pola persebaran permukiman

Top PDF pola persebaran permukiman:

POLA PERSEBARAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN KENDAL KABUPATEN KENDAL  Pola persebaran permukiman di Kecamatan Kendal kabupaten Kendal.

POLA PERSEBARAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN KENDAL KABUPATEN KENDAL Pola persebaran permukiman di Kecamatan Kendal kabupaten Kendal.

Penelitian ini menggunakan metode analisis tetangga terdekat (Nearest Neighbour Analysis) yaitu menggunakan skala T untuk mengukur pola persebaran permukiman. Cakupan penelitian adalah batas administrasi kecamatan dengan unit analisisnya adalah kelurahan yaitu Kelurahan Sukodono, Kelurahan Candiroto, Kelurahan Trompo, Kelurahan Jotang, Kelurahan Tunggulrejo, Kelurahan Sijeruk, Kelurahan Jetis, Kelurahan Bugangin, Kelurahan Langenharjo, Kelurahan Kalibuntuwetan, Kelurahan Kebondalem, Kelurahan Ketapang, Kelurahan Banyutowo, Kelurahan Karangsari, Kelurahan Patukangan, Kelurahan Pegulon, Kelurahan Pekauman, Kelurahan Ngilir, Kelurahan Balok dan Kelurahan Bandengan. Data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang di dapat baik dari peta maupun dari instansi terkait. Peta persebaran permukiman digunakan untuk dasar dalam menentukan bentuk pola persebaran permukiman dengan menggunakan analisis tetangga terdekat. Overlay peta dilakukan untuk mengetahui hubungan pola persebaran permukiman dan variabel geografi pengaruh. Analisis statistik crosstab dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel pengaruh terhadap terbentuknya pola persebaran permukiman.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ANALISIS POLA PERSEBARAN PERMUKIMAN DAERAH ALIRAN SUNGAI WALIKAN KABUPATEN KARANGANYAR DAN WONOGIRI TAHUN 2013

ANALISIS POLA PERSEBARAN PERMUKIMAN DAERAH ALIRAN SUNGAI WALIKAN KABUPATEN KARANGANYAR DAN WONOGIRI TAHUN 2013

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan keruangan. Populasi penelitian ini adalah seluruh unit permukiman di DAS Walikan. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini ada 3, yaitu (1) teknik sampling sebaran permukiman menggunakan sampling jenuh (2) teknik penentuan titik-titik sampel untuk mengetahui faktor fisik dan sosial-ekonomi menggunakan sampling purposif (3) teknik sampling penentuan responden wawancara untuk mengetahui faktor sosial-ekonomi menggunakan sampling kuota. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Teknik analisis sebaran unit permukiman menggunakan teknik analisis tetangga terdekat sehingga diketahui pola persebaran permukiman di DAS Walikan sedangkan untuk mengetahui faktor penyebab pola persebaran permukiman menggunakan teknik analisis desriptif kualitatif.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Analisis Faktor Fisik Sosial-Ekonomi dan Kependudukan dengan Pola Persebaran Permukiman di Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah

Analisis Faktor Fisik Sosial-Ekonomi dan Kependudukan dengan Pola Persebaran Permukiman di Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah

Penelitian ini akan dilaksanakan di Kabupaten Sukoharjo dengan judul:” Analisa Faktor Fisik Sosial-Ekonomi dan Kependudukan Dengan Pola Persebaran Permukiman di Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah”. Penelitian ini bertujuan 1) mengetahui perbedaan pola persebaran permukiman di Kabupaten Sukoharjo, 2) mengetahui kekuatan hubungan faktor fisik (topografi/ kemiringan) dan kependudukan (kepadatan dan jumlah penduduk) serta penyebaran fasilitas sosial (tempat peribadatan, tempat pendidikan, tempat kesehatan), ekonomi terhadap pola persebaran permukiman di daerah penelitian.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - KAJIAN POLA PERSEBARAN PERMUKIMAN PERKEBUNAN (Studi kasus : Perkebunan Kelapa Sawit di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - KAJIAN POLA PERSEBARAN PERMUKIMAN PERKEBUNAN (Studi kasus : Perkebunan Kelapa Sawit di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang) - Unissula Repository

Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya Perkebunan Kelapa sawit merupakan sektor yang paling besar memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat kendawangan, dan juga menghasilkan dampak positip yang cukup signifikan terhadap perkembangan ekonomi serta pembangunan yang berada dikecamatan kendawangan. Dengan adanya perkebunan kelapa sawit yang menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup besar, permukiman masyarakat juga mulai berkembang dengan cukup pesat untuk mangikuti kebutuhan atas rumah huni / permukiman, hal ini dilakuakan bukan hanya oleh masyarakat tetapi juga di tunjang dari permukiman yang disediakan oleh perushaan perkebunan kelapa sawit seperti PT Guna Karya Gemilang, dan juga oleh Pemerintah permukiman migrasi seperti Satuan Permukiman (SP) yang berada pada daerah sekitar kawasan perkebunan di kecamatan kendawangan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Konsep Optimalisasi Distribusi Sekolah Tingkat Dasar (SD/MI) Berdasarkan Pola Persebaran Permukiman di Kabupaten Ngawi

Konsep Optimalisasi Distribusi Sekolah Tingkat Dasar (SD/MI) Berdasarkan Pola Persebaran Permukiman di Kabupaten Ngawi

Teknik analisa yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan sasaran antara lain analisa tetangga terdekat untuk mengetahui karakteristik pola persebaran permukiman. Analisa Regresi Linier Berganda untuk mengetahui faktor yang berpengaruh dalam distribusi sekolah tingkat dasar. Ketersediaan fasilitas SD/MI menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dengan teknik standar pelayanan minimum daya tampung dan Exponential Growth Model. Kemudian tahap terakhir adalah perumusan konsep optimalisasi distribusi sekolah tingkat dasar (SD/MI) berdasarkan pola persebaran permukiman menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan teknik validasi triangulasi.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Analisis Faktor Fisik Sosial-Ekonomi dan Kependudukan dengan Pola Persebaran Permukiman di Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah

Analisis Faktor Fisik Sosial-Ekonomi dan Kependudukan dengan Pola Persebaran Permukiman di Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah

Pola atau sifat persebaran ini sangat menarik untuk dikaji dan dianalisis, mengingat urgensi pemecahan masalah permukiman seperti penempatan sarana dan prasana permukiman dan fasilitas sosial-ekonomi masih sering tidak sesuai dengan konsentrasi persebaran penduduk di setiap permukiman. Hal ini berakibat pada tidak seimbangnya antara sarana dan prasarana yang tersedia dengan penduduk yang dilayani. Perbedaan pola persebaran permukiman di berbagai daerah terkait erat dengan sifat persebaran penduduk.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pengaruh Faktor Bermukim Masyarakat Terhadap Pola Persebaran Permukiman di Kawasan Rawan Bencana Longsor Kabupaten Magetan.

Pengaruh Faktor Bermukim Masyarakat Terhadap Pola Persebaran Permukiman di Kawasan Rawan Bencana Longsor Kabupaten Magetan.

Penulis berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi kepentingan praktis maupun akademis. Penulis berharap penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan kajian pengaruh faktor bermukim masyarakat di kawasan rawan bencana longsor terhadap pola persebaran permukiman. Selain itu, penulis juga berharap penelitian ini dapat menjadi pedoman dan pustaka bagi penelitian selanjutnya terkait dengan faktor bermukim

8 Baca lebih lajut

Analisis Faktor Fisik Sosial-Ekonomi dan Kependudukan dengan Pola Persebaran Permukiman di Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah

Analisis Faktor Fisik Sosial-Ekonomi dan Kependudukan dengan Pola Persebaran Permukiman di Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah

Nursid Sumaatmaja, (1998) menjelaskan pemukiman pada konsep ini adalah bagian dari permukaan bumi yang dihuni manusia yang meliputi pula segala prasaran dan sarana yang menunjang kehidupan penduduk yang menjadi satu kesatuan dengan tempat tinggal yang bersangkutan. Pengertian permukiman menurut Hadi Sabari Yunus, (1987) lebih ke arah fisik, di mana permukiman diartikan sebagai suatu bentukan artifisial maupun natural, dengan segala kelengkapannya yang dipergunakan oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok untuk bertempat tinggal baik sementara maupun menetap dalam rangka menyelenggarakan kehidupannya. Pengertian permukiman yang bersifat artifisial berkaitan erat dengan campur tangan manusia dalam pembentukannya, sedangkan permukiman alami berkaitan dengan proses-proses alami dalam pembentukannya.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pola persebaran permukiman di Kecamatan Kendal kabupaten Kendal.

PENDAHULUAN Pola persebaran permukiman di Kecamatan Kendal kabupaten Kendal.

Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui pola apa yang terbentuk dari sebaran lokasi permukiman yang ada, serta faktor fisik dan faktor sosial- ekonomi yang berpengaruh terhadap pola persebaran permukiman di wilayah Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal. Wilayah Kecamatan Kendal terbagi atas 20 kelurahan yaitu Kelurahan Sukodono, Kelurahan Candiroto, Kelurahan Trompo, Kelurahan Jotang, Kelurahan Tunggulrejo, Kelurahan Sijeruk, Kelurahan Jetis, Kelurahan Bugangin, Kelurahan Langenharjo, Kelurahan Kalibuntuwetan, Kelurahan Kebondalem, Kelurahan Ketapang, Kelurahan Banyutowo, Kelurahan Karangsari, Kelurahan Patukangan, Kelurahan Pegulon, Kelurahan Pekauman, Kelurahan Ngilir, Kelurahan Balok dan Kelurahan Bandengan. Berdasarkan uraian diatas maka penulis dalam penelitian ini tertarik mengambil judul "POLA PERSEBARAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN KENDAL KABUPATEN KENDAL".
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Kendala Petani Kentang Dalam Meyekolahkan Anak Di Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Dilihat Dari Konsep Geografi.

Kendala Petani Kentang Dalam Meyekolahkan Anak Di Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Dilihat Dari Konsep Geografi.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pola persebaran permukiman di Kecamatan Kejajar yang dianalisis menggunakan analisis tetangga terdekat berpola mengelompok/ menggerombol (Desa Buntu, Tambi, Sigedang, Kreo, Serang, Igirmranak, Surengede, Jojogan, Sembungan, Sikunang, Campursari); berpola memanjang jalan (Desa Kejajar, Tieng, Patakbanteng, Parikesit dan Dieng) dan pola persebaran sekolah mengelompok/ menggerombol. Tingkat pendidikan dan motivasi orang tua tergolong sedang, seperti masih banyaknya anak yang hanya bersekolah hingga jenjang SMA saja. Dan yang menjadi kendala petani kentang dalam menyekolahkan anak adalah kendala dilihat dari 10 konsep geografi yang tergolong tinggi, namun untuk konsep diferensiasi area tidak menjadi kendala karena suhu yang sama dinginnya antara desa yang satu dengan desa yang lainnya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

POLA RUANG PERMUKIMAN DALAM PERKEMBANGAN KAWASAN KOTA NGAWI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

POLA RUANG PERMUKIMAN DALAM PERKEMBANGAN KAWASAN KOTA NGAWI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola ruang permukiman yang mempengaruhi perkembangan kawasan Kota Ngawi yaitu dengan analisis pola permukiman, analisis sarana dan prasarana pendukung permukiman, analisis kualitas lahan, dan analisis pola permukiman dalam perkembangan kawasan kota.

Baca lebih lajut

KAJIAN PERSEBARAN PERMUKIMAN KUMUH LIAR (SQUATTER) DI SEPANJANG BANTARAN BENGAWAN SOLO KOTA SURAKARTA

KAJIAN PERSEBARAN PERMUKIMAN KUMUH LIAR (SQUATTER) DI SEPANJANG BANTARAN BENGAWAN SOLO KOTA SURAKARTA

Suatu proses adalah sesuatu yang berjalan dari awal sampai akhir. Begitu pula apabila kita hendak mengkaji proses yang terjadi pada permukiman kumuh liar (squatter) di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta. Pertama, yang harus diketahui adalah awal kedatangan penghuni bantaran dan mengisi ruang-ruang kosong bantaran. Berdasar pada tulisan Yunus 2005 mengenai proses perkembangan spasial kota, maka munculnya permukiman kumuh liar (squatter) di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta merupakan suatu proses perkembangan spasial kota yang terjadi dengan cara menempati ruang-ruang kosong yang berada di pinggiran kota. Meningkatnya para urban berdampak pada perubahan penggunaan lahan di pinggiran kota dalam hal ini adalah lahan bantaran. Para urban masuk secara ekspansif ke daerah bantaran, yaitu masuk ke daerah bantaran dengan berkelompok- kelompok dan berada di luar daerah terbangun atau dengan sembunyi-sembunyi. Proses ini berjalan terus-menerus sehingga nampak ekspresi spasial yang disebut perkembangan lompat katak. Perkembangan yang seolah-olah melompat-lompat dan masih tersisa lahan kosong disela-sela, maka munculnya pengisian lahan atau sering disebut dengan proses infilling. Munculnya permukiman kumuh liar (squatter) di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta merupakan The Spatial Infilling Process atau SIP tipe tiga yaitu permukiman pada lahan-lahan “tidak bertuan” atau “dianggap tidak bertuan”. Dengan berjalannya waktu, maka proses ini berjalan terus- menerus dan pada akhirnya terbentuklah permukiman yang tak terkendali di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta seperti sekarang ini. Proses kehidupanpun dialami oleh para penghuni bantaran, dari kehidupan yang serba tidak layak sampai menjadi lebih layak. Trilassiwi 2004 : 90 disebutkan bahwa bahan dinding rumah ataupun bahan lantai rumah merupakan indikator untuk melihat kehidupan yang layak bagi penduduk, mengingat kondisi lantai atau dinding rumah akan berpengaruh pada kesehatan penghuninya. Untuk mengetahui keadaan lantai dan dinding rumah warga bantaran dapat dilihat pada tabel berikut :
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Karakteristik Pola Permukiman Perdesaan di

Karakteristik Pola Permukiman Perdesaan di

Desa dalam arti umum adalah permukiman manusia yang letaknya di luar kota dan penduduknya berpangupajiwa agraris. Dalam bahasa Indonesia sehari-hari disebut juga kampung. Desa dalam arti lain adalah bentuk kesatuan administratif yang disebut juga kelurahan. Dengan demikian di kota-kota pun dikenal sebutan desa (misalnya desa Kalicacing di Kota Salatiga) meskipun isinya penuh dengan pertokoan dan pasar serta deretan kios. Adapun desa yang tersebar di luar kota dengan lingkungan fisisbiotisnya adalah gabungan dukuh. Dukuh ini sendiri dapat mewujudkan suatu unit geografis karena tersebar seperti pulau di tengah-tengah persawahan atau hutan. Di Jawa Barat yang disebut kampung adalah dukuh. Adapun kesatuan administratif desa, sebutan di luar Jawa dapat beraneka: gampong (Aceh), huta (Tapanuli), nagari (Sumatra Barat), marga (Sumatra Selatan) wanus (Sulawesi Utara), dan dusundati (Maluku).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Identifikasi Persebaran Permukiman Kumuh Dibandingkan Dengan Persepsi Masyarakat Tentang Permukiman Kumuh di Kecamatan Wara Timur Kota Palopo

Identifikasi Persebaran Permukiman Kumuh Dibandingkan Dengan Persepsi Masyarakat Tentang Permukiman Kumuh di Kecamatan Wara Timur Kota Palopo

Perkembangan wilayah kota yang dinamis membawa berbagai macam dampak bagi pola kehidupan masyarakat kota itu sendiri. Perkembangan pusat kota yang merupakan sentra dari kegiatan ekonomi menjadi daya tarik bagi masyarakat yang dapat membawa pengaruh bagi tingginya arus tenaga kerja baik dari dalam kota itu sendiri maupun dari luar wilayah kota, sehingga menyebabkan pula tingginya arus urbanisasi. Urbanisasi telah menyebabkan ledakan jumlah penduduk kota yang sangat pesat, yang salah satu implikasinya adalah terjadinya penggumpalan tenaga kerja di kota-kota besar di Indonesia. Dampak lain dari tingginya arus urbanisasi kota adalah dalam hal permukiman kota. Namun urbanisasi yang terkonsentrasi seperti diuraikan di atas, disamping merugikan juga mempunyai keuntungan. Perlengkapan infrastruktur bagi modernisasi ongkosnya menjadi murah. Perkembangan ekonomi lebih cepat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kajian desain lanskap permukiman tradisional Madura

Kajian desain lanskap permukiman tradisional Madura

Pola permukiman adalah bentuk persebaran tempat tinggal penduduk. Pola permukiman di setiap wilayah berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan pola permukiman antara lain adalah relief, kesuburan tanah, keadaan iklim, kondisi ekonomi, dan kultur masyarakat. Bentukan lahan (landform) dapat berupa pegunungan, lembah, dataran tinggi, dataran rendah, kawasan berlereng, atau daerah pantai. Perbedaan bentukan lahan menyebabkan perbedaan pola adaptasi termasuk dalam penataan permukiman. Kesuburan tanah juga dapat mempengaruhi pola permukiman. Tingkat kesuburan tanah di setiap tempat berbeda-beda. Di daerah pedesaan, lahan yang subur merupakan sumber penghidupan bagi penduduk sehingga tempat tinggal didirikan dengan pola berkumpul dan memusat dekat dengan sumber penghidupannya. Faktor-faktor iklim seperti curah hujan, intensitas radiasi Matahari dan suhu di setiap tempat berbeda-beda. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah dan kondisi alam daerah tersebut. Kondisi ini akan berpengaruh pada pola pemukiman penduduk. Pada daerah dingin seperti pegunungan, dataran tinggi serta di Kutub utara orang akan cenderung mendirikan tempat tinggal saling berdekatan dan mengelompok. Sedangkan di daerah panas pemukiman penduduk cenderung lebih terbuka dan agak terpencar. Kegiatan ekonomi seperti pusat-pusat perbelanjaan, perindustrian, pertambangan, pertanian, perkebunan dan perikanan akan berpengaruh pada pola pemukiman yang mereka pilih, terutama tempat tinggal yang dekat dengan berbagai fasilitas yang menunjang kehidupannya, karena hal itu akan memudahkan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Budaya penduduk yang dipegang teguh oleh suatu kelompok masyarakat akan berpengaruh pada pola pemukiman kelompok tersebut.
Baca lebih lanjut

125 Baca lebih lajut

Kajian Pola Persebaran Longsorlahan di Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas

Kajian Pola Persebaran Longsorlahan di Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas

Longsor adalah suatu proses perpindahan massa tanah/batuan dengan arah miring dari kedudukan semula, sehingga terpisah dari massa yang mantap, karena pengaruh gravitasi, dengan jenis gerakan berbentuk rotasi dan translasi. Kawasan rawan bencana longsor adalah kawasan lindung atau kawasan budi daya yang meliputi zona-zona berpotensi longsor (Pedoman Penataan Ruang Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/Prt/M/2007 Pasal 1 ayat 1 dan 2). Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu (UURI No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, pasal 1 ayat 14). Kecamatan Ajibarang merupakan daerah yang rawan longsorlahan. Kurangnya pemahaman atas longsorlahan dan alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian dan permukiman yang tidak memperhatikan kerentanan longsorlahan mengakibatkan semakin banyak berkembang gejala longsorlahan. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyumas, Ajibarang merupakan fungsi kawasan pertanian lahan kering dan pertanian lahan basah (Anonim, 2010).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

STUDI DAN ANALISA KUALITAS PERMUKIMAN DI

STUDI DAN ANALISA KUALITAS PERMUKIMAN DI

Rumah adalah salah satu dari tiga kebutuhan primer manusia yang harus terpenuhi. Rumah merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal manusia. Manusia sebagai makhluk sosial pun tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Hal tersebut pun tergambar dari rumah yang selalu dijumpai bergerombol membentuk suatu permukiman dari

Baca lebih lajut

contoh penelitian PJSIG

contoh penelitian PJSIG

Sumber : Citra Quickbird Daerah Kota Bandung, Bulan Agustus 2003. Cek Lapangan, Januari 2008 Proyeksi : UTM, Zona 48S. Dibuat Oleh : Lili Somantri 24060/1-6/259/06 PETA BLOK PERMUKIMAN BERDASARKAN KONDISI LEBAR JALAN MASUK PERMUKIMAN KOTA BANDUNG BAGIAN BARAT

Baca lebih lajut

ANALISIS SPASIAL KERAWANAN KEBAKARAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN MEDAN TIMUR.

ANALISIS SPASIAL KERAWANAN KEBAKARAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN MEDAN TIMUR.

Kota Medan merupakan ibu kota Provinsi Sumatera Utara, dengan luas wilayah + 265,10 km 2 yang terdiri dari 21 kecamatan yang mencakup 151 kelurahan dan menjadi pusat pemerintahan di wilayah ini. Kota Medan merupakan kota terbesar di Pulau Sumatera, selain itu juga menjadi pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat. Kejadian bencana yang terjadi di Kota Medan yaitu bencana banjir bandang, banjir rob, dan kebakaran permukiman. Banjir bandang yang terjadi di Kota Medan merupakan kiriman air sungai dari kawasan hulu, banjir rob umumya disebabkan oleh pasangnya air laut dan kebakaran permukiman umumnya terjadi pada wilayah padat penduduk (Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Medan, 2012). Pada penelitian ini bencana yang dikaji adalah bencana kebakaran permukiman yang terjadi di Kota Medan.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

s geo 0705517 chapter iii

s geo 0705517 chapter iii

Jadi variabel penelitian adalah objek kajian yang kita amati berdasarkan berbagai penilaian sehingga ada pembatasan kajian yang menjadi titik pusat. Dalam penelitian yang dilakukan titik pusat yang dijadikan batasan adalah factor- faktor pola persebaran industri di Kota Bandung yang bersumber dari data citra Quickbird tahun 2008. Variabel bebas adalah sejumlah gejala dengan berbagai unsur atau faktor di dalamnya yang menentukan atau mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor-faktor pola persebaran industri di wilayah Tegallega. Sedangakan untuk variabel terikat adalah variabel yang diakibatkan oleh variabel bebas, yaitu lokasi industri di Wilayah Tegallega.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...