Pola pendidikan agama anak

Top PDF Pola pendidikan agama anak:

POLA PENDIDIKAN AGAMA BAGI ANAK ASUH (STUDI PADA PANTI ASUHAN KOTA BANJARMASIN)

POLA PENDIDIKAN AGAMA BAGI ANAK ASUH (STUDI PADA PANTI ASUHAN KOTA BANJARMASIN)

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis saya yang berjudul: “Pola Pendidikan Agama Bagi Anak Asuh (Studi Pada Panti Asuhan Kota Banjarmasin)” adalah benar-benar karya saya, kecuali kutipan yang disebut sumbernya. Apabila di kemudian hari terbukti bahwa tesis ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil plagiasi, saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai ketentuan yang berlaku.

13 Baca lebih lajut

ANALISIS POLA ASUH DALAM MENERAPKAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK USIA DINI DI PANTI ASUHAN SAMSAH SINGOCANDI KUDUS - STAIN Kudus Repository

ANALISIS POLA ASUH DALAM MENERAPKAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK USIA DINI DI PANTI ASUHAN SAMSAH SINGOCANDI KUDUS - STAIN Kudus Repository

Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan unik. Anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), daya pikir, daya cipta, bahasa dan komunikasi, yang tercakup dalam kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), atau kecerdasan agama atau religius (RQ), sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini perlu diarahkan pada peletakan dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya. Hal itu meliputi pertumbuhan dan perkemngan fisik, daya pikir, daya cipta, sosial emosional, bahasa dan komunikasi yang seimbang sebagai dasar pembentukan prbadi yang utuh, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. 4
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK KELUARG

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK KELUARG

Konversi agama sebagai suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya. Jumlah keluarga yang mengkonversi ke agama Islam di desa nangalili sebanyak 20 kepala keluarga, yang terdiri dari 4 orang yang mengikuti agama suami dan 16 orang mengikuti Agama istri. Upaya pembinaan lebih lanjut tingkat keberagamaan konversan. Banyak diketemukan dimana perpindahan agama seseorang tidak dibarengi dengan pelaksanaan peribadatan agama yang baik. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan keagamaan yang dimiliki oleh keluarga konversi. Dan ini kemudian berdampak pada pola pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

ANALISIS POLA HUBUNGAN ANTARA ORANG TUA DENGAN ANAK MELALUI PENERAPAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENCEGAH KENAKALAN ANAK (STUDI KASUS DI KELUARGA PERANTAUAN DESA GILING GUNUNG WUNGKAL PATI TAHUN 2015 - STAIN Kudus Repository

ANALISIS POLA HUBUNGAN ANTARA ORANG TUA DENGAN ANAK MELALUI PENERAPAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENCEGAH KENAKALAN ANAK (STUDI KASUS DI KELUARGA PERANTAUAN DESA GILING GUNUNG WUNGKAL PATI TAHUN 2015 - STAIN Kudus Repository

1. Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Pubertas dari Orang Tua yang Bekerja di Luar Daerah (Studi Kasus di MTs. Ismailiyyah NalumSari Jepara) Tahun 2010, oleh El-Fitriyah Nim: 106 522. Dalam penelitian ini lebih menfokuskan pada pendidikan agama Islam yang terjadi pada anak usia pubertas dari orang tuanya yang bekerja diluar daerah. Orang tua yang bekerja diluar daerah dalam mendidik anak-anaknya hanya menekankan pada pendidikan akhlak saja. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan orang tua akan pengetahuan agama serta kekhawatiran mereka ketika melihat perilaku anak-anaknya yang mulai tidak terkontrol. Persamaan penelitian ini dengan yang sedang peneliti lakukan adalah dalam keluarga orang tua sama-sama mengutamakan pendidikan agama pada anak. Bedanya penelitian ini dengan penelitian yang sedang peneliti lakukan adalah peneliti lebih menfokuskan pada pola hubungan antara orang tua dengan anak melalui penerapan pendidikan agama dalam mencegah kenakalan anak, bukan hanya memberikan pendidikan agama Islam tapi orangtua juga harus memberikan bimbingan dan pengarahan pada anak agar tidak terjadi kenakalan.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

Pola Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Di

Pola Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Di

Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini yang meliputi Planning, Organizing, Actuating, Controling serta ingin melihat seberapa besar perubahan pola pikir masyarakat mengenai pendidikan anak usia dini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengambil latar di PAUD Ceria Gondangsari Sumowono Jawa Tengah. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan: (1) pola pengelolaan pendidikan anak usia dini PAUD Ceria menggunakan metode POAC. Dalam setiap kegiatan selalu dilaksanakan perencanaan, setelah itu melakukan pengorganisasian dengan berkomunikasi dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Sedangkan untuk pelaksanaannya selalu menyisipkan materi tentang pendidikan Agama. Controling atau pengawasan selalu dilakukan PAUD Ceria pada setiap harinya. (2) faktor pendukung dalam pengelolaan pendidikan anak usia dini adalah: adanya semangat belajar siswa, adanya kerjasama antara sesama pendidik, terdapat peran dari masyarakat, adanya sikap sering terbuka antara pendidik dengan orang tua siswa, adanya kerjasama antara guru dengan orang tua siswa, terdapat kerjasama dari pemerintah. (3) Hasil pola pengelolaan PAUD Ceria adalah: siswa memperoleh banyak prestasi dengan berbagai macam kejuaraan, peningkatan jumlah siswa yang cukup meningkat pada setiap tahunnya, dan mampu merubah pola pikir masyaraktat bahwa pendidikan anak usia dini itu penting.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Pola Asuh Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam

Pola Asuh Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam

Orang tua dalam keluarga memiliki peran dan tanggung jawab terhadap anaknya. Setiap orang tua ingin mempunyai anak yang berkepribadian akhlak mulai atau yang saleh. Untuk mencapai keinginan tersebut, orang tua diharapkan untuk mengoptimalkan peran dan tanggung jawab sebagai orang tua terhadap anaknya. Mengasuh dan mendidik anak yang dilakukan orang tua dengan berbagai macam pola asuh seperti demokratis; otoriter; permisif; dan penelantar (acuh tak acuh). Pola asuh yang menjadi sorotan saat ini adalah pola asuh otoriter yang identik dengan tanpa kasih sayang, kekerasan, mengengkang anak, dan memaksa. Pola ini akan menjadikan batin anak tersiksa, krisis kepercayaan, potensinya tidak berkembang secara optimal, hingga mengalami trauma dan sebagainya. Pola asuh seperti ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang mengawali konsep kasih sayang dalam mendidik anak. Islam sebagai agama solutif terhadap permasalahan yang terjadi dalam keluarga tentang bagaimana mendidik anak sesuai dengan usia dan masa pertumbuhan dan perkembangan anak. Pola asuh ini telah dipraktikkan oleh Rasulullah Saw. Adapun pola asuh tersebut, yaitu: membimbing cara belajar sambil bermain pada jenjang usia 0-7 tahun; menanamkan sopan santun dan disiplin pada jenjang usia 7-14 tahun; dan ajaklah bertukar pikiran pada jenjang usia 14-21 tahun, dan sesudah itu lepaskan mereka untuk mandiri.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Internet Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Gondang Tahun Ajaran 2015 2016 - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Internet Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Gondang Tahun Ajaran 2015 2016 - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Tuntutan masyarakat yang makin besar terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan melalui pola tradisional, disamping cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, pemahaman cara belajar anak, kemajuan media komunikasi dan lain sebagainya memberi arti tersendiri bagi kegiatan pendidikan dan tuntutan ini pulalah yang membuat kebijakan untuk memanfaatkan media teknologi dan pendekatan teknologis dalam pengelolaan pendidikan. Pemanfaatan teknologi komunikasi, teknologi pendidikan dan media pendidikan untuk kegiatan pendidikan perlu dalam rangka kegiatan belajar mengajar. Karena dengan pendidikan ilmiah, sistematis dan rasional, sebagaimana diuntut oleh teknologi pendidikan ini pulalah, tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan tercapai. 2
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KONSEP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK ANAK

KONSEP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK ANAK

Jadi, perkembangan dapat juga dikatakan sebagai suatu urutan-urutan perubahan yang bertahap dalam suatu pola yang teratur dan saling berhubungan. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan ini bersifat tetap, menuju ke suatu arah, yaitu ke suatu tingkat yang lebih tinggi. Contohnya : anak diperkenalkan bagaimana cara memegang pensil, membuat huruf-huruf dan diberi latihan oleh orang tuanya. Kemampuan belajar menulis akan mudah dan cepat dikuasai anak apabila proses latihan diberikan pada saat otot-ototnya telah tumbuh dengan sempurna, dan saat untuk memahami bentuk huruf telah diperolehnya. Dengan demikian anak akan mampu memegang pensil dan membaca bentuk huruf. Melalui belajar anak akan berkembang, dan akan mampu mempelajari hal hal yang baru. Perkembangan akan dicapai karena adanya proses belajar, sehingga anak memperoleh pengalaman baru dan menimbulkan perilaku baru.
Baca lebih lanjut

89 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI POLA PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI ANAK ASUH (STUDI KASUS DI PANTI ASUHAN MUHAMMADIYAH “SAMSAH” SINGOCANDI KUDUS) - STAIN Kudus Repository

IMPLEMENTASI POLA PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI ANAK ASUH (STUDI KASUS DI PANTI ASUHAN MUHAMMADIYAH “SAMSAH” SINGOCANDI KUDUS) - STAIN Kudus Repository

Pembinaan agama Islam bagi anak merupakan senjata ampuh untuk membina anak, agama akan tertanam dan tumbuh dalam diri setiap anak dan dapat digunakan untuk mengendalikan dorongan-dorongan serta keinginan- keinginan yang kurang baik. Pembinaan dan kasih sayang dari orangtua kandung tidak dirasakan oleh anak yang tidak mempunyai keluarga yang utuh. Disorganisasi keluarga seperti perceraian kedua orang tua, krisis ekonomi keluarga dan meninggalnya salah satu atau kedua orang tua. Hal ini menyebabkan terputusnya interaksi sosial antara orang tua dan anak. Akibatnya, anak menjadi kurang mendapat perhatian dan pendidikan terabaikan. Dalam hal ini diperlukan pembinaan secara utuh, baik pembinaan secara jasmani maupun rohani. Salah satu cara yang dilakukan agar anak tetap dalam pembinaan dan pengasuhan adalah dengan menampung anak- anak tersebut pada suatu wadah yaitu Panti asuhan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Pusat Pengembangan Kreativitas Anak Jalanan (Green Architechture)

BAB I PENDAHULUAN - Pusat Pengembangan Kreativitas Anak Jalanan (Green Architechture)

Oleh karena itu dibutuhkanlah wadah bagi mereka untuk mendapatkan pengajaran baik ilmu pengetahuan dan juga pendidikan agama. Dimana wadah ini akan menjadi tempat bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan ilmu pengetahuan, pengembangan pola pikir untuk berkreasi dalam berbagai bidang seperti menggambar, melukis, seni tari, bermain musik, menjahit, menciptakan handycraft, olahraga dan juga bela diri. Hal ini juga sangat didukung dengan adanya

10 Baca lebih lajut

PROFIL ORANGTUA BEDA AGAMA DALAM MENSOSIALISASIKAN PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK DI KECAMATAN TANAH JAWA KABUPATEN SIMALUNGUN.

PROFIL ORANGTUA BEDA AGAMA DALAM MENSOSIALISASIKAN PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK DI KECAMATAN TANAH JAWA KABUPATEN SIMALUNGUN.

NURUL RAMADANI SIAHAAN, 3131122030. Profil OrangtuaBeda Agama Dalam Mensosialisasikan Pendidikan Agama Pada Anak Di Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun. Prodi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Profil orangtuabeda agama dalam mensosialisasikan pendidikan agama pada anaknya.Dalam penelitian ini, permasalahan yang ingin dijawab yaitu, untuk mengetahui Profil orangtuabeda agama, pola interaksi orangtuabeda agama dalam mensosialisasikan pendidikan agama kepada anak dan selanjutnya untuk mengetahui penyebab adanya faktor pendukung dan penghambat orangtuabeda agama dalam mensosialisasikan pendidikan agama kepada anaknya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, studi pustaka dan studi dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan teknik mereduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Setiap orangtuabeda agama atau pasangan hidup beda agama, dituntut kepekaan sosial, untuk tetap dapat dipandang sebagai keluarga yang harmonis. Untuk itu, setiap pasangan sebagai orangtuabeda agama, setidaknya belajar dapat menerima keberadaan setiap pasangannya yang berbeda agama itu. Sikap toleransi yang diasah terus menerus dalam hidup rumah tangganya, para orangtuabeda agama ini memiliki anak, dapat dengan mudah untuk mengelola perkembangan anak dalam hal sosialisasi pengetahuan keagamaan anak dari orang tuanya yang beda agama.Untuk menganalisis permasalahan tersebut, penulis menggunakan teori Pola Sosialisasi Partisipatoris dari Jaeger, tahap sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder dari Berger dan Luckman, Pola sosialisasi dari Elizabeth B. Hurlock tentang pola sosialisasi otoriter, pola sosialisasi demokratis, pola sosialisasi permisif dan teori interaksi. Dari empat informan pasangan suami istri beda agama, diperoleh kesimpulan, Ada 2 variasi interaksi keagamaan pasangan orangtua beda agama yaitu pasangan suami istri dimana salah satu pasangan lebih aktif dalam menjalankan ibadah /beragama dan yang terkahir pasangan yang sama-sama kuat dalam beragama.Dalam menyosialisasikan pendidikan agama terhadap anak pasangan orangtuabeda agama tentunnya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor pendukung dan penghambat. Faktor penghambat yaitu Terjadi pola hidup sekuler dalam keluarga. Orangtuabeda agama yang lebih sering memberikan atau menanamkan pengetahuan agama dan mensosialisasikannya kepada anak, lebih membawa dampak positif terhadap anak untuk mengikutinya, serta menjalankan agamanya, dibanding orangtuabeda agama yang jarang memberikan sosialisasi pengetahuan agama.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Pengaruh pembelajaran pendidikan agama islam dan budaya religius sekolah terhadap kecerdasan emosional peserta didik Smpn 2 Banjar Margo Kabupaten Tulang Bawang - Raden Intan Repository

Pengaruh pembelajaran pendidikan agama islam dan budaya religius sekolah terhadap kecerdasan emosional peserta didik Smpn 2 Banjar Margo Kabupaten Tulang Bawang - Raden Intan Repository

Berdasarkan penjelasan di atas fungsi keluarga sangat fundamental dalam mempersiapkan anak-anak sebagai generasi penerus yang di persiapkan untuk memasuki kehidupan yang lebih baik di masa mendatang, tidak hanya sekedar dalam arti kehidupan sejahtera dari segi lahiriah dan terpenuhinya segala kebutuhan hidup, pekerjaan yang sangat baik, kehidupan yang mewah, harta yang banyak, namun yang terpenting adalah mempersiapkan anak-anak menjadi bagian dari anggota masyarakat yang baik, kehadirannya sebagai pembawa kemaslahatan bagi masyarakat lingkungan sekitarnya serta menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia.
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

POLA SUPERVISI IDEAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN AGAMA JOMBANG.

POLA SUPERVISI IDEAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN AGAMA JOMBANG.

Dan untuk mengantisipasi perkembangan pendidikan yang semakin profesional dan bermutu, maka profesionalitas guru (pendidik PAI) harus dikembangkan. Berbagai cara dapat ditempuh dalam pengembangan profesional. Salah satunya adalah supervisi (bantuan/pembinaan) yang menurut Ali Imron supervisi adalah serangkaian bantuan yang berwujud layanan professional yang diberikan oleh orang yang lebih ahli kepada guru. Dan maksud dari layanan tersebut adalah agar tujuan pendidikan yang direncanakan dapat terealisasi dengan baik. Jadi supervisi terhadap guru pendidikan agama Islam merupakan suatu kebutuhan setidaknya harus dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, yang pada gilirannya mempengaruhi mutu pendidikan itu sendiri dan supaya guru mempunyai pengetahuan, kecakapan, keahlian dan kompetensi sesuai yang diharapkan.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

BAB II LANDASAN TEORI A. Guru Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam - Upaya guru pendidikan agama islam dalam meningkatkan minat belajar mata pelajaran pendidikan agama islam pada peserta didik kelas VII di Smp Negri 2 Adiluwih

BAB II LANDASAN TEORI A. Guru Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam - Upaya guru pendidikan agama islam dalam meningkatkan minat belajar mata pelajaran pendidikan agama islam pada peserta didik kelas VII di Smp Negri 2 Adiluwih

Apabila tugas dan tanggung jawab guru Pendidikan Agama Islam dilaksankan, maka nyatalah perannya dalam proses Pendidikan Agama Islam. Untuk menjadikan peserta didik yang bertakwa kepada Allah SWT berkepribadian yang utuh serta memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam, perlu adanya kerjasama yang baik anatara orang tua di rumah dengan guru di sekolah, tanpa adanya kerjasama kedua belah pihak akan sulit membina pribadi peserta didik yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam.

38 Baca lebih lajut

Pendidikan Agama sebagai Dasar Pembentukan Pribadi Anak

Pendidikan Agama sebagai Dasar Pembentukan Pribadi Anak

yang seyogianya diperhatikan oleh segenap ulama, baik yang ada di organisasi- organisasi Islam semacam MUI. Ulama harus mempu mengembalikan fungsi agama karena Agama bukan benda yang harus dimiliki, melainkan nilai yang melekat dalam hati.Mengapa kita sering takut kehilangan agama, karena agama kita miliki, bukan kita internalisasi dalam hati. Agama tidak berfungsi karena lepas dari ruang batinnya yang hakiki, yakni hati (kalbu). Itulah sebab, mengapa Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa segala tingkah laku manusia merupakan pantulan hatinya. Bila hati sudah rusak, rusak pula kehidupan manusia. Hati yang rusak adalah yang lepas dari agama. Dengan kata lain, hanya agama yang diletakkan di relung hati yang bisa diobjektifikasi, memancarkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.Sayangnya, kita lebih suka meletakkan agama di arena yang lain: di panggung atau di kibaran bendera, bukan di relung hati.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PERAN GURU PAI DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI DI SMAN 1 KAMPAK TRENGGALEK - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

PERAN GURU PAI DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI DI SMAN 1 KAMPAK TRENGGALEK - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

didik dalam meningkatkan hasil belajar anak didik di SDN 2 Arjowinangun? (3) Apakah faktor pendukung dan penghambat guru agama dalam meningkatkan hasil belajar anak didik di SDN 2 Arjowinangun?. Hasil penelitian ini yaitu menunjukkan bahwa peran guru agama dalam meningkatkan hasil belajar peserta didiknya khususnya pada ranah kognitif menggunakan metode, strategi dan teknik yang merangsang anak untuk berfikir dan berani mengungkapkan pengetahuan yang telah tersimpan dalam otaknya. Metode yang digunakan dalam proses pembelajaran disesuaikan dengan materi ajar. Dan evaluasi dilaksanakan setiap akhir pelajaran yaitu dengan cara post test. Jika ada siswa yang mengalami kesulitan belajar, guru memberikan pendektakan dan melakukan bimbingan khusus, agar siswa bisa memhami sutau materi yang telah diajarkan. Peran guru agama dalam meningkatkan hasil belajar tidak mengandalkan kemampuan sendiri, artinya guru agama berperan ketika peserta didik berada dilingkungan sekolah. Dan ketika anak didik berada dilingkungan keluarga, guru agama mengajak kepada wali murid untuk membantu meningkatkan hasil belajar anaknya.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

TREN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK DALAM

TREN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK DALAM

Berbagai jenis kekerasan diterima oleh anak-anak, seperti kekerasan verbal, fisik, mental maupun pelecehan seksual. Ironisnya pelaku kekerasan terhadap anak biasanya adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan si anak, seperti keluarga, guru maupun teman sepermainannya atau sebayanya sendiri. Tentunya ini juga memicu trauma pada anak, misalnya menolak pergi ke sekolah setelah tubuhnya dihajar oleh gurunya sendiri.Kondisi ini amatlah memprihatinkan, namun bukan berarti tidak ada penyelesaiannya. Perlu koordinasi yang tepat di lingkungan sekitar anak terutama pada lingkungan keluarga untuk mendidik anak tanpa menggunakan kekerasan, menyeleksi tayangan televisi maupun memberikan perlindungan serta kasih sayang agar anak tersebut tidak menjadi anak yang suka melakukan kekerasan nantinya. Tentunya kita semua tidak ingin negeri ini dipimpin oleh pemimpin bangsa yang menyelesaikan kekerasan terhadap rakyatnya.Melihat kejadian kasus kekerasan seksual pada anak dilihat sangat ironis sekali, dimana moral dan agama itu tidak lagi menjadi pedoman dalam keluarga. Sehingga banyak terjadi dimana-mana kekerasan seksual terutama terhadap anak. ini disebabkan oleh lemahnya pendidikan moral dan agama yang diajarkan oleh orang tua didalam keluarga. Orang tua seharusnya berperan penting dalam mendidik anak khususnya tentang akhlak dan moral.Keluarga merupakan struktur terkecil dari lingkungan sosial, yang mana didalamnya ada orang tua yang mempunyai peranan penting dalam mendidik dan membimbing anak dari segi moral dan agama. Dengan bimbingan orangtua diharapkan segi moral dan agama anak lebih baik sehingga mampu mengatasi penyimpangan moral dan agama seperti kekerasan seksual pada anak tersebut. Kemudian orang tua membekali pengetahuan dan nilai-nilai yang betul, yang mana pengetahuan itu adalah hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan setelah dewasa, pengetahuan ini diberikan kepada anak sejak usia muda pada umur 12-16 tahun, hubungan seksual ini hanya diperbolehkan pada usia 21 tahun dengan ikatan pernikahan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS METODESNOWBALL THROWING DENGAN MEDIA TTS PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS VIII SMPN 13 MALANG

EFEKTIVITAS METODESNOWBALL THROWING DENGAN MEDIA TTS PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS VIII SMPN 13 MALANG

Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Pada umumnya Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan siswa untuk mengenal, memahami, menghayati, megimani, bertaqwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al –Qur’an dan Al– Hadist, melalui kegiata bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman. 4 Dan upaya sadar menyiapkan siswa mengimani ajaran agama Islam diikuti dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. 5
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

PENTINGNYA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM

PENTINGNYA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM

Kepribadian yang baik pada anak usia sekolah atau berakhlak baik seperti (1) syukur yaitu mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan-Nya, ungkapan rasa syukur dilakukan dengan kata-kata dan perilaku. Ungkapan dalam bentuk kata-kata adalah dengan mengucapkan hamdalah setiap saat sedangkan bersyukur dengan perilaku adalah menggunakan nikmat Allah sesuai dengan semestinya, misalnya menggunakan mata untuk melihat hal-hal yang baik, seperti membaca, mengamati alam dan sebagainya yang mendatangkan manfaat, (2) bertasbih yaitu mensucikan Allah dengan ucapan yaitu memperbanyak mengucapkan Subhanallah (Maha suci Allah) serta menjauhkan perilaku yang dapat mengotori nama Allah yang maha suci, (3) Istigfar yaitu meminta ampun kepada Allah atas segala dosa yang pernah diperbuat dengan mengucapkan Astagfirullah adzim (aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung). Sedangkan istigfar melalui perbuatan dilakukan dengan cara tidak mengulangi dosa atau kesalahan yang dilakukan itu, (4) Takbir yaitu mengucapkan Allah dengan membaca Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Mengagungkan Allah melalui perilaku ialah mengagungkan nama-Nya dalam segala hal, sehingga tidak menjadikan sesuatu melebihi keagungan Allah. Tidak mengagungkan yang lain melampaui keagungan Allah dalam berbagai konteks kehidupan, baik melalui kata-kata maupun tindakan, (5) Doa yaitu meminta kepada Allah apa saja yang diinginkan dengan mengemukakan keinginan yang diharapkan itu dengan cara sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Doa adalah pembuktian kelemahan manusia dihadapan Allah karena itu berdoa merupakan Intl dan ibadah. Orang yang tidak suka berdoa adalah orang yang sombong, sebab itu ia tidak mengakui kelemahan dirinya dihadapan Allah.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

ppm pola asuh dan pendidikan anak bina anggita

ppm pola asuh dan pendidikan anak bina anggita

JENIS ORTU LAYANAN ORTU DARI SEKOLAH Ortu sebagai TEMAN, akrab tidak memberi bimbingan dan aturan Manajemen perilaku, keterampilan sosial, interaksi dengan sesama ortu Ortu yang ABAI[r]

25 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...