Pola Penggunaan Antihipertensi Golongan CCB pada Pasien

Top PDF Pola Penggunaan Antihipertensi Golongan CCB pada Pasien:

Studi deskriptif penggunaan antihipertensi golongan Calcium Channel Blocker (CCB) pada pasien stroke hemoragik intraserebral di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya

Studi deskriptif penggunaan antihipertensi golongan Calcium Channel Blocker (CCB) pada pasien stroke hemoragik intraserebral di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya

Stroke adalah suatu kondisi terjadinya gangguan fungsional secara mendadak ataupun akut pada bagian otak fokal maupun global yang berlangsung selama 24 jam atau lebih akibat adanya gangguan aliran darah ke otak dan dapat menyebabkan kematian di dunia. Di Indonesia, jumlah pasien yang menderita stroke mencapai 12,1%. Faktor resiko terbesar yang dapat menyebabkan stroke adalah hipertensi sehingga diperlukan antihipertensi, salah satunya adalah golongan Calcium Channel Blocker (CCB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan antihipertensi golongan CCB pada pasien stroke hemoragik intraserebral di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya. Metode penelitian yang dilakukan studi observasional yang dilakukan secara retrospektif dengan penyajian data secara deskriptif dengan mengolah data Rekam Medik Kesehatan (RMK) pada pasien rawat inap yang terdiagnosa stroke hemoragik intraserebral dan menerima pengobatan CCB periode Januari 2017 hingga Juni 2018. Hasil dan kesimpulan dari 50 sampel menunjukkan penggunaan CCB secara tunggal (34%) menggunakan amlodipin dengan dosis 1x5 mg per oral (14%) dan dengan dosis 1x10 mg per oral (14%), serta kombinasi (12%) menggunakan nikardipin (drip) dengan amlodipin tablet secara per oral, dan tidak adanya perbedaan terapi maupun perawatan pasien stroke hemoragik intraserebral dengan status pembiayaan secara umum ataupun JKN.
Show more

16 Read more

STUDI DESKRIPTIF PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI GOLONGAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER

STUDI DESKRIPTIF PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI GOLONGAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER

SAKIT UMUM HAJI SURABAYA ANINDITA MAHARANI NUGROHO 2443015263 Stroke adalah suatu kondisi terjadinya gangguan fungsional secara mendadak ataupun akut pada bagian otak fokal maupun global yang berlangsung selama 24 jam atau lebih akibat adanya gangguan aliran darah ke otak dan dapat menyebabkan kematian di dunia. Di Indonesia, jumlah pasien yang menderita stroke mencapai 12,1%. Faktor resiko terbesar yang dapat menyebabkan stroke adalah hipertensi sehingga diperlukan antihipertensi, salah satunya adalah golongan Calcium Channel Blocker (CCB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan antihipertensi golongan CCB pada pasien stroke hemoragik intraserebral di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya. Metode penelitian yang dilakukan studi observasional yang dilakukan secara retrospektif dengan penyajian data secara deskriptif dengan mengolah data Rekam Medik Kesehatan (RMK) pada pasien rawat inap yang terdiagnosa stroke hemoragik intraserebral dan menerima pengobatan CCB periode Januari 2017 hingga Juni 2018. Hasil dan kesimpulan dari 50 sampel menunjukkan penggunaan CCB secara tunggal (34%) menggunakan amlodipin dengan dosis 1x5 mg per oral (14%) dan dengan dosis 1x10 mg per oral (14%), serta kombinasi (12%) menggunakan nikardipin (drip) dengan amlodipin tablet secara per oral, dan tidak adanya perbedaan terapi maupun perawatan pasien stroke hemoragik intraserebral dengan status pembiayaan secara umum ataupun JKN.
Show more

16 Read more

Pola Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi

Pola Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi

Tuloli,T.S, et al., 2021; Indonesian Journal of Pharmacetical Education (e-Journal); 1(3): 127-135 134 didapatkan sebanyak 71 pasien dengan persentase 77% yang dianalisis adalah tepat dosis sedangkan tidak tepat dosis sebanyak 21 pasien dengan persentase 23%. Ketidaksesuaian ini disebabkan karena ketidaktepatan dalam pemberian terapi obat dan indikasi terhadap pasien dengan kategori hipertensi grade 1.Contoh kasusnya yaitu ny.HK yang diberikan obat amlodipin dengan dosis 10 mg lama pemberian 1x1 dengan kategori hipertense grade 1 dengan umur lansia yang seharusnya diberikan dosis awal 2,5 mgsebanyak 1 kali sehari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Eka Kartika Utari, dkk (2018) yaitu pemberian dosis obat yang tidak sesuai standar, dapat memberikan dampak yang luas bagi pasien. Bila dosis obat yang tertera pada resep tidak tepat/tidak sesuai standar, maka pasien tersebut gagal mendapatkan pengobatan yang benar terkait penyakitnya. Hal ini dapat menimbulkan komplikasi berkaitan dengan penyakit tersebut [15].
Show more

9 Read more

STUDI PENGGUNAAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB) SEBAGAI TERAPI ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK DI RAWAT INAP RSU HAJI SURABAYA

STUDI PENGGUNAAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB) SEBAGAI TERAPI ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK DI RAWAT INAP RSU HAJI SURABAYA

tanpa disertai kerusakan ginjal. Tujuan dari pengobatan PGK dengan hipertensi adalah untuk menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko dari PGK, memperlambat perkembangan penyakit PGK. Terapi farmakologi untuk hipertensi menggunakan diuretik tiazid, Calcium Channel Blocker (CCB), ACE-I dan ARB. Obat golongan CCB dapat bekerja dengan menghambat influks kalsium sepanjang membran sel. Penelitian ini untuk mengetahui pola terapi terkait penggunaan obat antihipertensi golongan Calcium Channel Blocker (CCB) dan kemungkinan terjadinya Drug Related Problems (DRPs) interaksi obat. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif melalui data rekam medik kesehatan pasien penyakit ginjal kronik yang menggunakan Calcium Channel Blocker (CCB) pada periode Januari 2017 sampai dengan Desember 2017 di rawat inap Rumah Sakit Umum Haji Surabaya. Penggunaan terapi obat antihipertensi golongan CCB dari 76 pasien terdapat 7 pasien (10%) dengan terapi CCB tunggal dan 69 pasien (90%) dengan terapi CCB dan kombinasi lainnya. Calcium Channel Blocker (CCB) tunggal yang paling banyak digunakan adalah Amlodipin. Kombinasi 2 antihipertensi paling banyak adalah CCB dan ARB sebanyak 19 pasien, kombinasi 3 antihipertensi paling banyak adalah CCB, ARB dan B-Bloker sebanyak 12 pasien dan kombinasi 4 antihipertensi paling banyak adalah CCB, ARB, Diuretik dan B-Bloker sebanyak 9 pasien. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya masalah terkait interaksi obat yang dapat mengganggu keberhasilan penyembuhan penyakit.
Show more

18 Read more

Studi penggunaan Calcium Channel Blocker (CCB)  sebagai terapi antihipertensi pada pasien penyakit ginjal kronik di Rawat Inap RSU Haji Surabaya

Studi penggunaan Calcium Channel Blocker (CCB) sebagai terapi antihipertensi pada pasien penyakit ginjal kronik di Rawat Inap RSU Haji Surabaya

tanpa disertai kerusakan ginjal. Tujuan dari pengobatan PGK dengan hipertensi adalah untuk menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko dari PGK, memperlambat perkembangan penyakit PGK. Terapi farmakologi untuk hipertensi menggunakan diuretik tiazid, Calcium Channel Blocker (CCB), ACE-I dan ARB. Obat golongan CCB dapat bekerja dengan menghambat influks kalsium sepanjang membran sel. Penelitian ini untuk mengetahui pola terapi terkait penggunaan obat antihipertensi golongan Calcium Channel Blocker (CCB) dan kemungkinan terjadinya Drug Related Problems (DRPs) interaksi obat. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif melalui data rekam medik kesehatan pasien penyakit ginjal kronik yang menggunakan Calcium Channel Blocker (CCB) pada periode Januari 2017 sampai dengan Desember 2017 di rawat inap Rumah Sakit Umum Haji Surabaya. Penggunaan terapi obat antihipertensi golongan CCB dari 76 pasien terdapat 7 pasien (10%) dengan terapi CCB tunggal dan 69 pasien (90%) dengan terapi CCB dan kombinasi lainnya. Calcium Channel Blocker (CCB) tunggal yang paling banyak digunakan adalah Amlodipin. Kombinasi 2 antihipertensi paling banyak adalah CCB dan ARB sebanyak 19 pasien, kombinasi 3 antihipertensi paling banyak adalah CCB, ARB dan B-Bloker sebanyak 12 pasien dan kombinasi 4 antihipertensi paling banyak adalah CCB, ARB, Diuretik dan B-Bloker sebanyak 9 pasien. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya masalah terkait interaksi obat yang dapat mengganggu keberhasilan penyembuhan penyakit.
Show more

18 Read more

Gambaran Pola Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Rawat Inap di RSUD Panembahan Senopati

Gambaran Pola Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Rawat Inap di RSUD Panembahan Senopati

Secara umum rekomendasi obat antihipertensi menurut JNC 8 terdiri dari 5 golongan yaitu ACE Inhibitor, Angiotensin II Reseptor Bloker (ARB), Diuretik, Beta Blocker, dan Calsium Channel Bloker (CCB). Setiap golongan pada obat antihipertensi memiliki sifat farmakologi dan farmakodinamika yang berbeda. Pada Tabel 2. dapat terlihat bahwa pasien hipertensi rawat inap untuk jenis terapi tunggal paling banyak menggunakan obat yang berasal dari golongan Diuretik Tiazid. Diuretik thiazid bekerja dengan cara menurunkan resistensi pembuluh darah perifer dalam jangka panjang sementara mengurangi volume sirkulasi darah dalam jangka pendek dengan menghambat Na reasorbsi oleh tubulus distal. Golongan thiazid juga mempunyai efek vasodilatasi langsung pada arteriol sehingga dapat mempertahankan efek antihipertensi lebih lama.
Show more

7 Read more

STUDI PENGGUNAAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB) PADA PASIEN STROKE HEMORRAGHIC

STUDI PENGGUNAAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB) PADA PASIEN STROKE HEMORRAGHIC

3) mencegah berulangnya stroke (Sukandar dkk., 2009). Mengontrol hipertensi, hiperlipidemia dan obesitas penting untuk penanganan umum dari pasien dengan penyakit serebrovaskular. Hipertensi merupakan faktor resiko paling kuat yang dapat menyebabkan stroke. Pengurangan baik tekanan darah sistolik dan diastolik membantu mengurangi risiko stroke. Tekanan darah seharusnya diturunkan jika meningkat hingga 220/120 mmHg. Salah satu obat yang bisa mengontrol tekanan darah tinggi yaitu golongan

13 Read more

Pola penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di RS Santa Clara Madiun tahun 2011.

Pola penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di RS Santa Clara Madiun tahun 2011.

Telah dilakukan penelitian tentang pola penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Santa Clara Madiun Tahun 2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengggunaan obat pada pasien penderita hipertensi di Rumah Sakit Santa Clara Madiun, mengetahui kesesuaian terapi dibandingkan dengan literatur, mengetahui kesesuaian jenis obat yang diberikan dengan literatur, dosis dan frekuensi pemberian dibandingkan dengan literatur, serta mengetahui interaksi obat terkait terapi yang diberikan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif dan retrospektif dengan sampel berupa data rekam medik kesehatan (RMK) pasien penderita hipertensi dengan atau tanpa penyakit penyerta di Rumah Sakit Santa Clara Madiun selama tahun 2011. Dari hasil penelitian, didapatkan jenis antihipertensi yang digunakan secara tunggal yaitu CCB sebesar 38.46 % . Jumlah pasien yang mendapatkan terapi awal menggunakan antihipertensi tunggal sebanyak 28.29%, sedangkan pasien yang mendapat terapi kombinasi sebanyak 71.11%. Kesesuaian jenis antihipertensi yang digunakan pada semua pasien sesuai dengan literatur. Frekuensi pemberian sebanyak 3.30 % tidak sesuai dengan literatur, dosis pemberian sebanyak 5.20 % tidak sesuai dengan literatur, dan yang sesuai sebanyak 94.80%.
Show more

15 Read more

POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI RS SANTA CLARA MADIUN TAHUN 2011

POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI RS SANTA CLARA MADIUN TAHUN 2011

Fransiska Made Ratna Kumala Dewi 2443009090 The research has been done toward the use patterns of drugs on the patients hypertestion in Santa Clara Hospital Madiun. The research aims to use patterns drugs on the patients hypertention in Santa Clara Hospital Madiun, find out the suitability of therapy compared with literature, find out the suitability types of therapy given by literature, dosage and frequency of administration compared with the literature, and to know the actual drug interactions which are related with therapy that had given to them. This observational was a descriptive observational and retrospective observational with samples patient’s medical records (RMK) in Santa Clara hospital Madiun during 2011. Based on the results, it was good that antihypertensive widely used is class of CCB were 38.46%. The number of patients who got the initial treatment was a single antihypertensive were 28.29%, while patients who received combination therapy as many as 71.11%. The conformance of antihypertensive have been used in patients with literature. Frequency of administration not inappropriate as many as 3.30%, dossage of administration not inappropriate as many as 5.20% and appropriate as much as 94.80% .
Show more

15 Read more

NASKAH PUBLIKASI LALITA EKA PUTRI STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI GOLONGAN ACE INHIBITOR PADA PASIEN STROKE HEMORAGIK

NASKAH PUBLIKASI LALITA EKA PUTRI STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI GOLONGAN ACE INHIBITOR PADA PASIEN STROKE HEMORAGIK

antihipertensi tunggal yang paling banyak diterima pasien stroke hemoragik adalah golongan CCB yaitu sebanyak 83% (44 pasien) dengan jenis antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah nicardipin yaitu sebanyak 64,2% (34 pasien). Mekanisme antihipertensi golongan CCB menghambat influks Ca ++ yang sensitif terhadap tegangan di otot polos anterior, yang akhirnya menyebabkan relaksasi otot polos dan tahanan vaskular perifer sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah. Nicardipine adalah obat yang efektif dalam mengendalikan hipertensi akut dan menurunkan tekanan darah pada SAH. Karena infus berkelanjutan dari nicardipine memiliki efek yang baik dalam mengontrol tekanan darah dan dianjurkan pemberian saat tekanan darah tidak terkontrol (Yong Kim et al, 2012). Terapi tunggal untuk penggunaan ACE inhibitor sebanyak 9,4% (5 pasien) dengan penggunaan antihipertensi captopril. Mekanisme kerja ACE inhibitor seperti captopril dan lisinopril adalah dengan menghambat enzim pengkonversi peptidyl dipeptidase yang menghidrolik angiotensin I ke angiotensin II dan menyebabkan inaktivasi bradikinin, suatu vasodilator kuat yang bekerja dengan cara menstimulasi rilis nitric oxid dan prostasiklin. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lisa Shaw (2011) dalam “Paramedic Initiated Lisinopril For Acute Stroke Treatment : study
Show more

13 Read more

POLA PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI POLI PENYAKIT DALAM RS BHAYANGKARA SURABAYA

POLA PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI POLI PENYAKIT DALAM RS BHAYANGKARA SURABAYA

Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Penatalaksanaan diabetes mellitus secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes, yaitu menghilangkan keluhan diabetes mellitus, memperbaiki kualitas hidup, dan mengurangi risiko komplikasi akut, untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan upaya salah satunya pengendalian tekanan darah dengan menerima terapi antihipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pola penggunaan obat antihipertensi terkait jenis, dosis, dan frekuensi pemberian untuk menurunkan tekanan darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di poli penyakit dalam RS Bhayangkara Surabaya. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional karena peneliti tidak memberikan perlakuan langsung terhadap sampel (pasien). Rancangan penelitian secara deskriptif dan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif pada periode 1 Agustus 2015 sampai 15 September 2015. Hasil penelitian menunjukkan terapi antihipertensi pada pasien diabetes mellitus terdiri dari tunggal sejumlah 80 pasien (48%) dan kombinasi 86 pasien (52%). Antihipertensi yang sering digunakan yaitu valsartan (1x80 mg) per oral pada 16 pasien (20%) dan kombinasi antihipertensi yang paling banyak digunakan yaitu valsartan (1x80 mg) + amlodipin (1x10 mg) per oral.
Show more

15 Read more

Pola Penggunaan Antihipertensi pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Poli Penyakit Dalam RS Bhayangkara Surabaya

Pola Penggunaan Antihipertensi pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Poli Penyakit Dalam RS Bhayangkara Surabaya

berpengaruh pada ketidakterkendalian tekanan darah pada pasien hipertensi, meningkatkan komplikasi kardiovaskular dan serebrovaskular. Target tekanan darah untuk pasien berusia ≥ 18 tahun dengan diabetes mellitus adalah < 140/90 mmHg (Paul et al., 2014). Tekanan darah terkontrol sesuai target terapi dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan stroke) pada penyandang diabetes sebesar 33- 50% dan risiko komplikasi mikrovaskuler sebesar 33%. Obat antihipertensi yang direkomendasikan oleh JNC 8 adalah pada pasien usia 18 tahun atau lebih dengan diabetes, inisiasi terapi dimulai untuk menurunkan tekanan darah sistolik kurang dari 140 mmHg dan diastolik kurang dari 90 mmHg. Pada populasi umum non kulit hitam (negro), termasuk pasien dengan diabetes, terapi antihipertensi inisial sebaiknya menyertakan diuretik thiazid, CCB, ACE-I, ARB. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pola penggunaan antihipertensi terkait jenis, dosis, dan frekuensi pemberian untuk menurunkan tekanan darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di poli penyakit dalam RS Bhayangkara Surabaya.
Show more

5 Read more

STUDI PENGGUNAAN GOLONGAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB) PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) (Penelitian Dilakukan di Instalasi Rawat Inap RS Muhammadiyah Lamongan)

STUDI PENGGUNAAN GOLONGAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB) PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) (Penelitian Dilakukan di Instalasi Rawat Inap RS Muhammadiyah Lamongan)

Di Amerika Serikat, CCB yang digunakan sebagai antihipertensi antara lain nifedipin, amlodipin, diltiazem, felodipin, isradipin, nikardipin, nisoldipin dan verapamil. Semuanya menurunkan tekanan darah selama pemberian per oral diberikan dalam jangka panjang. Kebanyakan mempunyai waktu kerja panjang sehingga dapat diberikan 1 kali sehari. Di Amerika, CCB direkomendasikan sebagai terapi lini pertama jika ada alasan yang kuat untuk tidak menggunakan tiazid atau β -blocker. Pemberian amlodipin dan vitamin C secara terus menerus dalam jangka waktu lama akan memperbaiki fungsi endotel pada pasien hipertensi. Jika pada pemakain antihipertensi target tekanan darah 125/75 mmHg tidak tercapai seperti yang direkomendasikan oleh Modification of Diet in Renal Disease (MDRD), penambahan CCB dihidropiridin sangat direkomendasikan, namun pemantauan tekanan darah dan protein urin harus dilakukan secara ketat (Aziza, 2007).
Show more

78 Read more

STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI GOLONGAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER PADA PASIEN STROKE HEMORAGIK (Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI GOLONGAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER PADA PASIEN STROKE HEMORAGIK (Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

Juwita, A., D. Almasdy, D., Hardini, T., 2018. Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Stroke Iskemik di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol. 7 No. 2. DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.2.99

24 Read more

STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI GOLONGAN ACE-INHIBITOR PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) (Penelitian di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI GOLONGAN ACE-INHIBITOR PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) (Penelitian di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

Berdasarkan fakta tersebut di atas, maka diperlukan sebuah studi analisis untuk mengetahui pola penggunaan antihipertensi golongan ACE-Inhibitor pada pasien CKD dengan hipertensi, sehingga dapat menjadi gambaran untuk bahan pertimbangan dalam pengobatan selanjutnya agar tujuan terapeutiknya, yakni memperlambat deteriorasi fungsi ginjal dan mencegah penyakit kardiovaskular dengan target tekanan darah <130/80 mmHg dapat tercapai.

20 Read more

Studi Penggunaan Antihipertensi Golongan Angiotensin Receptor Blockers Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Stadium V di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya

Studi Penggunaan Antihipertensi Golongan Angiotensin Receptor Blockers Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Stadium V di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya

Berdasarkan distribusi gender (jenis kelamin) dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa persentase pasien gagal ginjal kronik stadium V adalah 67% laki-laki dan 33% perempuan (Tabel 1 dan Gambar 1). Hal ini juga sama seperti yang terdapat pada literatur dimana dikatakan bahwa jumlah pasien gagal ginjal kronik laki-laki tiap tahun melebihi jumlah pasien perempuan (Indonesia Renal Registry, 2011). Beberapa penelitian juga menunjukkan hasil yang sama di antaranya penelitian yang dilakukan oleh Tokala et al. (2015) yang menunjukkan bahwa dari 34 pasien dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak (88,2%) dibandingkan dengan pasien perempuan (11,8%). Jenis kelamin merupakan salah satu variabel yang dapat memberikan perbedaan angka kejadian pada pria dan wanita. Insiden gagal ginjal pria dua kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan, dikarenakan secara dominan pria lebih sering mengalami penyakit sistemik, serta riwayat penyakit keluarga yang diturunkan (Levey et al., 2007). Pria lebih rentan terkena gangguan ginjal daripada perempuan, seperti batu ginjal. Hal ini disebabkan karena berkurangnya volume pada urin atau kelebihan senyawa, pengaruh hormon, keadaan fisik dan intensitas aktivitas, di mana saluran kemih pria yang lebih sempit membuat batu ginjal menjadi lebih sering tersumbat dan menyebabkan masalah. Pola gaya hidup laki-laki berisiko terkena gagal ginjal kronik karena kebiasaan minum alkohol yang dapat menyebabkan ketegangan pada ginjal sehingga ginjal bekerja lebih keras. Karsinogen alkohol yang disaring keluar dari tubuh melalui ginjal mengubah DNA dan merusak sel-sel ginjal sehingga berpengaruh pada fungsi ginjal (Hartini, 2016).
Show more

8 Read more

STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN

CCB (Calcium Channel Blocker) PADA PASIEN STROKE ISKEMIK  DI INSTALASI RAWAT INAP (Penelitian Dilakukan di RSUD Dr. Abdoer Rahem Situbondo)

STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN CCB (Calcium Channel Blocker) PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DI INSTALASI RAWAT INAP (Penelitian Dilakukan di RSUD Dr. Abdoer Rahem Situbondo)

ada lima jenis saluran kalsium di Homo sapiens: L-, N-, P / Q-, R- dan tipe T. Sudah diterima secara luas bahwa CCB menargetkan saluran kalsium tipe-L, saluran utama di sel otot yang menengahi kontraksi; Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa felodipine juga mengikat dan menghambat saluran kalsium tipe-T. Saluran kalsium tipe T paling sering ditemukan pada neuron, sel dengan aktivitas alat pacu jantung dan pada osteosit. Signifikan farmakologis blokade saluran kalsium T-tipe tidak diketahui. Felodipine juga mengikat calmodulin dan menghambat pelepasan kalsium yang bergantung pada calmodulin dari retikulum sarkoplasma. Efek dari interaksi ini nampaknya kecil. Studi lain menunjukkan bahwa felodipine mengurangi aktivitas protease nucleotide nucleotide phosphodiesterase (CaMPDE) yang bergantung pada cairan yang bergantung pada kodenya dengan mengikat subunit enzim PDE-1B1 dan PDE- 1A2. CaMPDE adalah salah satu enzim utama yang terlibat dalam nukleotida siklik dan sistem messenger kalsium kedua. Felodipine juga bertindak sebagai antagonis terhadap reseptor mineralcortikoid dengan berkompetisi dengan aldosteron untuk mengikat dan menghalangi rekrutmen koaktivasi aldosteron akibat reseptor mineralcortikoid. Felodipine mampu mengikat bentuk otot skeletal dan jantung dari troponin C, salah satu protein pengatur utama dalam kontraksi otot. Meskipun pameran felodipine mengikat banyak molekul endogen, efek vasodilasinya masih dianggap terutama disebabkan oleh penghambatan saluran kalsium tipe L yang mengandung tegangan. Mirip dengan CCB DHP lainnya, felodipine mengikat langsung ke saluran kalsium yang tidak aktif yang menstabilkan konformasi tidak aktif mereka. Karena depolarisasi otot polos arteri lebih lama dibandingkan dengan depolarisasi otot jantung, saluran tidak aktif lebih banyak terjadi pada sel otot polos. Splicing alternatif dari subunit alpha-1 saluran memberikan felodipine tambahan selektifitas arteri. Pada konsentrasi sub- toksik terapeutik, felodipine memiliki sedikit efek pada miosit jantung dan sel konduksi (DrugBank, 2017).
Show more

49 Read more

Pola Peresepan Penggunaan Obat Antihipertensi Di UPTD Puskesmas Airmadidi

Pola Peresepan Penggunaan Obat Antihipertensi Di UPTD Puskesmas Airmadidi

ABSTRAK Tingginya angka kejadian hipertensi berdampak terhadap meningkatnya morbiditas dan mortalitas masyarakat. Salah satu cara untuk mengontrol hipertensi adalah pemberian terapi farmakologis antihipertensi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan penggunaan obat antihipertensi di UPTD Puskesmas Airmadidi Minahasa Utara. Data diambil secara retrospektif dan dianalisa secara deskriptif dari buku register dan rekam medis pasien periode januari – juni 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 559 pasien hipertensi paling banyak terjadi pada perempuan sebesar 375 ( 67,08 % ) pasien dan pada laki – laki sebesar 184 ( 32,92 % ). Penderita hipertensi terbanyak terdapat pada kelompok usia 60 – 69 tahun sebanyak 243 ( 43,47 % ) pasien, diikuti oleh kelompok usia 50 – 59 tahun sebanyak 135 ( 24,15 % ) pasien dan terendah pada kelompok usia 80 -89 tahun sebanyak 4 ( 0,72 % ) pasien. Pemberian terapi farmakologi yang paling banyak adalah monoterapi dibandingkan politerapi. Golongan obat yang paling banyak digunakan adalah ACE-I yaitu captopril dan untuk politerapi golongan obat yang paling banyak digunakan adalah CCB dan ACE –I yaitu amlodipin dan captopril. . Berdasarkan derajat hipertensi, sebagian besar monoterpi diberikan pada pasien dengan hipertensi stadium I.
Show more

5 Read more

Gambaran Pengetahuan Pasien Hipertensi Terhadap Penyakit Hipertensi Dan Obat Antihipertensi Golongan  Ace-Inhibitor Dan Diuretik

Gambaran Pengetahuan Pasien Hipertensi Terhadap Penyakit Hipertensi Dan Obat Antihipertensi Golongan Ace-Inhibitor Dan Diuretik

Berbagai macam komplikasi yang dapat terjadi akibat tekanan darah yang terlalu tinggi seperti stroke, edema, gangguan penglihatan, gagal ginjal dan jantung [4]. Menurut susilo [5], serangan hipertensi yang berulang-ulang dan lama akan meningkatkan resiko terjadinya komplikasi pada hipertensi yang dapat menyebabkan kematian. Dari penelitian yang dilakukan tidak ada responden yang menderita hipertensi lebih dari 10 tahun, hasil tersebut dapat dilihat pada tabel III. Komplikasi tersebut dapat dicegah dengan cara mengontrol tekanan darah dan menerapkan pola hidup yang sehat.
Show more

9 Read more

Show all 10000 documents...