pemahaman konseptual siswa

Top PDF pemahaman konseptual siswa:

ANALISIS PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA PADA MATERI BANGUN RUANG DITINJAU DARI KEMAMPUAN PENALARAN ANALOGI DI KELAS IX SMP NEGERI 1 SUNGAI RAYA Herlina Ningsih, Dwi Astuti, Romal Ijudin Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Untan Pontianak Email: herlinani

ANALISIS PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA PADA MATERI BANGUN RUANG DITINJAU DARI KEMAMPUAN PENALARAN ANALOGI DI KELAS IX SMP NEGERI 1 SUNGAI RAYA Herlina Ningsih, Dwi Astuti, Romal Ijudin Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Untan Pontianak Email: herlinani

Berdasarkan hasil analisis data, wawancara serta pemabahasannya maka secara umum dapat disimpulkan bahwa pemahaman konseptual siswa kelas IX SMP Negeri 1 Sungai Raya ditinjau berdasarkan tingkat kemampuan penalaran analogi menunjukkan bahwa pemahaman konseptual siswa cenderung tidak sesuai dengan tingkat kemampuan penalaran analoginya. Hal ini disebabkan oleh lemahnya kemampuan komunikasi, represntasi, dan koneksi siswa. Secara lebih rinci berdasarkan sub-sub masalah kesimpulan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) pemahaman konseptual siswa dengan tingkat kemampuan penalaran analogi tinggi cenderung memiliki kategori pemahaman konseptual sedang. Hal ini disebabkan oleh siswa tidak terbiasa mengungkapkan ide dalam bentuk tulisan dan gambar; (2) pemahaman konseptual siswa dengan tingkat kemampuan penalaran analogi sedang cenderung memiliki kategori pemahaman konseptual yang sejalan yaitu kategori pemahaman konseptual sedang. Namun terdapat juga siswa yang memiliki pemahaman konseptul tinggi yang disebabkan oleh siswa dapat menjelaskan dengan baik secara tulisan. Selain itu ada juga siswa yang memiliki pemahaman konseptual rendah yang disebabkan oleh tidak terbiasa mengungkapkan ide dalam bentuk tulisan dan gambar serta tidak hafal rumus luas permukaan dan volume balok.; dan (3) pemahaman konseptual siswa dengan tingkat kemampuan penalaran analogi rendah cenderung memiliki kategori pemahaman konseptual sedang. Hal ini disebabkan siswa dapat menjelaskan kembali konsep secara tulisan dan lemah dalam memberikan contoh konsep dan mengaitkan antarkonsep.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA MELALUI PEMBELAJARAN MATERIAL MANIPULATIF DALAM MATERI BILANGAN BULAT DI SMP

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA MELALUI PEMBELAJARAN MATERIAL MANIPULATIF DALAM MATERI BILANGAN BULAT DI SMP

Dari tabel 1 terlihat bahwa hasil testpemahaman konseptual materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat terhadap 5 siswa diperolehan rata-rata skor 5,4 dengan presentase 24,54%. Rata-rata presentase yang didapat menggambarkan bahwa siswa tingkat pemahaman konseptual siswa terhadap penjumlahan dan pengur- angan bilangan bulat masih rendah atau tidak mencapai KKM ≥ 75,00 %.Selain diperoleh hasil test, pada fase baseline1 ini juga ditemukan beberapa penyebab lain yang menghambat siswa dalam mengerjakan soal dengan benar. Hambatan ini adalah apa yang menjadi tujuan dari penelitian ini yaitu ekspresi soal dalam bentuk 3 – (-2) menjadi kendala siswa dalam mengoperasikan soal, disebabkan merumitkan siswa dalam berpikir untuk mengolah simbol operasi dengan tanda bilangan karena adanya tanda kurung. Sehi- ngga hampir semua siswa terus bertanya kepada peneliti terkait apa yang harus mereka lakukan untuk menjawab setiap soal yang ada. Berikut cuplikan hasil jawaban siswa.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

ANALISIS PEMAHAMAN PROSEDURAL DAN KONSEPTUAL BERDASARKAN GAYA BELAJAR SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL LIMIT KELAS XI - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

ANALISIS PEMAHAMAN PROSEDURAL DAN KONSEPTUAL BERDASARKAN GAYA BELAJAR SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL LIMIT KELAS XI - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Pemahaman konseptual terbagi dalam lima indikator yaitu mengidentifikasi fakta-fakta yang berkaitan; mengenali contoh dan mencontoh; menafsirkan tanda- tanda, simbol dan istilah; memanipulasi ide-ide terkait; memnyempurnakan hubungan konsep dan prinsip. Pemahaman konseptual siswa masih rendah, hal ini dapat dilihat dari pengetahuan prosedural mereka. Pengetahuan prosedural siswa masih kurang, hal ini disebabkan karena kurang terbiasanya siswa mengembangkan berbagai cara yang kemungkinan dalam memecahkan suatu permasalah matematika. Mereka hanya meniru pola yang diajarkan guru tanpa memahami mengapa menggunakan langkah-langkah yang demikian. 7
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Model Pembelajaran Collaborative Problem Based Learning dan Guided Inquiry Learning pada Materi Laju Reaksi Terhadap Pemahaman Konseptual dan Pemahaman Algoritmik Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Karanganyar Tahun Pelajaran 2015/2016 - UNS Institution

Pengaruh Model Pembelajaran Collaborative Problem Based Learning dan Guided Inquiry Learning pada Materi Laju Reaksi Terhadap Pemahaman Konseptual dan Pemahaman Algoritmik Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Karanganyar Tahun Pelajaran 2015/2016 - UNS Institution

Model Zone of Proximal Development ................................................... Grafik Orde ............................................................................................. Reaksi Tuumbukan atom Cl dan NO2Cl ................................................ Distribusi Energi Kinetik untuk Reaksi Campuran Pada Dua Suhu yang Berbeda ................................................................................. Kerangka Berpikir ................................................................................... Perbandingan Hasil Pemahaman Konseptual Siswa ............................... Perbandingan Hasil Pemahaman Algoritmik Siswa .............................. Kriteria Pencapaian Pemahaman Algoritmik dan Konseptual Siswa ................................................................................................ Perbandingan Hasil Belajar Aspek Sikap Siswa Selama Pembelajaran ........................................................................................... Perbandingan Hasil Belajar Aspek Keterampilan ................................
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

1 KORELASI PEMAHAMAN KONSEPTUAL DENGAN PEMAHAMANPROSEDURAL SISWA MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DI SMP

1 KORELASI PEMAHAMAN KONSEPTUAL DENGAN PEMAHAMANPROSEDURAL SISWA MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DI SMP

Dalam penelitian ini yang dijadikan subjek penelitian sebanyak 25 orang siswa kelas VII E SMP Negeri 2 Pontianak. Untuk memperoleh data tentang pemahaman konseptual siswa, peneliti memberi tes berupa tes uraian. Pemahaman konseptual siswa terbagi menjadi tiga sub hasil penelitian yaitu (a) pemahaman konseptual siswa mengenai definisi belah ketupat dari gambar pada kertas berpetak. Ditemukan jawaban siswa yang sama yaitu RAH, LYR, RZK, CMT, JLS, SFA, AKB, ALY, DWN, VVE, IDR, AYN, DDL, ATP, ILP, NAG, DPS, RFR, ZNP, RMR, AAD, RZA, dan MNC. Dari 23 siswa diambil satu sample yaitu IDR langkah kerja yang ditulis IDR yaitu tarik garis kesamping kanan menggunakan penggaris sehingga berbentuk miring seperti contoh samping kirinya sampai ke tiga kotak. Lalu tarik garis kesamping kiri berbentuk miring seperti contoh sebelahnya sampai tiga kotak. Terakhir beri garis putus- putus didalam belah ketupat berbentuk vertikal dan horizontal. (b) Pemahaman konseptual siswa mengenai definisi
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KONSEP KIMIA; PENGEMBANGAN TES BERBANTUAN KOMPUTER UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN KONSEPTUAL SISWA SMA Suandi Sidauruk

KONSEP KIMIA; PENGEMBANGAN TES BERBANTUAN KOMPUTER UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN KONSEPTUAL SISWA SMA Suandi Sidauruk

Selanjutnya, Zeilik (1998) menyatakan tujuan pemberian tes diagnostik terutama untuk menilai pemahaman konseptual siswa terhadap suatu topik tertentu, khususnya untuk topik yang cenderung dipahami secara salah oleh siswa. Oleh karena itu, ketepatan cakupan konsep stoikiometri (kesahihan tampak), kesesuaian pernyataan pengetahuan proposisional stoikiometri (P2K) dengan cakupan konsep, kesesuaian butir soal dengan P2K, dan kesejaran butir soal (kesahihan isi atau content representation) menjadi fokus pada pengembangan TKS. Semua penilaian ini dilakukan oleh pakar kimia (pendidikan dan murni) dan guru kimia. Keragaman para penilai ini dilakukan untuk memperoleh ketepatan penilaian yang tinggi.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL MISSOURI MATHEMATICS PROJECT TERHADAP PEMAHAMAN KONSEPTUAL DAN PROSEDURAL SISWA KELAS X

KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL MISSOURI MATHEMATICS PROJECT TERHADAP PEMAHAMAN KONSEPTUAL DAN PROSEDURAL SISWA KELAS X

pembelajaran yang disampaikan guru. Hasil dari individu dibawa ke kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok. Model ini dirancang untuk menggabungkan kemandirian dan kerja sama antar kelompok. Dalam model ini, terdapat beberapa langkah dalam pembelajarannya yang mendukung siswa agar dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konseptual dan prosedural, yaitu antara lain: (1) review, pada tahap ini siswa diajak untuk mengingat kembali materi pada pertemuan sebelumnya agar dapat menunjang pemahaman materi berikutnya; (2) pengembangan, pada tahap ini materi yang akan disampaikan oleh guru dikembangkan agar siswa dapat lebih mudah dalam mendapatkan pemahaman konsep dari materi yang disampaikan; (3) latihan terkontrol, pada tahap ini guru dapat melihat dan mengukur kemampuan pemahaman prosedural siswa dari latihan-latihan yang diberikan; (4) seatwork dan pemberian PR, pada tahap ini siswa diberikan penguatan pada latihan-latihan soal yang diberikan agar pemahaman konseptual dan prosedural yang siswa dapatkan lebih terasah.
Baca lebih lanjut

256 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEPT. pdf

PERBANDINGAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEPT. pdf

Konseptual Matematis Siswa yang Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif TS-TS (Two Stay Two Stray) dengan Direct Instruction (DI) ” dilaksanakan di SMP Negeri 1 Menes. Penelitian ini diawali pada tanggal 18 Januari 2016, dengan tujuan memohon perizinan untuk melakukan penelitian guna memenuhi tugas akhir. Sesuai prosedur yang berlaku, semua jenis praktik mahasiswa harus menemui wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk diputuskan bahwa penelitian yang hendak dilakukan layak atau tidak. Setelah bertemu dengan wakasek bidang kurikulum dan dinyatakan layak untuk melaksanakan penelitian, direkomendasikan untuk menghubungi koordinator guru pelajaran matematika dan setelah itu menghubungi salah satu guru matematika yang mengajar kelas VII, karena tujuan awal yang akan dijadikan subjek penelitian adalah kelas VII. SMP Negeri 1 Menes terdiri atas 28 kelas meliputi kelas VII, VIII dan IX. Sedangkan kelas VII, terdiri dari 10 kelas. Subjek penelitian yang digunakan adalah kelas VII I dan VII J. Peneliti menerima subjek penelitian apa adanya tanpa mengajukan kriteria tertentu untuk menentukan subjek penelitian.
Baca lebih lanjut

348 Baca lebih lajut

Efektivitas Pendekatan Saintifik dalam Meningkatkan Pemahaman Konseptual pada Materi Pemisahan Campuran

Efektivitas Pendekatan Saintifik dalam Meningkatkan Pemahaman Konseptual pada Materi Pemisahan Campuran

n gain nilai po te nilai prete nilai mak im m nilai prete Data sikap ilmiah siswa dihitung persentase tiap task, adapun terdapat 7 task yang dinilai. Task 1 dan 2 mewakili sikap ilmiah jujur yaitu me- nuliskan data informasi sesuai dengan hasil percobaan yang didapatkan dan tidak mencontek pekerjaan teman ke- lompok lain ketika mengerjakan LKPD. Task 3,4,5 mewakili sikap il- miah teliti, cermat dan hati-hati berturut-turut yaitu memperhatikan secara seksama setiap proses pemi- sahan campuran yang dilakukan, menggunakan alat percobaan pemi- sahan campuran sesuai dengan fungsi dan kegunaannya dan berhati-hati da- lam menggunakan alat dan bahan per- cobaan pemisahan campuran. Task 6 mewakili sikap ilmiah rasa ingin tahu yaitu bertanya kepada guru apabila ada hal-hal yang belum dipahami. Task 7 mewakili sikap ilmiah disiplin yaitu mengumpulkan tugas tepat waktu.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN POE (PREDICT-OBSERVE-EXPLAIN) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PROSES IPA PESERTA DIDIK KELAS VIII SMPN 1 BANGUNTAPAN.

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN POE (PREDICT-OBSERVE-EXPLAIN) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PROSES IPA PESERTA DIDIK KELAS VIII SMPN 1 BANGUNTAPAN.

21 Langkah ketiga dalam model POE menurut Paul Suparno (2007: 102), adalah membuat penjelasan (explaination) pada langkah ini dugaan siswa ternyata terjadi dalam eksperimenya atau percobaannya, jika ini terjadi siswa akan semakin yakin akan konsepnya. Siswa setelah itu merangkum apa yang ditemukannya dan kemudian menguraikan atau menjelaskan dengan lebih lengkap. Siswa akan menemukan pengertian seperti konsep yang benar, namun jika dugaannya tidak benar atau tidak tepat, siswa akan dibantu guru dalam memberikan penjelasan dan siswa juga akan dibantu untuk mengubah dugaannya, dan membenarkan dugaan yang keliru sehingga siswa mengalami perubahan konsep dari konsep yang belum benar menjadi konsep yang benar. Siswa diharapkan tidak akan mudah melupakan konsep-konsep yang telah mereka selidiki, dari suau kesalahan kebanyakan siswa tidak akan mudah cepat melupakan sesuatu hal.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

S IPS 1001334 Chapter1

S IPS 1001334 Chapter1

Bab I merupakan bahasan mengenai Pendahuluan, bagian awal dari penulisan skripsi. Bagian pendahuluan ini dipaparkan mengenai latar belakang peneliti melakukan penelitian terhadap siswa MTs. Al-Azhar Abizar Bandung dalam menggunaan metode ajar Mind Mapping. Dilanjutkan dengan penulisan rumusan masalah agar penelitian dapat terfokuskan. Kemudian penulisan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian. Selanjutnya penulisan manfaat yang diharapkan dalam penelitian, baik manfaat secara teoritis maupun manfaat praktis. Dan sekilas mengenai sistematika penulisan.

11 Baca lebih lajut

PEMAHAMAN KONSEPTUAL DAN KELANCARAN PROSEDURAL SISWA DALAM OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

PEMAHAMAN KONSEPTUAL DAN KELANCARAN PROSEDURAL SISWA DALAM OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Langkah selanjutnya adalah tes tersebut diuji coba secara terbatas kepada beberapa siswa tingkat SMP. Hasil uji terbatas ini menjadi bahan awal bagi peneliti untuk menvalidasi kelogisan tes yang telah dibuat. Setelah itu dilakukan validasi terhadap tes pemahaman konseptual dan kelancaran prosedural oleh satu orang dosen matematika FKIP Untan dan dua orang guru matematika tingkat SMP. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah untuk menilai apakah tes tersebut valid atau tidak. Jika tidak valid, maka akan dilakukan revisi. Setelah divalidasi, tes tersebut diuji cobakan kepada siswa SMPN 10 Pontianak. Langkah selanjutnya adalah melakukan penelitian terhadap siswa SMPN 1 Pontianak. Hasil dari penelitian ini diolah yang bertujuan untuk menjelaskan pemahaman konseptual dan kelancaran prosedural siswa dalam materi operasi hitung bilangan buat di SMP Negeri 1 Pontianak.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PENDEKATAN RIGOROUS MATHEMATICAL THINKING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL, PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SERTA PENGARUHNYA PADA SELF-REGULATED LEARNING SISWA DI SMA Fiki Purnawan UNPAS (email: fiki.purnawan1009@gmail.com) Abstr

PELAKSANAAN PENDEKATAN RIGOROUS MATHEMATICAL THINKING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL, PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SERTA PENGARUHNYA PADA SELF-REGULATED LEARNING SISWA DI SMA Fiki Purnawan UNPAS (email: fiki.purnawan1009@gmail.com) Abstr

kelancaran dalam melakukan operasi yang bisa dilakukan atau dengan kata lain kemampuan memecahkan masalah yang rutin. Pemahaman konseptual matematis (PKM) memiliki peran penting karena dengan kemampuan ini siswa dapat mengingat kembali suatu konsep dengan baik ketika lupa. Selanjutnya, penguasan PKM yang baik akan menjadikan siswa mudah dalam membangun hubungan untuk memahamai ide dan konsep baru (Kilpatrick, Swafford, & Findell, 2001:120). Oleh karena itu, kemampuan pemahaman konseptual matematis yang lemah akan menjadikan siswa menjadi bingung, frustasi, dan cemas ketika menghadapi konsep baru dari matematika. Akibat berikutnya, tidak tercapainya kemampuan ini akan menjadikan siswa menolak untuk belajar matematika karena pembelajaran tidak memberi makna pada mereka menurut Orton (2004) ( Hendrayana, 2015: 3).
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA PADA MATERI PERTIDAKSAMAAN LINIER SATU VARIABEL DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA PADA MATERI PERTIDAKSAMAAN LINIER SATU VARIABEL DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Conceptual understanding reflects a student’s ability to reason in setting involving the careful application of concept definitions, relations, or representation of either. Such an ability is reflected by student performance that indicates the production of examples, common or unique representations, or communication indicating the ability to manipulate central ideas about the understanding of a concept in a variety of ways. (NAEP, 2002: 40) Berdasarkan kutipan di atas menyebutkan bahwa pemahaman konseptual mencerminkan kemampuan siswa dalam mengaplikasikan definisi konsep, hubungan, dan berbagai representasi. Siswa menunjukkan pemahaman konseptual ketika mereka memberikan contoh atau memberikan suatu representasi dan memanipulasi ide – ide tentang sebuah konsep dalam berbagai cara.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL DAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISTIK ARTIKEL PENELITIAN PHILIPUS MIMIN NIM F2181131008

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL DAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISTIK ARTIKEL PENELITIAN PHILIPUS MIMIN NIM F2181131008

Hal ini diduga dikarenakan adanya ham- batan pada kemampuan koneksi matematis siswa. Ketika siswa diberikan pembelajaran dengan memberikan kesempatan kepada me- reka untuk mengkonstruksi sendiri pengetahu- an berdasarkan kegiatan yang mereka alami, maka pengetahuan itu akan erat terbentuk dalam pikirannya. Oleh karena itu, perlu adanya suatu pendekatan pembelajaran yang mengarahkan siswa memiliki kemampuan dalam memahami konsep dan mengkoneksi- kan konsep-konsep untuk menyelesaikan permasalahan matematis yang dihadapinya. Siswa harus aktif membangun pengetahuan- nya berdasarkan kemampuan intelektual yang dimilikinya. Munculnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan akan mengindikasikan bahwa pemahaman konsep- tual dan kemampuan koneksi matematisnya menjadi meningkat.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penggunaan performance assessment (penilaian kinerja) pada pembelajaran biologi dengan kurikulum 2013: penelitian deskriptif di SMAN Kota Tangerang Selatan

Penggunaan performance assessment (penilaian kinerja) pada pembelajaran biologi dengan kurikulum 2013: penelitian deskriptif di SMAN Kota Tangerang Selatan

Wakabid : Kurikulum 2013 sebetulnya tidak terlalu jauh berbeda dengan KTSP. Pengajaran KTS itu sudah bagus sebetulnya. Siswa dituntut aktif dan mandiri. Guru pun demikian, dituntut agar pengajarannya kreatif. Namun ada perbedaan, itu terletak pada strutkturnya. Di K-13 terdapat 4 Kompetensi Inti yang pokok yaitu KI-1 tentang spiritual, KI-2 tentang sikap, KI-3 tentang Pengetahuan dan KI-4 tentang keterampilan. Nah di kurikulum 2013 ini kita dituntut bagaimana menggabungkan keempat aspek tadi dalam satu proses pembelajaran. Selain itu juga terdapat penilaian yang dilakukan beragam untuk mengukur proses belajar siswa, tidak lagi mengukur hasil akhir saja.
Baca lebih lanjut

208 Baca lebih lajut

Unduh file  ini 4892 9602 1 PB

Unduh file ini 4892 9602 1 PB

Berdasarkan tabel 3 pula terlihat bahwa pada pertemuan ke dua aktivitas lisan siswa yang paling dominan masih pada aspek mengemukakan pendapat. Ini berarti peran ALPS baik pada pertemuan pertama maupun pertemuan ke dua sudah cukup optimal dalam merangsang siswa untuk berinteraksi dengan teman sekelompoknya. Sama halnya dengan pertemuan pertama, pada pertemuan ke dua motivasi dan pertanyaan arahan yang diberikan oleh guru cukup efektif untuk membuat siswa lebih aktif dalam mengemukakan pendapat. Sedangkan aktivitas lisan yang paling rendah pada pertemuan ke dua ini adalah aktivitas mengajukan pertanyaan. Hal ini disebabkan banyak siswa yang masih malu-malu dan tidak berani mengajukan pertanyaan. Selain itu, sebagian besar siswa juga tidak percaya diri mengajukan pertanyaan karena takut pertanyaan yang mereka ajukan salah.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Analisis Pemahaman Makroskopik Mikroskop. pdf

Analisis Pemahaman Makroskopik Mikroskop. pdf

trasi zat (BMBK) 5,4% dan kategori benar menentu- kan mol, konsentrasi zat (BMBKBP) 22,7%. Rerata persentase untuk kategori BM lebih besar daripada rerata persentase untuk kategori BMBK. Hal ini me- nunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menentukan konsentrasi zat yang bereaksi. Kemung- kinan disebabkan karena siswa tidak memahami de- ngan benar bahwa konsentrasi merupakan mol dibagi volume total larutan, sehingga jika perhitungan kon- sentrasi tidak menggunakan volume larutan total, akan berimbas pada perolehan konsentrasi yang salah. Dalam hal ini lebih dari separuh siswa tidak mengala- mi kesulitan dalam menentukan mol zat yang bereak- si dan yang tersisa pada keadaan sebelum titik ekui- valen. Hal ini mungkin disebabkan karena siswa su- dah mengetahui volume dari masing-masing zat yang bereaksi dengan tepat, sehingga mol yang diperoleh pun akan benar. Sedangkan rerata persentse kategori BMBKBP adalah 22,7%, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan simbolik siswa dalam menentukan pH larutan titrasi asam-basa masih tergolong sangat ren- dah. Hal ini disebabkan karena pemahaman siswa tentang konsep asam-basa, larutan penyangga dan hidrolisis garam belum baik dan benar, padahal untuk menentukan pH larutan untuk keempat jenis titrasi asam basa memerlukan pemahaman yang baik ten- tang konsep asam kuat basa kuat, asam lemah basa lemah, larutan penyangga serta hidrolisis garam.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PERANAN TEKS PERUBAHAN KONSEPTUAL TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP LEVEL SUB MIKROSKOPIK SISWA SMA KELAS XI PADA MATERI HIDROLISIS GARAM.

PERANAN TEKS PERUBAHAN KONSEPTUAL TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP LEVEL SUB MIKROSKOPIK SISWA SMA KELAS XI PADA MATERI HIDROLISIS GARAM.

Yarroch et al. (Chandrasegaran et al., 2007: 294) mengungkapkan bahwa salah satu penyebab timbulnya miskonsepsi siswa dalam memahami konsep kimia adalah ketidakmampuan siswa dalam mengaitkan ketiga level representasi yang digunakan untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena kimia. Ketidakmampuan siswa dalam mengaitkan ketiga level representasi kimia dapat disebabkan oleh kurang lengkapnya informasi yang diterima oleh siswa tersebut. Salah satu sumber informasi yang digunakan oleh siswa adalah buku teks. Balci (2006: 2) mengungkapkan bahwa penjelasan dalam buku teks adalah salah satu penyebab timbulnya miskonsepsi pada siswa. Dalam penelitiannya, Nuraeni (2008: 98) mengungkapkan bahwa buku teks dapat menyebabkan miskonsepsi karena buku teks yang beredar tidak ada yang menjelaskan level sub mikroskopik secara utuh baik penjelasan verbal maupun visual. Penjelasan verbal maupun penjelasan visual merupakan hal yang penting dalam memahami konsep pada level sub mikroskopik (Bucat dan Mocerino, 2009: 11). Laliyo (2011: 3) mengungkapkan bahwa representasi level sub mikroskopik merupakan faktor kunci pada kemampuan mengaitkan ketiga level representasi kimia. Ketidakmampuan merepresentasikan level sub mikroskopik dapat menghambat kemampuan memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan fenomena makroskopik dan representasi simbolik (Kozma dan Rusell dalam Laliyo, 2011: 3).
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN SOAL TES PEMAHAMAN KONSEPTUAL DAN PENALARAN MATEMATIS MATERI EKSPRESI ALJABAR KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

PENGEMBANGAN SOAL TES PEMAHAMAN KONSEPTUAL DAN PENALARAN MATEMATIS MATERI EKSPRESI ALJABAR KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Berdasarkan Tabel 1, pemahaman konseptual peserta didik sebelum menggunakan soal hasil pengembangan pada materi Ekspresi Aljabar secara keseluruhan yang ditinjau dari tingkat kemampuan matematika adalah sebagai berikut: (a) Hampir semua peserta didik dalam kemampuan atas mampu mengidentifikasi sifat- sifat operasi pada materi Ekspresi Aljabar dengan baik, walaupun masih terdapat beberapa peserta didik yang tidak cermat dalam berhitung dan menyimak jawaban yang telah ditulis serta masih ada beberapa peserta didik belum memahami konsep operasi. Sedangkan sebagian peserta didik dalam kemampuan atas cukup memahami konsep terkait menggunakan dan mengkaitkan representasi konsep pada materi Ekspresi Aljabar dengan baik, walaupun terdapat beberapa peserta didik yang masih kurang teliti dalam menuliskan jawaban, dan tidak menuliskan hasil akhir yang paling sederhana. Akan tetapi, sebagian besar peserta didik dalam kemampuan atas belum mampu menyatakan ulang dengan menuliskan unsur- unsur terkait konsep pada materi Ekspresi Aljabar seperti variabel, koefisien dan konstanta dikarenakan masih belum dapat memahami konsep dengan baik dan kurangnya ketelitian mereka dalam membaca soal dan seluruh peserta didik pada kemampuan atas belum dapat memahami konsep dengan baik, bahkan adanya kurang ketelitian mereka dalam memahami soal sehingga mereka belum dapat mengklasifikasikan objek terkait suku-suku aljabar yang sejenis maupun tidak sejenis dengan benar; (b) Hampir seluruh peserta didik dalam kemampuan menengah tidak mampu menuliskan unsur-unsur terkait konsep pada materi Ekspresi Aljabar diduga mereka tidak
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...