Pendidikan Ibu

Top PDF Pendidikan Ibu:

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN TINGKAT KECERDASAN INTELEKTUAL (INTELLIGENCE QUOTIENT – IQ) PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DITINJAU DARI STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN TINGKAT KECERDASAN INTELEKTUAL (INTELLIGENCE QUOTIENT – IQ) PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DITINJAU DARI STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU

Tingkat pendidikan dalam keluarga khususnya ibu dapat menjadi faktor yang mempengaruhi status gizi anak dalam keluarga. Semakin tinggi pendidikan orang tua maka pengetahuannya akan gizi akan lebih baik dari yang berpendidikan rendah. Salah satu penyebab gizi kurang pada anak adalah kurangnya perhatian orang tua akan gizi anak. Hal ini disebabkan karena pendidikan dan pengetahuan gizi ibu yang rendah. Pendidikan formal ibu akan mempengaruhi tingkat pengetahuan gizi, semakin tinggi pendidikan ibu, maka semakin tinggi kemampuan untuk menyerap pengetahuan praktis dan pendidikan formal terutama melalui masa media. Hal serupa juga dikatakan oleh Rooger cit. Berg (1986) yang menyatakan bahwa makin baik tingkat pendidikan ibu, maka baik pula keadaan gizi anaknya.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu D

Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu D

Pada study pendahuluan yang dilakukan di Desa Seketi, balita yang mengikuti Posyandu Sonosari sebanyak 24 dari 57 balita (42,1%) dengan prevalensi balita yang status gizi baik sebanyak 4 balita (16,7%), status gizi sedang berjumlah 12 (50%), status gizi kurang 3 (12,5%) dan status gizi buruk ada 3 balita (12,5%). Prevalensi pendidikan ibu balita yang berpendidikan rendah (tamat SD dan SMP) sebanyak 16 ibu (66,7%), pendidikan menengah (tamat SMA) 8 berjumlah 8 ibu (33,3%), sedangkan yang pendidikannya tinggi (tamat PT/akademik) tidak ada.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

DITINJAU DARI STATUS SOSIAL-EKONOMI ORANG TUA DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU

DITINJAU DARI STATUS SOSIAL-EKONOMI ORANG TUA DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU

Dari model regresi di atas, dapat disimpulkan bahwa dibandingkan siswa dengan status gizi normal, siswa dengan status gizi rendah mempunyai skor IQ lebih rendah sebesar 13 poin secara signifikan (koefisien regresi = – 13,299; p<0,001; IK 95% = – 20,084, – 6,514) setelah memperhitungkan pengaruh variabel tingkat pendidikan ibu. Dengan cara interpretasi yang sama, siswa dengan status gizi baik mempunyai skor IQ 10 poin lebih tinggi dibandingkan siswa dengan status gizi normal, namun secara statistik hal tersebut tidak signifikan karena mempunyai nilai p yang lebih besar dari 0,05 serta mempunyai interval kepercayaan yang melewati nol (koefisien = 10,965; p=0,105; IK 95% = – 2,368, 24,298). Interval kepercayaan yang melewati nol mengindikasikan bahwa terjadi inkonsistensi hubungan antara status gizi baik dengan skor IQ siswa, di satu sisi terdapat hubungan negatif (yaitu skor IQ lebih rendah sekitar 2 poin dibandingkan siswa dengan status gizi normal), namun terdapat pula hubungan positif hingga 24 poin lebih tinggi.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN IBU D

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN IBU D

Data primer didapatkan dengan pengumpulan langsung kepada masyarakat menggunakan kuesioner dengan metode wawancara dan hasil focus discussion group (FGD) terhadap sasaran yang ditentukan. Data sekunder didapatkan dari profil kecamatan Martapura Timur, Profil Desa Melayu Ilir, Puskesmas Martapura Timur, bidan desa dan KUA Martapura Timur. Data selanjutnya dianalisa dengan menggunakan uji univariat dan korelasi spearman. Analisa univariat digunakan untuk mendiskripsikan karakteristik responden berupa tingkat pendidikan dan status kelengkapan imunisasi dasar. Analisa bivariat di untuk mendapatkan informasi adanya hubungan antara variabel dengan menggunakan uji korelasi spearman. Variabel terikat dari penelitian ini adalah kelengkapan status imunisasi. Variabel bebas dari penelitian ini adalah tingkat pendidikan ibu.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu

Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu

Berdasarkan hasil uji spearmean rho didapatkan hubungan antara pendidikan ibu dengan perilaku Pencegahan Child Sexual Abuse pada Anak Usia 6-8 Tahun. Orang tua yang bekerja memang memiliki sedikit interaksi dengan anak- anaknya karena lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, namun bukan berarti orang tua tidak memberikan pengetahuan tentang kesehatan seksual pada anak usia 6-8 tahun. Pengetahuan tentang kesehatan seksual pada anak usia 6-8 tahun bisa diberikan orang tua pada saat keluarga sedang berkumpul bersama di rumah (Santi et all, 2014). Pekerjaan responden sebagian besar adalah swasta. Pekerjaan swasta selalu menjalankan aktifitas di luar rumah sehingga dapat melihat berbagai perilaku di masyarakat termasuk perilaku sexual abuse, dengan demikian dapat memilih mana perilaku yang baik
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu terhadap Status Gizi Anak Balita di RSUP.H.Adam Malik, Medan Tahun 2013

Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu terhadap Status Gizi Anak Balita di RSUP.H.Adam Malik, Medan Tahun 2013

Tidak berbeda dengan penelitian yang telah saya lakukan, didapati bahwa persentase status gizi anak balita yang baik dijumpai sangat tinggi pada kelompok yang berpendidikan sedang (SMP/SMA). Pada masa yang sama, kelompok reponden yang berpendidikan sedang juga menunjukkan angka status gizi anak balita yang kurang baik berbanding kelompok tingkat pendidikan responden yang lain. Ternyata dari analisis data uji statistik dengan Chi Square menunjukkan nilai p = 0.006 yaitu lebih kecil dari nilai alpha (0.05). Ini berarti Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahawa adanya pengaruh bermakna antara tingkat pendidikan ibu terhadap status gizi anak balita
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN IBU D

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN IBU D

Walaupun demikian didalam kenyataan keadaan pendidikan seorang ibu rumah tangga dapat merupakan suatu jaminan bahwa seorang anak dapat berhasil dalam pendidikannya atau dapat berprestasi maksimal disekolah. Oleh karena pada hakekatnya kemampuan dan kesanggupan anak itu sendiri merupakan factor yang sangat menentukan pula bagi sukses tidaknya pendidikan anak.Oleh karena itu faktor tingkat pendidikan ibu dapat merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar anak. Disamping faktor lainnya baik yang berasal dari anak maupun yang berasal dari luar diri anak.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TINGKAT PENDIDIKAN IBU, PERSEPSI JARAK RUMAH DAN MOTIVASI IBU SEBAGAI FAKTOR RESIKO KETIDAK AKTIFAN BALITA BAWAH GARIS MERAH (BGM) DI POSYANDU WILAYAH PUSKESMAS LOSARI KECAMATAN AMPELGADING KABUPATEN PEMALANG SKRIPSI - Repository Universitas Muhammadiyah

TINGKAT PENDIDIKAN IBU, PERSEPSI JARAK RUMAH DAN MOTIVASI IBU SEBAGAI FAKTOR RESIKO KETIDAK AKTIFAN BALITA BAWAH GARIS MERAH (BGM) DI POSYANDU WILAYAH PUSKESMAS LOSARI KECAMATAN AMPELGADING KABUPATEN PEMALANG SKRIPSI - Repository Universitas Muhammadiyah

Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah observasional dengan rancangan kasus kontrol yang meneliti masalah faktor resiko tingkat pendidikan ibu, persepsi jarak rumah, motivasi ibu sebagai factor resiko ketidak aktifan balita BGM (bawah garis merah) di posyandu Wilayah Puskesmas Losari Kecamatan Ampelgading. Penelitian dilakukan di Posyandu di Puskesmas Losari Kecamatan Ampelgading Pemalang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita BGM (bawah garis merah) yang tercatat di data Puskesmas Losari Kecamatan Ampelgading dan menetap selama 1 ( satu ) tahun di Posyandu sebanyak 65 balita BGM. Sampel dalam penelitian ini adalah kasus sebesar 30 balita BGM tidak aktif atau balita yang keaktifitasannya di posyandu kurang dari 8 kali dalam satu tahun dan 30 balita sebagai kontrol yaitu balita BGM yang aktif lebih dari 8 kali dalam satu tahun yang diambil secara random dari 35 balita. Aktif : bila kehadiran balita di posyandu lebih dari 8 kali dalam satu tahun terakhir.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Usia Anak dan Pendidikan Ibu sebagai Fak

Usia Anak dan Pendidikan Ibu sebagai Fak

Masalah perkembangan anak saat ini makin meningkat sehingga perlu deteksi dini untuk menurunkan gangguan perkembangan anak. Kuesioner Pra Skrining perkembangan (KPSP) merupakan skrining perkembangan yang mudah dilakukan oleh tenaga kesehatan, bahkan oleh guru sekolah atau orangtua anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran perkembangan balita di daerah perkotaan di Kotamadya Malang dan faktor yang mempengaruhinya dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-Desember 2010 di Kecamatan Klojen, Kotamadya Malang. Subyek penelitian adalah semua anak di Taman Kanak-Kanak dan PAUD di wilayah kerja Puskesmas Arjuno Kecamatan Klojen Kotamadya Malang. Didapatkan 2,1% angka kejadian suspek keterlambatan perkembangan pada balita yang tinggal di Kecamatan Klojen, Kotamadya Malang. Faktor yang berperan dalam tumbuh kembang anak adalah umur anak dan pendidikan ibu.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Perilaku Investasi Pada Anak dan Capaian Perkembangan Anak Usia 2-5 Tahun

Perilaku Investasi Pada Anak dan Capaian Perkembangan Anak Usia 2-5 Tahun

Hasil penelitian didapatkan bahwa lama pendidikan ibu dan usia ibu tidak berpengaruh terhadap perilaku investasi ibu. Hasil ini bertolak belakang dengan penelitian Rosidah (2012) bahwa pendidikan ibu berpengaruh terhadap perilaku investasi anak. Istri dengan pendidikan lebih baik akan memiliki pengetahuan yang lebih baik, sehingga perilaku investasi yang dilakukan semakin tinggi. Roswita (2005) mengemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka diasumsikan kemampuannya akan semakin baik dalam mengakses dan menyerap informasi serta menerima suatu inovasi. Selain itu temuan Amelia (2001) juga menerangkan bahwa pendidikan formal yang tinggi pada ibu membuat pola pengasuhan akan bertambah baik. Menurut penelitian Schultz (1981), faktor yang paling menentukan dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin bukanlah ruang, energy, dan tanah untuk pertanian, melainkan peningkatan kualitas manusia. Investasi dalam modal manusia merupakan salah satu cara untuk keluarga meningkatkan produktivitas marginal seorang anak (Taubman 1996).
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN - PENGARUH PEMBERIAN JUS KURMA TERHADAP KELANCARAN PROSES PERSALINAN KALA I DI BPM Ny. UMI SALAMAH, Amd. Keb DESA KAUMAN KECAMATAN PETERONGAN KABUPATEN JOMBANG - Unipdu Jombang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN - PENGARUH PEMBERIAN JUS KURMA TERHADAP KELANCARAN PROSES PERSALINAN KALA I DI BPM Ny. UMI SALAMAH, Amd. Keb DESA KAUMAN KECAMATAN PETERONGAN KABUPATEN JOMBANG - Unipdu Jombang

Pada bab ini akan disajikan mengenai hasil pengumpulan data yang diperoleh dari data primer dengan menggunakan lembar observasi, sesuai rumusan masalah dan tujuan yang telah ditentukan, populasi pada penelitian ini adalah ibu inpartu kala I di BPM Ny. Umi Salamah Desa Kauman Kec. Peterongan Kab. Jombang sebesar 10 responden dengan berbagai paritas. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 10 responden ibu inpartu yang terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang diberikan perlakuan dengan memberikan jus kurma dan kelompok yang tidak diberikan perlakuan dengan memberikan jus kurma. Dengan teknik consecutive sampling penyajian meliputi data umum dan data khusus. Penyajian dimulai dari data umum tentang karakteristik ibu inpartu yang meliputi umur ibu inpartu, pendidikan ibu inpartu, pekerjaan ibu inpartu, dan jumlah kehamilan ibu inpartu, sedangkan data khusus meliputi pemberian jus kurma dan kelancaran dalam proses persalinan kala I.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

this PDF file Kehamilan remaja dan kejadian stunting anak usia 6 – 23 bulan di Lombok Barat | Irwansyah | Berita Kedokteran Masyarakat 1 PB

this PDF file Kehamilan remaja dan kejadian stunting anak usia 6 – 23 bulan di Lombok Barat | Irwansyah | Berita Kedokteran Masyarakat 1 PB

Berdasarkan hasil analisis diatas, model 5 dipilih               sebagai model yang baik untuk menjelaskan hubungan               kehamilan pada usia remaja dengan kejadian stunting               dengan mempertimbangkan semua variabel yang           bermakna terhadap kejadian stunting yang sesuai             dengan nilai kcoefisien determinan (R2) terbesar dan               nilai deviansi terkecil. model 5 menunjukkan bahwa               kehamilan pada usia remaja tetap mempunyai             hubungan yang bermakna terhadap kejadian stunting             pada anak usia di bawah dua tahun dengan mem-                   pertimbangkan variabel pendidikan ibu, berat badan             lahir bayi, serta tinggi badan ibu. Dapat diartikan                 bahwa kehamilan pada usia remaja kemungkinan 2,9               kali lebih banyak dijumpai pada anak stunting               dibandingkan dengan anak yang tidak stunting (95%               CI; 1,05-8,26) Didapatkan nilai R2 sebesar 0,31 yang                 dapat disimpulkan bahwa kehamilan pada usia remaja               dengan mengontrol variabel pendidikan ibu, berat             badan lahir dan tinggi badan ibu memiliki kontribusi                 sebesar 31% terhadap kejadian stunting. 
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

The Difference of Independency Level between Preschool Aged Children Who Undergo Full Day Program and Half Day Program at School

The Difference of Independency Level between Preschool Aged Children Who Undergo Full Day Program and Half Day Program at School

itu, tingkat pendidikan ibu tidak berhubungan dengan tingkat kemandirian anak. Hal tersebut kemungkinan disebabkan ibu lebih menekankan pendidikan di bidang akademik dibandingkan perkembangan anak dan ibu mempercayakan pendidikan anaknya di sekolah sehingga jarang memberikan stimulasi kepada anaknya. 10 Pengetahuan atau tingkat pendidikan ibu

5 Baca lebih lajut

JURNAL KESEHATAN DAN KEBIDANAN JOURNAL O (1)

JURNAL KESEHATAN DAN KEBIDANAN JOURNAL O (1)

Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain yaitu umur yang menunjukan banyak ibu yang banyak yang berusia reproduktif, pendidikan ibu yang banyak perpendidikan sedang (SMA), pekerjaan ibu yang banyak bekerja sebagai karyawan swasta (buruh pabrik) yang memungkinkan ibu mendapatkan informasi tentang Pil Oral Kombinasi walaupun ada sebagian besar ibu belum pernah mendapatkan informasi tentang Pil oral Kombuinasi. Hal ini mungkin disebabkan karena beberapa hal : a. Ada 12 responden yang baru
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian ASI Eksklusif di BPM Maimunah Palembang

Pengaruh Pemberian ASI Eksklusif di BPM Maimunah Palembang

Cakupan pemberian ASI Eksklusif untuk Kota Palembang tahun 2013 sebesar 71,13%. Cakupan ini masih jauh di bawah target pencapaian pemberian ASI Eksklusif Indonesia yaitu 80% (Dinkes Kota Palembang, 2013). Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif diantaranya adalah pekerjaan ibu, umur ibu, pendidikan ibu, dan paritas, alasan ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif adalah ASI yang tidak cukup, ibu bekerja, bayi yang tidak diberi ASI tetap berhasil menjadi orang, dan susu formula lebih praktis dibandingkan dengan ASI (Roesli, 2007).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA UMUR KEHAMILAN, KEHAMILAN GANDA, HIPERTENSI DAN ANEMIA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

HUBUNGAN ANTARA UMUR KEHAMILAN, KEHAMILAN GANDA, HIPERTENSI DAN ANEMIA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

Pendidikan ibu memang telah lama dianggap sebagai salah satu faktor kunci yang berperan terhadap derajat kesehatan bayi. Pendidikan yang dimiliki oleh seorang ibu akan mempengaruhi pengetahuan dalam pengambilan keputusan dan secara tidak langsung akan berpengaruh pada perilakunya termasuk dalam halmemenuhi kebutuhan gizi melalui pola makan serta memahami untuk melakukan antenatal care atau kunjungan pemeriksaan selama kehamilan. Secara umum, wanita yang berpendidikan rendah kurang untuk berperilaku sehat terhadap dirinya sendiri dan mereka memiliki risiko buruk pada kehamilan. Ibu dengan tingkat pendidikan yang relatif tinggi (lebih dari SMA) memiliki probabilitas yang rendah untuk melahirkan BBLR dibanding ibu dengan tingkat pendidikan rendah (Festy, 2010).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Octa Dwienda Ristica Program Studi Kebidanan STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Octa Dwienda Ristica Program Studi Kebidanan STIKes Hang Tuah Pekanbaru

). Populasi adalah seluruh ibu hamil di wilayah kerja puskesmas Tenayan Raya tahun 2012 sebesar 771 ibu hamil, dengan sampel 212 orang ibu hamil. Cara pengambilan data yaitu dengan wawancara. Analisis data dilakukan dengan regresi logistic ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil yaitu: Paritas (CI95%:OR=1,6606,16), Kecukupan konsumsi zat besi (CI95%:OR=1,5905,80), Status KEK (CI95%:OR=1,4402,50), Pendidikan ibu (CI95%:OR=1,2404,50). Variabel yang tidak berhubungan adalah umur ibu, pendapatan keluarga, pekerjaan dan pengetahuan. Berdasarkan analisis multivariate variable independen yang memiliki hubungan sebab akibat dengan kejadian anemia pada ibu hamil adalah paritas (jumlah anak), kecukupan konsumsi zat besi, status KEK, dan pendidikan ibu. Variabel yang tidak berhubungan signifikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil adalah umur ibu, pendapatan keluarga, pekerjaan dan pengetahuan. Di sarankan pada ibu hamil agar dapat membatasi jumlah anak jangan lebih dari 3orang merencanakan kehamilan dengan baik, mengkonsumsi tablet zat besi sebanyak 30 butir/bulan selama 3 bulan berturut0turut dan menjaga kebutuhan nutrisi selama hamil. Untuk peneliti selanjutnya perlu melakukan penelitian lebih lanjut pada responden, tempat dan waktu yang berbeda dan sebaiknya dengan menggunakan data kontiniu.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Bab 1 imunisasi done

Bab 1 imunisasi done

2. Diketahuinya sebaran responden menurut usia ibu, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, jumlah anak, tingkat pendapatan keluarga, keteraturan kunjungan ke Posyandu, tingkat pengetahuan ibu, sikap ibu dan perilaku ibu mengenai cakupan imunisasi Hepatitis B pada bayi di Kelurahan Kedoya Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

3 Baca lebih lajut

Hubungan Karakteristik Ibu dan Sanitasi Dasar dengan Kejadiaan Diare di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Kota Medan Tahun 2012”.

Hubungan Karakteristik Ibu dan Sanitasi Dasar dengan Kejadiaan Diare di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Kota Medan Tahun 2012”.

Penelitiaan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik ibu (umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengetahuaan ibu, dan sikap ibu) dan sanitasi dasar dengan kejadiaan diare di Keluahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Kota Medan Tahun 2012.

12 Baca lebih lajut

ANALISIS FAKTOR- FAKTOR POSITIVE DEVIANCE STATUS GIZI ANAK TK PADA KELUARGA MISKIN DI KELURAHAN HELVETIA TIMUR KECAMATAN MEDAN HELVETIA.

ANALISIS FAKTOR- FAKTOR POSITIVE DEVIANCE STATUS GIZI ANAK TK PADA KELUARGA MISKIN DI KELURAHAN HELVETIA TIMUR KECAMATAN MEDAN HELVETIA.

1. Karakteristik keluarga dilihat dari usia ibu rataan 31,25 + 2,396, usia ayah rataan 36,31+1,061. Pendidikan ibu kategori SLTP/SLTA(7-12 tahun) dengan rataan 10,50 + 1,704, pendidikan ayah SLTP/SLTA (7-12 tahun) dengan rataan 7,59 + 2,007. Jenis pekerjaan ayah bervariasi yaitu sebagai tukang becak, buruh bangunan, supir angkot, pengumpul barang bekas. Pekerjaan ibu juga bervariasi ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga, penjual gorengan, penjual pecal. Jumlah anggota keluarga termaksud dalam kategori sedang (5-6 orang) dengan rataan 5,50 + 1,078. Pendapatan keluarga perbulan rataan Rp 955.625 + 137.064.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...