Penggunaan Antibiotik

Top PDF Penggunaan Antibiotik:

Evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien pediatrik diare dengan metode Gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD Kota Yogyakarta tahun 2016-2017 - USD Repository

Evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien pediatrik diare dengan metode Gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD Kota Yogyakarta tahun 2016-2017 - USD Repository

Pada kasus 22, pasien menerima antibiotik cefadroxil pada hari pertama saja kemudian dilanjutkan dengan cefixime selama rawat inap karena setelah menggunakan cefadroxil tidak ada perubahan klinis yang dialami oleh pasien. Namun yang diambil contoh kategori IV A (terdapat alternatif antibiotik yang lebih efektif) adalah cefadroxil. Pasien terdiagnosis gastroenteritis akut sehingga perlu diberikan terapi dengan antibiotik. Tidak didapatkan literatur yang menyatakan bahwa cefadroxil merupakan salah satu pilihan obat untuk gastroenteritis akut sehingga adanya antibiotik yang lebih efektif yaitu cefixime karena merupakan salah satu pilihan obat untuk gastroenteritis akut (Ikatan Dokter Indonesia, 2015). Pemilihan cefixime juga mengandalkan penilaian klinis pihak rumah sakit melalui wawancara dengan Apoteker karena tingkat keberhasilan terapi lebih tercapai dan merupakan salah satu pilihan antibiotik di RSUD Kota Yogyakarta untuk pasien dengan gastroenteritis akut. Berdasarkan evaluasi diatas, terdapat antibiotik lain yang lebih efektif yaitu cefixime sehingga cefadroxil masuk dalam kategori ini. 12. Penggunaan antibiotik tidak diindikasikan (kategori V)
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada pdf

Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada pdf

Pemilihan dan penggunaan terapi antibiotika yang tepat dan rasional akan menentukan keberhasilan pengobatan untuk menghindari terjadinya resistensi. Penelitian telah dilakukan mengenai rasionalitas penggunaan antibiotika pada pasien Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di salah satu Puskesmas yang berada di Pekanbaru. Jenis penelitian yang dilakukan adalah observasional deskriptif menggunakan data retrospektif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotika pada pasien ISPA. Data yang digunakan berasal dari data rekam medis dengan jumlah sampel penelitian sebesar 83 rekam medis. Penelitian rasionalitas ini dikaji berdasarkan tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat regimen (dosis, frekuensi, lama penggunaan, rute penggunaan), dan waspada efek samping obat. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik yang rasional sebesar 66,3% dan penggunaan antibiotik yang tidak rasional sebesar 33,7%.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

Apendisitis merupakan penyebab paling umum sakit perut akut yang memerlukan intervensi bedah, Penyebab apendisitis tidak jelas dan mekanisme patogenesis terus diperdebatkan, dikarenakan apendisitis merupakan salah satu masalah kesehatan yang terjadi pada masyarakat secara umum, yang tatalaksananya dengan cara apendiktomi, sehingga penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah apendisitis memerlukan perhatian khusus, karena masih tingginya kemungkinan timbul infeksi paska bedah, yaitu 5-15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengevalusi penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah apendisitis di RSUD “X” tahun 2010.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Antibiotik dengan Kartu Monitoring Antibiotik Gyssens

Evaluasi Penggunaan Antibiotik dengan Kartu Monitoring Antibiotik Gyssens

Penelitian potong lintang retrospektif dengan meng- evaluasi penggunaan antibiotik melalui kartu monito- ring serta dilakukan analisis dengan alur Gyssens. Evaluasi dilakukan selama 5 bulan penggunaan kartu, yaitu dari tanggal 10 Februari 2012 sampai 31 Juli 2012. Kriteria inklusi adalah pasien yang menggunakan antibiotic, baik sebagai terapi empiris, definitive, atau profilaksis yang masuk ke PICU dalam kurun waktu penelitian. Terapi empiris merupakan terapi antibiotik pada infeksi sebelum kuman penyebab diketahui, terapi definitif diberikan jika kuman penyebab sudah diketahui, terapi profilaksis diberikan untuk mencegah kemungkinan terjadinya infeksi. Obat selain antibiotik tidak dicatat pada kartu ini. Pasien yang sebelumnya mendapat perawatan >48 jam di luar PICU dianggap sebagai pasien yang pernah rawat sebelumnya. Pasien yang sudah pindah dari PICU kemudian masuk kembali ke PICU, dalam waktu >48 jam dianggap sebagai pasien baru di PICU.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS I GAMPING

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS I GAMPING

Penyakit infeksi termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak yang menyerang manusia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri dapat disembuhkan dengan antibiotik. Antibiotik merupakan golongan obat keras yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Sebagian besar masyarakat menggunakan antibiotik untuk mengatasi masalah infeksi akibat virus dan masih banyak masyarakat yang membeli antibiotik tanpa resep dokter. Hal tersebut dapat menyebabkan bakteri resisten terhadap antibiotik. Data penggunaan antibiotik di DIY yang tidak rasional untuk menangani diare atau penyakit infeksi lainnya sebanyak 58%. Jika pemberian antibiotik yang tidak tepat pada balita akan menimbulkan bakteri resisten terhadap antibiotik karena balita masih rentan terhadap berbagai serangan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sehingga perlu diketahui bagaimana persepsi orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada balita agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada balita.
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tinjauan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penggunaan Antibiotik pada Mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PENDAHULUAN Tinjauan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penggunaan Antibiotik pada Mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

penggunaan antibiotik yang tepat serta mencegah berkembangnya resistensi antibiotik (Sun et al., 2011). Peran apoteker sangatlah penting dalam pelayanan informasi obat melalui konseling dan monitoring penggunaannya. Memerlukan proses dan waktu yang panjang sehingga panggunaan antibiotik tidak dapat diawasi secara langsung, sehingga memungkinkan untuk penggunaan yang kurang tepat (Depkes, 2008).

7 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

PENDAHULUAN Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahmadina tahun 2009 di RSUP Padang, hasil menunjukkan pasien apendisitis mencapai jumlah 297 pasien, penggunaan antibiotik profilaksis terbukti dapat menurunkan resiko terjadinya infeksi luka operasi dengan didukungnya oleh perawatan dan lingkungan rawatan yang bersih. Penelitian lain berdasarkan register pusat cochraine controlled trials (cochraine library edisi 1 tahun 2005), dari 45 kasus apendiktomi, sekitar 9576 pasien yang dilibatkan dalam penelitian menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik profilaksis terbukti dapat mencegah infeksi dan abses intraabdominal luka operasi pada pasien apendiktomi (Andersen et al., 2005).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Kualitatif Penggunaan Antibiotik Berdasarkan Kriteria Yssens Pada Penderita Demam Tifoid Rawat Inap Di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2012.

PENDAHULUAN Analisis Kualitatif Penggunaan Antibiotik Berdasarkan Kriteria Yssens Pada Penderita Demam Tifoid Rawat Inap Di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2012.

mencapai maksimal sementara efek toksis yang berhubungan dengan obat menjadi minimum, serta perkembangan antibiotika resisten seminimal mungkin (Refdanita, et al ., 2004). Pada penggunaan antibiotika yang tidak rasional menimbulkan resistensi antibiotik sudah menjadi pandemi global dan salah satu kecemasan dunia yang terbesar. Penelitian oleh tim AMRIN pada tahun 2001 di bangsal rawat inap anak RS Dr. Kariadi Semarang dan RS Dr. Soetomo Surabaya, mendapatkan bahwa tingkat konsumsi antibiotik sangat tinggi (lebih dari 90% pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut mendapatkan antibiotik), 46-54% di antaranya sebenarnya tidak ada indikasi pemberian antibiotik (Hapsari at al ., 2006). Menurut Hadi at al ., (2008) pada penelitian secara kualitatif di Indonesia, di RS Dr.Soetomo Surabaya dan Dr. Kariadi Semarang hanya 21% yang menggunakan resep antibotik secara tepat. Evaluasi secara kualitatif dilakukan dengan metode Gyssen, untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik. Terdapat hubungan antara penggunaan (kesalahan penggunaan) antibiotik dengan timbulnya resistensi bakteri penyebab infeksi. Dampak resistensi terhadap antibiotik adalah meningkatnya morbiditas, mortalitas dan biaya kesehatan. Hal tersebut membutuhkan kebijakan dan program pengendalian antibiotik yang efektif (Depkes RI, 2011). Penilaian kualitas penggunaan antibiotik bertujuan untuk perbaikan kebijakan atau penerapan program edukasi yang lebih tepat terkait kualitas penggunaan antibiotik (Depkes RI, 2011). Menurut (Baktygul, et al., 2011 ) metode Gyssen adalah standar untuk evaluasi kualitatif dalam meresepkan antibiotik. Kelebihan metode Gyssen yaitu lebih teliti dan terperinci/jelas, dapat mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif lebih tepat sehingga akan mencegah perkembangan antibiotika resisten.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kajian Penggunaan Antibiotik pada Pasien Sepsis dengan Gangguan Ginjal

Kajian Penggunaan Antibiotik pada Pasien Sepsis dengan Gangguan Ginjal

ABSTRAK: Telah dilakukan kajian observasional secara prospektif terhadap penggunaan antibiotik meliputi aspek farmakokinetika klinik dan kualitas antibiotik secara kualitatif pada pasien sepsis dengan gangguan ginjal di Rawat Inap Penyakit Dalam Rumah Sakit X. Pasien sepsis dengan gangguan ginjal ini diterapi dengan antibiotik selama 4 bulan. Antibiotik yang dievaluasi adalah yang ekskresi utamanya di ginjal meliputi jenis antibiotik, dosis, frekwensi, lama penggunaan, dan interaksi yang bermakna klinis. Evaluasi antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens. Total pasien berjumlah 40 orang, diterapi dengan 8 jenis antibiotik dan diantaranya ada 5 antibiotik diekskresi utama melalui ginjal. Dari 5 jenis tersebut, ditemukan penyesuaian dosis dengan tepat pada (n=29;74,3%) dan penyesuaian dosis yang tidak tepat (n=10;25,7%) yang melebihi dosis individual yang dihitung secara farmakokinetik. Terdapat 5 jenis interaksi yang bermakna secara klinik. Evaluasi pemakaian antibiotik secara kualitatif dengan metode Gyssens, diperoleh kategori pasien tidak lengkap/VI (N=4; 10%), kategori tidak efektif/IVa (n=2; 5%), kategori tidak aman/IVb (n=1; 2,5%), kategori spektrum tidak sempit/ IVd (n=1; 2,5%), kategori dosis tidak tepat/IIa (n=9; 22,5%), dan kategori bijak/tepat/0 (n=23; 57,5%). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara umum penggunaan antibiotik yang diekskresikan sebagian besar melalui ginjal tidak memperlihatkan dampak yang buruk pada fungsi ginjal pasien.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Terdiagnosa Infeksi Saluran Pernapasan Atas Akut (ISPAA) Di Puskesmas Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora Tahun 2013.

PENDAHULUAN Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Terdiagnosa Infeksi Saluran Pernapasan Atas Akut (ISPAA) Di Puskesmas Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora Tahun 2013.

Penggunaan antibiotik untuk terapi perlu didasari pada berbagai pertimbangan khusus menuju penggunaan antibiotik secara rasional, asas penggunaan rasional suatu antibiotik ialah seleksi antibiotik yang selektif terhadap mikroorganisme penginfeksi dan efektif untuk memusnahkannya dan sejalan dengan hal ini memiliki potensi terkecil untuk menimbulkan toksisitas, reaksi alergi ataupun resiko lain bagi pasien (Wattimena et al., 1999).

9 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas segala taufik dan hidayahNya. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan dan tauladan Nabi Muhammah SAW, beserta keluarga serta seluruh sahabatnya. Atas rahmat dan ridha Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis di Rumah Sakit Umum Daerah Pekanbaru Tahun 2010” sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai derajat Sarjana Farmasi (S. Farm) pada Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

12 Baca lebih lajut

Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Universiti Sains Malaysia Kampus Kejuruteraan,  ibong Tebal, Pulau Pinang Tentang Penggunaan Antibiotik Pada Tahun 2011

Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Universiti Sains Malaysia Kampus Kejuruteraan, ibong Tebal, Pulau Pinang Tentang Penggunaan Antibiotik Pada Tahun 2011

Satu penelitian secara observasi selama tiga minggu telah dilakukan di Master skill University College of Health Sciences, Selangor Darul Ehsan, Malaysia untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa keperawatan tentang antibiotik yang meliputi pengetahuan umum, golongan, efek samping dan kontraindikasi. Didapati 96,3% mahasiswa bersetuju kesadaran tentang penggunaan antibiotik adalah penting, 75,6% percaya antibiotik dapat mengobati sesuatu jenis penyakit, 68,8% memahami bahwa penggunaan antibiotik untuk melawan infeksi, 57,5% tahu bahwa penisilin merupakan antibiotik yang pertama dan hanya 25,6% memahami bahwa antibiotik tidak perlu diberikan pada penyakit yang ringan. Sebanyak 75% mahasiswa memahami bahwa kontraindikasi diperlukan untuk pemilihan antibiotik manakala 31% mengetahui kewujudan efek samping akibat penggunaan antibiotik berlebihan. Sebanyak 73,8% mahasiswa mempunyai pengetahuan yang baik tentang golongan antibiotik yaitu spektrum luas dan sempit manakala 42,5% hanya mengetahui jumlah total golongan antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan mahasiswa keperawatan masih kurang (Satish, Santhosh, Gulzar, Naveen, 2011).
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kajian Penggunaan Antibiotik pada Terapi Empiris dengan Hasil Terapi Di Ruang Icu RSUD "X" Periode 2015 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PENDAHULUAN Kajian Penggunaan Antibiotik pada Terapi Empiris dengan Hasil Terapi Di Ruang Icu RSUD "X" Periode 2015 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Di daerah tropis seperti Indonesia banyak dijumpai penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman, maka untuk menanggulanginya diperlukan antibiotik. Penggunaan antibiotik sebagian besar digunakan di rumah sakit, maka diperlukan manajemen yang dapat mengontrol infeksi, pengawasan kuman yang resisten, mengawasi penggunaan antibiotik di rumah sakit, membuat suatu kesinambungan untuk pemakaian antibiotik dan profilaksis, serta memonitor penggunaan antibiotik sehingga dapat meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional. Pola kepekaan dapat digunakan sebagai tata laksana yang efektif dari penggunaan antibiotika di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD Dr. Moewardi dan sebagai terapi awal antibiotik di ruang ICU. Penelitian terhadap kepekaan bakteri di ruang ICU sangat dibutuhkan sehingga pengontrolan dan pengawasan terhadap antibiotika dapat dilaksanakan (Refdanita et al ., 2015).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Keputusan Klinik Dalam Penggunaan Antibiotik

Keputusan Klinik Dalam Penggunaan Antibiotik

Pendekatan stepped care ataupun educated guess ini tentu tidak dapat menggantikan cara pemilihan antibiotik berdasarkan hasil biakan kuman dan uji kepekaan. Meskipun demikian daftar obat yang disusun dalam berbagai tabel educated guess setidak- tidaknya telah melalui proses yang cukup cermat dengan mempertimbangkan faktor pengalaman beberapa pakar serta hasil uji klinik berbagai institusi yang terkemuka untuk digunakan sebagai dasar terapi atau terapi empiris. Di antara tabel educated guess yang cukup informatif dan sistematis misalnya tabel yang tertera dalam buku teks Goodman & Gilmans The pharmacological basis of therapeutics edisi ke 10 tahun 2001 1 yang disusun berdasarkan jenis kuman, penyakit
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFTRIAXONE PADA PASIEN PNEUMONIA DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP SUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2014 - 2015.

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFTRIAXONE PADA PASIEN PNEUMONIA DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP SUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2014 - 2015.

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian observasional dengan pengambilan data secara retrospektif cohort. Sampel diperoleh menggunakan metode purposive sampling pada pasien dengan diagnosa pneumonia tanpa disertai penyakit infeksi lain, 18 – 65 tahun, mendapatkan terapi antibiotik ≥ 3 hari, memiliki data rekam medik yang lengkap, meliputi : identitas pasien, diagnosa, terapi pengobatan, kondisi klinis dan nilai laboratorium. Analisis data menggunakan analisis statistik uji t-test berpasangan untuk mengetahui efektivitas penggunaan ceftriaxone berdasarkan parameter kondisi klinis dan kadar leukosit.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2009.

ANALISIS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2009.

Kloramfenikol merupakan penghambat kuat terhadap sintesis protein mikroba, termasuk antibiotik bakteriostatik berspektrum luas yang aktif terhadap organisme-organisme aerobik gram positif maupun gram negatif. Resistensi kadar rendah dapat timbul dari populasi besar sel-sel yang rentan terhadap kloramfenikol melalui seleksi mutan-mutan yang kurang permeabel terhadap obat. Dosis kloramfenikol yang umum adalah 50-100mg/kg/hari, setelah pemberian peroral, kristal kloramfemikol diabsorbsi dengan cepat dan tuntas (Katzung, 2004).

16 Baca lebih lajut

GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT R.A KARTINI JEPARA TAHUN 2009.

GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT R.A KARTINI JEPARA TAHUN 2009.

Pemakaian antibiotik yang terlalu sering tidak dianjurkan karena dapat menggangu keseimbangan flora usus. Dalam usus normal tumbuh kuman yang membantu pencernaan dan pembentukan vitamin K, selain itu di beberapa bagian tubuh terdapat kuman yang tidak menggangu, namun bermanfaat. Terlalu sering minum antibiotik berarti membunuh kuman jinak yang bermanfaat bagi tubuh, sehingga keseimbangan mikroorganisme tubuh bisa terganggu (Gunawan, 2007).

19 Baca lebih lajut

DIMAS S WARIDIARTO 22010111140182 LAP KTI BAB 2

DIMAS S WARIDIARTO 22010111140182 LAP KTI BAB 2

Ancaman resistensi bakteri yang mengancam menuntut dokter untuk memberikan antibiotik secara bijak, karena sudah terbukti bahwa pemberian antibiotik yang tidak bijak dapat berakibat timbulnya resistensi bakteri terhadap antibiotik. Pemberian antibiotik yang bijak antara lain seperti tepat indikasi, dosis yang sesuai, interval pemberian yang sesuai, jalur pemberian yang sesuai, dan waktu pemberian yang sesuai. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas penggunaan antibiotik, yaitu: 39

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik pada Pengunjung Apotek di Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

PENDAHULUAN Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik pada Pengunjung Apotek di Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang mempunyai efek mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya pada manusia relatif kecil (Tjay dan Raharja, 2002). Suatu konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari penggunaan antibiotik adalah timbulnya mikroorganisme yang resisten. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat dapat menyebabkan peningkatan munculnya bakteri patogen yang resisten terhadap berbagai obat antibiotik (Katzung, 2004).

Baca lebih lajut

Kajian Peresepan Antibiotik Pada Pasien Pediatrik Rawat Jalan Di Rsud Deli Serdang Lubuk Pakam Periode September 2014 – Desember 2014

Kajian Peresepan Antibiotik Pada Pasien Pediatrik Rawat Jalan Di Rsud Deli Serdang Lubuk Pakam Periode September 2014 – Desember 2014

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola peresepan antibiotik terbanyak adalah golongan sefalosporin sebanyak 120 resep (79,9%) yaitu cefixime sebanyak 77 resep (51,3%) dan cefadroxil sebanyak 43 resep (28,6%). Berdasarkan kriteria 4T sebanyak 119 resep (79,4%) termasuk dalam kategori rasional dan yang termasuk kedalam kategori tidak rasional sebesar 31 resep (20,6%). Berdasarkan analisis resep terdapat 7,0% dosis tidak rasional, 3,9% frekuensi penggunaan tidak rasional, dan 12,3% durasi penggunaan tidak rasional. Berdasarkan hasil penelitian profil penggunaan antibiotik menunjukkan pola peresepan antibiotik terbanyak adalah golongan sefalosporin dan masih terdapat penggunaan antibiotik yang tidak rasionalitas pada pasien pediatrik.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects