Perspektif Feminisme

Top PDF Perspektif Feminisme:

KINERJA ANGGOTA PEREMPUAN DPRD KOTA SEMARANG TAHUN 2014-2015 DALAM PERSPEKTIF FEMINISME -

KINERJA ANGGOTA PEREMPUAN DPRD KOTA SEMARANG TAHUN 2014-2015 DALAM PERSPEKTIF FEMINISME -

Peningkatan jumlah keterwakilan perempuan di parlemen dari segi kuantitasnya, juga tidak otomatis menjamin aspirasi kaum perempuan akan terakomodasi dengan lebih baik karena suara perempuan di parlemen bukan suara individu melainkan parpol dan fraksi (Sastriyani, 2009:169). Dalam perspektif feminisme, harapan partisipasi mereka sebagai penguatan peran politik perempuan untuk memperjuangkan kepentingan perempuan dimana masih banyak kepentingan perempuan dan ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan yang terjadi hingga saat ini seperti kekerasan terhadap perempuan, kekerasan dan pelecehan seksual, masalah kesehatan, Perdagangan perempuan, diskriminasi diberbagai lingkup penghidupan, upah pekerja perempuan yang minim dan lebih rendah dari upah pekerja laki-laki, masalah narkoba, HIV/AIDS, atau masalah kesejahteraan keluarga, kesehatan reproduksi dan masih banyak kepentingan perempuan lainya yang menjadi isu-isu perempuan yang harus diupayakan secara politis sebagai masalah feminisme.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

KEMA Kemandirian Perempuan dalam Novel Madame Kalinyamat Karya Zhaenal Fanani: Perspektif Feminisme dan Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMA.

KEMA Kemandirian Perempuan dalam Novel Madame Kalinyamat Karya Zhaenal Fanani: Perspektif Feminisme dan Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMA.

Penelitian ini mengkaji masalah kemandirian perempuan yang tercermin dalam diri tokoh utama novel Madame Kalinyamat. Bagaimana struktur dalam novel Madame Kalinyamat? Bagaimana kemandirian perempuan yang tercermin pada diri Ratu Kalinyamat, tokoh utama dalam novel Madame Kalinyamat karya Zhaenal Fanani dalam perspektif feminisme? Tujuan penelitian ini ada dua, yaitu (1) mendeskripsikan struktur dalam novel Madame Kalinyamat dan (2) mendeskripsikan kemandirian perempuan yang tercermin pada diri Ratu Kalinyamat, tokoh utama dalam novel Madame Kalinyamat karya Zhaenal Fanani dalam perspektif feminisme. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan perspektif fenomenologi sastra. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak dan teknik catat. Uji validitas data menggunakan teknik trianggulasi Patton strategi pertama. Teknik analisis data yang dipergunakan yaitu, (1) metode dialektika dan (2) metode analisis isi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PERKEMAN Kemandirian Perempuan dalam Novel Madame Kalinyamat Karya Zhaenal Fanani: Perspektif Feminisme dan Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMA.

PERKEMAN Kemandirian Perempuan dalam Novel Madame Kalinyamat Karya Zhaenal Fanani: Perspektif Feminisme dan Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMA.

Analisis  unsur  pembangun  novel  Madame  Kalinyamat  dikelompokkan  menjadi  tiga  berdasarkan  fakta,  tema,  dan  sarana  sastra.  Berdasarkan  analisis  struktur  dapat  dikemukan  adanya  keterkaitan  antarunsur  pembangun  novel  Madame  Kalinyamat.   Berdasarkan  analisis  feminisme  kemandirian  yang  dimiliki  Ratu  Kalinyamat  menunjukkan  bahwa  perempuan  memiliki  kemampuan  untuk  menghadapi  segala  tantangan  hidup,  mengatasi  problematika  yang  dihadapi,  serta  melaksanakan  peran  yang  dimiliki  dalam  kehidupan  sehari‐hari.  Kemandirian yang ditunjukkan Ratu Kalinyamat dapat dilihat dari sudut pandang  politik, sosial, keluarga, dan keagamaan. 
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kemandirian Perempuan dalam Novel Madame Kalinyamat Karya Zhaenal Fanani: Perspektif Feminisme dan Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMA.

PENDAHULUAN Kemandirian Perempuan dalam Novel Madame Kalinyamat Karya Zhaenal Fanani: Perspektif Feminisme dan Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMA.

Peran yang ditunjukkan Ratu Kalinyamat menjadi manifestasi kemampuan seorang perempuan untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan konsep gender. Semangat feminisme yang diwakili oleh tokoh Ratu Kalinyamat, lahir jauh sebelum disepakatinya strategi meningkatkan peran wanita di tahun 1970-an. Menurut Irwan (2009:37), gerakan feminisme mulai muncul di Indonesia tahun 60-an.

8 Baca lebih lajut

KONSEP KESETARAAN TANGGUNG JAWAB SUAMI-ISTERI DALAM PENDIDIKAN ANAK MENURUT PERSPEKTIF FEMINISME ISLAM - Test Repository

KONSEP KESETARAAN TANGGUNG JAWAB SUAMI-ISTERI DALAM PENDIDIKAN ANAK MENURUT PERSPEKTIF FEMINISME ISLAM - Test Repository

mengubah arah diskusi feminisme pada tahun 1980-an, menjadi lebih terfokus pada analisis kualitas feminin, dan cenderung menerima perbedaan antara wanita dan pria. Mereka mulai percaya bahwa perbedaan jender bukan semata-mata konstruksi sosial budaya, melainkan juga fitrah. Orientasi perbedaan biologis ini memang bertolak belakang dengan premis feminisme Marxisme dan sosialis, yang menyatakan bahwa sikap feminin pada wanita diakibatkan oleh adanya sosialisasi, bukan karena fitrah. Timbullah pemikiran baru untuk mengoreksi pandapat ini. Maka paradigma feminisme tahun 1980- an telah terbalik, yaitu ingin memuji keunggulan kualitas feminin serta memaksimumkan perbedaan alami antara pria dan perempuan; bahwa secara esensial memang pria dan perempuan berbeda. Kalau sebelumnya kualitas feminin dianggap “inferior”, sekarang bahkan dianggap “superior”. Para ekofeminis mengajak para perempuan untuk melestarikan kualitas feminin agar dunia menjadi lebih seimbang dan segala kerusakan yang teijadi dapat dikurangi.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

PERJUANGAN PEREMPUAN MENGHADAPI KEKUASAAN DALAM LAKON “SUSI DUYUNG”: LUDRUK BUDHI WIJAYA

PERJUANGAN PEREMPUAN MENGHADAPI KEKUASAAN DALAM LAKON “SUSI DUYUNG”: LUDRUK BUDHI WIJAYA

Di samping untuk mendeskripsikan keberadaan kelompok Ludruk Budhi Wiaya, kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan lakon “Susi Duyung” dari perspektif feminisme, terutama yang terka[r]

20 Baca lebih lajut

DEKONSTRUKSI DOMINASI LAKI-LAKI DALAM NOVEL THE DA VINCI CODE KARYA DAN BROWN - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

DEKONSTRUKSI DOMINASI LAKI-LAKI DALAM NOVEL THE DA VINCI CODE KARYA DAN BROWN - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Hasil analisis struktural menunjukkan adanya dua sumbu pertentangan (oposisi biner) yaitu doxa dan orthodoxa. Hasil analisis dekonstruksi dengan pembacaan perspektif feminisme dekonstruksi menunjukkan adanya dekonstruksi terhadap dominasi laki-laki yang dilakukan oleh doxa meliputi: Yesus menikah dan memiliki keturunan sehingga tidak menafikkan peran Maria Magdalena yang seorang perempuan menjadi mitra Yesus; pengakuan terhadap putri Yesus yang merupakan sebuah pengukuhan terhadap sosok perempuan, karena pada masa Yesus, kelahiran anak perempuan dianggap aib; Maria Magdalena bukan keturunan orang miskin melainkan keturunan bangsawan; Maria Magdalena bukan seorang pelacur melainkan perempuan suci; Yesus berpihak pada perempuan seiring ditunjuknya Maria Magdalena sebagai penggantinya untuk memimpin gereja; konsep ziarah pada makam perempuan yang dianggap tidak tabu; dan proklamasi doxa “so dark the con of man” yang mengindikasikan ketidaksukaan doxa pada patriarki. Novel ini juga memperkenalkan simbol-simbol yang mendekonstruksi dominasi laki-laki seperti: pentacle, the vitruvian man, dan bintang david. Simbol-simbol yang digunakan tadi mengandung arti keharmonisan antara laki-laki dan perempuan.
Baca lebih lanjut

111 Baca lebih lajut

KONFLIK HUKUM DALAM TRADISI SIFON SUKU ATONI PAH METO DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR  Konflik Hukum Dalam Tradisi Sifon Suku Atoni Pah Meto Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (Studi Tentang Konflik Dan Resolusi Konflik Dalam Sistem Hukum Indonesia).

KONFLIK HUKUM DALAM TRADISI SIFON SUKU ATONI PAH METO DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Konflik Hukum Dalam Tradisi Sifon Suku Atoni Pah Meto Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (Studi Tentang Konflik Dan Resolusi Konflik Dalam Sistem Hukum Indonesia).

4.1.3 Bentuk-bentuk penyelesaian konflik yang disebabkan oleh Tradisi Sifon berdasarkan Perspektif Feminisme dan Positifisme adalah membatalkan atau melarang Tradisi Sifon karena Tradisi Sifon terbukti melegitimasi penindasan strukural terhadap kaum perempuan Suku Atoni Pah Meto, melanggar Hukum Negara, serta bertentangan dengan Pancasila. Penyelesaian konflik yang disebabkan oleh Tradisi Sifon berdasarkan Perspektif Feminisme dan Positifisme, tentu akan menyinggung rasa keadilan Suku Atoni Pah Meto, oleh karena itu harus ada bentuk penyelesaian lain yang tidak menyinggung rasa keadilan Suku Atoni Pah Meto. Alternatif lain bentuk penyelesaian konflik tersebut adalah dengan menggunakan Hukum Responsif. Bentuk-bentuk penyelesaian konflik yang disebabkan oleh Tradisi Sifon adalah penyelesaian konflik berdasarkan Perspektif Hukum Responsif, yaitu : (1). pendampingan non litigasi dan litigasi terhadap Kelompok Perempuan yang mengalami penindasan struktural, (2). Sikap responsif Penegak Hukum, (3). musyawarah antar Tokoh, (4). Pembaharuan teknik ritual Sifon.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

KESENIAN TOPENG MONYET

KESENIAN TOPENG MONYET

KESENIAN TOPENG MONYET: Suatu Kejadian Kebudayaan dari Perspektif Feminisme Marxis Ratna Asmarani Fakultas Sastra Universitas diponegoro Abstract Topeng Monyet the performance [r]

1 Baca lebih lajut

Jepang Sebagai Negara Patriarkhi Indonesia

Jepang Sebagai Negara Patriarkhi Indonesia

Feminisme merupakan suatu perspektif yang penuh dengan aliran dan doktrinisasi. 5 Terdapat banyak perbedaan pemikiran di dalam perspektif feminisme itu sendiri, seperti: feminis liberal, feminis Marxist, feminis kritis, feminis standpoint, dan feminis postmodern. Walaupun berbeda-beda, namun secara ringkas perspektif feminisme pada dasarnya merupakan pespektif yang memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) menggunakan gender sebagai suatu kategori utama dari analisis; (2) menganggap gender sebagai suatu jenis hubungan kekuasaan tertentu; (3) mencermati penggolongan publik/privat sebagai isu utama dalam pemahaman mengenai HI; (4) menelusuri cara-cara di mana ide-ide tentang gender dapat menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi usaha untuk memfungsikan lembaga-lembaga internasional utama; (5) menyarankan agar gender ―ditanamkan‖ dalam tatanan internasional; dan (6) menentang asumsi-asumsi dominan yang membagi apa yang penting atau tidak penting, atau apa yang marjinal atau sentral, dalam studi HI.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

 this  file 647 1166 1 SM

this file 647 1166 1 SM

Feminisme dalam Islam tentu saja tidak menyetujui setiap konsep atau pandangan feminis yang berasal dari Barat, khususnya yang ingin menempatkan laki-laki sebagai lawan perempuan. Disisi lain, feminisme Islam tetap berupaya untuk memperjuangkan hak-hak kesetaraan perempuan dengan laki-laki, yang terabaikan di kalangan tradisional konservatif, yang menganggap perempuan sebagai sub ordinat laki-laki. Dengan demikian, feminisme Islam melangkah dengan menengahi kelompok tradisional-konservatif di satu pihak dan pro feminisme modern dipihak lain. Feminisme Islam inilah yang oleh Mahzar disebut dengan Pasca Feminisme Islam Integratif, yang menempatkan perempuan sebagai kawan laki-laki untuk membebaskan manusia dari tarikan naluri kehewanan dan tarikan keserbamesinan di masa depan. 9
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TINJAUAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PO

TINJAUAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PO

perkembangan teori feminisme di Amerika dan dunia barat lainnya. Mereka memperjuangkan hak pilih, hak berbicara di muka publik, dan hak milik. Kebanyak tokoh dari feminis liberal berasal dari Amerika dan New York menjadi tempat favorit untuk mereka berkumpul sekitar tahun 1948. Diantara tokoh feminis liberal yang terkenal adalah Marry Wollstonecraft (1759- 1797) asal Inggris. Ia banyak menulis tentang posisi ekonomi dan sosial perempuan Eropa yang tidak menguntungkan. Ia juga membuka sekolah khusus perempuan di Newington Green, London Bagian Utara. Di benua Amerika tokoh perempuan seperti Ellen Craft (1826-1891) menuntut diberlakukan hak-hak politik bagi perempuan, bahkan memperjuangkan nasib para budak (Gadis Arivia, 2003).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Representasi Feminisme dalam Film (Analisis Semiotika Roland Barthes Mengenai Feminisme Dalam Film Maleficent )

Representasi Feminisme dalam Film (Analisis Semiotika Roland Barthes Mengenai Feminisme Dalam Film Maleficent )

Film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan isi pesan di baliknya. Pesan-pesan atau nilai-nilai yang terkandung dalam film dapat mempengaruhi penonton. Film Maleficent merupakan film adaptasi dongeng Sleeping Beauty yang menceritakan kehidupan seorang peri bernama Maleficent. Melalui film ini, karakter perempuan digambarkan sebagai subjek narasi yang aktif dan membawa pesan feminisme. Topik feminisme menarik perhatian peneliti karena selama ini perempuan sering digambarkan hanya sebagai objek narasi yang pasif bahkan objek erotis utama dalam film. Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin mengetahui bagaimanakah representasi feminisme dalam film Maleficent. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan menggunakan pendekatan semiotika khususnya semiotika Roland Barthes. Terdapat tiga tahap untuk menganalisis objek menurut Barthes, yaitu tahap denotasi, tahap konotasi dan mitos. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film Maleficent merupakan film yang merepresentasikan feminisme dengan menampilkan kekuatan perempuan. Subtema yang digunakan untuk menganalisa film tersebut adalah hubungan perempuan dengan alam, perempuan sebagai pemimpin dan hubungan perempuan dengan anak.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

KEKERASAN BERBASIS GENDER DALAM NOVEL MIMI LAN MINTUNA KARYA REMY SYLADO.

KEKERASAN BERBASIS GENDER DALAM NOVEL MIMI LAN MINTUNA KARYA REMY SYLADO.

Data-data yang diperoleh peneliti kemudian akan diolah dan dilakukan sebuah analisis. Dalam penelitian ini data dianalisis menggunakan pendekatan struktural, dan kritik sastra feminis. Pendekatan struktural Todorov dipilih dan akan digunakan untuk menganalisis struktur novel Mimi lan Mintuna karya Remy Sylado ini.. Sementara melalui kritik sastra feminis dan perspektif gender akan didapatkan jenis kekerasan gender dan perjuangan tokoh perempuan dalam relasinya dengan tokoh lain dalam novel. Berikut adalah langkah kerja penelitian ini.

17 Baca lebih lajut

Perjuangan Tokoh Enong Dalam Novel Dwilogi Padang Bulan Karya Andrea Hirata: Analisis Feminisme

Perjuangan Tokoh Enong Dalam Novel Dwilogi Padang Bulan Karya Andrea Hirata: Analisis Feminisme

Lebih lanjut Endraswara (2008: 147 – 148) menyatakan “Analisis feminisme hendaknya mampu mengungkap aspek-aspek ketertindasan wanita atas diri pria. Mengapa wanita secara politisi terkena dampak patriarki sehingga meletakkan wanita pada posisi inferior. Stereotipe bahwa wanita hanyalah pendamping laki-laki akan menjadi tumpuan kajian feminisme.” Sesuai pengertian di atas jelaslah bahwa feminisme juga tetap membahas persamaan hak antara laki-laki dan perempuan serta perjuangan perempuan dalam rangka keluar dari stereotipe yang berlaku di masyarakat, yakni keberadaan kaum perempuan yang selalu dinomorduakan dan struktur budaya patriarki yang mengikat kebebasan perempuan untuk maju.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL MASKUMAMBANG KARYA NANIEK PAMUJI.

PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL MASKUMAMBANG KARYA NANIEK PAMUJI.

Jadi, melalui tokoh Musrini yang telah digambarkan di atas, Naniek Pamuji membawa semangat feminisme liberal dalam novel Maskumambang. Peristiwa pahit yang dialami Musrini dan teman- temannya merupakan bentuk isi hati yang diungkapkan Naniek Pamuji dalam melukiskan keadaan perempuan Jawa khususnya di Madiun, tentang kekejaman yang dilakukan tentara Jepang (Dai Nippon). Mereka menganggap perempuan hanyalah sebagai objek pelampiasan hawa nafsunya saja, padahal dengan adanya para perempuan Jawa dibekali dengan ilmu pendidikan formal maka akan memungkinkan bertambahnya kepandaian mereka dan akan menjadikan posisi perempuan mendapatkan posisi yang setara dengan laki-laki di mata masyarakat.
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL MASKUMAMBANG KARYA NANIEK PAMUJI.

PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL MASKUMAMBANG KARYA NANIEK PAMUJI.

Feminisme radikal muncul sebagai reaksi atas kultur sexisme atau diskriminasi sosial berdasarkan jenis kelamin di barat pada tahun 60-an khususnya dalam melawan kekerasan seksual dan pornografi (Brownmiller dalam Ariyanti, 2007:27) menyatakan bahwa para penganut feminis radikal tidak melihat adanya adanya perbedaan antara tujuan personal dan politik, unsur seksual atau biologis. Sehingga dalam melakukan analisis tentang penyebab penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki, mereka menganggapnya dari jenis kelamin laki-laki itu sendiri beserta ideologi patriarkinya. Feminis radikal mengklaim sistem patriarkal ditandai oleh kuasa, dominasi, hirarki, dan kompetisi (Tong, 2006: 3).
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

FEMINISME DAN BUDAYA POPULER pada

FEMINISME DAN BUDAYA POPULER pada

Mereka dalam melihat keluarga adalah laki-laki disektor publik dan perempuan disektor privat dan ini pembagian yang terjadi didalam sistem kapitalis, padahal dalam keluarga tidak sesederhana itu karena didalam keluarga masih merupakan satu-satunya tempat dimana manusia dapat menemukan cinta, keamanan, dan kenyamanan, dan keluarga bukanlah hanya melulu merupakan alat produksi dan hanya melulu membicarakan keuangan semata tetapi juga mereka masih membahas tentang hal-hal penting lainnya yang menyangkut keluarga.Kritk keda yang menyangkut feminisme sosialis adalah cara mereka memandang bahwa feminisme ini terlalu sedikit membicarakan penindasan laki-laki terhadap perempuan, hal ini dikemukakan oleh feminisme marxis. Feminisme soslialis lebih memperhatikan penindasan utama adalah pada perempuan sebagai pekerja dan juga perempuan sebagai perempuan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Antara Gender dan Feminisme pdf

Antara Gender dan Feminisme pdf

Kesalahan pemaknaan dari istilah Gender tersebut menyebabkan ketidakadilan bagi perempuan, akibatnya muncul-lah beberapa kelemahan yang di tujukan pada perempuan, yaitu, Marginalisasi Perempuan, Subordinasi, Stereotipe, Kekerasan, dan Beban kerja. Dari ketidakadilan tersebut mendorong lahirnya aliran Feminisme, dimana aliran yang di bentuk atas keinginan untuk mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki.

3 Baca lebih lajut

EKSISTENSI PEREMPUAN PEJUANG DALAM NOVEL WANITA BERSABUK DUA KARYA SAKTI WIBOWO KAJIAN FEMINISME EKSISTENSIALIS

EKSISTENSI PEREMPUAN PEJUANG DALAM NOVEL WANITA BERSABUK DUA KARYA SAKTI WIBOWO KAJIAN FEMINISME EKSISTENSIALIS

Peneliti lain yang melihat tentang eksistensi wanita jawa dilakukan oleh Ningsih (2011) dengan judul Eksistensi Wanita Jawa dalam novel Sarunge Jagung karya Trinil S. Setyowati. Penelitian tersebut membahas tentang struktur novel Sarunge Jagung. Hasil penelitian tersebut menunjukkan (1) unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Sarunge Jagung karya Trinil.S. Setowati adalah salah satu keterjalinan, sehingga membentuk kebulatan atau totalitas. Cerita Sarunge Jagung menampilkan feminisme tentang kehidupan seorang kaum wanita Jawa yang tidak kalah dalam hal pendidikan dan pekerjaan dengan kaum lelaki walaupun dilanda permasalahan yang cukup berat dalam mencari pasangan hidup, (2) citra wanita dalam novel Sarunge Jagung karya Trinil.S. Setowati menunjukkan sosok wanita cerdas, pandai bergaul, disiplin, patang menyerah, beriman dan mempunyai perilaku yang baik, (3) sikap pengarang dalam memandang peran, fungsi, dan kedudukan wanita di masyarakat yaitu, pria dan wanita mempunyai peran yang sama dalam menikmati hasil pembangunan.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Show all 9159 documents...

Related subjects