Perda Syariah

Top PDF Perda Syariah:

Perda Syariah Islam Rekayasa Institusion

Perda Syariah Islam Rekayasa Institusion

Intensnya perdebatan tentang Perda Syariah Islam (PSI) ini tidak lepas dari materi yang terkandung dalam topik itu sendiri, yaitu soal agama. Pertama, berbeda dengan hal-hal yang lain, di kalangan pengikutnya agama memiliki sifat yang melingkupi berbagai persoalan secara individu maupun sosial. Gagasan penerapan nilai-nilai agama dalam konteks kehidupan sosial melalui peraturan formal tidak terelakkan lagi akan mengundang komentar dan pendapat banyak pihak, karena hal itu akan memengaruhi kehidupan mereka, baik positif maupun negatif. Kedua, demikian pula dengan intensitas diskusi tersebut, faktor muatan agama telah menjadikan topik ini seolah-olah persoalan genting yang harus menjadi perhatian seluruh bangsa. Bagi para pengikutnya agama adalah persoalan ultim, atau kepentingan tertinggi yang harus didahulukan di atas persoalan lain, dan diperjuangkan serta dibela dan dipertahankan dengan segala daya dan upaya (Permata, 2000).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Eksistensi Perda Syariah Dan Relasinya D

Eksistensi Perda Syariah Dan Relasinya D

Secara lebih mendalam, perda syariah akan menimbulkan disintegrasi didalam kehidupan beragam yang mengancam persatuan bangsa. Tidak dapat dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah negara yang plural dari segi agama. Sejak dahulu founding fathers bangsa Indonesia berusaha menemukan cara agar perbedaan tidak memecahkan bangsa Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan membentuk dasar negara yang universal, pancasila. ditinjau dari sisi sejarah, dahulu terdapat perbedaan pendapat antara kaum nasionalis dan kaum agama mengenai sila pertama pancasila.Dimana dahulu muncul ide rumusan sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban Menjalankan Syaritat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya” 30 . Namun, hal ini ditolak kaum nasrani
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Perda Syariah Sebagai Output dari Sistem

Perda Syariah Sebagai Output dari Sistem

Dalam pelaksanaannya, perda syariah Aceh telah memiliki badan yang bertugas mengawasi pelaksanaan Syariat Islam, disebut Wilayatul Hisbah. Serta Penyidik yang diangkat dan diberi wewenang untuk melakukan penyidikan yang berhubungan dengan pelaksanaan Syariat Islam, yaitu pejabat kepolisian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam atau Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)

5 Baca lebih lajut

PERDA SYARIAH DAN KONFLIK SOSIAL Implika

PERDA SYARIAH DAN KONFLIK SOSIAL Implika

Tulisan ini sebagai refleksi kreatif penulis dalam memotret dinamika sosial di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan terkait lahirnya Perda No. 4 tahun 2005 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah No. 13 tahun 2003 tentang Larangan Kegiatan pada Bulan Ramadlan terhadap Hubungan antar Agama. Sebagai implikasi politik diberlakukannya otonomi daerah, maka pemerintah daerah mempunyai ‘kewenangan’ untuk membuat peraturan daerah (perda) termasuk Perda Syari’ah. Penelitian lapangan ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan kerangka teori konflik Karl Marx dan Ralf Dahrendorf. Temuan menarik dari tulisan ini adalah munculnya perda syar’iah (Perda Ramadlan) tersebut menimbulkan pro-kontra, karena cenderung dijadikan alat memperkuat kekuasaan, politisasi agama, dan diskriminasi etnis minoritas, sehingga sangat berpotensi mengundang konflik, yakni konflik vertikal (antara masyarakat versus aparat) dan konflik horizontal (masyarakat mayoritas versus minoritas) dan yang lebih tragis lagi berdampak negatif pada hubungan antar agama. Secara prinsip Perda Ramadlan secara substantif tidak memberikan dampak yang signifikan dalam hubungan antar agama di Banjarmasin, terbatasnya akses ekonomi kalangan pedagang. Meski demikian, masyarakat Banjarmasin dalam mensikapi Perda Ramadlan tersebut tidak anarkhis artinya masih mensikapi secara arif dan damai.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Implementasi berpakaian Muslim dan Muslimah dalam perspektif hukum Islam dan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2005 di kabupaten Pesisir Selatan.

Implementasi berpakaian Muslim dan Muslimah dalam perspektif hukum Islam dan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2005 di kabupaten Pesisir Selatan.

Penerapan Perda Syariah di Kabupaten Pesisir Selatan sebuah upaya yang lebih menitikberatkan pada pengalaman Rukun Islam dengan sungguh-sungguh baik dan benar, tidak lebih dari sebuah usaha untuk meningkatkan masyarakat Islam melaksanakan kewajibanya, seperti Sholat lima waktu, Zakat, Puasa, menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama, maupun undang-undang yang dikeluarkan Pemerintah seperti mabuk-mabukan, bermain api dengan urusan drugs (narkoba) serta segala sesuatu yang bertentangan dengan agama dan hukum. Terjadinya penerapan Perda Syariah di Kabupaten Pesisir Selatan karena dilihat dari mayoritas agama Islam dibandingkan Agama lainnya dan adanya peraturan dari Bupati maka terlaksana perda tersebut.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Konstruksi Wilayatul Hisbah dalam Media Massa Lokal Aceh (Analisis Framing tentang Konstruksi Wilayatul Hisbah pada Kasus Bunuh Diri Putri Erlina Langsa dalam Portal Berita Atjeh Post)

Konstruksi Wilayatul Hisbah dalam Media Massa Lokal Aceh (Analisis Framing tentang Konstruksi Wilayatul Hisbah pada Kasus Bunuh Diri Putri Erlina Langsa dalam Portal Berita Atjeh Post)

Posisi WH yang langsung terjun ke lapangan dalam penerapan perda syariah ini membuatnya menjadi perhatian masyarakat. Perlakuannya terhadap warga Aceh juga menjadi kontrol tersendiri. Sayangnya tak semua WH menjalankan dan mengerti akan tugasnya. Banyak penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan WH dan bertolak belakang dengan apa yang seharusnya terjadi. Belakangan perilaku WH semakin tak sesuai dengan tugasnya.

6 Baca lebih lajut

FORMALISASI AGAMA DI TANAH KERAWANG GORO

FORMALISASI AGAMA DI TANAH KERAWANG GORO

Ada alasan lain yang lebih mendasar mengapa Perda Syariah ini muncul, yakni karena hukum positif di Indonesia dianggap tidak mampu menjawab persoalan-persoalan yang berkaitan dengan degradasi moral. Dasar ini dipakai Pemerintah Kota Mataram, NTB guna menerbitkan Perda Renstra Nomor 1/2001 tentang Visi Kota Mataram 2015 sebagai Kota Ibadah yang Maju dan Religius. Munculnya persoalan Perda Syariah ini kemungkinan juga akan terjadi di sejumlah kabupaten/kota di Jawa, termasuk di Kota Solo. Jika kembali pada paradigma A Ubaedillah tersebut, munculnya Perda-Perda Syariah itu memberikan penjelasan bahwa arah kebijakan pemerintah daerah di daerah berpenduduk muslim mayoritas cenderung menggunakan paradigma integralistik, di mana urusan agama dan negara tidak bisa dipisahkan. Meskipun kebijakan tersebut lebih bersifat elitis sebagai manifestasi dari kepentingan elit politik di daerah tersebut dengan memanfaatkan semangat otonomi daerah
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Konstruksi Wilayatul Hisbah dalam Media Massa Lokal Aceh (Analisis Framing tentang Konstruksi Wilayatul Hisbah pada Kasus Bunuh Diri Putri Erlina Langsa dalam Portal Berita Atjeh Post)

Konstruksi Wilayatul Hisbah dalam Media Massa Lokal Aceh (Analisis Framing tentang Konstruksi Wilayatul Hisbah pada Kasus Bunuh Diri Putri Erlina Langsa dalam Portal Berita Atjeh Post)

Penerapan peraturan daerah (perda) syariah di Provinsi Aceh merupakan kebijakan yang dianggap solusi pemberian hak-hak istimewa bagi Aceh setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Dengan adanya undang- undang khusus, Aceh diberikan kewenangan untuk melakukan tindakan secara hukum positif terhadap pelanggaran syariat Islam, terutama pelanggaran- pelanggaran yang telah diatur dalam perda tersebut.

1 Baca lebih lajut

Proses Perencanaan Hingga Pengesahan Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Wajib Belajar Membaca Al-Quran Bagi Pelajar Beragama Islam Di Kabupaten Serdang Bedagai

Proses Perencanaan Hingga Pengesahan Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Wajib Belajar Membaca Al-Quran Bagi Pelajar Beragama Islam Di Kabupaten Serdang Bedagai

Tidak ada catatan yang rinci untuk memastikan kapan perda-perda yang bernuansa syariah itu muncul di Indonesia. Namun melihat perkembangannya Perda syariah mulai tumbuh ketika perdebatan panjang tentang perubahan UUD 1945, 1999, 2002 yang juga terjadi perdebatan tentang berlakunya syariah islam di Indonesia. Kemudian diterapkan di daerah khusus NAD (Nanggroe Aceh Darussalam). Hal ini menjadi lebih semarak dengan seiring menguatnya dorongan atas pelaksanaan otonomi daerah di awal-awal tahun 1999. Ditahun-tahun tersebut, bisa dikatakan sebagai era dimana Pemerintahan Daerah seperti burung yang mendapatkan kebebasannya hingga ia bisa melakukan apapun yang dibutuhkan dan disukainya. Dalam konteks kebebasan tersebut, Pemerintah lokal tidak hanya mulai membenahi diri secara struktural tapi juga melengkapi birokrasinya dengan berbagai produk Peraturan Daerah.(Santoso; 2000)
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENDAYAGUNAAN NASKAH AKADEMIK DALAM PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA (Suatu Kajian Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Mempawah, Kabupaten Kubu Raya Dan Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat). - UNS Institutional Repository

PENDAYAGUNAAN NASKAH AKADEMIK DALAM PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA (Suatu Kajian Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Mempawah, Kabupaten Kubu Raya Dan Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat). - UNS Institutional Repository

Hakikat dari otonomi daerah adalah kemampuan menyediakan ruang publik yang lebar bagi munculnya partisipasi masyarakat didalamnya, tidak hanya secara pasif dimana partisipasi tersebut ditentukan oleh struktur kekuasaan diatasnya (dan itu bukan lah partisipasi, tetapi mobilisasi), juga secara aktif dimana masyarakat memenuhi sepenuhnya atas kebutuhan – kebutuhannya, kemudian memilih, merumuskan dan mengupayakan agar dapat tercapai. 11 Dengan adanya otonomi daerah, diharapkan peran masyarakat dapat menjadi lebih besar dalam berjalannya proses pemerintahan di daerah, khususnya di dalam proses penyusunan suatu Perda. Perda menjadi salah satu instrumen yang strategis untuk mewujudkan tujuan desentralisasi. Sejak diberlakukannya ketentuan otonomi daerah dan tugas pembantuan, daerah-daerah memperoleh kewenangan yang cukup luas untuk membentuk Perda secara otonom, baik yang berkaitan dengan kebijakan fiskal maupun tatanan hidup masyarakat lokal.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Wilayah Kalimantan Bali dan Nusa Tenggara

Wilayah Kalimantan Bali dan Nusa Tenggara

Poco Ranaka Timur Perda No.. Poco Ranaka Timur Perda No.[r]

151 Baca lebih lajut

buku induk kode data dan wilayah 2013

buku induk kode data dan wilayah 2013

Palu Timur & Palu Selatan Perda No... Basse Sangtempe, Perda No.[r]

207 Baca lebih lajut

LEGISLASI SYARI’AT ISLAM MELALUI PERDA SYARIâ€

LEGISLASI SYARI’AT ISLAM MELALUI PERDA SYARIâ€

Upaya pembuatan Perda sya- riat khususnya di daerah mayoritas muslim berawal dari kegagalan upaya pelaksanaan syariat pada level nasional yang menghadapi berbagai hambatan struktural. Ula mengemukakan, ada dua cara formal untuk menerapkan syariat Islam di Indonesia, melalui amandemen konstitusi dan legislasi. Cara yang pertama diakui ula lebih sulit mencapainya, sebagaimana peng- alaman upaya memasukkan kembali "tujuh kata" dalam Piagam Jakarta ke dalam pembukaan UUD 1945 selalu mendapat perlawanan kuat. Oleh karena itu, upaya pelaksanaan syariat melalui proses di legislatif dalam bentuk Perda lebih mudah dilakukan. Upaya tersebut me- nunjukkan adanya perubahan stra- tegi upaya pelaksanaan syariat di Indonesia, dari proses top-down melalui Islamisasi konstitusi diubah dengan proses buttom-up melalui pembuatan Perda syariat pada level daerah.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

TELAAH IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK SEBAGAI WUJUD PENERAPAN PRINSIP GOOD GOVERNANCE: Studi di Kabupaten Lombok Barat dan Kota Surakarta

TELAAH IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK SEBAGAI WUJUD PENERAPAN PRINSIP GOOD GOVERNANCE: Studi di Kabupaten Lombok Barat dan Kota Surakarta

Kemunculan Perda tentang partisipasi dan transparansi tersebut terkait erat dengan kebijakan otonomi daerah. Otonomi daerah telah memberikan ruang yang cukup besar bagi daerah untuk mengatur dirinya sendiri sesuai dengan kebutuhannya masing- masing, termasuk membuat Perda.Ketika UU KIP diundangkan tahun 2008 dan mulai diberlakukan 2010, pemerintah daerah yang sudah membuat Perda harus menyesuaikan dan memperbaiki dengan membuat Perda baru. Dalam kenyataannya, membuat Perda tidak semudah membalik telapak tangan. Pembuatan Perda memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit karena perlu adanya pembahasan di tingkat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Dengan berbagai alasan, termasuk salah satunya adalah anggaran, tidak semua daerah dengan cepat merespon tuntutan UU KIP yang mewajibkan setiap badan publik memiliki Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) dan mewajibkan setiap provinsi memiliki Komisi Informasi.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

katalog perda babel 2005

katalog perda babel 2005

Perda No 7 Tahun 2007 Dicabut dengan Perda Nomor 11 Tahun 2007 3 Perda 3 28 Juni 2005 Perubahan atas Perda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Nomor 6 Tahun 2002 tentang Susunan Organi[r]

2 Baca lebih lajut

BAB 5 PENATAAN BANGUNAN LINGKUNGAN - DOCRPIJM aa0b209011 BAB VBAB 5 PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

BAB 5 PENATAAN BANGUNAN LINGKUNGAN - DOCRPIJM aa0b209011 BAB VBAB 5 PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

Tabel 5.10 Penyusunan Ranperda No Perda Terkait Dengan BG Proses Penyusunan Raperda Bangunan Gedung Perda Nama perda Kesesuai an dengan UUBG Tidak sesuai Ada Kegiat[r]

39 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...