Pelaku tindak pidana

Top PDF Pelaku tindak pidana:

Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Satwa Liar yang Dilindungi ( Studi Putusan Nomor 1731 Pid.Sus 2015 PN.Medan dan Nomor 124 Pid.Sus 2016 PN.Mdn)

Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Satwa Liar yang Dilindungi ( Studi Putusan Nomor 1731 Pid.Sus 2015 PN.Medan dan Nomor 124 Pid.Sus 2016 PN.Mdn)

dari sanksi yang di berikan terhadap pelaku tindak pidana kejahatan satwa dan pelaku tindak pidana kelalaian tersebut antara lain penggunaan sanksi pidana pidana pokok (penjara, kurungan, dan denda). Pidana yang disebutkan dalam ketentuan di atas juga hanyalah menyebutkan pidana maksimal. Sehingga memungkinkan para pelaku tindak pidana tersebut mendapatkan pidana yang ringan. Pasal 40 ayat (1) dan ayat (2) merupakan tindak pidana yang dilakukan dengan sengaja, yang dimaksud “dengan sengaja” 64 (opzettelijk) adalah sama dengan “willens en wetwn” (dikehendaki dan diketahui). Ini berarti pada waktu melakukan perbuatan pelaku mengkehendaki perbuatan dan atau akibat dari perbuatannya. Sedangkan pasal 40 ayat (3) dan ayat (4) adalah tindak pidana yang dilakukan karena kelalaian. 65
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI  Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

Tindak pidana aborsi telah diatur di dalam Pasal 346-349 KUHP. Pengaturan khusus mengenai tindak pidana ini lebih khusus diatur dalam Undang-undang Kesehatan, yakni Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan sebagai undang-undang lama dan Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan sebagai undang-undang terbaru (hasil perubahan). Meskipun tindak pidana aborsi ini telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, namun masih banyak kasus aborsi yang terjadi. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional mengemukakan bahwa angka tindakan aborsi terjadi sebanyak 2 juta per tahun dengan 750 angka dilakukan oleh remaja putri. Faktor yang melatarbelakangi para pelaku tindak pidana aborsi diantaranya karena kehamilan akibat seks bebas, kehamilan akibat perkosaan, dan alasan sosio ekonomis. Sehubungan dengan hal itu, maka bagaimanakah sepantasnya pelaku tindak pidana aborsi mempertanggungjawabkan perbuatannya serta bagaimana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana aborsi. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penulis akan melakukan penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian yuridis empiris. Penulis akan mengidentifikasikan hukum yang sedang berlaku dan menghubungkannya dengan fakta-fakta yang ada berupa pertimbangan hakim dalam memberikan putusannya. Berdasarkan hasil penelitian penulis, didapatkan hasil bahwa seorang pelaku tindak pidana aborsi dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya harus memenuhi unsur-unsur kesalahan yang berupa adanya sifat melawan hukum, di atas umur tertentu mampu bertanggungjawab, mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan atau kealpaan, dan tidak adanya alasan pemaaf. Sementara itu, di dalam hukum Islam, seseorang dapat hapus hukumannya apabila terdapat paksaan ( Al-Ikhrah), belum dewasa, mabuk, gila dan halangan-halangan lain. Hakim selama ini memutuskan perkara tindak pidana aborsi dengan memberikan pertimbangan dengan melihat pada peraturan perundang-undangan khususnya pada KUHP bukan pada Undang-Undang Kesehatan sebagai lex specialist nya. Selain itu, hakim juga memberikan pertimbangannya melalui hati nurani hakim tanpa dengan mempertimbangkan nilai keadilan yang ada dalam masyarakat.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Pemerkosaan Terhadap Anak (Studi Putusan Nomor 9 Pid.sus 2016 PN-Gst)

Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Pemerkosaan Terhadap Anak (Studi Putusan Nomor 9 Pid.sus 2016 PN-Gst)

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaturan hukum tindak pidana pemerkosaan terhadap anak dan bagaimana penerapan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana dalam (Putusan Pengadilan Negeri Gunung Sitoli Nomor 9/Pid.sus/2016/PN Gst).

1 Baca lebih lajut

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Berusia Lanjut.

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Berusia Lanjut.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan putusan pemidanaan terhadap putusan pemidanaan terhadap pelaku tindak pidana yang berusia lanjut. Penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif. Penelitian dilaksanakan di Pengadilan Negeri Ngawi. Sumber data menggunakan data sekunder. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, penyelesaian perkara pidana pada pelaku yang berusia lanjut tetap mengacu pada Kitab Undang-Undang Acara Pidana (KUHAP), yaitu dimulai dengan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, persidangan, hingga putusan; Kedua, Majelis Hakim dalam memeriksa perkara pidana berusaha mencari dan membuktikan kebenaran materil berdasarkan pertimbangan hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan sosiologis; Ketiga, tidak ada perbedaan dalam putusan pemidanaan pada pelaku tindak pidana yang berusia lanjut dengan orang dewasa lainnya. Faktor usia tidak termasuk dalam faktor yang meringankan hukuman. Pertimbangan hakim dalam memutus tindak pidana menebang atau memanen hasil hutan tanpa ijin terhadap pelaku yang berusia lanjut tetap mengacu pada ketentuan pemutusan tindak pidana secara umum yaitu berdasarkan pertimbangan hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan sosiologis.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENERAPAN SANKSI PIDANA PASAL 82 UU NO 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCABULAN ANAK - Repositori Universitas Andalas

PENERAPAN SANKSI PIDANA PASAL 82 UU NO 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCABULAN ANAK - Repositori Universitas Andalas

Berdasarkan pidana pada asas pembalasan dan asas pertahanan tata tertib masyarakat, dengan kata lain dua alasan itu adalah menjadi dasar dari penjatuhan pidana, teori gabungan ini dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar, teori gabungan yang mengutamakan pembalasan, tapi pembalasan itu tidak boleh melampaui batas dari apa yang perlu dan cukup untuk dapat dipertahankannya tata tertib masyarakat; teori gabungan mengutamakan perlindungan tat tertib masyarakat, tetapi penderitaan atas dijatuhinya pidana tidak boleh lebih berat dari perbuatan yang dilakukan. 8
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA  YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Berusia Lanjut.

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Berusia Lanjut.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses penyelesaian hukum dalam tindak pidana terhadap pelaku yang berusia lanjut, pertimbangan yang digunakan hakim dalam memutus tindak pidana yang dilakukan oleh lansia, serta perbedaan putusan pemidanaan terhadap putusan pemidanaan terhadap pelaku tindak pidana yang berusia lanjut dengan orang dewasa lainnya. Penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif. Penelitian dilaksanakan di Pengadilan Negeri Ngawi. Sumber data menggunakan data sekunder. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, penyelesaian perkara pidana pada pelaku yang berusia lanjut tetap mengacu pada Kitab Undang- Undang Acara Pidana (KUHAP), yaitu dimulai dengan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, persidangan, hingga putusan. Penyelesaian hukum pada tindak pidana menebang atau memanen hasil hutan tanpa ijin oleh pelaku yang berusia lanjut tetap menggunakan ketentuan umum yang dipersyaratkan dalam hukum pidana formil untuk menjamin kepastian hukum dan memberikan efek jera bagi terdakwa. Pemberian hukuman ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat di kemudian hari agar tidak melakukan perbuatan sama; Kedua, Majelis Hakim dalam memeriksa perkara pidana berusaha mencari dan membuktikan kebenaran materil berdasarkan pertimbangan hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan sosiologis; Ketiga, tidak ada perbedaan dalam putusan pemidanaan pada pelaku tindak pidana yang berusia lanjut dengan orang dewasa lainnya. Faktor usia tidak termasuk dalam faktor yang meringankan hukuman. Pertimbangan hakim dalam memutus tindak pidana menebang atau memanen hasil hutan tanpa ijin terhadap pelaku yang berusia lanjut tetap mengacu pada ketentuan pemutusan tindak pidana secara umum yaitu berdasarkan pertimbangan hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan sosiologis. Sesuai dengan ketentuan hukum yang diatur dalam KUHP bahwa usia lanjut bukan faktor yang menghalangi seseorang untuk dikenai pidana. Artinya faktor usia lanjut bukan termasuk faktor yang menghapuskan, mengurangi atau memberatkan hukuman.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Penerapan Undang-Undang nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (Kajian Putusan No.1554/Pid.B/2012/PN.Mdn)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Penerapan Undang-Undang nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (Kajian Putusan No.1554/Pid.B/2012/PN.Mdn)

Skripsi ini berjudul Penerapan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (Kajian Putusan No.1554/Pid.B/2012/Pn.Mdn) diangkat karna penulis ingin mengetahui bagaimana pengaturan hukum tentang tindak pidana perdagangan orang, dan apa sajakah faktor-faktor terjadinya PTPPO dan dampaknya. Yang mana dalam skripsi ini penulis mengkaitkan penerapan UU No 21 tahun 2007 tentang PTPPO dengan Putusan Kasus tindak pidana perdagangan orang. Sepanjang pengamatan dan penelusuran penulis di Fakultas Hukum USU belum ada yang membahasnya ataupun pembahasan judul yang sama. Dan kalaupun ada tulisan yang hampir sama dengan skripsi ini, semua itu akan menambah kazanah dan wawasan untuk memperdalam dan memperluas penulisan. Penulisan ini disusun berdasarkan literatur-literatur yang telah ada, baik dari literatur perpustakaan, media cetak atapun media elektronik. oleh karna itu penulisan skripsi ini adalah karya asli penulis dan apabila ternyata dikemudian hari terdapat judul yang permasalahan yang sama, maka penulis akan bertanggungjawab atas skripsi ini.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS PUTUSAN ARTIDJO ALKOSTAR TERHADAP PEMBERATAN HUKUMAN BAGI PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI.

ANALISIS YURIDIS PUTUSAN ARTIDJO ALKOSTAR TERHADAP PEMBERATAN HUKUMAN BAGI PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam memberikan pemberatan hukuman bagi pelaku tindak pidana korupsi yaitu dengan menjatuhkan hukuman setimpal dengan perbuatan Terdakwa karena terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan Kesatu dengan pidana penjara 12 (dua belas) tahun dan denda Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 8 (delapan) bulan, dengan uang pengganti conform judex facti. Menimbang, bahwa oleh karena terjadi perbedaan pendapat dalam Majelis dan telah diusahakan dengan sungguh-sungguh tetapi tidak tercapai mufakat, maka sesuai Pasal 182 ayat (6) KUHAP, Majelis setelah musyawarah dan diambil keputusan dengan suara terbanyak, yaitu mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi I/Penuntut Umum pada komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia dengan penjatuhan hukuman tambahan berupa pembayaran uang pengganti sesuai dalam isi putusan No. 1616 K/Pid.Sus/2013.
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA DITINJAU DARI HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

PERBANDINGAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA DITINJAU DARI HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

Allah SWT berfirman: “ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” Ayat di atas menjelaskan hukuman dipotong tangannya pencuri baik perempuan atau laki-laki sebagai pembalasan duniawi atas perbuatannya. Agar pelaku jera dan orang lain takut melakukan hal serupa. Tetapi jika ia menyadari kesalahannya dan menyesali lalu bertaubat, antara lain dengan mengembalikan apa yang telah dicurinya atau mengembalikan yang senilai kepada pemiliknya, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya sehingga ia tidak akan disiksa di akhirat nanti. 50 ”Tidaklah dipotong tangan seorang pencuri kecuali (jika ia telah mencuri sesuatu) senilai seperempat dinar atau lebih” . ( HR. Muslim No 1684)
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

ANALISA TINDAK PIDANA YANG TIDAK DILAKUKAN PENUNTUTAN KE PENGADILAN  Analisa Tindak Pidana Yang Tidak Dilakukan Penuntutan Ke Pengadilan (Studi Kasus Polres Ngawi).

ANALISA TINDAK PIDANA YANG TIDAK DILAKUKAN PENUNTUTAN KE PENGADILAN Analisa Tindak Pidana Yang Tidak Dilakukan Penuntutan Ke Pengadilan (Studi Kasus Polres Ngawi).

Akhirmya kalau ada kasus yang terjadi pada masyarakat, masyarakat akan memilih menyelesaikan masalah sendiri secara musyawarah, jika memang penyelesaian secara musyawarah untuk mencapai mufakat yang dilakukan oleh masyarakat mungkin akan lebih baik dari pada masyarakat main hakim sendiri terhadap pelaku tindak pidana. kalau main hakim sendiri nanti pada akhirnya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan siapa yang akan tanggung jawab, tentu masyarakat juga akan mencari aman melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Main hakim sendiri merupakan istilah bagi tindakan untuk menghukum suatu pihak tanpa melewati proses yang sesuai hukum, main hakim sendiri adalah jenis konflik kekerasan yang cukup dominan di Indonesia. Bentuknya bisa berupa penganiayaan, perusakan harta benda dan sebagainya. Pelaku main hakim sendiri terhadap pelaku tindak pidana juga akan dijerat hukuman sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang telah ada, karena apabila tidak ada hukuman bagi mereka maka masyarakat akan seenaknya melakukan tindakan main hakim sendiri dan akan membuat lemahnya atau tidak dianggapnya aparat penegak hukum di dalam masyarakat. Mereka akan menyepelekan tugas dan fungsi aparat penegak hukum, karena seakan-akan masyarakat bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa campur tangan aparat penegak hukum, padahal sebenarnya apa yang mereka lakukan adalah salah besar. Kita harus tunduk pada hukum, karena negara Indonesia adalah negara hukum.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PROPOSAL SKRIPSI PERLINDUNGAN HUKUM TERA

PROPOSAL SKRIPSI PERLINDUNGAN HUKUM TERA

Perlindungan terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana memang untuk saat ini masih kurang dan terlalu pasif, seperti yang kita ketahui pada contoh kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh seorang anak yang masih berumur dua belas (12) tahun dengan putusan No. 10/ Pid/ B/ 2012/PN.PP (Nomor: 10/Pidana/B/2012/Pengadilan Negeri Padang Panjang) bahwa terdakwa dalam kasus pencurian ini telah mengaku bersalah dan benar melakukan pencurian sepeda motor yang bukan miliknya/milik orang lain dengan maksud untuk dimiliki, bahwa menurut saya, perbuatannya tersebut melanggar pasal 363 ayat (1) angka 5 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Kasus ini seharusnya tidak perlu sampai pada tahap pemeriksaan di pengadilan, kerena memerlukan waktu yang sangat lama (selama satu bulan) sejak dimulainya penyidikan oleh polisi. Selama satu bulan tersebut tentunya si terdakwa berada dalam tahanan dan selama berada dalam tahanan tentu tekanan batin serta rasa malu sangat memukul jiwa terdakwa dan bukan hanya itu terdakwa juga tentunya masih sekolah, jadi selama penahanan hak-hak terdakawa seperti hak untuk sekolah telah dirampas oleh polisi, sebagaimana yang dimaksud pada pasal 9 ayat (1) UUPA, padahal terdakwa seharusnya terus-menerus mendapatkan asuhan/ bimbingan dari orang tua dan pendidikan di sekolah.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

STUDI KOMPARATIF TINDAK PIDANA PERJUDIAN DITINJAU DARI SYARI’AT ISLAM DAN HUKUM PIDANA POSITIF INDONESI

STUDI KOMPARATIF TINDAK PIDANA PERJUDIAN DITINJAU DARI SYARI’AT ISLAM DAN HUKUM PIDANA POSITIF INDONESI

Perjudian merupakan salah satu jenis tindak pidana yang bertentangan dengan berbagai nilai dan norma yang diakui dan hidup di dalam masyarakat, baik norma adat, norma sosial budaya, norma hukum mapun norma agama, oleh karena itu berbagai norma di atas disertai dengan berbagai sanksi, sebagai ganjaran terhadap pelaku tindak pidana perjudian. Perjudian menurut Pasal 303 ayat (3) KUHP adalah tiap-tiap permainan, di mana kemungkinan untuk menang pada umumnya bergantung pada peruntungan belaka,juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Dalam pengertian permainan judi termasuk juga segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERAN KOMISI KEJAKSAAN TERHADAP KINERJA JAKSA SEBAGAI PENUNTUT UMUM DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENDAHULUAN PERAN KOMISI KEJAKSAAN TERHADAP KINERJA JAKSA SEBAGAI PENUNTUT UMUM DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI.

lain menunjukkan bahwa pelaksanaan hukuman atau pidana pada perkara tindak pidana korupsi masih dianggap terlalu ringan sehingga tidak membuat jera kepada para pelaku tindak pidana korupsi, kemudian pada tahun 2006 berdasarkan catatan semester pertama yang dihimpun Indonesia Corruption Watch terdapat 76 kasus tindak pidana korupsi dengan 206 orang terdakwa yang diperiksa dan diputus oleh pengadilan di sebagian besar wilayah Indonesia dari tingkat pertama (Pengadilan Negeri), banding (Pengadilan Tinggi) hingga kasasi (Mahkamah Agung). Dari 76 kasus tersebut terdapat 14 perkara tindak pidana korupsi (18,4 %) yang mendapat putusan vonis bebas oleh pengadilan sementara sebanyak 62 perkara di putus bersalah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Menuntut Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)

Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Menuntut Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)

Pelaku Tindak Pidana Korupsi yang memiliki tujuan untuk memperoleh harta kekayaan secara ilegal umumnya melakukan pencucian uang untuk menyembunyikan dan menyamarkan asal-usul harta kekayaannya tersebut. Maka dengan adanya Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam melakukan penyidikan dan penuntutan terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang maka KPK dapat melacak harta kekayaan pelaku dengan melakukan paradigma follow the money.

Baca lebih lajut

UPAYA POLRI DALAM MENJAMIN KESELAMATAN SAKSI MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

UPAYA POLRI DALAM MENJAMIN KESELAMATAN SAKSI MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

Keadilan retributif merupakan produk peradilan yang bervisi dasar sebagai pembalasan terhadap pelaku tindak pidana. Berbeda halnya dengan keadilan retributif itu, keadilan restoratif merupakan produk peradilan yang berorientasi pada upaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan atau pemulihan dampak-dampak kerusakan atau kerugian yang ditimbulkan oleh perbuatan- perbuatan yang merupakan tindak pidana. Dengan demikian, dalam konstruksi pemikiran peradilan restoratif dan keadilan restoratif yang dihasilkannya, perlindungan hak-hak dan kepentingan korban tindak pidana tidak semata- mata berupa perlakuan yang menghargai hak-hak asasi para korban tindak pidana dalam mekanisme sistem peradilan pidana, melainkan juga mencakup upaya sistematis untuk memperbaiki dan memulihkan dampak kerusakan atau kerugian yang ditimbulkan oleh perbuatan pelaku tindak pidana baik yang bersifat kebendaan maupun yang bersifat emosional.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

DISPARITAS PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNA NARKOTIKA ANAK (Studi Kasus Putusan No. 412Pid.Sus2014PN.TK dan No. 432Pid.B2014PN.TK)

DISPARITAS PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNA NARKOTIKA ANAK (Studi Kasus Putusan No. 412Pid.Sus2014PN.TK dan No. 432Pid.B2014PN.TK)

dosa (expiation) atau retribusi (retribution), perlindungan kepada masyarakat dari perbuatan jahat; perbaikan (reformasi) kepada penjahat. Yang disebut terakhir yang paling modern dan popular dewasa ini. Bukan saja tujuan memperbaiki kondisi pemenjaraan tetapi juga mencari alternatif lain yang bukan bersifat pidana dalam membina pelanggar hukum. Pandangan ini merupakan salah satu pemikiran dari ahli hukum Indonesia bahwa filosofi pemidanaan yang menekankan pada aspek balas dendam (retributive) telah ditinggalkan oleh sistem hukum di Indonesia. Filosofi pemidanaan di Indonesia lebih dititikberatkan pada usaha rehabilitasi dan reintegrasi social bagi pelaku tindak pidana.
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

SKRIPSI  Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Dalam Kasus Tindak Pidana Pemerkosaan (Studi Kasus Di Polresta Surakarta).

SKRIPSI Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Dalam Kasus Tindak Pidana Pemerkosaan (Studi Kasus Di Polresta Surakarta).

Setiap tindak pidana kriminal di samping ada pelaku juga akan menimbulkan korban. Korban tindak pidana merupakan pihak yang menderita dalam suatu peristiwa pidana. Begitu juga dengan korban Pemerkosaan yang menderita akibat tindak pidana yang dialaminya. Perlu dipahami bersama bahwa salah satu alat bukti yang sah dalam proses peradilan pidana adalah keterangan saksi dan/atau korban yang mendengar, melihat, atau mengalami sendiri terjadinya suatu tindak pidana dalam upaya mencari dan menemukan kejelasan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana. Penegak hukum dalam mencari dan menemukan kejelasan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana sering mengalami kesulitan karena tidak dapat menghadirkan saksi dan/atau korban disebabkan adanya ancaman, baik fisik maupun psikis dari pihak tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan perlindungan bagi saksi dalam kasus tindak pidana Pemerkosaan. maka penulis menyusun skripsi yang berjudul: Perlindungan Hukum terhadap Saksi dalam kasus Tindak Pidana Pemerkosaan (Studi kasus di Polresta Surakarta).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pelaksanaan Proses Peradilan Perkara Koneksitas Terhadap Tindak Pidana Korupsi Di Pengadilan Negeri Sragen.

PENDAHULUAN Pelaksanaan Proses Peradilan Perkara Koneksitas Terhadap Tindak Pidana Korupsi Di Pengadilan Negeri Sragen.

Berkaitan dengan subyek hukum pelaku tindak pidana korupsi dapat berupa setiap orang dan korporasi. Agar dapat menjangkau berbagai modus operandi penyimpangan keuangan negara atau perekonomian negara yang semakin canggih dan rumit, maka tindak pidana yang diatur dalam Undang- undang Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) dirumuskan sedemikian rupa sehingga meliputi perbuatan-perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi secara melawan hukum dalam pengertian formil dan materiil. 6
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS PEMBUKTIAN PERJUDIAN online MELALUI INTERNET MENURUT KITAB UNDANGUNDANG HUKUM ACARA PIDANA (PUTUSAN NOMOR 101/PID.B/2011/PN.CRP.)

KAJIAN YURIDIS PEMBUKTIAN PERJUDIAN online MELALUI INTERNET MENURUT KITAB UNDANGUNDANG HUKUM ACARA PIDANA (PUTUSAN NOMOR 101/PID.B/2011/PN.CRP.)

Tindak pidana perjudian yang semakin meningkat intensitasnya di Indonesia akan merusak berbagai sistem sosial masyarakat itu sendiri. Tindak pidana ini merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat yang selalu muncul dan sangat sulit diberantas dari masa ke masa, pelaku perjudian mulai dari bandar dengan nilai keuntungan miliaran sampai bandar yang memiliki keuntungan jutaan atau bahkan ratusan ribu seolah tidak ada habisnya menjajakan berbagai macam judi ditengah masyarakat. Tindak pidana perjudian di Indonesia sudah menjadi masalah yang menarik untuk dibahas. Tindak pidana perjudian yang terjadi di Indonesia telah mengkabitkan jumlah kerugiannya sangatlah besar, Pelaku dari tindak pidana perjudian ini berharap mendapatkan keberuntungan yang besar melalui cara mengadu nasib dengan berjudi. Dengan sering melakukan kegiatan berjudi tersebut mengakibatkan sedikit demi sedikit uang akan habis, kemudian harta benda dijual, rumah dan tanah digadaikan. Dengan demikian bisa mengakibatkan tingkat kemiskinan serta pengganguran yang tinggi di masyarakat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kajian terhadap peran korban (victim) dalam tindak pidana pencurian ditinjau dari viktimologi (studi di pengadilan negeri Surakarta).

Kajian terhadap peran korban (victim) dalam tindak pidana pencurian ditinjau dari viktimologi (studi di pengadilan negeri Surakarta).

Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur, yakni unsur pertama maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk), berupa unsur kesalahan dalam pencurian, dan kedua unsur memilikinya. Dua unsur itu tidak dapat dibedakan dan dipisahkan satu sama lain. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya, dari gabungan dua unsur itulah yang menunjukan bahwa dalam tindak pidana pencurian, pengertian memiliki tidak mengisyaratkan beralihnya hak milik atas barang yang dicuri ke tangan pelaku, dengan alasan. Pertama tidak dapat mengalihkan hak milik dengan perbuatan yang melanggar hukum, dan kedua yang menjadi unsur pencurian ini adalah maksudnya (subjektif) saja. Sebagai suatu unsur subjektif, memiliki adalah untuk memiliki bagi diri sendiri atau untuk dijadikan barang miliknya. Apabila dihubungkan dengan unsur maksud, berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri pelaku sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...