Partisipasi Masyarakat

Top PDF Partisipasi Masyarakat:

Tampilkan DIP: RPP Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

Tampilkan DIP: RPP Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

Adapun aspek-aspek partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dimaksud pada RPP tentang Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sebagaimana berpedoman pada Pasal 354 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 mencakup, 1) penyusunan Perda dan kebijakan daerah yang mengatur dan membebani masyarakat; 2) perencanaan, penganggaran, pemonitoran, dan pengevaluasian pembangunan daerah; 3) pengelolaan aset dan/atau sumber daya alam daerah; dan 4) penyelenggaraan pelayanan publik.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Partisipasi Masyarakat dan Desentralisasi

Partisipasi Masyarakat dan Desentralisasi

Pada tingkat ini partisipasi masyarakat berada di tingkat yang sangat rendah. Bukan hanya tidak berdaya, akan tetapi pemegang kekuasaan memanipulasi partisipasi masyarakat melalui sebuah program untuk mendapatkan “persetujuan” dari masyarakat. Masyarakat sering ditempatkan sebagai komite atau badan penasehat dengan maksud sebagai “pembelajaran” atau untuk merekayasa dukungan mereka. Partisipasi masyarakat dijadikan kendaraan public relation oleh pemegang kekuasaan. Praktek pada tingkatan ini biasanya adalah program-program pembaharuan desa. Masyarakat diundang untuk terlibat dalam komite atau badan penasehat dan sub-sub komitenya. Pemegang kekuasaan memanipulasi fungsi komite dengan “pengumpulan informasi”, “hubungan masyarakat” dan “dukungan.” Dengan melibatkan masyarakat di dalam komite, pemegang kekuasaan mengklain bahwa program sangat dibutuhkan dan didukung. Pada kenyataannya, hal ini merupakan alasan utama kegagalan dari program-program pembaharuan pedesaan di berbagai daerah.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2008 (Studi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sorong)

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2008 (Studi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sorong)

Dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terkait dengan mekanisme partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan Musrenbang tahun 2008 yang lalu di Bappeda Kabupaten Sorong, yaitu pertama, masyarakat dapat mengusulkan berbagai program pembangunan yang dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan seperti sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana air bersih, jalan dan jembatan desa, pasar desa, sarana dan prasarana pertanian pada Musrenbang di tingkat Desa. Di mana, yang melaksanakan Musrenbang di tingkat Desa ini adalah Kepala Desa, dibantu ketua LPMD, yang diikuti oleh masyarakat desa. Kemudian yang kedua, dibahas kembali program prioritas yang diusulkan dalam Musrenbang tingkat Kecamatan.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH IBTIDAIYAH AL-FALAH CANGA'AN KANOR BOJONEGORO.

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH IBTIDAIYAH AL-FALAH CANGA'AN KANOR BOJONEGORO.

Hasil penelitian ini disampaikan pertama, bentuk partisipasi masyarakat di madrasah Ibtidaiyah al-Falah yang meliputi: (1) Sumbangan spontan berupa uang dan barang, (2) Sumbangan dalam bentuk tenaga kerja, (3) Kesediaan masyarakat sekitar menjadi tenaga ahli pengajar, (4) Kesediaan masyarakat atau wali murid untuk bergabung dalam pengurus Yayasan Pendidikan al-Falah (YPA), (5) Kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka di Madrasah Ibtidaiyah al-Falah. Kedua, Kualitas Pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah Al- Falah Canga’an K anor Bojonegoro itu sendiri meliputi: (1) Kualitas Peserta Didik, (2) Kualitas Sarana Prasarana, (3) Partisipasi Masyarakat, (4) Kualitas Pendidik. Ketiga, Partisipasi Masyarakat dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan Agama Islam Di Madrasah Ibtidaiyah Al- Falah Canga’an Kanor Bojonegoro adalah: Banyak bentuk partisipasi dari masyarakat yang sudah diterima oleh Madrasah Ibtidaiyah al-Falah diantaranya sumbangan dalam bentuk donasi untuk kemajuan madrasah yang nantinya dapat diubah ke dalam bentuk sarana prasarana yang dapat membantu berjalanya proses pembelajaran hususnya pembelajaran Pendidikan Agama Islam, bahan bangunan, pemikiran, saran dan kritik-kritik yang bersifat membangun, serta partisipasi bentuk tenaga dari masyarakat setempat.
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENDUKUNG BUKITTINGGI SEBAGAI KOTA WISATA.

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENDUKUNG BUKITTINGGI SEBAGAI KOTA WISATA.

Kota Bukittinggi merupakan salah satu pusat kebudayaan Minangkabau dan ditetapkan sebagai Kota Wisata. Sebagai kota wisata Bukittinggi sangat membutuhkan partisipasi masyarakat untuk terwujudnya kota wisata yang berkualitas. Oleh karena itu dalam penelitian ini dikaji partisipasi masyarakat dalam mendukung Bukittingi sebagai kota wisata. Bentuk partisipasi yang dilakukan untuk mendukung Bukittinggi sebagai Kota Wisata yaitu partisipasi ide/pikiran, tenaga, harta benda, keterampilan, dan partisipasi sosial. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi bentuk dan tingkat partisipasi masyarakat dalam mendukung Bukittinggi sebagai kota wisata dan menganalisis hubungan kondisi sosial ekonomi masyarakat dengan bentuk partisipasi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa bentuk partisipasi harta benda termasuk kategori tinggi, partisipasi tenaga termasuk kategori sedang, sementara bentuk partisipasi ide/pikiran, partisipasi keterampilan dan partisipasi sosial termasuk kategori tingkat partisipasi sangat rendah. Berdasarkan skor yang dicapai masing-masing bentuk partisipasi, secara umum dapat dikatakan bahwa partisipasi masyarakat dalam mendukung Bukittinggi sebagai kota wisata termasuk kategori tingkat partisipasi rendah. Kondisi sosial ekonomi masyarakat (tingkat pendidikan, mata pencaharian, dan tingkat pendapatan) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi yang dilakukan masyarakat dalam mendukung Bukittinggi sebagai kota wisata. Dalam arti semakin tinggi tingkat pendidikan, maupun tingkat pendapatan tidak menjamin masyarakat untuk turut berpartisipasi.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT dalam

IMPLEMENTASI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT dalam

3. PJM Pronangkis sangat diperlukan karena merupakan pedoman dalam prioritas kegiatan yang berdasarkan optimalisasi potensi, keberlanjutan program disamping sebagai sarana penyelesaian masalah. PJM harus disusun bersama, dilaksanakan bersama, dinikmati bersama yang melibatkan unsur BKM, relawan, keterwakilan RT/ RW, keterwakilan perempuan, warga miskin, maupun aparat/ lembaga yang terkait. Sebelum PJM disepakati BKM, PJM diinformasikan terlebih dahulu kepada masyarakat melalui media bazar program, yaitu pemaparan program-program penanggulangan kemiskinan. masukan dari masyarakat tersebut yang kemudian menjadi dasar pembentukan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Setelah direvisi, PJM disepakati dengan menyusun prioritas berdasarkan tingkat kemendesakan, kepedulian, keterlibatan, dan ketersediaan dana. Kegiatan inilah yang menjadikan partisipasi masyarakat Kelurahan Pasir Kidul dalam P2KP telah terlaksana cukup baik.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Hubungan Partisipasi Masyarakat Dalam Kesehatan

Hubungan Partisipasi Masyarakat Dalam Kesehatan

Dalam cakupan penimbangan ada kaitannya dengan faktor internal ibu balita seperti : tingkat pendidikan ibu balita, tingkat pengetahuan ibu balita, umur balita, status gizi balita (Yamroni, 2003), di samping itu juga berkaitan dengan jarak posyandu (Masnuchaddin, 1992) serta peran petugas kesehatan, tokoh masyarakat, kader posyandu (Hutagalung, 1992). Masalah lain yang berkaitan dengan kunjungan di posyandu antara lain : dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan posyandu, tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling, tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat posyandu serta pelaksanaan pembinaan kader (Profil Kesehatan Indonesia, 2009).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Hubungan antara tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan dengan partisipasi masyarakat dalam pembangunan di Desa Jetis Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar tahun 2009 2010

Hubungan antara tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan dengan partisipasi masyarakat dalam pembangunan di Desa Jetis Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar tahun 2009 2010

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaaan merupakan kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa bagi diri sendiri maupun orang lain dalam kurun waktu tertentu untuk mendapatkan penghasilan berupa uang guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu kegiatan yang dianggap sebagai pekerjaan harus sesuai dengan nilai sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat serta dapat dipertanggungjawabkan dalam kurun waktu yang telah ditentukan oleh pihak yang bekerja. Imbalan yang akan diperoleh dari suatu pekerjaan disesuaikan dengan perttanggungjawaban yang telah diberikan oleh individu. Jadi semakin besar tanggung jawab yang diemban oleh seorang individu maka semakin besar pula penghasilan yang akn dia peroleh. Pekerjaan dapat berpengaruh pada pembentukan perilaku individu dan pengalaman pekerjaan yang diperoleh dapat membantu dia dalam melaksanakan tugas yang diberikan.
Baca lebih lanjut

156 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Hambatan Partisipasi Masyarakat Dengan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Wisata Gunung Bromo, Jawa Timur

Hubungan Antara Hambatan Partisipasi Masyarakat Dengan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Wisata Gunung Bromo, Jawa Timur

Menurut Suwantoro (1997) dalam Untari (2009) menyebutkan, partisipasi masyakat sekitar kawasan objek wisata dapat berbentuk usaha dagang atau pelayanan jasa, baik didalam maupun diluar kawasan objek wisata, seperti: penyediaan penginapan, penyediaan/ usaha warung makanan dan minuman, penyediaan souvenir/ cinderamata dari daerah tersebut, jasa pemandu/penunjuk jalan, fotografi, dan menjadi pegawai pengusahaan wisata alam. Selain itu, dapat pula ditemukan bentuk partisipasi masyarakat dalam penyediaan pusat interpretasi/ tempat pengunjung, penyediaan sarana dan prasarana, pelayanan jasa transportasi, mengikuti rapat-rapat terkait pengelolaan wisata, pemberian informasi atau ide/inovasi, pengambilan keputusan, menanam pepohonan bersama, serta memelihara lingkungan, jalur setapak dan sarana prasarana lainnya. Pada Tabel 18 dipaparkan jumlah dan persentase bentuk-bentuk partisipasi masyarakat Desa Ngadisari dalam pengelolaan kawasan wisata Gunung Bromo. Hasil dari suvei melalui kuisioner yang berupa pilihan-pilihan keragaman bentuk partisipasi sejumlah 13 pilihan yang sering dilakukan dan diikuti oleh masyarakat Desa terutama yang pernah dialami secara langsung oleh responden. Hasil dari pilihan masyarakat (responden) didapatkan jumlah pilihan bentuk-bentuk partisipasi yang cukup beragam.
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Urgensi Partisipasi Masyarakat   Semarang

Urgensi Partisipasi Masyarakat Semarang

Menurut Sajogyo (artikel :2002) “Partisipasi” adalah suatu proses dimana sejumlah pelaku bermitra punya pengaruh dan membagi wewenang di dalam prakarsa “pembangunan”, termasuk mengambil keputusan atas sumberdaya. Menurut Rauf dan Nasution mendefinisikan partisipasi adalah manifestasi dari perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam menunjukkan sikap dan

33 Baca lebih lajut

Partisipasi Masyarakat dalam Penyediaan (1)

Partisipasi Masyarakat dalam Penyediaan (1)

Berdasarkan  uraian  di  atas  disimpulkan  bahwa  faktor  yang  menyebabkan  pelaksanaan  partisipasi pada Desa HID dapat berjalan optimal adalah karena karakteristik masyarakat yang  kuat  dan berpengaruh dalam setiap tahapan  program  sehingga  terbentuk  kekuatan bersama  untuk  membangun  dan  target  keberhasilan  program  PAMSIMAS  dapat lebih  mudah  dicapai,  serta tingkat partisipasi pada tahap pengelolaan sudah mencapai tingkat pengendalian penuh  (full  control).  Sedangkan  pada  Desa  Non  HID  karakteristik  masyakarat  tidak  mempunyai  pengaruh  yang  kuat  terhadap  kondisi  pelaksanaan  partisipasi  dan  terjadi  kelemahan  dalam  pengimplementasian partisipasi masyarakat dalam setiap  tahapan Program  PAMSIMAS, serta  tingkat  partisipasi  pada  tahap  operasi  dan  pemeliharaan  yang  lebih  rendah  dibanding  Desa  HID. Faktor  yang  menyebabkan  kelemahan  pengimplementasian  partisipasi masyarakat  pada  Desa  Non  HID  adalah  masih  belum  maksimalnya  pertukaran  gagasan  (sharing  idea),  jalin  kepentingan  (knitting  interest)  dan  pemaduan  karya  (synergy  of  action).  Dengan  demikian  pencapaian target program sebagai cerminan keberhasilan akan lebih sulit untuk dicapai.   
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Partisipasi Masyarakat

Partisipasi Masyarakat

dan masyarakat di dalam Ikatan Orang tua Murid (IOM) dapat teridentifikasi beberapa hal, baik berupa harapan, keinginan, kebutuhan, maupun potensi-potensi bersama dan kesepakatan-kesepakatan antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat untuk mendukung program sekolah dalam rangka MBS. Pada umumnya orang tua dan masyarakat memiliki pemahaman yang tinggi untuk memajukan dan meningkatkan program sekolah yang akan dikembangkan. Hal tersebut dapat terlihat dengan berbagai bentuk partisipasi orang tua dan masyarakat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya masing-masing, baik partisipasi material maupun non-material, sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS ANDALA

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS ANDALA

Dalam Tabel 5.4 telah diketahui total skor yang diperoleh adalah sebesar 1180 dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat Kota Solok khususnya rumah tangga miskin pemanfaat PNPM Mandiri Perkotaan ternyata rendah karena berada pada interval 983 - 1420. Hal ini disebabkan kondisi perekonomian responden yang tergolong RT Miskin dan sesuai dengan pendapat Sunarti (dalam Suryawan 2004:29), menjelaskan tentang hambatan-hambatan yang dapat ditemui dalam pelaksanaan partisipasi oleh masyarakat, diantaranya adalah kemiskinan. Hal ini mengindikasikan bahwa PNPM Mandiri Perkotaan belum mampu mewujudkan tujuan khusus dari PNPM Mandiri diantaranya meningkatkan partisipasi orang miskin. Oleh karena itu perlu kebijakan dan program yang lebih tepat agar tujuan tersebut tercapai
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Prosiding SNaPP2011 Sains Teknologi dan

Prosiding SNaPP2011 Sains Teknologi dan

Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan teknik wawancara mendalam (indepth interview). Informan yang dipilih yaitu 1. Ketua kelompok Tani (1 orang), 2. Ketua RT, 3. Ketua RW, 4. Aparat Desa (2 orang) 6. Penyuluh (2 orang), 7. Anggota kelompok tani (2 orang), 8. Guru/ Pengajar (1 Orang), serta 9. Dinas Kehutanan dan ITTO. Dalam rangka mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan RHL maka dilakukan wawancara dengan daftar kuisioner yang diberikan kepada seluruh anggota Kelompok Tani Sejahtera di Desa Cisaga (19 orang) sebagai responden yang terlibat langsung dalam pelaksanaan kegiatan RHL di lapangan. Hal ini disebabkan karena unit analisis penelitian tingkat partisipasi adalah anggota kelompok tani di desa model yang menjadi sasaran proyek Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis dan ITTO PD. 271/04 REV. 3 (F), yaitu KT Sejahtera (Anonim, 2008). Oleh karena itu pemilihan responden berupa anggota Kelompok Tani Sejahtera disebabkan karena kelompok tani tersebut merupakan binaan Dinas Kehutanan Ciamis dalam rangka pelaksanaan kegiatan RHL dengan melibatkan masyarakat. Kelompok tani sebagai wadah partisipasi masyarakat di Desa Cisaga dalam pelaksanaan kegiatan RHL bersama masyarakat lokal, sehingga keterwakilan masyarakat di Desa Cisaga untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan RHL dapat dilihat dari masyarakat yang menjadi anggota kelompok tani tersebut.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

S GEO 1205210 Chapter1

S GEO 1205210 Chapter1

Isbandi (2007, hlm.27) mengemukakan bahwa partisipasi masyarakat adalah “ keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada di masyarakat.” Partisipasi ini dilakukan masyarakat secara bersama - sama untuk mengatasi permasalahan di lingkungan mereka, dari membuat keputusan sampai kepada evaluasi perubahan yang terjadi

Baca lebih lajut

JournalPLVol4No3 O. JournalPLVol4No3 O

JournalPLVol4No3 O. JournalPLVol4No3 O

Hidayati (1999) menyatakan bahwa salah satu langkah yang dapat dilakukan agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengelolaan berbasiskan masyarakat adalah melalui pemberdayaan masyarakat. D isebutkan dalam pemberdayaan masyarakat perlu memperhatikan lima unsur dalam implementasinya, yaitu: (1 ) meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan tujuan utama adalah memberikan alternatif usaha yang secara ekonomi menguntungkan dan secara ekologi ramah terhadap lingkungan, (2) memberikan akses kepada masyarakat seperti akses terhadap informasi, akses terhadap harga dan pasar, akses terhadap pengawasan, penegakan dan perlindungan hukum serta akses terhadap sarana dan prasarana pendukung lainnya, (3) menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti dan nilai sumberdaya eko- sistem sehingga pelestariannya sangat diperlukan, (4) menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga, mengelola dan melestarikan sumberdaya/ekosistem, dan (5) menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola dan melestarikan sumberdaya/ekosistem. Sejalan dengan hal tersebut, Bengen (2001) menyebutkan bahwa masalah pengelolaan hutan mangrove secara lestari adalah bagaimana menggabungkan antara kepentingan ekologis (konservasi hutan mangrove) dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya. Dalam pelaksanaan, ketiga strategi dijabarkan melalui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan secara bertahap. Proses ini dilakukan untuk menyesuaikan tingkat kecepatan masyarakat dalam menangkap
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PROBLEMATIKA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM DESA VOKASI DI DESA KLEDUNG KECAMATAN KLEDUNG KABUPATEN TEMANGGUNG.

PROBLEMATIKA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM DESA VOKASI DI DESA KLEDUNG KECAMATAN KLEDUNG KABUPATEN TEMANGGUNG.

Program Desa Vokasi merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat di Desa Kledung yang melakukan pendidikan kecakapan/kewirausahaan yang bertujuan mengembangkan sumberdaya manusia dan potensi lokal yang ada di Desa. Program ini merupakan salah satu proses mewujudkan masyarakat sejahtera. Pemerintah berusaha mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan memiliki kesadaran kritis akan pentingnya pendidikan, melalui program program Desa Vokasi yang melibatkan partisipasi masyarakat demi tercapainya program pembangunan tersebut. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam program Desa Vokasi ini dengan mendayagunakan potensi alam yang ada dalam rangka pemenuhan kebutuhan, guna peningkatan taraf hidup masyarakat.Tujuan penelitian ini adalah: 1)Mendeskripsikan bagaimana bentuk dan masalah-masalah pemberdayaan masyarakat melaui program Desa Vokasi di Desa Kledung 2) Mendeskripsikan partisipasi dan respon masyarakat dalam program Desa Vokasi di Desa Kledung3) Mendeskripsikan hubungan antara perilaku masyarakat dengan dampak yang ditimbulkan dari program Desa Vokasi di Desa Kledung.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA  PENGARUH PROGRAM DANA BERGULIR PNPM MANDIRI PERKOTAAN TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT (Studi kasus di Kelurahan Kricak Kecamatan Tegalrejo di Kota Yogyakarta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2013).

TINJAUAN PUSTAKA PENGARUH PROGRAM DANA BERGULIR PNPM MANDIRI PERKOTAAN TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT (Studi kasus di Kelurahan Kricak Kecamatan Tegalrejo di Kota Yogyakarta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2013).

Beberapa penelitian telah membahas mengenai PNPM Mandiri Perkotaan. Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Yulianti (2012) tentang “Analisis Partisipasi Masyarakat Dalam Pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan Di Kota Solok” pada tahun 2009. Kota Solok menjadi salah satu daerah yang melaksanakan pemberdayaan fakir miskin melalui PNPM Mandiri Perkotaan yang diberikan pada masyarakat miskin di kota Solok. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi bentuk partisipasi dan tingkat partisipasi masyarakat, untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat miskin pada pelaksanaan program PNPM Mandiri Perkotaan dan untuk mengetahui implikasi kebijakan yang tepat untuk pengembangan pasrtisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan. Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Dari hasil analisis penelitian penulis dapat menyimpulkan bahwa partisipasi masyarakat berupa pikiran yang disampaikan melalui usulan, saran maupun kritik. Kemudian, tingkat partisipasi masyarakat di Kota Solok dalam pelaksanaan program PNPM Mandiri Perkotaan tergolong rendah. Selain faktor kemiskinan hal ini juga disebabkan oleh pengetahuan masyarakat yang kurang terhadap PNPM Mandiri Perkotaan dan belum optimalnya peranan pihak terkait dalam mengajak masyarakat untuk berpartisipasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Studi Kasus CB CRM OK

Studi Kasus CB CRM OK

Studi kasus ini merangkum pendekatan dan pengalaman Proyek Pesisir dalam pengembangan program pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir tingkat desa yang dilaksanakan lewat proses terpadu antara partisipasi masyarakat, keterlibatan pemerintah setempat dan koordinasi antar lembaga terkait di tingkat kecamatan, kabupaten, dan provinsi , yang telah menghasilkan berbagai luaran positif dan nyata dilapangan. Studi kasus ini berguna bagi berbagai pihak, khususnya para pengelola (manager) yang bekerja dalam program-program pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir berbasis masyarakat (PSWP-BM), pendamping masyarakat atau penyuluh lapangan di desa-desa pesisir, baik dari lembaga pemerintah, perguruan tinggi, lembaga nonpemerintah (LSM), maupun proyek-proyek pengembangan masyarakat dan perlindungan sumberdaya pesisir dan laut lainnya. Termasuk pula bagi para pemimpin formal dan nonformal desa, motivator desa, guru-guru sekolah menengah, bahkan siswa dan mahasiswa, sebagai bahan acuan dalam bekerja dengan masyarakat. Studi kasus ini diharapkan pula dapat menambah pengetahuan mereka dalam perlindungan dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut tingkat desa serta dalam program-program pembangunan masyarakat pada umumnya Dalam studi ini digambarkan proses dan langkah-langkah PSWP-BM dilakukan berikut pembelajarannya, mulai dari identifikasi isu, persiapan perencanaan, adopsi rencana pengelolaan, implementasi, pemantauan dan evaluasi, hingga tahapan pemandirian masyarakat dalam melanjutkan program pengelolaan setelah fasilitasi dari proyek berakhir. Termasuk pula di dalamnya inisiatif penyusunan peraturan yang mendukung kegiatan PSWP-BM, mulai dari Peraturan Desa, Perda Kabupaten, hingga Perda Provinsi. Ucapan terima kasih disampaikan kepada masyarakat dan pemerintah di Minahasa dan Provinsi Sulawesi Utara atas kerja sama yang baik selama lebih dari 6 tahun. Terima kasih juga disampaikan kepada masyarakat dan pengelola di desa-desa lokasi Proyek, dan seluruh stakeholders yang telah terlibat aktif dan membantu Proyek Pesisir dalam kegiatan di daerah. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi masa depan pengelolaan pesisir di Indonesia.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...