PENOKOHAN DAN PERWATAKAN

Top PDF PENOKOHAN DAN PERWATAKAN:

KAJIAN HUMANIORANOVEL BATAS KARYA AKMAL NASERY BASRAL

KAJIAN HUMANIORANOVEL BATAS KARYA AKMAL NASERY BASRAL

Penelitian ini difokuskan untuk menjawab rumusan masalah yaitu, 1) bagaimanakah keterjalinan antarunsur struktural yang meliputi tema, penokohan dan perwatakan, konflik dan latar di dalam novel Batas karya Akmal Nasery Basral? 2) bagaimanakah aspek humaniora di dalam novel Batas karya Akmal Nasery Basral dan representasi dengan masyarakat di perbatasan wilayah antara Indonesia dan Malaysia? Tujuan pembahasan yaitu: 1) mendeskripsikan keterkaitan antarunsur yang membangun meliputi tema, penokohan dan perwatakan, konflik dan latar; 2) mendeskripsikan aspek-aspek humaniora yang meliputi manusia dan cinta kasih, manusia dan penderitaan, manusia dan tanggung jawab, manusia dan keadilan, dan manusia dan kegelisahan, serta representasinya dengan kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Perbandingan nilai-nilai pendidikan budaya Jawa dalam novel Para Priyayi karya Umar kayam dan novel Canting karya Arswendo atmowiloto (Sebuah Telaah dengan Pendekatan Sosiologi Sastra).

Perbandingan nilai-nilai pendidikan budaya Jawa dalam novel Para Priyayi karya Umar kayam dan novel Canting karya Arswendo atmowiloto (Sebuah Telaah dengan Pendekatan Sosiologi Sastra).

Hasil temuan penelitian dengan pendekatan sosiologi sastra menunjukkan bahwa: [1] unsure-unsur struktur kedua novel tersebut yang berupa tema, penokohan dan perwatakan, setting [latar belakang], plot/alur, point of view, serta amanat secara structural memiliki persamaan dan perbedaan; [2] nilai-nilai pendidikan budaya Jawa dalam kedua novel itu sangat banyak dan memiliki beberapa kesamaan, khususnya dalam mengungkap masalah budaya Jawa, [3] beberapa kesamaan yang bisa ditemukan dalam kedua novel ini, diantaranya: tema kedua novel mengangkat tentang keluarga priyayi, bedanya novel Para Priyayi menceritakan bagaimana tokoh utamanya Sastrodarsono berjuang mengangkat derajat keluarga besarnya dari golongan wong cilik menjadi golongan priyayi, sedangkan novel Canting menceritakan perjuangan tokoh utamanya Ni untuk mempertahankan keagungan budaya Jawa di era modern ini yang dilambangkan dengan menghidupkan hasil karya batik tulis agar tetap lestari, sekaligus perjuangannya dalam memikirkan masa depan para buruhnya. Keduanya memiliki kesamaan pola dalam struktur cerita, namun sangat berbeda dalam memilih sudut pandang pengarang serta setting cerita.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

KAJIAN INTERTEKSTUAL DAN NILAI PENDIDIKAN NOVEL CANTING KARYA ARSWENDO ATMOWILOTO DENGAN PARA PRIYAYI KARYA UMAR KAYAM

KAJIAN INTERTEKSTUAL DAN NILAI PENDIDIKAN NOVEL CANTING KARYA ARSWENDO ATMOWILOTO DENGAN PARA PRIYAYI KARYA UMAR KAYAM

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa struktur novel Canting dan Para Priyayi meliputi: (1) tema; (2) alur; (3) penokohan dan perwatakan; (3) latar; (4) sudut pandang pengarang; dan (6) amanat. Dilihat dari strukturnya, kedua novel ini memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan terletak pada aspek: (1) tema, kedua novel ini bertema mengenai kehidupan keluarga besar priayi Jawa, (2) alur, kedua novel ini beralur campuran; (3) penokohan dan perwatakan, memiliki kesamaan berdasarkan peranan dan fungsi tokoh dalam cerita; dan (4) latar, latar tempat: Surakarta, latar waktu: masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, masa sebelum dan sesudah kemerdekaan, latar sosial: kehidupan masyarakat Jawa. Perbedaan kedua novel terletak pada aspek: (1) penokohan dan perwatakan, yaitu pada pekerjaan dan karakter para tokoh; (2) sudut pandang pengarang, dalam novel Canting pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga, sedangkan dalam novel Para Priyayi adalah sudut pandang orang pertama; dan (3) amanat, novel Canting adalah semangat perubahan zaman janganlah dilawan karena hanya akan menemui kekalahan, cara terbaik untuk menghadapi perubahan zaman yaitu dengan melebur diri tanpa harus kehilangan jati diri, sedangkan dalam novel Para Priyayi adalah semangat kemajuan, pengabdian kepada masyarakat, semangat kerukunan dan kekeluargaan yang ditumbuhkan dari kalangan wong cilik agar mereka pun ikut memberi warna pada kalangan priayi. Sementara itu, nilai pendidikan yang dapat diambil dari kedua novel ini disampaikan pengarang melalui sikap atau tindakan dan ungkapan atau pepatah dari para tokohnya.
Baca lebih lanjut

157 Baca lebih lajut

PENOKOHAN DALAM NOVEL GROMBOLAN GAGAK SETA KARYA ANY ASMARA.

PENOKOHAN DALAM NOVEL GROMBOLAN GAGAK SETA KARYA ANY ASMARA.

Tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan dan perubahan peristiwa dan alur yang dikisahkan. Ia secara aktif berinteraksi dengan lingkungan, baik lingkungan; sosial, alam, maupun yang lain, kesemuanya itu akan mempengaruhi sikap, watak, dan tingkah lakunya. Adanya perubahan-perubahan yang terjadi di luar dirinya dan hubungan antar manusia yang bersifat saling mempengaruhi dapat menyentuh kejiwaannya. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan dan perkembangan sikap dan watanya, baik pada awal, tengah, maupun akhir cerita sesuai dengan tuntutan koherensi cerita secara keseluruhan. Sedakan tokoh berkembang menurut Aminuddin (1995:83) adalah tokoh atau pelaku yang memiliki perubahan dan perkembangan batin dalam keseluruhan penampilannya. Namun, Aminuddin menamakannya dengan pelaku atau tokoh dinamis.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

Analisis Struktural Novel Towards Zero karya Agatha Christie serta Implementasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMK

Analisis Struktural Novel Towards Zero karya Agatha Christie serta Implementasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMK

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa novel adalah salah satu hasil karya seni yang isinya menceritakan peristiwa- peristiwa atau kejadian-kejadian pada manusia yang mana kejadian itu dapat mengubah karakter atau kepribadiannya. Unsur intrinsik dan ekstrinsik adalah unsur pembentuk terjadinya sebuah novel dimana unsur penokohan adalah yang utama karena novel tanpa penokohan, karakter dan perwatakan itu tidak akan ada. • Unsur intrinsik (tokoh / penokohan, alur, latar, tema, bahasa, amanat) Unsur intrinsik sastra merupakan unsur yang membangun cipta sastra itu dari dalam seperti tema, amanat, alur, gaya bahasa, sudut pandang dan perwatakan atau penokohan. Sedangkan unsur-unsur ekstrinsiknya merupakan unsur yang mempengaruhi karya sastra itu dari luar penciptaan karya sastra seperti faktor politik, budaya, ekonomi, sejarah, pendidikan, sosiologi dan psikologi.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN PERWATAKAN TOKOH UTAMA ROMAN BRUGUES LA MORTE KARYA GEORGES RODENBACH (KAJIAN PSIKOANALISIS).

PERKEMBANGAN PERWATAKAN TOKOH UTAMA ROMAN BRUGUES LA MORTE KARYA GEORGES RODENBACH (KAJIAN PSIKOANALISIS).

Unsur penting yang harus ada dalam suatu cerita adalah penokohan. Menurut Aminudin dalam bukunya Pengantar Apresiasi Sastra (1987: 79), tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa tersebut menjadi suatu cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh. Schmitt dan Viala (1982: 69) menguraikan bahwa penokohan adalah para tokoh yang berada dalam sebuah cerita. Pada umumnya, manusia menjadi peran utama dalam sebuah cerita, namun ada pula yang tokohnya berasal dari benda, binatang, antitas (misal keadilan, kematian, dan sebagainya). Untuk menjelaskan karakteristik dan sifat dari tokoh guna memudahkan pengidentifikasian, disebutkan Schmitt dan Viala (1982: 70):
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

ANALISIS PENOKOHAN DALAM NOVEL AYAH KARYA ANDREA HIRATA - UNWIDHA Repository

ANALISIS PENOKOHAN DALAM NOVEL AYAH KARYA ANDREA HIRATA - UNWIDHA Repository

Berdasarkan analisis penokohan dalam novel Ayah karya Andrea Hirata, dapat disimpulkan bahwa penokohan yang digunakan adalah penokohan dramatik. Penokohan dramatik meliputi teknik melukiskan bentuk lahir dari pelakon (physical description), teknik melukiskan jalan pikiran pelakon atau apa saja yang melintas dalam pikirannya (portrayal of thought stream or of conscious thought), teknik pandangan-pandangan pelakon lain dalam suatu cerita terhadap pelakon terutama itu (reactions of other to character), teknik pengarang yang menjelaskan secara langsung (direct author analysis).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

KAJIAN SEMIOTIK DARI ASPEK WATAK DAN PER

KAJIAN SEMIOTIK DARI ASPEK WATAK DAN PER

Semiotik merupakan pengenalan yang penting dan berkesan untuk memulakan suatu pengenalan pada teori dan teater. Menurut Fortier M (1997) dalam buku Theory / Theatre an Introduction, menyatakan bahawa dalam mengkaji teori semiotik sekurang- kurangnya dua perkara yang harus diberi perhatian. Pertama adalah pemahaman mengenai tanda dan makna. Dalam pemahaman mengenai tanda dan makna penekanan pada linguistik atau bahasa harus ditekankan. Perkara kedua adalah disebabkan oleh penekanan terhadap bahasa dan perlambangan keatas aktiviti yang lebih menonjol. Perwatakan adalah salah satu contoh yang boleh menjadi tanda yang akan membawa makna melalui bahasa dan aktiviti yang dilakukan.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Analisis Tokoh dan Penokohan dalam Bandha Warisan Antologi Dongeng Jawa

Analisis Tokoh dan Penokohan dalam Bandha Warisan Antologi Dongeng Jawa

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui tokoh-tokoh dalam Bandha Warisan Antologi Dongeng Jawa; (2) mendeskripsikan penokohan dalam Bandha Warisan Antologi Dongeng Jawa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah content analisis atau analisa isi. Sumber data penelitian ini adalah Bandha Warisan Antologi Dongeng Jawa. Teknik pengumpulan data penelitian ini dengan menggunakan teknik catat. Hasil analisis membuktikan, 1) Tokoh terdiri dari: (a) Tokoh Njaga Banyune Sendhang: Mbah Singa, (b) Sing Gumunggung Yen Ngglundung Ora Ditulung: Plastik Kresek, (c) Putri Sewidak Loro: Sewidak Loro, (d) Harta Karun Pak Kidang: Talun, (e) Jalma Angkara Mati Murka: Sukra, (f) Jaka Kendhil: Jaka Kendhil, (g) Manuk Bango lan Kura: Bango, (h) Mula Bukane Kutha Tulungagung: Pak Suta, (i) Sedane Prabu Dewata Cengkar: Rara Wulan, (j) Bagor lan Goni: Udin, (k) Narima Ing Pandum: Cempe, (l) Kabecikan: Rangga, (m) Rukun Agawe Santosa: Kancil, (n) Jaran Kepang: Lalang, (o) Plintheng: Wanta, (p) Dumadune Sendhang Klangkapan: Tunggul Wana, (q) Kedhung Maya: Dewi Maya, (r) Bayi Aneh lan Rampog Sekti: Rara Anteng, (s) Dumadine Pusaka Kalamunyeng: Raden Sahid Abdul Rahman, (t) Jaka Bodho Rara Kembangsore: Jaka Bodho. 2) Penokohan terdiri dari: (a) Tokoh Mbah Singa: baik, perkasa, cerdik, bijaksana, (b) Plastik Kresek: baik, pengertian, setia kawan, (c) Sewidak Loro: baik, sabar, (d) Talun: pemalas, (e) Sukra: baik, bijaksana, (f) Jaka Kendhil: cerdik, optimis, sabar, penyayang, (g) Bango: pintar, baik, (h) Pak Suta: penyayang, pekerja keras, (i) Rara Wulan: baik, sopan, (j) Udin: baik, pintar, berbakti, (k) Cempe: kurang bersyukur, keras kepala, (l) Rangga: baik hati, (m) Kancil: cerdik, pintar, (n) Lalang: santun, baik hati, (o) Wanta: keras kepala, jujur, (p) Tunggul Wana: bijaksana, (q) Dewi Maya: baik, penyayang, tak sabaran, (r) Rara Anteng: setia, cerdik, (s) Raden Sahid Abdul Rahman: berbakti, pintar, (t) Jaka Bodho: mudah tergoda, tak sabaran.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ANALISIS PENOKOHAN DAN AMANAT DALAM NOVEL KATRESNAN KARYA SOERATMAN SASTRADIHARDJA

ANALISIS PENOKOHAN DAN AMANAT DALAM NOVEL KATRESNAN KARYA SOERATMAN SASTRADIHARDJA

Kesimpulan penelitian adalah : (1) penokohan yang digunakan dalam novel adalah tokoh protagonis, meliputi Mursiati, Marliah, Pakdhe Ngadimin, Budhe Sanikem dan Mbah Jusuf; Mursiati memiliki watak kuat, pekerja keras, mempunyai keimanan yang kuat, pantang menyerah; Marliah sebagai sahabat Mursiati mempunyai sifat sosial yang tinggi dan suka menolong; Pakhde Ngadimin sebagai paman Mursiati memiliki watak kasih sayang terhadap keluarga dan pekerja keras; Budhe Sanikem sebagai istri Pakhe Ngadimin mempunyai watak sabar dan penyayang; Mbah Jusuf sebagai nenek Mursiati mempunyai watak sederhana dan bijaksana; (2) amanat dalam cerita novel Katresnan adalah bahwa manusia harus bekerja keras seperti Mursiati yang berjuang dari nol hingga ia sukses. Selain itu manusia juga tidak boleh menyerah walaupun dalam keadaan yang sangat sulit. Manusia juga harus selalu taat terhadap keyakinan dan kepercayaanya.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

06. B.IND. KLS 8 BAB 5

06. B.IND. KLS 8 BAB 5

Sebagian besar`dari kalian atau kalian semua tentu pernah menonton pementasan drama di sekolah/televisi/atau di kotamu. Pada saat menonton pementasan itu, pernahkan kalian hanyut dalam cerita sehingga ikut merasakan suka duka tokoh, bersimpati kepada tokoh tertentu, atau benci kepada tokoh tertentu? Untuk menanggapi pementasan drama kalian perlu menjawab berbagai hal, antara lain: Bagaimanakah watak para tokoh? Bagaimanakah latar cerita? Apa sajakah yang perlu dinilai dalam pemeranan drama? Lebih bagus lagi jika kalian dapat melihat kesesuaian antara naskah dengan pementasan. Ikutilah kegiatan pembelajaran berikut agar kamu dapat menanggapi unsur pementasan drama, khususnya mampu menangkap perwatakan tokoh yang digambarkan di pentas, mampu mendeskripsikan fungsi latar dalam pementasan drama, dan mampu menanggapi hasil pementasan drama dengan argumen yang logis.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Emosi Tokoh Utama dalam Film Sang Martir Karya Helfi Kardit: Analisis Psikologi Sastra

Emosi Tokoh Utama dalam Film Sang Martir Karya Helfi Kardit: Analisis Psikologi Sastra

Maka dari itu, psikoanalisa yang dikembangkan oleh Sigmund Freuddapat diterapkan dalam kajian kesusateraan. Penganalisisan karya sastra dengan kajian psikoanalisa Sigmund Freud dilakukan untuk mengkaji pergolakan jiwa dalam tokoh karya sastra yang juga memiliki keinginan dan kebutuhan layaknya manusia dalam kehidupan nyata. Analisis Psikoanalisa digunakan karena tokoh-tokoh dalam karya sastra merupakan sebuah cerminan dari kehidupan nyata sehingga mampu mewakili perwatakan manusia yang diaplikasikan dalam bentuk cerita.

8 Baca lebih lajut

212902549.doc 339.50KB 2015-10-12 00:17:35

212902549.doc 339.50KB 2015-10-12 00:17:35

Faktor individu yang dapat menyebabkan seseorang khususnya wanita merokok yaitu faktor watak atau ciri kepribadian tertentu. Melalui perwatakan atau ciri kepribadian yang dimiliki individu dapat menjadi dasar bahwa jika dalam menghadapi permasalahan baik itu masalah yang diakibatkan dari ulah individu itu sendiri atau orang lain maka dapat terlihat perwatakan atau ciri kepribadian yang dimiliki baik atau buruknya tergantung bagaimana cara menyikapi masalah tersebut, sebagai contohnya jika individu mempunyai kepribadian baik maka akan menyelesaikan masalah dengan menggunakan rasio atau logika berfikir beserta perasaan yang dimilikinya namun jika kepribadian yang dimiliki kurang baik maka segala penyelesaian masalah akan lebih mengutamakan naluri kemanusiawian yang tidak baik atau bertindak untuk mencoba menghindari masalah yang dihadapinya dengan mengkonsumsi rokok dengan harapan bebannya sedikit berkurang. Kematangan pribadi seseorang sangat berpengaruh terhadap pola berfikir seseorang untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

TOKOH DAN PENOKOHAN NOVEL DONYANE WONG CULIKA KARYA SUPARTO BRATA.

TOKOH DAN PENOKOHAN NOVEL DONYANE WONG CULIKA KARYA SUPARTO BRATA.

Widayanti, Sri. 2010. Tokoh dan Penokohan Novel Donyane Wong Culika Karya Suparto Brata. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa. Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Dr. Teguh Supriyanto, M.Hum. Pembimbing II: Mujimin, SPd.

1 Baca lebih lajut

KAJIAN PSIKOLOGIS PERWATAKAN TOKOH NOVEL PADA SEBUAH KAPAL KARYA NH. DINI DAN IMPLIKASINYA DALAM PENGAJARAN SASTRA DI SMP | Singal | BAHASANTODEA 5187 16969 1 PB

KAJIAN PSIKOLOGIS PERWATAKAN TOKOH NOVEL PADA SEBUAH KAPAL KARYA NH. DINI DAN IMPLIKASINYA DALAM PENGAJARAN SASTRA DI SMP | Singal | BAHASANTODEA 5187 16969 1 PB

oleh Nh. Dini dengan perwatakan yang kompleks (Complex Character). Perkembangan watak yang dimaksudkan disini adalah adanya perubahan sifat dan sikap tokoh Sri pada masa kecil berubah setelah dia berkeluarga, bersuamikan Charles Vincen. Untuk menunjukkan hal itu pertama- tama dikemukakan sifat Sri pada masa kecil seperti pemalu, tidak banyak bicara, tertutup, merasa rendah diri, dan peragu. Sri sendiri menyukai seni yang dekat dengan kehalusan. Diakui darah seni diwarisi dari ayahnya sebagai seorang pelukis. Sri tidak banyak berbicara tetapi dia adalah pengamat yang teliti mengenai peristiwa-peristiwa di sekelilingnya, teliti dan memiliki perasaan halus. Sepeti pernyataan pada data berikut, Data 1. “Sri masih seperti dulu. Tidak banyak
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KARAKTER PENOKOHAN DALAM FILM(Studi Analisis Semiotik pada Film King Kong)

KARAKTER PENOKOHAN DALAM FILM(Studi Analisis Semiotik pada Film King Kong)

Film pada umumnya mempunyai pijakan kuat pada budaya, dan menjadi cerminan sisi kehidupan keseharian manusia. Dalam penelitian ini peneliti tertarik dengan film King Kong karya Peter Jackson, yang mengisahkan tentang seekor gorila raksasa yang telah jatuh cinta pada seorang wanita.Yang kemudian keberadaannya tersebut diketahui oleh sekelompok manusia tak bertanggung jawab, dan dipisahkan dari habitatnya. Dari cerita narasi tersebut, film ini memiliki banyak pesan sosial yang akan disampaikan, yang dapat dilihat pada unsur-unsur visualisasinya, termasuk karakter penokohan yang diciptakan. Dan juga pada film ini terdapat banyak sekali unsur-unsur budaya yang merupakan representasi akan realitas sosial kontemporer.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

ANALISIS PENOKOHAN DAN LATAR DALAM ROMAN DER VORLESER KARYA BERNHARD SCHLINK.

ANALISIS PENOKOHAN DAN LATAR DALAM ROMAN DER VORLESER KARYA BERNHARD SCHLINK.

Penelitian yang kedua yang digunakan sebagai acuan peneliti adalah Kepribadian Tokoh Utama Michael Berg dalam Roman Der Vorleser karya Bernhard Schlink milik Matilda Angelina Inna maha[r]

274 Baca lebih lajut

ANALISIS TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM NOVEL SEPATU DAHLAN KARYA KHRISNA PABICHARA

ANALISIS TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM NOVEL SEPATU DAHLAN KARYA KHRISNA PABICHARA

ELECTRONIC THESIS AND DISSERTATION UNSYIAH TITLE ANALISIS TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM NOVEL SEPATU DAHLAN KARYA KHRISNA PABICHARA ABSTRACT ABSTRAK.[r]

1 Baca lebih lajut

S IND 1104186 Chapter3

S IND 1104186 Chapter3

1) Pertama, peneliti akan menganalisis bagaimana struktur novel 5 Kelopak Mawar Berbisa karya Ria Jumriati. Analisis struktur novel merupakan analisis yang paling utama harus dilakukan terlebih dahulu. Analisis struktur novel membantu mempermudah analisis feminisme poskolonial, yakni dari segi alur dan pengaluran, latar, tokoh dan penokohan, dan analisis penceritaan.

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...