pecandu narkotika

Top PDF pecandu narkotika:

BAB III PENERAPAN REHABILITASI BAGI PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA 3.1 Penempatan Rehabilitasi Melalui Proses Peradilan - IMPLEMENTASI PELAKSANAAN REHABILITASI BAGI PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA Repository -

BAB III PENERAPAN REHABILITASI BAGI PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA 3.1 Penempatan Rehabilitasi Melalui Proses Peradilan - IMPLEMENTASI PELAKSANAAN REHABILITASI BAGI PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA Repository -

Penyalahgunaan Narkotika juga oleh instansi pemerintah atau masyarakat melalui pendekatan agama dan tradisional. Artinya disini pendekatan agama dan tradisional juga sangat penting diterapkan kepada Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika. Karena setiap orang pasti memiliki agama dan tradisi yang berbeda-beda dan tidak dapat disamakan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga pendekatan agama dan tradisional dapat disesuaikan dengan agama serta tradisi yang ada dalam suku atau masyarakat dimana Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan narkotika itu tinggal, dengan tetap diterapkannya rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang sudah menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan bagi Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

TESIS KEBIJAKAN DIVERSI TERHADAP ANAK PECANDU NARKOTIKA

TESIS KEBIJAKAN DIVERSI TERHADAP ANAK PECANDU NARKOTIKA

Pendekatan yang digunakan adalah Pendekatan konseptual (conceptual approach), digunakan untuk mengkaji dan menganalisis kerangka pikir atau kerangka konseptual maupun landasan teoritis sesuai dengan tujuan penelitian ini yakni mengakaji Kebijakan Diversi Terhadap Anak Pecandu Narkotika. Oleh karena itu, maka perlu dikemukakan konsep-konsep dasar mengenai Diversi, Anak dan Narkotika.

18 Baca lebih lajut

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN - KEBIJAKAN REHABILITASI DAN PELAKSANAAN PADA PROSES PENEGAKAN HUKUM BAGI PECANDU NARKOTIKA (STUDI KASUS DI BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROPINSI JAWA TENGAH) - Unika Repository

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN - KEBIJAKAN REHABILITASI DAN PELAKSANAAN PADA PROSES PENEGAKAN HUKUM BAGI PECANDU NARKOTIKA (STUDI KASUS DI BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROPINSI JAWA TENGAH) - Unika Repository

“Kebijakan rehabilitasi pecandu narkotika dalam penangananya Badan Narkotika Nasional dan Kepolisian Republik Indonesia lebih menerapkan agar dilakukan pendekatan kebijakan depenalisasi dan dekriminalisasi” 24 . Depenalisasi merupakan perbuatan yang semula diancam dengan perbuatan pidana, tetapi kemudian tidak lagi diancam dengan pidana, tetapi hanya kualifikasi pidananya untuk unsur melawan hukum tetap akan dipertahankan. Depenalisasi diberlakukan terhadap pecandu yang melaporkan diri, dengan melaporkan diri maka tidak akan dituntut sanksi pidana. Dapat disimpulkan bahwa jika pecandu wajib lapor berjalan meningkat dan berjalan baik maka pemidanaan akan menurun sedangkan perilaku ketergantungan narkotika dapat dikendalikan.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

ASPEK HUKUM ASESMEN TERPADU BAGI PENGGUNA DAN PECANDU NARKOTIKA DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA - repo unpas

ASPEK HUKUM ASESMEN TERPADU BAGI PENGGUNA DAN PECANDU NARKOTIKA DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA - repo unpas

Dalam usaha untuk menanggulangi masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, pemerintah telah memberlakukan Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika . Pada dasarnya sanksi yang diatur dalam Undang-Undang Narkotika menganut double track system yaitu berupa sanksi pidana dan sanksi tindakan. Dalam perkembangannya penyalahgunaan dan pecandu narkotika tidak lagi bermuara pada sanksi pidana penjara, melainkan bermuara di tempat rehabilitasi. Adapun sebelum dilaksanakannya rehabilitasi, setiap pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika harus dilakukan proses asesmen oleh Tim Asesmen Terpadu. Spesifikasi penelitian dilakukan dengan cara deskriptif analitis yaitu menggambarkan permasalahan yang ada kemudian mengkaji dan menganalisisnya dengan menggunakan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif, yaitu menguji dan mengkaji data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwapelaksanaan asesmen terpadu di lapangan masih mengalami berbagai kendala yaitu: a) adanya perbedaan pandangan diantara aparat penegak hukum dalam penanganan kasus narkotika; b) ketentuan hukum yang mengatur assesmen terpadu kurang mempunyai kekuatan hukum; c) kurangnya anggaran/ sumber dana dalam pelaksanaan assesmen terpadu. Oleh karena itu harus ada tindakan dan perhatian dari pemerintah (BNN) mulai dari pemahaman aparat penegak hukum dalam pemberantasan tindak pidana narkotika, penggunaan instrumen hukum yang tepat, dan 1 Mahasiswa Pascasarjana Universitas Pasundan, Bandung.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

PENEMPATAN WARIA SEBAGAI PECANDU NARKOTIKA DALAM LEMBAGA REHABILITASI.

PENEMPATAN WARIA SEBAGAI PECANDU NARKOTIKA DALAM LEMBAGA REHABILITASI.

kesembuhan, keberadaan waria juga harus diperhitungkan. Menurut hemat penulis, apabila diperlukan, jika ada waria yang menjalani rehabilitasi juga diberikan treatment atau skill tertentu. Penempatan rehabilitasi terhadap waria sebagai pecandu narkotika, menutrut hemat penulis, perlu dibedakan maupun tetap dijadikan satu sesuai jenis kelamin yang real dapat dijadikan kebijakan yang fleksibel. Semua kebijakan harus didasarkan adakah alasan yang menguatkan. Jenis waria juga mempengaruhi, apabila memang jenis waria yang berpenampilan sangat feminis dan memiliki kelainan orientasi seksual lebih baik dipisahkan dan diberikan treatment khusus, apalagi yang memiliki keseharian bekerja sebagai pekerja seks, bisa memberi pengaruh jika menjajakan diri, mengganggu, maupun menjadi olokan bagi sesama pecandu yang direhabilitasi bersama. Bagi waria yang masih menerima dan menyadari kodratnya sebagai seorang laki-laki dan secara fisik total masih laki-laki, tidak menjadi masalah jika digabung dengan pecandu berjenis kelamin laki-laki, selama eksistensinya sebagai waria diterima dan tidak
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KUALIFIKASI PECANDU NARKOTIKA DALAM PROSES PENEGAKAN HUKUM.

KUALIFIKASI PECANDU NARKOTIKA DALAM PROSES PENEGAKAN HUKUM.

Undang Nomor Tahun 35 Tahun 2009 secara garis besar yang dapat dijelaskan sebagai berikut: 7 Mengatur tentang kewajiban pecandu narkotika melaporkan diri kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Kewajiban ini juga menjadi tanggung jawab orang tua dan keluarga. Bagi mereka yang melaporkan diri ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) diberikan perawatan yang ditanggung pemerintah dan status kriminalnya berubah menjadi tidak dapat dituntut pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 128 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Rehabiltasi medis dan sosial dapat diselenggarakan instansi pemerintah maupun komponen masyarakat, penyalahguna narkotika diancam dengan pidana paling lama 4 tahun karena sebagai tindak pida a ri ga . Oleh kare a itu, berdasarkan Pasal 21 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dapat menjadi acuan bahwa penyalah guna narkotika selama proses pidana tidak memenuhi syarat dilakukan penahanan oleh penyidik atau penuntut umum dan sejauh
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  TINJAUAN YURIDIS TENTANG PEMIDANAAN TERHADAP PECANDU NARKOTIKA.

PENDAHULUAN TINJAUAN YURIDIS TENTANG PEMIDANAAN TERHADAP PECANDU NARKOTIKA.

Pidana seharusnya lebih dititikberatkan kepada pengedar narkotika karena dengan adanya pengedar yang menyebabkan munculnya penyalahguna narkotika yang kemudian melahirkan seorang pecandu narkotika, karena biar bagaimanapun pemberantasan narkotika harus dilihat titik sentralnya, sulitnya aparat penegak hukum melakukan pelacakan terhadap pengedaran narkotika di karenakan kejahatan tersebut dilakukan tidak secara perseorangan melaikan melibatkan banyak orang yang secara bersama-sama bahkan merupakan satu sindikat yang terorganisasi dengan jaringan luas yang bekerja secara rapi dan sangat rahasia baik di tingkat nasional maupun internasional.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KENDALA DAN UPAYA REHABILITASI BAGI PECANDU NARKOTIKA OLEH BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI (BNNP) YOGYAKARTA.

KENDALA DAN UPAYA REHABILITASI BAGI PECANDU NARKOTIKA OLEH BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI (BNNP) YOGYAKARTA.

Upaya yang dilakukan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Yogyakarta agar pecandu narkotika dapat direhabilitasi yaitu dengan cara mendapatkan penyalahguna narkotika yang berasal dari hasil tangkapan (compulsory), dan penyalahguna narkotika yang datang secara sukarela (voluntary). Masing-masing penanganannya akan berbeda. Penyalahguna yang berasal dari hasil tangkapan (compulsory) apabila penyalahguna tersebut tidak mempunyai/membawa barang bukti maka dari bidang pemberantasan akan meminta ke bidang rehabilitasi untuk dilakukan asesmen terlebih dahulu, untuk mengetahui kondisi si penyalahguna narkoba secara mendetail.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Pembatalan Vonis Rehabilitasi terhadap Pecandu Narkotika

Analisis Yuridis Pembatalan Vonis Rehabilitasi terhadap Pecandu Narkotika

SEMA Nomor 4 Tahun 2010 mensyaratkan bahwa vonis rehabilitasi dapat dijatuhkan terhadap pecandu narkotika yang memenuhi kualifikasi tindak pidana sebagai berikut: a) Terdakwa ketika ditangkap dalam keadaan tertangkap tangan; b) Jumlah narkotika yang dikuasai sewaktu penangkapan adalah untuk konsumsi satu hari; c) Berdasarkan uji laboratorium, terdakwa positif menggunakan narkotika; d) Ada keterangan dari dokter jiwa/psikiater pemerintah; e) terbukti tidak terlibat dalam jaringan peredaran gelap narkotika. Oleh karena tidak adanya kualifikasi tindak pidana di dalam SEMA Nomor 4 Tahun 2010 yang menyebutkan bahwa “keterangan ahli dan sebagai standar dalam proses terapi dan rehabilitasi” sebagaimana yang disebutkan Majelis Hakim PT dalam pertimbangannya di atas, maka pemenuhan terhadap kualifikasi ini tidak perlu dibuktikan. Oleh karena secara substansial perbuatan terdakwa telah memenuhi klasifikasi yang ditetapkan SEMA Nomor 4 Tahun 2010, maka seharusnya hakim mempertimbangkan ketentuan Pasal 103 Undang-Undang Narkotika.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Putusan Hakim tentang Rehabilitasi Terhadap Pecandu Narkotika (Studi Putusan Nomor : 35 PID 2012 PT.TK)

Putusan Hakim tentang Rehabilitasi Terhadap Pecandu Narkotika (Studi Putusan Nomor : 35 PID 2012 PT.TK)

Rehabilitasi dianggap perlu bagi pecandu narkotika sebagai alternatif pemidanaan karena rehabilitasi itu sendiri bertujuan untuk memperbaiki kesehatan dari si pecandu narkotika dengan menjalani perawatan dan rehabilitasi pada panti-panti rehabilitasi yang ada. Hal ini berbanding terbalik jika si pecandu narkotika dihukum dengan sanksi pidana penjara yang akan menjadikan si pecandu narkotika dapat belajar lebih banyak lagi mengenai tindak-tindak pidana yang lain, dimana hal itu sering disebut sebagai “sekolah kriminalitas”. Adapun yang menjadi latar belakang pertimbangan hukum hakim dalam penjatuhan putusan rehabilitasi terkait dengan tujuan pemidanaan adalah dengan memperhatikan nilai kepastian, keadilan dan kemanfaatan yang didasari pada suatu pemikiran bahwa pecandu narkotika itu sebagai korban kejahatan penyalahgunaan narkotika dan menganggap seorang pecandu lebih cocok dijatuhkan vonis sanksi rehabilitasi yang akan memberikan perawatan dan pembinaan yang bersifat mendidik dan memperbaiki fisik dan mental dari para pecandu sehingga mereka dapat kembali hidup normal di dalam masyarakat dan hakim juga mempertimbangkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2010 Tentang Penempatan Pemakai Narkotika ke Dalam Panti Terapi dan Rehabilitasi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Sistem Penghukuman Bagi Pecandu Narkotika Pada Undang – Undang No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

Sistem Penghukuman Bagi Pecandu Narkotika Pada Undang – Undang No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

sosial. Menteri menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pe la ya na n kese hat an da n/at au u nt uk penge mba nga n ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian juga “pecandunarkotika dapat memilih tempat rehabilitasi yang telah memenuhi kualifikasi dan apabila pengguna narkotika dalam pengawasan negara maka negara memberikan hak rehabilitasi secara cuma-cuma kepada pengguna narkotika dimana pembiayaanya dapat diambil dari harta kekayaan dan asset yang disita oleh negara ( Pasal 9 ayat (1), Penjelasan Pasal 103 ayat 1 huruf b dan Penjelasan Pasal 101 ayat (3) Undang – Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Kemudian juga diaturnya hak untuk tidak dituntut pidana sebagai sebuah diskresi bagi “pengguna” narkotika sebagaimana ketentuan Pasal 128 Undang – Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang memberi jaminan tidak dituntut pidana bagi Pecandu Narkotika yang belum cukup umur dan telah dilaporkan oleh orang tua atau walinya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1) dan bagi Pecandu Narkotika yang telah cukup umur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (2) yang sedang menjalani rehabilitasi medis 2 (dua) kali masa perawatan dokter dirumah sakit dan/atau lembaga rehabilitasi medis yang ditunjuk oleh pemerintah. 178
Baca lebih lanjut

207 Baca lebih lajut

BAB II PERBEDAAN PUTUSAN REHABILITASI DAN PUTUSAN PIDANA PENJARA DALAM TINDAK PIDANA NARKOTIKA 2.1 Teori-Teori Pemidanaan - IMPLEMENTASI PELAKSANAAN REHABILITASI BAGI PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA Repository - UNAIR REPOSITORY

BAB II PERBEDAAN PUTUSAN REHABILITASI DAN PUTUSAN PIDANA PENJARA DALAM TINDAK PIDANA NARKOTIKA 2.1 Teori-Teori Pemidanaan - IMPLEMENTASI PELAKSANAAN REHABILITASI BAGI PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA Repository - UNAIR REPOSITORY

Jadi, rehabilitasi disini, jika merujuk kepada tujuan dari hukum pidana itu sendiri untuk melindungi masyarakat 26 , yang mana disini yang dilindungi adalah Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika dengan cara rehabilitasi yang merupakan suatu upaya, selain memberikan efek jera terhadap Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika, dalam proses rehabilitasi ini juga diberikan penyuluhan, pendidikan, dan sosialisasi kepada pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika terhadap bahaya Narkotika bagi kehidupan yang bahkan dapat menyebabkan kematian terhadap yang menyalahgunakannya, serta pemulihan disini bertujuan agar Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika itu sendiri dapat kembali kekehidupan normal seperti biasanya yang sehat dan terbebas dari Narkotika itu sendiri. Yang mana, disini dalam penerapannya, depenalisasilah yang menjadi suatu proses yang akan dibahas dalam rehabilitasi ini, karena merupakan suatu rehabilitasi yang bersifat penal dan voluntair, artinya Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika secara sukarela memohonkan agar dapat direhabilitasi sehingga dapat pulih dan mengerti akan bahaya Narkotika yang nantinya tidak menjadi Pecandu Narkotika lagi.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS PEMBATALAN VONIS REHABILITASI TERHADAP PECANDU NARKOTIKA

ANALISIS YURIDIS PEMBATALAN VONIS REHABILITASI TERHADAP PECANDU NARKOTIKA

Ada 2 (dua) rumusan masalah yang dianalisis dalam skripsi ini, yaitu: 1) apakah pertimbangan hakim dalam menjatuhkan vonis rehabilitasi sesuai dengan Pasal 103 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan 2) apakah pembatalan vonis rehabilitasi sesuai dengan Pasal 4 huruf d Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian antara pertimbangan hakim dalam membatalkan vonis rehabilitasi terhadap pecandu narkotika dengan Pasal 103 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika serta menganalisis kesesuaian antara pembatalan vonis rehabilitasi dengan ketentuan pasal 4 huruf d Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Tipe penelitian ini adalah yuridis normatif (legal research) yang menggunakan pendekatan perundang-undangan (legal approach), pendekatan konseptual (conseptual approach), pendekatan perbandingan (comparative approach) dan pendekatan kasus (case approach). Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis deduktif.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PEMIDANAAN TERHADAP PECANDU NARKOTIKA.

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PEMIDANAAN TERHADAP PECANDU NARKOTIKA.

Salah satu contoh kasus yang dapat kita lihat yaitu kasus Roy Marten yang sudah diputus pidana penjara oleh Pengadilan Negeri, tetapi masih saja melakukan tindak pidana yang sama, hal ini jelas membuktikan ketidakefektifan pemidanaan bagi seseorang yang telah mejadi pecandu, oleh sebab itu pengguna narkotika yang sudah menjadi pecandu alangkah baiknya apabila diberi tindakan perawatan dan pengobatan rehabilitasi, selain tidak adanya jaminan akan menjadi lebih baik, maka bukan tidak mungkin akan membawa pengaruh atau dampak yang lebih buruk terhadap para pengguna (pecandu) narkotika tersebut, disebabkan di dalam penjara mereka dapat bertukar pengalaman tentang kejahatan, tidak jarang pula bahwa didalam penjara justru malah terjadi transaksi narkotika bahkan ada pabrik pembuatan narkotika.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

SKRIPSI KUALIFIKASI PECANDU NARKOTIKA   KUALIFIKASI PECANDU NARKOTIKA DALAM PROSES PENEGAKAN HUKUM.

SKRIPSI KUALIFIKASI PECANDU NARKOTIKA KUALIFIKASI PECANDU NARKOTIKA DALAM PROSES PENEGAKAN HUKUM.

Penulisan Hukum ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Materi Penulisan Hukum ini banyak didapatkan dari berbagai sumber baik dari hasil penelitian, wawancara dengan Narasumber maupun dari pengetahuan yang diperoleh selama kuliah, terutama dengan adanya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang diharapkan dapat memberikan kualifikasi pecandu narkotika yang dilakukan oleh Penyidik Kepolisian, Jaksa Penuntut Umum dan Hakim agar aturan yang ada tidak diterapkan sama terhadap penyalahgunaan narkotika.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENUTUP  KUALIFIKASI PECANDU NARKOTIKA DALAM PROSES PENEGAKAN HUKUM.

PENUTUP KUALIFIKASI PECANDU NARKOTIKA DALAM PROSES PENEGAKAN HUKUM.

Bertolak dari pembahasan dalam Bab II, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai jawaban dari permasalahan yaitu, terjadinya perbedaan mengenai kualifikasi penyalahgunaan jenis tindak pidana narkotika antara penyidik kepolisian, jaksa penuntut umum, dan hakim adalah disebabkan karena :

6 Baca lebih lajut

PENUTUP  TINJAUAN YURIDIS TENTANG PEMIDANAAN TERHADAP PECANDU NARKOTIKA.

PENUTUP TINJAUAN YURIDIS TENTANG PEMIDANAAN TERHADAP PECANDU NARKOTIKA.

1. Hakim dalam menjatuhkan sanksi terhadap pecandu dan penyalahguna narkotika sebaiknya menjatuhkan sanksi tindakan berupa Rehabilitasi baik medis maupun sosial sebagaimana yang telah dtentukan oleh undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

4 Baca lebih lajut

TINJAUAN HUKUM TERHADAP PENETAPAN REHABILITASI BAGI PENGGUNA NARKOTIKA DI KOTA MAKASSAR

TINJAUAN HUKUM TERHADAP PENETAPAN REHABILITASI BAGI PENGGUNA NARKOTIKA DI KOTA MAKASSAR

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1). Pecandu narkotika yang melporkan diri secara sukarela, akan diarahkan ke IPWL untuk dilakukan asesmen guna menentukan dapat atau tidaknya direhabilitasi. Sementara itu untuk pengguna narkotika yang tertangkap dengan barang bukti atau batasan pemakaian maksimal yang telah ditentukan juga akan diajukan tes asesmen terpadu untuk dapat direhabilitasi. 2). Hambatan penyidik kepolisian dalam menetapkan rehabilitasi bagi pengguna narkotika yaitu kurangnya kesadaran atau kerelaan penyalahguna narkotika yeng telah cukup umur untuk melaporkan diri ke kepolisian untuk diarahkan ke IPWL atau dilaporkan oleh keluarga apabila pengguna narkotika belum cukup umur, takutnya para orang tua atau keluarga pengguna narkotika akan rusaknya pencitraan mereka apabila diketahui anak atau anggota keluarganya adalah pengguna narkotika sehingga mereka enggan untuk melaporkan diri, masih banyaknya masyarakat yang tidak menegtahui bahwa rehabilitasi bagi pengguna narkotika ini sermua biayanya ditanggung oleh pemerintah/gratis, dan batas waktu penangkapan yang hanya 1x24 jam untuk menentukan apakah pengguna narkotika akan diajukan untuk tes asesmen sehingga kurang memperhatikan ilmu kedokteran forensik dan kriminalistik yang dapat secara akurat membuktikan ada atau tidaknya kandungan zat-zat berbahaya pada pelaku tindak pidana narkotika, sehingga setelah 1x24 jam tersangka yang harus dilepaskan dapat menghilangkan barang bukti lain yang dapat menunjang keakuratan pengumpulan alat bukti, karena yang diberlakukan adalah asas praduga tak bersalah sebagai upaya untuk menjamin hak asasi manusia.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Show all 1706 documents...