukan meliputi pola kromatogram dengan KLT-densitometer dan pola kromatogram dengan KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi), sedangkan penentuan parameter non spesifik meliputi susut pengeringan, kadar abu total dan cemaran mikroba dengan ALT (Angka Lempeng Total). Dari hasil penentuan diatas, dapat disimpulkan susut pengeringan sebesar 15,08 ± 0,60%, kadar abu total 4,23 ± 0,05%, dan cemaran mikroba < 1 x 10 -1 CFU. Pola kromatogram KLT-densitometer menunjukkan adanya empat puncak dengan Rf 0,05; 0,43; 0,73 dan 0,90 dengan area masing-masing 43,58%; 40,06%; 3,50% dan 12,86%. Pola kromatogram KCKT menunjukkan adanya lima puncak utama (area) 5% pada waktu retensi 15,460; 20,320; 33,657; 37,683 dan 42,080 menit dengan area masing-masing sebesar 8,92%, 19,71%, 23,12%, 6,54% dan 10,43%.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 96% Daun Tiken (Fraxinus griffithii Clarke) yang diBuat Secara Perkolasi - Ubaya Repository

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 96% Daun Tiken (Fraxinus griffithii Clarke) yang diBuat Secara Perkolasi - Ubaya Repository

Telah dilakukan penelitian untuk menentukan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol 96% daun tiken (Fraxinus griffithii Clarke) yang dibuat secara perkolasi. Serangkaian proses ekstraksi dimulai dari penyerbukan simplisia sampai dengan proses pemekatan, dilakukan untuk mendapatkan ekstrak kental dari daun Fraxinus griffithii Clarke. Ekstrak kental tersebut kemudian ditetapkan parameter spesifik meliputi susut pengeringan, kadar abu dan cemaran mikroba dan non spesifik nya yang meliputi penetapan profil KLT-Densitometri dan profil KCKT. Dari hasil studi didapatkan hasil susut pengeringan (15,99+0,84) %, kadar abu total sebesar (1,11+0,28)%, dan dari penentuan Angka Lempeng Total tidak ditemukan adanya cemaran mikroba. Selanjutnya profil KLT-Densitometri menunjukkan 4 puncak dan 21 puncak pada profil HPLC. Hasil penentuan parameter spesifik dan non spesifik ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan dan untuk memberikan informasi kepada pemerintah dalam rangka pembuatan parameter umum standard ekstrak dan juga bagi masyarakat industri dalam mengembangkan industri obat herbal.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 96 % Korteks Tiken (Fraxinus griffithii Clarke) Hasil Maserasi Kinetik - Ubaya Repository

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 96 % Korteks Tiken (Fraxinus griffithii Clarke) Hasil Maserasi Kinetik - Ubaya Repository

Telah dilakukan penelitian untuk menentukan parameter spesifik dan non spesifik dari ekstrak etanol 96% korteks tikèn (Fraxinus griffithii Clarke) hasil maserasi kinetik. Parameter spesifik yang ditetapkan meliputi profil KLT- densitometri dan profil KCKT. Sedangkan parameter non spesifik meliputi penetapan susut pengeringan, kadar abu total, dan cemaran mikroba. Sebelum digunakan, korteks tikèn dicuci dan dikeringkan di bawah sinar matahari secara tidak langsung kemudian di hancurkan menjadi serbuk halus. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan etanol 96%. Filtrat yang didapat kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator dan diuapkan di waterbath pada suhu 60°C sampai diperoleh ekstrak kental. Hasil penelitian menujukkan bahwa ekstrak memiliki susut pengeringan 15,48% ± 0,15, kadar abu total 0,64% ± 0,17, dan tidak ada cemaran mikroba menurut hasil uji Angka Lempeng Total. Profil KLT-densitometri menunjukkan 5 puncak dan profil KCKT menunjukkan 19 puncak.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 96% Ranting Tiken (Fraxinus griffithii Clarke) hasil Maserasi Kinetik - Ubaya Repository

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 96% Ranting Tiken (Fraxinus griffithii Clarke) hasil Maserasi Kinetik - Ubaya Repository

Telah dilakukan penelitian untuk menentukan parameter spesifik dan non spesifik dari ekstrak etanol 96% ranting tikèn (Fraxinus griffithii Clarke) hasil maserasi kinetik. Parameter spesifik yang ditetapkan meliputi profil KLT- densitometri dan KCKT. Sedangkan parameter non spesifik meliputi penetapan susut pengeringan, kadar abu total dan cemaran mikroba. Sebelum digunakan, ranting tikèn dicuci dan dikeringkan menjadi serbuk halus. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan etanol 96%. Filtrat yang didapat kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator dan diuapkan di waterbath pada suhu 60 o C sampai diperoleh ekstrak kental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak memiliki susut pengeringan (15,25% ± 0,67), kadar abu total (3,23% ± 0,25), dan tidak ada cemaran mikroba menurut hasil uji Angka Lempeng Total. Profil KLT-densitometri menunjukkan 2 puncak dan profil KCKT menunjukkan 16 puncak.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 50% Daun Fraxinus griffithii Clarke hasil Maserasi Kinetik - Ubaya Repository

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 50% Daun Fraxinus griffithii Clarke hasil Maserasi Kinetik - Ubaya Repository

Telah dilakukan penelitian tentang parameter spesifik dan non spesifik dari ekstrak daun tikèn (Fraxinus griffithii Clarke) yang berasal dari desa pancur. Pembuatan serbuk daun dilakukan setelah dikeringkan dengan sinar matahari secara tidak langsung. Daun tikèn (Fraxinus griffithii Clarke) diekstrak menggunakan metode maserasi kinetik dan cairan pelarut etanol 50%. Ekstrak diuapkan dengan waterbath sampai diperoleh ekstrak kental. Kemudian dilakukan penetapan susut pengeringan, kadar abu total, cemaran mikroba, profil dari KLT-Densitometri dan KCKT. Hasil penelitian menunjukan susut pengeringan didapat (15,14±0,47)%, kadar abu total didapat (6,53±0,30)%, angka lempeng total tidak ditemukan pertumbuhan mikroba, profil KLT-Densitometer didapatkan tiga puncak dan profil KCKT didapatkan 18 puncak.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 96% hasil Refluks Daun Tiken (Fraxinus griffithii Clarke) - Ubaya Repository

Penentuan Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Etanol 96% hasil Refluks Daun Tiken (Fraxinus griffithii Clarke) - Ubaya Repository

Untuk mengontrol kualitas ekstrak, proses standardisasi harus dilakukan; yang dimulai dengan penentuan parameter spesifik dan non-spesifik dari ekstrak. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan parameter spesifik dan non-spesifik dari ekstrak etanol 96% hasil refluks daun tiken (Fraxinus griffithii Clarke). Serbuk daun Fraxinus griffithii Clarke direfluks dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak dipekatkan menggunakan rotary vacuum evaporator, kemudian diuapkan di atas waterbath sampai diperoleh ekstrak kental. Parameter-parameter yang ditentukan adalah susut pengeringan, kadar abu total, cemaran bakteri, profil KLT-Densitometri, serta profil KCKT. Hasil penelitian menunjukkan susut pengeringan (11,35 ± 0,18)%, kadar abu (2,00 ± 0,16)%, ALT cemaran bakteri <1 × 10 -1* CFU. Profil KLT-Densitometri dengan fase diam silika gel GF 254 dan fase gerak kloroform:metanol (5:2) menunjukkan adanya tiga puncak spesifik, dengan harga Rf masing-masing 0,55; 0,77; dan 0,91 dengan area masing-masing 27,88%; 7,85%; dan 15,96%. Profil KCKT dengan kolom Lichrospher RP-18 dan fase gerak pump A air dan asam asetat (0.15%), pump B metanol dan asam asetat (0.15%) menunjukkan adanya lima puncak utama, dengan waktu retensi 15,277; 31,870; 33,613; 42,070; dan 42,880 menit dengan area masing-masing sebesar 9,18%; 5,74%; 20,94%; 27,70%; dan 8,35%.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

FAK RSITAS MU P SIA DAN ST S (Garcinia

FAK RSITAS MU P SIA DAN ST S (Garcinia

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data karakter simplisia dan parameter standar ekstrak kulit manggis.Hasil pengujian parameter spesifik didapatkan ekstrak berwarna cokelat kekuningan, bau khas, rasa pahit, bentuk ekstrak kental, uji kandungan senyawa yang terlarut dalam air 7,43%±0,768% dan dalam etanol 9,842%±0,363%. Hasil pengujian parameter non spesifik kadar abu 7,147%±0,106%, kadar air 2,633%±1,431%. Pada uji cemaran logam berat didapatkan logam timbal 0 g/kg, cadmium 0,29 mg/kg, arsen 28,51 µg/kg. Kadar arsen tidak memenuhi persyaratan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk data karakter simplisia dan standar ekstrak kulit manggis.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

STANDARISASI SIMPLISIA KERING DAUN BELUNTAS (Pluchea indica L.) DARI TIGA DAERAH BERBEDA

STANDARISASI SIMPLISIA KERING DAUN BELUNTAS (Pluchea indica L.) DARI TIGA DAERAH BERBEDA

Beluntas (Pluchea indica L.) biasa digunakan sebagai tanaman pagar dan secara tradisional daunnya digunakan sebagai lalapan atau obat untuk menghilangkan bau badan, obat penurun panas, obat batuk, dan obat antidiare. Seiring dengan meningkatnya teknologi bahan alam dan kecenderungan masyarakat dalam penggunaan produk yang berasal dari bahan alam terutama tumbuhan obat. Maka, diperlukan adanya suatu acuan yang memuat persyaratan mutu bahan alam yang sesuai digunakan sebagai bahan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan profil standarisasi spesifik dan non spesifik dari simplisia kering daun beluntas. Standarisasi daun beluntas yang meliputi parameter spesifik dan parameter non spesifik, karakterisasi terhadap ciri-ciri mikroskopik daun beluntas (Pluchea indica L.), karakterisasi kandungan senyawa metabolit sekunder menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT), Penetapan profil spektrum dengan menggunakan spektrofotometer Infrared (IR), dan penetapan kadar senyawa metabolit sekunder dengan spektrofotometri. Data yang diperoleh merupakan data deskriptif yang mencerminkan perolehan data dari 3 lokasi yang berbeda. Didapatkan hasil pengamatan mikroskopik simplisia daun beluntas mempunyai berkas pembuluh dengan penebalan spiral, stomata tipe anomositik, rambut penutup. persentase kadar sari larut etanol ≥ 5%, kadar sari larut air ≥ 26%, Hasil pengamatan skrining fitokimia hasil positif pada pengamatan alkaloid, flavonoid, fenol, steroid dan terpen. Kadar abu total < 16 %, kadar abu larut air < 10 %, kadar abu tidak larut asam < 8 %, susut pengeringan < 12 %, persen bahan asing < 4 %, pH 5.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

TAP.COM -   VALUE ENGINEERING BANGUNAN RUSUNAWA PROTOTYPE 5 LANTAI TYPE 36 ... 3060 6784 1 PB

TAP.COM - VALUE ENGINEERING BANGUNAN RUSUNAWA PROTOTYPE 5 LANTAI TYPE 36 ... 3060 6784 1 PB

Bahan simplisia yang digunakan dikarakterisasi terlebih dahulu dengan melakukan penetapan parameter standar simplisia dan penapisan fitokimia. Penetapan parameter standar simplisia terdiri dari parameter spesifik (organoleptik, pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik, penetapan kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol) serta parameter non spesifik (susut pengeringan, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, dan kadar air). Penapisan fitokimia dilakukan terhadap senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, steroid/triterpenoid, kuinon, senyawa polifenolat, dan monoterpen/seskuiterpen.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PENETAPAN BEBERAPA PARAMETER STANDARISASI DARI EKSTRAK HERBA TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.).

PENDAHULUAN PENETAPAN BEBERAPA PARAMETER STANDARISASI DARI EKSTRAK HERBA TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.).

Saintifikasi jamu yang akan dilakukan pada jamu di Indonesia mengharuskan bahan untuk pembuatan jamu yang berupa ekstrak maupun simplisia harus dilakukan uji praklinisnya dan standardisasinya untuk memperoleh bahan obat alam yang bermutu. Bahan baku obat yang berasal dari lahan pertanian maupun dari tanaman liar kandungan bahan kimanya tidak dapat dijamin selalu konstan karena adanya berbagai variabel yang dapat mempengaruhi jumlah dan kandungan bahan kimia dari tanaman tersebut (Anonim, 2000). Selain itu kandungan senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis harus mempunyai spesifikasi kimia. Oleh karena itu dilakukan penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak untuk menjamin mutu dan kualitas suatu produk obat tradisional.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

STANDARDISASI EKSTRAK METANOL KULIT KAYU KLUWIH (Artocarpus communis J.R. & G.).

STANDARDISASI EKSTRAK METANOL KULIT KAYU KLUWIH (Artocarpus communis J.R. & G.).

Telah banyak dilakukan penelitian mengenai efek dari kluwih, diantaranya adalah efek sebagai antimalaria, menghambat biosintesis tirosin dan melanin dan 5α -reduktase, serta memiliki efek sitotoksik kuat terhadap 11 jenis sel tumor secara in vitro. Sebagai upaya pengembangan ekstrak kulit kayu kluwih menjadi obat terstandar yang memenuhi persyaratan obat herbal terstandar, maka perlu dilakukan standardisasi ekstrak metanol kulit kayu kluwih. Pada penelitian ini dilakukan standardisasi ekstrak metanol kulit kayu kluwih yang meliputi parameter spesifik dan parameter non spesifik ekstrak.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Standarisasi tanaman segar dan simplisia kering herba kemangi (ocimum basilicum var. album) dari tiga daerah berbeda - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Standarisasi tanaman segar dan simplisia kering herba kemangi (ocimum basilicum var. album) dari tiga daerah berbeda - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Pada penelitian ini standarisasi yang dilakukan meliputi standarisasi parameter spesifik dan non spesifik dari simplisia kering herba kemangi. Parameter spesifik yang dilakukan meliputi uji organoleptis, identitas, mikroskopis, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, skrining fitokimia, profil kromatogram dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis, profil spektrum dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis, profil spektrum dengan menggunakan spektrofotometer Infrared spectroscopy (IR) dan penetapan kadar. Parameter non spesifik yang dilakukan meliputi susut pengeringan, kadar abu total, kadar abu larut air, kadar abu tak larut asam, penetapan bahan organik asing, dan pengecekan pH.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENETAPAN PARAMETER STANDAR HERBA SASALADAAN (Peperomia pellucida (L.) KUNTH.).

PENETAPAN PARAMETER STANDAR HERBA SASALADAAN (Peperomia pellucida (L.) KUNTH.).

Sasaladaan ( Peperomia pellucida (L.) Kunth) merupakan salah satu tanaman obat yang telah dimanfaatkan penggunaannya sejak dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai parameter standarisasi dari ekstrak herba yang terdiri daripada paramater spesifik, non spesifik dan uji kandungan kimia. Hasil penetapan parameter spesifik yang didapati adalah kadar sari larut air sebesar 18,33% dan kadar sari larut etanol sebesar 16,64% dan penetapan non spesifik adalah kadar air sebesar 9,33%, kadar abu total sebesar 16,67%, kadar abu tidak larut asam sebesar 4,00%, susut pengeringan sebesar 11,67% dan bobot jenis sebesar 0,95. Hasil pemeriksaan mikroskopik menunjukkan adanya stomata tipe anomisitik, epidermis, parenkim, xilem, floem, sel minyak, berkas pembuluh tipe spiral, kristal kalsium oksalat dan trachea dalam herba Sasaladaan (P. pellucida). Hasil penapisan fitokimia menunjukkan adanya senyawa golongan flavanoid, tanin, saponin, steroid, monoterpen dan sesquiterpen. Pada kromatografi lapis tipis terdeteksi 11 bercak dari ekstrak Sasaladaan (P. pellucida) dengan pengembang metilen klorida (MTC) : metanol (98:2). Uji kandungan mineral ekstrak Sasaladaan (P. pellucida) menunjukkan adanya kandungan kimia natrium, magnesium, kalsium, kalium dan ferum berturut-turut sebesar 8,87%; 2,18%; 0,05%; 8,93% dan 0,02%.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

SAVITRI ARISTANTI nenenx pymail

SAVITRI ARISTANTI nenenx pymail

Untuk membuat simplisia dapat dilakukan beberapa tahapan proses yaitu Pengumpulan bahan baku, Sortasi basah, Pencucian, Penirisan/pengeringan, Perajangan, Pengeringan, Sortasi kering, Pengemasan, Penyimpanan. Parameter non spesifik meliputi uji kadar air, kadar abu, residu pestisida, cemaran mikroba, dan cemaran logam berat. Parameter spesifik meliputi uji identitas, organoleptis, dan kandungan kimia ekstrak. Uji cemaran mikroba dan uji terhadap mikroba patogen sebagai salah satu parameter non spesifik mempersyaratkan bahwa tidak boleh ada kandungan mikroba pathogen seperti Staphylococcus aureus, Vibrio cholera, dan Pseudomonas aeruginosa pada simplisia yang terstandar.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Dissemination pattern of landslide spot and the relevance with Biogeophysical Factors of Land (Case Study in Garut Regency, West Java, Indonesia)

Dissemination pattern of landslide spot and the relevance with Biogeophysical Factors of Land (Case Study in Garut Regency, West Java, Indonesia)

Bencana longsor merupakan fenomena alam yang sering terjadi di Indonesia. Longsor adalah proses perpindahan material pembentuk lereng, berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran yang bergerak menuju ke lereng bawah akibat adanya gaya gravitasi. Di Jawa, Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten yang sering mengalami bencana longsor, oleh karena itu dipilih sebagai daerah penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) memetakan titik longsor di Kabupaten Garut, (2) menganalisis penyebab longsor di Kabupaten Garut, (3) memetakan daerah bahaya longsor di Kabupaten Garut, dan (4) memetakan daerah resiko longsor di Kabupaten Garut. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian ini adalah kerja lapangan untuk menemukan dan memetakan titik-titik longsor di lapangan, kemudian hasilnya dibandingkan dengan persebaran spasial dari masing-masing parameter penentu longsor (lereng, elevasi, formasi geologi, jenis tanah, curah hujan, penggunaan lahan), dan melalui analisis spasial tumpang tindih sistem informasi geografis (SIG) dilakukan analisis untuk mengetahui penyebab longsor yang utama di daerah penelitian. Analisis bahaya dan resiko longsor dilakukan dengan metode skoring dengan formula penjumlahan dari masing-masing skor parameter untuk mengetahui kelas bahaya dan resiko. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah ditemukan sebanyak 43 titik longsor yang tersebar di daerah penelitian, terutama banyak terdapat di wilayah Selatan Kabupaten Garut yang mempunyai topografi berbukit dan bergunung. Dalam hal ini kemiringan lereng dan curah hujan merupakan parameter yang paling utama sebagai penyebab terjadinya longsor di daerah penelitian. Berkaitan dengan hal itu, maka wilayah yang mempunyai tingkat bahaya longsor tinggi banyak tersebar di wilayah Selatan Kabupaten Garut. Persentase kelas bahaya longsor yang diperoleh adalah 0,1 % dari luas total daerah penelitian mempunyai kelas bahaya sangat tinggi, 33,5 % kelas bahaya tinggi, 42,1 % kelas bahaya sedang, 19 % kelas bahaya rendah, dan 5,3 % kelas bahaya sangat rendah. Adapun untuk penilaian resiko longsor didasarkan pada besarnya tingkat bahaya dan nilai properti yang terancam. Hasil dari analisis resiko yang didapatkan 1,8 % dari luas total daerah penelitian mempunyai tingkat resiko tinggi, 66,5 % kelas resiko sedang, 31,2 % kelas resiko rendah, dan 0,5 % kelas resiko sangat rendah. Besarnya tingkat resiko yang sedang ini disebabkan oleh rendahnya nilai properti di wilayah penelitian, atau dengan kata lain longsor banyak terjadi di daerah perdesaan di wilayah Selatan Kabupaten Garut..
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Parameter standarisasi tanaman segar, simplisia dan ekstrak etanol daun binahong (Anredera cardifolia) dari tiga daerah berbeda - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Parameter standarisasi tanaman segar, simplisia dan ekstrak etanol daun binahong (Anredera cardifolia) dari tiga daerah berbeda - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Sampel daun binahong yang diambil dari tiga lokasi yang berbeda tersebut dilakukan standarisasi terhadap simplisia dan ekstrak yang meliputi parameter spesifik (identitas, organoleptis, pengamatan makroskopis dan mikroskopis, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, skrining fitokimia, penetapan profil kromatogram, penetapan spektrum IR, dan penetapan kadar khusus ekstrak etanol untuk senyawa metabolit sekunder fenol, flavonoid dan alkaloid) dan parameter non spesifik (kadar air, susut pengeringan, bobot jenis (khusus ekstrak), kadar abu, kadar abu larut air dan kadar abu tidak larut asam). Data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi acuan parameter standarisasi dalam penggunaan dan pengembangan obat tradisional dari bahan baku daun binahong.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Analisis Self Modifying Code Menggunakan Dynamic Binary Instrumentation

Analisis Self Modifying Code Menggunakan Dynamic Binary Instrumentation

Instrumentasi beroperasi dengan menanamkan kode monitoring ke dalam spesifik komponen program pada level sumber kode maupun biner. Pada kasus program Self-Modifying Code terdapat pola subtitusi fungsi yang membuat proses monitoring lepas dari pemindaian. Hal tersebut merupakan kelemahan dari instrumentasi statis yang bekerja sebelum program dijalankan atau hanya memindai binernya saja. Dengan kata lain subtitusi fungsi tidak dapat diketahui karena terjadi pada saat eksekusi program. Kesulitan lain yang akan dihadapi oleh reverse engineer adalah waktu yang diperlukan untuk memecahkan subtitusi tersebut dan akan selalu berganti setiap kali ditemukan polanya, maka dari itu perubahan harus dapat ditebak akan seperti apa selanjutnya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGGUNAAN PAKAN BERVAKSIN Aeromonas hydrophila PADA SISTEM IMUN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

PENGGUNAAN PAKAN BERVAKSIN Aeromonas hydrophila PADA SISTEM IMUN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

Data dianalisis menggunakan Analisis of Variance (ANOVA), dan uji lanjut menggunakan Duncan Multipe Range Test (DMRT) dengan taraf uji 5%. Parameter kualitas air dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan bervaksin berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap titer antibodi ikan lele dumbo, sintasan, RPS, dan RWK (P0 ≠ P1/P2/P3/P4, dan P1 = P2 = P3 = P4), tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada pertambahan berat, pertambahan panjang, dan laju pertumbuhan spesifik (P0 = P1 = P2 = P3 = P4). Perlakuan P1 dianggap paling efektif dibandingkan perlakuan yang lain.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengembangan Desain Baru dan Manufaktur Alat Pemanen Sawit Mekanis Untuk Meningkatkan Mutu Produksi dan Daya Saing

Pengembangan Desain Baru dan Manufaktur Alat Pemanen Sawit Mekanis Untuk Meningkatkan Mutu Produksi dan Daya Saing

gaya pemotongan. Selanjutnya dilakukan analisa mekanisme pemotongan tandan dan pelepah kelapa sawit secara eksperimental. Analisa ini dapat memberikan parameter awal mata pisau yang efektif dan effisien memotong tandan dan pelepah kelapa sawit secara aktual. Selanjutnya Desain dan Proses Manufaktur mata pisau pemanen sawit yang ergonomis dan ramah lingkungan. Target jangka panjang penelitian ini akan dapat meningkatnya produktivitas dan daya saing melalui pengembangan Alat Pemanen Sawit secara Mekanis. Sedangkan untuk mengetahui karakteristik kondisi kerja alat panen dilakukan melalui pengujian gaya potong dan pengamatan dilaboratorium. Dalam penelitian ini dianalisis gaya pemotongan spesifik pada tandan dan pelepah kelapa sawit untuk mendapatkan hubungan antara sifat mekanik dan mekanisme pemotongan serta parameter variasi mata pisau seperti sudut pemotongan (θ), sudut ketajaman (β) pada mata pisau dua sisi dan satu sisi ketajaman. Eksperimental dan simulasi di lakukan pada pisau satu sisi dan dua sisi ketajaman diambil pada θ= 10°,15°,20°,25°,30° dan β=10°,15°,20°,25°,30° Key word : Gaya potong, Variasi Bentuk Mata Pisau, Sudut Potong, Energi potong, Koefisien gesek potong, Manufaktur 2 BAB 1 PENDAHULUAN Alat pemanen sawit Egrek dan Dodos yang ada sekarang merupakan hasil desain dari zaman belanda. Hingga sekarang alat pemanen sawit ini belum banyak mengalami sentuhan teknologi dan juga perubahan desain. Egrek biasa digunakan sebagai alat pemanen sawit untuk pohon yang sudah tinggi minimal 3 meter, sedangkan dodos sawit digunakan untuk tinggi pohon lebih kecil dari 3 meter. Fungsi egrek sendiri selain untuk memanen buah sawit juga untuk memudahkan para petani memotong pelepah -
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

STANDARDISASI EKSTRAK METANOL KULIT KAYU NANGKA (Artocarpus heterophylla Lamk.).

STANDARDISASI EKSTRAK METANOL KULIT KAYU NANGKA (Artocarpus heterophylla Lamk.).

Standardisasi adalah serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigma mutu kefarmasian, mutu artian memenuhi syarat standar (kimia, biologi, dan farmasi), termasuk jaminan (batas-batas) stabilitas sebagai produk kefarmasian umumnya. Persyaratan mutu ekstrak terdiri dari berbagai parameter standard umum dan parameter standard spesifik (Anonim, 2000). Pengertian standardisasi juga berarti proses menjamin bahwa produk akhir obat (obat, ekstrak atau produk ekstrak) mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan (dirancang dalam formula) terlebih dahulu (Anonim, 2000).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 9874 documents...