Penderita Tuberkulosis Paru

Top PDF Penderita Tuberkulosis Paru:

Analisis Kadar Interferon Gamma Pada Penderita Tuberkulosis Paru dan Bukan Penderita Tuberkulosis.

Analisis Kadar Interferon Gamma Pada Penderita Tuberkulosis Paru dan Bukan Penderita Tuberkulosis.

Sistem imun penderita tuberkulosis paru meliputi peranan sel Th1, terutama dalam menghadapi infeksi bakteri intraseluler. Salah satu sitokin yang diproduksi sel Th1 adalah IFN- γ yang berperan penting dalam mengeliminasi bakteri penyebab tuberkulosis paru yaitu Mycobacterium tuberculosis.

25 Baca lebih lajut

DISTRIBUSI TERSANGKA TUBERKULOSIS PARU PADA KELUARGA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU BTA POSITIF ARTIKEL ILMIAH Diajukan sebagai salah satu syarat Mencapai gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

DISTRIBUSI TERSANGKA TUBERKULOSIS PARU PADA KELUARGA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU BTA POSITIF ARTIKEL ILMIAH Diajukan sebagai salah satu syarat Mencapai gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang ditularkan melalui droplet pada saat penderita batuk, bersin, dan bercakap-cakap dalam jarak dekat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi tersangka tuberkulosis paru pada keluarga penderita tuberkulosis paru bta positif. Metode :Variabel bebas kepadatan hunian, intensitas kontak dan etika batuk penderita. Variabel terikatnya keberadaan tersangka tuberkulosis paru. Dalam penelitian ini menggunakan metode survai analitik pendekatan Cross-sectional ini melibatkan 58 anggota keluarga dari 19 penderita tuberkulosis paru bta positif yang sedang menjalani pengobatan masa intensif. Analisis data menggunaka uji Chi-Square. Hasil : Dari 58 responden ada 3orang yang menjadi tersangka tuberkulosis paru. Kepadatan hunian yang padat ada 27 responden, intensitas yang berisiko ada 8 responden dan etika batuk penderita yang kurang baik ada 54 responden. Pada analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara intensitas kontak dengan keberadaan tersangka tuberkulosis paru p=0,047(p<0,05) dan tidak ada hubungan antara kepadatan hunian p=0,547(p>0,05) dan etika batuk p=1,000(p>0,05) dengan keberadaan tersangka tuberkulosis paru. Simpulan : intensitas kontak berhubungan dengan keberadaan tersangka tuberkulosis.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

FAKTOR RISIKO TERJADINYA RELAPSE PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT (BBKPM) SURAKARTA  Faktor Risiko Terjadinya Relapse Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta.

FAKTOR RISIKO TERJADINYA RELAPSE PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT (BBKPM) SURAKARTA Faktor Risiko Terjadinya Relapse Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan kekuatan, ketabahan, dan kemudahan berfikir dalam menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul ” FAKTOR RISIKO TERJADINYA RELAPSE PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT (BBKPM) SURAKARTA. Penyusunan skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Strata 1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA GAMBARAN FOTO THORAX  PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU ANAK  HUBUNGAN ANTARA GAMBARAN FOTO THORAX PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU ANAK DENGAN UJI MANTOUX DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA.

HUBUNGAN ANTARA GAMBARAN FOTO THORAX PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU ANAK HUBUNGAN ANTARA GAMBARAN FOTO THORAX PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU ANAK DENGAN UJI MANTOUX DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA.

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi yang berjudul: HUBUNGAN ANTARA GAMBARAN FOTO THORAX PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU ANAK DENGAN UJI MANTOUX DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA.

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN EFIKASI DIRI PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU  Hubungan Pengetahuan Dengan Efikasi Diri Penderita Tuberkulosis Paru Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta.

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN EFIKASI DIRI PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU Hubungan Pengetahuan Dengan Efikasi Diri Penderita Tuberkulosis Paru Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta.

telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Dengan ridho dan rahmat-Nya, penulis telah menyelesaikan pembuatan skripsi dengan judul “ Hubungan antara pengetahuan dengan efikasi diri penderita Tuberkulosis Paru di BBKPM Surakarta ”. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Keperawatan S1 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

16 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tuberkulosis Paru - DISTRIBUSI TERSANGKA TUBERKULOSIS PARU PADA KELUARGA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU BTA POSITIF - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tuberkulosis Paru - DISTRIBUSI TERSANGKA TUBERKULOSIS PARU PADA KELUARGA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU BTA POSITIF - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Penderita Tuberkulosis paru ketika batuk dan membuang dahak yang tidak sesuai dengan etika yaitu menutup hidung atau mulut dengan menggunakan tissue/ sapu tangan atau lengan dalam baju, segera membuang tissue yang telah di gunakan ke dalam tempat sampah dan menggunakan masker. Apabila penderita tuberkulosis paru batuk tidak sesuai dengan etika batuk kuman akan menyebar di udara sehingga akan meningkatkan risiko terjadinya penularan Tuberkulosis paru. 7 Dari hasil penelitian yang dilakukan di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Semarang ada hubungan prilaku batuk dengan kejadian tuberkulosis paru (OR=3,927 (p=0,022) 41
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

GAMBARAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN STATUS GIZI PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA.

GAMBARAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN STATUS GIZI PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA.

Upaya untuk menurunkan prevalensi dan insidensi tuberkulosis paru yang masih sangat tinggi perlu dikurangi hambatan-hambatan dalam usaha menurunkan prevalensi dan insidensi penyakit tuberkulosis paru, salah satu hambatannya adalah pendidikan yang rendah. Tingkat pendidikan di Indonesia yang masih rendah dapat mempengaruhi tingkat kesembuhan, karena berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat anti tuberkulosis pada penderita Tuberkulosis Paru (Dian, 2004). Faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kecenderungan penyakit TBC adalah sosial ekonomi dan masalah yang berkaitan dengan kesehatan misalnya meningkatnya kasus AIDS dan infeksi HIV (Price, 1995).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Pengetahuan dengan Efikasi Diri Penderita Tuberkulosis Paru di Balai Kesehatan Paru   Hubungan Pengetahuan Dengan Efikasi Diri Penderita Tuberkulosis Paru Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta.

Hubungan Antara Pengetahuan dengan Efikasi Diri Penderita Tuberkulosis Paru di Balai Kesehatan Paru Hubungan Pengetahuan Dengan Efikasi Diri Penderita Tuberkulosis Paru Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta.

Berdasarkan hasil penelitian tabel 1 sebagian besar umur responden penelitian adalah <55 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian Helper (2010) bahwa penyakit TB paru paling sering ditemukan pada usia produktif yaitu usia 15-55 tahun. Demikian penelitian yang dilakukan oleh Rikha, Arie & Dwi (2012) di Semarang menunjukkan bahwa umur 15-55 tahun mempunyai resiko terkena TB Paru sebesar 0,667 kali lebih besar dibandingkan umur >55 tahun. Menurut pertiwi (2012) penderita TB paru banyak diusia produktif disebabkan pada usia produktif akan sangat mudah tertular penyakit TB paru karena usia tersebut banyak berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain atau lingkungan sekitar, sehingga dari mobilitas yang tinggi
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS RAWAT INAP PANJANG TAHUN 2015

HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS RAWAT INAP PANJANG TAHUN 2015

lainnya. Kuman yang bersarang di dalam paru akan membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau sarang (fokus) Ghon. Sarang ini bisa terdapat di seluruh bagian jaringan paru. Bila menjalar sampai ke pleura, maka terjadilah efusi pleura. Kuman dapat masuk melalui saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring, dan kulit, terjadi lomfodenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menajalar ke seluruh organ seperti paru, otak, ginjal, tulang. Bila masuk ke arteri pulmonalis maka terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier. Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (TB sekunder). Mayoritas reinfeksi mencapai 90%. Tuberkulosis sekunder terjadi karena imunitas menurun, diabetes, AIDS, malnutrisi, alkohol, penyakit maligna, gagal ginjal (Amin & Bahar, 2009).
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI FAKTOR RISIKO TERJADINYA RELAPSE PADA PENDERITA  Faktor Risiko Terjadinya Relapse Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta.

NASKAH PUBLIKASI FAKTOR RISIKO TERJADINYA RELAPSE PADA PENDERITA Faktor Risiko Terjadinya Relapse Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta.

Tuberkulosis paru relapse adalah penderita TB Paru yang dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap kemudian datang kembali berobat dengan hasil pemeriksaan dahak Basil Tahan Asam positif. Faktor yang dicari tingkat hubungan dalam penelitian ini adalah faktor risiko paparan ulang tuberkulosis, riwayat minum obat, status gizi, penyakit penyerta. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko terjadinya kambuh ( relapse ) pada penderita tuberkulosis paru di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta. Penelitian ini termasuk studi observasional yaitu mengamati dan menganalisis hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat melalui pengujian hipotesis yang dirumuskan. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 56 yaitu 28 responden kelompok kasus ( relapse ) sebanyak 28 responden kelompok kontrol (sembuh). Rancangan penelitian ini adalah case control study , yaitu suatu penelitian yang dimulai dengan seleksi individu, menjadi kelompok kasus dan kelompok kontrol yang penyebabnya sedang diselidiki. Uji dalam penelitian ini mengunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan paparan ulang penyakit tuberkulosis dengan TB paru relapse ( p-value : 0,019; OR: 2,22; CI: 1,638-3,002), ada hubungan riwayat meminum obat dengan TB paru relapse ( p-value : 0,010; OR:2,27; CI:1,662-3,107), ada hubungan status gizi dengan TB paru relapse ( p-value : 0,035; OR: 3,88; CI: 1,056-14,276), dan tidak ada hubungan antara penyakit penyerta seperti Diabetes Militus (DM) dan gagal ginjal dengan TB paru relapse ( p-value : 0,553; OR: 2,07; CI: 0,177-24,312).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PALEMBANG BARI PERIODE 2017-2018

RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PALEMBANG BARI PERIODE 2017-2018

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru Tuberkulosis termasuk penyakit infeksi pertama yang menyebabkan kematian. Kematian akibat TB dapat dicegah dengan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat. Pada tahun 2016 diperkirakan sekitar 10,4 juta penderita TB di dunia. Pada tahun 2014 Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah insiden kasus tuberkulosis terbesar setelah negara India. Sekitar 360.565 total kasus di Indonesia ditemukan di tahun 2016. Pemberian obat antituberkulosis harus diberikan secara tepat dan rasional, agar dapat mencegah terjadinya resistensi obat. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui rasionalitas penggunaan OAT pada penderita TB paru di RSUD Bari Palembang. Jenis penelitian ini merupakan observasional deskriptif. Populasi penelitian adalah pasien Tuberkulosis yang berobat di Rumah Sakit Bari Palembang periode Januari 2017-Juli 2018. Pengambilan sampel dengan cara concecutive sampling didapatkan 95 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian dilakukan dengan mengobservasi data rekam medik dan buku register pasien TB Paru di Poli DOTS. Hasil penelitian didapatkan Jumlah penderita TB Paru di Poli DOTS periode Januari 2017-Juli 2018 adalah sebanyak 190 pasien. Jenis obat yang digunakan adalah Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Dosis Tetap. Rasionalitas penggunaan OAT pada Poli DOTS yaitu sebesar 91,6%. Dengan mencakup tepat indikasi (94,7%), tepat dosis (100%), dan tepat lama pemberian (93,7%). Dan Respon pengobatan pada pasien TB Paru di Poli DOTS adalah sembuh (100%).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

METODE PENELITIAN  Gambaran Profil Penderita Tuberkulosis Paru Di Rsup Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.

METODE PENELITIAN Gambaran Profil Penderita Tuberkulosis Paru Di Rsup Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.

Lokasi penelitian ini di lakukan di Poliklinik DOTS RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Sampel penelitian yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi akan dijadikan responden penelitian dengan judul analisis faktor penyebab Tuberkulosis di Ruang Tunggu Poliklinik DOTS sebanyak 96 responden.

12 Baca lebih lajut

Kualitas Hidup Penderita Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Teladan Kota Medan

Kualitas Hidup Penderita Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Teladan Kota Medan

Juliandari, N. M., Kusnanto, Hidayati, L. (2014). Hubungan Antara Dukungan Sosial dan Coping Stres dengan Kualitas Hidup Pasien TB Paru di Puskesmas Perak Timur Surabaya Tahun 2014. Surabaya: Program Studi Pendidikan Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.

Baca lebih lajut

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITATUBERKULOSIS PARU DI POLI KLINIK PARURSUP. DR. M. DJAMIL PADANG.

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITATUBERKULOSIS PARU DI POLI KLINIK PARURSUP. DR. M. DJAMIL PADANG.

Pengobatan Tuberkulosis Paru diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif 2 bulan pengobatan dan tahap lanjutan 4 - 6 bulan berikutnya. Pengobatan yang teratur Tuberkulosis Paru dapat sembuh secara total, apabila klien itu sendiri mau patuh dengan aturan-aturan tentang pengobatan Tuberkulosis Paru. Sangatlah penting bagi penderita untuk tidak putus berobat dan jika penderita menghentikan pengobatan, kuman Tuberkulosis Paru akan mulai berkembang biak lagi yang berarti penderita mengulangi pengobatan intensif salama 2 bulan pertama. Pada fase ini terdapat banyak kuman Tuberkulosis Paru yang hidup dalam tubuh penderita dan mampu berkembang biak sangat cepat jika penderita Tuberkulosis Paru tersebut menghentikan pengobatannya. Untuk itu sangatlah penting penderita Tuberkulosis Paru patuh terhadap terapi pengobatan yang sedang dijalani (Crapton, J. 2002).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peran Keluarga Terhadap Pemutusan Rantai Penularan TB Paru di Kecamatan Kao Halmahera Utara T1 462008066 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peran Keluarga Terhadap Pemutusan Rantai Penularan TB Paru di Kecamatan Kao Halmahera Utara T1 462008066 BAB V

Diharapkan bagi keluarga penderita tuberkulosis paru, untuk selalu mencari informasi kepada tenaga kesehatan Desa tentang penyakit TB paru dan penatalaksanaan TB paru, sehingga mendapat pengetahuan baru terkait dengan penyakit TB, dan dapat melakukan perannya sebagai keluarga dalam membantu mencegah penularan TB paru penderita dan dapat berperan sebagai PMO dalam pengobatan penderita TB paru.

Baca lebih lajut

Perancangan Dan Implementasi Layanan Sms Reminder Dalam Kepatuhan Minum Obat Pasien Penyakit Tbc Di Puskesmas Terjun Kec. Marelan Medan 2015

Perancangan Dan Implementasi Layanan Sms Reminder Dalam Kepatuhan Minum Obat Pasien Penyakit Tbc Di Puskesmas Terjun Kec. Marelan Medan 2015

Dari gambaran di atas bisa dibayangkan ketidakpatuhan untuk minum obat bagi penderita tuberkulosis paru masih menjadi hambatan untuk mencapai angka kesembuhan yang tinggi. Ketidakpatuhan berobat akan mengakibatkan tingginya angka kegagalan pengobatan penderita tuberkulosis paru dan menyebabkan makin banyak ditemukan penderita tuberkulosis paru dengan BTA yang resisten dengan pengobatan standar. Hal ini akan mempersulit pemberantasan penyakit tuberkulosis paru di Indonesia serta memperberat beban pemerintah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Faktor Risiko Kepatuhan Pengobatan pada Penderita Tb Paru BTA Positif

Faktor Risiko Kepatuhan Pengobatan pada Penderita Tb Paru BTA Positif

Abstrak: Faktor Risiko Kepatuhan Pengobatan pada Penderita Tb Paru BTA Positif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan penderita tuberkulosis paru BTA positif di Puskesmas Cipondoh Tangerang Banten tahun 2015 – 2016. Penelitian ini dilakukan dengan desain “case control”. Populasinya adalah semua penderita tuberkulosis paru BTA positif yang mendapat pengobatan dan tercatat di formulir TB-01 Puskesmas Cipondoh Tangerang Banten yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yaitu 35 orang. Jumlah sampel pada penelitian ini 35 orang. Hasil penelitian diperoleh gambaran kepatuhan pengobatan penderita tuberkulosis paru BTA positif yaitu 80% yang patuh dalam pengobatan. Faktor predisposing sebesar 74,3% laki-laki; 82,9% tipe penderita baru; 82,9% lama pengobatan 6 bulan. Faktor enabling sebesar 37,1% jarak tempat tinggal ke puskesmas 1,26 km. Faktor reinforcing sebesar 80% yang tidak memiliki PMO. Dari analisis hubungan antara faktor predisposing dengan kepatuhan pengobatan tuberkulosis paru BTA positif tidak terdapat hubungan untuk variabel jenis kelamin, tipe penderita, lama pengobatan, dan jarak rumah ke Puskesmas. Sedangkan analisis hubungan antara faktor reinforcing dengan kepatuhan pengobatan tuberkulosis paru BTA positif didapat tidak ada hubungan untuk variabel status PMO.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PREVALENSI DIABETES MELLITUS TIPE 2 PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI KABUPATEN TEMANGGUNG JAWA TENGAH PREVALENCE OF DIABETES MELLITUS TYPE 2 IN PATIENTS WITH TUBERCULOSIS IN TEMANGGUNG DISTRICT CENTRAL JAVA Mohamad Anis Fahmi

PREVALENSI DIABETES MELLITUS TIPE 2 PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI KABUPATEN TEMANGGUNG JAWA TENGAH PREVALENCE OF DIABETES MELLITUS TYPE 2 IN PATIENTS WITH TUBERCULOSIS IN TEMANGGUNG DISTRICT CENTRAL JAVA Mohamad Anis Fahmi

Tingginya prevalensi DM pada penderita tuberkulosis di Kabupaten Temanggung perlu mendapatkan perhatian dalam pengobatan. Penatalaksanaan harus sesuai dengan kebutuhan penderita tuberkulosis dengan DM agar kemajuan pengobatan dapat berjalan dengan baik. Seperti halnya pada tuberkulosis dan HIV, metode yang sama harus diterapkan dalam pengobatan dan pencegahan tuberkulosis dengan DM. Hal ini penting untuk menjamin ketersediaan obat untuk kedua penyakit tersebut.

Baca lebih lajut

REFERAT TB PARU KASUS KAMBUH DENGAN KOMP

REFERAT TB PARU KASUS KAMBUH DENGAN KOMP

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini umumnya menyerang paru, namun dapat juga mengenai organ pencernaan, limpa, dan tulang. Sekitar 10% individu yang terkena infeksi Mycobacterium tuberculosis akan berkembang menjadi penyakit tuberkulosis. Tuberkulosis lebih sering terjadi pada laki-laki dan cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Individu dengan imunitas rendah seperti usia tua, diabetes, pengguna obat imunosupresif, dan dengan infeksi HIV/AIDS cenderung lebih mudah terkena tuberkulosis. 1
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

HUBUNGAN MOTIVASI DAN PENGETAHUAN TENTANG TUBERKULOSIS PARU DENGAN KETAATAN PERIKSA DAHAK PENDERITA SUSPECT TUBERKULOSIS PARU (Di Puskesmas Trenggalek Kabupaten Trenggalek).

HUBUNGAN MOTIVASI DAN PENGETAHUAN TENTANG TUBERKULOSIS PARU DENGAN KETAATAN PERIKSA DAHAK PENDERITA SUSPECT TUBERKULOSIS PARU (Di Puskesmas Trenggalek Kabupaten Trenggalek).

Rahayu Niningasih, S541202112, 2013 Hubungan Motivasi dan Pengetahuan Tentang TB Paru dengan Ketaatan Periksa Dahak Penderita Suspect TB Paru (di Wilayah Kerja Puskesmas Trenggalek). TESIS. Pembimbing I Prof Dr. dr. Ambar Mudigdo,SpPA (K), II Prof Dr. Samsi Haryanro,MPd. Program Studi Kedokteran Keluarga Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...