Perlindungan Konsumen Menurut Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8

Top PDF Perlindungan Konsumen Menurut Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8:

Efektivitas Penerapan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen...

Efektivitas Penerapan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen...

Perlindungan hukum terhadap debitur tidak dapat memisahkan diri dengan UUPK, karena pada dasarnya UU inilah yang dijadikan bagi perlindungan konsumen termasuk halnya debitur secara umum. UU Perbankan bukan tidak ada membicarakan tentang debitur di dalamnya, tetapi karena UU tersebut hanya bersifat memberitahukan kepada debitur semata tidak memberikan akibat kepada perbankan itu sendiri sehingga dirasakan kurang memberikan perlindungan kepada debiturnya. Tetapi secara administrasi UU Perbankan memberikan konsekuensi diambilnya tindakan oleh Bank Indonesia terhadap bank menyalahi ketentuan UU Perbankan, sedangkan debitur tidak diberikan kesempatan melakukan aksi dari ketentuan UU Perbankan. Aksi tersebut hanya dapat dilakukan dengan dasar UUPK.UUPK tersebut diberlakukan pada saat Bank Indonesia sedang berupaya keras untuk melakukan perbaikan-per baikan pada sistem perbankan, termasuk didalamnya rekapitalisasi perbankan dan penyempurnaan berbagai ketentuan yang menyangkut aspek kehati-hatian.
Show more

9 Read more

PERLINDUNGAN KONSUMEN MENURUT UNDANG- UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN HUKUM ISLAM

PERLINDUNGAN KONSUMEN MENURUT UNDANG- UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN HUKUM ISLAM

Jika prinsip ini diterapkan dalam penyelenggaraan jasa pos maka ketika konsumen jasa pos merasa dirugikan maka pihak pos haruslah bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh kon[r]

12 Read more

PASAL PROMOSI ATAU IKLAN DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

PASAL PROMOSI ATAU IKLAN DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Undang-Undang Perlindungan Konsumen juga membahas tentang permasalahan iklan atau promosi. Pada era globalisasi saat sekarang perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berjalan pesat seiring berjalannya laju pembangunan nasional di segala bidang, menuntut agar masyarakat bergerak dengan cepat dan efisien dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pesatnya pembangunan yang terjadi pada segala bidang tersebut mendorong masyarakat untuk lebih meningkatkan mobilitas geraknya secara cepat dan dinamis sehingga dapat memperoleh informasi dalam waktu yang singkat. Sumber informasi yang sering cetak yaitu, koran, majalah, tabloid maupun media elektronik yang berupa televisi, radio, serta internet. Media cetak merupakan salah satu media atau sarana informasi yang telah banyak dikenal oleh masyarakat, maka dari itu sebagian besar pelaku usaha sering menggunakan media cetak tersebut untuk memasarkan produk yang dihasilkannya dengan cara memasang iklan. Iklan merupakan salah satu sumber atau bentuk penyampaian informasi mengenai barang dan/ atau jasa yang ditawarkan oleh pelaku usaha kepada konsumen melalui media sosial maupun internet, di mana pelaku usaha sering mengiklankan produk mereka pada
Show more

93 Read more

BAB I PENDAHULUAN. Perlindungan konsumen menurut Undang-Undang Perlindungan. Konsumen (yang selanjutnya disingkat UUPK) Nomor 8 Tahun 1999 Pasal 1

BAB I PENDAHULUAN. Perlindungan konsumen menurut Undang-Undang Perlindungan. Konsumen (yang selanjutnya disingkat UUPK) Nomor 8 Tahun 1999 Pasal 1

Cara penggunaan Rokok Vape sendiri seperti merokok biasa, saat dihisap lampu indikator merah pada ujung Vape akan menyala seperti Rokok pada umumnya. Lalu hisapan tersebut membuat chip dalam Vape mengaktifkan baterai yang akan memanaskan larutan Nikotin dan menghasilkan uap yang akan dihisap oleh pengguna. Akan tetapi tidak semua peredaran Rokok Vape mendapatkan izin edar, dikarenakan oleh beberapa hal seperti keamanan pada liquid Rokok Vape belum terbukti secara ilmiah, karena dalam produk ini disinyalir mengandung zat-zat berbahaya seperti Nikotin dengan konsentrasi tinggi, propylene glycol, yaitu zat penyebab iritasi jika dihirup. Berdasarkan tes oleh Food and Drug Administration (FDA), beberapa produk juga mengandung diethylene glycol, yang merupakan zat kimia yang digunakan untuk meracuni. Maka dari itu peredaran Rokok Vape di Indonesia seharusnya didasari oleh Undang-Undang yang sesuai, karena pemakaian Nikotin atau zat adiktif yang berlebihan akan berdampak buruk
Show more

7 Read more

Perlindungan Hukum terhadap Konsumen Atas Pengguna Barang Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Perlindungan Hukum terhadap Konsumen Atas Pengguna Barang Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Hukum bisnis adalah keseluruhan peraturan, putusan pengadilan, dan hukum kebiasaan yang berkaitan dengan bisnis pelaku-pelaku ekonomi atau sebaliknya perilaku ke arah persaingan yang tidak sehat karena pelaku usaha memiliki kepentingan yang saling berbenturan di antara mereka. Persaingan tidak sehat ini pada akhirnya dapat merugikan konsumen bentuk perbuatan yang lahir sebagai akibat dari pelaku usaha yaitu menurunkan mutu, kenaikan harga dan memalsukan barang. Para pelaku usaha akan mencari keuntungan yang setinggi-tingginya sesuai dengan prinsip ekonomi, salah satu prinsip yang sudah klasik di bidang ekonomi adalah prinsip mencari keuntungan yang setinggi-tingginya melalui pengorbanan yang sekecil-kecilnya. 3 Di sisi lain kondisi di atas dapat pula mengakibatkan kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang di mana konsumen berada dalam posisi yang lemah, ungkapan yang menyatakan konsumen adalah raja, semestinya diinterprestasikan secara kritis, namun kenyataan tidaklah demikian adanya. Konsumen perlu dilindungi secara hukum dari kemungkinan kerugian yang di alami, oleh karena itu diperlukan peraturan misalnya, mengenai cara membuat makanan yang baik dan sehat dan aturan yang melindungi konsumen dari kerugian yang timbul karena mengkonsumsi makanan yang kadaluwarsa, sehingga diperlukan pengawasan yang ketat agar peraturan-peraturan itu dipatuhi dan dilaksanakan. Di samping itu, dengan pemahaman bahwa semua masyarakat adalah konsumen, maka melindungi konsumen berarti melindungi semua masyarakat, karena itu sesuai dengan amanat alinea ke-IV Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 maka perlindungan konsumen menjadi penting. 4 Kerugian yang dialami oleh konsumen tersebut dapat timbul
Show more

8 Read more

Perlindungan Hukum terhadap Konsumen Mavrodi Mondial Moneybox Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Perlindungan Hukum terhadap Konsumen Mavrodi Mondial Moneybox Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Berdasar penelitian yang penulis lakukan maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kegiatan penghimpunan dana yang dilakukan oleh Mavrodi Mondial Moneybox tidak sesuai dengan Pasal 16 ayat 1 Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan dimana persyaratannya mengharuskan agar suatu badan usaha harus memiliki kejelasan terhadap susunan keorganisasian, kepengurusan,permodalan dan kepemilikan maka perusahaan ini patut untuk diberhentikan dalam dunia investasi di Indonesia dan kegiatan penghimpunan dana yang dilakukan tidak sesuai dengan Pasal 7 huruf a dan f Undang-Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen karena kegiatan yang dilakukan dapat dikategorikan tidak mempunyai iktikad baik karena tidak memberikan kompensasi/ganti kerugian sehingga konsumen tidak mendapatkan perlindungan hukum, serta menurut Pasal 16 Undang-Undang nomor 21 tahun 2012 tentang Otoritas Jasa Keuangan, kegiatan yang dilakukan dinyatakan sebagai investasi illegal dimana kegiatan yang dilakukan tanpa izin dari OJK selaku lembaga pengawasan keuangan dan selanjutnya untuk melindungi konsumen perusahaan tersebut ditutup.
Show more

22 Read more

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN ATAS IKLAN YANG MENYESATKAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN ATAS IKLAN YANG MENYESATKAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Kecenderungan masyarakat konsumtif merupakan sasaran sekaligus tantangan bagi para pelaku usaha untuk memasarkan sebanyak-banyaknya produk barang dan jasa. Salah satu alat yang sering digunakan pelaku usaha untuk mempromosikan produk-produknya adalah iklan. Menurut Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, promosi adalah kegiatan pengenalan atau penyebarluasan informasi suatu barang dan/atau jasa, untuk menarik minat beli konsumen terhadap barang dan/atau jasa yang akan dan sedang diperdagangkan. Dalam hal promosi, penyebarluasan informasi atas suatu barang dan/atau jasa dapat dilakukan dalam bentuk iklan seperti yang ditayangkan melalui media massa, papan reklame, brosur, leaflad, spanduk, baleho, atau media elektronik, seperti televisi, radio, media internet dan lain sebagainya.
Show more

37 Read more

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN TERKAIT WANPRESTASI MELALUI E-COMMERCE MENURUT UNDANG - UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN TERKAIT WANPRESTASI MELALUI E-COMMERCE MENURUT UNDANG - UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Dalam hal ini penulis ingin mengetahui tiga (3) point, yaitu diantaranya; 1. Bagaimanakah bentuk SOP (Standar Operasional Prosedur) sudah sesuai dengan dasar hukum sebagaimana dalam pengkajian Undang-Undang Perdagangan dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. 2. Bagaimanakah peran pemerintah dan perusahaan e-commerce dalam implementasi perlindungan hukum bagi konsumen e-commerce dengan dasar hukum yang berlaku di Indonesia, dan 3. Apakah cara penyelesaian masalah yang selama ini dilakukan pemerintah dan pelaku bisnis e-commerce sudah tepat, dalam mencegah trader yang melakukan wanprestasi. Metode penelitian yang digunakan yaitu yuridis-normatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka atau berdasarkan data sekunder, dengan disertai teknik untuk pengambilan data secara accidential sampling. Hasil dari penelitian adalah: 1. Sudah, karena pemerintah mengeluarkan dalam bentuk rekomendasi pembentukan perUndang-Undangan SOP untuk perusahaan e-commerce contohnya: set-regulasi di setiap perusahaan e-commerce. 2. Atas peran pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan ekonomi digital melalui Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2017 tentang SPNBE, dalam hal ini PROLEGNAS dijalankan lima 5 tahun sekali. Adapun para penyelenggara jasa e- commerce menawarkan sistem melalui e-payment. 3. Pemerintah memberikan cara yang terbaik untuk para pihak yang bersengketa yaitu, melalui jalur litigasi, non-litigasi ataupun dengan cara mediasi/negosiasi. Namun berbeda dengan para penyelenggara mereka melakukan dengan cara refund.
Show more

12 Read more

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PENGGUNA OBAT PELANGSING BERDASARKAN PASAL 4 UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PENGGUNA OBAT PELANGSING BERDASARKAN PASAL 4 UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

jasa yang diperolehnya sehingga terhindar dari kerugian fisik maupun psikis apabila mengkonsumsi suatu produk”. 41 Berdasarkan data sekunder nomor 1.2.1 tentang pengamanan dan penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan, data sekunder nomor 1.3.1 tentang persyaratan mutu, keamanan, dan kemanfaatan sediaan farmasi dan alat kesehatan, data sekunder nomor 1.8.2 tentang izin edar, apabila dikaitkan dengan Pasal 4 huruf a Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen, pendapat Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, serta data primer nomor 2.1.1 tentang kerjasama antara Dinas Kesehatan dengan BPOM dalam melakukan penilaian khasiat/manfaat, keamanan, mutu dan penandaan terhadap izin edar obat supaya obat pelangsing yang beredar di masyarakat memang benar-benar obat yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, sesuai dengan tujuan penggunaannya, dan tidak menimbulkan risiko yang membahayakan dikarenakan adanya kandungan bahan berbahaya ataupun karena mutunya rendah, maka dapat dideskripsikan bahwa secara normatif hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang berupa obat pelangsing sudah mendapatkan perlindungan hukum, namun pada kenyataan yang ada di lapanga n, bahwa ternyata masih ada penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pelaku usaha, yakni masih ada pelaku usaha yang memproduksi obat pelangsing dengan campuran bahan berbahaya, sehingga sebagai konsumen pengguna obat pelangsing di Kabupaten Banyumas belum memperoleh perlindungan secara maksimal atas
Show more

123 Read more

Tinjauan fiqih mu’amalah terhadap perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam Undang-Undang Pasal 8 Nomor 8 tentang perlindungan konsumen

Tinjauan fiqih mu’amalah terhadap perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam Undang-Undang Pasal 8 Nomor 8 tentang perlindungan konsumen

Pada dasarnya tujuan manusia dalam berekonomi secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan materiil. Namun sebagian manusia dalam memenuhi kabutuhan itu mengambil jalan yang dianggap paling praktis, tanpa memperhatikan norma-norma yang ada, sehingga sering terjadi penyimpangan dalam praktek perekonomian yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan mengesampingkan kepentingan bersama. Mereka terkadang tidak memperhatikan apakah produk itu berbahaya atau tidak. Konsumen yang keberadaannya sangat tidak terbatas, dengan strata yang sangat bervariasi menyebabkan produsen melakukan kegiatan pemasaran dan distribusi produk dan jasa dengan cara-cara yang seefektif mungkin agar dapat mencapai konsumen yang sangat majemuk tersebut. Oleh karena itu berbagai upaya dilaksanakan untuk mencapai sasaran tersebut diatas. Upaya- upaya yang dilakukan tersebut kadangkala menjurus pada hal-hal yang negatif, bahkan sejak awal dimulai dengan i‟tikad tidak baik, antara lain memberikan informasi yang tidak benar, mutu atau kualitas barang yang rendah, bahkan dalam cara penjualan yang bersifat memaksakan.
Show more

118 Read more

POSISI UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN NOMOR 8 TAHUN 1999 DALAM UPAYA PERLINDUNGAN TERHADAP KONSUMEN

POSISI UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN NOMOR 8 TAHUN 1999 DALAM UPAYA PERLINDUNGAN TERHADAP KONSUMEN

Sengketa konsumen dapat diartikan sebagai konflik atau permasalahan yang terjadi dalam transaksi konsumen yang melibatkan pihak konsumen dan pelaku usaha, karena kerugian yang dialami konsumen akibat mengkonsumsi suatu produk barang dan/ atau jasa yang diedarkan oleh pelaku usaha. Penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana diatur dalam Pasal 45 tidak menutup kemungkinan penyelesaian damai oleh para pihak yang bersengketa tanpa melalui pengadilan atau BPSK dan tidak bertentangan dengan UU ini. Pada Pasal 45 (1) menunjukkan bahwa ada dua pilihan dalam menyelesaikan sengketa konsumen, yaitu penyelesaian melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha, atau penyelesaian sengketa melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan/ADR sebagaimana dimaksud pada Pasal 45 ayat (2) tidak menghilangkan tanggung jawab pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang. Ketentuan tersebut kurang menjelaskan “lembaga” penyelesaian sengketa mana yang dimaksud, jika yang dimaksud khusus tertuju pada BPSK yang diatur dalam UUPK, maka mengapa tidak menunjuk secara langsung, hal ini dimaksudkan agar tidak membingungkan para pihak terutama konsumen jika ingin menyelesaikan permasalahannya. Berdasarkan Pasal 46 UUPK, pihak yang dapat melakukan gugatan diatur sbb : (1) Gugatan atas pelanggaran pelaku usaha dapat dilakukan oleh: seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris ybs, kelompok konsumen (class action) yang mempunyai kepentingan yang sama, LPKSM, pemerintah atau instansi terkait. Berdasarkan Pasal 46 ayat (1) huruf c UUPK, proses beracara dalam hukum
Show more

13 Read more

PERLINDUNGAN PASIEN  (Meneropong Perjanjian Pelayanan Medik menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen)

PERLINDUNGAN PASIEN (Meneropong Perjanjian Pelayanan Medik menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen)

Namun demikian, ada kemungkinan pasien mengadakan persetujuan tidak dengan dokter, tetapi dengan rumah sakit sebagai lembaga pelayanan kesehatan, sehingga rumah sakit ikut serta mengurus perawatan dan pengobatan pasien. Dalam hal ini, dapat dibedakan antara perjanjian (contract) di mana rumah sakit hanya berkewajiban untuk melakukan perawatan saja, yaitu disebut sistem all in contract, dan perjanjian di mana rumah sakit di samping berkewajiban melakukan perawatan juga melakukan tindakan lainnya, misalnya pemeriksaan darah yang tidak termasuk perawatan atau pengobatan yang dilakukan oleh dokter sendiri, yaitu disebut sistem all in arts out. Di dalam sistem ini terdapat hubungan kontraktual antara rumah sakit dengan pasien di satu pihak, dan antara rumah sakit dengan dokter di pihak lain. Dalam hal ini, dokter mempunyai kewajiban terhadap rumah sakit untuk mengobati pasien. Bagi para dokter tidak ada kewajiban untuk memberikan bantuan dalam keadaan tertentu yang diatur secara khusus dalam undang-undang, bahkan kewajiban dokter untuk memberikan bantuan dapat timbul dari peraturan tidak tertulis, yaitu jika didasarkan norma kecermatan atau keseksamaan di dalam kasus yang konkret memerlukan bantuan medik.
Show more

16 Read more

Jaminan Sertifikat Produk Halal sebagai Salah Satu Perlindungan terhadap Konsumen Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Jaminan Sertifikat Produk Halal sebagai Salah Satu Perlindungan terhadap Konsumen Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

perlindungan konsumen beragama Islam atas jaminan sertifikasi produk halal di Indonesia. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif disimpulkan: 1. Keterangan produk halal sangatlah penting bagi warga negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sudah seharusnya produk- produk yang diproduksi harus memiliki sertifikat halal dan/atau label halal pada kemasan produk tersebut, agar barang yang dijual kepada konsumen terkhususnya konsumen muslim aman untuk dikonsumsi. Dalam hal ini, bukan hanya konsumen muslim yang terlindungi, tapi juga bagi konsumen non muslim juga akan mendapatkan manfaatnya. 2. Sertifikasi halal adalah fatwa tertulis MUI yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai syariat Islam melalui pemeriksaan yang terperinci oleh LP POM MUI. Sertifikat halal ini merupakan syarat untuk mendapatkan izin pencantuman label halal pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang (BPOM). Izin pencantuman label halal pada kemasan produk makanan yang dikeluarkan oleh BPOM didasarkan rekomendasi MUI dalam bentuk sertifikat halal MUI. Sertifikat halal MUI dikeluarkan oleh MUI berdasarkan hasil pemeriksaan LP POM MUI. Pemerintah diberikan tugas melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen serta penerapan ketentuan peraturan perundang-undangannya.
Show more

9 Read more

TINJAUAN PRINSIP-PRINSIP MUAMALAT TERHADAP KLAUSULA BAKU PADA PASAL 18 UNDANG-UNDANG NO 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

TINJAUAN PRINSIP-PRINSIP MUAMALAT TERHADAP KLAUSULA BAKU PADA PASAL 18 UNDANG-UNDANG NO 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

ABSTRAK Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, manusia tidak dapat lepas dari posisinya sebagai konsumen. Hampir keseluruhan aktifitas sehari-hari, manusia selalu melakukan konsumsi baik berupa barang maupun jasa. Konsumsi barang (produk) maupun jasa ini didahului dengan transaksi jual beli. Sementara itu klausula baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Klausula baku merupakan aturan sepihak yang biasa dicantumkan dalam kwitansi, faktur, bon, perjanjian atau dokumen dalam transaksi jual beli yang sebenarnya sangat merugikan konsumen. Dengan pencantuman klausula baku, posisi konsumen sangat lemah atau tidak seimbang dalam menghadapi pelaku usaha. Klausula baku bila dicermati merupakan perjanjian sepihak yang seringkali merugikan konsumen dan menempatkan konsumen pada posisi tawar (bargaining position) yang lemah di hadapan pelaku usaha. Untuk melindungi konsumen dari kerugian akibat klausula baku yang ditentukan oleh pelaku usaha, maka pemerintah memandang perlu memberi aturan yang jelas mengenai klausula baku, yang dituangkannya dalam Pasal 18 UUPK.
Show more

46 Read more

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Faktor utama yang menjadi kelemahan konsumen adalah tingkat kesadaran konsumen akan haknya masih rendah. Hal ini terutama disebabkan oleh rendahnya pendidikan konsumen. Oleh karena itu, Undang-undang Perlindungan Konsumen dimaksudkan menjadi landasan hukum yang kuat bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat untuk melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan pendidikan konsumen.

54 Read more

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

b. bahwa pembangunan perekonomian nasional opada era globalisasi harus dapat mendukung tumbuhnya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan beraneka barang dan/ jasa yang memiliki kandungan teknologi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus mendapatkan kepastian atas barang dan/jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan kerugian konsumen; c. bahwa semakin terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari

54 Read more

Perlindungan Konsumen Perumahan Terhadap Developer Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Study Kasus : Zona Property Medan)

Perlindungan Konsumen Perumahan Terhadap Developer Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Study Kasus : Zona Property Medan)

Pada waktu terjadi kasus penjualan rumah fiktif oleh beberapa developer (pengembang) di Jakarta, rumah dijual tetapi izin lokasinya belum diperoleh, sementara konsumen yang akan meminta kembali uang mukanya pun sulit, banyak tanggapan dan pendapat mengenai klausula kontrak/perjanjian yang dikeluarkan oleh developer tersebut. Beberapa ahli mengusulkan supaya naskah standar kontrak dimintakan izin terlebih dahulu sebelum dipergunakan. Maksud asal usul ini adalah untuk melindungi kepentingan klien yang berhubungan dengan perusahaan principal pengguna standar kontrak. Usul ini segera mendapat tantangan dari pihak yang lain karena akan bertentangan dengan asas kebebasan berkontrak dan kebiasaan yang sudah lama dipraktekkan. Lagi pula tidak sesuai dengan semangat deregulasi. Tentu akan membutuhkan waktu dan prosedur yang berlarut-larut manakala setiap rancangan standar kontrak harus mendapat persetujuan dari pihak yang berwenang terlebih dahulu. Sulit untuk menentukan pihak yang berwenang untuk memberi penilaian terhadap klausula standar kontrak itu. 38
Show more

94 Read more

Perlindungan Konsumen Perumahan Terhadap Developer Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen  (Study Kasus : Zona Property Medan)

Perlindungan Konsumen Perumahan Terhadap Developer Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Study Kasus : Zona Property Medan)

Pembangunan perumahan untuk kelompok masyarakat menengah keatas cenderung dilakukan oleh para pengembang swasta, dimana mereka lebih menekan pada profit orientied. Untuk mencapai tujuan tersebut, penekanan pada daya tarik bentuk rumah yang mereka bangun lebih diutamakan. Hal terebut dilakukan dengan mengunakan para konsultan pembangunan perumahan, sehingga perumahan yang mereka bangun mampu menghasilkan bentuk yang menarik konsumen untuk membelinya. Sedangkan beberapa hal seperti konstruksi, sarana jalan, saluran, dan fasilitas-fasilitas umum yang seharusnya ada dalam kompleks perumahan yang mereka bangun, cenderung diabaikan. Dengan demikian, ketidakpuasan konsumen mungkin akan muncul setelah membeli rumah yang dipasakan oleh para pengembang. Bertitik tolak pada paparan yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pola pikiran yang berkembang dalam pembelian rumah di era sekarang ini, terutama untuk rumah kelas menengah keatas adalah bahwa rumah tidak hanya sebagai tempat berlindung, namun juga berfungsi sebagai tempat tinggal yang nyaman, sehat, bahkan estetika menjadi bahan pertimbangan mereka dalam pembelian rumah.
Show more

94 Read more

Pasal 17 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Pasal 4 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dalam Transaksi Elektronik melalui Instagram

Pasal 17 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Pasal 4 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dalam Transaksi Elektronik melalui Instagram

Penelitian ini dilakukan karena adanya perkembangan internet yang mengakibatkan penjualan barang secara online mulai dilakukan oleh masyarakat yang sering disebut dengan transaksi elektronik. Sifat transaksi elektronik salah satunya adalah konsumen dan pelaku usaha tidak saling bertemu seperti transaksi belanja biasanya dan juga konsumen tidak dapat melihat dan meraba barang secara langsung. Hal ini membuat banyak konsumen tidak terpenuhi haknya karena pelaku usaha memanfaatkan peluang ini untuk melakukan hal yang tidak seharusnya. Undang- undang terkait ialah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum bagi konsumen dan untuk mengetahui penerapan dari undang- undang terkait dalam transaksi elektronik. Jenis penelitian yang dilakukan adalah yuridis empiris yaitu penelitian yang difokuskan pada suatu aturan hukum atau peraturan yang kemudian dihubungkan dengan kenyataan pada lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis sosiologis. Urgensi penelitian ini adalah agar hak para konsumen dapat di prioritaskan dan pelaku usaha tidak semena-mena terhadap konsumennya.
Show more

20 Read more

Show all 10000 documents...