pati garut termodifikasi

Top PDF pati garut termodifikasi:

KARAKTERISASI COOKIES FUNGSIONAL DARI PATI GARUT TERMODIFIKASI YANG DIPERKAYA ANTIOKSIDAN KULIT BUAH NAGA (Hylocereus sp.)

KARAKTERISASI COOKIES FUNGSIONAL DARI PATI GARUT TERMODIFIKASI YANG DIPERKAYA ANTIOKSIDAN KULIT BUAH NAGA (Hylocereus sp.)

sun). The third factor is the making of functional cookies from garut essence using cluster random design method (CRD) which consists of two factors, namely type of pitaya peel flour (dragon fruit red super with 50% C and 60% C of drainage temperature) and concentration of pitaya peel flour (2%, 4%, and 6%). The result of this research indicates that there is no interaction occurs among type of pitaya peel and the difference of drainage temperature toward antioxidant activity of pitaya peel flour, type of pitaya flour treatment and different concentration have real effect toward antioxidant activity, degree ash, protein, rough fiber, taste and functional cookies color from modified garut essence combining with pitaya peel antioxidant. The best treatment of this study were obtained from the functional cookies color from modified garut essence combining with pitaya peel antioxidant treated with drying temperature 60 °C and concentration of pitaya peel flour 2%.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Mikroskopi dan Sifat Organoleptic Kue Kering Fungsional dari Pati Garut (Maranta arundinaceae L.) Termodifikasi

Mikroskopi dan Sifat Organoleptic Kue Kering Fungsional dari Pati Garut (Maranta arundinaceae L.) Termodifikasi

Berdasarkan analisis ragam, menunjukkan bahwa perlakuan proporsi pati garut termodifikasi berpengaruh sangat nyata terhadap warna kue kering. Besarnya perbedaan warna dapat diketahui melalui uji DMRT taraf 5% pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa warna kue kering yang paling menarik adalah perlakuan K0 (kontrol), sedangkan yang paling tidak menarik adalah perlakuan K5 (100% pati garut termodifikasi). Warna kue kering perlakuan K0 lebih cerah dibandingkan dengan K5 karena warna tepung terigu juga lebih cerah dari pada warna pati garut termodifikasi. Warna pati garut termodifikasi memang cenderung berwarna kecokelatan, sehingga ketika diaplikasikan menjadi sebuah produk mengakibatkan warnanya menjadi kurang menarik. Gelapnya warna ini disebabkan ketika proses modifikasi. Pati mengalami berbagai proses yang dikerjakan secara manual. Menurut Ginting, (2010) warna yang baik untuk biskuit adalah kuning kecokelatan dan tergantung bahan yang digunakan. Warna tepung akan berpengaruh terhadap warna biskuit yang dihasilkan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Penambahan Tepung Labu Kuning Terhadap Karakteristik Mutu Cookies Subtitusi Pati Garut Termodifikasi.

Pengaruh Penambahan Tepung Labu Kuning Terhadap Karakteristik Mutu Cookies Subtitusi Pati Garut Termodifikasi.

Berdasarkan dari permasalahan tersebut diatas maka, penelitian ini sangat penting untuk dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik, kimia dan sensori cookies subtitusi pati garut termodifikasi dengan penambahan tepung labu kuning (Cucurbita moschata P).

24 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI ROTI MANIS DARI PATI GARUTTERMODIFIKASI DENGAN PENAMBAHAN EMULSIFIER LESITIN Sweet Bread Characterization from Modified Arrowroot Starch within Lecithin Addition

KARAKTERISASI ROTI MANIS DARI PATI GARUTTERMODIFIKASI DENGAN PENAMBAHAN EMULSIFIER LESITIN Sweet Bread Characterization from Modified Arrowroot Starch within Lecithin Addition

Roti manis merupakan produk makanan yang umumnya terbuat dari tepung terigu, garam, mentega, dan ragi. Problemnya adalah bahwa sampai saat ini tepung terigu 100% masih import dan kasus penyakit degeneraif dari waktu ke waktu terus meningkat. Penggunaan bahan baku alternativeperlu dikembangkan, seperti pati garut termodifikasi guna mengeliminir persoalan tersebut. Penggunaan pati garut termodifikasi menghasilkan roti dengan tekstur yang kurang lembut dan daya kembang rendah, sehingga harus ditambahkan emulsifier. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh penambahan pati garut termodifikasi dengan lesitin terhadap karakteristik roti manis. Rancangan Acak Kelompok (RAK)faktorial dengan dua faktor, yakni konsentrasi pati garut termodifikasi (10%, 15% dan 20% b/b) dan konsentrasi lesitin (0.1%, 0.3%, 0.5% b/b) telah diterapkan. Interaksi antara konsentrasi pati garut termodifikasi dan konsentrasi lesitin telah ditemukan terhadap kadar air, abu, protein,karbohidrat dan uji organoleptik (rasa, tekstur dan kesukaan) roti manis. Penambahan konsentrasi pati garut termodifikasi 10 %b/b dan konsentrasi lesitin 0.5 %b/b (P1L3) dengan sifat fisik mikroskopis pori-pori roti manis sebesar 2083.8 µm dan nilai kekerasan 11.38 N, serta sifat kimia roti manis kadar air 21.83%, kadar abu 1.52%, kadar lemak 14.71%, kadar protein 8.13%, kadar karbohidrat 53.81%, dan kadar serat pangan 3.28% adalah perlakuan terbaik. Hasil uji organoleptik menunjukkan skor rasa 3.04 (sangat enak), skor tekstur 3.31 (sangat lembut) dan skor kesukaan 3.19 (sangat suka).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Sifat Fisiko-Kimia Dan Indeks Glikemik Produk Cookies Berbahan Baku Pati Garut (Maranta Arundinacea L.) Termodifikasi

Sifat Fisiko-Kimia Dan Indeks Glikemik Produk Cookies Berbahan Baku Pati Garut (Maranta Arundinacea L.) Termodifikasi

Cookies yang dibuat dalam penelitian ini, yaitu cookies berbahan baku PGT dan cookies berbahan baku terigu sebagai pembanding. Pembuatan cookies yang dilakukan pada penelitian ini dimulai dengan pembentukan krim dari gula halus, margarin, susu skim, dan kuning telur. Pencampuran dilakukan dengan menggunakan handmixer kecepatan tinggi. Setelah krim berwarna pucat ±10 menit kemudian ditambahkan garam dan bahan pengembang. Setelah itu, ditambahkan tepung atau pati garut termodifikasi secara perlahan-lahan sehingga terbentuk adonan cookies. Sebelum pembentukan adonan, waktu pencampuran harus diperhatikan untuk mendapatkan adonan yang homogen dengan pengembangan gluten yang diinginkan. Menurut Matz dan Matz (1978), pencampuran dan pengadukan dengan metode krim baik untuk cookies yang dicetak karena menghasilkan adonan yang bersifat membatasi pengembangan gluten yang berlebihan.
Baca lebih lanjut

149 Baca lebih lajut

Modifikasi Pati Garut (Maranta Arundinaceae L.) Dengan Metode Debranching, Siklus Autoclaving-Cooling, Dan Heat Moisture Treatment (Hmt) Untuk Menghasilkan Pati Resisten Tipe Iii (Rs3).

Modifikasi Pati Garut (Maranta Arundinaceae L.) Dengan Metode Debranching, Siklus Autoclaving-Cooling, Dan Heat Moisture Treatment (Hmt) Untuk Menghasilkan Pati Resisten Tipe Iii (Rs3).

semakin meningkat (Gambar 11). Hal ini yang menyebabkan pati garut termodifikasi debranching dan 3 siklus AC (D-AC) memiliki kadar amilosa yang lebih tinggi (50.54%) (Gambar 9). Sebagai akibatnya, kadar RS3 yang dihasilkan dari pati garut termodifikasi perlakuan debranching dan 3 siklus AC (D-AC) dan debranching, 3 siklus AC, dan HMT (D-AC-HMT) menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan kadar RS3 pada pati garut yang tidak dimodifikasi dengan perlakuan debranching atau hanya dimodifikasi dengan perlakuan 3 siklus AC atau HMT saja (Gambar 5). Pati garut termodifikasi debranching dan 3 siklus AC (D-AC) dan debranching, 3 siklus AC, dan HMT (D-AC-HMT) juga mengalami penurunan total pati yang lebih tinggi (Gambar 8) dibandingkan dengan perlakuan lainnya yang tidak melibatkan proses debrancing. Perlakuan debranching lebih memudahkan pati untuk terhidrolisis menjadi gula-gula sederhana saat diberikan perlakuan pemanasan karena pada saat perlakuan debranching terjadi pemutusan rantai cabang pada molekul amilopektin dan dihasilkan rantai-rantai glukan linear berupa amilosa rantai pendek. Pemanasan pada saat proses AC dan HMT setelah proses debranching ini akan menyebabkan rantai-rantai tersebut terdegradasi (depolimerisasi) lagi menghasilkan rantai-rantai glukan yang berukuran lebih pendek dan terukur sebagai gula-gula sederhana. Oleh karena itu, kadar total pati yang terukur menjadi lebih rendah lagi. Pati garut termodifikasi D-AC- HMT60’ memiliki kandungan gula-gula sederhana tertinggi, yaitu 41.00% yang menandakan bahwa tingkat hidrolisis patinya tertinggi dan mengakibatkan penurunan total pati terbesar sehingga kadar total patinya menjadi yang terendah (Tabel 8). Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa kadar pati resisten berkorelasi positif terhadap kadar amilosa (R² = 0.950) (Gambar 12) dan berkorelasi negatif terhadap kadar total pati (R² = 0.982) (Gambar 13) pada pati garut termodifikasi (semua perlakuan). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar amilosa maka kadar pati resisten akan semakin meningkat, namun kadar total pati akan semakin menurun.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

TEKSTUR DAN SIFAT FISIK ROTI TAWAR DARI TERIGU YANG DISUBSTITUSI PATI GARUT (Maranta arundinaceae) HASIL MODIFIKASI DENGAN WHEY KEJU.

TEKSTUR DAN SIFAT FISIK ROTI TAWAR DARI TERIGU YANG DISUBSTITUSI PATI GARUT (Maranta arundinaceae) HASIL MODIFIKASI DENGAN WHEY KEJU.

Termodifikasi .......................................................................................... 36 4.2. Sensoris Springiness Roti Tawar Substitusi Pati Garut Termodifikasi .. 38 4.3. Sensoris Cohesiveness Roti Tawar Substitusi Pati Garut Termodifikasi 39 4.4. Sensoris Hardness Roti Tawar Substitusi Pati Garut Termodifikasi ..... 40 4.5. Sensoris Chewiness Roti Tawar Substitusi Pati Garut Termodifikasi .... 42 4.6. Sensoris Overall Roti Tawar Substitusi Pati Garut Termodifikasi ......... 43 4.7. Tekstur Springiness Roti Tawar Substitusi Pati Garut Termodifikasi ... 45 4.8. Tekstur Cohesiveness Roti Tawar Substitusi Pati Garut Termodifikasi . 47 4.9. Tekstur Hardness Roti Tawar Substitusi Pati Garut Termodifikasi ....... 49 4.10. Tekstur Chewiness Roti Tawar Substitusi Pati Garut Termodifikasi ..... 52 4.11. Tekstur Apparent Modulus Roti Tawar Substitusi Pati Garut
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh modifikasi Heat Moisture Treatment (HMT) dengan radiasi microwave terhadap karakteristik fisikokimia dan fungsional tapioka dan maizena

Pengaruh modifikasi Heat Moisture Treatment (HMT) dengan radiasi microwave terhadap karakteristik fisikokimia dan fungsional tapioka dan maizena

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa pada saat pendinginan beberapa molekul pati yang telah tergelatinisasi akan berasosiasi kembali untuk membentuk gel. Gel merupakan sistem cairan yang memiliki sifat seperti solid (Hoseney 1998). Interaksi molekular (terutama ikatan hidrogen antar rantai pati) akan terjadi setelah pendinginan dan disebut sebagai fenomena retrogradasi. Percabangan amilopektin akan mencegah terjadinya ikatan intermolekuler yang diperlukan untuk pembentukan gel. Sedangkan pati yang mengandung amilosa. pembentukan ikatan molekulernya akan lebih mudah sehingga terbentuklah struktur jaringan tiga dimensi yang disebut gel pada konsentrasi pati yang lebih rendah Hodge dan Osman (1976) yang disitasi Pangestuti (2010). Dengan terbentuknya struktur jaringan tiga dimensi itu maka air yang tadinya bebas akan terperangkap dalam jaringan itu seperti yang terlihat pada Gambar 8. Tipe struktur yang terlihat pada Gambar 8 dikenal dengan struktur misel berumbai (fringed micelle). Rantai pararel yang terbentuk dari sisi ke sisi mengindikasikan pengaturan struktur kristalin dari junction zone. Daerah yang berada diantara junction zone mengandung air yang terperangkap dalam rantai polimer.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Produksi Siklodekstrin dari Pati Garut

Produksi Siklodekstrin dari Pati Garut

Siklodekstrin merupakan produk modifikasi pati dalam bentuk oligosakarida non- pereduksi berbentuk cincin yang terbentuk melalui proses siklisasi oleh aktifitas CGTase (Cyclodextrin Glycosil Transferase). Siklodekstrin mempunyai rongga yang bersifat hydrofobik dengan kepadatan elektron yang relatif tinggi. Sifat tersebut memudahkan terbentuknya kompleks inklusi dengan senyawa lain dan menimbulkan sifat baru dari molekul seperti peningkatan kestabilan.

Baca lebih lajut

Hubungan Gugus Fungsi Plastik Biodegradabel Metil Akrilat dan Pati Garut Terhadap Sifat Mekaniknya

Hubungan Gugus Fungsi Plastik Biodegradabel Metil Akrilat dan Pati Garut Terhadap Sifat Mekaniknya

Hasil dari uji mekanik menunjukkan bahwa nilai kuat tarik dan persen pemanjangan terbesar diperoleh pada komposisi 30:70. Mencapai (14,8 ± 2,8) MPa pada nilai kuat tarik dan (5,33 ± 0,08)% untuk persen pemanjangan. Nilai ini sesuai dengan hasil analisis FTIR. Disini nilai kuat tarik sebanding dengan nilai absorbansi gugus metil akrilat yang menunjukkan konsentrasi gugus fungsi C atau jumlah gugus fungsi yang terbentuk. Semakin besar nilai konsentrasi maka nilai kuat tarik akan semakin besar, sedangkan nilai persen pemanjangan dipengaruhi oleh banyaknya gugus C-O-C pada pati garut yang terbentuk.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PATI TERMODIFIKASI ENZIMATIS SEBAGAI KOMPONEN PEREKAT BAHAN SALUT KERTAS CETAK

PATI TERMODIFIKASI ENZIMATIS SEBAGAI KOMPONEN PEREKAT BAHAN SALUT KERTAS CETAK

Penelitian ini mencoba mengaplikasikan penggunanan pati sebagai perekat alam yang dimodifikasi secara enzimatis (alpha amylase) baik dalam skala laboratorium di BBPK maupun replikasi percobaan di laboratorium industri kertas, kemudian dibandingkan dengan pati alam tanpa dimodifikasi dan pati impor (komersial). Diharapkan dengan menggunakan pati alam yang dimodifikasi secara enzimatis dapat meningkatkan kualitas lembaran kertas salut yang dihasilkan. Lingkup penelitian terdiri dari pembuatan kertas dasar, pembuatan pati termodifikasi enzimatis dan proses penyalutan pada kertas sekala laboratorium, baik di Balai Besar Pulp dan Kertas maupun di Industri Kertas. BAHAN DAN METODE
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Sintesis Pati Termodifikasi Dari Pati Sukun (Artocarpuscommunis) Melalui Metode Ikat Silang Menggunakan Epiklorohidrin

Sintesis Pati Termodifikasi Dari Pati Sukun (Artocarpuscommunis) Melalui Metode Ikat Silang Menggunakan Epiklorohidrin

Pati ikat silang telah disintesis melaui reaksi ikat silang antara pati sukun (Artocarpus communis) dan epiklorohidrin dengan variasi berat epiklrohidrin 1%; 2%; dan 3 % . Hasil sintesis di identifikasi gugus fungsi dengan spektrofototmeter FT-IR dan dihitung Derajat Substitusinya (DS). Terbentuknya pati ikat silang didukung oleh data spektrum FT-IR dengan munculnya frekuensi vibrasi C-O-C pada daerah 1018,41-1242,16 cm -1 . Derajat subsitusi untuk variasi menggunakan epiklorohidrin 1% ; 2% ; 3% ; berturut-turut adalah 0,0552 % ; 0,0701 % ; 0,0613 %. Pati ikat silang yang memiliki DS tertinggi yaitu 0,0701 variasi padaberat epiklorohidrin 2 %, diuji morfologi permukaan dan di uji kekuatan swelling. Hasil uji kekuatan swelling dengan variasi waktu absorbsi 6 jam, 24 jam, 36 jam, 72 jam masing-masing yaitu 0,9925%, 1,4611%, 1,8054%, 2,0049%, 3,0124%.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Modifikasi Pati Walur (Amorphophallus campanulatus var. Sylvestris) dengan Heat Moisture Treatment (HMT) serta Karakteristisasi Sifat Fisiko- Kimia dan Sifat Fungsionalnya

Modifikasi Pati Walur (Amorphophallus campanulatus var. Sylvestris) dengan Heat Moisture Treatment (HMT) serta Karakteristisasi Sifat Fisiko- Kimia dan Sifat Fungsionalnya

Sifat bahan pangan dalam bentuk bubuk dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sebagai partikel dan sebagai kesatuan (bulk). Sifat bulk ditentukan oleh karakteristik fisik dan kimia bahan, ukuran, bentuk geometri bahan, sifat permukaan partikel bahan, dan sistem secara keseluruhan (Wirakartakusumah et al, 1992). Densitas kamba didefinisikan sebagai massa partikel yang menempati unit volume tertentu. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa pati walur mempunyai densitas kamba sebesar 0.5160 gram/ml. Hasil ini dipengaruhi oleh karakteristik pati walur itu sendiri. Data densitas kamba ini diperlukan dalam industri pangan terutama untuk memperkirakan kebutuhan ruang dalam hal penyimpanan, pengemasan, dan pengangkutan dalam distribusi bahan. Terkait dengan hal ini, semakin besar densitas kamba suatu bahan, akan semakin ekonomis bahan tersebut karena memiliki area permukaan yang lebih luas (Fennema, 1996). Sementara itu, selama proses ekstraksi pati dari umbi walur, diketahui bahwa rendemen ekstraksi pati walur berkisar antara 2.86-5.29%. Rendemen ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan rendemen pati hasil ekstraksi dari perruvian carrot (6.91-10.30%) (Matsuguma et al., 2009), tiger nuts (15.3%), ubi jalar (20%), dan taro (10%) (Abo-El-Fetoh et al., 2010). Rendemen yang rendah ini kemungkinan disebabkan adanya proses reduksi oksalat yang dilakukan dengan perendaman menggunakan asam klorida konsentrasi 1.2 N. Perendaman dengan asam klorida akan menghidrolisis pati walur menjadi molekul-molekul yang lebih kecil sehingga rendemen pati yang dihasilkan cenderung lebih kecil jika dibandingkan dengan rendemen pati dari sumber lainnya (Herminiati dan Abbas, 2006). Ini terlihat dari rendemen pati walur sebelum direduksi kandungan oksalatnya yang berkisar antara 5.76-9.83%. Data rendemen yang dihasilkan memiliki rentang yang besar karena rendemen pengupasan yang bervariasi diakibatkan oleh bentuk dari umbi walur yang berlekuk sehingga sulit untuk dikupas secara manual dan umur dari umbi walur yang didapat sangat bervariasi sehingga kandungan pati yang dihasilkan juga bervariasi. Untuk selanjutnya yang dimaksudkan dengan pati walur kontrol atau pati walur alami adalah pati walur yang telah melalui proses reduksi oksalat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGGUNAAN PATI GARUT SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU PADA I FU MIEGA (I FU MIE GARUT) DAN TEPUNG GARUT PADA DORU KAMA (DORAYAKI LEMON GARUT ISI KACANG MERAH).

PENGGUNAAN PATI GARUT SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU PADA I FU MIEGA (I FU MIE GARUT) DAN TEPUNG GARUT PADA DORU KAMA (DORAYAKI LEMON GARUT ISI KACANG MERAH).

I Fu Miega adalah singkatan dari i fu mie garut, mie yang digunakan menggunakan bahan tepung terigu yang disubstitusikan dengan pati umbi garut. I fu miega adalah makanan berbentuk mie yang telah direbus lalu digoreng sampai garing. Karakteristik dari i fu miega ini mienya berwarna kecoklatan dan berbentuk seperti sarang burung. Dalam penyajianya, i fu miega garing ditata dalam dinner plate kemudian di atasnya disiram dengan tumisan sayuran, biasanya semacam cap cay dengan isian udang, bakso ikan, brokoli, wortel dan jamur. Rasa dari i fu miega ini gurih dengan bumbu yang khas masakan China dan kuah yang kental membuat rasa i fu miega ini menjadi lebih enak.
Baca lebih lanjut

134 Baca lebih lajut

Pembuatan Dan Karakterisasi Dekstrin Dari Pati Umbi Talas (Xanthosoma Sagittifolium (L.) Schott) Dengan Metode Katalis Asam Dan Enzimatis

Pembuatan Dan Karakterisasi Dekstrin Dari Pati Umbi Talas (Xanthosoma Sagittifolium (L.) Schott) Dengan Metode Katalis Asam Dan Enzimatis

Humprey, A. E. (1979). The Hidrolysis of Cellulosis Material of Useful Product. 181: 25. Di dalam Jati, P.W. (2006). Pengaruh Waktu Hidrolisis Dan Konsentrasi HCl Terhadap Nilai Dextrose Equivalent (DE) Dan Karakterisasi Mutu Pati Termodifikasi Dari Pati Tapioka Dengan Metode Hidrolisis Asam. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hal. 10.

3 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Hidrolisis dan Konsentrasi HCL terhadap Nilai Dextrose Equivalent (DE) dan Karakterisasi Mutu Padi Termodifikasi dari Pati Tapioka dengan Metode Hidrolisis Asam

Pengaruh Waktu Hidrolisis dan Konsentrasi HCL terhadap Nilai Dextrose Equivalent (DE) dan Karakterisasi Mutu Padi Termodifikasi dari Pati Tapioka dengan Metode Hidrolisis Asam

pati termodifikasi dengan metode gelatinisasi yaitu pada sampel M1W2 (91,01%). Uji kehalusan menunjukkan bahwa pati dengan metode penyangraiaan memiliki nilai kehalusan yang lebih tinggi daripada metode gelatinisasi. Pengujian warna dalam lugol meninjukkan bahwa seluruh produk pati termodifikasi mengandung pati. Pengujian kadar air menunjukkan bahwa pati dari proses penyangraian memiliki kadar air yang lebih rendah daripada pati termodifikasi dari metode gelatinisasi. Pengujian kadar abu, pengujian kadar, nilai kelarutan dalam air dingin, dan pengujian derajat asam juga menunjukkan bahwa seluruh sampel memenuhi standar DSN. Pengujian viskositas menunjukkan bahwa sampel dari metode gelatinisasi memiliki nilai viskositas yang lebih kecil daripada metode gelatinisasi. Dapat disimpulkan bahwa pati termodifikasi hasil modifikasi dengan metode penyangraian memenuhi kriteria mutu untuk dekstrin oleh Dewan Standarisasi Nasional akan tetapi tidak memenuhi standar mutu maltodekstrin yang ditetapkan oleh beberapa produsen maltodekstrin dalam hal derajat keputihan. Parameter mutu pati termodifikasi dengan metode gelatinisasi memenuhi standar mutu maltodekstrin pada beberapa perusahaan produsen maltodekstrin dan standar Dewan Standarisasi Nasional akan tetapi tidak memenuhi dalam hal kadar air. Dari pengujian karakteristik mutu tersebut disimpulkan bahwa dari pati tapioka dapat dihasilkan pati termodifikasi dengan kualitas yang memenuhi standar Dewan Standarisasi Nasional.
Baca lebih lanjut

131 Baca lebih lajut

Substitusi Pati Dalam Pembuatan Bakso Dengan Pati Singkong Termodifikasi (Secara Fosforilasi)

Substitusi Pati Dalam Pembuatan Bakso Dengan Pati Singkong Termodifikasi (Secara Fosforilasi)

Reaksi fosforilasi pada modifikasi ini akan menghasilkan pati fosfat. Pati fosfat yang diproduksi dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu: pati monofosfat dan pati difosfat. Pati monofosfat dihasilkan dari reaksi fosforilasi pati dengan sodium tripolyphosphate (STPP), sedangkan pati difosfat dihasilkan dari reaksi fosforilasi pati dengan sodium trimetaphosphate (STMP).Pati monofosfat meningkatkan kejernihan pasta, viskositas, dan daya ikat air.Pati difosfat dapat meningkatkan ketahanan terhadap retrogradasi, temperatur tinggi, dan pH rendah dibandingkan dengan pati alami.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Production and evaluation of modified taro (Colocasia esculenta Schott) starch by lactic acid bacteria (Lactobacillus sp)

Production and evaluation of modified taro (Colocasia esculenta Schott) starch by lactic acid bacteria (Lactobacillus sp)

(Lactobacillus sp) telah pernah dilakukan terhadap pati singkong. Pada proses fermentasi ini bakteri yang tumbuh akan menghasilkan enzim pektinolitik dan selulolitik yang dapat menghancurkan dinding sel sehingga terjadi liberasi granula pati. Selain itu terjadi pula perlubangan dari granula pati, sehingga menyebabkan permukaan yang tidak rata dari granula pati yang akan memperkuat ikatan antar butiran. Proses liberasi ini akan menyebabkan perubahan karakteristik dari pati yang dihasilkan berupa naiknya viskositas, kemampuan gelatinasi, dan daya penyerapan air (8, 9).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISIS KOMPARATIF BIAYA, PENERIMAAN DAN KEUNTUNGAN USAHA EMPING DAN PATI GARUT ( Studi kasus di Desa Ngasem Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro)

ANALISIS KOMPARATIF BIAYA, PENERIMAAN DAN KEUNTUNGAN USAHA EMPING DAN PATI GARUT ( Studi kasus di Desa Ngasem Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro)

.karena masing-masing pengusaha terdapat perbedaan dalam bahan baku dan jumlah tenaga. 2Tingkat efisiensi pada pengusaha emping garut diketahui dari nilai R/C Rasio sebesar 1,57. Sedangkan pengusaha pati garut diketahui dari nilai R/C Rasio sebesar 1,31 Hal ini dipengaruhi oleh penerimaan dan biaya pengolahan emping dan pati garut pada masing-masing pengusaha, sehingga industri rumah tangga emping dan pati garut dapat memberikan keuntungan dan efisiensi usaha untuk dikembangkan skala usaha yang lebih besar.

Baca lebih lajut

Modifikasi Pati Garut (Maranta arundinaceae L.) dengan Hidrolisis Asam, Siklus Autoclaving-Cooling, dan Heat Moisture Treatment (HMT) untuk Menghasilkan Pati Resisten Tipe III (RS3)

Modifikasi Pati Garut (Maranta arundinaceae L.) dengan Hidrolisis Asam, Siklus Autoclaving-Cooling, dan Heat Moisture Treatment (HMT) untuk Menghasilkan Pati Resisten Tipe III (RS3)

29 struktur double helix. Struktur double helix berikatan dengan struktur double helix lainnya membentuk kristalit sehingga terbentuk fraksi amilosa rekristalisasi, akibatnya pati menjadi lebih sulit dicerna/dihidrolisis oleh enzim pencernaan (Haralampu 2000; Mahadevamma et al. 2003; Shin et al. 2004; Adebowale et al. 2005; Lorlowhakarn dan Naivikul 2006). Pati garut alami (NA) dan pati garut termodifikasi hidrolisis asam (HA) memiliki pH sebesar 6.2‒6.4, sehingga p ada siklus autoclaving ‒ cooling ini juga terjadi hidrolisis amilosa atau amilopektin rantai terluar di daerah kristalin akibat adanya perlakuan panas pada suasana asam. Ketika perlakuan hidrolisis asam dan proses autoclaving ‒ cooling tiga siklus dikombinasikan (HAAC), maka depolimerasi amilosa dan amilopektin menjadi amilosa rantai pendek akan lebih mudah karena pati garut tersebut telah diberi perlakuan hidrolisis asam sebelum diberikan perlakuan autoclaving (Faridah et al. 2010; Vasanthan dan Bhatty 1998; Hung et al. 2015). Sebagai akibatnya, proses pembentukan RS3 lebih banyak dibandingkan dengan pati garut yang hanya diberi perlakuan hidrolisis asam (HA) atau hanya diberi proses autoclaving-cooling (AC). Meningkatnya kandungan amilosa pada pati garut termodifikasi pada saat proses autoclaving disebabkan oleh terjadinya degradasi amilosa rantai panjang menjadi amilosa rantai pendek yang berakibat pada peningkatan kandungan amilosa pada pati garut termodifikasi tersebut (Shin et al. 2004). Kemungkinan lain, amilopektin rantai pendek terluar pada bagian kristalin terdegradasi sehingga bagian amilopektin tersebut terukur sebagai amilosa sehingga kadar amilosa yang terukur pada pati garut termodifikasi tersebut semakin meningkat (Gambar 10). Fraksi amilosa rantai pendek yang dihasilkan dari modifikasi tiga siklus autoclaving-cooling maupun kombinasi antara hidrolisis asam dan tiga siklus autoclaving ‒ cooling juga terukur sebagai gula pereduksi sehingga kadar gula pereduksi yang terukur pada pati garut termodifikasi tersebut juga semakin meningkat (Gambar 7). Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa kadar pati resisten berkorelasi positif dengan kadar gula pereduksi (R 2 = 0.947, α=0.01) (Gambar 11) dan kadar amilosa (r = 0.753, α=0.01) (Tabel 8).
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Show all 7442 documents...