PERILAKU PERAWATAN ADL PADA LANSIA

Top PDF PERILAKU PERAWATAN ADL PADA LANSIA:

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP SIKAP KELUARGA DALAM PEMBERIAN PERAWATAN ACTIVITIES DAILY LIVING (ADL) PADA LANSIA DI RUMAH DI DESA TANJUNGREJO MARGOYOSO PATI

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP SIKAP KELUARGA DALAM PEMBERIAN PERAWATAN ACTIVITIES DAILY LIVING (ADL) PADA LANSIA DI RUMAH DI DESA TANJUNGREJO MARGOYOSO PATI

Selain itu temuan peneliti di lokasi penelitian menunjukkan bahwa di lokasi penelitian menunjukkan kurangnya fasilitas kesehatan yang diberikan dari pihak petugas kesehatan khususnya pada usia lanjut. Hal ini dibuktikan dengan tidak berjalannya kegiatan posyandu lansia serta belum pernah dilakukan suatu penyuluhan kesehatan yang khusus tentang ADL lansia. Sehingga informasi- informasi kesehatan yang diperoleh penduduk berasal dari sumber-sumber lain yang mungkin kurang akurat, Hal ini akan berpengaruh pada tindakan seseorang dalam menentukan pengambilan sikap. Sesuai dengan pendapat Ajzen cit Wismanto (2002), menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang menggunakan akal pikirannya dalam memutuskan sikap dan perilaku apa yang akan diambilnya, yang secara sistematis memanfaatkan informasi yang tersedia di sekitarnya. Sejalan dengan penelitian Umi (2007) yang menyatakan pendidikan kesehatan sangat berpengaruh dalam peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap tentang ADL lansia
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP SIKAP KELUARGA DALAM PEMBERIAN PERAWATAN ACTIVITIES DAILY LIVING (ADL) PADA LANSIA DI RUMAH DESA TANJUNGREJO MARGOYOSO PATI.

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP SIKAP KELUARGA DALAM PEMBERIAN PERAWATAN ACTIVITIES DAILY LIVING (ADL) PADA LANSIA DI RUMAH DESA TANJUNGREJO MARGOYOSO PATI.

Kasihan I Kabupaten Bantul Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga dalam perawatan usia lanjut di rumah di desa Bibis wilayah kerja puskesmas Kasihan I kabupaten Bantul Yogyakarta. Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari dengan peneliti adalah penelitian Wulandari menitikberatkan pada pendidikan kesehatan pada pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga dalam perawatan lansia baik biologi, psikologi, sosial, spiritual dan merupakan penelitian Quasi Eksperimental. Sedang penelitian yang peneliti lakukan saat ini menitikberatkan pada pengetahuan dan sikap keluarga dalam perawatan ADL nya pada usia lnjut yang pasif, rancangan penelitian yang dilakukan peneliti adalah deskriptif correlation.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KETERGANTUNGAN DALAM ADL (ACTIVITY OF DAILY LIVING) PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DARMA BHAKTI PAJANG SURAKARTA.

HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KETERGANTUNGAN DALAM ADL (ACTIVITY OF DAILY LIVING) PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DARMA BHAKTI PAJANG SURAKARTA.

Tingginya jumlah lansia membutuhkan perhatian khusus terutama masalah kesehatan, salah satunya ditunjukkan dengan gejala depresi yang sering muncul pada lansia. Gejala depresi ini dapat memperpendek harapan hidup dengan mencetuskan atau memperburuk kemunduran fisik. Dampak terbesarnya sering terjadi di area-area tempat kepuasan dan kualitas hidup menurun, menghambat pemenuhan tugas-tugas perkembangan lansia (Stanley dan Beare, 2007).

9 Baca lebih lajut

PENGARUH ACTIVITY DAILY LIVING TRAINING TERHADAP TINGKAT KEMANDIRIAN DALAM PERAWATAN DIRI PADA PASIEN GANGGUAN JIWA NASKAH PUBLIKASI - Pengaruh ADL Training terhadap Tingkat Kemandirian dalam Perawatan Diri pada Pasien Gangguan Jiwa di Desa Banaran Galur

PENGARUH ACTIVITY DAILY LIVING TRAINING TERHADAP TINGKAT KEMANDIRIAN DALAM PERAWATAN DIRI PADA PASIEN GANGGUAN JIWA NASKAH PUBLIKASI - Pengaruh ADL Training terhadap Tingkat Kemandirian dalam Perawatan Diri pada Pasien Gangguan Jiwa di Desa Banaran Galur

tingkat pendidikan. Berdasarkan tabel 1 yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia antara 36 sampai 45 tahun. Usia 36 – 45 menurut Depkes (2008) termasuk usia dewasa muda, sehingga individu dalam usia ini dapat menerima dan menerapkan dengan mudah pelatihan yang diberikan. Berdasarkan teori yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan bahwa usia pada penelitian ini tidak mempengaruhi kemampuan dalam penerimaan ADL training yang akan berpengaruh pada peningkatan kemandirian dalam perawatan diri. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa usia antara 36 – 45 merupakan usia dewasa akhir yang mana seseorang mampu untuk memilih kebutuhan dasarnya secara baik dan dapat melakukan tindakan yang dapat memperbaiki kondisi dirinya (Depkes, 2008). Penelitian yang sejalan adalah penelitian yang dilakukan oleh Parendrawati (2008) yang menyebutkan bahwa tidak terdapat hubungan antara faktor usia terhadap peningkatan kemandirian pada pasien defisit perawatan diri.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dan Kepuasan Lansia Pada Keluarga Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat

Peran Keluarga Dalam Perawatan Lansia Dan Kepuasan Lansia Pada Keluarga Di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat

Lansia membutuhkan perhatian dan dukungan keluarga untuk beradaptasi terhadap perubahan dan kemunduran yang terjadi akibat proses penuaan yang dialaminya karena keluarga merupakan support system utama bagi lansia.lansia akan merasa puas dalam hidupnya apabila ia dapat menerima diri dan lingkungannya secara positif. Keluarga perlu meningkatkan kepeduliannya dan perannya dalam melakukan perawatan pada lansia yang meliputi perawatan fisik, psikologis, sosial dan spiritual sehingga lansia dapat merasa puas, nyaman dan bahagia dalam menjalani hidupnya serta dapat meningkatkan kualitas hidup lansia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia dan kepuasan lansia pada keluarga di Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan tehnik random sampling yaitu terhadap keluarga dan lansia, dengan jumlah 74 responden. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Data yang telah terkumpul dianalisa dengan menggunakan statistik deskriptif, kemudian hasil analisa data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada peran keluarga yang buruk, sedangkan peran keluarga yang baik dalam jumlah terbesar yaitu 55 responden (74,3%), dan responden dengan perawatan cukup baik sebanyak 19 responden (25,7%). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar lansia merasa puas pada keluarga yaitu 58 responden (78,4%), dan lansia yang merasa cukup puas sebanyak 16 responden (21,6%). Dengan penelitian ini diharapkan kepada semua pihak, khususnya keluarga agar dapat meningkatakan perannya dalam melakukan perawatan pada lansia sehingga lansia dapat merasa puas terhadap perawatan yang diberikan keluarga serta meningkatkan kualitas hidup lansia.
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Perbedaan Intensitas Insomnia Pada Lanjut Usia Yang Tinggal Di Panti Wredha Dan Yang Tinggal Dengan Keluarga Studi Perbandingan Panti Wredha “Dharma Bhakti” Surakarta Dan Posyandu Lansia “Puspa Sari” Desa Gonilan Kecamatan Kartasura Kabupaten

PENDAHULUAN Perbedaan Intensitas Insomnia Pada Lanjut Usia Yang Tinggal Di Panti Wredha Dan Yang Tinggal Dengan Keluarga Studi Perbandingan Panti Wredha “Dharma Bhakti” Surakarta Dan Posyandu Lansia “Puspa Sari” Desa Gonilan Kecamatan Kartasura Kabupaten

Insomnia adalah gangguan yang sering diderita oleh lansia. Sepertiga dari populasi yang lebih tua dari 65 tahun diketahui mengidap insomnia (Partinen & Hublin, 2000). Berbagai penelitian pada komunitas di Amerika Serikat dan Eropa menemukan bahwa insomnia lebih sering terjadi pada orang tua dibanding dewasa muda. Duapuluh lima persen dari orang tua berusia 65 sampai 79 tahun dilaporkan mengalami kesulitan yang bermakna untuk memulai tidur atau mempertahankan kenyenyakan tidurnya (Jarvik & Small, 1995).

4 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PELAKSANAAN TUGAS KESEHATAN KELUARGA TENTANG HIPERTENSI TERHADAP KUALITAS HIDUP LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI POSYANDU LANSIA KELURAHAN SURAU GADANG KECAMATAN NANGGALO PADANG - Repositori Universitas Andalas

HUBUNGAN PELAKSANAAN TUGAS KESEHATAN KELUARGA TENTANG HIPERTENSI TERHADAP KUALITAS HIDUP LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI POSYANDU LANSIA KELURAHAN SURAU GADANG KECAMATAN NANGGALO PADANG - Repositori Universitas Andalas

Kualitas hidup dapat diukur dari kesehatan fisik dan mental (Ware, 2000). Hipertensi menimbulkan gangguan fisik yang terlihat dari gejala fisik yang sering ditemui, seperti sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang, dan pusing (Mansjoer, 2000). Salah satu penyebab hipertensi adalah stres, yang dapat memicu kambuhnya hipertensi. Stres menyebakan gangguan pada kesehatan mental lansia (Meiner, 2011). Berdasarkan gejala-gejala tersebut, tampak bahwa hipertensi mempengaruhi kualitas hidup lansia.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

pengelolaan managemen dan pencegahan depresi

pengelolaan managemen dan pencegahan depresi

salah satunya adalah responden tidak mengetahui aktivitas apa yang boleh dilakukan lansia.Seorang lansia harus di berikan kesempatan agar bisa melakukan aktivitas yang menjadi hobinya. Selain itu, dari hal tersebut di atas dapat diketahui bahwa responden belum bisa mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat pada lansia.

11 Baca lebih lajut

PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN LANSIA DIRUMAH

PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN LANSIA DIRUMAH

Didapatkan sebagian besar responden menilai pengetahuan keluarga tentang perawatan lansia dirumah termasuk dalam kriteria kurang juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor pendidikan dan pekerjaan seseorang tersebut. Dari data diketahui bahwa sebagian besar responden berpendidikan SD serta sebagian besar responden bekerja sebagai petani. Jenjang pendidikan responden ini belum cukup untuk mendukung terhadap pemahaman reponden mengenai pengetahuan tentang perawatan lansia dirumah dan seorang petani lebih fokus dibidang pertanian sehingga kurang berminat untuk mencari informasi seperti membaca majalah, koran, dan media elektronik. Dari hasil kuesioner didapatkan banyak responden yang belum mengetahui tentang perawatan lansia dirumah seperti cara perawatan lansia, fasilitas-fasilitas perawatan lansia, aktifitas, kebersihan, nutrisi dan psikososial,spiritual yang perlu diperhatikan dalam perawatan lansia. Meraka masih belum memperhatikan lansianya secara optimal, karena mereka mempunyai pengetahuan yang sangat lemah. Yang terpenting bagi mereka lansianya dirawat dirumah dengan ala kadarnya. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu meningkatkan pengetahuan responden, yaitu dengan mengikuti penyuluhan-penyuluhan yang sering diadakan oleh tenaga kesehatan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DENGAN PERILAKU PERAWATAN DIRI SAAT MENSTRUASI PADA SISWI KELAS VII DI SMPN 3 BANTUL YOGYAKARTA - DIGILIB UNISAYOGYA

HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DENGAN PERILAKU PERAWATAN DIRI SAAT MENSTRUASI PADA SISWI KELAS VII DI SMPN 3 BANTUL YOGYAKARTA - DIGILIB UNISAYOGYA

Berdasarkan tabel 4.3 Distribusi Frekuensi diatas dapat diketahui bahwa dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 95 responden didapat responden yang memilki perilaku Baik cukup sebanyak 45 orang (47,4%), sedangkan sebagian kecil responden dalam penelitian ini memiliki perilaku baik sebanyak 16 orang (16,8%).

8 Baca lebih lajut

TEKNIK KOMUNIKASI PADA LANSIA

TEKNIK KOMUNIKASI PADA LANSIA

Kekurangan: memerlukan waktu yang cukup lama karena klien dalam reaksi penolakan sehingga tidak dapat melakukan evaluasi karena tidak ada feed back.. Model SMCR Kelebihan : proses komun[r]

5 Baca lebih lajut

TEKNIK KOMUNIKASI PADA LANSIA

TEKNIK KOMUNIKASI PADA LANSIA

Kekurangan : klien lansia dengan penolakan akan mengalami kesulitan untuk dilakukan komunikasi model ini karena tidak kooperatif.[r]

3 Baca lebih lajut

GRHA LANSIA DAN ANAK YATIM PIATU DI SURABAYA | Harlim | eDimensi Arsitektur Petra 312 522 1 SM

GRHA LANSIA DAN ANAK YATIM PIATU DI SURABAYA | Harlim | eDimensi Arsitektur Petra 312 522 1 SM

Abstrak — Grha Lansia dan Anak Yatim Piatu adalah sebuah fasilitas hunian dan berkumpul bagi lansia dan anak yatim piatu di Surabaya. Dengan kapasitas 100 lansia dan 60 anak-anak, tempat ini dilengkapi dengan tempat bagi para lansia dan anak-anak untuk mengembangkan hobi mereka. Khusus untuk lansia, dilengkapi dengan fasilitas olah raga dan treatment berupa gym, salon, jogging track, spa, dan klinik dengan area fisioterapi bagi mereka yang mulai mengalami hambatan fisik. Bangunan dibentuk seperti terpisah sehingga banyak menciptakan ruang luar di antara bangunan, sekaligus ditata sehingga menimbulkan kesan mengundang pada bagian depannya. Tampak bangunan dibuat seperti tampak perumahan pada umumnya, dengan banyak memainkan bidang geometri.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Peran keluarga Dalam Upaya Memenuhi Kebutuhan Spiritualiti Lansia di Desa Buluh Duri Kecamatan Sipispis Kabupaten Serdang Bedagai

Peran keluarga Dalam Upaya Memenuhi Kebutuhan Spiritualiti Lansia di Desa Buluh Duri Kecamatan Sipispis Kabupaten Serdang Bedagai

Hasil penelitian Peran keluarga Dalam Memenuhi Kebutuhan Spiritual Lansia di Desa Buluh Duri Kecamatan Sipispis Kabupaten Serdang Bedagai, terlihat bahwa peran keluarga dalam peran baik 39 responden (51,3%). Peneliti berasumsi mayoritas responden berada dalam kategori peran baik, karena mayoritas lansia tinggal bersama anak kandungnya (63,2%) dalam hal ini lansia lebih banyak tinggal bersama keluarga sendiri karena merasa aman. Pengaturan hidup bagi lansia merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam mendukung kesejahteraan lansia. Perpindahan tempat tinggal bagi lansia merupakan suatu pengalaman traumatis, karena pindah tempat tinggal berarti akan merubah kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilakukan lansia di lingkungan tempat tinggalnya (Maryam, 2008). Serta keluarga dan teman dekat dapat memberikan bantuan dan dukungan emosional bagi lansia untuk melawan penyakit (Puchalski, 2004).
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERILAKU KELUARGA DALAM PERAWATAN LANSIA ALZHEIMER DENGAN GANGGUAN KEMAMPUAN ORIENTASI DI KELURAHAN SUMBER SARI KOTA MALANG

HUBUNGAN PERILAKU KELUARGA DALAM PERAWATAN LANSIA ALZHEIMER DENGAN GANGGUAN KEMAMPUAN ORIENTASI DI KELURAHAN SUMBER SARI KOTA MALANG

Dari hasil Studi Pendahuluan terdapat 20Responden dengan melakukan kunjungan kerumah lansia, wawancara terhadap keluarga lansia dan melakukanpenelitian hubungan perilaku keluarga dalam perawatan lansiaAlzheimer dengan gangguan kemampuan orientasi diKelurahan Sumber Sari Kota Malang. Keluarga berperan penting dalam menjaga dan merawat lansia Alzheimer untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keluarga memberikan dukungan dan motivasi kepada lansia agar tidak mudah lupa dengan berkreativitas.Masalah yang terjadi pada lansia mengalamidisorientasi waktu dan tempat, kemampuan berkonsentrasi menurun dan cenderung harus mengulang pertanyaan beberapa kali.Kurangnya kegiatan yang diadakan juga merupakan masalah kemungkinan teriadinya penurunan daya ingat pada lansia. Berdasarkan latar belakang peneliti tertarik melakukan penelitian. “Hubungan Perilaku Keluarga dalam Perawatan lansia Alzheimer
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Peran Keluarga dalam Perawatan Lansia di Kecamatan Bandar Huluan Kabupaten Simalungun

Peran Keluarga dalam Perawatan Lansia di Kecamatan Bandar Huluan Kabupaten Simalungun

Hasil penelitian menunjukkan peran keluarga dalam perawatan spiritual yang berada pada kategori baik sebanyak 55 responden (58,5%). Hal ini dibuktikan dengan pernyataan keluarga mengingatkan lansia untuk beribadah sebanyak 50,0%. Sebanyak 69,1% responden sering menyiapkan alat-alat ibadah lansia. Keluarga juga sering membersihkan perlengkapan ibadah lansia (72,3%). Sebagian besar responden (74,5%) sering menjaga lingkungan saat lansia mengerjakan ibadah. Hal ini menunjukkan keluarga membantu lansia untuk melewati hari-hari tuanya dan mendekatkan lansia dengan Tuhan agar dapat menerima keadaannya saat ini. Hal ini sesuai dengan pendapat Nugroho (2008) yang menyebutkan bahwa keluarga harus dapat memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya. Menurut (Luecknotte, 2006) keyakinan agama dan pengalaman spiritual merupakan bagian penting dalam memberikan warna bagi kehidupan lanjut usia. Transisi kehidupan seperti saat-saat terakhir dalam hidup dan kematian menantang seseorang untuk mendalami keyakinannya dan bertumbuh. Agama atau keyakinan spiritual dan pengalaman dapat menjadi instrumen dalam menolong lanjut usia dalam menghadapi takut.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

ADL bagi Tunanetra

ADL bagi Tunanetra

Activity of daily living skills (ADL) atau keterampilan dalam kegiatan kehidupan sehari-hari merupakan kegiatan yang tidak bisa lepas bagi setiap orang. Kegiatan ini dilakukan secara rutinitas dari bangun di pagi hari sampai tidur lagi di malam hari. Bagi orang awas, kegiatan ini tidak sulit dilakukan. Melalui penglihatannya orang awas dapat meniru/mencontoh gerakan-gerakan orang di sekitarnya yang sedang melakukan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa mengalami hambatan.

10 Baca lebih lajut

ADL ActivityDailyLivingx

ADL ActivityDailyLivingx

Personal Care Skills keterampilan memelihara diri sendiri – - Kebiasaan pribadi/kebiasaan pemeliharaan diri – -Mengatur Rumah Tangga... Keterampilan yang berhu- bungan..[r]

6 Baca lebih lajut

 Konsep Asuhan Kep Pada Lansia

Konsep Asuhan Kep Pada Lansia

Perubahan kulit membuat beberapa pertimbangan bagi asuhan keperawatan. Peningkatan permeabilitas memungkinkan penetrasi zat kimia. Sehingga perwatan harus juga menghindari pengobatan transdermal yang berlebihan.pengikisan epidermis dan hilangnya jaringan bantalan dapat menyebabkan mudah terjadi kemerahan dan terkelupas. Sehingga kulit menjdai mudah lepas, penekanan dapat menyebabkan cedera lebih lanjut. Sesuai kondisi ini, perawatan harus diberikan saat memindahkan pasien. Intervensi keperawatan harus direncanakan untuk mengurangi penekanan saat merubah atau memindahkan posisi pasien. Kejadian cedera atau kulit terkelupas harus dihindari. Pertahankan pasien terselimuti untuk membantu pengaturan suhu tubuh, hal ini perlu karena hilangnya lemak subkutan dan terganggunya mekanisme berkeringat menurunkan kemampuan termogulasi pasien. Menurunnya lubrikasi pada kulit meningkatkan kebutuhan untuk perhatian perawatan kulit. Penggunaan sabun harus minimal dan pemberian minyak harus dilakukan.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...