PENALARAN MORAL ANAK TUNARUNGU

Top PDF PENALARAN MORAL ANAK TUNARUNGU:

PENALARAN MORAL ANAK TUNARUNGU DITINJAU DARI KEMAMPUAN KOGNISI DAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DI SEKOLAH LUAR BIASA KOTA BOGOR.

PENALARAN MORAL ANAK TUNARUNGU DITINJAU DARI KEMAMPUAN KOGNISI DAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DI SEKOLAH LUAR BIASA KOTA BOGOR.

Penalaran moral adalah cara berfikir seseorang atau sekelompok orang dalam menilai dan memutuskan apakah tindakan itu adalah baik atau buruk, benar atau salah. Dari hasil penelitian (Anita Aryaputri, 2008), didapatkan bahwa penalaran moral setiap individu berbeda-beda tidak tergantung pada jenis kelamin dan usia individu. Dari hasil penelitian itu juga didapatkan data yang menyimpulkan bahwa tidak adanya hubungan antara inteligensi dengan tahap perkembangan penalaran moral, namun kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut antara lain adalah pendidikan agama dan pengalaman sosial (jurnal ilmiah penelitian psikologi, Mahargyantari. P. D, Ritandiyono, 2000).
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

t pkkh 0908259 table of contents(1)

t pkkh 0908259 table of contents(1)

Akhirnya dengan temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi pijakan peneliti lain dan semoga dapat memberikan kontribusi praktis dan teoritis terhadap penalaran moral anak tunarungu juga bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya bagi pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

10 Baca lebih lajut

t pkkh 0908259 chapter3(1)

t pkkh 0908259 chapter3(1)

Subjek dalam penelitian ini adalah anak tunarungu yang berusia antara 11 – 12 tahun dengan jumlah 18 siswa. Alasan pemilihan usia ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan penalaran pada anak mulai berkembang pada usia remaja, yaitu sekitar usia 11 tahun. Walaupun telah dikemukakan dari hasil pengkajian Myklebust bahwa sebenarnya perkembangan kognisi anak tunarungu itu tidak berbeda dengan anak pada umumnya, tetapi dikarenakan anak tunarungu mengalami hambatan dalam pendengarannya sehingga mereka kurang dapat memahami hal-hal yang bersifat abstrak. Tetapi dari batasan usia ini kita dapat melihat keberfungsian faktor kognitif terhadap perkembangan moral pada anak tersebut.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pengaruh Auditori Verbal Therapy Terhadap Kemampuan Penguasaan Kosa Kata Pada Anak Yang Mengalami Gangguan Pendengaran

Pengaruh Auditori Verbal Therapy Terhadap Kemampuan Penguasaan Kosa Kata Pada Anak Yang Mengalami Gangguan Pendengaran

Sejalan dengan pendapat para ahli dan kurikulum Taman Kanak-kanak (2010), serta Dunn (dalam Wulan, 2010), bahwa kemampuan penguasaan kosa kata dapat disusun berdasarkan PPVT (Peabody Picture Vocabulary Test) melalui indikator sebagai berikut: Kata benda, seperti perabot, alat sekolah, perkakas, mainan, dan benda-benda di sekitarnya. Kata kerja, seperti kegiatan ibu sehari-hari, kegiatan anak di rumah, kegiatan ayah, dan kegiatan di sekolah. Menggabungkan 2 kata sifat, seperti teman dekat, mainan di sekolah, dan hal-hal yang tidak disukai, serta taman di sekolah. Kata keterangan seperti menunjuk tempat, menunjuk waktu, dan menunjuk pelaku. Kata ganti, seperti menya- takan milik sendiri, menunjuk milik orang, menyebut lebih dari 2 orang. Kata bilangan seperti menyebut jumlah, menyebut jumlah dan satuan, dan menyebut urutan. Kata depan seperti menjelaskan tempat, menjelaskan maksud, menunjuk tempat, dan menunjuk waktu, serta menunjuk maksud. Kata hubung, seperti menunjuk objek berbeda, menyatakan dua sifat bertentangan pada suatu objek, dan menyatakan sesuatu yang belum ada.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Penalaran Moral Dengan Perilaku Prososial Pada Remaja.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Penalaran Moral Dengan Perilaku Prososial Pada Remaja.

Berdasarkan dari pemaparan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah apakah ada hubungan antara penalaran moral dengan perilaku prososial pada remaja SMA ? mengacu pada permasalah tersebut peneliti tertarik untuk mengkaji secara empiris dengan mengadakan penelitian yang berjudul tentang “ Hubungan Antara Penalaran Moral dengan Perilaku Prososial pada Remaja SMA ”.

9 Baca lebih lajut

Gambaran Penalaran Moral Pada Remaja yang Tinggal di Daerah Konflik

Gambaran Penalaran Moral Pada Remaja yang Tinggal di Daerah Konflik

Penelitian ini dilakukan pada 56 orang remaja yang tinggal di daerah konflik di Kelurahan Belawan 1 Kecamatan Medan Belawan, Sumatera Utara. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Alat ukur pada penelitian ini adalah Defining Issue Test (DIT) versi pendek. Defining Issues Test (DIT) bentuk singkat merupakan alat ukur yang dibuat oleh Rest berdasarkan kombinasi orientasi teoritik umum Kohlberg dengan prosedur konstruksi tes secara psikometri (Rest, 1979). Analisa data yang dilakukan adalah analisa deskriptif. Dari hasil analisa diperoleh bahwa 31 orang berada pada tahap 4 dan 21 orang pada tahap 3 yang artinya 52 orang subjek berada pada tingkat konvensional dimana pada tingkat ini orientasinya pada otoritas hukum dan ketertiban sosial dengan ditandai adanya konformitas dengan teman sebaya. Keterhambatan perkembangan penalaran moral pada subjek dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Pengaruh penalaran moral dan religiusitas terhadap selt-control dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba pada remaja

Pengaruh penalaran moral dan religiusitas terhadap selt-control dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba pada remaja

(F) Penyalahgunaan narkoba atau drug abuse di negara kita tampaknya kian marak. Hal ini dapat dipastikan drugs central terus merambah, mencengkram lapisan masyarakat tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan status sosial ekonomi. Meskipun demikin, yang paling sering mendapat sorotan dalam hal penyalahgunaan narkoba adalah kaum remaja. Oleh karena itu, remaja membutuhkan penalaran moral agar mampu membuat pertimbangan dalam setiap tindakannya. Selain itu, remaja harus menanamkan sikap religiusitas agar lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dalam menjalani kehidupan dimasa remaja yang akan mempengaruhi perilakunya. Tetapi apakah terdapat pengaruh antara penalaran moral dan religiusitas terhadap self-control dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba pada remaja?
Baca lebih lanjut

141 Baca lebih lajut

Hubungan Keharmonisan Keluarga Dengan Penalaran Moral Pada Remaja Delinkuen

Hubungan Keharmonisan Keluarga Dengan Penalaran Moral Pada Remaja Delinkuen

Tes ini bertujuan untuk melihat bagaimana pandangan seseorang dalam menyelesaikan suatu situasi yang mengandung dilema moral (Rest, 1979). DIT merupakan tes pilihan berganda yang bersifat objektif, disusun berdasarkan teori perkembangan moral dari Kohlberg. Saat ini telah ada dua versi , yaitu DIT-1 dan DIT-2. Menurut penelitian Davidson dan Robbins (dalam Rest, 1979) konsistensi internal Cronbach Alpha pada DIT adalah 0,80. Dalam penelitian ini digunakan DIT- 1 bentuk pendek (Short Form). DIT-1 terdiri dari 3 buah cerita atau dilema sosial yang menyangkut moral, masing-masing disertai dengan 12 pernyataan. Setiap pernyataan ini mencerminkan suatu tahap perkembangan moral tertentu atau tipe penalaran moral tertentu. Untuk setiap pernyataan subjek harus memilih salah satu pertimbangan dari lima pertimbangan yang ada, yaitu: sangat penting, penting, agak penting, kurang penting, dan tidak penting. Selanjutnya adalah menentukan urutan (ranking), pernyataan mana yang menurut subjek merupakan pernyataan terpenting pertama, terpenting kedua, terpenting ketiga dan terpenting keempat.
Baca lebih lanjut

128 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PERAN AYAH DENGAN PENALARAN MORAL REMAJA.

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PERAN AYAH DENGAN PENALARAN MORAL REMAJA.

Dari beberapa kasus yang dikemukakan di atas, kasus-kasus tersebut terjadi karena minimnya pendidikan moral pada remaja. Hal ini sesuai dengan berita kompasiana oleh Erny (2015), Salah satu problem yang mendasar dalam pendidikan adalah terkait dengan pendidikan moral. Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap pendidikan moral akan semakin memperparah dan memperpuruk kondisi masyarakat. Diperkuat oleh Wahyu (2013) dalam TribunNews.com dalam berita tentang marak perkosaan, moral remaja kian merosot. Menurut Arist, maraknya kejahatan seksual yang menimpa bocah maupun gadis ABG dan pelakunya juga remaja, di antaranya disebabkan turunnya degradasi moral, kurangnya pendidikan agama dan sosial yang ada di masyarakat.
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENALARAN MORAL DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA REMAJA DI   Hubungan Antara Penalaran Moral dengan Perilaku Seks Bebas Pada Remaja Di SMK I Jumantono.

HUBUNGAN ANTARA PENALARAN MORAL DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA REMAJA DI Hubungan Antara Penalaran Moral dengan Perilaku Seks Bebas Pada Remaja Di SMK I Jumantono.

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penalaran moral dan perilaku seks bebas. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Negeri 1 Jumantono yang berjumlah 675 orang, sampel dalam penelitian ini pada siswa yang pernah atau memiliki pacar dan jumlahnya diambil sebanyak 30% = 67,5 dibulatkan menjadi 70 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan skala, alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala penalaran moral dan skala perilaku seks. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan korelasi product moment.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pengaruh Religiusitas terhadap penalaran Moral Remaja yang Beragama Islam

Pengaruh Religiusitas terhadap penalaran Moral Remaja yang Beragama Islam

Moral (akhlak) mulia merupakan bukti dan buah keimanan yang benar, dan implementasi berbagai bentuk ibadah dalam Islam, karena tanpa moral (akhlak) ibadah hanya menjadi ritual dan gerakan yang tidak memiliki nilai dan manfaat (Yakan, 2007). Pandangan ini diperkuat dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Gladding, Lewis dan Adkins. Penelitian ini menggunakan 210 partisipan dan hasilnya menunjukkan ada korelasi signifikan antara penalaran moral dan religiusitas, dimana p < 0.01. Penelitian ini mengindikasikan bahwa individu yang religiusitasnya tinggi cenderung lebih berorientasi internal, melihat tujuan akhir dari kehidupan mereka. Religiusitas yang tinggi tampak pada adanya penempatan terhadap konsep-konsep nilai yang lebih tinggi. Sementara itu, individu yang memiliki religiusitas yang lebih rendah, melihat harapan dan makna yang lebih sedikit dari kehidupan mereka, yang membedakan diri mereka dari masyarakat. Mereka cenderung menempatkan nilai-nilai ”hedonistik” seperti, kesenangan, kenyamanan, dan kegembiraan, karena penundaan kepuasan dianggap tidak bernilai dan kehidupan dipandang sebagai kesempatan untuk memuaskan hasrat/keinginan dasar pada saat tertentu. Pada dasarnya, mereka lebih berorientasi individualis dan sering berprasangka pada orang lain (Glover, 1997).
Baca lebih lanjut

186 Baca lebih lajut

t pkkh 0908259 chapter3

t pkkh 0908259 chapter3

Subjek dalam penelitian ini adalah anak tunagrahita ringan yang berusia antara 11 – 14 tahun. Alasan pemilihan usia ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan penalaran pada anak mulai berkembang pada usia remaja, yaitu sekitar usia 11 tahun. Walaupun perkembangan mental anak tunagrahita usia 11 tahun berbeda dengan perkembangan mental pada anak umumnya, tetapi dari batasan usia ini kita dapat melihat keberfungsian faktor kognitif terhadap perkembangan moral.

15 Baca lebih lajut

Parenting: Di Tengah Kesibukan, Temani Anak Kita Belajar

Parenting: Di Tengah Kesibukan, Temani Anak Kita Belajar

Perkembangan moralitas pada tingkat I yaitu penalaran moral yang pra-konvensional, yang mendasarkan pada objek di luar diri individu sebagai ukuran benar atau salah. Pada stadium 1. Orientasi patuh dan takut hukuman, suatu tingkah laku dinilai benar bila tidak dihukum dan salah bila perlu dihukum. Seseorang harus patuh pada otoritas karena otoritas tersebut berkuasa. Berdasarkan perkembangan moralitas tingkat I ini, orangtua akan menggunakan pola asuh yang cenderung kaku (otoriter) untuk merealisasikan keinginan-keinginannya. Pola asuh yang dimaksud dapat direfleksikan dalam bentuk perlakuan fisik maupun psikis terhadap anak-anaknya. Hal ini tercermin dari tutur kata, sikap, perilaku dan tindakan mereka terhadap sang anak.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Hubungan Penerapan Teknik Disiplin Di TK X Dengan Kemampuan Penalaran Moral Anak Usia 4-6 Tahun.

Hubungan Penerapan Teknik Disiplin Di TK X Dengan Kemampuan Penalaran Moral Anak Usia 4-6 Tahun.

Metode penelitian yang akan digunakan adalah studi korelasi. Pengambilan dara dilakukan dengan alat ukur berupa observasi mengenai teknik disiplin di TK X dan alat ukur Moral Judgement Interview Form A. Pengolahan data menggunakan uji korelasi pearson dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil data menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) teknik disiplin love withdrawal = 0,835, teknik disiplin power assertion = 0,079, dan teknik disiplin induction = 0,079. Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ketiga teknik disiplin dengan kemampuan penalaran moral anak usia 4-6 tahun.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Hubungan Efektivitass Komunikasi Orang Tua-anak Dengan Penalaran Moral Pada Periode Anak Akhir Di Sekolah Dasar Percobaan Negeri Sabang Bandung.

Hubungan Efektivitass Komunikasi Orang Tua-anak Dengan Penalaran Moral Pada Periode Anak Akhir Di Sekolah Dasar Percobaan Negeri Sabang Bandung.

Metode penelitian yang digunakan adalah studi korelasi antara variabel efektivitas komunikasi dengan penalaran moral. Penelitian ini dilakukan terhadap 91 responden dengan kriteria berusia 10-12 tahun, tinggal bersama orangtuanya dan bersekolah di SDPN Sabang Bandung. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur berupa kuisioner Efektivitas Komunikasi dan Defining Issues Tes dari Rest. Selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan menggunakan uji Rank Spearman. Berdasarkan pengolahan data diperoleh p-value 0,03 dan nilai korelasi 0,309 dengan α 0.05. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan antara efektivitas komunikasi orangtua-anak dengan penalaran moral anak.dan besar korelasi antara dua variabel tersebut sebesar 31%.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

MODUL 2 unit 2

MODUL 2 unit 2

Secara khusus terdapat sebuah bukti bahwa anak tunarungu yang belajar isyarat ternyata dapat meningkatkan kemampuan visual. Bellugi (1990) menemukan bahwa anak tunarungu yang diperkenalkan kepada isyarat, lebih baik dalam mengenal apa yang sedang dihadapai di bawah pencahayaan dan kondisi orientasi ruang yang berbeda-beda, dibandingkan dengan tunarungu yang tidak diperkenalkan kepada isyarat. Kompensasi perseptual tidak terjasi secara otomatis, tetapi harus melalui latihan-latihan yang intensif. Terdapat dua faktor yang dapat menjelaskan temuan ini. Pertama, anak tunarungu sejak usia dini akan memusatkan perhatian kepada apa yang dihadapinya untuk memahami apa yang sedang terjadi, sedangkan anak yang mendengar tidak selalu fokus terhadap apa yang dihadapinya karena mereka dapat menerima informasi melalui saluran auditori. Kedua, belajar bahasa isyarat sejak usia dini dapat meningkatkan keterampilan visual spatia. Hal ini didukung oleh Emmorey (1993) yang menemukan bahwa tunarungu dewasa yang belajar isyarat memiliki imajinasi visual lebih baik dari pada orang dewasa yang awas dan mendengar.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

S FIS 1002380 Abstract

S FIS 1002380 Abstract

Permendikbud No. 104 Tahun 2014 tentang penilaian hasil belajar, mengatur bahwa lingkup penilaian hasil belajar oleh pendidik mencakup kompetensi sikap sosial yang meliputi sikap menerima, menghargai, menanggapi, menghayati, mengamalkan nilai spiritual dan nilai sosial yang dilaksanakan dengan menggunakan instrumen penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penalaran moral siswa SMP di kota Bandung dan sekitarnya jika diukur menggunakan tes dilema moral dan Moral Judgement Test (MJT). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey cross sectional. Subjek penelitian ini adalah 131 orang siswa dari empat SMP yang tersebar di kota Bandung dan sekitarnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tes dilema moral dan Moral Judgement Test (MJT) dapat digunakan sebagai instrumen untuk menilai moral siswa SMP. Hasil dari tes dilema moral didapatkan bahwa aspek tindakan moral adalah aspek yang paling banyak dimiliki oleh siswa SMP di Bandung dan sekitarnya, kemudian diikuti oleh perasaan moral dan pengetahuan moral. Aspek pengetahuan moral yang paling rendah adalah pengambilan perspektif dan pengetahuan diri. Sedangkan, aspek yang paling tinggi adalah kesadaran moral dan mengetahui nilai-nilai moral. Aspek perasaan moral yang paling tinggi adalah mencintai kebaikan dan empati adalah aspek yang paling rendah. Hasil dari Moral Judgement Test (MJT) adalah tidak ada siswa yang masuk ke dalam kategori kompetensi pertimbangan moral sangat tinggi. Siswa yang masuk ke dalam kategori kompetensi pertimbangan moral sedang memiliki aspek pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang masuk ke dalam kategori kompetensi pertimbangan moral sangat rendah.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENALARAN MORAL DENGAN KEDISIPLINAN SISWA SMKN I SRAGEN  Hubungan Antara Tingkat Penalaran Moral Dengan Kedisiplinan Siswa Smkn I Sragen.

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENALARAN MORAL DENGAN KEDISIPLINAN SISWA SMKN I SRAGEN Hubungan Antara Tingkat Penalaran Moral Dengan Kedisiplinan Siswa Smkn I Sragen.

Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat penalaran moral dengan kedisiplinan siswa SMKN I Sragen, tingkat penalaran moral pada subjek penelitian, tingkat kedisiplinan siswa SMKN I Sragen dan sumbangan efektif tingkat penalaran moral terhadap kedisiplinan siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, yaitu dengan menggunakan skala sebagai alat ukur tingkat penalaran moral dan kedisiplinan siswa. Analisis data menggunakan korelasi product moment. Penelitian dilakukan di SMKN I Sragen dengan populasi penelitian adalah seluruh siswa SMKN 1 Sragen kelas X dan XI berjumlah berjumlah 744 siswa yang terdiri dari 24 kelas. . Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi yaitu siswa-siswi kelas X dan XI terdiri dari empat kelas yang berjumlah 125 siswa, dengan rinciannya yaitu kelas X dua kelas dan kelas XI dua kelas yang ditentukan dengan cara Cluster sampel. Hasil analisis menunjukkan, terdapat hubungan yang sangat signifikan antara penalaran modal dengan kedisiplinan siswa dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,746 dengan p= 0,00 (p< 0,01), hal ini menunjukkan semakin tinggi penalaran modal maka diikuti dengan meningkatnya kedisiplinan siswa dan sebaliknya semakin rendah penalaran moral seseorang maka semakin rendah pula kedisiplinan siswa di SMKN 1 Sragen. Penalaran modal siswa memiliki nilai rerata empirik 13,032 dan rerata hipotetik sebesar 10, kategorisasi menunjukkan bahwa tingkat penalaran moral tersebut termasuk pada kategori tinggi. Kedisiplinan siswa memiliki nilai rerata empirik 43,104, sedangkan dengan nilai rerata hipotetik sebesar 37,5, kategorisasi menunjukkan bahwa kedisiplinan siswa termasuk pada kategori tinggi. Penalaran modal memberikan kontribusi sebesar 55,7% terhadap kedisiplinan siswa di SMKN 1 Sragen.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH DITINJAU DARI TINGKAT PENALARAN MORAL  Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seksual Pranikah Ditinjau dari Tingkat Penalaran Moral.

SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH DITINJAU DARI TINGKAT PENALARAN MORAL Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seksual Pranikah Ditinjau dari Tingkat Penalaran Moral.

Perilaku seksual pranikah remaja pada hakekatnya adalah suatu perilaku yang timbul untuk memenuhi dorongan seksual terhadap lawan jenis, yang dilakukan tanpa adanya ikatan perkawinan atau sebelum menikah. Dalam kehidupan nyata, terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah remaja, salah satunya adalah tingkat penalaran moral. Penalaran moral membentuk mekanisme pemikiran, penilaian serta pertimbangan remaja dalam menyakini serta melihat konsekuensi yang akan didapat dari sikap yang remaja pilih saat menyikapi perilaku seksual pranikah.

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...