Pola Kalimat Bahasa Jepang

Top PDF Pola Kalimat Bahasa Jepang:

EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN SCRAMBLE TEKNIK GIVE THE KEYWORD DALAM PEMBELAJARAN POLA KALIMAT BAHASA JEPANG.

EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN SCRAMBLE TEKNIK GIVE THE KEYWORD DALAM PEMBELAJARAN POLA KALIMAT BAHASA JEPANG.

Dalam pembelajaran bahasa asing, hal yang paling sulit bagi pelajar adalah pola kalimat. Kunci agar pembelajaran pola kalimat menjadi pelajaran yang menyenangkan dan mudah difahami adalah dengan diterapkannya metode dan teknik pembelajaran yang inovativ. Sehubungan dengan hal itu, penulis ingin melakukan penelitian mengenai efektivitas metode dan teknik pembelajaran terhadap pembelajaran pola kalimat. Adapun tema dari penelitian ini adalah “Efektivitas Metode Pembelajaran Scramble Teknik Give the Keyword dalam Pembelajaran Pola Kalimat Bahasa Jepang”. Metode penelitian ini adalah metode quasi eksperiment, dengan desain penelitian one group pretest posttest design. Telah banyak penelitian terdahulu mengenai efektivitas metode dan teknik dalam pembelajaran namun, efektivitas metode scramble dan teknik give the keyword terhadap pembelajaran pola kalimat benar-benar tema yang baru. Ada 20 orang sampel yang berperan aktif dalam tahapan penelitian ini. Adapun tahapan penelitian ini adalah pretest, treatment, posttest dan pemberian angket. Selanjutnya adalah hasil penghitungan data pretest dan posttest. Nilai rata-rata siswa pada pretest adalah 48,2 dengan standar deviasi sebesar 8,25. Sedangkan nilai rata-rata siswa pada posttest adalah 84,35 dengan standar deviasi sebesar 9,44. berdasarkan data tersebut dapat terlihat perubahan nilai yang signifikan.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE TALKING STICK DALAM PEMBELAJARAN POLA KALIMAT BAHASA JEPANG TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA.

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE TALKING STICK DALAM PEMBELAJARAN POLA KALIMAT BAHASA JEPANG TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA.

Mempelajari bahasa Jepang bukanlah hal mudah. Selain huruf kanji yang rumit dan banyak, kosakata dan pola kalimat bahasa Jepang juga sangat sulit dipelajari karena sangat berbeda dengan bahasa ibu yang biasa digunakan sehari- hari. Hal ini tentu saja bisa menyebabkan minat siswa terhadap pembelajaran bahasa Jepang berkurang. Untuk terus mempertahankan minat siswa terhadap pembelajaran bahasa Jepang diperlukan suatu model pembelajaran yang inovatif dan menarik bagi siswa sehingga pembelajaran bahasa Jepang yang dianggap sulit menjadi menyenangkan untuk dipelajari.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

MODEL PENGGUNAAN MEDIA POWER POINT DALAM PENGEMBANGAN POLA KALIMAT BAHASA JEPANG TINGKAT DASAR: PENELITIAN TERHADAP MAHASISWA TINGKAT I DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG - repository UPI S JEP 1106007 Title

MODEL PENGGUNAAN MEDIA POWER POINT DALAM PENGEMBANGAN POLA KALIMAT BAHASA JEPANG TINGKAT DASAR: PENELITIAN TERHADAP MAHASISWA TINGKAT I DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG - repository UPI S JEP 1106007 Title

MODEL PENGGUNAAN MEDIA POWER POINT DALAM PENGEMBANGAN POLA KALIMAT BAHASA JEPANG TINGKAT DASARPENELITAN TERHADAP MAHASISWA TINGKAT I DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG Oleh Romi[r]

4 Baca lebih lajut

S JEP 1106007 Chapter5

S JEP 1106007 Chapter5

3. Berdasarkan hasil data angket yang diisi oleh responden, dapat disimpulkan bahwa medel penggunaan media power point dalam mengembangkan pola kalimat Bahasa Jepang mendapat tanggapan yang sangat baik dan positif. Hal itu dikarenakan penggunaan media power point sangat membantu mahasiswa tingkat 1 dalam memahami penggunaan pola kalimat. Penggunaan media power point didalam kelas membuat suasana bejar didalam kelas menjadi menyenangkan.

2 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF ROUND TABLE DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN POLA KALIMAT DASAR BAHASA JEPANG.

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF ROUND TABLE DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN POLA KALIMAT DASAR BAHASA JEPANG.

Setelah diberikan perlakuan (treatment) berupa model pembelajaran kooperatif round table pada kelas eksperimen, penulis lalu memberikan post-test kepada kedua kelas, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Berdasarkan hasil post-test tersebut diketahui bahwa nilai rata-rata kemampuan penguasaan pola kalimat bahasa Jepang siswa SMA Negeri 15 Bandung pada kelas eksperimen adalah 9.003 dan pada kelas kontrol adalah 8.146 dimana menurut tabel penafsiran standar penilaian UPI, nilai rata-rata post-test pada kelas eksperimen dikategorikan baik sekali dan nilai rata-rata post-test pada kelas kontrol dikategorikan baik. Setelah melalui uji statistik dengan t hitung lebih besar dibandingkan dengan t tabel yaitu 4.66>2.68 dengan taraf signifikasi 1%, maka dapat dinyatakan bahwa Hipotesis Kerja (Hk) dalam penelitian ini diterima.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN TEKNIK TRANSFORMATION DRILL DENGAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN POLA KALIMAT DASAR BAHASA JEPANG.

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN TEKNIK TRANSFORMATION DRILL DENGAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN POLA KALIMAT DASAR BAHASA JEPANG.

Diantara beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran pola kalimat bahasa Jepang adalah dengan menerapkan metode drill. Metode drill efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran pola kalimat dasar bahasa Jepang karena metode ini menerapkan kegiatan berlatih diversifikasi bahasa secara berulang, sehingga dalam pembelajaran bahasa Jepang metode ini akan sangat tepat dalam membantu siswa meningkatkan pemahaman pola kalimat bahasa Jepang, mengingat kosakata, juga pada gilirannya akan mengembangkan ke-empat ketrampilan berbahasa seseorang, yaitu keterampilan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sardiman (2006, hlm. 23) bahwa kata “ drill ” berarti latihan yang berulang -ulang yang bersifat “ trial and error ” ataupun melalui prosedur rutin tertentu. Sehing ga dengan kata lain, drill merupakan latihan dengan praktek yang dilakukan berulang untuk mendapatkan ketrampilan berbahasa seseorang yang baik.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

S JEP 1202998 Bibliography

S JEP 1202998 Bibliography

Susi Susilawati, 2016 EFEKTIVITAS METODE SNOWBALL DRILLING PADA PEMBELAJARAN POLA KALIMAT BAHASA JEPANG DASAR Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.up[r]

2 Baca lebih lajut

Penggunaan “Partikel Gurai Dan Goro” Dalam Kalimat Bahasa Jepang

Penggunaan “Partikel Gurai Dan Goro” Dalam Kalimat Bahasa Jepang

Namun untuk dapat berkomunikasi bahasa Jepang yang baik, kita harus memahami struktur bahasa Jepang. Adanya kekurangan pemahaman akan gramatika bahasa Jepang, dapat menimbulkan kesulitan dalam menggunakan pola kalimat bahasa Jepang yang baik dan benar, dapat menimbulkan kerancuan makna, juga kesan yang tidak baik bagi pihak yang menerima informasi. Dalam struktur bahasa Jepang, joshi merupakan salah satu jenis kelas kata.

32 Baca lebih lajut

ANALISIS MAKNA FUKUGOUDOUSHI ~AU DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG.

ANALISIS MAKNA FUKUGOUDOUSHI ~AU DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif, yaitu sebuah metode yang bertujuan untuk memaparkan atau menjelaskan segala sesuatu secara terperinci dan jelas dengan apa adanya. Menurut Sutedi (2009:58), metode analisis deskriptif adalah menggambarkan, menjabarkan suatu fenomena yang terjadi saat ini dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah secara aktual. Selain itu, metode analisis deskriptif merupakan cara yang tepat untuk menggambarkan secara sistematis makna dari suatu kata, frasa, ataupun kalimat dari suatu bahasa, yang kemudian dikelompokkan menurut pola tertentu dan makna yang dihasilkannya dan selanjutnya dianalisis.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Analisis Pola Kalimat-No Kiwami Dan -No Itari Dalam Bahasa Jepang

Analisis Pola Kalimat-No Kiwami Dan -No Itari Dalam Bahasa Jepang

Penulis meneliti fungsi dan penggunaan pola kalimat ~no kiwami dan ~no itari dari kalimat-kalimat yang mengandung kedua pola kalimat tersebut yang terdapat dalam NHK online, Rakuten, Youtube, HIS Japan, Asahi Shinbun Digital, Sankei Shinbun, Rakumachi, Amazon, Jcast, Fuji Tv, Yomiuri Shinbun. Penulis berharap agar dengan penelitian ini dapat berguna bagi orang lain supaya referensi N1 di Indonesia pun bertambah dan khususnya bagi penulis sendiri, agar lebih termotivasi lagi untuk meningkatkan kemampuan bahasa Jepang khususnya dari segi pola kalimat tingkat lanjut.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

RPP untuk Kegiatan Pembelajaran Bahasa J

RPP untuk Kegiatan Pembelajaran Bahasa J

Penyampaian pola kalimat mengenai nama benda dalam bahasa asing lainnya selain bahasa Jepang dan penerapannya kepada peserta didik.. Lisan, power point, dan white board.[r]

3 Baca lebih lajut

Penggunaan Joshi ‘‘Ka” Dalam Kalimat Bahasa Jepang

Penggunaan Joshi ‘‘Ka” Dalam Kalimat Bahasa Jepang

2. Joshi ka termasuk ke dalam fukujoshi dan shuujoshi. Adapun fungsi joshi “ka” dalam fukujoshi ialah dipakai pada kalimat tanya dengan pola ~ka~ka, untuk menyatakan ketidakpastian atau ketidakjelasan mengenai orang, benda, waktu dan lain sebagainya, untuk menggabungkan dua kata, dua ungkapan atau yang sejenis untuk menunjukkan salah satu daripadanya;”atau” , cara mengungkapkan yang berpola kalimat tertentu “ka dou ka” yang menunjukkan arti “apakah ~atau tidak~”, digunakan ditengah kalimat untuk menunjukkan isi pertanyaan yang belum diketahui, digunakan dengan kata tanya yang berhubungan dengan joshushi, untuk merubah kalimat pernyataan menjadi kalimat pertanyaan.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

S JEP 1000999 Table of Conten

S JEP 1000999 Table of Conten

Teknik Transformation Drill Dalam Pembelajaran Pola Kalimat Dasar Bahasa Jepang.. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Transformation Drill.[r]

9 Baca lebih lajut

Analisis makna verba deru  dalam kalimat  Bahasa jepang

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Ada yang berpendapat bahwa polisemi adalah dalam satu bunyi (kata) terdapat makna lebih dari satu. Tetapi batasan seperti ini masih belum cukup, sebab dalam bahasa Jepang, kata yang merupakan satuan bunyi dan memiliki makna lebih dari satu banyak sekali, serta didalamnya ada yang termasuk polisemi (ta gigo) dan ada juga yang termasuk homonim (dou-on-igigo). Oleh karena itu, kedua hal tersebut perlu dibuat batasan yang jelas. Kunihiro (1996:97) memberikan batasan tentang kedua istilah tersebut, bahwa : Polisemi (tagigo) adalah kata yang memiliki makna lebih dari satu, dan setiap makna tersebut ada pertautannya, sedangkan yang dimaksudkan dengan homonim (dou-on-igigo), yaitu beberapa kata yang bunyinya sama, tetapi maknanya berbeda dan diantara makna tersebut sama sekali tidak ada pertautannya.( Dedi Sutedi 2003:135).
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Fungsi Kata Keterangan Yatto Dalam Kalimat Bahasa Jepang

Fungsi Kata Keterangan Yatto Dalam Kalimat Bahasa Jepang

Kono michi wa kuruma ga yatto ichidai tooreru kurai no semasa desu. Jalan ini begitu sempit bahwa satu mobil hampir tidak bisa melaluinya. Fukushi yatto pada kalimat di atas menunjukkan bahwa keadaan tersebut hampir tidak/nyaris dapat dilewati. Mungkin karena keahlian atau kemahiran sang supir dalam mengemudikan mobil, sehingga mobil yang dikendarainya dapat melewati jalan yang begitu sempit tersebut. Dan mungkin hampir tidak semua jenis mobil dapat melewati jalan tersebut.

36 Baca lebih lajut

Kalimat Pasif Bahasa Jepang: Kajian Sintaktis Dan Semantis.

Kalimat Pasif Bahasa Jepang: Kajian Sintaktis Dan Semantis.

Dalam penelitian ini, kalimat pasif BJ pertama dipilah berdasarkan asal subjeknya menjadi pasif murni dan pasif takmurni. Pasif murni adalah kalimat pasif yang subjeknya berasal dari argumen kalimat aktifnya, sedangkan pasif takmurni adalah kalimat pasif yang subjeknya berasal dari luar argumen kalimat aktifnya. Pasif murni dibagi dua, yaitu (a) pasif yang berpredikat verba transitif dan (b) pasif yang berpredikat verba dwitransitif. Pasif murni transitif dipilah lagi ke dalam (i) pasif yang bersubjek nomina bernyawa (tipe I) dan (ii) pasif yang bersubjek nomina tidak bernyawa (tipe II~VIII). Pasif murni verba dwitransitif dipilah ke dalam (i) pasif yang bersubjek nomina bernyawa (tipe IX ), (ii) pasif yang bersubjek nomina tidak bernyawa (tipe X ), dan pasif yang bersubjek nomina (benyawa dan tidak) yang disebut pasif konten (tipe XI), sehingga pasif murni ini ada sebelas tipe. Ciri pasif tipe I adalah subjek dan pelengkapnya berupa nomina bernyawa, ciri tipe II harus diisi oleh verba yang menyatakan arti merusak (menguntungkan) , ciri tipe III diisi dengan verba yang menyatakan arti menaikkan nilai subjek (menguntungkan), ciri tipe IV pelakunya harus orang terkenal, ciri tipe V pelakunya harus disamarkan, ciri tipe VI pelengkapnya nomina tidak bernyawa, ciri tipe VII pelakunya diikuti partikel NI YOTTE, ciri tipe VIII pelakunya tidak dimunculkan, dan ciri tipe IX , X , dan XI memiliki tiga buah argumen.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects