Perasan bawang putih

Top PDF Perasan bawang putih:

Interaksi Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) Dengan Gentamisin Dalam Menghambat Pertumbuhan Koloni Staphylococcus aureus Sebagai Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial Pada Luka Bakar Secara In Vitro.

Interaksi Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) Dengan Gentamisin Dalam Menghambat Pertumbuhan Koloni Staphylococcus aureus Sebagai Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial Pada Luka Bakar Secara In Vitro.

Desain penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan metode difusi cakram, yaitu dengan mengamati zona inhibisi yang dibentuk oleh air perasan bawang putih yang dikombinasikan dengan gentamisin dalam menghambat pertumbuhan koloni bakteri Staphylococcus aureus.

21 Baca lebih lajut

1 Efektifitas Pemberian Perasan Bawang Putih (Allium Sativum Linn) Dosis Tunggal Terhadap Jumlah Telur Cacing Gelang (Toxocara Canis) Secara In Vivo

1 Efektifitas Pemberian Perasan Bawang Putih (Allium Sativum Linn) Dosis Tunggal Terhadap Jumlah Telur Cacing Gelang (Toxocara Canis) Secara In Vivo

Sumber : Data Primer Terolah, 2014 Hasil penelitian pada tabel 1 menunjukkan bahwa pada kelompok anjing perlakuan dengan pemberian perasan bawang putih dapat menurunkan jumlah telur cacing Toxocara canis. Dosis 0,5; 1; dan 1,5 % dapat menurunkan telur cacing Toxocara canis pada hari ke-3 setelah perlakuan. Data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis perasan bawang putih yang diberikan kepada anjing yang terinfeksi cacing Toxocara canis maka semakin rendah jumlah telur cacing Toxocara canis yang ditemukan pada feses anjing. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas pemberian perasan bawang putih dengan dosis sekali pengobatan pada hari pertama terhadap penurunan jumlah telur cacing gelang anjing (Toxocara canis) secara in vivo. Dosis sekali pemberian pada hari pertama perasan bawang putih yang digunakan pada penelitian ini sebesar 0,5; 1; dan 1,5%. Dosis tersebut engacu pada penelitian sebelumnya tentang efek antihelmintik perasan bawang putih terhadap cacing Toxocara canis pada anjing secara in- vitro. Hasil penelitiannya menunjukkan
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

UJI ZONA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Malassezia furfur PENYEBAB PANU (Tinea versicolor) SECARA IN VITRO (Studi di STIKes Insan Cendekia Medika Jombang) KARYA TULIS ILMIAH

UJI ZONA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Malassezia furfur PENYEBAB PANU (Tinea versicolor) SECARA IN VITRO (Studi di STIKes Insan Cendekia Medika Jombang) KARYA TULIS ILMIAH

Pendahuluan: panu (Tinea versicolor) adalah salah satu penyakit kulit yang dikarenakan oleh jamur yaitu jamur Malasezia furfur. Bawang putih mempunyai kemungkinan besar untuk digunakan sebagai efek antibakteri, antifungi, antiviral, antiparasit dan antiprotozoa serta dapat membantu penyembuhan gangguan pada kulit akibat infeksi suatu mikroorganisme. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona hambat perasan bawang putih (Allium sativum L.) terhadap pertumbuhan jamur Malassezia furfur penyebab panu (Tinea versicolor). Metode: penelitian ini dalam bentuk penelitian analisa deskriptif, dengan pendekatan observasi laboratorium. Uji zona hambat antijamur menggunakan metode Disc diffusion (tes Kirby-bauer) dengan kultur swab dengan kosentrasi berbeda yaitu 5%, 10%, 15% dan 20% serta kontrol positif dan kontrol negatif. Kesimpulan: hasil penelitian ini disimpulkan bahwa perasan bawang putih (Allium sativum L.) pada kosentrasi 5% dan 10% tidak ada zona hambat sedangkan pada kosentrasi 15% dan 20% terdapat zona hambat.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

DAYA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium Sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans

DAYA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium Sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans

Penelitian eksperimental laboratories tentang daya hambat perasan bawang putih (Allium sativum) terhadap Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan konsentrasi perasan bawang putih (Allium sativum) dalam mempengaruhi daya hambat pertumbuhan Candida albicans. Rancangan penelitian yang digunakan adalah post test only control group design dengan teknik random sampling. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan suspensi Candida albicans serta perasan bawang putih dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, dan 12,5% yang ditanam pada media agar Sabouraud yang diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0 C dengan melihat pertumbuhan koloninya. Koloni Candida albicans yang tumbuh dibandingkan dengan aquadest steril sebagai kontrol negatif dan dibandingkan juga antar tiap konsentrasi untuk mengetahui perbedaannya. Hasil yang didapatkan bahwa pada masing-masing konsentrasi perasan bawang putih (Allium sativum) dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans, namun tiap-tiap konsentrasi tersebut mempunyai daya hambat yang berbeda-beda. Pada perasan bawang putih (Allium sativum) dengan konsentrasi 100% mempunyai daya hambat tertinggi, sedangkan pada perasan bawang putih (Allium sativum) dengan konsentrasi 12,5% mempunyai daya hambat yang terendah. Perbedaan daya hambat pertumbuhan Candida albicans oleh masing- masing konsentrasi perasan bawang putih disebabkan komponen zat aktif yang dikandung oleh masing-masing konsentrasi berbeda. Semakin tinggi konsentrasi, maka komponen zat aktif yang dikandungnya semakin banyak. Komponen zat aktif perasan bawang putih yang berperan sebagai antimikroba adalah allicin, allin, dan minyak atsiri.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

DAYA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium Sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans

DAYA HAMBAT PERASAN BAWANG PUTIH (Allium Sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans

Penelitian eksperimental laboratories tentang daya hambat perasan bawang putih (Allium sativum) terhadap Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan konsentrasi perasan bawang putih (Allium sativum) dalam mempengaruhi daya hambat pertumbuhan Candida albicans. Rancangan penelitian yang digunakan adalah post test only control group design dengan teknik random sampling. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan suspensi Candida albicans serta perasan bawang putih dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, dan 12,5% yang ditanam pada media agar Sabouraud yang diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0 C dengan melihat pertumbuhan koloninya. Koloni Candida albicans yang tumbuh dibandingkan dengan aquadest steril sebagai kontrol negatif dan dibandingkan juga antar tiap konsentrasi untuk mengetahui perbedaannya. Hasil yang didapatkan bahwa pada masing-masing konsentrasi perasan bawang putih (Allium sativum) dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans, namun tiap-tiap konsentrasi tersebut mempunyai daya hambat yang berbeda-beda. Pada perasan bawang putih (Allium sativum) dengan konsentrasi 100% mempunyai daya hambat tertinggi, sedangkan pada perasan bawang putih (Allium sativum) dengan konsentrasi 12,5% mempunyai daya hambat yang terendah. Perbedaan daya hambat pertumbuhan Candida albicans oleh masing- masing konsentrasi perasan bawang putih disebabkan komponen zat aktif yang dikandung oleh masing-masing konsentrasi berbeda. Semakin tinggi konsentrasi, maka komponen zat aktif yang dikandungnya semakin banyak. Komponen zat aktif perasan bawang putih yang berperan sebagai antimikroba adalah allicin, allin, dan minyak atsiri.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Interaksi Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) Dengan Gentamisin Dalam Menghambat Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Sebagai Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial Pada Luka Bakar In Vitro.

Interaksi Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) Dengan Gentamisin Dalam Menghambat Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Sebagai Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial Pada Luka Bakar In Vitro.

Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik. Metode penelitian yang digunakan adalah difusi cakram dengan melakukan pengamatan zona inhibisi yang terbentuk pada tempat pertemuan cakram gentamisin dan air perasan bawang putih yang diukur dengan menggunakan jangka sorong.

19 Baca lebih lajut

Daya Anti Mikroba Air Perasan Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Streptococcus Pneumonia

Daya Anti Mikroba Air Perasan Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Streptococcus Pneumonia

Metode penelitian: Rencana penelitian ini adalah true experiments dengan menggunakan Post test Only Control Design. Metode yang dipakai adalah dilusi tabung dengan 8 konsentrasi air perasan bawang putih: 25%, 12,50%, 6,25%, 3,125%, 1,56%, 0,78%, 0,39%, 0,19% dan 2 kontrol (kontrol bahan dan kontrol kuman). Analisis data menggunakan one way ANOVA, korelasi pearson, dan regresi linier.

27 Baca lebih lajut

Pengaruh Campuran Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) dan Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia swingle) Terhadap Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Secara In Vitro.

Pengaruh Campuran Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum) dan Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia swingle) Terhadap Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Secara In Vitro.

Metode penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik. Metode penelitian yang digunakan adalah difusi cakram dengan melakukan pengamatan zona inhibisi yang terbentuk dari campuran air perasan bawang putih dan jeruk nipis dengan Gentamisin sebagai kontrol positif.

15 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH PERASAN BAWANG PUTIH(Allium Sativum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococusaureus

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH PERASAN BAWANG PUTIH(Allium Sativum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococusaureus

Dalam Karya Tulis Ilmiah dengan judul ”Pengaruh Perasan Bawang Putih ( Allium Sativum L. ) terhadap pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus ”, Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna sehingga segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk menambah pengetahuan dimasa yang akan datang. Semoga KaryaTulis ini member manfaat untuk kita semua.

16 Baca lebih lajut

EFEK AIR PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn)TERHADAP PERTUMBUHAN KOLONI BAKTERI Shigelladysenteriae

EFEK AIR PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn)TERHADAP PERTUMBUHAN KOLONI BAKTERI Shigelladysenteriae

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT karena hanyadengan rahmad, hidayah dan inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan judul “Efek Antimikroba Air Perasan Bawang Putih (Allium sativum L.) Terhadap Pertumbuhan Koloni Bakteri Shigella dysenteriae ” sebagai persyaratan untuk menyelesaikan studi Pendidikan Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.

25 Baca lebih lajut

ANTARAKSI BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DAN ASETOSAL DITINJAU DARI EFEK ANTITROMBOTIK PADA TIKUS PUTIH BETINA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi

ANTARAKSI BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DAN ASETOSAL DITINJAU DARI EFEK ANTITROMBOTIK PADA TIKUS PUTIH BETINA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi

Penelitian ini dilakukan dengan metode waktu perdarahan ekor tikus. Waktu perdarahan adalah waktu sejak terjadinya luka pada pembuluh darah hingga terbentuknya sumbat primer yang belum stabil, ditandai dengan berhentinya perdarahan. Dosis asetosal yang digunakan sebesar 325 mg dikonversikan kepada dosis untuk tikus sebesar 29,25 mg/kg BB dan dosis perasan bawang putih terdiri dari 3 peringkat dosis. Digunakan 56 ekor hewan uji yang dibagi sama banyak dalam 8 kelompok uji, yaitu: kelompok kontrol negatif CMC 1%, kelompok perlakuan suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 32,81 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 46,87 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 60,94 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 32,81 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 46,87 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 60,94 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB. Pemberian bahan uji dilakukan dengan cara per oral. Data dianalisis secara statistik menggunakan metode ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95% diikuti dengan uji Scheffe. Data disajikan dalam nilai rata-rata ± standar error (X ± SE).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Antaraksi bawang putih [Allium satium L.] dan asetosal ditinjau dari efek antitrombotik pada tikus putih betina.

Antaraksi bawang putih [Allium satium L.] dan asetosal ditinjau dari efek antitrombotik pada tikus putih betina.

Penelitian ini dilakukan dengan metode waktu perdarahan ekor tikus. Waktu perdarahan adalah waktu sejak terjadinya luka pada pembuluh darah hingga terbentuknya sumbat primer yang belum stabil, ditandai dengan berhentinya perdarahan. Dosis asetosal yang digunakan sebesar 325 mg dikonversikan kepada dosis untuk tikus sebesar 29,25 mg/kg BB dan dosis perasan bawang putih terdiri dari 3 peringkat dosis. Digunakan 56 ekor hewan uji yang dibagi sama banyak dalam 8 kelompok uji, yaitu: kelompok kontrol negatif CMC 1%, kelompok perlakuan suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 32,81 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 46,87 mg/kg BB, kelompok perlakuan bawang putih dosis 60,94 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 32,81 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 46,87 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB, kelompok antaraksi praperlakuan bawang putih dosis 60,94 mg/kg BB diberi suspensi 1% asetosal dalam CMC 1% dosis 29,25 mg/kg BB. Pemberian bahan uji dilakukan dengan cara per oral. Data dianalisis secara statistik menggunakan metode ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95% diikuti dengan uji Scheffe. Data disajikan dalam nilai rata-rata ± standar error (X ± SE).
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Uji Aktivitas Antibakteri Dari Ekstrak Air Dan Etanol Bawang Putih (Allium Sativum L.) Terhadap Bakteri Gram Negatif Dan Gram Positif Yang Diisolasi Dari Udang Dogol (Metapenaeus Monoceros), Udang Lobster (Panulirus Sp), Dan Udang Rebon (Mysis Dan Acetes)

Uji Aktivitas Antibakteri Dari Ekstrak Air Dan Etanol Bawang Putih (Allium Sativum L.) Terhadap Bakteri Gram Negatif Dan Gram Positif Yang Diisolasi Dari Udang Dogol (Metapenaeus Monoceros), Udang Lobster (Panulirus Sp), Dan Udang Rebon (Mysis Dan Acetes)

Meskipun demikian rata-rata diameter hambat yang dibentuk oleh bakteri Gram negatif hanya pada kisaran 6,5 – 9,75 mm. Menurut Cappucino dan Sherman (1983), kisaran 6 – 10 mm menunjukkan bahwa bakteri resisten terhadap bahan uji. Dalam penelitian ini diketahui bahwa ekstrak bawang putih tidak memberikan pengaruh antibakteri yang tinggi terutama terhadap bakteri-bakteri Gram negatif. Terkecuali pada bakteri Pleisomonas yang ternyata peka terhadap ekstrak murni bawang putih yang dilarutkan dengan etanol pada rentang konsentrasi 25 hingga 75 %. Bakteri ini menunjukkan pembentukkan diameter hambat terbesar yaitu masing-masing sebesar 11 mm, 19.5 mm dan 22.25 mm.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

SURYA AGRITAMA Volume I Nomor 1 Maret 20

SURYA AGRITAMA Volume I Nomor 1 Maret 20

Nilai TBA ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Yang, et., al., (1993), yang menyatakan bahwa aktivitas antioksidan dari beberapa senyawa ekstrak dan konsentrasi bawang putih. Aktivitas antioksidan dari keempat bahan tambah secara berurutan adalah bawang putih segar> bubuk bawang putih > BHA> minyak bawang putih. Aktivitas antioksidan yang rendah pada minyak bawang putih dibandingkan dengan yang dari bawang putih segar atau bubuk bawang putih dapat dihubungkan dengan adanya senyawa sulfur yang mudah menguap selama distilasi. Beberapa penulis melaporkan bahwa minyak bawang putih atau ekstrak bawang putih tidak mengandung jumlah besar allicin, tetapi berisi berbagai produk transformasi allicin, tidak ada yang memiliki aktivitas biologis lebih baik selain bawang putih segar atau bawang putih bubuk (Lawson, Wang, & Hughes , 1991).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Efek Larvisida Ekstrak Etanol Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap culex sp.

Efek Larvisida Ekstrak Etanol Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap culex sp.

Pengujian ini menggunakan wadah gelas yang masing-masing diisi dengan 100 ml ekstrak etanol bawang putih (EEBP) dengan konsentrasi 0,4%; 0,6%; 0,8%; dan 1%, ditambah 25 ekor larva Culex sp. instar III pada masing-masing gelas. Jumlah larva Culex sp. yang mati kemudian dihitung setelah 24 jam dari waktu pemberian perlakuan.

23 Baca lebih lajut

SOAL UH TEMA 1 KLS 2

SOAL UH TEMA 1 KLS 2

Bawang Merah dan Bawang Putih Disebuah desa tinggalah seorang janda embo rondo dadapan namanya, ia memiliki dua putri.. Bawang putih adalah anak tiri mbok rondo dadapan.[r]

1 Baca lebih lajut

DASAR DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN PENYAKI

DASAR DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN PENYAKI

defisiensi hara Zn. Gejala dalam yaitu Jaringan floem tampak lebih tebal, karena adanya pengempisan pembuluh tapis dalam floem tersebut, yaitu berupa jalur-jalur putih. Bila diberi pewarna KI (Kalum Iodida) akan terlihat adanya akumulasi.

11 Baca lebih lajut

TERHAOAP TO KSISITA S KARBON TE TR A KLORIDA PADA HEPATOSIT TIKUS TERISOLASI DENGAN PARAMETER ENZIM GPT

TERHAOAP TO KSISITA S KARBON TE TR A KLORIDA PADA HEPATOSIT TIKUS TERISOLASI DENGAN PARAMETER ENZIM GPT

Hasil percobaan terakhir ini sekali lagi menunjukkan bahwa pada pemberian ekstrak bawang putih ditemukan akti- vitas enzim GPT dalam medium lebih rendah daripada yang disebabkan oleh CCl^. Efek antihepatotoksik ini masih me- merlukan pembuktian lebih lanjut, karena mungkin ekstrak bawang putih dapat menghambat enzim GPT (enzim bloking) sesuai yang dikutip H.D. Reuter (3). Untuk ini dilakukan percobaan berikutnya yaitu uji pengaruh ekstrak bawang pu­ tih pada aktivitas enzim GPT in vitro.

90 Baca lebih lajut

EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum L) SEBAGAI ZAT AKTIF PADA FORMULASI SEDIAAN GEL

EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum L) SEBAGAI ZAT AKTIF PADA FORMULASI SEDIAAN GEL

Salah satu tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri adalah bawang putih (Allium sativum L), Aplikasi bawang putih pada wajah juga mempunyai beberapa manfaat yang bisa menyembuhkan jerawat (acne vulgaris) karena bawang putih adalah antibiotik topikal, meningkatkan sirkulasi pada kulit dan mengeringkannya Manfaat lainnya yang juga sudah terbukti baik dalam pengobatan tradisional maupun dalam uji klinis modern yaitu sebagai anti spasmodik, karminatif, diaforetik, digestif, disinfektan, antipiretik, pencahar, menagog, dan ekspektoran (Benedict, 2005).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...