perencanaan kebutuhan

Top PDF perencanaan kebutuhan:

Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran B

Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran B

Pengelolaan Barang Milik Daerah merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 yang diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dengan turunannya yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah. Seluruh kegiatan siklus pengelolaan Barang Milik Daerah dari mulai perencanaan kebutuhan dan penganggaran hingga pengawasan dan pengendalian merujuk pada peraturan ini, dan hingga kini belum ada aturan secara teknis yang mengatur lebih lanjut pada masing-masing tahapan pada siklus pengelolaan BMD tesebut. Hal ini menyebabkan kesulitan dari beberapa pemerintah daerah dalam menerapkan pengelolaan BMD dikarenakan ketidak seragaman prosedur yang dilaksanakan yang tidak diatur dalam aturan. Di beberapa Pemerintah Daerah, dibuat kebijakan/sisdur pengelolaan BMD untuk mengakomodir kebutuhan regulasi mengenai tata cara perencanaan dan penganggaran, penatausahaan hingga pelaporan Barang Milik Daerah. Perbedaan masing-masing kebijakan yang diterapkan di masing-masing daerah berimplikasi pada pemeriksaan oleh auditor atas manajemen aset di daerah, dimana kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah tersebut dijadikan dasar/kriteria dalam pemeriksaan. Tidak semua pemerintah daerah memiliki penafsiran yang sama atas apa yang dimaksudkan dalam aturan ini (permendagri 17 Tahun 2007), sehingga terkadang kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah sebagai sisdur atau aturan teknis pelaksanaan dalam siklus pengelolaan BMD ada yang kurang sesuai atau tidak sejalan dengan maksud yang diinginkan sebenarnya.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PERENCANAAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA DENGA

PERENCANAAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA DENGA

Terdapat pengembangan algoritma penerapan teknik shojinka pada perencanaan kebutuhan tenaga kerja di sistem produksi job shop dengan metode heuristik [4]. Algoritma mempunyai dua goal dalam menentukan jumlah tenaga kerja sesuai permintaan, yaitu meminimasi jumlah tenaga kerjanya dan meminimasi delay dari masing-masing tenaga kerja. Penelitian tersebut tidak memperhatikan aliran lini produksi dari tiap item produk yang harus diproduksi, hanya berfokus pada beban di masing-masing operasi dalam memproses sejumlah demand dari beberapa item produk. Pada penelitian ini, dengan mempertimbangkan on going schedule, jumlah tenaga kerja yang sedang dipekerjakan serta due date dan ukuran pesanan yang akan disisipkan, perencanaan kebutuhan tenaga kerja dapat dibuat dengan pendekatan teknik shojinka sekaligus menyusun penjadwalan produksi revisi. Makalah ini memaparkan algoritma penerapan teknik shojinka dalam perencanaan kebutuhan tenaga kerja dan penjadwalan produksi untuk penyisipan job dalam on going schedule pada sistem make to order untuk menghindarkan pembengkakan tenaga kerja di setiap menjelang akhir due date.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Perencanaan Kebutuhan Kapasitas Produksi pada PT. Bandar-Bunder

Perencanaan Kebutuhan Kapasitas Produksi pada PT. Bandar-Bunder

PT. Bandar Bunder adalah perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang produksi peralatan makan berbahan baku stainless steel, seperti wajan, asbak, sendok, dan garpu. PT. Bandar Bunder beroperasi berdasarkan sistem make to stock. Selama tahun 2012, PT. Bandar Bunder mengalami ketidakmampuan dalam memenuhi permintaan konsumen akan produk sendok dan garpu sebanyak 4 periode, yakni periode April 2012, Mei 2012, Juli 2012, dan Oktober 2012. Ketidakmampuan dikarenakan persediaan produk jadi yang dimiliki perusahaan tidak sesuai dengan jumlah permintaan konsumen. Ketidaksesuaian tersebut disebabkan ketidaktersediaannya kapasitas yang mampu mendukung kebutuhan produksi sesuai dengan permintaan konsumen. Permintaan yang tidak dapat terpenuhi pada periode April 2012 adalah sebanyak 8.371 unit, pada periode Mei 2012 adalah sebanyak 18.807 unit, pada periode Juli 2012 adalah sebanyak 8.234 unit, dan 1.290 unit pada periode Oktober 2012. Diketahui harga jual produk sendok/garpu adalah Rp 1.200, dan jika perusahaan terus menerus tidak dapat memenuhi permintaan maka perusahaan dapat mengalami kehilangan pendapatan sebesar Rp. 44.042.400 setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa jadwal induk produksi yang dimiliki oleh perusahaan selama ini belum sesuai dengan kapasitas produksi yang dimiliki. Oleh sebab itu perlu dilakukan perencanaan kapasitas yang sesuai dengan jadwal induk produksi agar permintaan konsumen dapat terpenuhi. Berdasarkan hasil perbandingan antara kapasitas dibutuhkan dengan kapasitas tersedia yang disajikan dalam Tabel RCCP (Rough Cut Capacity Planning), diketahui bahwa terdapat 3 work centre yang mengalami kekurangan kapasitas produksi, yaitu work centre Pemotongan Plat, Gerinda, dan Polish. Perencanaan kapasitas yang dilakukan pada work centre Pemotongan Plat adalah penyesuaian beban kerja (re-adjusment), pada work centre Gerinda dan Polish adalah dengan menambah 3 unit mesin pada masing-masing work centre dan melakukan penyesuaian beban kerja (re-adjusment). Dari hasil perencanaan kapasitas yang diusulkan dapat dilihat bahwa seluruh kebutuhan kapasitas sesuai dengan permintaan konsumen dapat terpenuhi dan meningkatkan pendapatan perusahaan dari Rp. 2.604.102.000 menjadi Rp. 3.413.019.600 atau sebesar 31,06%.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Perencanaan Kebutuhan Kapasitas Produksi pada PT. Bandar-Bunder

Perencanaan Kebutuhan Kapasitas Produksi pada PT. Bandar-Bunder

PT. Bandar Bunder adalah perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang produksi peralatan makan berbahan baku stainless steel, seperti wajan, asbak, sendok, dan garpu. PT. Bandar Bunder beroperasi berdasarkan sistem make to stock. Selama tahun 2012, PT. Bandar Bunder mengalami ketidakmampuan dalam memenuhi permintaan konsumen akan produk sendok dan garpu sebanyak 4 periode, yakni periode April 2012, Mei 2012, Juli 2012, dan Oktober 2012. Ketidakmampuan dikarenakan persediaan produk jadi yang dimiliki perusahaan tidak sesuai dengan jumlah permintaan konsumen. Ketidaksesuaian tersebut disebabkan ketidaktersediaannya kapasitas yang mampu mendukung kebutuhan produksi sesuai dengan permintaan konsumen. Permintaan yang tidak dapat terpenuhi pada periode April 2012 adalah sebanyak 8.371 unit, pada periode Mei 2012 adalah sebanyak 18.807 unit, pada periode Juli 2012 adalah sebanyak 8.234 unit, dan 1.290 unit pada periode Oktober 2012. Diketahui harga jual produk sendok/garpu adalah Rp 1.200, dan jika perusahaan terus menerus tidak dapat memenuhi permintaan maka perusahaan dapat mengalami kehilangan pendapatan sebesar Rp. 44.042.400 setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa jadwal induk produksi yang dimiliki oleh perusahaan selama ini belum sesuai dengan kapasitas produksi yang dimiliki. Oleh sebab itu perlu dilakukan perencanaan kapasitas yang sesuai dengan jadwal induk produksi agar permintaan konsumen dapat terpenuhi. Berdasarkan hasil perbandingan antara kapasitas dibutuhkan dengan kapasitas tersedia yang disajikan dalam Tabel RCCP (Rough Cut Capacity Planning), diketahui bahwa terdapat 3 work centre yang mengalami kekurangan kapasitas produksi, yaitu work centre Pemotongan Plat, Gerinda, dan Polish. Perencanaan kapasitas yang dilakukan pada work centre Pemotongan Plat adalah penyesuaian beban kerja (re-adjusment), pada work centre Gerinda dan Polish adalah dengan menambah 3 unit mesin pada masing-masing work centre dan melakukan penyesuaian beban kerja (re-adjusment). Dari hasil perencanaan kapasitas yang diusulkan dapat dilihat bahwa seluruh kebutuhan kapasitas sesuai dengan permintaan konsumen dapat terpenuhi dan meningkatkan pendapatan perusahaan dari Rp. 2.604.102.000 menjadi Rp. 3.413.019.600 atau sebesar 31,06%.
Baca lebih lanjut

200 Baca lebih lajut

307742491 Perencanaan Kebutuhan Karyawan Dan Perekrutan Calon Karyawan

307742491 Perencanaan Kebutuhan Karyawan Dan Perekrutan Calon Karyawan

Proses rekrutmen dimuali ketika recuiter mengidentifikasi lowongan pekerjaan melalui perencanaan SDM dan permintaan manajer. Rencana SDM berfungsi untuk menunjukan lowongan saat ioni dan dimasa mendatang yang akan datang sehingga recruiter akan menjadi produktif. Ketika lowongan pekerjaan telah teridentifikasi, maka para recruiter akan mempelajari dan menemukan persyaratan yang cocok dengan mereview informasi analisis pekerjaan yang juga diinformasikan kepada manajer. Ketika telah diketahui persyaratannya maka akan dapat diidentifikasi metode tepat yang bisa digunakan untuk dapat memperoleh calon pelamar yang sesuai dengan kebutuhan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perencanaan Kebutuhan Tenaga Keperawatan Di Unit Keperawatan.

Perencanaan Kebutuhan Tenaga Keperawatan Di Unit Keperawatan.

Salah satu aspek penting tercapainya mutu pelayanan di suatu rumah sakit adalah tersedianya tenaga keperawatan yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Untuk hal ini dibutuhkan kesiapan yang baik dalam membuat perencanaan terutama tentang ketenagaan. Perencanaan ketenagaan ini harus benar benar diperhitungkan sehingga tidak menimbulkan dampak pada beban kerja yang tinggi sehingga memungkinkan kualitas pelayanan akan menurun. Dan bila dibiarkan akan menyebabkan angka kunjungan klien ketempat pelayanan kesehatan akan menurun sehingga pendapatan rumah sakit juga akan menurun.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KEBUTUHAN DAN PERENCANAAN TENAGA KESEHATAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA

KEBUTUHAN DAN PERENCANAAN TENAGA KESEHATAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA

disajikan meliputi empat metode yang penggunaan- nya dapat dilakukan secara komprehensif bersamaan atau juga dapat dipilih sesuai dengan kemauan dan kemampuan. Metode tersebut adalah meliputi Meto- de Berdasarkan Kebutuhan Kesehatan (Health Need Method), yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kese- hatan yang didasarkan atas epidemiologi penyakit utama yang ada pada masyarakat. Metode Berdasar- kan Permintaan Kebutuhan Kesehatan (Health Ser- vices Method), yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan atas permintaan akibat beban pelayanan kesehatan. Metode Berdasarkan Sasaran Upaya Kesehatan Yang Ditetapkan (Health Service Targets Methods), yaitu perencanaan kebu- tuhan tenaga kesehatan yang didasarkan atas sara- na kesehatan yang ditetapkan, misalnya Puskes- mas dan Rumah Sakit. Metode Berdasarkan Rasio Terhadap Sesuatu Nilai (Ratios Method), yaitu peren- canaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasar- kan pada standar/rasio terhadap nilai tertentu 5 .
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Kesiapan Aparatur Pemerintah Desa dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah di Desa Karangsambung Kecamatan Kalibawang Kabupaten Wonosobo

Kesiapan Aparatur Pemerintah Desa dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah di Desa Karangsambung Kecamatan Kalibawang Kabupaten Wonosobo

Belum adanya perencanaan yang matang dari setiap perangkat desa Karangsambung juga terlihat pada kebutuhan-kebutuhan perangkat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, tidak adanya perencanaan ini kemudian dalam banyak hal menjadi hambatan kinerja perangkat, karena menurut mereka juga tidak memungkinkan untuk membuat perencanaan kebutuhan hal ini disebabkan karena faktor biaya yang sangat terbatas untuk desa, karena pemerintah desa tidak mempunyai pendapatan dari potensi desa walaupun ada itupun sangat minim jumlahnya karena desa Karangsambung merupakan desa agraris, akan tetapi walau demikian adanya perangkat berusaha untuk selalu melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang harus diselesaikan. Sebagai pengganti kebutuhhan yang mereka butuhkan biasanya mereka mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah di atasnya selain itu juga terkadang mereka swadaya dengan mengeluarkan dari biaya sendiri untuk pengganti kebutuhan yang dalam takaran kecil, selain itu juga karena faktor tidak adanya kewenangan dari setiap perangkat untuk membuat rencana program sebagai suatu kewenangan dalam kinerja sesuai dengan bidangnya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KUMALASARI 21020112130120 BAB VI

KUMALASARI 21020112130120 BAB VI

Perencanaan kebutuhan fasilitas umum dan sosial di kampung nelayan vertikal ini dilakukan dengan melalui pendekatan mengenai kebutuhan fasilitas umum dan sosial berdasarkan SNI-7013-2004, kemudian pendekatan kebutuhan berdasarkan perilaku / kegiatan sebagai nelayan dan pendekatan berdasarkan karakteristik kampung di Tambak Lorok. Kemudian dari hasil kebtuhan ruang yang telah diperoleh akan ditinjau kembali berdasarkan fasilitas yang sudah di kawasan tambak lorok ini. Berikut hasil dari pendekatan tersebut diatas.

7 Baca lebih lajut

PERENCANAAN KEBUTUHAN KAPASITAS PRODUKSI pada

PERENCANAAN KEBUTUHAN KAPASITAS PRODUKSI pada

Total biaya dari penambahan jam kerja lembur pada work centre Gerinda dan Polish adalah sebesar Rp. Rp. 154.218.318. Total biaya dari penambahan tiga unit mesin Gerinda dan tiga unit mesin Polish adalah sebesar Rp. 147.265.608. Jika dilihat dari perbandingan biaya yang harus dikeluarkan, biaya penambahan mesin lebih kecil dibandingkan dengan biaya penambahan jam kerja lembur. Oleh sebab itu, perencanaan kapasitas dengan penambahan mesin dapat menjadi alternatif utama.

9 Baca lebih lajut

Perencanaan Kebutuhan Pengembangan Siste (1)

Perencanaan Kebutuhan Pengembangan Siste (1)

Abstrak—Perpusda Kota XYZ merupakan organisasi nirlaba yang memberikan layanan kepada masyarat dengan menyediakan buku-buku sebagai sumber informasi. Dalam pencapaian tujuan Perpusda Kota XYZ untuk mewujudkan penyelenggaraan Perpusda sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat serta sebagai sarana sumber informasi, diperlukan rencana sistem informasi yang sejalan dengan tujuan organisasi. Kegagalan implementasi sistem informasi dalam organisasi sering terjadi akibat ketidaksesuaian sistem informasi dengan tujuan dan sasaran bisnis organisasi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan strategi pengembangan sistem informasi bagi Perpusda Kota XYZ utuk mengidentifkasi kebutuhan aplikasi yang diperlukan yang dapat mendukung tujuan organisasi. Perencanaan strategi dilakukan dengan menggunakan tools analisis seperti analisis PEST, SWOT, Value Chain, dan Business System Planning.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Perencanaan Kebutuhan Bahan Makanan (1)

Perencanaan Kebutuhan Bahan Makanan (1)

Sebuah panti wredha dengan klien berjumlah 90 orang meminta mahasiswa Prodi Gizi UMS untuk membuat menu selama 10 hari, karena belum mempunyai susunan menu yang permanen. Data yang ada untuk pembelian bahan bakar dan bahan makanan adalag Rp. 10.000/ orang/ hari. Susunlah menu sesuai denghan kaidah yang telah ditetapkan dan dana yang tersedia. B. LANGKAH-LANGKAH MENGHITUNG KEBUTUHAN BAHAN MAKANAN

25 Baca lebih lajut

2) Windy Noviyani (21020111120027) BAB I

2) Windy Noviyani (21020111120027) BAB I

Dibutuhkan adanya perencanaan dan perancangan sarana yang dapat memenuhi kebutuhan- kebutuhan seperti tersedianya suatu wadah yang dapat memfasilitasi kegiatan pertunjukan dan perhelatan seni, yang bersifat rekreatif dan edukatif dapat dinikmati oleh setiap lapisan masyarakat luas serta mampu mewadahi kegiatan yang menunjang dalam pengembangan bidang seni, seperti pertemuan antar seniman dalam bertemu karya sehingga eksistensi dan perkembangan seni di Kuningan, Jawa Barat dapat berkembang signifikan sesuai dengan perkembangan jaman.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

TA TAP 1206022 Chapter1

TA TAP 1206022 Chapter1

Bangunan Apartemen ini merupakan sebuah perencanaan Tata letak yang berada sangat strategis di kota Bandung. Letaknya yang berada di perkotaan, dapat diakses dari jalan tol Purbaleunyi, dan Tol Pasteur yang dapat ditempuh dalam waktu 8 menit dengan kendaraan. Kawasan ini dapat di akses dengan mudah dengan jarak tempuh yang tidak begitu panjang. Keberadaan Apartemen ini pun dekat dengan bandara Husein Sastranagara dengan waktu tempuh 30 menit. Di sisi lain Kota Bandung membutuhkan tempat tinggal sementara yang aman ,nyaman dan mampu memberikan kepuasan kepada mereka serta yang paling utama adalah harga hunian yang terjangkau.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

GREEN PEARL APARTEMEN.

GREEN PEARL APARTEMEN.

d) Zona Service, yaitu zona pelayanan berarti zona ini hanya digunakan sebagai tempat pelayanan atau bahkan hanya ditempati oleh orang yang melayani kebutuhan-kebutuhan pemilik bangunan tersebut. Oleh karena itu daerah ini merupakan bagian terpenting dari suatu bangunan karena menentukan beroperasinya bangunan tersebut dengan baik atau tidak. Karena berfungsinya bangunan secara efektif banyak tergantung pada daerah service ini, maka penempatan dan hubungan dengan bagian-bagian lain perlu dipelajari. Adapun syarat – syarat yang perlu diketahui untuk efisiensi dalam pemakaiannya:
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Manajemen Obat Kaitannya Dengan Ketersediaan Obat Di RSUD Dr. Hadrianus Sinaga Kabupaten Samosir Tahun 2013

Analisis Manajemen Obat Kaitannya Dengan Ketersediaan Obat Di RSUD Dr. Hadrianus Sinaga Kabupaten Samosir Tahun 2013

Maimun. A, (2008). Perencanaan Obat Antibiotik Berdasarkan Kombinasi Metode Konsumsi Dengan Analisis Abc Dan Reorder Point Terhadap Nilai Persediaan Dan Turn Over Ratio Di Instalasi Farmasi RS Darul Istiqomah Kaliwungu Kendal. Tesis Mahasiswa Pasca Sarjana IKM Konsentrasi Administrasi Rumah Sakit, Universitas Diponegoro Semarang.

Baca lebih lajut

MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKA

MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKA

Proses perencanaan pengadaan perlengkapan sekolah merupakan kegiatan yang tidak mudah, membutuhkan analisis yang teliti dan memperhatikan kualitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Ketersediaan dana juga memperhatikan skala prioritas dalam pengadaannya. Oleh karena itu, dalam proses perencanaan ini harus melibatkan semua personel sekolah agar dapat diketahui secara pasti tentang kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh sekolah, utamanya yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran di sekolah. Personel yang terlibat dalam proses perencanaan ini harus mengetahui secara pasti anggaran yang dikeluarkan oleh sekolah, harga sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Selain itu, juga harus memberikan analisis tentang skala prioritas yang dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di sekolah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Proyek - Analisis Perbandingan Teknik Pemesanan (Lotting) Material Pekerjaan Beton Metode Lot For Lot (LFL) Dengan Economic Order Quantity (EOQ)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Proyek - Analisis Perbandingan Teknik Pemesanan (Lotting) Material Pekerjaan Beton Metode Lot For Lot (LFL) Dengan Economic Order Quantity (EOQ)

Metode ini menurut Rosnani Ginting (2007) merupakan teknik lot sizing yang paling sederhana dan mudah dimengerti. Pemesanan dilakukan dengan pertimbangan minimasi ongkos simpan. Pada teknik ini, pemenuhan kebutuhan bersih dilaksanakan di setiap periode yang membutuhkannya, sedangkan ukuran besar kuantitas pemesanannya (lot size) adalah sama dengan jumlah kebutuhan bersih yang harus dipenuhi pada periode yang bersangkutan. Teknik ini biasanya digunakan untuk item-item yang mahal atau yang tingkat kontinuitas permintaanya tinggi.

Baca lebih lajut

Kata kunci : MRP, Bill Of Material, MPS, Lot For Lot (LFL), Least Unit Cost (LUC)

Kata kunci : MRP, Bill Of Material, MPS, Lot For Lot (LFL), Least Unit Cost (LUC)

Abstrak – PT XYZ bergerak dibidang funiture, dengan tingkat produksi yang terbilang cukup tinggi dan waktu rentang pemesanan yang cukup pendek. Maka, perencanaan bahan baku mutlak diperlukan guna menjamin lancarnya proses produksi. Permasalahan antara lain Sering terjadi penumpukan bahan baku. Tidak ada jadwal pembelian bahan baku. Hal ini tanpa disadari perusahaan akan menimbulkan kerugian- kerugian, baik berupa kerusakan bahan bila terlalu lama disimpan dan menimbulkan masalah biaya-biaya yang seharusnya dapat diminimalisasi. Semua kegiatan perencanaan kebutuhan bahan baku pada PT XYZ harus ditentukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan, untuk itu ditentukan perencanaan kebutuhan bahan baku dengan menggunakan MRP (Material Requirements Planning). Tahapan MRP yang dilakukan antara lain: Pembuatan Bill Of Material,Pembuatan struktur produk,Peramalan: metode kuadratis, metode siklis, regresi linear,MPS (Master Planning Schedule) , Membuat skema produksi,Membuat Struktur Produk,Perencanaan Bahan Baku, Penjadwalan induk produksi, Perhitungan kebutuhan bahan baku dengan metode Lot For Lot (LFL), metode Least Unit Cost (LUC). Data sekunder yang diambil di perusahaan adalah data penjualan dan bahan baku kitchen set. Perencanaaan bahan baku dibutuhkan peramalan penjualan bulan berikutnya dengan metode siklis. Hasil perhitungan perencanaan bahan baku pada PT XYZ diperoleh ramalan produksi perbulannya 7 unit kitchen set dengan waktu pemesanan rata-rata 3 bulan sekali.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA (Revisi) NOMOR 99 TAHUN 2013 TENTANG TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA (Revisi) NOMOR 99 TAHUN 2013 TENTANG TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN.

Prosedur Unit Utama (selaku penanggung jawab informasi dan konten) mengevaluasi dampak yang akan terjadi apabila permintaan perubahan terhadap suatu layanan informasi pendidikan dan kebudayaan disetujui. Untuk memutuskan hal tersebut, Satker dan Unit Utama berkonsultasi dengan Pustekkom selaku penanggung jawab teknis e-Pendidikan guna melakukan penilaian berdasarkan standar keamanan, kebutuhan kapasitas dan ketersediaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Hasil evaluasi kemudian diserahkan kepada CIO Kementerian untuk ditetapkan (apakah disetujui/tidak disetujui). Kemudian hasil evaluasi juga diinformasikan kepada PDSP dan PIH. Jika disetujui, maka langkah berikutnya adalah melakukan implementasi terhadap perubahan dan memperiapkan rilis layanan yang telah dimodifikasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects