Perlindungan merek terkenal

Top PDF Perlindungan merek terkenal:

Perlindungan Merek Terkenal Dihubungankan Dengan Itikad Baik Studi Putusan No. 558k Pdt.Sus-Hki 2015

Perlindungan Merek Terkenal Dihubungankan Dengan Itikad Baik Studi Putusan No. 558k Pdt.Sus-Hki 2015

Adapun dalam skripsi ini akan dibahas lebih lanjut tentang bagaimana perkembangan perlindungan merek terkenal dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2016 dibandingkan dengan Undang-Undang No.15 Tahun 2001, mengapa suatu merek terkanal perlu secara spesifik dilindungi dan bagaimana perlindungan merek terkenal dihubungakn dengan itkad baik dalam Putusan MA No. 558K/Pdt.Sus-HKI/2015 .

11 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL TERHADAP TINDAKAN PASSING OFF DAN DILUTION DALAM HUKUM MEREK INDONESIA (SUATU TINJAUAN KOMPARATIF) - Unika Repository

PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL TERHADAP TINDAKAN PASSING OFF DAN DILUTION DALAM HUKUM MEREK INDONESIA (SUATU TINJAUAN KOMPARATIF) - Unika Repository

Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pengaturan mengenai perlindungan merek terkenal di tiga negara yaitu Indonesia, Singapura, dan Amerika Serikat. Penelitian ini dapat berguna dalam rangka pembaharuan hukum merek Indonesia sebagai ius constituendum. Kedua negara pembanding dipilih karena kedua negara tersebut menggunakan sistem hukum yang berbeda dari Indonesia. Indonesia menggunakan sistem hukum Eropa Kontintental atau civil law. Sedangkan Singapura dan Amerika Serikat menggunakan sistem hukum Anglo-Saxon atau common law.

13 Baca lebih lajut

BAB IV BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM SEBAGAI LANGKAH MEWUJUDKAN PERSAINGAN USAHA SEHAT - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Ratio Legis Perlindungan Merek Terkenal

BAB IV BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM SEBAGAI LANGKAH MEWUJUDKAN PERSAINGAN USAHA SEHAT - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Ratio Legis Perlindungan Merek Terkenal

Perlindungan hukum preventif di sini ialah perlindungan sebelum terjadi tindak pidana atau pelanggaran hukum terhadap merek dan merek terkenal. Dalam hal ini sangat bergantung pada pemilik merek untuk mendaftarkan mereknya agar mendapat perlindungan hukum. Dengan demikian, perlindungan merek diberikan kepada pemilik merek terdaftar. Namun demikian, dimungkinkan pula perlindungan terhadap merek tidak terdaftar dengan syarat bahwa merek tersebut termasuk dalam kategori merek terkenal. Dengan itu maka jelaslah bahwa pemilik merek terkenal akan memperoleh perlindungan hukum secara preventif dengan adanya berbagai persyaratan permohonan pendaftaran merek tersebut. Mekanisme perlindungan merek terkenal selain melalui inisiatif pemilik merek tersebut dapat
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Perlindungan Merek Terkenal Dihubungankan Dengan Itikad Baik Studi Putusan No. 558k Pdt.Sus-Hki 2015

Perlindungan Merek Terkenal Dihubungankan Dengan Itikad Baik Studi Putusan No. 558k Pdt.Sus-Hki 2015

Adapun judul tulisan ini adalah ”Perlindungan Merek Terkenal diIndonesia dihubungkan dengan Itikad Baik Studi Putusan No. 558 K/Pdt.Sus-HKI/2015 telah sampai sejauh ini belum ditemukan adanya judul yang sama seperti judul tersebut diatas atas uji bersih yang dilakukan dalam Departemen Kekhususan Hukum Perdata BW Fakultas HukumUnivesitas SumatraUtara , sehingga tulusan ini asli. Namun terdapat skripsi yang membahas masalah perlindungan merek.

13 Baca lebih lajut

Perlindungan Merek Terkenal Dihubungankan Dengan Itikad Baik Studi Putusan No. 558k Pdt.Sus-Hki 2015

Perlindungan Merek Terkenal Dihubungankan Dengan Itikad Baik Studi Putusan No. 558k Pdt.Sus-Hki 2015

Pengecualian hukum mengenai perlindungan merek terkenal dalam penerapanya haruslah dikuti dengan pembuktian keberadaan keterkenalan merek yang diangap sebagai merek terkenal serta adanya pembuktian unsur itikad tidak baik membonceng keterkenalan merek terkenal dalam permohonan pendaftaran merek terdaftar. Hal inilah yang kerap kali menjadi permasalahan, sulitnya menentukan suatu merek harus dilindungi sebagai merek terkenal sejalan dengan sulitnya menentukan unsur itikad baik dalam permohonan merek yang diduga membonceng keterkenalan merek terkenal.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

BAB II PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL DALAM HUKUM MEREK INDONESIA - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Perlindungan Hukum terhadap Merek Terkenal di Indonesia: Studi Kasus Putusan MA Nomor 264K/PDT.SUS-HKI/2015

BAB II PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL DALAM HUKUM MEREK INDONESIA - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Perlindungan Hukum terhadap Merek Terkenal di Indonesia: Studi Kasus Putusan MA Nomor 264K/PDT.SUS-HKI/2015

Pertama tanda yang secara inheren memiliki daya pembeda (inherently distinctiveness) dan dapat segera memperoleh perlindungan. Tanda yang bagus sekali didaftarkan sebagai merek, karena setiap konsumen pada umumnya memiliki pengetahuan yang cukup tentang tanda tersebut. Konsumen mengerti fungsi merek untuk pembeda, sehingga ini menyangkut reaksi langsung dari konsumen terhadap tanda tersebut. Kedua, tanda yang memiliki kemampuan untuk memiliki daya pembeda hanya setelah atas tanda tersebut ada pengembangan dari persepsi atau asosiasi konsumen yang disebut pengertian kedua (capable of becoming distinctive: eligible for protection only after development of consumer association (secondary meaning)). Ketiga, tanda yang tidak akan pernah memiliki daya pembeda dan tidak akan pernah dapat didaftarkan artinya harus selamanya ditolak pendaftarannya sebagai merek dan tidak akan pernah
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL TIDAK TERDAFTAR DALAM PERSPEKTIF STELSEL PENDAFTARAN MEREK DIHUBUNGKAN DENGAN PRINSIP ITIKAD BAIK BERDASARKAN UU NO.15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK.

PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL TIDAK TERDAFTAR DALAM PERSPEKTIF STELSEL PENDAFTARAN MEREK DIHUBUNGKAN DENGAN PRINSIP ITIKAD BAIK BERDASARKAN UU NO.15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK.

Merek diperlukan untuk membedakan satu produk barang dan jasa dengan produk barang dan jasa lainnya. Dari berbagai merek yang beredar di masyarakat, ada merek yang tidak terdaftar meskipun sudah terkenal sehingga apabila terjadi sengketa terhadap merek tersebut, merek yang tidak terdaftar tidak mendapat perlindungan hukum yang pasti layaknya merek yang sudah terdaftar. Tujuan penelitian dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui stelsel pendaftaran merek yang berlaku di Indonesia dalam melindungi merek terkenal tidak terdaftar yang memiliki itikad baik.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Perlindungan Merek Terkenal Dihubungankan Dengan Itikad Baik Studi Putusan No. 558k Pdt.Sus-Hki 2015

Perlindungan Merek Terkenal Dihubungankan Dengan Itikad Baik Studi Putusan No. 558k Pdt.Sus-Hki 2015

Disebut juga sebagai “normal mark” yang tergolong kepada merek biasa adalah merek yang tidak memiliki reputasi tinggi. Merek yang berderajat biasa ini diangap kurang memberi pancaran simbolis gaya hidup baik dari segi pemakaian dan teknologi, masyarakat atau konsumen melihat merek tersebut kualitasnya rendah. Merek ini dianggap tidak memiliki drawing power yang yang mampu memberi sentuhan keakraban dan kekuatan mitos (mysical power) yang sugesif kepada masyarakat dan konsumen, dan tidak mampu memberntuk lapisan pasar dan pemakai 20

25 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Ratio Legis Perlindungan Merek Terkenal

BAB I PENDAHULUAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Ratio Legis Perlindungan Merek Terkenal

Maraknya industry suatu perusahaan akan berpengaruh terhadap tiga hal utama, yaitu goodwill, persaingan usaha tidak sehat, dan perlindungan konsumen. Setiap konsumen berhak mendapatkan goodwill dari hasil usaha dimana salah satu reputasi baik dapat berupa merek yang sudah dikenal oleh masyarakat luas sesuai strategis dari para pelaku usaha. Masalah merek erat kaitannya dengan persaingan tidak sehat (unfair competition), bila pelaku usaha dalam melakukan usahanya yang sejenis bersama-sama berusaha dalam daerah yang sama pula maka masing-masing dari mereka berusaha sekeras-kerasnya melebihi yang lainnya untuk mendapatkan tempat di hati konsumen secara kompetitif. Jadi tidak hanya merek yang dipertaruhkan, lebih dari itu adalah kualitas barang atau keunggulan produk serta pelayanan kepada konsumen. Untuk perlindungan konsumen atas barang dan harga ini dimaksudkan agar penggunaan barang dengan kualitas yang dibawah standar atau kualitas yang lebih rendah daripada nilai harga yang dibayar. Dengan perlindungan yang demikian, maka konsumen tidak akan diberikan barang dengan kualitas yang lebih rendah dari pada harga yang dibayarkannya 11 . Yang melindungi konsumen dari penggunaan barang yang tidak sesuai dengan standar yang ditentukan, adalah Pasal 8 ayat (1) a, yang menyatakan bahwa pelaku
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

BAB III PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL MERUPAKAN UPAYA UNTUK MELINDUNGI KONSUMEN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Ratio Legis Perlindungan Merek Terkenal

BAB III PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL MERUPAKAN UPAYA UNTUK MELINDUNGI KONSUMEN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Ratio Legis Perlindungan Merek Terkenal

Terkait dengan itu, dalam hal perlindungan konsumen harus melibatkan produsen dan konsumen. Sehingga tanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan bagi para pengguna produk (sesuai ketentuan pasal 4 UUPK) dapat berjalan dengan seimbang. Sementara itu, fakta di lapangan masih sedikit upaya sosialisasi mengenai aspek kewajiban masyarakat selaku konsumen sebagai bagian dari sistem perlindungan konsumen yang diatur dalam ketentuan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Dengan demikian upaya untuk menciptakan suatu perlindungan hukum yang dapat menumbuhkan iklim usaha dan hubungan yang sehat antara pelaku usaha dan konsumen dapat terwujudkan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

BAB II GOODWILL SEBAGAI DASAR PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Ratio Legis Perlindungan Merek Terkenal

BAB II GOODWILL SEBAGAI DASAR PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Ratio Legis Perlindungan Merek Terkenal

Kebutuhan untuk melindungi hak merek, termasuk merekterkenal menjadi hal yang sangat penting, ketika dalam praktek perdagangan barang dan/atau jasa dijumpai adanya pelanggaran dibidang merek yang merugikan semua pihak, tidak saja pemilik merek yang berhak, tetapi juga konsumen sebagai pemakai barang dan/atau jasa. Dengan demikian dapat dikatakan betapa pentingnya pengaturan merek, utamanya merek terkenal dalam mencegah terjadinya kasus-kasus pelanggaran merek. Munculnya istilah merek terkenal berawal dari tinjauan terhadap merek berdasarkan reputasi (reputation) dan kemasyuran (renown) suatu merek.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGATURAN DOKTRIN DILUSI MEREK SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN HUKUM MEREK TERKENAL DI INDONESIA | Dwisvimiar | Mimbar Hukum 16720 31970 1 PB

PENGATURAN DOKTRIN DILUSI MEREK SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN HUKUM MEREK TERKENAL DI INDONESIA | Dwisvimiar | Mimbar Hukum 16720 31970 1 PB

Secara hukum, Negara Indonesia dapat pula mempersiapkan kerangka yuridis bagi perlindungan atas dilusi merek terkenal demi tegaknya kepemilikan dan perlindungan merek terkenal. Secara umum, TRIPs sudah memberikan grand design dalam Pasal 16 ayat (3), sedangkan sisanya dapat dikombinasikan dengan kepentingan Indonesia dan perundang-undangan yang terkait dengan merek. Bagi Indonesia, dilusi mungkin bukanlah konsep yang akrab (familiar) dan tertuang dalam peraturan perundang-undangan tentang Merek. Namun, penyelesaian menuju kearah terbentukya peraturan baru maka dalam amandemen RUU Merek mendatang, ketentuan Pasal 6 ayat (2) UUM dapat diperkuat dengan cara menambahkan Pasal atau ayat lain setelah Pasal 6 Ayat (2) UUM 2001 ataupun penguraian dalam penjelasannya secara jelas sehingga secara eksplisit menerjemahkan adanya perlindungan terhadap merek tidak sejenis yang merupakan representasi dari Pasal 16 ayat (3) TRIPs,
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM ATAS MEREK TERKENAL

PERLINDUNGAN HUKUM ATAS MEREK TERKENAL

tas dan koper tidak hanya ditemui di emperan- emperan toko dan plaza-plaza tetapi dapat kita temui juga di desa Tanggulangin yang terletak di kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Desa tersebut merupakan sentra industri yang memproduk tas dan koper yang dikenal dengan INTAKO (Industri Tas dan Koper) dan dibina oleh sebuah koperasi yang diberi nama koperasi intako. Intako memproduksi tas dan koper dari bahan plastic, imitasi kulit sampai dengan kulit yang asli. Produk tas dan koper dari Intako tersebut diberi label merek-merek asing yang sudah terkenal seperti: GUCCI, LOUIS VUITTION, NINA RICCI, PIERE CARDIN, DOLCE GABANA, AITIN AIGNER, CALVIN KLEIN, CHRISTIAN DIOR, GIANI VERSACE, VERSUS, CHARLES JORDAN, ELISABETH. Hasil produksi tersebut dipamerkan di ruang pamer sepanjang jalan di desa Tanggul Angin yang menjadi salah satu objek wisata yang menarik di Jawa Timur.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

OVERLAPPING PERLINDUNGAN HUKUM SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN TINDAKAN PASSING OFF.

OVERLAPPING PERLINDUNGAN HUKUM SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN TINDAKAN PASSING OFF.

pada merek yang sudah terdaftar dan terdapat juga unsur pada pokoknya yang sama (passing off), akan tetapi yang dilindungi dalam hal ini hanyalah mengenai etiket merek yang dapat didaftarkan di dalam Undang-Undang No.15 Tahun 2001, maka mengenai perbuatan pemboncengan reputasi terhadap desain kemasannya tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pelanggaran di dalam Undang-Undang No 15 Tahun 2001 tentang merek, karena hal tersebut dianggap tidak melanggar dari segi etiket mereknya, hal itulah yang sering dipermasalahkan dalam kasus ini, bahwa sebuah merek seharusnya dilindungi bukan hanya terdiri dari susunan yg membentuk merek itu saja, akan tetapi suatu merek haruslah menjadi satu kesatuan dengan desain kemasan produknya. Passing off atau pemboncengan merek sering terjadi pada persamaan unsur garis, warna, dan desain kemasan pada suatu produk, dan dalam hal ini segala macam perlindungan pada unsur garis ,warna, dan desain kemasan pada suatu produk tersebut diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 2000.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Merek Dagang Terkenal Asing Dari Pelanggaran Merek Di Indonesia

Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Merek Dagang Terkenal Asing Dari Pelanggaran Merek Di Indonesia

Saat ini perlindungan terhadap merek terkenal telah diperluas daripada apa yang ditentukan dalam pasal 6 bis Konvensi Paris. Seperti yang tercantum dalam persetujuan TRIPs bahwa pembatasan peniruan oleh pihak lain tidak hanya terhadap pemakaian “barang sejenis” tetapi juga terhadap pemakaian “barang yang tidak sejenis”. Negara anggota dari Paris Union ini menerima secara ex- officio, jika perundang-undangan mereka memperbolehkan, atau atas permohonan daripada pihak yang berkepentingan untuk menolak atau membatalkan pendaftaran dan juga melarang pemakaian daripada suatu merek yang merupakan suatu reproduksi, imitasi atau penerjemahan yang dapat menimbulkan kekeliruan (to create confusion) dari suatu merek yang telah dianggap oleh instansi yang berwenang daripada negara dimana merek ini didaftarkan atau dipakai sebagai merek terkenal (wellknown mark), didalam negara itu, yakni sebagai suatu merek dari seorang yang berhak atas fasilitas menurut Konvensi Paris ini dapat dipakai untuk barang-barang yang sama (identik) atau sebagai essential (utama). 38
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB III EKSISTENSI MEREK TERKENAL PASCA PENGHAPUSAN SEBAGAI MEREK TERDAFTAR - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Perlindungan Hukum terhadap Merek Terkenal di Indonesia: Studi Kasus Putusan MA Nomor 264K/PDT.SUS-HKI/2015

BAB III EKSISTENSI MEREK TERKENAL PASCA PENGHAPUSAN SEBAGAI MEREK TERDAFTAR - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Perlindungan Hukum terhadap Merek Terkenal di Indonesia: Studi Kasus Putusan MA Nomor 264K/PDT.SUS-HKI/2015

dijelaskan apakah ketentuan merek yang dimaksud berlaku sama untuk semua merek atau ketentuan tersebut tidak berlaku untuk merek terkenal. Hal ini masih menjadi persoalan dalam menentukan suatu putusan apabila terjadi sengketa, dikarekan sampai saat ini pemerintah belum membuat Peraturan Pemerintah yang membahas tentang merek terkenal secara lebih rinci. Majelis hakim seharusnya juga mempertimbangkan fakta-fakta yang ada, bahwa INTER IKEA telah memiliki toko resmi IKEA yang cukup besar berada di Alam Sutera. Dalam melakukan survey market majelis hakim seharusnya tidak hanya melihat perdagangan dalam pasar konvensional saja artinya penjualan barang dan jasa dalam bentuk fisik. Selama peredaran perdagangan barang dan jasa yang tidak hanya dalam kegiatan perdagangan fisik saja tetapi survey market juga bisa dilakukan dengan cara yang lain seperti melalui online. Belum adanya Peraturan Pemerintah yang membahas tentang merek terkenal secara lebih rinci, Indonesia seharusnya ikut serta melindungi merek IKEA milik INTER IKEA dikarenakan keikutsertaan Indonesia menjadi anggota dari TRIPs Agreement dan merujuk dari fakta-fakta yang ada, majelis hakim mempunyai kekuatan untuk mengisi kekosongan hukum yang ada sesuai kaidah dalam hukum merek.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN TERHADAP PEMILIK MEREK ASING TERKENAL DALAM PENGGUNAAN MEREK OLEH USAHA KECIL MENENGAH DIKAITKAN DENGAN HAK EKONOMI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK.

PERLINDUNGAN TERHADAP PEMILIK MEREK ASING TERKENAL DALAM PENGGUNAAN MEREK OLEH USAHA KECIL MENENGAH DIKAITKAN DENGAN HAK EKONOMI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK.

Salah satu Hak Kekayaan Intelektual yang penting untuk dilindungi adalah Merek. Pengertian umum Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf- huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Sebagai daya pembeda, keberadaan sebuah Merek berpengaruh signifikan bagi seseorang dalam menentukan pilihan produk yang akan dibelinya. Semakin bagus reputasi (goodwill) dan kualitas sebuah Merek, semakin tinggi minat masyarakat untuk menggunakan produk-produk dari Merek tersebut. Dengan segala keunggulan yang dimiliki, produk-produk dari Merek terkenal memiliki banderol yang tidak murah. Gejala ini dibaca oleh pihak pengusaha yang beritikad tidak baik, atau pengusaha yang memanfaatkan popularitas dan reputasi dari Merek terkenal untuk keuntungan pribadi, dengan cara memproduksi dan memasarkan produk-produk tiruan dari Merek terkenal tersebut dengan banderol yang lebih terjangkau. Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan masalah yang diteliti adalah persamaan pada keseluruhan atau pada pokoknya yang dimiliki barang-barang yang dijual di Pasar Induk Gede Bage Kota Bandung, dan tindakan hukum yang dapat dilakukan oleh Pemilik Merek Terkenal apabila terbukti usaha kecil menengah melakukan pelanggaran Merek.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Putusan Mahkamah Agung Atas Pembuktian Itikad Tidak Baik Dalam Pendaftaran Merek

Analisis Putusan Mahkamah Agung Atas Pembuktian Itikad Tidak Baik Dalam Pendaftaran Merek

Jenis penelitian tesis ini menggunakan penelitian yuridis normatif, yang bersifat deskriptif analitis, dimana pendekatan terhadap permasalahan dilakukan dengan mengkaji ketentuan Perundang-undangan yang berlaku dalam perlindungan hukum terhadap merek yang terdapat di dalam Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek dan juga melalui putusan-putusan pengadilan khususnya Mahkamah Agung dalam penegakan perlindungan hukum terhadap merek terkenal di Indonesia. Penelitian ini menguraikan atau memaparkan sekaligus menganalisis permasalahan mengenai perlindungan hukum terhadap merek terkenal dan juga pendaftaran merek dengan itikad tidak baik yang tidak diperbolehkan oleh peraturan perundang-undangan di bidang merek.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Terhadap Perdagangan Barang Tiruan Yang Menggunakan Merek Terkenal Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek Dan Indikasi Geografis (Studi Di Kota Medan)

Tinjauan Yuridis Terhadap Perdagangan Barang Tiruan Yang Menggunakan Merek Terkenal Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek Dan Indikasi Geografis (Studi Di Kota Medan)

Pengaturan mengenai merek di Indonesia saat ini diatur dalam UU No. 20 tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Dalam undang-undang dengan jelas melarang penjual menjual barang palsu ataupun diduga palsu sesuai dengan pasal 102 Undang-Undang No.20 tahun 2016 yang tertulis “ Setiap Orang yang memperdagangkan barang dan/atau jasa dan/atau produk yang diketahui atau patut diduga mengetahui bahwa barang dan/atau jasa dan/atau produk tersebut merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 dan Pasal 101 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).”
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengantar Hukum Bisnis Merek Dagang

Pengantar Hukum Bisnis Merek Dagang

Ditinjau dari aspek hukum masalah merek menjadi sangat penting, sehubungan dengan persoalan perlu adanya perlindungan hukum dan kepastian hukum bagi pemilik atau pemegang merek dan perlindungan hukum terhadap masyarakat sebagai konsumen atas suatu barang atau jasa yang memakai suatu merek agar tidak terkecoh oleh merek-merek lain, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masalah penggunaan merek terkenal oleh pihak yang tidak berhak, masih banyak terjadi di Indonesia dan kenyataan tersebut benar-benar disadari oleh pemerintah yang dalam prakteknya menurut A Zen Umar Purba bahwa Law Enforcement yang lemah menjadikan masalah ini mendapat banyak kendala dalam penanganannya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...