Pneumonia Balita

Top PDF Pneumonia Balita:

Pemodelan Kasus Pneumonia Balita di Kota Surabaya dengan Geographically Weighted Poisson Regression dan Flexibly Shaped Spatial Scan Statistic

Pemodelan Kasus Pneumonia Balita di Kota Surabaya dengan Geographically Weighted Poisson Regression dan Flexibly Shaped Spatial Scan Statistic

Perbedaan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya kasus pneumonia balita per wilayah berbeda-beda, hal ini dikarenakan kondisi setiap wilayah mempunyai perbedaan karakteristik satu sama lain. Kondisi lingkungan yang buruk dan tidak dilaksanakannnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menyebabkan berkembangnya vektor penyakit karena tersedianya media penyebab penularan berbagai penyakit. Oleh karena itu, faktor PHBS perlu diperhatikan karena dapat mencegah terjadinya penyakit. Sehingga dalam penelitian ini akan memperhatikan faktor spasial, dengan metode yang digunakan adalah Geographically Weighted Poisson Regression (GWPR), dimana setiap wilayah akan menghasilkan penaksir parameter model yang bersifat lokal untuk setiap titik pengamatan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI  DENGAN LAMA RAWAT INAP PASIEN PNEUMONIA BALITA  Hubungan antara Status Gizi dengan Lama Rawat Inap Pasien Pneumonia Balita.

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN LAMA RAWAT INAP PASIEN PNEUMONIA BALITA Hubungan antara Status Gizi dengan Lama Rawat Inap Pasien Pneumonia Balita.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti empiris apakah terdapat hubungan antara status gizi dengan lama rawat inap penderita pneumonia balita. Dari hasil penelitian ini diambil dari 118 responden pneumonia, terdiri dari 14 responden gizi buruk, 51 responden gizi kurang, dan 53 responden gizi baik. Karakteristik responden pada penelitian ini terdiri dari 74 balita (62,7%) berusia 0–12 bulan, 27 balita (22,9%) berusia >1–2 tahun, 16 balita (13,6%) berusia >2 – 5 tahun (13,6%), 44 balita (37,3%) berjenis kelamin perempuan, 74 balita (62,7%) berjenis kelamin laki–laki, 61 balita (51,7%) dengan lama rawat inap lama, 57 balita (48,3%) dengan lama rawat inap cepat, 73 balita (61,9%) tinggal diluar Surakarta, dan 45 balita (38,1%) tinggal dikota Surakarta, pendidikan ibu S1 (33,1%) atau sebanyak 39, ibu D3 (16,1%) atau sebanyak 19, ibu SMA (30,5%) atau sebanyak 36, ibu SMP (20,3%) atau sebanyak 34.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENCEMARAN UDARA DALAM RUANG DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA BALITA

HUBUNGAN ANTARA PENCEMARAN UDARA DALAM RUANG DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA BALITA

melaksanakan program perbaikan rumah terutama di perkotaan. Sebab masalah rumah yang tidak layak ternyata bukan hanya ditemukan di pedesaan, namun juga di daerah perkotaan. Selain itu, pemerintah juga sebaiknya melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan petugas kesehatan mengenai rumah sehat beserta persyaratannya. Sedangkan bagi masyarakat sebaiknya meminimalisir pencemaran udara yang terjadi di dalam rumah dengan cara menghindari perilaku merokok. Namun bagi masyarakat yang merokok, sebaiknya tidak merokok di dalam rumah. Terutama bagi mereka yang salah satu anggota keluarganya adalah balita. Sebab dalam penelitian ini, asap rokok dalam rumah terbukti dapat meningkatkan risiko terjadinya pneumonia balita. Selain itu masyarakat juga diharapkan bersedia memperbaiki kondisi rumahnya terutama ventilasi ruangan hingga memenuhi syarat minimal yang telah ditentukan yaitu sebesar 20% luas lantai. Sedangkan bagi peneliti lain, penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai pneumonia balita.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGANANTARA STATUS GIZI  DENGANLAMA RAWAT INAP PASIEN PNEUMONIA BALITA  Hubungan antara Status Gizi dengan Lama Rawat Inap Pasien Pneumonia Balita.

HUBUNGANANTARA STATUS GIZI DENGANLAMA RAWAT INAP PASIEN PNEUMONIA BALITA Hubungan antara Status Gizi dengan Lama Rawat Inap Pasien Pneumonia Balita.

Skripsi dengan judul berjudul “HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN LAMA RAWAT INAP PASIEN PNEUMONIA BALITA DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA“. Skripsi ini disusun dalam rangka untukmemenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh derajat sarjana kedokteran diFakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

14 Baca lebih lajut

STATUS GIZI DAN IMUNISASI SEBAGAI DETERMINAN KEJADIAN PNEUMONIA BALITA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (Nutritional and Immunization Status as Determinant of Pneumonia Incident in Children Under Five in East Nusa Tenggara Province)

STATUS GIZI DAN IMUNISASI SEBAGAI DETERMINAN KEJADIAN PNEUMONIA BALITA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (Nutritional and Immunization Status as Determinant of Pneumonia Incident in Children Under Five in East Nusa Tenggara Province)

Background: Pneumonia in children under five years old is a health problem in Indonesia. It is associated with high morbidity and mortality due to pneumonia. One of the control efforts are in recognition of the determinant factors of pneumonia in children under five, so the reduction and prevention of this disease can be done properly. This paper aims to outline some of the determinant factors of pneumonia in children under five years old in the province of East Nusa Tenggara include immunization status, nutritional status and healthy home. Methods: The data used are secondary data Provincial Health Office of East Nusa Tenggara in 2012 include data cases, nutritional status, immunization, exclusive breastfeeding and healthy home were analyzed. Results: The results indicate the scope of discovery and handling pneumonia in children under five in 2012 amounted to 19.2%, a factor of determination relating to pneumonia incidence was 59% complete immunization status, Nutritional status is less their 12.6%, 1.4% severe malnutrition, coverage exclusive breastfeeding is 49.7%, and 61.1% coverage of a healthy home. Conclusion: Cases of pneumonia in children under five in NTT has increased in 2012. The condition factor of immunization status, coverage Exclusive breastfeeding, nutritional status be a factor supporting the occurrence of pneumonia in under five. Recommendation: Suggested an improve in education about pneumonia, exclusive breastfeeding, toddler nutrition and the importance of immunization and growth monitoring sessions mobilize the community in a way increased participation posyandu cadres so as to improve immunization status and improvement of nutritional status of children under five years old.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

The Risk Factors of Pneumonia Disesase at Babies Under Five Years Old Based on Measles Imune Status and Breast Freeding Exclusive Status Dian Eka Puspitasari1 , Fariani Syahrul2

The Risk Factors of Pneumonia Disesase at Babies Under Five Years Old Based on Measles Imune Status and Breast Freeding Exclusive Status Dian Eka Puspitasari1 , Fariani Syahrul2

Jumlah kasus pneumonia balita cenderung meningkat di kota Surabaya tiap tahunnya. Di RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya, penyakit pneumonia pada balita termasuk dalam 10 besar penyakit terbanyak pada anak yang berusia 1–5 tahun di rawat inap anak (ruang ganesa) periode tahun 2011–2013. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko pneumonia pada balita berdasarkan status imunisasi campak dan status ASI eksklusif. Jenis penelitian yaitu observasional analitik dengan desain kasus kontrol. Sampel penelitian terdiri dari 20 sampel kasus (balita yang menderita pneumonia) yang diambil secara total populasi dan 40 sampel kontrol (balita yang tidak menderita pneumonia) yang diambil secara random. Variabel bebas meliputi status imunisasi campak dan status ASI eksklusif, sedangkan variabel terikat meliputi penyakit pneumonia pada balita. Analisis data dengan menghitung odds ratio dan menggunakan statcalc pada tingkat kepercayaan 95% CI (Confi dence Interval). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita penderita pneumonia berjenis kelamin laki-laki dan berumur 1–< 2 tahun. Balita yang tidak mendapatkan imunisasi campak berisiko 10,23 kali untuk terkena pneumonia dibandingkan dengan balita yang mendapatkan imunisasi campak; 95% CI (1,60–107,95), dan balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif berisiko 7,00 kali untuk terkena pneumonia dibandingkan dengan balita yang mendapatkan ASI eksklusif; 95% CI (1,82–29,49). Pentingnya meningkatkan kesadaran orang tua mengenai pemberian imunisasi campak dan asi eksklusif dapat mencegah kejadian pneumunia pada balita.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA USIA 1-5 TAHUN DI PUSKESMAS CANDI LAMA KECAMATAN CANDISARI KOTA SEMARANG Defi Ratnasari Ari Murdiati) Frida Cahyaningrum) )Akademi kebidanan Abdi Husada Semarang Korespondensi: ari.murdiatiyahoo.c

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA USIA 1-5 TAHUN DI PUSKESMAS CANDI LAMA KECAMATAN CANDISARI KOTA SEMARANG Defi Ratnasari Ari Murdiati) Frida Cahyaningrum) )Akademi kebidanan Abdi Husada Semarang Korespondensi: ari.murdiatiyahoo.c

Hasil penelitian mengenai status gizi terhadap kejadian pneumonia diperoleh hasil bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi kurang pada kelompok kasus. Dari data tersebut ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian pneumonia. Balita dengan status gizi kurang memiliki risiko terjadinya pneumonia lebih besar dibandingkan dengan balita dengan status gizi baik dan lebih. Hasil penelitian diperoleh bahwa dengan status gizi balita yang kurang sebagian besar balita mengalami kejadian pneumonia. Sedangkan balita dengan status gizi baik dan lebih sebagian besar tidak mengalami kejadian pneumonia. Hal ini sesuai dengan teori Supariasa (2002) menyatakan, bahwa kaitan penyakit infeksi dengan keadaan gizi kurang merupakan hubungan timbal balik, yaitu hubungan sebab – akibat. Status gizi kurang dengan keadaan imunitas rendah akan mudah terserang penyakit infeksi tetapi apabila status gizinya semakin memburuk, penyakit yang dianggap biasa dapat menjadi berat dan menyebabkan kematian.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Berat Badan Lahir (bbl) dan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Puskesmas Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.

PENDAHULUAN Hubungan Berat Badan Lahir (bbl) dan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Puskesmas Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Jawa Tengah, persentase penemuan dan penanganan jumlah penderita pneumonia di Jawa Tengah pada balita tahun 2012 sebesar 24,74%. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo diketahui bahwa dari 12 Puskesmas ditemukan kasus pneumonia tertinggi di Puskesmas Tawangsari Kabupaten Sukoharjo dengan persentase pneumonia sebesar 1,3% tahun 2012 dan pada tahun 2013 jumlah kasus meningkat menjadi 12,4%. Data peningkatan persentase kasus pneumonia balita juga tercatat di laporan wilayah dari Puskesmas Tawangsari, yaitu kasus pneumonia pada tahun 2012 sebanyak 10,37% dari 347 balita, tahun 2013 sebanyak 26,78% dari 295 balita dan Jumlah kasus ini meningkat pada tahun 2014 prevalensi pneumonia sebanyak 46,86% dari 318 balita (Puskesmas Tawangsari, 2013).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ULANG DENGAN KESEMBUHAN PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS PIYUNGAN BANTUL NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Kepatuhan Kunjungan Ulang dengan Kesembuhan Pneumonia pada Balita di Puskesmas Piyungan Bantul - DIGILIB UNISAYOGYA

HUBUNGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ULANG DENGAN KESEMBUHAN PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS PIYUNGAN BANTUL NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Kepatuhan Kunjungan Ulang dengan Kesembuhan Pneumonia pada Balita di Puskesmas Piyungan Bantul - DIGILIB UNISAYOGYA

Berdasarkan data penelitian pada tabel 3, balita yang patuh melakukan kunjungan ulang dan sembuh pneumonia sebanyak 41 balita atau 100%, balita yang patuh melakukan kunjungan ulang dan tidak sembuh sebanyak 12 balita atau 29,3%. Balita yang tidak patuh dalam melakukan kunjungan ulang dan tidak sembuh pneumonia sebanyak 29 balita atau 70,7%. Balita yang sembuh pneumonia sebagian besar patuh melakukan kunjungan ulang. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan fisher exact test didapatkan p-value 0,000 (p < 0,05) artinya secara statistik terdapat hubungan antara kepatuhan kunjungan ulang dengan kesembuhan pneumonia. Hasil analisis juga didapatkan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 0,226 (CI; 95%: 0,138-0,372), artinya balita yang patuh melakukan kunjungan ulang bukan merupakan faktor risiko kesembuhan pneumonia pada balita. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nurhidayati (2008) dengan hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan follow up dengan pemulihan pneumonia balita di puskesmas kabupaten Bungo Provinsi Jambi tahun 2008 dengan nilai p=0,02 OR=0,57 (CI 95%: 0,35-0,92).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Factors that Influence of Pneumonia in Children Under Five Old’s at Puskesmas Susunan Baru in Kota Bandar Lampung Year 2012

Factors that Influence of Pneumonia in Children Under Five Old’s at Puskesmas Susunan Baru in Kota Bandar Lampung Year 2012

Hal ini berbeda dengan hasil penelitian di Kabupaten Salatiga oleh Hidayat (2009) didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian pneumonia balita. Beberapa studi melaporkan kekurang- an gizi akan menurunkan kapasitas kekebalan untuk merespon infeksi pneumonia termasuk gangguan fungsi granulosit, penurunan fungsi komple- men dan menyebabkan kekurangan mikronutrien (Sunyataningkamto, 2004). Oleh karena itu pemberian nutrisi yang sesuai dengan pertumbuh- an dan perkembangan balita dapat mencegah anak terhindar dari penyakit infeksi sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi optimal. Kelengkapan Status Imunisasi
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Analisis Kejadian Kasus ISPA (Pneumonia dan Bukan Pneumonia) Berbantu Sistem Informasi Geografis Puskesmas di Kabupaten Semarang Tahun 2011-2012.

Analisis Kejadian Kasus ISPA (Pneumonia dan Bukan Pneumonia) Berbantu Sistem Informasi Geografis Puskesmas di Kabupaten Semarang Tahun 2011-2012.

Setelah dilakukannya penelitian, puskesmas di Kabupaten Semarang setiap bulan melaporkan semua kasus ISPA yaitu pneumonia dan bukan pneumonia balita dan dewasa kepada Dinas Kesehatan yang selanjutnya akan direkap oleh petugas P2 ISPA menjadi laporan tahunan. Tetapi pada program pelaporan P2 ISPA di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang yang dilaporkan adalah kasus ISPA pneumonia baik balita maupun dewasa, sedangkan untuk kasus ISPA bukan pneumonia tidak dimasukkan ke dalam program pelaporan P2 ISPA di Dinas Kesehatan untuk pelaporan ke tingkat yang lebih tinggi. Untuk keakuratan pencatatan diharapkan setiap puskesmas setiap bulannya melaporkan ke Dinas Kesehatan sehingga dapat dihasilkan data yang lengkap dan akurat. Kendala dalam pelaporan ISPA di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang adalah ada puskesmas yang tidak tertib dalam melaporkan kasus ISPA sehingga data yang dihasilkan tidak lengkap.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PUBLIKASI KARYA ILMIAH HUBUNGAN STATUS GIZI DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT  Hubungan Status Gizi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Puskesmas Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.

PUBLIKASI KARYA ILMIAH HUBUNGAN STATUS GIZI DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT Hubungan Status Gizi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Puskesmas Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.

Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi pada anak dan merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita. Pneumonia menyebabkan empat juta kematian pada anak, kematian balita karena pneumonia mencakup 19% dari seluruh kematian balita. Menurut hasil Riskesdas (2007), bakteri patogen Streptococcus Pneumonia, Haemophilus influenza dan Respiratory Syncytial Virus sebagai penyebab utama pneumonia pada anak balita. Pneumonia merupakan penyebab kematian nomor dua di Indonesia pada balita (13,2%). Pada tahun 2012 jumlah penderita pneumonia pada balita di Indonesia sebesar 23,42%. Prevalensi pneumonia balita di Jawa Tengah pada tahun 2012 sebasar 23,50% (Kemenkes RI, 2013).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI PENANGANAN PNEUMONIA PADA BALITA DENGAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) DI PUSKESMAS BANDAR KHALIPAH KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2015

IMPLEMENTASI PENANGANAN PNEUMONIA PADA BALITA DENGAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) DI PUSKESMAS BANDAR KHALIPAH KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2015

i ii iii iv vi vii viii ix xii xiii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1.2 Perumusan Masalah ................................................................................. 1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................................... 1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 2.1 Pusat Kesehatan Masyarakat..................................................................... 2. 1.1 Visi dan Misi Puskesmas…... ................................................................ 2.2 Pengertian ISPA dan Pneumonia.............................................................. 2.2.1 Pengertian ISPA………….. ................................................................... 2.2.2 Pengertian Pneumonia............................................................................ 2.2.3 Penyebab Pneumonia……… ................................................................. 2 .2.4 Klasifikasi Pneumonia……… ............................................................... 2 .2.5 Gejala dan Tanda Pneumonia….. .......................................................... 2.2 .6 Faktor Resiko Pneumonia Balita……… ............................................... 2.2.7 Diagnosis dan Tatalaksana Pneumonia.................................................. 2 .2.8 Pencegahan Pneumonia…… .................................................................. 2.3 Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)............................................... 2.3.1 Sejarah MTBS di Indonesia……... ........................................................ 2.3.2 Sasaran………………………. .............................................................. 2.3.3 Tujuan.................................................................................................... 2.3.4 Manfaat MTBS…... ............................................................................... 2.3.5 Materi M TBS……… ............................................................................. 2.3.6 Strategi Menuju MTBS.......................................................................... 2.3.7 Komponen MTBS.................................................................................. 2.4 Manajemen Terpadu Balita Sakit di Puskesmas....................................... 2.4.1 Persiapan MTBS di Puskesmas.............................................................
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Kelurahan Air Tawar Barat Padang

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Kelurahan Air Tawar Barat Padang

merupakan faktor risiko kejadian pneumonia, balita yang status gizinya kurang 9,1 kali berisiko pneumonia dibandingkan dengan balita yang status gizinya baik. Malnutrisi adalah faktor risiko yang paling penting untuk terjadinya kasus pneumonia pada balita yang disebabkan oleh asupan yang kurang memadai. Malnutrisi akan menghambat pembentukan antibodi yang spesifik dan juga akan mengganggu pertahanan paru. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Sugihartono pada tahun 2012 di Puskesmas Sidorejo yang menunjukkan bahwa ada hubungan status gizi kurang dengan kejadian pneumonia (p=0,015; OR=3,121 dan 95% CI=1,225-7,957). 17 Status gizi balita yang kurang salah satunya bisa disebabkan karena asupan makanan yang kurang, hal yang sangat berperan penting disini adalah orang tua dalam memperhatikan asupan anaknya. Pengetahuan gizi yang baik akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi. Semakin banyak pengetahuan gizi seseorang, maka ia akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makan yang diperolehnya untuk dikonsumsi. 18
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

FAKTOR RISIKO KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ULAK KARANG PADANG TAHUN 2014.

FAKTOR RISIKO KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ULAK KARANG PADANG TAHUN 2014.

Pneumonia merupakan salah satu penyakit yang berkontribusi terhadap peningkatan angka kematian bayi (AKB), merupakan penyebab utama kematian balita di Indonesia maupun di dunia, yang dikenal dengan pembunuh balita yang terlupakan. Untuk mengatasi masalah ini Kemenkes RI bersama beberapa lintas sektor melakukan berbagai upaya dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit ini. Pneumonia balita termasuk dalam salah satu indikator keberhasilan program pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan seperti yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementrian Kesehatan tahun 2010-2014. (3)
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Pneumonia - Sri Suparni BAB II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Pneumonia - Sri Suparni BAB II

Bila disertai dengan tanda-tanda klinis seperti berhenti menyusu (jika sebelumnya menyusu dengan baik), kejang, rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit bangun, stridor pada anak yang tenang, mengi, demam (38ºC atau lebih) atau suhu tubuh yang rendah (di bawah 35,5 ºC), pernapasan cepat 60 kali atau lebih per menit, penarikan dinding dada berat, sianosis sentral (pada lidah), serangan apnea, distensi abdomen dan abdomen tegang. Penderita pneumonia berat juga mungkin disertai tanda-tanda lain seperti : (1) Napas cuping hidung, hidung kembang kempis waktu

29 Baca lebih lajut

Analisis Penatalaksanaan Pneumonia pada Balita dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di Puskesmas Belawan Kota Medan Tahun 2016

Analisis Penatalaksanaan Pneumonia pada Balita dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di Puskesmas Belawan Kota Medan Tahun 2016

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis penatalaksanaan pneumonia dengan MTBS di Puskesmas Belawan. Dengan menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi sebagai cara untuk mengumpulkan data. Informan penelitian ini sebanyak 5 orang, yaitu Kepala Puskesmas Belawan, 1 orang penanggung jawab ruang poli KIA/MTBS, 1 orang tenaga kesehatan ruang poli KIA/MTBS dan 2 orang pasien Ibu Balita. Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Belawan Kecamatan Medan Belawan.

19 Baca lebih lajut

Show all 4583 documents...