Penyesuaian Dosis

Top PDF Penyesuaian Dosis:

Evaluasi Drug Related Problems Kategori Penyesuaian Dosis Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara

Evaluasi Drug Related Problems Kategori Penyesuaian Dosis Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terapi obat pada pasien rawat inap GGK di Rumah Sakit Pelabuhan. Dari 22 pasien terdapat 42 obat yang berpotensi tidak tepat dosis berada diatas dosis terapi, yaitu pada obat saluran GI terjadi sebanyak 16 kali kejadian (38,1 %), paling banyak terjadi pada antiemetik vometa (Domperidone) terjadi 10 kali (23,81 %). Lalu diikuti obat golongan kardiovaskular terdapat 15 kali (35,71 %) kejadian, golongan kardiovaskular yang paling banyak adalah acetensa / losartan (AR Angiotensin II) terjadi 8 kali (18,05 %) dibanding obat kardiovaskular lainnya, diikuti dengan obat antiinfeksi sebanyak 7 kali (16,67 %), lalu obat antialergi Falergi (Cetrizine) sebanyak 2 kali (4,76 %), dan sisanya Obat Sistem Saraf Profenid (Ketoprofen) & obat sistem pernafasan (Codipront) masing – masing sebanyak 1 kali (2,38 %). Hasil penelitian pada kategori ini sangat berbeda dengan penelitian Stephanie Belaiche pada tahun 2010 pada RS Universitas Grenoble, dimana golongan obat yang mengalami tidak tepat dosis diatas dosis terapi adalah golongan kardiovaskular. Terdapat 24 kali (25,3 %) kejadian yang berpotensi, sementara golongan sistem GI hanya sebanyak 11 kali (13,4 %) dari 51 kejadian. Pada pemberian vometa (Domperidone) untuk semua pasien di penelitian ini, semuanya mengalami tidak tepat dosis (too high dose), hal ini harus diperhatikan dan dievaluasi ke depannya. Vometa mempunyai kandungan domperidone, dimana dalam pemakaiannya harus dikurangi dari 2-3 kali sehari menjadi 1-2 kali sehari. (Drug Information Handbook, 17th Edition)
Baca lebih lanjut

166 Baca lebih lajut

Penggunaan antihiperurisemia pada pengobatan kemoterapi geriatri berdasarkan laju filtrasi glomerulus menggunakan formula Modification of Diet in Renal Disease (MDRD) dan Cockcroft-Gault (CG) di RSUP Dr. Sardjito tahun 2010 - USD Repository

Penggunaan antihiperurisemia pada pengobatan kemoterapi geriatri berdasarkan laju filtrasi glomerulus menggunakan formula Modification of Diet in Renal Disease (MDRD) dan Cockcroft-Gault (CG) di RSUP Dr. Sardjito tahun 2010 - USD Repository

Pada penelitian ini, LFG digunakan untuk mengukur tingkat kerusakan ginjal pasien serta sebagai dasar penyesuaian dosis antihiperurisemia pada pasien kemoterapi geriatri. Filtrasi glomerulus merupakan proses penyaringan yang terjadi di glomerulus, yang menghalangi masuknya partikel dengan ukuran lebih dari 7 nanometer contohnya protein plasma. LFG adalah suatu parameter fungsi ginjal yang menggambarkan efisiensi ginjal dalam menyaring kotoran atau zat limbah yang ada dalam darah. Nilai yang didapat dari perhitungan LFG berupa volume total dari cairan yang terfiltrasi oleh glomerulus per satuan waktu.
Baca lebih lanjut

117 Baca lebih lajut

Penggunaan obat sitostatika non antibiotik pada pengobatan kemoterapi anak berdasarkan laju filtrasi glomerulus menggunakan formula schwartz dan counahan-barratt di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2010.

Penggunaan obat sitostatika non antibiotik pada pengobatan kemoterapi anak berdasarkan laju filtrasi glomerulus menggunakan formula schwartz dan counahan-barratt di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2010.

Penyesuaian regimen dosis pada pasien anak yang mengalami penurunan nilai LFG berdasarkan formula Schwartz dan Counahan-Barratt dilakukan dengan pedoman Drug Information Handbook (DIH). DIH digunakan sebagai guideline untuk mengetahui penyesuaian dosis antibiotik sitostatika berdasarkan tingkatan penurunan fungsi ginjal pasien. Penyesuaian dosis obat dalam keadaan penurunan fungsi g i n j a l , t i d a k c u k u p h a n y a d e n g a n perhitungan nilai LFG saja, melainkan dapat dilakukan dengan melibatkan nilai Body Surface Area (BSA) pasien. Hal ini dilakukan
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Penggunaan sitostatika non antibiotik pada pengobatan kemoterapi geriatri berdasarkan laju filtrasi glomerulus menggunakan formula MDRD dan CG di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2010 - USD Repository

Penggunaan sitostatika non antibiotik pada pengobatan kemoterapi geriatri berdasarkan laju filtrasi glomerulus menggunakan formula MDRD dan CG di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2010 - USD Repository

a. Potentially inappropriate prescribing of primarily renally cleared medications for older veterans affairs nursing home patients (Hanlon, et al., 2011): meneliti 1304 pasien geriatri ( ≥ 65 tahun), antara Januari 2004 sampai Juni 2005 di Community Living Centers Amerika Serikat. Desain penelitian menggunakan cohort study, tujuan penelitiannya adalah untuk memperkirakan kesesuaian peresepan obat yang ekskresi utamanya melalui ginjal, kemudian 21 jenis obat yang dikonsumsi pasien geriatri diteliti berdasarkan formula MDRD dan CG. Hasil yang didapat nilai rata-rata LFG, menurut formula CG yaitu 67 ml/min sedangkan menurut MDRD adalah 80 ml/min/1,73 m 2 . Pasien yang memerlukan penyesuaian dosis menurut formula CG sebanyak 11,89%, sedangkan MDRD hanya 5,98%.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Pola regimentasi obat antihipertensi pada pasien penyakit ginjal di instalasi rawat inap Rumkital Dr. Ramelan Surabaya - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Pola regimentasi obat antihipertensi pada pasien penyakit ginjal di instalasi rawat inap Rumkital Dr. Ramelan Surabaya - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola regimentasi obat antihipertensi pada pasien penyakit ginjal di Rumkital Dr. Ramelan Surabaya serta menganalisis DRPs terkait terapi yang diberikan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif dan retrospektif dengan sampel berupa data rekam medik kesehatan (RMK) pasien penyakit ginjal yang mendapat terapi antihipertensi di Rumkital Dr. Ramelan Surabaya periode Juni 2008 sampai Desember 2009. Dari hasil penelitian, didapatkan jenis obat antihipertensi yang digunakan adalah golongan diuretik yaitu diuretik loop (furosemid) dan diuretik hemat kalium (spironolakton), golongan ACEI (captopril, lisinopril, ramipril, dan imidapril), golongan ARBs (valsartan), golongan CCBs (nifedipin, amlodipin, dan diltiazem), golongan -bloker (atenolol dan bisoprolol), serta golongan -bloker (terazosin). Jumlah pasien yang mendapatkan terapi awal menggunakan obat antihipertensi tunggal sebanyak 5 pasien (12,5%), sedangkan 35 pasien (87,5%) mendapatkan terapi antihipertensi menggunakan kombinasi 2 sampai 4 macam obat antihipertensi. DRPs yang dapat diamati dari penelitian ini yaitu tidak dilakukan penyesuaian dosis untuk obat antihipertensi golongan diuretik loop (furosemid) sebesar 14,7% dan ACEI (ramipril) sebesar 1,3%, ketidakpatuhan pasien terhadap terapi yang diberikan dokter yaitu 3 pasien (7,5%) keluar dari rumah sakit dengan pulang paksa dan 11 pasien menolak menjalani hemodialisis (27,5%), serta kemungkinan interaksi antara obat antihipertensi dengan obat lain yang meliputi interaksi yang potensial terjadi antara ACEI dengan allopurinol, furosemid, spironolakton, KCl, antasida, digoksin, dan NSAIDs, interaksi antara furosemid dengan ranitidin, NSAIDs, dan -bloker (terazosin), serta interaksi antara ARBs (valsartan) dengan spironolakton, dan interaksi antara
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Drug Related Problems (Drps): Studi Kesesuaian Dosis Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik Di RSUP H. Adam Malik Medan Periode September 2013 – Maret 2014

Drug Related Problems (Drps): Studi Kesesuaian Dosis Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik Di RSUP H. Adam Malik Medan Periode September 2013 – Maret 2014

Golongan β – blocker merupakan salah satu obat yang sering digunakan untuk mengatasi hipertensi. Dalam distribusinya sekitar 30% terikat oleh protein dan sebesar 50% dieksresikan tidak berubah dalam urin dengan waktu paruh selama 9 – 12 jam (Ashley dan Currie , 2009). Beberapa β – blocker tidak dianjurkan untuk pasien gagal ginjal dengan atau tanpa dialisis (seperti acebutol, atenolol, nadolol, pindolol dan sotalol). Carvedilol dapat diberikan pada gagal ginjal dengan dosis harian 6,25 - 12,5 mg b.i.d, tidak tereliminasi dengan prosedur HD (non – dialyzable drugs). Namun terdapat obat yang memerlukan penyesuaian dosis seperti bisoprolol, maka penyesuaian dosis dilakukan berdasarkan nilai LFG pada pasien dengan gangguan ginjal kronik (lampiran 6) (Sukandar, 2006).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Dosis loading dibutuhkan bila secara klinis diinginkan pencapaian dosis terapeutik yang lebih cepat. Dalam keadaan normal pencapaian dosis terapeutik memakan waktu 4-5 x waktu paruh obat. Pada gagal ginjal waktu paruh beberapa jenis obat akan memanjang sehingga dibutuhkan pemberian dosis loading. Umumnya dosis loading semua pasien hampir sama tanpa memperhatikan fungsi ginjal. Akan tetapi penyesuaian dosis tetap diperlukan sesuai dengan perhitungan berdasarkan berat badan, status hidrasi dan adanya sepsis (Nasution., dkk, 2003). 2.4.2 Dosis Pemeliharaan
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN KELOMPOK OBAT PENGINDUKSI KERUSAKAN GINJAL PADA PASIEN DENGAN KREATININ DI ATAS NORMAL DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG.

PENGGUNAAN KELOMPOK OBAT PENGINDUKSI KERUSAKAN GINJAL PADA PASIEN DENGAN KREATININ DI ATAS NORMAL DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG.

Penyakit ginjal merupakan salah satu penyakit dengan tingkat prevalensi cukup tinggi di Indonesia dimana salah satu penyebabnya adalah penggunaan kelompok obat penginduksi kerusakan ginjal. Kreatinin dan ureum merupakan parameter kerusakan fungsi ginjal sehingga kreatinin di atas normal (0,6-1,2 mg/dl) merupakan salah satu indikasi adanya gangguan fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat-obat penginduksi kerusakan ginjal pada pasien dengan kreatinin di atas normal di salah satu rumah sakit di kota Bandung. Data dikumpulkan secara konkuren dan diolah secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 36 subjek penelitian 100% mendapatkan obat penginduksi kerusakan ginjal dengan persentase penggunaan obat terbanyak adalah ranitidin sebesar 35% kaptopril 19%, sefriakson 12%, furosemid 9 %, ciprofloxacin 7%, sefiksim 6%, sefadroksil 5%, mannitol 2%, omeprazol 2%, sefotaksim 2 %, dan allopurinol 1%. Dari 36 subjek penelitian, 30 orang memerlukan perlakuan khusus berupa penyesuaian dosis, 23 orang diantaranya dilakukan penyesuaian dosis, 7 orang lainnya tidak dilakukan penyesuaian dosis. Perubahan nilai klirens kreatinin dapat dilihat pada kelompok yang mendapat perlakuan khusus dengan penyesuaian dosis yaitu 16 orang mengalami kenaikan nilai klirens kreatinin yang menunjukkan fungsi ginjal mengalami perbaikan, 3 orang mengalami penurunan nilai klirens kreatinin, dan 4 orang lainnya hanya dilakukan sekali pemeriksaan. Perubahan fungsi ginjal dapat dilihat pada kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan khusus yaitu dari 7 orang 5 diantaranya mengalami kenaikan nilai klirens kreatinin 2 orang hanya dilakukan sekali pemeriksaan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

01. No Rekam medik 02. Nama Pasien 03. Jenis Kelamin - Drug Related Problems (Drps): Studi Kesesuaian Dosis Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik Di RSUP H. Adam Malik Medan Periode September 2013 – Maret 2014

01. No Rekam medik 02. Nama Pasien 03. Jenis Kelamin - Drug Related Problems (Drps): Studi Kesesuaian Dosis Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik Di RSUP H. Adam Malik Medan Periode September 2013 – Maret 2014

Daftar Obat Antihipertensi yang Memerlukan Penyesuaian Dosis pada Pasien GGK No Obat Dosis Lazim Penyesuaian dosis berdasarkan nilai LFG mL/menit >50 10 - 50... Surat Izin Pen[r]

21 Baca lebih lajut

Evaluasi Kesesuaian Dosis Obat Antihipertensi pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik di RSUD Dr. Pirngadi Medan Periode Januari - Juni 2015

Evaluasi Kesesuaian Dosis Obat Antihipertensi pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik di RSUD Dr. Pirngadi Medan Periode Januari - Juni 2015

Bila kreatinin klirens dibawah 60 mL/menit maka perlu penyesuaian dosis obat yang dikonsumsi. Penyesuaian dapat dengan cara mengurangi dosis obat atau memperpanjang interval minum obat. Penyesuaian ini bertujuan untuk mendapat efek terapeutik maksimal tanpa efek samping. Berikut beberapa macam obat antihipertensi yang perlu penyesuaian dosis saat diberikan pada pasien dengan gangguan ginjal, yaitu: golongan ACE-I (Captopril, Lisinopril, Ramipril, Benazepril, Enalapril), golongan ß-bloker (Bisoprolol dan Atenolol) dan golongan diuretik tidak perlu penyesuaian dosis (Munar dan Singh, 2007).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PROFIL PENGOBATAN DAN EVALUASI DOSISPEMBERIAN OBAT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS  Profil Pengobatan dan Evaluasi Dosis Pemberian Obat pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Periode Januari-Desember Tahun 2006.

PROFIL PENGOBATAN DAN EVALUASI DOSISPEMBERIAN OBAT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS Profil Pengobatan dan Evaluasi Dosis Pemberian Obat pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Periode Januari-Desember Tahun 2006.

Gagal ginjal adalah hilangnya fungsi ginjal. Gagal ginjal yang terjadi mendadak disebut gagal ginjal akut (GGA). Gagal ginjal yang berkaitan dengan menurunnya fungsi ginjal disebut gagal ginjal kronis (GGK) yang bisa menyebabkan kematian. Peresepan untuk penderita gagal ginjal memerlukan pengetahuan mengenai fungsi hati dan ginjal penderita, riwayat pengobatan, metabolisme dan aktivitas obat, lama kerja obat serta cara ekskresinya. Untuk pengobatan pasien gagal ginjal kronis perlu penyesuaian dosis obat oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengobatan dan evaluasi dosis pemberian obat antihipertensi, antibiotik dan AINS pada penyakit gagal ginjal kronis di RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode Januari-Desember tahun 2006.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DENGAN

HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DENGAN

Penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk dapat mempertahankan eksistensinya atau untuk bertahan hidup dan memperoleh kesejahteraan baik secara jasmani maupun rohani (Kartono dan Andri, 2001). Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik terhadap datangnya masa pensiun akan cenderung melakukan persiapan dan perencanaan yang baik sehingga dapat mengatasi atau setidaknya mengurangi kekhawatiran yang muncul sehingga pada saat masa pensiun itu tiba individu tersebut tidak lagi merasa takut, khawatir dan bingung terhadap kegiatan yang akan dilakukannya. Individu tersebut akan bersikap lebih realistik dan objektif dengan keadaan yang dialaminya dan tidak menganggap bahwa masa pensiun merupakan masa yang menakutkan, bahkan justru sebaliknya masa pensiun merupakan masa yang menyenangkan karena mempunyai banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan pasangan atau mengisi waktu dengan kegiatan dan hobi yang disenangi. Tidak adanya rasa takut, khawatir dan pandangan yang negatif tentang masa pensiun, diharapkan dapat mencegah munculnya kecemasan pada saat individu akan memasuki masa pensiun.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN SOSIAL DI SEKOLAH DAN KECEMASAN DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MAN I SALATIGA.

HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN SOSIAL DI SEKOLAH DAN KECEMASAN DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MAN I SALATIGA.

Bagi ilmu pengetahuan khususnya bidang psikologi klinis dan psikologi pendidikan hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi ilmiah, sumbangan sebagai wacana pemikiran dan informasi serta menambah wawasan pengetahuan psikologi khususnya hubungan antara penyesuaian sosial di sekolah dan kecemasan dengan prestasi belajar.

7 Baca lebih lajut

BAB II LANDASAN TEORI A. PENYESUAIAN DIRI 1. Definisi Penyesuaian Diri - Penyesuaian Diri Lansia Pasca Bercerai

BAB II LANDASAN TEORI A. PENYESUAIAN DIRI 1. Definisi Penyesuaian Diri - Penyesuaian Diri Lansia Pasca Bercerai

Berdasarkan penjabaran mengenai indikator-indikator di atas, maka yang individu yang dikatakan telah melakukan penyesuaian diri yang normal adalah inidividu yang tidak memiliki emosi yang berlebihan, pertahanan psikologis, perasaan frustrasi, rasional dan mampu mengarahkan diri, mampu untuk belajar, memanfaatkan pengalaman masa lalu, serta bersikap realistis dan objektif. Di lain pihak, karakteritik yang negatif diasosiasikan dengan perlikau maladjustive.

30 Baca lebih lajut

HUBUNGAN  ANTARA KEMANDIRIAN DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA  Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA KEMANDIRIAN DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Remaja.

Subjek penelitian adalah siswa-siswi SMP Negeri 1 Jaten Karanganyar. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster non random sampling yaitu kelas VII.A (26 siswa), VII.B (26 siswa), VII.E (25 siswa). Total subjek penelitian sebanyak 77 siswa. Metode pengumpulan data menggunakan skala kemandirian dan penyesuaian diri. Teknik analisis data menggunakan korelasi product moment.

15 Baca lebih lajut

PENYESUAIAN SOSIAL PADA SISWA AKSELERASI  Penyesuaian Sosial Pada Siswa Akselerasi.

PENYESUAIAN SOSIAL PADA SISWA AKSELERASI Penyesuaian Sosial Pada Siswa Akselerasi.

Program percepatan (akselerasi) belajar untuk siswa SD, SLTP, dan SLTA yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000, diberikan bagi siswa dengan kecerdasan dan kemampuan luar biasa untuk dapat menyelesaikan pendidikan dengan waktu lebih awal. Penyesuaian sosial di sekolah diartikan sebagai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekolah secara wajar, sehingga terjalin kepuasan bagi diri dan lingkungannya. Menjadi murid yang duduk di kelas akselerasi merupakan beban yang relatif berat, apalagi jika tidak didukung oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosialnya. Murid akselerasi harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mempertahankan prestasi di kelasnya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENYESUAIAN SOSIAL PADA SISWA AKSELERASI Penyesuaian Sosial Pada Siswa Akselerasi.

PENYESUAIAN SOSIAL PADA SISWA AKSELERASI Penyesuaian Sosial Pada Siswa Akselerasi.

Program percepatan (akselerasi) belajar untuk siswa SD, SLTP, dan SLTA yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000, diberikan bagi siswa dengan kecerdasan dan kemampuan luar biasa untuk dapat menyelesaikan pendidikan dengan waktu lebih awal. Penyesuaian sosial di sekolah diartikan sebagai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekolah secara wajar, sehingga terjalin kepuasan bagi diri dan lingkungannya. Menjadi murid yang duduk di kelas akselerasi merupakan beban yang relatif berat, apalagi jika tidak didukung oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosialnya. Murid akselerasi harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mempertahankan prestasi di kelasnya.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

ANTARA KEPATUHAN PENYESUAIAN DIRI DAN KE

ANTARA KEPATUHAN PENYESUAIAN DIRI DAN KE

Selain itu kemampuan perempuan untuk menyesuaiakan diri dengan pasangan dalam membangun keluarga termasuk menjadi bagian dari pencapaian tingkat kepuasan dalam kehidupan berumah tangga. Parker, et.,al, (2011); Schwarzwald (2008); dan Schumacher, et.,al, (2005), bahwa penyesuaian diri terhadap pasangan merupakan bagian dari kemampuan penyesuaian diri terhadap kondisi dalam diri sendiri, yang dampaknyab adalah kemampuan dalam membina hubungan baik dalam kehidupan perkawinan. Duval dan Miler (dalam Nurani, 2004), menjelaskan bahwa pasangan yang mampu menyesuaikan diri dengan baik adalah pasangan yang seimbang, bahwa masing-masing individu merasa cukup pada kemampuan komunikasi dan resolusi konflik, memiliki kesamaan aspek aktivitas waktu luang, pengasuhan anak dan seksualitas, serta lebih mementingkan kepentingan keluarga batih. Selain itu Schwarzwald (2008), dan Hurlock (2005), menjelaskan bahwa pasangan yang mampu menyesuaikan diri dengan baik adalah pasangan yang mampu membina hubungan harmonis. Pasangan harmonis cenderung merasa puas dengan pasangannya, dapat mengekspresikan kasih sayang yang ditunjukkan serta hubungan seksual dengan baik, meskipun pada satu sisi menganggap anak sebagai hambatan dalam hubungan (Schwarzwald, 2008). E. Kesimpulan
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

MEMAHAMI BESARAN DAN SATUAN DALAM PROTEKSI RADIASI - e-Repository BATAN

MEMAHAMI BESARAN DAN SATUAN DALAM PROTEKSI RADIASI - e-Repository BATAN

Besaran operasional digunakan pada dosimeter perorangan untuk memantau dosis radiasi yang diterima oleh seorang pekerja radiasi, dan juga pada surveimeter untuk memantau dosis radiasi pada suatu daerah kerja radiasi. Untuk dosimeter perorangan besaran yang digunakan adalah dosis tara perorangan, Hp(d), dengan d adalah kedalaman dari permukaan tubuh yang diberikan dalam 10 mm untuk radiasi dengan daya tembus kuat seperti gamma dan neutron, 3 mm untuk radiasi yang dapat menembus lensa mata, dan 0,07 mm untuk radiasi dengan daya tembus lemah seperti beta dan sinar-X lemah. Ketiga jenis dosis tara
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 8404 documents...