Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep

Top PDF Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep:

Studi Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat -NTT - Ubaya Repository

Studi Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat -NTT - Ubaya Repository

Penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan beragam masalah dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama dalam hal resistensi antibiotik. Selain berdampak pada morbiditas dan mortalitas, juga memberi dampak negatif terhadap ekonomi dan sosial yang sangat tinggi. Tujuan penelitian ini untuk menengetahui penggunaan antibiotik tanpa resep dokter di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat. Penelitian ini bersifat non eksperimental dengan pengambilan sampel secara purposive menggunakan quota sampling. Data yang dianalisis meliputi tingkat kesadaran terhadap penggunaan antibiotik dan perilaku yang mempengaruhi penggunaan antibiotik tanpa resep dokter. Dari hasil penelitian didapatkan semua pasien (108 pasien) cenderung pernah menggunakan antibiotik tanpa resep dokter dan tingkat kesadaran pasien masih rendah. Perilaku pasien terkait penggunaan antibiotik tanpa resep dokter: Antibiotik yang paling sering dibeli dalam pelayanan tanpa resep dokter adalah Amoxicillin, jenis penyakit yang mayoritas diobati pasien dengan antibiotik adalah gejala flu, alasan pasien dalam menggunakan antibiotik tanpa resep adalah karena penggunaan antibiotik terdahulu memberikan hasil yang baik. Sedangkan ditinjau dari segi biaya 55.56% pasien (60 pasien) menjawab uang bukan masalah namun 44.44% (48 pasien) menjawab karena masalah keuangan. Dari 60 pasien yang menjawab uang bukan masalah, 73.33% (44 pasien) diantaranya menjawab pengobatan terdahulu memberikan hasil yang baik sehingga bila digunakan untuk penyakit yang serupa hasilnya sama.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Hubungan Pengetahuan tentang Antibiotik dengan Frekuensi Penggunaan Antibiotik tanpa Resep Dokter pada Mahasiswa Non Medis Universitas Sebelas Maret The Relationship between Knowledge about Antibiotics with Usage Frequency of Non-prescription Antibiotics

Hubungan Pengetahuan tentang Antibiotik dengan Frekuensi Penggunaan Antibiotik tanpa Resep Dokter pada Mahasiswa Non Medis Universitas Sebelas Maret The Relationship between Knowledge about Antibiotics with Usage Frequency of Non-prescription Antibiotics

Di berbagai negara di dunia, antibiotik sangat mudah didapat dan murah harganya. Karena alasan tersebut antibiotik merupakan obat yang paling banyak disalahgunakan (WHO, 2014). Studi yang telah dilakukan di beberapa negara di Amerika, Asia, dan Eropa menunjukkan bahwa terdapat 22% hingga 70% masyarakat yang salah paham mengenai aplikasi penggunaan antibiotik yang benar dan sering mengonsumsinya tanpa resep dokter (Togoobaatar et. al, 2010). Masyarakat di banyak negara berkembang bahkan beranggapan bahwa antibiotik merupakan obat ajaib yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit termasuk jika mereka hanya menderita common cold. Selain itu banyak ditemukan kasus pasien yang meminta
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Studi Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter di Beberapa Apotek Kecamatan Rungkut Surabaya - Ubaya Repository

Studi Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter di Beberapa Apotek Kecamatan Rungkut Surabaya - Ubaya Repository

Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Penerapan regulasi perdagangan antibiotik yang tidak tepat/tegas dapat mendorong penyalahgunaan antibiotik dan menimbulkan masalah serius dalam pengelolaan infeksi. Karena semakin banyak timbul masalah tentang resistensi antibiotik maka perlu dilakukan penelitian untuk melihat bagaimana penggunaan antibiotik tanpa resep dokter, khususnya di wilayah Kecamatan Rungkut, Surabaya pada periode mei sampai juni 2012. Penelitian ini merupakan penelitian observasional (non eksperimental), yang bersifat prospektif dan dianalisa dengan metode deskriptif. Teknik pemilihan sampel bersifat non probability sampling secara quota sampling. Data yang dianalisis meliputi tingkat kesadaran terhadap penggunaan antibiotik, perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi antibiotik tanpa resep dokter. Dari hasil penelitian didapatkan semua (133) responden pernah menggunakan antibiotik tanpa resep sebelumnya, dan tingkat kesadaran responden masih rendah. Dari hasil wawancara singkat dengan responden ditemukan antibiotik yang paling sering diminta dalam pelayanan tanpa resep dokter adalah amoxicillin, jenis penyakit yang paling banyak diobati responden dengan antibiotik adalah radang tenggorokan. Alasan utama pasien menggunakan antibiotik tanpa resep adalah karena sudah pernah menggunakan antibiotik tersebut sebelumnya (81,9%), sedangkan ditinjau dari pertimbangan biaya 50,4% responden menjawab uang bukan masalah dan 30,1% menjawab karena masalah keuangan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TANPA RESEP DOKTER.

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TANPA RESEP DOKTER.

Dari penelitian diperoleh data distribusi frekuensi penggunaan antibiotik tanpa resep dokter ada sebesar 52% dan menggunakan sesuai dengan resep dokter 48%, tingkat pengetahuan responden terhadap antibiotik berada dalam kategori baik sebesar 64,5% dan kategori kurang baik 35,5%, sikap responden terhadap penggunaan antibiotik tanpa resep dokter kategori positif sebesar 73,3% dan negatif sebesar 26,3, antibiotik yang biasa digunakan oleh masyarakat yaitu amoxicilin 36,2%, ampicilin 11,2% tetraciyline 2,6% dan 2,0% lain-lain, alasan menggunnakan antibiotik tanpa resep dokter 45,4% karena keinginan sendiri dan 5,9% karena saran pemilik warung 5,9%, asuransi kesehatan terdapat 47,4% responden memiliki asuransi kesehatan dan 52,6% tidak memiliki asuransi kesehatan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter

Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk penyakit infeksi. Tingginya insiden penyakit infeksi mengakibatkan tinggi pula penggunaan antibiotik. Sekarang ini banyak antibiotik digunakan tanpa resep dokter, padahal antibiotik seharusnya digunakan dengan resep dokter dan dibeli di apotik. Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter ini akan menimbulkan resistensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat dengan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter di Kampung Seberang Pebayan RW IV Kelurahan Batang Arau Padang Selatan.Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian cross sectional study analytic dengan subjek 152 orang yang diambil secara simple random sampling. Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan chi square. Hasil uji statistik chi square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter (p < 0,05), tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan kepemilikan asuransi kesehatan dengan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter (p > 0,05).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK YANG IRASIONAL PADA RESEP DOKTER DARI APOTEK-APOTEK DI KOTA SURAKARTA.

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK YANG IRASIONAL PADA RESEP DOKTER DARI APOTEK-APOTEK DI KOTA SURAKARTA.

Tingginya angka resistensi antibiotik, salah satunya diakibatkan oleh penggunaan terapi antibiotik irasional yang diresepkan oleh dokter.Berbagai studi menemukan bahwa sekitar 40-60 % antibiotik digunakan secara tidak tepat. Pada penelitian kualitas penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit ditemukan 30-80 % antibiotik digunakan tanpa indikasi. Oleh karena itulah, perlu diteliti mengengai penggunaan antibiotik yang irasional pada resep dokter dari apotek-apotek di Surakarta.

25 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI ANTIBIOTIK DAN PENGGUNAANANTIBIOTIK TANPA RESEP  Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Mengenai Antibiotik Dan Penggunaanantibiotik Tanpa Resep Dokter Pada Pelajar Kelas X, XI, XII Di SMK Negeri 2 Surakarta.

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI ANTIBIOTIK DAN PENGGUNAANANTIBIOTIK TANPA RESEP Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Mengenai Antibiotik Dan Penggunaanantibiotik Tanpa Resep Dokter Pada Pelajar Kelas X, XI, XII Di SMK Negeri 2 Surakarta.

Latar Belakang: Antibiotik merupakan obat yang sangat dikenal dan tergolong obat yang banyak digunakan oleh masyarakat luas sehingga menimbulkan tindakan penyalahgunaan antibiotik. Bentuk dari tindakan penyalahgunaan antibiotik yang paling sering adalah tindakan pengobatan mandiri (swamedikasi) berupa penggunaan antibiotik tanpa resep dokter oleh berbagai kalangan masyarakat termasuk pelajar. Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter, akan memberikan banyak dampak, seperti timbulnya kejadian resistensi antibiotik dan timbulnya penggunaan irasional dari antibiotik.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI ANTIBIOTIK DANPENGGUNAANANTIBIOTIK TANPA RESEP  Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Mengenai Antibiotik Dan Penggunaanantibiotik Tanpa Resep Dokter Pada Pelajar Kelas X, XI, XII Di SMK Negeri 2 Surakarta.

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI ANTIBIOTIK DANPENGGUNAANANTIBIOTIK TANPA RESEP Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Mengenai Antibiotik Dan Penggunaanantibiotik Tanpa Resep Dokter Pada Pelajar Kelas X, XI, XII Di SMK Negeri 2 Surakarta.

Pada tabel 11 diatas menunjukkan hasil analisis Chi-Square dengan nilai significancy -nya atau nilai p 0,004 (p<0,05) yang dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan mengenai antibiotik dan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter pada pelajar kelas X, XI dan XII di SMK Negeri 2 Surakarta, semakin baik pengetahuan mengenai antibiotik yang dimiliki oleh seseorang, maka penggunaan antibiotik tanpa resep dokter akan semakin menurun.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS I GAMPING

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS I GAMPING

Penyakit infeksi termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak yang menyerang manusia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri dapat disembuhkan dengan antibiotik. Antibiotik merupakan golongan obat keras yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Sebagian besar masyarakat menggunakan antibiotik untuk mengatasi masalah infeksi akibat virus dan masih banyak masyarakat yang membeli antibiotik tanpa resep dokter. Hal tersebut dapat menyebabkan bakteri resisten terhadap antibiotik. Data penggunaan antibiotik di DIY yang tidak rasional untuk menangani diare atau penyakit infeksi lainnya sebanyak 58%. Jika pemberian antibiotik yang tidak tepat pada balita akan menimbulkan bakteri resisten terhadap antibiotik karena balita masih rentan terhadap berbagai serangan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sehingga perlu diketahui bagaimana persepsi orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada balita agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada balita.
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada pdf

Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada pdf

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional dengan jenis deskriptif, penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan cara melakukan kajian terhadap resep-resep yang mengandung antibiotik pada pasien dewasa selama bulan Maret sampai Juni 2014, untuk mengetahui tingkat kerasionalan penggunaan antibiotik di salah satu puskesmas di Kota Pekanbaru. Data dikumpulkan dari data sekunder dengan mengobservasi buku registrasi pasien dan rekam medik pasien dewasa yang mendapatkan obat antibiotik selama bulan Maret 2014 sampai Juni 2014. Populasi penelitian adalah seluruh data rekam medik pasien ISPA yang berkunjung ke Puskesmas selama bulan Maret - Juni 2014. Di dapat populasi sebesar 497, kemudian dilakukan penetapan sampel dengan menggunakan metoda sistematic random sampling. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak sistematis. Sampel merupakan populasi yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sebesar 83 rekam medik.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Prosentase Pelaksanaan Obat Antibiotik Oral Sesuai dengan Formularium Rumah Sakit Pada Pasien BPJS Rawat Jalan di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus

Prosentase Pelaksanaan Obat Antibiotik Oral Sesuai dengan Formularium Rumah Sakit Pada Pasien BPJS Rawat Jalan di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus

Intensitas penggunaan obat antibiotik yang relatif tinggi dapat menimbulkan berbagai per- masalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri ter- hadap antibiotik. Pada awalnya resistensi terjadi di tingkat rumah sakit, tetapi lambat laun juga berkembang dilingkungan masyarakat, dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan di rumah sakit Formularium merupakan sarana yang kuat untuk meningkatkan kualitas dan mengawasi biaya obat yang dipergunakan untuk pengobatan di Rumah Sakit. Salah satu dampak dari pemanfaatan Formularium yang belum optimal akan menimbulkan kerugi- an pada rumah sakit. Tujuan dari penelitian ini untukmengetahui pelaksanaan pelayanan obat antibiotik sesuai dengan Formularium Rumah Sakit pada pasien BPJS rawat jalan di RSUD dr. Leokmono Hadi Kudus periode maret 2016. Desain penelitian ini deskripsi kuantitatif, pengambilan data retrospektif dengan total sampling. Populasi dan sampel ada- lah data resep pasien BPJS rawat jalan bulan maret 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peresepan antibiotik oral yang sesuai dengan Formularium Rumah Sakit sebanyak 1139 resep, dengan persentse 98,70%, peresepan antibiotik oral yang tidak sesuai sebesar 15 resep dengan persentase sebanyak 1,30% dari 1154 resep yang masuk selama bulan maret 2016, didukung data peresepan obat antibiotik oral 100% dengan nama generik dan penggunaan antibiotik terbanyak adalah golongan beta laktam dengan persentase sebesar 61,80%, antibiotik lain sebanyak 38,20% dari 1157 ratio penulisan antibiotik. Dari data tersebut dapat disimpulkan peresepan antibiotik oral yang sesuai dengan Formularium Ru- mah Sakit dengan persentase sebanyak 98,70%, dan hasil peresepan antibiotik oral yang tidak sesuai dengan persentase sebanyak 1,30% dari 1154 resep antibiotik oral yang masuk selama bulan maret 2016.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

NADIA LUTHFIA' ADANI 22010111120034 Lap.KTI Bab2

NADIA LUTHFIA' ADANI 22010111120034 Lap.KTI Bab2

WHO mendefinisikan penggunaan antibiotik yang rasional adalah ketika pasien mendapatkan antibiotik yang tepat, dosis yang sesuai kebutuhan pasien, selama periode waktu yang adekuat, dengan harga yang dapat dijangkau pasien dan keluarganya. 1 Sedangkan penggunaan antibiotik dikatakan tidak rasional / tidak tepat jika tidak memenuhi ketentuan- ketentuan penggunaan antibiotik secara rasional, seperti polifarmasi, self- medication yang tidak tepat, penggunaan antibiotik yang berlebihan, dll. 21 Rasionalitas penggunaan antibiotik berhubungan dengan dokter sebagai pembuat resep dan pasien sebagai konsumen antibiotik. 15
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Kajian Peresepan Antibiotik Pada Pasien Pediatrik Rawat Jalan Di Rsud Deli Serdang Lubuk Pakam Periode September 2014 – Desember 2014

Kajian Peresepan Antibiotik Pada Pasien Pediatrik Rawat Jalan Di Rsud Deli Serdang Lubuk Pakam Periode September 2014 – Desember 2014

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola peresepan antibiotik terbanyak adalah golongan sefalosporin sebanyak 120 resep (79,9%) yaitu cefixime sebanyak 77 resep (51,3%) dan cefadroxil sebanyak 43 resep (28,6%). Berdasarkan kriteria 4T sebanyak 119 resep (79,4%) termasuk dalam kategori rasional dan yang termasuk kedalam kategori tidak rasional sebesar 31 resep (20,6%). Berdasarkan analisis resep terdapat 7,0% dosis tidak rasional, 3,9% frekuensi penggunaan tidak rasional, dan 12,3% durasi penggunaan tidak rasional. Berdasarkan hasil penelitian profil penggunaan antibiotik menunjukkan pola peresepan antibiotik terbanyak adalah golongan sefalosporin dan masih terdapat penggunaan antibiotik yang tidak rasionalitas pada pasien pediatrik.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik Pada Masyarakat Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan.

PENDAHULUAN Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik Pada Masyarakat Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan.

Pelayanan pembelian antibiotika secara bebas oleh penyedia obat mendorong perilaku swamedikasi antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat oleh masyarakat, meliputi penghentian pengobatan secara tiba- tiba, dosis berlebihan, penggunaan sisa antibiotik, dan penggunaan antibiotika dengan jangka waktu tidak tepat (Oyetunde et al. , 2010). Alasan lain masyarakat membeli antibiotik tanpa resep dokter, karena mereka merasa diuntungkan dapat menghemat waktu dan uang (Widayati et al., 2010). Berdasarkan hasil survey, 4 dari 5 apotek yang terdapat di kota Pacitan dapat menjual antibiotik tanpa resep. Hal ini memungkinkan terjadinya masalah ketidaktepatan penggunaan antibiotik.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Hubungan Karakteristik Orang Tua Dengan Pengetahuan Pemberian Antibiotika Pada Anak Di Jorong Balai Ahad Lubuk Basung Tahun 2016

Hubungan Karakteristik Orang Tua Dengan Pengetahuan Pemberian Antibiotika Pada Anak Di Jorong Balai Ahad Lubuk Basung Tahun 2016

Penggunaan antibiotik tidak rasional dan berlebihan banyak terjadi di Indonesia. Pemilihan dan penggunaan terapi antibiotika yang tepat menentukan keberhasilan pengobatan. Data Riskesdas tahun 2013 , 35,2% rumah tangga menyimpan obat untuk Swamedika terdiri dari obat keras, obat bebas, antibiotika, obat tradisional dan obat yang tidak teridentifikasi. Penyimpanan antibiotika sebesar 27,8% dimana 30,1% terjadi di pedesaan dan 86,1% menyimpan antibiotika tanpa resep. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan karakteristik orang tua (pendidikan, status ekonomi, pengalaman) dengan pengetahuan pemberian antibiotika pada anak. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi yaitu ibu yang memiliki anak 0-5 tahun di Jorong Balai Ahad berjumlah 69 orang, dengan pengambilan sampel total sampling. Data diolah menggunakan uji chi-square. Analisis univariat diketahui 60,9 % responden pendidikannya rendah, 55,1 % status ekonomi tinggi, 76,8 % memiliki pengalaman, dan 55,1 % pengetahuan pemberian antibiotika kurang. Analisis bivariat diketahui ada hubungan tingkat pendidikan (p = 0,030; OR = 3,400), status ekonomi (p = 0,000 ; OR = 8,013), dan pengalaman (p = 0,034; OR = 4,853) dengan pengetahuan orang tua dalam pemberian obat antibiotika pada anak.Disimpulkan ada hubungan karakteristik dengan pengetahuan orang tua tentang pemberian obat antibiotika pada anak. Diharapkan petugas kesehatan memberikan penjelasan lengkap tentang pemberian obat antibiotika.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

Antibiotik sefalosporin dengan aktivitas anerob seperti sefositin atau sefotetan saat ini dapat digunakan sebagai antibiotik profilaksis pilihan pertama dengan terapi dosis tunggal digunakan untuk bedah apendisitis non perforasi dan tanpa komplikasi (Wells, 2000), sedangkan kombinasi sefositin dan metronidazol terbukti efektif untuk mengurangi infeksi dengan komplikasi septik pada apendisitis sebelum dan sesudah pembedahan (Lau WY et al, 2000) namun, antibiotik jenis ini tidak direkomendasikan untuk profilaksis bedah apendisitis di RSUD DR.Soetomo.

17 Baca lebih lajut

NADIA LUTHFIA' ADANI 22010111120034 Lap.KTI Bab8

NADIA LUTHFIA' ADANI 22010111120034 Lap.KTI Bab8

59 Hubungan usia anak dengan rasionalitas penggunaan antibiotik Crosstabulation Count rasionalitas penggunaan antibiotik Total rasional tidak rasional Usiadich Continuity Correcti[r]

18 Baca lebih lajut

TINJAUAN PERESEPAN ANTIBIOTIKA PADA PASIENRAWAT JALAN DI RSUD DR.MOEWARDI SURAKARTA Tinjauan Peresepan Antibiotika Pada Pasien Rawat Jalan Di RSUD DR. Moewardi Surakarta Bulan Oktober-Desember 2006.

TINJAUAN PERESEPAN ANTIBIOTIKA PADA PASIENRAWAT JALAN DI RSUD DR.MOEWARDI SURAKARTA Tinjauan Peresepan Antibiotika Pada Pasien Rawat Jalan Di RSUD DR. Moewardi Surakarta Bulan Oktober-Desember 2006.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase penggunaan antibiotik di RSUD Dr.Moewardi selama periode penelitian sebesar 39,53%. Persentase golongan antibiotik yang paling banyak diresepkan yaitu golongan penisilin sebesar 43,55%. Persentase penulisan obat generik sebesar 63,49% dan non generik sebesar 36,51%, sedangkan antibiotik yang diresepkan semua tercantum dalam formularium rumah sakit.

12 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II MELYA MUTARANI FARMASI'16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II MELYA MUTARANI FARMASI'16

Terapi dengan memberikan rehidrasi yang adekuat. Antidiare dihindari pada penyakit yang parah. Enterotoksigenik E. coli ( ETEC) berespon baik terhadap trimetoprim-sulfametoksazole atau kuinolon yang diberikan selama 3 hari. Pemberian antimikroba belum diketahui akan mempersingkat penyakit pada diare Enteropatogenik E. coli (EPEC) dan diare Enteroagregatif E. coli (EAEC). Antibiotik harus dihindari pada diare yang berhubungan dengan Enterohemoragic E. coli ( EHEC) ( Zein, Sagala dan Ginting, 2004). Diet merupakan salah satu terapi bagi penderita diare. Pasien diare tidak dianjurkan untuk berpuasa, kecuali bila muntah-muntah hebat. Pasien dianjurkan untuk minum minuman sari buah, teh, dan makanan yang mudah dicerna seperti pisang, nasi, keripik, dan sup. Minuman berkafein dan alkohol harus dihindari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus (Kolopaking dan Daldiyono, 2009).
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Pengaruh Intervensi Apoteker terhadap Kejadian Medication Error di Ruang Rawat Inap Angsoka RSUP Sanglah Denpasar - Ubaya Repository

Pengaruh Intervensi Apoteker terhadap Kejadian Medication Error di Ruang Rawat Inap Angsoka RSUP Sanglah Denpasar - Ubaya Repository

Penjualan dan pembelian antibiotik tanpa resep dokter di apotek telah menjadi masalah global. Walaupun demikian, faktor yang dominan menyebabkan perilaku penjualan dan pembelian antibiotik tanpa resep di apotek belum diketahui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang dominan mempengaruhi perilaku penjualan dan pembelian antibiotik tanpa resep dokter di apotek kota Surabaya.

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...