Penderita PPOK Stabil

Top PDF Penderita PPOK Stabil:

PENGARUH PEMBERIAN QUERCETIN TERHADAP KADAR IL-8, NILAI %VEP1, DAN SKOR CAT PENDERITA PPOK STABIL - UNS Institutional Repository

PENGARUH PEMBERIAN QUERCETIN TERHADAP KADAR IL-8, NILAI %VEP1, DAN SKOR CAT PENDERITA PPOK STABIL - UNS Institutional Repository

Maratus Sholihah, 2018. Tesis. Pengaruh Pemberian Quercetin Terhadap Kadar Interleukin-8, Nilai %VEP1, dan Skor CAT penderita PPOK stabil. Supervisor I: Prof. DR. Suradi, Dr., Sp.P(K), MARS, FISR; Supervisor II: Jatu Aphridasari, Dr., Sp.P(K), FISR. Program Pendidikan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

20 Baca lebih lajut

Korelasi Derajat Obstruksi Saluran Napas Dengan Jenis Rokok Pada Penderita Ppok Stabil Pada Pasien Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2013

Korelasi Derajat Obstruksi Saluran Napas Dengan Jenis Rokok Pada Penderita Ppok Stabil Pada Pasien Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2013

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas petunjuk ilmu yang dikaruniakan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini yang berjudul “ Korelasi derajat obstruksi dengan jenis rokok pada penderita PPOK Stabil di RSUP H Adam Malik Medan 2013 ”. Besar harapan penulis, penelitian ini dapat diterima dan bermanfaat, serta menjadi masukan yang berarti khususnya dalam upaya preventif terhadap timbulnya penyakit TB Paru.

14 Baca lebih lajut

Pengaruh Ubiquinone Terhadap Kadar MDA Plasma, %-VEP1,dan Perbaikan Klinis Penderita PPOK Stabil AWAL

Pengaruh Ubiquinone Terhadap Kadar MDA Plasma, %-VEP1,dan Perbaikan Klinis Penderita PPOK Stabil AWAL

Metode : Penelitian ini adalah uji klinis eksperimental dengan pretest and post-test design yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar MDA plasma, %VEP1 dan perbaikan klinis penderita PPOK stabil. Subjek terdiri dari 30 penderita PPOK stabil yang datang kepoliklinik paru RSUD. Dr. Moewardi Surakarta bulan Juni-Agustus 2016. Sampel diambil secara consecutive sampling. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, kelompok perlakuan (n=15) mendapatkan terapi tambahan ubiquinone 1x150mg/hari dan kelompok kontrol (n=15) mendapat terapi standar. Kadar MDA plasma, %VEP1, dan perbaikan klinis diukur saat kontrol dipoli paru.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Pengaruh teofilin terhadap kadar IL-8, netrofil sputum ddan skor COPD Assessment Test terhadap penderita PPOK stabil.

Pengaruh teofilin terhadap kadar IL-8, netrofil sputum ddan skor COPD Assessment Test terhadap penderita PPOK stabil.

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit pernapasan kronis ditandai dengan penurunan fungsi paru yang progresif dengan gejala pernapasan terutama sesak napas, batuk dan produksi sputum, berhubungan dengan beban ekonomi yang signifikan, termasuk rawat inap, tidak adanya pekerjaan, dan disabilitas (GOLD, 2016). Kematian karena PPOK terus meningkat dan pada tahun 2020 diperkirakan PPOK menjadi penyebab ketiga kematian terkemuka di dunia. Prevalensi PPOK di Amerika Serikat mencapai 37% dengan tingkat mortalitas 7-111 kematian per 10000 populasi (Rycroft et al, 2012). Prevalensi PPOK berdasarkan The Epidemiologi and impact of COPD (EPIC) survey di Taiwan sebesar 9,5% dan di Indonesia sekitar 4,5% (Lim et al, 2015) dan menurut Riset Kesehatan Dasar laporan nasional (Riskesdas) tahun 2013 adalah 3,7% per mil dengan prevalensi terbanyak di Nusa tenggara timur (10,0%), Sulawesi tengah (8,0%), Sulawesi barat dan selatan masing-masing 6,7%, dan Jawa Tengah sendiri berkisar 3,4% (Riskesdas, 2013)
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

PENGARUH LATIHAN OTOT INSPIRASI METODE THRESHOLD LOAD TRAINING TERHADAP MAXIMAL INSPIRATORY PRESSURE DAN KUALITAS HIDUP PENDERITA PPOK STABIL.

PENGARUH LATIHAN OTOT INSPIRASI METODE THRESHOLD LOAD TRAINING TERHADAP MAXIMAL INSPIRATORY PRESSURE DAN KUALITAS HIDUP PENDERITA PPOK STABIL.

Penderita PPOK mengalami kelemahan otot napas sehingga latihan yang bertujuan meningkatkan kekuatan otot napas merupakan upaya terapi yang rasional. Kelemahan otot napas pada penderita PPOK sangat mempengaruhi derajat sesak, kapasitas exercise, dan kualitas hidup. Diharapkan dengan melatih otot napas dapat meningkatkan kekuatan otot napas dan pada akhirnya menurunkan gejala sesak, meningkatkan kapasitas exercise, dan kualitas hidup penderita PPOK (Weiner et al., 2003).

7 Baca lebih lajut

Korelasi Derajat Obstruksi Saluran Napas Dengan Jenis Rokok Pada Penderita Ppok Stabil Pada Pasien Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2013

Korelasi Derajat Obstruksi Saluran Napas Dengan Jenis Rokok Pada Penderita Ppok Stabil Pada Pasien Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2013

Pemeriksaan fisik memainkan peranan penting untuk diagnosis PPOK . Tanda fisik hambatan aliran udara biasanya tidak muncul hingga terdapat kerusakan yang bermakna dari fungsi paru muncul, dan deteksi memiliki nilai sensitifitas dan spesifisitas yang rendah. Pada inspeksi dapat di temukan sentral sianosis, bentuk dada “ barel-shaped ”, takhipneu, edema tungkai bawah sebagai tanda kegagalan jantung kanan. Perkusi dan palpasi jarang membantu diagnosis PPOK kecuali tanda-tanda hiperinflasi yang akan mengaburkan batas jantung dan menurunkan batas paru-hati. Auskultasi sering memberikan kelemahan saluran nafas, dapat dengan disertai adanya mengi.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Pengaruh L-Carnitine terhadap nilai % VEP1 dan Skor CAT penderita PPOK stabil.

Pengaruh L-Carnitine terhadap nilai % VEP1 dan Skor CAT penderita PPOK stabil.

L-Carnitine (LC) adalah metabolit penting yang diperlukan untuk metabolisme asam lemakdan memproduksi energi pada otot jantung dan rangka. L-Carnitine memainkan peranan penting untuk oksidasi asam lemak mitokondria yang optimal sebagai energi untuk aktivitas otot.Otot rangka merupakan reservoir utama karnitin di dalam tubuh dan memilikikonsentrasi karnitin setidaknya 200 kali lebih tinggi dari plasma darah. 9 Hipoksia pada PPOK dan latihan

3 Baca lebih lajut

Perbandingan Kadar C- Reactive Protein Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil dengan Eksaserbasi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

Perbandingan Kadar C- Reactive Protein Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil dengan Eksaserbasi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

Penelitian ini dilakukan tahun 2013 dengan sampel adalah penderita PPOK laki- laki dan telah berhenti merokok yang berobat ke Poli PPOK RSHAM serta yang dirawat di RSHAM, jumlah penderita PPOK stabil yang mengikuti penelitian ini adalah sebanyak 30 orang dan 30 penderita PPOK eksaserbasi. Penderita PPOK stabil dan eksaserbasi ini didiagnosa berdasarkan keluhan pernapasan yang dirasakan penderita seperti sesak napas, batuk, batuk berdahak, dan wheezing, kemudian dilakukan pemeriksaan fisik dada umumnya didapati suara pernapasan melemah, ekspirasi memanjang ataupun wheezing. Sampel yang belum pernah didiagnosa sebagai PPOK dilakukan pemeriksaan spirometri setelah dalam kondisi stabil. Setelah dilakukan penjelasan mengenai penelitian dan menandatangani surat persetujuan tindakan medik, maka penderita PPOK stabil yang setuju dilakukan pemeriksaan kadar CRP untuk mengetahui kondisi inflamasi sistemiknya, sedangkan pada pasien PPOK eksaserbasi pemeriksaan kadar CRP dilakukan dengan menggunakan serum sampel pada saat mengalami eksaserbasi. Hasil penelitian yang telah dianalisa secara statistik disajikan dalam bentuk tabel.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Pengaruh Kasifikasi PPOK Stabil Terhaap Hasil Uji Diffusing Capacity Of The Lung For Carbon Monoxide (DLCO) dan kadar Hemoglobin (Hb).

Pengaruh Kasifikasi PPOK Stabil Terhaap Hasil Uji Diffusing Capacity Of The Lung For Carbon Monoxide (DLCO) dan kadar Hemoglobin (Hb).

Pendekatan multidimensi menurut GOLD 2016 dalam klasifikasi penderita PPOK stabil dikelompokkan berdasarkan GOLD 2016 yang meliputi kombinasi penilaian gejala menggunakan kuesioner CAT atau skala sesak mMRC, derajat hambatan saluran napas dengan spirometri dan risiko eksaserbasi pertahun. Terdapat 4 kelompok atau grup, yaitu A, B, C, dan D (GOLD, 2016).

4 Baca lebih lajut

VERSI JURNAL PENGARUH LATIHAN OTOT INSPIRASI

VERSI JURNAL PENGARUH LATIHAN OTOT INSPIRASI

Penelitian ini merupakan uji klinis quasi experimental, pre dan post design. Jumlah sampel penelitian adalah 15 orang penderita PPOK stabil di poliklinik rawat jalan RSUD dr. Moewardi Surakarta pada bulan September - November 2015 yang diambil secara consecutive sampling. Variabel bebas adalah latihan otot inspirasi metode threshold load training sedangkan variabel tergantung adalah kekuatan otot inspirasi yang dinilai dari maximal inspiratory pressure (MIP) dan penilaian kualitas hidup diperoleh berdasarkan kuesioner CAT. Analisis yang digunakan adalah uji beda dengan paired t test jika data berdistribusi normal, serta wilcoxon signed rank test jika data tidak berdistribusi normal dan tidak dapat ditransformasikan ke distribusi normal melalui transformasi logaritma.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronik Yang Di Rawat Inap Di RSUD Aceh Tamiang Tahun 2007-2008

Karakteristik Penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronik Yang Di Rawat Inap Di RSUD Aceh Tamiang Tahun 2007-2008

Pada hakekatnya keluhan-keluhan disebabkan oleh adanya hipersekresi dan sesak, maka penderita mengeluh terutama pada batuk berdahak dan ada juga mengeluh tentang sesak nafas. Pada stadium dini, keluhan sesak nafas hanya dirasakan kalau sedang melakukan pekerjaan fisik ekstra (dyspnoe d’effort) yang masih dapat ditoleransi penderita dengan mudah, namun lama kelamaan sesak ini semakin progresif. . Pada dasarnya penderita PPOK tidak akan mengeluh tentang panas badan, tetapi karena sering mendapatkan infeksi sekunder sub akut, maka dalam periode-periode itu penderita akan mengeluh tentang panas badan rendah (subfebril) sampai tinggi. 20
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

Perbedaan Kadar Magnesium Serum Antara Pasien Dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Stabil dan PPOK Eksaserbasi

Perbedaan Kadar Magnesium Serum Antara Pasien Dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Stabil dan PPOK Eksaserbasi

terlalu dini menyebabkan tingginya penyakit yang disebabkan rokok, salah satunya PPOK. Namun tidak ada data nasional yang menjelaskan prevalensi penderita PPOK di Indonesia. Pada tahun 2000 di RS Persahabatan Jakarta PPOK menduduki peringkat ke-5 dari seluruh penderita yang dirawat jalan dan peringkat ke-4 dari seluruh penderita yang dirawat. Pada tahun 2007 terjadi peningkatan jumlah penderita 3 kali lebih besar dari tahun 2000.Hasil survei penyakit tidak menular oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan (PPM & PL)di 5 rumah sakit propinsi di Indonesia (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Sumatera Selatan) pada tahun 2004 menunjukkan PPOK berada di urutan pertama dengan proporsi 35%, diikuti asma bronkial (33%), kanker paru (30%) dan lainnya (2%).Pada tahun 2010 Dinas Kesehatan Yogyakarta menyatakan PPOK menduduki peringkat ke-4 penyebab kematian.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perbedaan Kadar Magnesium Serum Antara Pasien Dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Stabil dan PPOK Eksaserbasi

Perbedaan Kadar Magnesium Serum Antara Pasien Dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Stabil dan PPOK Eksaserbasi

Sebuah penelitian oleh Azis et al pada tahun 2005 menemukan bahwa kadar magnesium plasma pada pasien dengan PPOK eksaserbasi lebih rendah dibandingkan dengan kadar magnesium plasma pada pasien dengan PPOK stabil. data penelitian tersebut menunjukkan bahwa pasien PPOK dengan kadar magnesium plasma yang lebih rendah lebih beresiko mengalami eksaserbasi.

Baca lebih lajut

Hubungan Keparahan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Stabil Dengan Disfungsi Ereksi

Hubungan Keparahan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Stabil Dengan Disfungsi Ereksi

Berdasarkan hasil SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2001, sebanyak 54,5% penduduk laki-laki dan 1,2% perempuan merupakan perokok, 92,0% dari perokok menyatakan kebiasaannya merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lainnya, dengan demikian sebagian besar anggota rumah tangga merupakan perokok pasif (BPS,2001). Jumlah perokok yang berisiko menderita PPOK atau kanker paru berkisar antara 20 25%. Hubungan antara rokok dan PPOK merupakan hubungan dose response, lebih banyak batang rokok yang dihisap setiap hari dan lebih lama kebiasaan merokok tersebut maka risiko penyakit yang ditimbulkan akan lebih besar. 1
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Prevalensi Penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dengan Riwayat Merokok di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan Periode Januari 2009 – Desember 2009

Prevalensi Penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dengan Riwayat Merokok di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan Periode Januari 2009 – Desember 2009

Sementara itu jika dilihat pada gambar 5.1, kelompok umur yang memiliki persentase tertinggi bagi proporsi penderita PPOK dengan riwayat merokok berdasarkan kelompok umur adalah kelompok umur 61-70 tahun (48%). Keadaan ini mungkin menyatakan bahawa hubungan antara penurunan fungsi paru dengan intensitas merokok berkaitan dengan peningkatan kadar prevalensi PPOK seiring dengan pertambahan umur. Semakin bertambahnya umur, semakin menurun fungsi paru dan keadaan ini diperburuk dengan adanya kebiasaan merokok yang seterusnya dapat menjadi faktor risiko dalam meningkatkan prevalensi PPOK. Selain daripada itu, menurut CDC (2002), secara umumnya, PPOK terjadi pada perokok yang memulai tabiat merokok sejak usia remaja dan mulai mendapatkan rawatan di rumah sakit apabila perokok telah mencapai usia 50 hingga 69 tahun. Hal ini mungkin menjelaskan penyebab persentase yang tinggi pada kelompok umur 61-70 tahun.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perbedaan Kadar Magnesium Serum Antara Pasien Dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Stabil dan PPOK Eksaserbasi

Perbedaan Kadar Magnesium Serum Antara Pasien Dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Stabil dan PPOK Eksaserbasi

Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu, Saudara/i, meluangkan waktu untuk membaca dan mengisi surat persetujuan ini. Sebelumnya, perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya dr. Ricky Sanowara, peserta Program Pendidikan Spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK-USU). Saya sedang melakukan pengumpulan data penelitian tugas akhir sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan di FK-USU. Adapun judul penelitian saya adalah “ Perbedaaan Kadar Magnesium Serum Antara Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) Stabil Dengan PPOK Eksaserbasi Akut .”
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Lampiran 2 SURAT PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Lampiran 2 SURAT PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Penelitian ini bertujuan untuk menilai apakah perbedaan kadar fibrinogen dapat digunakan sebagai biomarker terhadap keparahan terjadinya eksaserbasi PPOK, lamanya rawat inap PPOK, dan resiko mortalitas pada PPOK. Apabila memang terbukti perbedaan kadar fibrinogen dapat digunakan sebagai biomarker terhadap keparahan terjadinya eksaserbasi PPOK, sehingga bisa kita persentasikan kepada pihak yang terkait agar bisa diterapkan secara rutin kepada semua pasien PPOK.

Baca lebih lajut

Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index  pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil Di RS Tembakau Deli Medan

Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil Di RS Tembakau Deli Medan

Salah satu manifestasi sistemik utama pada pasien PPOK adalah disfungsi otot dan pengurangan massa otot. Dengan bertambah beratnya penyakit, penderita PPOK kehilangan banyak otot, khususnya otot paha dan lengan atas. Selanjutnya penderita kehilangan kekuatan latihan dan mengeluh lemah, sesak napas dan berkurang aktifitas (Sin & Man, 2006). Kakhesia adalah suatu keadaan kelainan metabolisme patologis yang ditandai penurunan berat badan yang ekstrim akibat kehilangan massa otot dengan atau tanpa kehilangan massa lemak. Kakhesia sering ditemukan pada penyakit PPOK dan angka kejadiannya meningkat sesuai derajat PPOK. Ditemukan terjadi pengurangan massa sel otot dan kelemahan otot sebagai hasil dari apoptosis dan atropi otot karena tidak digunakan (GOLD, 2006). Massa otot yang rendah akan berhubungan dengan kelemahan otot perifer dan penurunan status fungsional, sehingga menurunkan kualitas hidup penderita. Dengan menggunakan IMT, kakhesia didefinisikan sebagai IMT < 21 kg/m2. Yang menjadi masalah dengan menggunakan IMT adalah bahwa tidak dapat dibedakannya dua orang dengan IMT yang sama tetapi komposisi tubuh yang berbeda. Pada seorang penderita PPOK bisa mengalami kehilangan massa otot yang bermakna namun memiliki cadangan lemak yang berlebih sebagai akibat dari kurangnya aktivitas fisik, sehingga menghasilkan IMT yang sama (Martua, 2010).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...