Pelimpahan Hak Asuh Anak Kepada Bapak Akibat Perceraian

Top PDF Pelimpahan Hak Asuh Anak Kepada Bapak Akibat Perceraian:

Pelimpahan Hak Asuh Anak Kepada Bapak Akibat Perceraian (Studi Putusan Pengadilan Agama Bekasi Nomor: 345/Pdt.G/2007/Pa.Bks.)

Pelimpahan Hak Asuh Anak Kepada Bapak Akibat Perceraian (Studi Putusan Pengadilan Agama Bekasi Nomor: 345/Pdt.G/2007/Pa.Bks.)

“Para Ibu hendaklah menyusuhkan anak -anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan, dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupanya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang anak karena ayahnya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dari permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya, dan jika kamu ingin anakmu disusukan orang lain , maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut, bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Pelimpahan Hak Asuh Anak Kepada Bapak Akibat Perceraian (Studi Putusan Pengadilan Agama Bekasi Nomor: 345/Pdt.G/2007/Pa.Bks.)

Pelimpahan Hak Asuh Anak Kepada Bapak Akibat Perceraian (Studi Putusan Pengadilan Agama Bekasi Nomor: 345/Pdt.G/2007/Pa.Bks.)

Dalam Islam, perkawinan tidak terikat dalam ikatan mati dan tidak pula mempermudah terjadi perceraian. Perceraian baru boleh dilakukan jika benar- benar dalam kondisi yang sangat darurat dan terpaksa, sebagai solusi akhir dalam menyelesaikan masalah rumah tangga. Perceraian diperbolehkan apabila hal tersebut lebih baik dari pada tetap dalam ikatan perkawinan tetapi tidak tercapai kebahagiaan dan selalu ada dalam penderitaan, sebagaimana di tulis oleh Sayyid Sabiq bahwa lepasnya ikatan perkawinan sangat dilarang kecuali terdapat alasan yang dibenarkan terjadi hal yang sangat darurat. 5 Perceraian bukan hanya merupakan bencana bagi pasangan suami isteri, namun juga merupakan malapetaka bagi fisik dan psikis anak-anak mereka. Peristiwa perceraian, apapun alasanya merupakan sesuatu yang sangat berdampak negatif bagi anak dimana pada saat itu, anak tidak dapat lagi merasakan kasih sayang sekaligus dari kedua orang tuanya. Padahal kasih sayang kedua orang tua merupakan unsur penting bagi pertumbuhan mental seorang anak.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Pelimpahan Hak Asuh Anak Di Bawah Umur  	Kepada Bapak Akibat Perceraian	  (Analisis Putusan Pengadilan Negeri Nomor:411/Pdt.G/2012/PN.Mdn)

Pelimpahan Hak Asuh Anak Di Bawah Umur Kepada Bapak Akibat Perceraian (Analisis Putusan Pengadilan Negeri Nomor:411/Pdt.G/2012/PN.Mdn)

Pengertian kalimat “orang tua mewakili kepentingan anak dalam melakukan perbuatan hukum” dalam Pasal di atas, hanya menyangkut perbuatan hukum perdata dan bukan hukum pidana. Perbuatan hukum adalah perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum. Contoh perbuatan hukum yang bersifat perdara adalah jual beli, sewa menyewa dan sebagainya. Dalam praktek, tidak semua perbuatan hukum yang dilakukan oleh anak, pelaksanaannya harus diwakili atau diawkilkan oleh orang tuanya meskipun anak tersebu belum berusia 18 tahun atau belum kawin. Pengertian perbuatan hukum tersebut, hanya sebatas perbuatan- perbuatan yang secara umum belum selayaknya dilakukan mereka yang belum berusia 18 tahun dan belum kawin, sehingga pengertiannya relatif dan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Hak orang tua untuk mewakili kepentingan anak di lapangan hukum perdata, baik di dalam atau di luar pengadilan sebagi bentuk perlindungan hukum, sesungguhnya dapat dilakukan dengan pertimbangan karena kondisi kejiwaan dan psikis anak yang tidak memungkinkan melakukan perbuatan hukum dan bukan didasarkan oleh pertimbangan karena anak tersebut belum berusia 18 tahun atau belum kawin. 39
Baca lebih lanjut

118 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Pelimpahan hak asuh anak di bawah umur kepada pihak ketiga selain keluarga akibat perceraian berdasar-kan undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas undang-undang nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak - Repository

BAB I PENDAHULUAN - Pelimpahan hak asuh anak di bawah umur kepada pihak ketiga selain keluarga akibat perceraian berdasar-kan undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas undang-undang nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak - Repository

Ketentuan hukum tentang hak asuh anak dalam Pasal 45 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menegaskan bahwa kedua orang tua sama-sama memiliki kewajiban dalam memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya. 12 Menurut Mukhtar Zamzami, ketentuan hak asuh anak dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 telah menggeser ketentuan yang sudah mapan sebelumnya yaitu Hukum Adat matrilineal, yang berhak dan mempunyai tanggung jawab terhadap pemeliharaan Anak adalah ibunya. Akan tetapi Undang- Undang Perkawinan tidak memberikan uraian yang tegas jika terjadi perebutan Hak Asuh Anak maka Hak Asuh Anak di berikan kepada bapak atau ibu. 13 Jika salah satu orang tua meninggal, menurut Undang-Undang Orang Tua yang lainnya dengan sendirinya menjadi wali dari anak-anaknya. 14
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Hak Asuh Anak Dibawah Umur Akibat Perceraian Orangtua(Studi Kasus 4 (empat) Putusan Pengadilan di Indonesia)

Hak Asuh Anak Dibawah Umur Akibat Perceraian Orangtua(Studi Kasus 4 (empat) Putusan Pengadilan di Indonesia)

Setelah Majelis Hakim mendengar keterangan saksi-saksi dan membaca dalil - dalil gugatan Penggugat, maka pertimbangan yang diambil oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan adalah bahwa Tergugat sering pulang kerumah orang tuanya selama berbulan - bulan tanpa seizin Penggugat sehingga Tergugat melalaikan kewajibannya sebagai istri dan sebagai ibu dari anaknya. Sebagai contoh adalah anak Penggugat dan Tergugat diserempet mobil karena kurangnya pengawasan dari Tergugat selaku ibunya. Hal itu mengakibatkan pertengkaran yang berlangsung terus-menerus dan sejak bulan Februari 2012 Tergugat pergi meninggalkan rumah kediaman bersama dan Penggugat sudah berusaha mencari keberadaan Tergugat, tetapi tidak diketahui keberadaannya. Majelis Hakim juga menimbang bahwa alasan perceraian tersebut tergolong pada alasan perceraian sebagaimana diatur dalam Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, yaitu antara suami istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Bahwa menurut Pasal 22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, gugatan perceraian yang didasarkan atas alasan yang disebut dalam Pasal 19 huruf f dapat diterima apabila alasan-alasan tersebut telah cukup jelas bagi Pengadilan.
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK MANTAN ISTRI DAN ANAK PASCA PERCERAIAN - repository perpustakaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK MANTAN ISTRI DAN ANAK PASCA PERCERAIAN - repository perpustakaan

Peraturan tentang perceraian diatur dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP) dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1975. Berdasarkan Pasal 38 UUP, Perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, dan atas keputusan Pengadilan. Selain itu, Pasal 39 ayat (1) Undang-undang Perkawinan mengatakan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan. Cerai gugat atau gugatan cerai yang dikenal dalam Undang-undang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 adalah gugatan yang diajukan oleh suami atau isteri atau kuasanya ke Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat (Pasal 40 Undang-undang Perkawinan jo. Pasal 20 ayat [1] Peraturan Pemerintah 9 Tahun 1975). Bagi yang beragama Islam, peraturan perceraian tunduk pada Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berlaku berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991. Pengertian perceraian dalam Kompilasi Hukum Islam dan Undang-undang Perkawinan sangat berbeda, perbedaannya adalah pada subyek yang mengajukan gugatan (Hilman Hadikusuma, 2007: 8).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PELIMPAHAN HAK ASUH ANAK DIBAWAH UMUR AKIBAT PERCERAIAN  Pelimpahan Hak Asuh Anak di bawah Umur Akibat Perceraian (studi kasus Pengadilan Agama Surakarta).

PELIMPAHAN HAK ASUH ANAK DIBAWAH UMUR AKIBAT PERCERAIAN Pelimpahan Hak Asuh Anak di bawah Umur Akibat Perceraian (studi kasus Pengadilan Agama Surakarta).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pertimbangan hakim dalam menentukan hak asuh anak dibawah umur akibat perceraian; (2) akibat hukum orangtua kepada anak setelah bercerai. Penelitian ini termasuk jenis penelitian yuridis normatif yaitu suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika ilmu hukum dari sisi normatifnya. Penelitian dilaksanakan di Pengadilan Agama Surakarta. Sumber data menggunakan data primer dari hasil wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pertimbangan hakim dalam menentukan pelimpahan hak asuh anak di bawah umur akibat perceraian adalah hakim melihat dan lebih mengedepankan psikis dari anak tersebut, maka yang dipertimbangkan hakim Pengadilan Agama Surakarta sudah sesuai dengan keadilan bagi semua pihak; (2) Akibat hukum orangtua kepada anak setelah bercerai adalah bahwa meski anak tersebut hak asuhnya berada di tangan bapaknya , namun ibu ikut andil dalam masalah pemeliharaan anak tersebut.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HAK ASUH ANAK AKIBAT PERCERAIAN PADA PERKAWINAN CAMPURAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

HAK ASUH ANAK AKIBAT PERCERAIAN PADA PERKAWINAN CAMPURAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

Dalam hasil skripsi ini penulis menjelaskan bahwa, negara mengambil peran untuk memungkinkan orang tua bertanggungjawab terhadap anaknya, demikian pula lembaga-lembaga hukum lainnya. Dalam situasi dimana tanggungjawab dari keluarga atau orang tua tidak dapat dijalankannya, maka negara mesti menyediakan program “jaminan sosial” (“savety net”). Dengan kesetaraan peran orang tua, maka dalam konteks hak-hak anak yang terkait dengan peran orangtua, adalah setara berbasis untuk kepentingan terbaik bagi anak. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara” dan juga dalam Konvensi Hak Anak yang sudah diratifikasi juga oleh negara Indonesia.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Hak Asuh Anak Akibat Perceraian (Studi Kasus Nomor 135/PDT.G/2013/PN.TK

Analisis Yuridis Hak Asuh Anak Akibat Perceraian (Studi Kasus Nomor 135/PDT.G/2013/PN.TK

Jadi, perceraian adalah putusnya ikatan lahir batin antara suami dan isteri yang mengakibatkan berakhirnya hubungan keluarga (rumah tangga) antara suami dan isteri tersebut. Pasal 39 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memuat ketentuan imperative bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan Pengadilan, setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Sehubungan dengan pasal ini, Wahyu Ernaningsih dan Putu Samawati menjelaskan bahwa walaupun perceraian adalah urusan pribadi, baik itu atas kehendak satu di antara dua pihak yang seharusnya tidak perlu campur tangan pihak ketiga, dalam hal ini pemerintah, tetapi demi menghindari tindakan sewenang-wenang, terutama dari pihak suami (karena pada umumnya pihak yang superior dalam keuarga adalah pihak suami) dan juga untuk kepastian hukum, maka perceraian harus melalui saluran lembaga peradilan. 2
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

ASPEK HUKUM HAK ASUH ANAK DI BAWAH UMUR AKIBAT PERCERAIAN MENURUT SISTEM HUKUM PERKAWINAN

ASPEK HUKUM HAK ASUH ANAK DI BAWAH UMUR AKIBAT PERCERAIAN MENURUT SISTEM HUKUM PERKAWINAN

1. Bapak H. Arie Sudjatno S.H., Pembimbing dalam penyusunan skripsi ini yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, nasehat, dorongan motivasi dan memberikan arahan sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu;

17 Baca lebih lajut

Pelimpahan hak asuh anak kepada bapak (studi kasus putusan pengadilan agama Jakarta perkara nomor 1829/Pdp.G/2008/PAJT)

Pelimpahan hak asuh anak kepada bapak (studi kasus putusan pengadilan agama Jakarta perkara nomor 1829/Pdp.G/2008/PAJT)

Seperti yang terjadi dalam kasus perceraian pada putusan Pengadilan Agama Jakarta Timur Nomor 1829/Pdt.G/2008/PAJT Perceraian antara Hamdy bin Bawazier (penggugat) dengan Inggriet Margarita Lasut binti Alfarits Lasut (tergugat I), hak pemeliharaan anak laki-lakinya yang bernama Imtiyaz Hamdy Bawazier jatuh ke pihak bapak bukan berada dipihak ibu. Karena anak laki-laki penggugat tersebut terlahir dari perkawinan secara Islam dan mempunyai orang tua dan ayah yang beragama islam, penggugat khawatir anak tersebut dipelihara dan diberi pendidikan yang berbeda dengan agama orang tuanya mengingat nenek (tergugat II) atau mertua dari penggugat yang mengasuh anak tersebut bukan beragama Islam (non muslim) sehingga tidak berlebihan kecemasan dan rasa khawatir yang dirasakan oleh orang tua anak sebagai ayahnya. Inilah yang menjadi latar belakang penulisan untuk mengambil skripsi de ngan judul : “PELIMPAHAN HAK ASUH ANAK KEPADA BAPAK” (Studi Analisis Putusan Pengadilan Agama Jakarta Timur Nomor 1829/Pdt.G/2008/PAJT ).
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PERCERAIAN TERHADAP HAK ASUH ANAK (STUDI PUTUSAN HAKIM PENGADILAN AGAMA SURAKARTA NOMOR : 0536PDT.G2012PA.SKA.)

AKIBAT HUKUM PERCERAIAN TERHADAP HAK ASUH ANAK (STUDI PUTUSAN HAKIM PENGADILAN AGAMA SURAKARTA NOMOR : 0536PDT.G2012PA.SKA.)

Penelitian ini didasarkan pada pentingnya orang tua memelihara dan mendidik anaknya meskipun mereka telah bercerai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dasar hukum dan pertimbangan hakim dalam memutus perkara mengenai hak asuh anak di Pengadilan Agama Surakarta.

11 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Perceraian Terhadap Anak dan harta Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2974 (Studi pada Pengadilan Agama Medan)

Akibat Hukum Perceraian Terhadap Anak dan harta Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2974 (Studi pada Pengadilan Agama Medan)

Perkawinan tidak hanya menyatukan seorang pria dan wanita dalam sebuah rumah/keluarga, Perkawinan selalu membawa konsekuensi hukum baik bagi isteri maupun suami yang berdampak kepada anak dan harta perkawinan setelah timbulnya masalah perkawinan. Konsekuensi ini timbul setelah perceraian itu terjadi oleh sebab itu ada akibat yang akan di tanggung oleh suami dan istri. Permasalahan yang dibahas dalam penulisan skripsi ini yaitu siapakah yang memiliki hak pemeliharaan terhadap seorang anak akibat putusnya perkawinan karena perceraian, bagaimana Pembagian harta bersama di dalam UUPK, bagaimana peranan pengadilan dalam menyelesaikan Persoalan Yang Timbul Sebagai Akibat Putusnya Perkawinan Karena Perceraian.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PERCERAIAN DENGAN TALAK RAJ’I TERHADAP HAK ASUH ANAK (HADHANAH) ( Studi Putusan PA Palembang No: 0480/Pdt.G/2008/PA.Plg)

AKIBAT HUKUM PERCERAIAN DENGAN TALAK RAJ’I TERHADAP HAK ASUH ANAK (HADHANAH) ( Studi Putusan PA Palembang No: 0480/Pdt.G/2008/PA.Plg)

Rumusan masalah dalam skripsi ini meliputi 2(dua) hal, pertama bagaimanakah pertimbangan hukum hakim dalam memutus perceraian dengan talak satu raj’i dalam Putusan No. 0480/Pdt.G/2008/PA.Plg. Kedua bagaimanakah akibat hukum perceraian terhadap hak asuh dan pemeliharaan anak dalam Putusan No. 0480/Pdt.G/2008/PA.Plg.

18 Baca lebih lajut

f perkembangan psikososial pada anak usia pertengahan

f perkembangan psikososial pada anak usia pertengahan

Anak menjadi lebih baik setelah perceraian jika orang tua memiliki hak asuh yang hangat, penuh dukungan, otoritatif, mengawasi aktifitas anak, dan memiliki harapan sesuai usia; jika kon[r]

55 Baca lebih lajut

COPING PADA ANAK AKIBAT PERCERAIAN

COPING PADA ANAK AKIBAT PERCERAIAN

Anak mengalami banyak masalah dalam kehidupannya. Berbagai tuntutan menjadi beban dan tekanan tersendiri bagi anak. Dalam kondisi seperti itu, anak dituntut untuk mempunyai keterampilan tertentu untuk menghadapi masalah yang timbul. Artinya cara yang akan dikembangkan anak dalam menghadapi masalah akan dipengaruhi oleh apa yang dialami dan dilihat anak dalam keluarga. Anak-anak yang orang tuanya bercerai akan mengembangkan cara tersendiri dalam menghadapi masalah.

2 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS TENTANG HAK ASUH ANAK (HADLONAH) DIBAWAH UMUR SETELAH ADANYA PUTUSAN PERCERAIAN”

KAJIAN YURIDIS TENTANG HAK ASUH ANAK (HADLONAH) DIBAWAH UMUR SETELAH ADANYA PUTUSAN PERCERAIAN”

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan menyelesaikan Program Studi Ilmu Hukum dan memperoleh gelar Sarjana Hukum. Skripsi ini adalah hasil kerja keras, ketelitian serta dorongan, semangat dan bantuan dari semua pihak baik secara materiil maupun moril sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya yang berjudul “KAJIAN YURIDIS TENTANG HAK ASUH ANAK (HADLONAH) DIBAWAH UMUR SETELAH ADANYA PUTUSAN PERCERAIAN

17 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Hak Asuh Anak Dibawah Umur Akibat Perceraian Orangtua(Studi Kasus 4 (empat) Putusan Pengadilan di Indonesia)

BAB I PENDAHULUAN - Hak Asuh Anak Dibawah Umur Akibat Perceraian Orangtua(Studi Kasus 4 (empat) Putusan Pengadilan di Indonesia)

Berkaitan dengan apa yang akan penulis kemukakan dalam skripsi ini, maka penulis memasukkan 3 (tiga) contoh putusan Pengadilan Negeri dan 1 (satu) contoh putusan Pengadilan Tinggi dimana salah satu amar putusan dari Pengadilan Negeri menetapkan bahwa pengasuhan seorang anak yang masih berusia di bawah umur berada dalam pengasuhan ayahnya, dan salah satu amar putusan dari Pengadilan Tinggi mengembalikan hak asuh tersebut kepada ibunya. Putusan tersebut antara lain putusan dari Pengadilan Negeri Medan dengan Nomor Perkara : 246/PDT.G/2012/PN.MDN, putusan dari Pengadilan Negeri Lubuk Pakam dengan Nomor Perkara : 13/Pdt.G/2012/PN.LP dan 102/Pdt.G/2013/PN.LP, serta putusan banding dari Pengadilan Tinggi Denpasar dengan Nomor Perkara : 66/PDT/2012/PT.DPS.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Peranana KPAI dalam penyelesaian perbuatan hak asuh anak paska perceraian

Peranana KPAI dalam penyelesaian perbuatan hak asuh anak paska perceraian

Salah satu tugas pokok Komisi Perlindungan Anak Indonesia tercantum dalam pasal 76, huruf a dari UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Kegiatan tersebut sangat penting bagi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebagai Lembaga Negara yang bersifat independen dalam membela kepentingan terbaik bagi anak. Setiap warga negara yang perduli terhadap nasib anak, patut memberikan perlindungan terhadap anak baik fisik, mental, ekonomi yang rentan terhadap kekerasan eksploitasi, perdagangan, social maupun hukum. Disamping itu anak juga merupakan kelompok pendudukan yang rentan terhadap kekerasan, pemaksaan, ekploitasi, diperdagangan oleh orang dewasa, bahkan ada yang dilakukan dengan hal tertentu, salah satu tugas Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) adalah menerima pengaduan masyarakat tentang pelanggaran hak-hak anak. Dan untuk menuntaskan pengaduan masyarakat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dapat menindak lanjuti penanganan dan pengaduan tersebut melalui pelayanan kepada instansi atau lembaga fungsional yang bertanggung jawab guna memberikan perlindungan rehabilitasi, reginterasi dan reunifikasi anak
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

HAK ASUH ANAK DARI PERCERAIAN ORANG TUA YANG MENDERITA BIPOLAR DISORDER DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNG.

HAK ASUH ANAK DARI PERCERAIAN ORANG TUA YANG MENDERITA BIPOLAR DISORDER DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNG.

Dalam hal terjadi perceraian, Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam menerangkan bahwa pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak asuh ibunya. Seseorang yang akan melaksanakan tugas hadhanah harus memenuhi syarat-syarat sesuai dengan dalil dalam kitab Kifayatun Akhyar II halaman 94. Kasus perceraian yang terjadi pada public figure Marshanda dan Ben Kasyafani dalam memperebutkan hak asuh atas Sienna, bahwa Marshanda menderita penyakit Bipolar Disorder sejak tahun 2009. Hal ini menyebabkan bahwa Marshanda tidak memenuhi syarat hadhanah yaitu berakal sehat, meskipun Marshanda telah dijamin oleh Pasal 105 KHI. Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, mengkaji, dan menganalisis kualifikasi hukum dan penetapan hak asuh anak dari perceraian orang tua yang menderita Bipolar Disorder.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects