penyakit busuk lunak

Top PDF penyakit busuk lunak:

Pertumbuhan dan Ketahanan terhadap Penyakit Busuk Lunak pada Anggrek Phalaenopsis dengan Pemupukan dan Asam Salisilat

Pertumbuhan dan Ketahanan terhadap Penyakit Busuk Lunak pada Anggrek Phalaenopsis dengan Pemupukan dan Asam Salisilat

organisme penganggu tumbuhan melalui tanaman resisten belum memberikan hasil maksimal yang disebabkan ragam genetik ketahanan tanaman anggrek belum banyak diketahui. Induksi ketahanan dapat dilakukan melalui aplikasi agensia hayati (seperti Rhizobacteria dan non patogen) dan senyawa kimia (sintetik dan nabati) (Walter et al. 2005). Dua fungsi utama senyawa kimia yang diberikan untuk peningkatan ketahanan tanaman adalah melalui penguatan fisik tanaman seperti penebalan dinding sel dan melalui sintesis senyawa kimia yang berperan dalam proses ketahanan tanaman seperti pembentukan senyawa fitoaleksin, antioksidan dan flavonoid (Spann dan Schumann 2010). Aplikasi formula ekstrak tanaman dan SA mampu mengurangi perkembangan penyakit layu bakteri (Hartati 2012). Aplikasi SA selain berperan dalam peningkatan ketahanan juga perperan sebagai hormon pertumbuhan. Rivas et al. (2011), melaporkan adanya transgen atau mutasi gen dari fungsi efek SA pada pertumbuhan fenotipe CPR1 dengan akumulasi 2 sampai 200 kali lipat dari jumlah SA tipe liar yang menyebabkan daun menjadi lebih berwarna hijau gelap dibandingkan dengan tipe liarnya yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Tujuan dari percobaan ini yaitu mengetahui pengaruh pemberian konsentrasi pemupukan NPK (21-21-21) dan SA serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan dan ketahanan penyakit busuk lunak yang disebabkan oleh bakteri D. dadantii pada Phal. KHM 1318 dan Phal. KHM 205.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT BUSUK LUNAK PADA BUAH STROBERI (Fragaria x ananassa).

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT BUSUK LUNAK PADA BUAH STROBERI (Fragaria x ananassa).

Dalam penelitian ini tidak ditemukan bakteri patogen Erwinia carotovora atau Pseudomonas marginalis sebagai agen penyebab busuk lunak pada buah stroberi tetapi disebabkan oleh Weeksella . Bakteri Weeksella yang dapat menginfeksi buah stroberi belum ditemukan sebelumnya. Menurut Agrios (2005), bakteri dapat menyebabkan suatu penyakit pada inang apabila terjadi kontak antara patogen dengan tanaman inang. Berdasarkan identifikasi, Weeksella memproduksi acetoin yang dalam hal ini menurut (Xiao dan Xu, 2007), merupakan senyawa yang digunakan oleh bakteri untuk berasosiasi dengan tanaman. Kemampuan Weeksella menimbulkan penyakit busuk lunak diduga karena bakteri tersebut memiliki enzim pendegradasi dinding sel buah stroberi. Menurut Agrios (2005), bakteri patogen busuk lunak mampu mengekskresikan enzim pendegradasi dinding sel inang untuk menimbulkan gejala busuk lunak. Hal tersebut memungkinkan bahwa Weeksella memiliki enzim pendegradasi dinding sel buah stroberi karena buah yang terinfeksi oleh Weeksella memiliki gejala busuk lunak yang sama dengan yang disebabkan oleh bakteri patogen Erwinia carotovora atau Pseudomonas marginalis .
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Optimasi Metode PCR untuk Deteksi Pectobacterium carotovorum, Penyebab Penyakit Busuk Lunak Anggrek | Joko | Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 9813 17910 1 PB

Optimasi Metode PCR untuk Deteksi Pectobacterium carotovorum, Penyebab Penyakit Busuk Lunak Anggrek | Joko | Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 9813 17910 1 PB

Penyakit busuk lunak yang disebabkan oleh Pectobacterium carotovorum merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman anggrek. Deteksi patogen secara cepat dan akurat dapat dilakukan secara molekular menggunakan teknik Polymerase chain reaction (PCR). Optimasi metode PCR perlu dilakukan untuk mengefisienkan waktu dan penggu- naan bahan sehingga proses deteksi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menen- tukan konsentrasi DNA dengan primer maupun konsentrasi kultur murni bakteri dengan primer yang paling tepat untuk mendapatkan fragmen gen 16S rRNA. Optimasi PCR dilakukan menggunakan beberapa variasi pengenceran pada DNA, kultur murni bakteri, dan primer untuk mengamplifikasi gen 16S rRNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi yang paling optimal untuk mengamplifikasi gen 16S rRNA yaitu DNA dan primer masing-masing sebe- sar 63,4 ng/µl dan 10 pmol, sedangkan konsentrasi kultur murni dan primer sebesar 8×10 9 CFU/ml dan 10 pmol.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI DAN UJI KISARAN INANG BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT BUSUK LUNAK PADA TANAMAN NANAS (Ananas comosus L. Merr.)

KARAKTERISASI DAN UJI KISARAN INANG BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT BUSUK LUNAK PADA TANAMAN NANAS (Ananas comosus L. Merr.)

diproduksi dan diperdagangkan di pasar domestik maupun internasional. Upaya peningkatkan produksi nanas di Indonesia khususnya di Provinsi Lampung masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu kendala dalam budidaya nanas ialah adanya serangan bakteri penyebab penyakit busuk lunak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kisaran inang bakteri penyebab penyakit busuk lunak tanaman nanas di PT Nusantara Tropical Farm (NTF). Penelitian dilakukan sejak Juli sampai dengan September 2015 di Laboraturium

38 Baca lebih lajut

Pengujian Ketahanan Anggrek Phalaenopsis terhadap Penyakit Busuk Lunak yang Disebabkan oleh Erwinia carotovora Secara in Vitro.

Pengujian Ketahanan Anggrek Phalaenopsis terhadap Penyakit Busuk Lunak yang Disebabkan oleh Erwinia carotovora Secara in Vitro.

Gejala penyakit yang disebabkan oleh Erwinia carotovora pada bibit anggrek dicirikan oleh terdapatnya bercak coklat kehitaman yang lunak, berlendir disertai bau yang khas (busuk) dan terus meluas pada masa inkubasi. Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat karena pada bibit anggrek yang masih muda banyak terdapat jaringan lunak. Perlakuan dilakukan pada daun anggrek, akan tetapi dalam perkembangannya penyakit ini juga menyerang batang dan akar dengan cepat dan menyebabkan kematian pada bibit anggrek. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa semua populasi yang diuji (populasi 508, 529, 655 dan 688) merupakan populasi yang berdasarkan tingkat intensitas serangan tergolong tidak tahan terhadap serangan penyakit busuk lunak (rata-rata intensitas serangan > 20%).
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

Pengujian Ketahanan Anggrek Phalainopsis terhadap Penyakit Busuk Lunak yang disebabkan oleh Erwinia carotovora secara In Vitro

Pengujian Ketahanan Anggrek Phalainopsis terhadap Penyakit Busuk Lunak yang disebabkan oleh Erwinia carotovora secara In Vitro

teridentifikasi (dalam laboratorium) baik jenis yaitu Erwinia carotovora, maupun jumlahnya dan telah teruji dapat menginfeksi (virulen) dan menyebabkan penyakit busuk lunak (soft-rot) pada umbi kentang. Bakteri E. carotovora memiliki aktivitas pektolitik yang kuat dan dapat menyebabkan penyakit busuk lunak (Agrios 1996).

5 Baca lebih lajut

Deteksi Dan Identifikasi Erwinia Chrysanthemi Yang Berasosiasi Dengan Penyakit Busuk Lunak Pada Tanaman Kentang Di Jawa

Deteksi Dan Identifikasi Erwinia Chrysanthemi Yang Berasosiasi Dengan Penyakit Busuk Lunak Pada Tanaman Kentang Di Jawa

Patogen utama penyebab penyakit kudis adalah S. scabies yang telah dilaporkan menyebabkan lesio seperti kudis pada permukaan umbi kentang. Patogen ini dapat menginfeksi tanaman umbi-umbian yang lain diantaranya lobak, parsnip (wortel putih), bit, dan wortel. Gejala penyakit kudis pada permukaan umbi kentang bervariasi seperti corklike lesion, menonjol, dan lesio berlubang. Gejala kudis biasanya terlambat ditemukan pada akhir musim tanam atau pada saat panen. Lesio berawal dari spot kecil kecoklatan yang kemudian melebar menjadi lesio sirkular water-soaked. Lesio sirkular tersebut kemudian bersatu membentuk area kudis yang lebar. Pada kasus infeksi yang parah, lesio dapat menutupi seluruh permukaan umbi. Patogen penyebab kudis pada umbi kentang dapat bertahan pada tanah, permukaan umbi, maupun sisa-siasa tanaman. Populasi patogen dapat ditekan dengan cara melakukan rotasi tanaman bukan inang, akan tetapi tidak dapat menghilangkan keberadaanya di dalam tanah (Wharton et al. 2007).
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB BUSUK LUNAK PADA UMBI WORTEL (Daucus carota L.) VARIETAS LOKAL DI BALI.

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB BUSUK LUNAK PADA UMBI WORTEL (Daucus carota L.) VARIETAS LOKAL DI BALI.

pembatas dalam penyimpanan komoditas wortel hasil panen adalah kerentanan produk terserang penyakit pasca panen (Bachmann dan Earles, 2000). Pada umbi wortel ditemukan beberapa penyakit pasca panen, diantaranya busuk akar (Sclerotinia sp.), busuk hitam (Alternaria radicina), bercak akar (Pythium sulcatum) dan busuk lunak erwinia (Erwinia sp.) (Galati et al., 2005; Davison et al., 2007). Busuk lunak merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditemukan pada sayuran dan menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar (Bhat et al., 2010). Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan di Pasar Tradisional Badung Denpasar ditemukan beberapa umbi wortel lokal yang terserang busuk lunak. Perubahan kondisi umbi yang menjadi lembek dan berair menyebabkan umbi wortel tidak layak dipasarkan dan menyebabkan kerugian yang cukup signifikan bagi pedagang. Busuk lunak umumnya disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora sub-sp. caratovora atau Erwinia carotovora sub-sp. atroseptica (Bhat et al., 2010). Selain itu menurut penelitian Kucharek dan Bartz (2000) di Florida, penyakit busuk lunak juga dapat disebabkan oleh Pseudomonas marginalis dan bakteri dari genus Clostridium. Deak dan Farkas (2013) menyatakan adanya infeksi bakteri patogen pada bahan pangan khususnya sayuran dapat meningkatkan asosiasi bakteri kontaminan pada produk yang umumnya berasal dari kelompok Enterobacteriaceae. Menurut Rajvanski (2010), beberapa bakteri tersebut diantaranya Eschericia coli, Bacillus sp., Pseudomonas sp., Citrobacter sp., Streptococcus sp., dan Enterobacter sp.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Penyakit Tanaman Sayuran Kubis-kubisan (Crucifer).

Penyakit Tanaman Sayuran Kubis-kubisan (Crucifer).

Sayuran kubis-kubisan (crucifer), sudah menjadi kebutuhan bahan pangan pokok keseharian masyarakat Indonesia. Banyak tanaman sayuran ini di tanam di dataran tinggi, namun ada beberapa varietas yang dapat ditanam di dataran rendah. Kabutuhan sayuran terus meningkat khususnya di Bali, mengingat Bali menjadi tujuan wisata utama bagi wisatawan manca Negara maupun domestik. Restoran dan rumah makan, untuk menyajikan kebutuhan wisatawan terus meningkat, sehingga kebutuhan sayuranpun terus meningkat pula. Produksi sayuran pada areal pertanaman selalu mendapat hambatan berupa gangguan penyakit yang dapat menurunkan produksi. Untuk mengatasi hal tersebut sudah selayaknya para petani (grower) mencari solusi untuk mengatasinya. Mahasiswa merupakan pewaris masa depan bangsa yang tertarik akan budidaya sayuran harus mengatahui penyakit yang menjadi kendala dalam mempertahankan produksi tetap optimal. Pengetahuan untuk mendukung mengatasi hal tersebut di atas, adalah penyakit tanaman sayuran kubis-kubisan (crucifer), yang didalamnya berisi: sejarah penyakit, gejala penyakit, penyebab penyakit, faktor yang mempengaruhi penyakit (epidemiologi), dan cara pengendalian penyakit. Pada buku ini sudah disajikan secara lengkap materi beserta gambar gejala dan patogen, dengan harapan mahasiswa dapat dengan mudah mengadakan diagnosis penyakit di lapang maupun di laboratorium, untuk memenuhi standar kompetensi lulusan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Evaluasi Sifat Fisik Tanah Terhadap Laju Infeksi Ganoderma di Perkebunan Kelapa Sawit (Studi Kasus : PT.PD. PATI)

Evaluasi Sifat Fisik Tanah Terhadap Laju Infeksi Ganoderma di Perkebunan Kelapa Sawit (Studi Kasus : PT.PD. PATI)

Perkebunan PT. PD. PATI merupakan salah satu perkebunan milik swasta lokal yang memiliki luas areal sekitar 780 Ha yang terdiri dari 2 afdeling, yaitu Pantai Kiara Estate (PKE) 1 dan 2. Perkebunan ini telah berdiri sejak tahun 1983 dan telah memiliki kebun lainnya di daerah Rantau dan Bengkulu.Kondisi perkebunan semenjak tahun 2001 mengalami kemunduran, salah satu kemunduran yang dialami oleh pihak perkebunan adalah dalam hal produksi Tandan Buah Segar (TBS).Semenjak tahun 2001, tingkat produksi TBS mengalami penurunan sebesar 10% sampai 60% per tahun. Dimana pada tahun 2001 produksi mencapai 3,5 ton dan pada tahun 2002 produksi menurun menjadi 3,4 ton TBS. Hal ini terus berlanjut sampai tahun 2009 dimana produksi mencapai 1,5 ton. Penurunan drastis ini disebabkan oleh beberapa hal, dimana salah satunya disebabkan oleh penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) yang banyak menyerang tanaman kelapa sawit di perkebunan ini.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Sifat Fisika dan Kimia Tanah Pada Tanah Supresive Terhadap Keberadaan Ganoderma Boninensis Pada Kelapa Sawit

Sifat Fisika dan Kimia Tanah Pada Tanah Supresive Terhadap Keberadaan Ganoderma Boninensis Pada Kelapa Sawit

Gejala awal penyakit busuk pangkal batang sulit dideteksikarena perkembangannya yang sangat lambat dandikarenakan gejala eksternal berbedadengan gejala internal. Sangat mudahuntuk mengidentifikasi gejala di tanamandewasa atau saat telah membentuk tubuh buah, akibatnya penyakit menjadi lebihsulit untuk dikendalikan. Gejala utama penyakitG. boninese adalah terhambatnyapertumbuhan, warna daun menjadi hijaupucat dan busuk pada batang tanaman.Pada tanaman belum menghasilkan, gejala awal ditandai dengan menguningnya tanaman atau daun bagian bawah yang diikutidengan nekrosis yang menyebar ke seluruhdaun. Pada tanaman dewasa, semuapelepah menjadi pucat, semua daun danpelepah mengering, daun tombak tidakmembuka (terjadinya akumulasi daun tombak) serta kematian tanaman (Susanto, 2011).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Hama dan Penyakit pada Tanaman Jagung da (2)

Hama dan Penyakit pada Tanaman Jagung da (2)

Cendawan patogen penyebab penyakit busuk batang memproduksi konidia pada permukaan tanaman inangnya . Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun serangga.mPada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya, spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh dan menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria yang mampu penetrasi ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol, dan biji yang terinfeksi bila ditanam dapat
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Efektifitas Metabolit Trichoderma spp. untuk Mengendalikan Ganodermadspp. secara In Vitro

Efektifitas Metabolit Trichoderma spp. untuk Mengendalikan Ganodermadspp. secara In Vitro

yangbersifat saprofit dan akan berubah menjadi patogenik apabila bertemu dengan akar tanaman kelapa sawit yang tumbuh di dekatnya. Serangan BPB dapat terjadi sejak bibit sampai tanaman tua, tetapi gejala penyakit biasanya baru terlihat setelah bibit ditanam di lapangan. Penyakit ini dijumpai pada tanaman berumur 5 tahun. Serangan penyakit ini paling tinggi dijumpai pada umur 10-15 tahun, tetapi hal ini bervariasi tergantung pada kebersihan kebun dan sejarah tanaman di kebun tersebut. Kehilangan hasil tanaman sampai dengan 80% telah dilaporkan pada tempat-tempat yang berasal dari konversi kelapa (Direktorat Jenderal Pendidikan, 2009).
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Hama dan penyakit tanaman nanas (Ananas comosus L. Merr) di Kecamatan Ngancar, Kediri

Hama dan penyakit tanaman nanas (Ananas comosus L. Merr) di Kecamatan Ngancar, Kediri

Semakin maju dunia pertanian dan tingginya permintaan konsumen akan buah- buahan berkualitas tinggi dan berstandar internasional, membuat Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor buah memiliki tantangan yang tidak mudah dalam perdagangan buah internasional sebagai komoditas ekspor. Sebagai negara tropis, potensinya sangat besar dalam budidaya tanaman termasuk buah-buahan. Nanas merupakan salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia yang diekspor baik dalam bentuk segar, pengalengan (canning) maupun jus. Beberapa daerah penghasil nanas yaitu Subang, Bogor, dan Kediri. Areal pertanaman nanas semakin meluas, contohnya di Kediri, tepatnya di Kecamatan Ngancar. Semakin meluasnya pertanaman nanas memicu peningkatan permasalahan hama dan penyakit yang muncul. Sementara informasi tentang hama dan penyakit tanaman nanas masih belum banyak diketahui. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu mengetahui hama dan penyakit tanaman nanas di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Metode penelitian yang dilakukan terdiri dari wawancara dengan beberapa petani nanas untuk mendapatkan informasi mengenai teknik budidaya nanas setempat. Lalu dilanjutkan dengan pengamatan di lapangan, pengukuran persen tanaman terserang hama, kejadian dan keparahan penyakit, proses identifikasi di laboratorium dan pengolahan data. Beberapa hama dan penyakit yang ditemukan yaitu kutu putih Dysmicoccus brevipes (Hemiptera: Pseudococcidae), uret Lepidiota sp. (Coleoptera: Scarabaeidae), tikus Rattus sp. (Rodentia: Muridae), monyet ekor panjang Macaca fascicularis (Primata: Cercopithecidae), penyakit layu/MWP (Mealybug Wilt of Pineapple), busuk pangkal batang (Thielaviopsis sp.), hawar daun (Cladosporium sp.), bercak kelabu (Pestalotiopsis sp.), alga hijau, penyakit yang belum teridentifikasi yaitu penyakit dengan gejala D, E, H, dan L, serta satu jenis hama yang belum teridentifikasi.
Baca lebih lanjut

133 Baca lebih lajut

Landasan Teori  PEMBANGUNAN SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT PADA TANAMAN KELAPA SAWIT BERBASIS WINDOWS PHONE.

Landasan Teori PEMBANGUNAN SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT PADA TANAMAN KELAPA SAWIT BERBASIS WINDOWS PHONE.

Meskipun tergolong tanaman kuat, kelapa sawit tidak luput dari serangan hama dan penyakit. Sebagian besar hama yang menyerang adalah golongan insekta sedangkan penyakit umumnya disebabkan oleh jamur, bakteri, dan virus. Beberapa hama yang menyerang kelapa sawit yakni tungau, ulat setora, nematoda, kumbang, penggerek buah tandan, dan ulat api. Penyakit pada kelapa sawit hampir menyerang semua bagian tanaman kelapa sawit seperti timbulnya garis kuning pada daun yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum (Kiswanto, Purwanta, & Wijayanto,

21 Baca lebih lajut

INVENTARISASI PATOGEN DI PERTANAMAN NANAS (Ananas comosus L.) VARIETAS QUEEN DI DESA ASTOMULYO KECAMATAN PUNGGUR KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

INVENTARISASI PATOGEN DI PERTANAMAN NANAS (Ananas comosus L.) VARIETAS QUEEN DI DESA ASTOMULYO KECAMATAN PUNGGUR KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

maupun petani lokal untuk mendirikan perkebunan nanas di Lampung. Salah satu daerah sentra produksi nanas di Lampung adalah desa Astomulyo kecamatan Punggur Lampung Tengah dengan luas areal pertanaman 15,5 ha dan produksi mencapai 38.000 buah per ha dalam setiap musim panen. Menurut Dinas Pertanian TPH Lampung Tengah (2010), lahan perkebunan nanas di Desa Astomulyo Kecamataan Punggur Lampung Tengah merupakan lahan yang produktif. Hal ini yang menyebabkan ketertarikan petani di daerah ini untuk membudidayakan nanas sangat tinggi, sehingga membuat petani membuka lahan baru dan mengganti budidaya tanaman pangannya (padi). Varietas nanas yang banyak digunakan oleh petani yaitu varietas Queen, karena varietas Queen memiliki tekstur lebih renyah dan agak asam serta mempunyai kadar air rendah. Meningkatnya minat petani untuk berbudidaya nanas di daerah ini tidak dimbangi dengan pengetahuan budidaya nanas dengan benar terutama tentang penyakit tanaman, sehingga produksi nanas belum maksimal.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Hayati Penyakit – Penyakit yang disebabkan oleh jamur Pada Tanaman Jagung (Zea mays L. ) di Dataran Tinggi dan Rendah di Sumatera Utara

Keanekaragaman Hayati Penyakit – Penyakit yang disebabkan oleh jamur Pada Tanaman Jagung (Zea mays L. ) di Dataran Tinggi dan Rendah di Sumatera Utara

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan kasihNyalah penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Adapun judul dari skripsi ini adalah ” KEANEKARAGAMAN HAYATI PENYAKIT-PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH JAMUR PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DI DATARAN TINGGI DAN RENDAH DI SUMATERA UTARA“ yang merupakan salah satu syarat untuk dapat menempuh ujian sarjana di Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

66 Baca lebih lajut

Keefektifan Plant Growth Promoting Rhizobacteria Sebagai Pemacu Pertumbuhan dan Penghambat Penyakit Busuk Pangkal Batang (Sclerotium rolfsii Sacc.) pada Kedelai

Keefektifan Plant Growth Promoting Rhizobacteria Sebagai Pemacu Pertumbuhan dan Penghambat Penyakit Busuk Pangkal Batang (Sclerotium rolfsii Sacc.) pada Kedelai

Berdasarkan hasil ANOVA ternyata waktu perendaman berpengaruh terhadap laju pertambahan tinggi tanaman pada minggu ke-1 sampai minggu ke-4 dan nilai AUHPGC (Tabel 1). Nilai P yang dihasilkan oleh perendaman pada analisis ragam tersebut lebih kecil dibandingkan dengan taraf nyata 5%. Sedangkan mulai minggu ke-5 sampai minggu ke-7 perendaman tidak memberikan pengaruh nyata.Perendaman memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman namun bakteri tidak menunjukkan pengaruh tersebut karena bakteri PGPR (P1, B12, F8) memang tidak pernah diujikan untuk perlakuan perendaman pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. MenurutSchroth and Becker (1990 dalamYan et al.2012) metode aplikasi PGPR yang berbeda akan mempengaruhi pemacuan pertumbuhan dan penghambatan munculnya kejadian penyakit. Hal ini disebabkan karena berdasarkan hasil penelitian Wardani (2012), bakteri PGPR P1 ternyata memberikan keefektifan sebagai pemacu pertumbuhan pada tanaman tomat dengan metode aplikasi melalui penyiraman.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...