Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)

Top PDF Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A):

SUMBANGAN PENDIDIKAN TERHADAP PERAN SERTA PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) DALAM PENGELOLAAN JARINGAN IRIGASI DI KECAMATAN PETARUKAN KABUPATEN PEMALANG.

SUMBANGAN PENDIDIKAN TERHADAP PERAN SERTA PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) DALAM PENGELOLAAN JARINGAN IRIGASI DI KECAMATAN PETARUKAN KABUPATEN PEMALANG.

Kebijakan pengelolaan jaringan irigasi dijelaskan dalam PP No. 20 Tahun 2006, pemerintah melakukan pemberdayaan perkumpulan petani pemakai air (P3A) dalam pengembangan dan pengelolaan irigasi. P3A di Kecamatan Petarukan dibentuk oleh masyarakat petani secara demokratis. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan sumbangan pendidikan terhadap peran serta dan pengetahuannya serta kendala-kendala dalam pengelolaan jaringan irigasi.

1 Baca lebih lajut

PERAN PETANI PEREMPUAN DALAM PEMANFAATAN IRIGASI PADA PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) BANDA GADANG SAWAH TANGAH NAGARI SUNGAI TARAB KAB. TANAH DATAR.

PERAN PETANI PEREMPUAN DALAM PEMANFAATAN IRIGASI PADA PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) BANDA GADANG SAWAH TANGAH NAGARI SUNGAI TARAB KAB. TANAH DATAR.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) laki-laki yang lebih berperan aktif dalam struktur kepengurusan, walaupun perempuan ada dan mampu, tetapi tetap laki- laki yang didahulukan, artinya laki-laki yang lebih pertama ditunjuk untuk memimpin organisasi, alasannya karena bagi perempuan bahwa tidak memiliki kemampuan untuk mengemban tanggung jawab, kemudian perempuan tidak memiliki pengetahuan yang luas tentang suatu organisasi, tetapi walaupun demikian tugas atau fungsi yang dilakukan oleh petani perempuan cukup baik, yaitu mereka bersedia meluangkan tenaga dan waktunya untuk kegiatan P3A mereka juga ikut dalam proses pelaksanaan atau swadaya untuk peningkatan sistem irigasi Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Selanjutnya, dari segi kesejahteraan petani perempuan meningkat dalam konteks peningkatan produksi dan pendapatan, kemudian kesejahteraan sosial juga baik semenjak berdirinya Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Sikap Petani Terhadap Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)” (Studi Kasus: Desa Simanampang, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara).

Sikap Petani Terhadap Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)” (Studi Kasus: Desa Simanampang, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara).

5.1 Gambaran Umum Organisasi P3A................................................. ..... 35 1. Perkembangan Organisasi Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) ...................................................................................................... ..41 2. Kegiatan Organisasi P3A ............................................................. ..42 3. Sikap Petani terhadap organisasi P3A .......................................... ..45 4. Hubungan antara Karakteristik Sosial Ekonomi Anggota P3A

11 Baca lebih lajut

KAJIAN PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) PASCA REFORMASI DI PROVINSI JAWA TENGAH - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

KAJIAN PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) PASCA REFORMASI DI PROVINSI JAWA TENGAH - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 23 tahun 1982 tentang irigasi, pengelolaan air irigasi di tingkat usaha tani menjadi tanggung jawab Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) bersangkutan dan juga berkenaan dengan Inpres no.3 tahun 1999, bahwa dalam rangka pemanfaatan dan pengembangan air irigasi serta jaringan irigasi secara tepat guna dan berhasil guna, maka perlunya pemberdayaan P3A Dharma Tirta.

7 Baca lebih lajut

Sikap Dan Perilaku Petani Terhadap Kinerja   Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3a) Di Kelurahan Tualang (Kasus : P3A Citra Mandiri Kelurahan Tualang, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)

Sikap Dan Perilaku Petani Terhadap Kinerja Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3a) Di Kelurahan Tualang (Kasus : P3A Citra Mandiri Kelurahan Tualang, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)

Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) diharapkan memiliki kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan yang kompleks, dengan dasar kemampuan profesional tertentu, termasuk ketrampilan merencanakan, melaksanakan kegiatan, memecahkan masalah dengan tanggungjawab mandiri. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui kinerja perkumpulan petani pemakai air di daerah penelitian, mengetahui sikap dan perilaku petani terhadap kinerja perkumpulan petani pemakai air. Daerah penelitian ditentukan secara sengaja (purposive), yakni di Kelurahan Tualang Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai, dengan pertimbangan bahwa Kelurahan tersebut memiliki perkumpulan petani pemakai air yang terbaik. Metode analisis yang digunakan adalah metode pemberian skor dan metode skala likert.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

SISTEM INFORMASI PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A).

SISTEM INFORMASI PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A).

Penelitian yang berjudul “ Sistem Informasi Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) ” dilaksanakan pada bulan Agustus sampai bulan November 2010 di daerah irigasi Koto Tuo Kanan, Kecamatan Koto Tangah, Padang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membangun sistem informasi perkumpulan petani pemakai air (P3A) yang dilengkapi informasi profil P3A, serta untuk mendukung proses pengambilan kebijakan pembangunan spesifik lokasi.

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN DINAMIKA PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) DENGAN TINDAKAN PERBAIKAN INFRASTRUKTUR IRIGASI DI KECAMATAN POLOKARTO KABUPATEN SUKOHARJO

HUBUNGAN DINAMIKA PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) DENGAN TINDAKAN PERBAIKAN INFRASTRUKTUR IRIGASI DI KECAMATAN POLOKARTO KABUPATEN SUKOHARJO

Responden di Kecamatan Polokarto terdiri dari pengurus dan anggota dari beberapa kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang memiliki identitas yang berbeda-beda. Usia petani dapat mempengaruhi kemampuan fisik dan respon dalam menjalankan usahataninya (Soekartawi, 1988). Dalam berusaha tani petani membutuhkan curahan tenaga yang besar, selain itu juga petani harus mempunyai respon yang tinggi terhadap tanaman yang dibudidayakan oleh petani, terlebih keberadaan petani dalam suatu kelompok sangat dibutuhkan. Adanya inisiatif maupun sumbang pikiran diperlukan untuk mendinamiskan suatu kelompok. Kesamaan dalam latar belakang seperti umur dan tingkat pendidikan akan mendorong orang- orang untuk saling tertarik dan pada gilirannya komunikasi petani akan menjadi lebih efektif (Mulyana, 2001). Identitas responden yang melekat pada diri setiap individu dicirikan dengan faktor umur dan tingkat pendidikan.
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

Pengelolaan Sistem Irigasi Berkelanjutan Melalui Pendekatan Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3a) Di Kabupaten Lampung Tengah.

Pengelolaan Sistem Irigasi Berkelanjutan Melalui Pendekatan Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3a) Di Kabupaten Lampung Tengah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah berjalan efektif, terlihat dari P3A Berdaya 67%, P3A Dalam Proses Berdaya 33%, P3A Belum Berdaya 0%. Faktor yang berpengaruh dalam proses pemberdayaan di Lampung Tengah adalah Tenaga Pendamping Masyarakat, Ketokohan, Kondisi ekonomi, adat/kebiasaan dan latarbelakang pendidikan masyarakat mempengaruhi proses pemberdayaan yang dilakukan.

2 Baca lebih lajut

Peranan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Petani Di Daerah Irigasi Namo Rambe Kabupaten Deli Serdang

Peranan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Petani Di Daerah Irigasi Namo Rambe Kabupaten Deli Serdang

Peran sektor pertanian sangat strategis dalam perekonomian nasional. Kegiatan pertanian tidak dapat terlepas dari air. Pemenuhan kebutuhan air perlu didukung dengan tersedianya sarana dan prasarana pengairan antara lain sistem irigasi. Masyarakat petani pengelola air dapat diberikan peran yang lebih besar yang bersifat otonom, mandiri, dan demokratis melalui organisasi Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dalam upaya meningkatkan produksi dan produktifitas usaha tani yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani. Penelitian dilakukan pada Daerah Irigasi Namo Rambe Kecamatan Namo Rambe Kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis perkembangan lembaga P3A, 2) menganalisis hubungan umur, tingkat pendidikan, dan luas lahan dengan tingkat keaktifan anggota organisasi P3A, serta 3) menganalisis peranan lembaga P3A terhadap peningkatan pendapatan petani. Sampel penelitian ini adalah petani yang memanfaatkan air dari Daerah Irigasi Namo Rambe . Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sensus yaitu 49 orang petani anggota P3A dan 36 orang petani bukan anggota P3A. Metode analisis yang digunakan adalah: analisis deskriptif, Chi- square, dan Uji Beda Rata-rata.
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

Sikap Petani Terhadap Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)” (Studi Kasus: Desa Simanampang, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara).

Sikap Petani Terhadap Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)” (Studi Kasus: Desa Simanampang, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara).

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa di daerah penelitian ada beberapa kegiatan P3A yang sudah terlaksana yaitu mengatur pembagian dan penggunaan jaringan irigasi, melaksanakan pemungutan iuran guna biaya operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, mengadakan rapat anggota dan membuat laporan pertanggungjawaban serta gotong royong dalam pemeliharaan jaringan irigasi. Sedangkan kegiatan yang belum terlaksana adalah menerapkan sanksi tegas bagi anggota yang melanggar AD/ART, mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah, pengembangan sumber daya manusia, serta mengadakan penyuluhan kepada anggota yang diberikan oleh penyuluh pertanian.Hal ini berarti, hipotesis yang menyatakan ada kegiatan organisasi P3A di daerah penelitian dapat diterima.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

Permen PU No 32 Tahun 2007 tentang OP Ja

Permen PU No 32 Tahun 2007 tentang OP Ja

18. I nduk perkumpulan petani pemakai air yang selanjutnya disebut I P3A adalah kelembagaan sejumlah GP3A yang bersepakat bekerja sama untuk memanfaatkan air irigasi dan jaringan irigasi pada daerah layanan blok primer, gabungan beberapa blok primer, atau satu daerah irigasi.

Baca lebih lajut

Strategi Peningkatan Kinerja Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Di Kabupaten Bogor

Strategi Peningkatan Kinerja Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Di Kabupaten Bogor

memberi rasa keadilan kepada anggota (hulu dan hilir) dalam pembagian air dan dapat memecahkan masalah, menekan/meredakan konflik pembagian air diantara anggota atau dengan pihak luar merupakan variabel yang belum optimal. Pada aspek usaha tani variabel dapat meningkatkan dan mempertahankan intensitas tanaman pada tingkat yang tinggi dengan pengaturan air yang efisien (disamping aspek pertanian lain non-irigasi) juga dirasakan belum optimal oleh anggota karena tingkat kinerjanya masih sangat rendah. Pada aspek keuangan dan bidang usaha variabel GP3A memiliki usaha ekonomi lain yang mandiri dan mendapat bantuan permodalan dari lembaga pembiayaan dinilai belum sesuai denganharapan karena GP3A masih kesulitan dalam hal berhubungan dengan pihak lembaga pembiayaan maka perlu untuk ditingkatkan kinerjanya. Pada aspek peran pemerintah variabel Adanya alokasi dana yang mencukupi untuk menunjang program pemberdayaan tersebut dan Adanya pendampingan petani dan unit pemberdayaan dengan sumber daya manusia yang handal ditingkat kabupaten/kota dinilai belum dapat meningkatkan kinerja GP3A karena masih rendahnya dana bantuan yang mencukupi dan tenaga pendamping yang ada belum mampu mendampingi petani secara optimal karena hanya tersedia 5 orang Tenaga Pendamping Petani untuk 30 GP3A yang sudah terbentuk sampai bulan Desember 2013, sehingga dipandang perlu untuk ditingkatkan. Berdasarkan hasil analisis, maka variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran A adalah sebagai prioritas utam bagi GP3A untuk menentukan alternatif strategi agar kinerja GP3A menjadi lebih optimal di kemudian hari. 2. Kuadran B : Pertahankan Kinerja
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN - Sikap Petani Terhadap Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)” (Studi Kasus: Desa Simanampang, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN - Sikap Petani Terhadap Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)” (Studi Kasus: Desa Simanampang, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara).

Dalam merealisasikan penyuluhan tentang pengairan, terdapat berbagai masalah, baik yang datang dari petani maupun dari luar lingkungan petani. Untuk itu, pemerintah selaku pembuat kebijakan merasa bertanggung jawab dengan masalah yang dihadapi petani. Hal ini dapat dilihat dengan adanya upaya-upaya yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi petani.

14 Baca lebih lajut

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT Nomor 2 Tahun 2010 Seri E Nomor 2 Tahun 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT Nomor 2 Tahun 2010 Seri E Nomor 2 Tahun 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dilaksankan dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan dengan mengutamakan kepentingan dan peran serta masyarakat petani dalam keseluruhan proses pengambilan keputusan serta pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi. Untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut, dilakukan pemberdayaan perkumpulan petani pemakai air dan dinas atau instansi kabupaten/kota atau provinsi yang terkait di bidang irigasi secara berkesinambungan. Selanjutnya, untuk mewujudkan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi secara partisipatif serta dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat petani, pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dilaksanakan dengan pendayagunaan sumber daya air yang didasarkan pada keterkaitan antara air hujan, air permukaan, dan air tanah secara terpadu dengan mengutamakan pendayagunaan air permukaan. Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi tersebut dilaksanakan dengan prinsip satu sistem irigasi satu kesatuan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dan penggunaan jaringan irigasi di bagian hulu, tengah, dan hilir secara selaras. Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dilaksankan oleh kelembagaan pengelolaan irigasi yang meliputi pemerintah, perkumpulan petani pemakai air, dan komisi irigasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENUTUP  “PELAKSANAAN PROGRAM PARTICIPATORY IRRIGATION SECTOR PROJECT YANG DILAKSANAKAN OLEH BAPPEDA KABUPATEN PURWOREJO” (STUDI KASUS PADA DAERAH IRIGASI SIWATU DAN DAERAH IRIGASI PANUNGKULAN ).

PENUTUP “PELAKSANAAN PROGRAM PARTICIPATORY IRRIGATION SECTOR PROJECT YANG DILAKSANAKAN OLEH BAPPEDA KABUPATEN PURWOREJO” (STUDI KASUS PADA DAERAH IRIGASI SIWATU DAN DAERAH IRIGASI PANUNGKULAN ).

Program Participatory Irrigation Sector Project adalah sebuah program yang akan mengembangkan dan mengupayakan agar masing-masing Kelembagaan Pengelolaan Irigasi (KPI) baik pusat maupun daerah termasuk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A/GP3A) dapat berperan aktif dalam penyelenggaraan irigasi. Program Participatory Irrigation Sector Project dijalankan oleh 3 dinas yaitu, Bappeda, Dinas Pertanian dan Dinas Pengairan.

15 Baca lebih lajut

PERDA NOMOR 2 TAHUN 2010

PERDA NOMOR 2 TAHUN 2010

Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dilaksankan dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan dengan mengutamakan kepentingan dan peran serta masyarakat petani dalam keseluruhan proses pengambilan keputusan serta pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi. Untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut, dilakukan pemberdayaan perkumpulan petani pemakai air dan dinas atau instansi kabupaten/kota atau provinsi yang terkait di bidang irigasi secara berkesinambungan. Selanjutnya, untuk mewujudkan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi secara partisipatif serta dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat petani, pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dilaksanakan dengan pendayagunaan sumber daya air yang didasarkan pada keterkaitan antara air hujan, air permukaan, dan air tanah secara terpadu dengan mengutamakan pendayagunaan air permukaan. Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi tersebut dilaksanakan dengan prinsip satu sistem irigasi satu kesatuan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dan penggunaan jaringan irigasi di bagian hulu, tengah, dan hilir secara selaras. Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dilaksankan oleh kelembagaan pengelolaan irigasi yang meliputi pemerintah, perkumpulan petani pemakai air, dan komisi irigasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  “PELAKSANAAN PROGRAM PARTICIPATORY IRRIGATION SECTOR PROJECT YANG DILAKSANAKAN OLEH BAPPEDA KABUPATEN PURWOREJO” (STUDI KASUS PADA DAERAH IRIGASI SIWATU DAN DAERAH IRIGASI PANUNGKULAN ).

PENDAHULUAN “PELAKSANAAN PROGRAM PARTICIPATORY IRRIGATION SECTOR PROJECT YANG DILAKSANAKAN OLEH BAPPEDA KABUPATEN PURWOREJO” (STUDI KASUS PADA DAERAH IRIGASI SIWATU DAN DAERAH IRIGASI PANUNGKULAN ).

Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A/GP3A) dapat berperan aktif dalam penyelenggaraan irigasi. Program Participatory Irrigation Sector Project mulai direncanakan pada tahun 2005 dan mulai dilaksanakan pada tahun 2006 dan akan berakhir pada bulan Juni 2011. Di wilayah Jawa Tengah program Participatory Irrigation Sector Project dilaksanakan di dua kabupaten yaitu Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Banyumas. Dengan Kabupaten Banyumas sebagai koordinator dan Kabupaten Purworejo sebagai kabupaten potensial. Program Participatory Irrigation Sector Project dijalankan oleh 3 dinas yaitu, Bappeda, Dinas Pertanian dan Dinas Pengairan. Ketiga dinas tersebut mempunyai tugas masing-masing,Bappeda tugasnya dalam penguatan kelembagaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Dinas Pengairan tugasnya pada teknis pengairan dan Dinas Pertanian yang tugasnya pada teknis pertanian. Dalam pelaksanaannya ketiga dinas tersebut dibantu oleh Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM). Tugas dari Tenaga Pendamping Masyarakat adalah sebagai perpanjangan tangan dari dinas-dinas tersebut ke Perkumpulan Petani Pemakai Air. Kedudukan Tenaga Pendamping Masyarakat berada di bawah pengawasan Bappeda khususnya di Sub Bidang Infrastruktur.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PEDOMAN TEKNIS PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN 2014

PEDOMAN TEKNIS PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN 2014

Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi Partisipatif (PPSIP) merupakan mandat pengelolaan sistem irigasi nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi. Dalam hal pengelolaan infrastruktur irigasi secara partisipatif pada jaringan irigasi tersier, secara teknis dilaksanakan oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dimana pembinaan terhadap kelembagaan petani tersebut menjadi wewenang dan tanggung jawab dari instansi pemerintah yang menangani pertanian. Hal ini sejalan dengan mandat kementerian pertanian dalam pengelolaan irigasi tingkat usaha tani yang tertuang dalam PP 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota yang selanjutnya dijabarkan dalam Permentan 79/2012 tentang Pembinaan dan Pemberdayaan Kelembagaan Petani Pemakai Air.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Komunikasi Partisipatif Dan Jaringan Komunikasi Dalam Membangun Aksi Kolektif Di Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3a) Papah

Komunikasi Partisipatif Dan Jaringan Komunikasi Dalam Membangun Aksi Kolektif Di Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3a) Papah

P3A merupakan lembaga yang dibentuk berdasarkan desentralisasi berupa penyerahan pengelolaan pengairan irigasi tersier, itu artinya pembangunan dikendalikan oleh masyarakat sendiri. Hal tersebut mengindikasikan bahwa fokus pembangunan bukan lagi pada model pembangunan yang dikendalikan oleh pemerintah atau pihak lain di luar masyarakat, tetapi sudah bergeser pada pembangunan yang dikendalikan sendiri oleh masyarakat. Narayan dan Pritchett (dalam Dasgupta dan Serageldin 2000) mengatakan, bahwa pembangunan yang dikendalikan oleh masyarakat didefinisikan sebagai sebuah proses di mana kelompok masyarakat memprakarsai, mengatur dan mengambil aksi untuk kepentingan bersama atau mencapai tujuan bersama. Pembangunan yang dikendalikan masyarakat memiliki tiga fitur yang sangat penting yaitu, partisipasi, kapasitas organisasi lokal atau modal sosial pada level lokal dan demand orientation. Unsur partisipatif dengan jelas tersurat dalam salah satu tujuan P3A secara umum (Kementerian Pertanian 2012) yaitu, meningkatkan peran petani dalam penyelenggaraan irigasi secara partisipatif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, rehabilitasi, operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi serta pengelolaan sumberdaya air untuk peningkatan produksi pangan dan kepentingan pembangunan pertanian pedesaan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

S PLS 1105407 Abstract

S PLS 1105407 Abstract

The background of this study was an interest of the researcher to Water Users Association (P3A) in Kampung Ciwangun Kecamatan Parongpong. The aim of this study was to find out 1) an overview of leadership credibility P3A in Kampung Ciwangun, 2) an overview of production management in Kampung Ciwangun, 3) an impact of credibility P3A and the management of farm production in Kampung Ciwangun. This study was supported by theoretical conceptual ideas; the concept of P3A organization, the concept of credibility, the concept of management of agricultural production and the concept of community empowerment. The hypothesis of this study: there was a significant relationship between leadership credibility P3A and farm production. A quantitative descriptive study is employed in this study. To collect the data, the researcher used questionnaire. The samples for this study were 35 Water User Farmers from Kampung Ciwangun selected by random sampling technique. In hypothesis analyzing, it was used simple linear regression through coefficient of regression, coefficient of correlation, and coefficient of determination. Based on the result of study, it was concluded as follows: 1) the description of leadership credibility P3A had a possitive impact to management of farm production, 2) the description of farm production management played its role appropriately, and 3) the impact of credibility P3A had a firm and significant influence towards farm production management.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...