Penggunaan Antibiotik

Top PDF Penggunaan Antibiotik:

Evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien pediatrik diare dengan metode Gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD Kota Yogyakarta tahun 2016-2017 - USD Repository

Evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien pediatrik diare dengan metode Gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD Kota Yogyakarta tahun 2016-2017 - USD Repository

Pada kasus 22, pasien menerima antibiotik cefadroxil pada hari pertama saja kemudian dilanjutkan dengan cefixime selama rawat inap karena setelah menggunakan cefadroxil tidak ada perubahan klinis yang dialami oleh pasien. Namun yang diambil contoh kategori IV A (terdapat alternatif antibiotik yang lebih efektif) adalah cefadroxil. Pasien terdiagnosis gastroenteritis akut sehingga perlu diberikan terapi dengan antibiotik. Tidak didapatkan literatur yang menyatakan bahwa cefadroxil merupakan salah satu pilihan obat untuk gastroenteritis akut sehingga adanya antibiotik yang lebih efektif yaitu cefixime karena merupakan salah satu pilihan obat untuk gastroenteritis akut (Ikatan Dokter Indonesia, 2015). Pemilihan cefixime juga mengandalkan penilaian klinis pihak rumah sakit melalui wawancara dengan Apoteker karena tingkat keberhasilan terapi lebih tercapai dan merupakan salah satu pilihan antibiotik di RSUD Kota Yogyakarta untuk pasien dengan gastroenteritis akut. Berdasarkan evaluasi diatas, terdapat antibiotik lain yang lebih efektif yaitu cefixime sehingga cefadroxil masuk dalam kategori ini. 12. Penggunaan antibiotik tidak diindikasikan (kategori V)
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS I GAMPING

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS I GAMPING

Penyakit infeksi termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak yang menyerang manusia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri dapat disembuhkan dengan antibiotik. Antibiotik merupakan golongan obat keras yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Sebagian besar masyarakat menggunakan antibiotik untuk mengatasi masalah infeksi akibat virus dan masih banyak masyarakat yang membeli antibiotik tanpa resep dokter. Hal tersebut dapat menyebabkan bakteri resisten terhadap antibiotik. Data penggunaan antibiotik di DIY yang tidak rasional untuk menangani diare atau penyakit infeksi lainnya sebanyak 58%. Jika pemberian antibiotik yang tidak tepat pada balita akan menimbulkan bakteri resisten terhadap antibiotik karena balita masih rentan terhadap berbagai serangan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sehingga perlu diketahui bagaimana persepsi orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada balita agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada balita.
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

PENDAHULUAN Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahmadina tahun 2009 di RSUP Padang, hasil menunjukkan pasien apendisitis mencapai jumlah 297 pasien, penggunaan antibiotik profilaksis terbukti dapat menurunkan resiko terjadinya infeksi luka operasi dengan didukungnya oleh perawatan dan lingkungan rawatan yang bersih. Penelitian lain berdasarkan register pusat cochraine controlled trials (cochraine library edisi 1 tahun 2005), dari 45 kasus apendiktomi, sekitar 9576 pasien yang dilibatkan dalam penelitian menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik profilaksis terbukti dapat mencegah infeksi dan abses intraabdominal luka operasi pada pasien apendiktomi (Andersen et al., 2005).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Kualitatif Penggunaan Antibiotik Berdasarkan Kriteria Yssens Pada Penderita Demam Tifoid Rawat Inap Di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2012.

PENDAHULUAN Analisis Kualitatif Penggunaan Antibiotik Berdasarkan Kriteria Yssens Pada Penderita Demam Tifoid Rawat Inap Di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2012.

Kualitas penggunaan antibiotik dapat dinilai dengan melihat catatan medik. Beberapa hal yang harus dinilai antara lain ada tidaknya indikasi, dosis, lama pemberian, pilihan jenis, cara pemberian dan sebagainya. Penilaian dilakukan dengan menggunakan alur penilaian dan klasifikasi atau kategori hasil penilaian yang digunakan oleh Gyssen dkk. Adapun kategori hasil penilaian adalah sebagai berikut:

8 Baca lebih lajut

Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada pdf

Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada pdf

Tepat indikasi dikatakan apabila keputusan untuk memberikan resep secara keseluruhan didasarkan oleh alasan medis dan farmakoterapi sebagai alternatif pengobatan yang terbaik. Keputusan ini tidak boleh dipengaruhi oleh alasan nonmedis seperti permintaan pasien, atau menolong rekan kerja. Penggunaan antibiotik pada pasien harus didasarkan pada diagnosa, anamnesa spesifik, dan pemeriksaan fisik yang sederhana, karena jika penyebab infeksi diketahui maka akan lebih mudah dalam proses penanganannya. Tidak semua penyakit ISPA mendapatkan terapi antibiotik, ISPA yang non spesifik tidak disarankan diberi antibiotik (Anonim, 2005).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2009.

ANALISIS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2009.

Penggunaan antibiotik secara rasional semata-mata atas dasar pengetahuan tentang sifat kimia antibiotik tersebut, mekanisme kerjanya, spektrum aktivitasnya, maupun daya kerjanya tidak memadai. Strategi terapi dengan antibiotik ditentukan oleh karakteristik fenomena infeksi, lokasi infeksi, pengenalan penyebab infeksi, kondisi fisiopatologi penderita, serta pengetahuan yang menyeluruh tentang antibiotik yang tersedia dalam arsenal terapi. Faktor yang perlu diperhatikan untuk menunjang tercapainya sasaran penggunaan antibiotik yaitu aktivitas antimikroba, efektivitas dan efisiensi proses farmakokinetik, toksisitas antibiotik, reaksi karena modifikasi flora alamiah tuan rumah, penggunaan kombinasi antibiotik, dan pola penanganan infeksi (Wattimena, 1991).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Antibiotik dengan Kartu Monitoring Antibiotik Gyssens

Evaluasi Penggunaan Antibiotik dengan Kartu Monitoring Antibiotik Gyssens

Penggunaan antibiotik terbanyak pada kelompok umur 1 bulan sampai 1 tahun. Kasus bedah yang diduga disertai dengan infeksi bakteri terdapat pada 19 dari 45 pasien (42,2% pasien) yang mendapat antibiotik. Pasien yang datang ke PICU sebagian besar mempunyai lebih dari satu diagnosis karena sudah mengalami komplikasi. Dari 45 pasien yang menggunakan antibiotik didapatkan 63 diagnosis dan yang terbanyak adalah sepsis (40%), diikuti dengan kasus bedah saluran cerna (19%), gangguan susunan saraf pusat (17,2%), pneumonia (12,7%) dan gangguan ginjal (11,1%). Dari 45 pasien dengan 63 diagnosis didapatkan pemakaian antibiotik sebanyak 83 penggunaan antibiotik. Terdapat 8 pasien mendapatkan kombinasi 2 antibiotik secara bersamaan dan 2 pasien yang mendapatkan kombinasi 3 antibiotik pada saat bersamaan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

Berdasarkan data rekam medik di unit rekam medis RSUD”X”, tampak bahwa apendisitis yang dilakukan tindak pembedahan merupakan kasus yang cukup tinggi frekuensinya pada periode 2010 yaitu sekitar 130 pasien namun penggunaan antibiotik profilaksis masih jarang dilakukan, sehingga meningkatkan lama perawatan di rumah sakit dan meningkatnya biaya perawatan dari data tersebut terlihat sekitar 15 pasien mengalami infeksi luka operasi dilihat dari terdapatnya abses pada luka operasi setelah pasien tersebut menjalani perawatan di rumah.

17 Baca lebih lajut

Kajian Penggunaan Antibiotik pada Pasien Sepsis dengan Gangguan Ginjal

Kajian Penggunaan Antibiotik pada Pasien Sepsis dengan Gangguan Ginjal

ABSTRAK: Telah dilakukan kajian observasional secara prospektif terhadap penggunaan antibiotik meliputi aspek farmakokinetika klinik dan kualitas antibiotik secara kualitatif pada pasien sepsis dengan gangguan ginjal di Rawat Inap Penyakit Dalam Rumah Sakit X. Pasien sepsis dengan gangguan ginjal ini diterapi dengan antibiotik selama 4 bulan. Antibiotik yang dievaluasi adalah yang ekskresi utamanya di ginjal meliputi jenis antibiotik, dosis, frekwensi, lama penggunaan, dan interaksi yang bermakna klinis. Evaluasi antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens. Total pasien berjumlah 40 orang, diterapi dengan 8 jenis antibiotik dan diantaranya ada 5 antibiotik diekskresi utama melalui ginjal. Dari 5 jenis tersebut, ditemukan penyesuaian dosis dengan tepat pada (n=29;74,3%) dan penyesuaian dosis yang tidak tepat (n=10;25,7%) yang melebihi dosis individual yang dihitung secara farmakokinetik. Terdapat 5 jenis interaksi yang bermakna secara klinik. Evaluasi pemakaian antibiotik secara kualitatif dengan metode Gyssens, diperoleh kategori pasien tidak lengkap/VI (N=4; 10%), kategori tidak efektif/IVa (n=2; 5%), kategori tidak aman/IVb (n=1; 2,5%), kategori spektrum tidak sempit/ IVd (n=1; 2,5%), kategori dosis tidak tepat/IIa (n=9; 22,5%), dan kategori bijak/tepat/0 (n=23; 57,5%). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara umum penggunaan antibiotik yang diekskresikan sebagian besar melalui ginjal tidak memperlihatkan dampak yang buruk pada fungsi ginjal pasien.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tinjauan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penggunaan Antibiotik pada Mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PENDAHULUAN Tinjauan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penggunaan Antibiotik pada Mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

penggunaan antibiotik yang tepat serta mencegah berkembangnya resistensi antibiotik (Sun et al., 2011). Peran apoteker sangatlah penting dalam pelayanan informasi obat melalui konseling dan monitoring penggunaannya. Memerlukan proses dan waktu yang panjang sehingga panggunaan antibiotik tidak dapat diawasi secara langsung, sehingga memungkinkan untuk penggunaan yang kurang tepat (Depkes, 2008).

7 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi Saluran Kemih di RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta Tahun 2014.

PENDAHULUAN Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi Saluran Kemih di RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta Tahun 2014.

Berdasarkan prevalensi infeksi saluran kemih yang cukup tinggi, maka pengobatan infeksi saluran kemih perlu dievaluasi ketepatannya. Akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan toksisitas dan resistensi, apabila penderita infeksi saluran kemih tidak diterapi dengan tepat dapat menyebabkan penyakit gagal ginjal (Dipiro, 2008). RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta dipilih karena angka kejadian infeksi saluran kemih tahun 2014 yang cukup tinggi yaitu 93 kasus. Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada infeksi saluran kemih dilakukan dengan menganalisis apakah pemberian antibiotik pada penderita infeksi saluran kemih sudah sesuai dengan parameter tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, dan tepat dosis.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Evaluasi Klinik Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi di Hospital Universiti Sains Malaysia Kelantan.

Evaluasi Klinik Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi di Hospital Universiti Sains Malaysia Kelantan.

Terapi utama untuk infeksi adalah antibiotik. Hal ini dibuktikan, pada negara maju semua pasien infeksi yang dirawat di rumah mendapatkan antibiotik baik secara tunggal maupun kombinasi sedangkan di negara berkembang berkisar antara 30-80% (Duerink et.al, 2009). Berdasarkan hasil penelitian Thawani et.al (2006) dilaporkan bahwa lebih dari 25% anggaran rumah sakit dikeluarkan untuk biaya penggunaan antibiotik (Thawani, Kunda, Paranjpe, 2006; Dipiro, Barbara, Terry, Cindy 2009).

24 Baca lebih lajut

Pola Sensitifitas Bakteri dan Penggunaan Antibiotik

Pola Sensitifitas Bakteri dan Penggunaan Antibiotik

Pengidentifikasian bakteri patogen penyebab infeksi perlu dilakukan, kultur diikuti dengan uji kepekaan (sensitifitas) terhadap antibiotik. Waktu yang diperlukan untuk melakukan kultur dari bakteri tumbuh sampai uji sensitifitas, umumnya membutuhkan waktu 3 sampai 7 hari. Hal tersebut menyulitkan pemberian terapi definitif, terutama pada pasien yang mengalami infeksi berat yang harus mendapatkan antibiotik secepatnya. Apabila dari hasil uji sensitifitas ternyata pilihan antibiotik semula tadi tepat, serta gejala klinik jelas membaik maka terapi penggunaan antibiotik tersebut dapat diteruskan. Namun, jika hasil uji sensitifitas menunjukkan ada antibiotik lain yang lebih efektif, sedangkan dengan antibiotik semula gejala klinik penyakit tersebut menunjukkan perbaikan maka antibiotik semula tersebut sebaiknya diteruskan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (Sectio caesarea) DI INSTALASI BEDAH RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2010.

PENDAHULUAN EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (Sectio caesarea) DI INSTALASI BEDAH RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2010.

Bahaya bedah Sectio caesarea salah satunya adalah infeksi pasca operasi. Untuk dapat mencegah terjadinya infeksi, penggunaan antibiotik merupakan salah satu cara pengobatan yang dipilih. Dalam memilih dan menggunakan antibiotik untuk kepentingan profilaksis, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, salah satunya memperhitungkan jenis kuman yang paling besar kemungkinan menimbulkan infeksi pada kasus bedah caesar, sehingga

13 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

Apendisitis merupakan penyebab paling umum sakit perut akut yang memerlukan intervensi bedah. Penyebab apendisitis tidak jelas dan mekanisme patogenesis terus diperdebatkan, dikarenakan apendisitis merupakan salah satu masalah kesehatan yang terjadi pada masyarakat secara umum, yang tatalaksananya dengan cara apendiktomi sehingga penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah apendisitis memerlukan perhatian khusus, karena masih tingginya kemungkinan timbul infeksi paska bedah yaitu 5-15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengevalusi penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah apendisitis di RSUD Pekanbaru tahun 2010.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Universiti Sains Malaysia Kampus Kejuruteraan,  ibong Tebal, Pulau Pinang Tentang Penggunaan Antibiotik Pada Tahun 2011

Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Universiti Sains Malaysia Kampus Kejuruteraan, ibong Tebal, Pulau Pinang Tentang Penggunaan Antibiotik Pada Tahun 2011

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap mahasiswa Universiti Sains Malaysia Kampus Kejuruteraan Nibong Tebal Pulau Pinang tentang penggunaan antibiotik. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian deskriptif, Pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah Cross Sectional Study dan pengambilan sampel dengan menggunakan teknik accidental sampling. Dalam penelitian ini, kuesioner tentang penggunaan antibiotik telah diberikan kepada 100 orang mahasiswa yang sedang aktif mengikuti program ijazah daripada enam fakulti dari Kampus Kejuruteraan dan semuanya mengembalikan kuesioner yang telah siap dijawab.
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Terdiagnosa Infeksi Saluran Pernapasan Atas Akut (ISPAA) Di Puskesmas Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora Tahun 2013.

PENDAHULUAN Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Terdiagnosa Infeksi Saluran Pernapasan Atas Akut (ISPAA) Di Puskesmas Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora Tahun 2013.

Penelitian yang dilakukan di Puskesmas Purwareja I Klampok Banjarnegara oleh Hapsari dan Astuti pada tahun 2007, menunjukan bahwa penggunaan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah kotrimoksazol (86,7%), sedangkan amoksisilin lebih sedikit (13,3%). Kotrimoksazol lebih banyak digunakan kerena merupakan antibiotik pilihan pertama yang diberikan untuk penderita ISPA, sedangkan amoksisilin merupakan antibiotik pilihan kedua yang diberikan apabila kotrimoksazol tidak ada atau habis(Hapsari & Astuti, 2007).

9 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kajian Penggunaan Antibiotik pada Terapi Empiris dengan Hasil Terapi Di Ruang Icu RSUD "X" Periode 2015 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PENDAHULUAN Kajian Penggunaan Antibiotik pada Terapi Empiris dengan Hasil Terapi Di Ruang Icu RSUD "X" Periode 2015 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Di daerah tropis seperti Indonesia banyak dijumpai penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman, maka untuk menanggulanginya diperlukan antibiotik. Penggunaan antibiotik sebagian besar digunakan di rumah sakit, maka diperlukan manajemen yang dapat mengontrol infeksi, pengawasan kuman yang resisten, mengawasi penggunaan antibiotik di rumah sakit, membuat suatu kesinambungan untuk pemakaian antibiotik dan profilaksis, serta memonitor penggunaan antibiotik sehingga dapat meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional. Pola kepekaan dapat digunakan sebagai tata laksana yang efektif dari penggunaan antibiotika di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD Dr. Moewardi dan sebagai terapi awal antibiotik di ruang ICU. Penelitian terhadap kepekaan bakteri di ruang ICU sangat dibutuhkan sehingga pengontrolan dan pengawasan terhadap antibiotika dapat dilaksanakan (Refdanita et al ., 2015).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT R.A KARTINI JEPARA TAHUN 2009.

GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT R.A KARTINI JEPARA TAHUN 2009.

Pemberian dosis obat yang melebihi dosis terapeutik kemungkinan dapat menyebabkan keracunan dan dinyatakan sebagai dosis toksik. Dosis toksik ini dapat sampai mengakibatkan kematian, disebut sebagai dosis letal dan hal ini sangat membahayakan bagi pasien. Apabila pemberian obat dosisnya kurang maka dapat berakibat tidak tercapainya efek terapeutik obat yang diinginkan dan terjadi kegagalan terapi (Joenoes, 2006). Pada penggunaan antibiotik, bila pemberian berlebihan dan tidak tepat dapat menyebabkan masalah kekebalan antimikrobial dan meningkatkan biaya pengobatan serta efek samping dari antibiotik (Juwono dan Prayitno, 2003).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFTRIAXONE PADA PASIEN PNEUMONIA DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP SUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2014 - 2015.

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFTRIAXONE PADA PASIEN PNEUMONIA DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP SUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2014 - 2015.

Ceftriaxone adalah antibiotik spektrum luas generasi ketiga sefalosporin untuk pemberian intravena atau intramuskular. Ceftriaxone adalah salah satu antibiotik yang paling umum digunakan karena potensi antibakteri yang tinggi, spektrum yang luas dari aktivitas dan potensi yang rendah untuk toksisitas. Alasan yang paling mungkin untuk digunakan secara luas adalah efektivitas dalam organisme yang rentan pada infeksi saluran kemih yang rumit dan tidak rumit, infeksi saluran pernapasan, kulit, jaringan lunak, infeksi tulang dan sendi, bakteremia/septikemia, pneumonia, meningitis, infeksi di pasien imunosupresi, akut bakteri otitis media, infeksi genital, disebarluaskan penyakit dan di profilaksis bedah infeksi (Tjay dan Rahardja, 2007).
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects