Penguasaan konsep

Top PDF Penguasaan konsep:

PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP DAN HASIL

PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP DAN HASIL

Setelah tindakan pada siklus pertama, dalam penguasaan konsep, jika dibandingkan dengan tes awal, memang ada perbaikan, namun masih belum memuaskan. Persentase mahasiswa yang menjawab soal dengan konsep benar hanya 66,66%, dibandingkan dengan pada keadaan awal sebanyak 39,39%. Dari sisi hasil belajar, mahasiswa yang mendapat nilai A atau B ada 27,27% berarti sudah ada perbaikan dibandingkan tes awal yaitu 21,21%. Walaupun demikian, mahasiswa yang mendapat nilai D atau E masih ada 24,24%. Dalam hal aktivitas belajar siswa selama pembelajaran, sudah mencapai indikator yang ditentukan yaitu dalam kategori cukup aktif. Demikian pula persepsi mahasiswa tentang relevansi matakuliah kalkulus dengan bidang studinya sudah termasuk kategori cukup positif.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN RANCANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN INTERTEKSTUAL DENGAN INKUIRI BERBASIS MODEL PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA.

PENGEMBANGAN RANCANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN INTERTEKSTUAL DENGAN INKUIRI BERBASIS MODEL PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA.

Seiring perkembangan pelaksanaan inkuiri, menurut Windschitl, Thompson, & Braaten (2008) terdapat gambaran permasalahan bahwa pelaksanaan inkuiri dalam prakteknya lebih memfokuskan siswa pada kegiatan fisik namun konsep sains siswa tidak dinyatakan secara jelas. Sebagai alternatif untuk penyelidikan sains, diperkenalkan inkuiri berbasis model sebagai sebuah sistem dari kegiatan pembelajaran yang melibatkan siswa untuk lebih mendalami materi dan mewujudkan lima karakteristik epistemik pengetahuan ilmiah, yaitu bahwa ide-ide dapat diwakili dalam bentuk model yang dapat diuji, direvisi, jelas, bersifat dugaan, dan generatif. Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dikembangkan strategi pembelajaran intertekstual dengan inkuiri berbasis model pada materi kesetimbangan kimia untuk meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan proses sains siswa.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep mel

Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep mel

Berdasarkan fakta di lapangan, kadang guru sudah merasa ideal di dalam penyelenggaraan pembelajaran di kelas. Tetapi jika proses ini dibandingkan dengan hasil, baru terlihat bahwa sasaran atau hasil yang diharapkan belum tercapai. Sebagai contoh, hasil ulangan harian siswa kelas XII IPA 1 di SMAN CMBBS pada materi listrik dinamis, didapatkan bahwa hanya 40% siswa yang mendapatkan nilai diatas 75 (kriteria kentuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah). Soal-soal yang diberikan pada ulangan harian tersebut, pada umumnya soal-soal dibuat untuk menguji penguasaan konsep siswa. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa penguasaan konsep siswa masih rendah.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA PEMBELAJARAN LAJU REAKSI MENGGUNAKAN METODE DISCOVERY INQUIRY.

ANALISIS PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA PEMBELAJARAN LAJU REAKSI MENGGUNAKAN METODE DISCOVERY INQUIRY.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penguasaan konsep siswa kelas XI pada materi laju reaksi pada pembelajaran menggunakan metode discovery inquiry. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas XI IPA MAN 1 Medan. Sampel diambil dua kelas yang dipilih secara random sampling dari populasi yang homogen. Satu kelas sampel sebagai kelas eksperimen yang mendapat perlakuan pembelajaran dengan metode discovery inquiry. Satu kelas sampel yang lainnya sebagai kelas kontrol yang mendapat perlakuan pembelajaran dengan metode direct instruction. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dalam bentuk essay test. Data yang diperoleh terlebih dahulu dilakukan uji homogenitas dan normalitas sebelum pengujian hipotesis dilakukan. Dari pengujian yang dilakukan diperoleh bahwa kedua sampel homogen dan berdistribusi normal. Sesuai dengan uji hipotesis yakni uji t pihak kanan, dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh t hitung > t tabel , yakni t hitung = 3,28 >
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN INFERENSI DAN PENGUASAAN KONSEP HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN INFERENSI DAN PENGUASAAN KONSEP HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA

Konsep merupakan pokok utama yang mendasari keseluruhan sebagai hasil ber- pikir abstrak manusia terhadap benda, peristiwa, fakta yang menerangkan banyak pengalaman. Pemahaman dan penguasaan konsep akan memberikan suatu apli- kasi dari konsep tersebut, yaitu membebaskan suatu stimulus yang spesifik se- hingga dapat digunakan dalam segala situasi dan stimulus yang mengandung kon- sep tersebut. Jika belajar tanpa konsep, proses belajar mengajar tidak akan ber- hasil. Hanya dengan bantuan konsep, proses belajar mengajar dapat ditingkatkan lebih maksimal.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN UNTUK MENGUKUR PENGUASAAN KONSEP FISIKA PADA MATA KULIAH FISIKA DASAR MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI DAN PENDIDIKAN KIMIA.

PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN UNTUK MENGUKUR PENGUASAAN KONSEP FISIKA PADA MATA KULIAH FISIKA DASAR MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI DAN PENDIDIKAN KIMIA.

Kedua, untuk dapat mengetahui kemampuan mahasiswa Pendidikan Biologi dan Pendidikan Kimia, dalam penguasaan konsep fisika dan menerapkannya untuk menjelaskan gejala-gejala atau materi-materi yang dipe- lajari dalam biologi atau kimia, mahasiswa perlu diberikan instrumen asesmen “kontekstual” penguasaan konsep fisika sesuai dengan bidang keilmuan maha- siswa. Dengan mengetahui kesulitan mahasiswa dalam penguasaan konsep fisika untuk menjelaskan gejala-gejala yang dipelajari dalam biologi atau kimia, pengampu mata kuliah Fisika Dasar dapat merencanakan pembelajaran yang lebih tepat dan efektif untuk mengatasi kesulitan yang dialami mahasiswa. Pembe- lajaran secara kontekstual akan memberi kebermaknaan mata kuliah Fisika Dasar. Ketiga, penelitian ini dilakukan pada populasi terbatas dan jangka yang waktu terbatas. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian sejenis dengan variasi populasi yang lebih luas dan untuk konsep fisika yang lainnya (misalnya: mekanika, optik).
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

Model Pembelajaran Predict-Observe-Explain-Write (POEW) untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Kalor dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA.

Model Pembelajaran Predict-Observe-Explain-Write (POEW) untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Kalor dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA.

kesulitan dalam memecahkan persoalan yang berhubungan dengan konsep tersebut. Yeo & Zadnik (2001) mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami siswa pada materi suhu dan kalor, yang menyebutkan bahwa kalor bukanlah energi, kalor dan suhu adalah sesuatu yang sama. Sejauh ini, model pembelajaran yang diterapkan masih menekankan pada penyampaian informasi oleh guru, siswa hanya diajarkan menghafal konsep, prinsip, hukum dan rumus-rumus, pemahaman yang dimiliki siswa tidak sebagai hasil pengalaman melainkan merupakan transfer pengetahuan dari guru ke siswa sehingga tidak efektif dalam meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR DAN PENGUASAAN KONSEP FISIKA SISWA ANTARA PENGGUNAAN SIMULASI DAN EKSPERIMEN

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR DAN PENGUASAAN KONSEP FISIKA SISWA ANTARA PENGGUNAAN SIMULASI DAN EKSPERIMEN

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran fisika untuk membantu siswa dalam penguasaan konsep adalah simulasi. Simulasi memungkinkan siswa dapat melakukan praktikum menggunakan virtual lab dengan media komputer. Di SMPN 1 Kotagajah terdapat laboratorium komputer dengan jumlah komputer yang memadai sehingga memungkinkan pembelajaran dengan menggunakan metode simulasi. Namun, guru belum memanfaatkan komputer-komputer yang ada untuk pembelajaran fisika. Metode dengan menggunakan simulasi pembelajaran dikemas sehingga mengurangi keabstrakan dan verbalisme dalam pendidikan di sekolah, khususnya pelajaran fisika. Siswa dapat lebih aktif selama proses
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL CTL TERHADAP PENGUASAAN KONSEP PERKEMBANGAN TEKNOLOGI.

PENGARUH MODEL CTL TERHADAP PENGUASAAN KONSEP PERKEMBANGAN TEKNOLOGI.

sar 2,042. Hal ini menunjukkan adanya per- bedaan penguasaan konsep perkembangan teknologiyang positif dan signifikan antara siswa yang diajar dengan model CTLdengan siswa yang diajar model pembelajaran lang- sung. Penguasaan konsep perkembangan tek- nologi siswa yang diajar dengan model CTL lebih baik dibandingkan dengan model pem- belajaran langsung. Dibuktikan dengan per- olehan rata-rata nilai posttest kelompok eks- perimen sebesar 79,5 dan rata-rata nilai post- testkelompok kontrol sebesar 73,4.

5 Baca lebih lajut

PENGUASAAN KONSEP DAN MOTIVASI BELAJAR S

PENGUASAAN KONSEP DAN MOTIVASI BELAJAR S

Di dalam RPP yang digunakan terdapat 11 indikator pembelajaran yang harus dicapai sebagai pengukur keberhasilan proses belajar terkait materi yang harus dikuasai. Indikator- indikator tersebut merupakan acuan yang digunakan dalam pembuatan soal-soal pretest/posttest. Indikator-indikator yang digunakan beserta tingkat penguasaan materinya berdasarkan persentase jumlah siswa yang dapat menjawab benar butir soal yang mengukur indikator tersebut pada saat posttest dapat dilihat pada Tabel 2.

7 Baca lebih lajut

PENGUASAAN KONSEP DAN FAKTA ASAS DARAB

PENGUASAAN KONSEP DAN FAKTA ASAS DARAB

Peringkat-peringkat perwakilan dalam teori Perkembangan Kognitif Bruner menawarkan peningkatan secara beransur-ansur bagaimana idea boleh dipersembahkan untuk membantu pelajar mendapatkan pengetahuan dan berkomunikasi dengan maklumat baru. Dalam teori Bruner, terdapat 3 peringkat yang boleh digunakan untuk mewakilkan konsep-konsep yang dipelajari; peringkat enaktif, peringkat ikonik dan peringkat simbol (Bruner, 1966). Pertama, peringkat enaktif adalah bentuk persembahan di mana idea diwakilkan dengan objek-objek sebenar yang terdapat di persekitaran pelajar. Objek-objek konkrit boleh digunakan untuk mempersembahkan konsep-konsep khusus sementara pelajar untuk memodelkan pemikiran mereka. Pada peringkat awal, kanak-kanak kebiasaannya belajar melalui peringkat enaktif. Peringkat ini adalah serupa dengan peringkat deria motor iaitu untuk memahami berinteraksi dengan persekitarannya. Banyak aktiviti yang dilakukan adalah berdasarkan kepada pergerakan anggota kanak-kanak itu sendiri. Kanak-kanak mudah mempelajari apa sahaja pada peringkat ini. Pada peringkat ini, kanak-kanak haruslah diberi pengalaman yang kukuh tentang sesuatu pembelajaran supaya semua aktiviti yang dipelajarinya tersimpan dalam jangka masa yang panjang. Menurut Nicole (2001), pada peringkat enaktif kanak-kanak seharusnya mempunyai pengalaman konkrit untuk memahami sesuatu konsep seperti memegang, meneroka bahan dan mengubahsuai bahan.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP MATRIKS ME

PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP MATRIKS ME

Berdasarkan permasalahan tersebut maka tim lesson study (LS) mencoba menerapkan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray. Pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray merupakan model pembelajaran yang dalam proses pembelajarannya mengutamakan kerjasama kelompok, dengan jumlah anggota masing-masing kelompok adalah 4 mahasiswa (2 mahasiswa tinggal dalam kelompok dan 2 mahasiswa sebagai tamu), dalam pembelajaran ini terjadi tiga kali diskusi, sehingga diharapkan pengulangan-pengulangan yang dilakukan mahasiswa dapat memperkuat konsep yang mereka miliki. Kegiatan LS dilaksanakan sebanyak 4 siklus dan setiap siklusnya terdapat 3 tahap yaitu, plan, do dan see. Kegiatan plan dilaksanakan bersama tim dengan tujuan untuk menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, SAP, LKM, bahan ajar dan media. Kegiatan do merupakan implementasi dari perangkat pembelajaran ke dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang dosen model. Sedangkan anggota tim lain yang tidak menjadi dosen model melakukan observasi aktivitas mahasiswa. Setelah pembelajaran selesai dilaksanakan, tim melakukan refleksi pembelajaran yang disebut dengan see. Dari siklus 1 sampai siklus 4 model pembelajaran yang diterapkan adalah sama, yaitu model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAME TOURNAMENT TERHADAP PENGUASAAN KONSEP EKONOMI: Kuasi Eksperimen Pada Mata Pelajaran Ekonomi SK. Memahami Konsumsi dan Investasi Pada Kelas X SMA N I Karangnunggal Tasikmalaya.

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAME TOURNAMENT TERHADAP PENGUASAAN KONSEP EKONOMI: Kuasi Eksperimen Pada Mata Pelajaran Ekonomi SK. Memahami Konsumsi dan Investasi Pada Kelas X SMA N I Karangnunggal Tasikmalaya.

Namun pada kenyataannya, masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam pengusaan konsep ekonomi materi fungsi konsumsi dan investasi. Bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar ekonomi masih rendah dan perlu ditingkatkan. Ini dapat dilihat pada hasil ujian nasional peserta didik dalam memecahkan masalah berkaitan dengan materi fungsi konsumsi dan investasi. Untuk yang menjawab benar pada materi fungsi konsumsi dan investasi pada tingkat kabupaten Tasikmalaya 71,86 %, tingkat provinsi Jawa Barat 69,09 % dan untuk tingkat nasional 64,78% (Puspendik, 2011).
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE INKUIRI TERHADAP PENGUA

PENERAPAN METODE INKUIRI TERHADAP PENGUA

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode pembelajaran inkuiri pada materi optika fisis ditinjau dari sikap ilmiah mahasiswa. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen semu dengan desain faktorial 2x2. Sampel penelitian berjumlah dua kelas yang dipilih dari populasi yang berjumlah tiga kelas dengan teknik cluster random sampling. Alat pengumpul data terdiri dari soal tes penguasaan konsep optika fisis dan angket sikap ilmiah mahasiswa. Analisis data post test penguasaan konsep optika fisis diawali dengan uji prasyarat analisis berupa uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas data menggunakan uji Levene. Uji perbedaan dua rerata yang digunakan adalah uji Kruskal Wallis k-independent sampel berbantu Program SPSS versi 16.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

t ipa 0808020 chapter3

t ipa 0808020 chapter3

3. Penguasaan konsep didefenisikan sebagai kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep, baik secara teori maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Dahar, 1996). Penguasaan konsep dalam penelitian ini adalah penguasaan siswa terhadap konsep kalor yang diukur melalui tes tertulis berbentuk pilihan ganda sebelum dan setelah pembelajaran. Tes penguasaan konsep meliputi ranah kognitif taksonomi Bloom yang dibatasi pada tingkatan ingatan (C ) pemahaman (C ), aplikasi (C ) dan analisis (C ).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN PENGARUH MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MODERATOR PERHATIAN ORANG TUA.

PENDAHULUAN PENGARUH MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MODERATOR PERHATIAN ORANG TUA.

Dari hasil penelitian Marshal yang dikutip Jaelani menunjukkan bahwa keberhasilan dalam berhitung mendukung keberhasilan dalam menyelesaikan soal cerita. Ditambahkan juga oleh Roberge dan Flexer bahwa penentu kemampuan matematika seseorang adalah penguasaan terhadap perhitungan yang didukung oleh penguasaan konsep dan kemampuan menyelesaikan soal cerita (Jaelani, 1989:5)

Baca lebih lajut

TAPPDF.COM  PDF DOWNLOAD   EJOURNAL UIN JAKARTA 1 PB

TAPPDF.COM PDF DOWNLOAD EJOURNAL UIN JAKARTA 1 PB

berdasarkan bukti dan penalaran. Melalui pembelajaran berbasis masalah, siswa tidak lagi menjadi pendengar pasif dan hanya sebagai penerima informasi saja tetapi siswa terlibat aktif dan mandiri dalam pembelajaran dengan mengasosiasikan pengetahuan mereka sebelumnya dengan pengetahuan yang baru diperoleh untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Mind map dapat sangat berperan pada tahap ini sebagai grafic organizer dalam memudahkan siswa mengasosiasikan pengetahuan mereka, mind map juga dapat menggambarkan apa yang diketahui siswa, dengan mengamati mind map yang mereka buat, dapat membuat siswa menjadi tahu informasi yang telah mereka ketahui dan informasi yang belum mereka ketahui. Ketika siswa menyadari bahwa mereka tidak mengetahui informasi tertentu yang berhubungan dengan materi pembelajaran, maka terdorong dan berusaha mencari tahu dan menemukan informasi-informasi tersebut dari berbagai sumber lain, misalnya melalui praktikum atau internet, atau media lain, langkah ini sesuai dengan karakteristik pembelajaran berbasis masalah. Pada kelas kontrol, pembelajaran berbasis masalah dilakukan tanpa bantuan mind map, dan peningkatan penguasaan konsep yang diperoleh pada kelas kontrol lebih kecil jika dibandingkan dengan peningkatan penguasaan konsep siswa pada kelas eksperimen. Hal ini mungkin salah satunya disebabkan karena siswa tidak menyadari informasi-informasi penting apa saja yang seharusnya mereka ketahui dalam pembelajaran, sehingga mereka tidak terdorong untuk mendapatkan informasi tambahan. Ketika siswa membuat mind map, siswa menuangkan apa yang mereka pikirkan dalam bentuk catatan kreatif, dengan menuliskan kata kunci, menggunakan gambar, simbol, dan warna. Proses ini dapat meningkatkan kekuatan memori siswa dalam mengingat konsep-konsep. Gambar atau simbol dalam mind map memiliki peran yang cukup penting untuk siswa dalam mengingat materi pembelajaran karena 1 gambar saja dapat memiliki banyak makna di dalamnya. Hal ini senada seperti yang diungkapkan oleh Lu et al. (2013) bahwa mind mapping adalah suatu kegiatan yang bersifat analtiik dan artistik, dibuktikan dengan n-gain penguasaan konsep siswa pada ranah C4 (analyze) di kelas eksperimen yang jauh lebih tinggi
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh Blended Learning Terhadap Pengu

Pengaruh Blended Learning Terhadap Pengu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) ada atau tidaknya pengaruh model Blended Learning terhadap penguasaan konsep siswa pada materi alat optik; 2) ada atau tidaknya pengaruh Blended Learning terhadap motivasi belajar siswa pada materi alat optik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII di SMPN 1 PAITON. Sampel yang terpilih adalah kelas VIII A dan VIII B dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Randomized Posttest only Control Group Design. Pengumpulan data dilaksanakan dengan teknik tes untuk data penguasaan konsep siswa dan teknik angket untuk data motivasi belajar siswa. Analisis data menggunakan uji t dan dilanjutkan dengan uji Tuckey. Hasil uji t penguasaan konsep didapat t hitung = 6,64 > = t tabel =1,66, menunjukkan ada
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

S KIM 0902156 Chapter1

S KIM 0902156 Chapter1

Bab IV terdiri atas empat sub bab. Sub bab pertama perbedaan peningkatan penguasaan konsep siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol menjelaskan tentang data penelitian berupa nilai pretes, postes, dan gain pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data tersebut dianalisis dan dibahas sampai didapatkan kesimpulan berupa perbedaan peningkatan penguasaan konsep siswa pada kedua kelas. Sub bab kedua yaitu penguasaan konsep siswa berdasarkan kelompok siswa, menjelaskan tentang ada tidaknya perbedaan penguasaan konsep pada kelompok siswa tinggi, sedang, dan rendah. Sub bab ketiga yaitu penguasaan konsep siswa pada setiap indikator pembelajaran, menjelaskan tentang penguasaan konsep siswa pada materi pembuatan sistem koloid terhadap setiap indikator pembelajaran yang dikembangkan. Dan sub bab tanggapan siswa terhadap metode discovery inquiry berisi hasil wawancara yang menunjukkan tanggapan siswa terhadap metode discovery inquiry.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

d ipa 0601547 table of content(1)

d ipa 0601547 table of content(1)

Tabel 4.7 Rekap Hasil Analisis Butir Soal untuk Materi Spektrometri 104 Tabel 4.8 Rekap Hasil Analisis Butir Soal untuk Materi Spektrometri 105 Tabel 4.9 Pengelompokan Prestasi Subjek Penelitian 106 Tabel 4.10 Perbandingan Penguasaan Konsep Mahasiswa Secara

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...