Perasan bawang putih

Top PDF Perasan bawang putih:

DAYA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium Sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans

DAYA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium Sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans

Tujuan umum dari penelitian ini adalah : membuktikan adanya efek antijamur pada perasan bawang putih (Allium sativum) sebagai salah satu tanaman obat. Sedangkan tujuan khususnya adalah : 1). Mengetahui daya hambat perasan bawang putih dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans. 2). Mengetahui perbedaan antara konsentrasi perasan bawang putih (Allium sativum) 100%, 50%, 25%, dan 12,5% dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans.

18 Baca lebih lajut

DAYA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium Sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans

DAYA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium Sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans

Penelitian eksperimental laboratories tentang daya hambat perasan bawang putih (Allium sativum) terhadap Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan konsentrasi perasan bawang putih (Allium sativum) dalam mempengaruhi daya hambat pertumbuhan Candida albicans. Rancangan penelitian yang digunakan adalah post test only control group design dengan teknik random sampling. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan suspensi Candida albicans serta perasan bawang putih dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, dan 12,5% yang ditanam pada media agar Sabouraud yang diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0 C dengan melihat pertumbuhan koloninya. Koloni Candida albicans yang tumbuh dibandingkan dengan aquadest steril sebagai kontrol negatif dan dibandingkan juga antar tiap konsentrasi untuk mengetahui perbedaannya. Hasil yang didapatkan bahwa pada masing-masing konsentrasi perasan bawang putih (Allium sativum) dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans, namun tiap-tiap konsentrasi tersebut mempunyai daya hambat yang berbeda-beda. Pada perasan bawang putih (Allium sativum) dengan konsentrasi 100% mempunyai daya hambat tertinggi, sedangkan pada perasan bawang putih (Allium sativum) dengan konsentrasi 12,5% mempunyai daya hambat yang terendah. Perbedaan daya hambat pertumbuhan Candida albicans oleh masing- masing konsentrasi perasan bawang putih disebabkan komponen zat aktif yang dikandung oleh masing-masing konsentrasi berbeda. Semakin tinggi konsentrasi, maka komponen zat aktif yang dikandungnya semakin banyak. Komponen zat aktif perasan bawang putih yang berperan sebagai antimikroba adalah allicin, allin, dan minyak atsiri.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

EFEK AIR PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn)TERHADAP PERTUMBUHAN KOLONI BAKTERI Shigelladysenteriae

EFEK AIR PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn)TERHADAP PERTUMBUHAN KOLONI BAKTERI Shigelladysenteriae

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT karena hanyadengan rahmad, hidayah dan inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan judul “Efek Antimikroba Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum L.) Terhadap Pertumbuhan Koloni Bakteri Shigella dysenteriae ” sebagai persyaratan untuk menyelesaikan studi Pendidikan Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.

25 Baca lebih lajut

UJI ZONA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Malassezia furfur PENYEBAB PANU (Tinea versicolor) SECARA IN VITRO (Studi di STIKes Insan Cendekia Medika Jombang) KARYA TULIS ILMIAH

UJI ZONA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Malassezia furfur PENYEBAB PANU (Tinea versicolor) SECARA IN VITRO (Studi di STIKes Insan Cendekia Medika Jombang) KARYA TULIS ILMIAH

Berdasarkan kerangka konseptual diatas yaitu bawang putih (Allium sativum L.) diambil umbinya kemudian dibuat perasan bawang putih (Allium sativum L.). Beberapa kosentrasi perasan bawang putih (Allium sativum L.) bertingkat yang sudah ditentukan kosentrasinya diantaranya yang digunakan 5%, 10%, 15%, dan 20%. Menggunakan metode difusi yaitu metode disc diffusion (tes Kirby-bauer) dengan kultur swab, perasan bawang putih (Allium sativum L.) ini selanjutnya digunakan sebagai uji antijamur dimana pada isolat murni jamur Malassezia furfur penyebab panu (Tinea versicolor). Suspensi jamur Malassezia furfur dioleskan menggunakan kapas lidi steril pada media Sabaraund Dextrose Agar (SDA). Kemudian cakram kertas direndam terlebih dahulu dalam larutan masing-masing kosentrasi perasan bawang putih (Allium sativum L.), kontrol positif dan negatif selama 15 menit. Kemudian cakram kertas tersebut di letakkan pada permukaan media yang telah diolesi suspensi jamur Malassezia furfur.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH PERASAN BAWANG PUTIH(Allium Sativum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococusaureus

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH PERASAN BAWANG PUTIH(Allium Sativum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococusaureus

Dalam Karya Tulis Ilmiah dengan judul ”Pengaruh Perasan Bawang Putih ( Allium Sativum L. ) terhadap pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus ”, Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna sehingga segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk menambah pengetahuan dimasa yang akan datang. Semoga KaryaTulis ini member manfaat untuk kita semua.

16 Baca lebih lajut

Daya Anti Mikroba Air Perasan Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Streptococcus Pneumonia

Daya Anti Mikroba Air Perasan Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Streptococcus Pneumonia

Hasil penelitian dan pembahasan: Hasil penelitian KHM (Kadar Hambat Minimum) pada konsentrasi 3,125%, sedangkan KBM (Kadar Bunuh Minimum) pada konsentrasi 3,125%. Hasil uji one way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara perlakuan 0,000<p(0,05) pada jumlah koloni. Analisis korelasi Pearson didapatkan(r=-,894) artinya peningkatan konsentrasi air person bawang putih akan menurunkan jumlah koloni, nilai korelasinya kuat.

27 Baca lebih lajut

Interaksi Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) Dengan Gentamisin Dalam Menghambat Pertumbuhan Koloni Staphylococcus aureus Sebagai Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial Pada Luka Bakar Secara In Vitro.

Interaksi Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) Dengan Gentamisin Dalam Menghambat Pertumbuhan Koloni Staphylococcus aureus Sebagai Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial Pada Luka Bakar Secara In Vitro.

Salah satu obat tradisional yang sering digunakan adalah bawang putih karena khasiatnya yang begitu banyak dan harganya yang terjangkau. Bawang putih telah digunakan sejak zaman dahulu di India dan China dengan efek yang menguntungkan untuk jantung dan sirkulasi, penyakit kardiovaskular, dan penggunaan bawang putih secara teratur dapat mencegah kanker, mengobati malaria, serta meningkatkan imunitas. Bawang putih juga dianjurkan untuk mengobati asthma, kandidiasis, demam, diabetes, dan efek antibakterial terhadap kuman patogen dalam makanan seperti Salmonella, Shigella, dan Staphylococcus aureus (Daka d., 2009).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

1 Efektifitas Pemberian Perasan Bawang Putih (Allium Sativum Linn) Dosis Tunggal Terhadap Jumlah Telur Cacing Gelang (Toxocara Canis) Secara In Vivo

1 Efektifitas Pemberian Perasan Bawang Putih (Allium Sativum Linn) Dosis Tunggal Terhadap Jumlah Telur Cacing Gelang (Toxocara Canis) Secara In Vivo

Sumber : Data Primer Terolah, 2014 Hasil penelitian pada tabel 1 menunjukkan bahwa pada kelompok anjing perlakuan dengan pemberian perasan bawang putih dapat menurunkan jumlah telur cacing Toxocara canis. Dosis 0,5; 1; dan 1,5 % dapat menurunkan telur cacing Toxocara canis pada hari ke-3 setelah perlakuan. Data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis perasan bawang putih yang diberikan kepada anjing yang terinfeksi cacing Toxocara canis maka semakin rendah jumlah telur cacing Toxocara canis yang ditemukan pada feses anjing. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas pemberian perasan bawang putih dengan dosis sekali pengobatan pada hari pertama terhadap penurunan jumlah telur cacing gelang anjing (Toxocara canis) secara in vivo. Dosis sekali pemberian pada hari pertama perasan bawang putih yang digunakan pada penelitian ini sebesar 0,5; 1; dan 1,5%. Dosis tersebut engacu pada penelitian sebelumnya tentang efek antihelmintik perasan bawang putih terhadap cacing Toxocara canis pada anjing secara in- vitro. Hasil penelitiannya menunjukkan
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Interaksi Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) Dengan Gentamisin Dalam Menghambat Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Sebagai Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial Pada Luka Bakar In Vitro.

Interaksi Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) Dengan Gentamisin Dalam Menghambat Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Sebagai Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial Pada Luka Bakar In Vitro.

Bawang putih (Allium sativum) memiliki penghambatan yang berbeda antara mikroflora pencernaan yang menguntungkan dan Enterobacter yang memiliki potensi berbahaya. Aktivitas antibakteri bawang putih secara umum diakibatkan oleh allicin. Allicin berbentuk cairan dengan bau yang khas bawang putih dan bersifat mengiritasi kulit, bila direbus atau disuling akan mengalami dekomposisi (Sudarsono dkk., 1996; Harris et al., 2001).

19 Baca lebih lajut

Pengaruh Campuran Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) dan Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia swingle) Terhadap Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Secara In Vitro.

Pengaruh Campuran Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) dan Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia swingle) Terhadap Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Secara In Vitro.

Kandungan Alliin yang terdapat pada bawang putih, bila bergabung dengan enzim allinase akan bereaksi sebagai antibakteri. Adanya kandungan allicin dalam bawang putih, telah dilaporkan bahwa bawang putih lebih efektif daripada penisilin terhadap penyakit tifus dan mempunyai efek yang baik terhadap Streptococcus, Staphylococcus, Pseudomonas, Vibrio cholerae dan mikroorganisme yang berpengaruh dalam menyebabkan disentri dan enteritis (Anonymous, 2004).

15 Baca lebih lajut

ANTARAKSI BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DAN ASETOSAL DITINJAU DARI EFEK ANTITROMBOTIK PADA TIKUS PUTIH BETINA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi

ANTARAKSI BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DAN ASETOSAL DITINJAU DARI EFEK ANTITROMBOTIK PADA TIKUS PUTIH BETINA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi

Penelitian ini dilakukan dengan metode waktu perdarahan ekor tikus. Waktu perdarahan adalah waktu sejak terjadinya luka pada pembuluh darah hingga terbentuknya sumbat primer yang belum stabil, ditandai dengan berhentinya perdarahan. Dosis asetosal yang digunakan sebesar 325 mg dikonversikan kepada dosis untuk tikus sebesar 29,25 mg/kg BB dan dosis perasan bawang putih terdiri dari 3 peringkat dosis. Digunakan 56 ekor hewan uji yang dibagi sama banyak dalam 8 kelompok uji, yaitu: kelompok kontrol negatif CMC 1%, kelompok perlakuan suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 32,81 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 46,87 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 60,94 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 32,81 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 46,87 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 60,94 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB. Pemberian bahan uji dilakukan dengan cara per oral. Data dianalisis secara statistik menggunakan metode ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95% diikuti dengan uji Scheffe. Data disajikan dalam nilai rata-rata ± standar error (X ± SE).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Antaraksi bawang putih [Allium satium L.] dan asetosal ditinjau dari efek antitrombotik pada tikus putih betina.

Antaraksi bawang putih [Allium satium L.] dan asetosal ditinjau dari efek antitrombotik pada tikus putih betina.

Penelitian ini dilakukan dengan metode waktu perdarahan ekor tikus. Waktu perdarahan adalah waktu sejak terjadinya luka pada pembuluh darah hingga terbentuknya sumbat primer yang belum stabil, ditandai dengan berhentinya perdarahan. Dosis asetosal yang digunakan sebesar 325 mg dikonversikan kepada dosis untuk tikus sebesar 29,25 mg/kg BB dan dosis perasan bawang putih terdiri dari 3 peringkat dosis. Digunakan 56 ekor hewan uji yang dibagi sama banyak dalam 8 kelompok uji, yaitu: kelompok kontrol negatif CMC 1%, kelompok perlakuan suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 32,81 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 46,87 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 60,94 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 32,81 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 46,87 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 60,94 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB. Pemberian bahan uji dilakukan dengan cara per oral. Data dianalisis secara statistik menggunakan metode ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95% diikuti dengan uji Scheffe. Data disajikan dalam nilai rata-rata ± standar error (X ± SE).
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Ampas Bawang Putih dalam Pembuatan Bubuk Bawang Putih

Pemanfaatan Ampas Bawang Putih dalam Pembuatan Bubuk Bawang Putih

Pada Gambar 7 terlihat bahwa kadar air meningkat seiring dengan penambahan bawang putih segar ke dalam adonan bubuk bawang. Hal ini disebabkan oleh kandungan air dalam bawang segar yang lebih tinggi daripada ampas bawang. Ampas bawang putih yang merupakan hasil pengepresan sari bawang telah mengalami penurunan kadar air sebesar 48,73% dari kondisi awalnya. Dari hasil uji keragaman, menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata untuk penambahan bahan pengisi, konsentrasi ampas dan interaksi keduanya terhadap kadar air. Hal ini disebabkan karena adanya proses pengeringan yang berupa pengurangan air dalam bahan, baik bahan tambahan maupun bahan baku. Kadar air dalam produk tergantung pada kadar air awal, sehingga dengan waktu dan suhu pengeringan yang sama akan menyebabkan perbedaan kadar air akhir.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

SURYA AGRITAMA Volume I Nomor 1 Maret 20

SURYA AGRITAMA Volume I Nomor 1 Maret 20

Perunan nilai TPC dalam perlakuan bawang putih selama penyimpanan yang mungkin disebabkan karena aksi antimikroba bawang putih yang mempunyai zat aktif seperti allicin, sulfida Diallyl, dll Diallyl disulfida. Nilai TPC sosis tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara 0 sampai 3 hari penyimpanan. Namun terjadi peningkatan nyata dalam TPC pada hari ke-7 dan seterusnya. Peningkatan TPC disebabkan karena terjadi peningkatan jumlah mikroorganisme selama penyimpanan. Tidak ada bakteri koliform adalah semua perlakuan dan kontrol. Hal ini mungkin penanganan pembuatan sosis sudah higienis dan juga pemasakan sekitar 60° C sehingga kolifom mengalami kematian karena titik kematian dari organisme koliform adalah 57 ° C.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) SEBAGAI OVISIDA Aedes aegypti

EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) SEBAGAI OVISIDA Aedes aegypti

World Health Organization mencatat hingga saat ini sekitar 50 juta kasus demam dengue ditemukan setiap tahun, dengan jumlah kematian sekitar 25.000 pertahunnya hingga tahun 2010, terutama pada daerah tropis dan subtropis termasuk Indonesia. Bawang putih diketahui mengandung allicin, saponin dan flavonoid yang dapat menghambat daya tetas telur Aedes aegypti sehingga dapat mengendalikan populasi vektor penyakit ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak bawang putih efektif sebagai ovisida Aedes aegypti.

Baca lebih lajut

Perancangan papertoy sebagai media untuk bercerita

Perancangan papertoy sebagai media untuk bercerita

5 Suatu hari ayah Bawang Putih harus pergi berdagang ke negeri yang jauh dan meninggalkan Bawang Putih. Sejak saat itu Bawang Merah dan Ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang Putih. Bawang Putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang Merah dan Ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang Putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat Ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Efek Larvisida Ekstrak Etanol Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap culex sp.

Efek Larvisida Ekstrak Etanol Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap culex sp.

Selain itu, ekstrak etanol bawang putih dengan konsentrasi bawang putih konsentrasi 0,4%, 0,6%, 0,8%, dan 1% juga menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan dengan kontrol positif, yang berarti bahwa ekstrak etanol bawang putih memiliki efek larvisida lebih rendah daripada Temephos 1%. Hasil analisis LSD dapat dilihat pada Tabel 4.2. Perhitungan dilanjutkan dengan Probit Analysis untuk mengetahui nilai LC 50

23 Baca lebih lajut

Uji Aktivitas Antibakteri Dari Ekstrak Air Dan Etanol Bawang Putih (Allium Sativum L.) Terhadap Bakteri Gram Negatif Dan Gram Positif Yang Diisolasi Dari Udang Dogol (Metapenaeus Monoceros), Udang Lobster (Panulirus Sp), Dan Udang Rebon (Mysis Dan Acetes)

Uji Aktivitas Antibakteri Dari Ekstrak Air Dan Etanol Bawang Putih (Allium Sativum L.) Terhadap Bakteri Gram Negatif Dan Gram Positif Yang Diisolasi Dari Udang Dogol (Metapenaeus Monoceros), Udang Lobster (Panulirus Sp), Dan Udang Rebon (Mysis Dan Acetes)

diisolasi dari udang dogol (Metapenaeus monoceros), udang lobster (Panulirus sp), dan udang rebon (Mysis dan Acetes). Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental di laboratorium dengan rancangan penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola Faktorial yang terdiri dari dua faktor dan 2 ulangan. Bakteri uji sebanyak 8 isolat, isolat Gram negatif adalah Clostridium sp, Corynebacterium sp, Plesiomonas sp, dan Vibrio sp, sedangkan isolat Gram positif adalah Bacillus sp, Streptococcus sp, Staphylococcus sp dan Erysilopethrix sp. Ekstrak bawang putih yang digunakan adalah Ekstrak Murni Bawang putih yang dilarutkan dalam air dan etanol, Ektrak air bawang putih dan ekstrak etanol bawang putih. Rentang dosis yang digunakan adalah 25, 50, dan 75 % berdasarkan berat/berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih dengan berbagai pelarut dengan pengenceran tertinggi 75 % lebih memberikan pengaruh terhadap bakteri-bakteri Streptococcus sp (28.25 mm), Clostridium sp (27.75 mm) dan Plesiomonas sp (22.25 mm).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Minyak Atsiri dari Bawang Putih

Minyak Atsiri dari Bawang Putih

Minyak atsiri dapat diperoleh dari bawang putih dengan cara penyulingan. Penyulingan adalah proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan dari dua macam campuran atau lebih berdasarkan perbedaan titik uapnya dan proses ini dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air. Jumlah minyak atsiri yang menguap bersama-sama air ditentukan oleh tiga faktor, yaitu besarnya tekanan uap yang digunakan, berat molekul dari masing-masing komponen dalam minyak, dan kecepatan minyak yang keluar dari bahan.

Baca lebih lajut

Uji Kombinasi Air Perasan Biji Mahoni (Swietenia sp) dan Kulit Bawang Putih (Allium sativum) terhadap Hama Ulat Krop (Crocidolomia

Uji Kombinasi Air Perasan Biji Mahoni (Swietenia sp) dan Kulit Bawang Putih (Allium sativum) terhadap Hama Ulat Krop (Crocidolomia

Penggunaan pestisida sintetis di Indonesia diketahui telah memusnahkan berbagai jenis hama dan juga sebagian agen pengendali hayati. Oleh karena itu perlu adanya pestisida pengganti yang bersifat ramah lingkungan [7]. Tanaman atau tumbuhan yang memiliki potensi sebagai pestisida nabati umumnya memiliki karakteristik rasa pahit karena mengandung alkaloid dan terpen, selain itu juga berbau busuk dan berasa agak pedas [1]. Menurut Sastrodihardjo [7] tanaman atau tumbuhan yang dapat berpotensi sebagai pestisida untuk pengendalian hama, salah satunya adalah mahoni (Swietenia spp). Selain mahoni, bawang putih juga memiliki potensi sebagai pestisida alami atau nabati.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...