Politik Buruh Tebu

Top PDF Politik Buruh Tebu:

Preferensi Politik Buruh Tebu dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus Perilaku Buruh Tebu PTPN 2 Kebun Sei Semayang dalam Pemilihan Walikota Binjai Tahun 2010)

Preferensi Politik Buruh Tebu dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus Perilaku Buruh Tebu PTPN 2 Kebun Sei Semayang dalam Pemilihan Walikota Binjai Tahun 2010)

Terwujudnya pemilu yang baik tidak terlepas dari perilaku politik masyarakatnya, perilaku politik dapat dirumuskan sebagai kegiatan yang berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. Bentuk perilaku politik ini menjadi alat analisis untuk melihat bagaimana perilaku pemilih masyarakat dalam hal ini buruh tebu PTPN 2 kebun sei semayang dalam pemilihan kepala daerah 2010 kota Binjai. Buruh yang dibahas dalam penelitian ini adalah buruh tebu PTPN 2 kebun sei semayang dimana buruh yang dimaksud dalam hal ini adalah mereka yang berposisi sebagai karyawan lepas dan karyawan pelaksana, dengan memiliki jumlah yang cukup besar mereka dianggap sebagai objek penting oleh pasangan calon kepala daerah untuk memperoleh jumlah suara. Antusias yang ditunjukkan oleh buruh tebu PTPN2 dalam pemilukada juga cukup baik, ini terlihat dengan mengikuti kampanye dari pasangan calon walikota Binjai, banyak buruh yang rela cuti kerja untuk mengikuti kampanye dari calon pasangan walikota. Keikutsertaan mereka didalam kampanye menunjukkan bagaimana bentuk perilaku politik buruh tebu dalam mengikuti pemilukada kota Binjai, karena mereka berharap calon yang didukung akan dapat membantu memperbaiki kesehjateraan hidup mereka. Janji-janji yang disampaikan serta pendekatan yang digunakan oleh calon walikota akan sangat berpengaruh dalam menarik simpati buruh, karena akan menentukan bagaimana perilaku memilih dari buruh tebu PTPN2.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah - Preferensi Politik Buruh Tebu dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus Perilaku Buruh Tebu PTPN 2 Kebun Sei Semayang dalam Pemilihan Walikota Binjai Tahun 2010)

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah - Preferensi Politik Buruh Tebu dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus Perilaku Buruh Tebu PTPN 2 Kebun Sei Semayang dalam Pemilihan Walikota Binjai Tahun 2010)

Terwujudnya pemilu yang baik tidak terlepas dari perilaku politik masyarakatnya, perilaku politik dapat dirumuskan sebagai kegiatan yang berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. Bentuk perilaku politik ini menjadi alat analisis untuk melihat bagaimana perilaku pemilih masyarakat dalam hal ini buruh tebu PTPN 2 kebun sei semayang dalam pemilihan kepala daerah 2010 kota Binjai. Buruh yang dibahas dalam penelitian ini adalah buruh tebu PTPN 2 kebun sei semayang dimana buruh yang dimaksud dalam hal ini adalah mereka yang berposisi sebagai karyawan lepas dan karyawan pelaksana, dengan memiliki jumlah yang cukup besar mereka dianggap sebagai objek penting oleh pasangan calon kepala daerah untuk memperoleh jumlah suara. Antusias yang ditunjukkan oleh buruh tebu PTPN2 dalam pemilukada juga cukup baik, ini terlihat dengan mengikuti kampanye dari pasangan calon walikota Binjai, banyak buruh yang rela cuti kerja untuk mengikuti kampanye dari calon pasangan walikota. Keikutsertaan mereka didalam kampanye menunjukkan bagaimana bentuk perilaku politik buruh tebu dalam mengikuti pemilukada kota Binjai, karena mereka berharap calon yang didukung akan dapat membantu memperbaiki kesehjateraan hidup mereka. Janji-janji yang disampaikan serta pendekatan yang digunakan oleh calon walikota akan sangat berpengaruh dalam menarik simpati buruh, karena akan menentukan bagaimana perilaku memilih dari buruh tebu PTPN2.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

BAB II - Preferensi Politik Buruh Tebu dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus Perilaku Buruh Tebu PTPN 2 Kebun Sei Semayang dalam Pemilihan Walikota Binjai Tahun 2010)

BAB II - Preferensi Politik Buruh Tebu dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus Perilaku Buruh Tebu PTPN 2 Kebun Sei Semayang dalam Pemilihan Walikota Binjai Tahun 2010)

Kelanjutan dari penanaman tebu diikuti dengan studi kelayakan yang dilakukan oleh “Philippine Consortium of Sugar Consultant” pada bulan Februari 1978. Hasil studi ini menyatakan bahwa pembangunan PGSS layak dilakukan, sehingga pada akhir tahun 1978 keluarlah izin proyek pembangunan pabrik gula dari Menteri Pertanian RI. Kredit investasi yang digunakan untuk membangun pabrik tersebut diperoleh dari dua sumber yaitu dari Bank Bumi Daya sebagai kreditur utama dan dari PTPN IX itu sendiri, serta didukung juga oleh perkebunan lainnya.

14 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah - Preferensi Politik Buruh Tebu Dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus: Pada Buruh Tebu PTPN II Kebun Sei Semayang)

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah - Preferensi Politik Buruh Tebu Dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus: Pada Buruh Tebu PTPN II Kebun Sei Semayang)

Richard G. Niemi dan Herbert F.Weisberg yang dikutip dalam komunitas embun pagi, berpendapat bahwa faktor sosialisasilah sebenarnya yang menentukan perilaku memilih seseorang, bukan karena karakteristik sosiologis. Pendekatan ini menggunakan dan mengembangkan konsep psikologis (terutama konsep sosialisasi dan sikap) untuk menjelaskan perilaku seseorang. Pendekatan ini berkeyakinan bahwa pemilih menentukan pilihannya karena pengaruh kekuatan psikologis yang berkembang dalam dirinya sebagai produk dari sosialisasi yang mereka terima. Maka dalam hal ini diperlukan “kurikulum sosialisasi politik”. Ini penting terutama bagi pemilih pemula yang cenderung belum pernah memilih. Harus dilakukan sosialisasi yang sistematis agar pemilih pemula ini dapat mengerti dan tidak menunjukkan karakter yang apatis (tidak adanya minat terhadap persoalan – persoalan politik), anomi (perasaan tidak berguna). Maka kesadaran politik warga Negara menjadi faktor determinan dalam partisipasi politik masyarakat, artinya berbagai hal yang berhubungan dengan
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

BAB II - Preferensi Politik Buruh Tebu Dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus: Pada Buruh Tebu PTPN II Kebun Sei Semayang)

BAB II - Preferensi Politik Buruh Tebu Dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus: Pada Buruh Tebu PTPN II Kebun Sei Semayang)

Kelanjutan dari penanaman tebu diikuti dengan studi kelayakan yang dilakukan oleh “Philippine Consortium of Sugar Consultant” pada bulan Februari 1978. Hasil studi ini menyatakan bahwa pembangunan PGSS layak dilakukan, sehingga pada akhir tahun 1978 keluarlah izin proyek pembangunan pabrik gula dari Menteri Pertanian RI. Kredit investasi yang digunakan untuk membangun pabrik tersebut diperoleh dari dua sumber yaitu dari Bank Bumi Daya sebagai kreditur utama dan dari PTPN IX itu sendiri, serta didukung juga oleh perkebunan lainnya.

14 Baca lebih lajut

Preferensi Politik Buruh Tebu Dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus: Pada Buruh Tebu PTPN II Kebun Sei Semayang)

Preferensi Politik Buruh Tebu Dalam Pemilukada 2010 Kota Binjai (Studi Kasus: Pada Buruh Tebu PTPN II Kebun Sei Semayang)

H. Muhammad Idaham merupakan sosok yang cukup dikenal dikalangan masyarakat binjai, hal ini disebabkan karena sebagian besar karir pekerjaannya dihabiskan dikota Binjai. Lulusan terbaik dari Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara pada tahun 2003 ini memulai karirnya sebagai camat Kuala Kab.Langkat pada tahun 1980 dan karirnya semakin lama semakin meningkat, ini terbukti dengan pernahnya Idaham menduduki posisi penting di pemerintahan kota Binjai, seperti Camat Binjai Selatan pada tahun 1984, Camat Binjai Kota pada tahun 1986, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kota Binjai pada tahun 1992, Kepala Bapedda Kota Binjai pada tahun 1999, dan Sekertaris Daerah Kota Binjai Tahun 2000, serta puncaknya sebelum menjadi walikota Binjai H. Muhammad Idaham pernah menjadi wakil walikota Binjai pada tahun 2005. Karir yang dimulai dari bawah membuat masyarakat meyakini bahwa Idaham dapat melihat masyarakat kelas menengah kebawah khususnya para buruh.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

PROFIL BUDIDAYA TEBU LOKAL KERINCI DI KECAMATANKAYU ARO BARAT, KABUPATEN KERINCI, PROVINSI JAMBI

PROFIL BUDIDAYA TEBU LOKAL KERINCI DI KECAMATANKAYU ARO BARAT, KABUPATEN KERINCI, PROVINSI JAMBI

kecil petani (5,80%) jika ingin melakukan perluasan kebun. Kebun yang ada sudah ditanam sejak zaman Belanda dan yang ada sekarang adalah kebun warisan dari keturunan sebelumnya. Rata-rata setiap Kepala Keluarga memiliki kebun tebu dengan luas 1-2 ha. Bibit tebu yang sering digunakan untuk penanaman tebu baru adalah anakan tebu dari kebun yang sudah ada. Menurut Winarsih dan Sugiyarta (2008), bibit tebu dapat berasal dari 2 sumber, yaitu: konvensional dan kultur jaringan. Keberhasilan budidaya tanaman tebu banyak ditentukan oleh faktor kualitas bibit tebu. Bibit tebu yang baik adalah murni, bebas dari hama dan penyakit serta gulma, sehingga mempunyai kecepatan tumbuh yang baik.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMILUKADA 2010 KOTA BINJAI (Studi kasus: Pada Buruh Tebu PTPN II Kebun Sei Semayang) HASUDUNGAN REYNALD 080906071

PEMILUKADA 2010 KOTA BINJAI (Studi kasus: Pada Buruh Tebu PTPN II Kebun Sei Semayang) HASUDUNGAN REYNALD 080906071

Pemilu merupakan sarana untuk memobilisasi dan menggerakkan dukungan rakyat terhadap Negara dan pemerintahan dengan jalan ikut serta dalam proses politik. Setiap individu dalam masyarakat memiliki latar belakang dan konteks yang berbeda-beda. Hal inilah yang membuat kondisi mayarakat heterogen dan bervariasi. Mulai dari kondisi sosial, ekonomi, psikologi, dan budaya. Terdapat pula kelompok-kelompok kategorial dalam masyarakat, seperti jenis kelamin, perbedaan usia dan perbedaan pendidikan. Hal-hal ini mempengaruhi perilaku politik pada momen politik nantinya, sebab hal-hal yang melatarbelakangi ini akan berimplikasi pada bangunan pengetahuan dan preferensi kemudian.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kemasukan buruh buruh dari negeri China

Kemasukan buruh buruh dari negeri China

kepentingan mereka di Tanah Melayu tanpa mengabaikan kuasa Sultan yang masih berperanan dalam soal agama Islam dan adat istiadat Melayu. Rentetan itu, kuasa Sultan dan penghulu yang dikekalkan menyebabkan masyarakat Melayu di kawasan pedalaman khususnya tidak merasai sangat kedatangan British. Hal ini disebabkan oleh British yang meneruskan dasar berbaik-baik dengan Raja-raja Melayu dan campur tangan yang minimum dengan kaum petani Melayu. Kesannya, masyarakat Melayu kekal menjadi masyarakat tani dan tinggal di kampung kerana dasar berbaik-baik British. Dengan bertapaknya penjajahan British ini di negeri-negeri yang kaya dengan hasil bumi peranan ini telah diambil alih oleh pemodal China dari negeri-negeri Selat dan Syarikat-syarikat Inggeris sendiri. Selain itu golongan pembesar tradisional juga turut kehilangan kuasa memungut cukai dan hilang punca pendapatan mereka. Sebelum ini Sultan dan Pembesar Melayu berkuasa memungut cukai berkaitan perlombongan dan perniagaan jajahan takluk mereka. Namun semua ini berubah dengan ketara selepas pengenalan sistem Residen. Keruntuhan sistem ekonomi tradisional yang menjadi tunjang kekuasaan pembesar Melayu itu telah menyebabkan kelemahan sistem politik bumiputera. 29
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Fragmentasi Gerakan Buruh Di Indonesia Pasca Orde Baru

Fragmentasi Gerakan Buruh Di Indonesia Pasca Orde Baru

sejarah orde baru yang melarang organisasi buruh berpolitik; Kedua, dibukanya kesempatan yang luas dalam berpolitik menyebabkan elit organisasi gerakan buruh terserap kedalam organisasi partai politik yang berlainan; Ketiga, gerakan buruh belum memiliki pola gerakan yang terarah dengan target tujuan yang jelas serta sistematis. Bahkan sebagian kalangan buruh masih memiliki paradigma yang mengikuti paradigma konflik kelas. Solusi penting yang harus dilakukan adalah mencari sebuah tempat yang sah dalam arena politik sekaligus mengendapkan terlebih dahulu sekat-sekat politik masa lalu. Tugas berat ini hanya bisa dilakukan jika aktivis buruh tidak memisahkan perjuangan hak-hak ekonomi dan agenda sosial yang lebih luas. Kualfikasi aktivis dan pemimpin serikat buruh harus ditingkatkan untuk kemampuan bernegosiasi, lobi, penguasaan bahasa asing, dan memiliki kemampuan untuk menawarkan alternatif kebijakan. Serikat buruh perlu pula mengoreksi para aktivisnya yang aktif di parpol yang tidak menyuarakan aspirasi dan kepentingan buruh.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KECERNAAN PUCUK TEBU TEROLAH SECARA IN VITRO [The In Vitro Digestibility of Processed Sugarcane] - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

KECERNAAN PUCUK TEBU TEROLAH SECARA IN VITRO [The In Vitro Digestibility of Processed Sugarcane] - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Alternatif penaggulangan kekurangan hijauan untuk ruminansia adalah pemanfaatan limbah pertanian. Limbah pertranian yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu pakan alternatif adalah limbah dari tanaman tebu Limbah tanaman tebu sangat potensial sebagai pakan ternak alternatif, karena ketersediaannya banyak dan juga sebagian tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Limbah tebu yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan antara lain adalah tetes, blotong, dan pucuk tebu. Selama ini yang telah banyak dimanfaatkan secara luas adalah tetes. Tetes memiliki palatablitas yang tinggi juga bernilai gizi yang baik. Tetes dapat digunakan baik untuk ternak ruminansia maupun nonruminansia.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Uji Ketahanan Beberapa Varietas Tebu (Saccharum officinarum) Terhadap Penyakit Pokahbung (Fusarium moniliforme) di Rumah Kaca

Uji Ketahanan Beberapa Varietas Tebu (Saccharum officinarum) Terhadap Penyakit Pokahbung (Fusarium moniliforme) di Rumah Kaca

Tebu adalah salah satu komoditi perkebunan yang ditanam di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan gula. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan, luas areal di Indonesia yang ditanami oleh tebu pada tahun 2013 sebesar 469.227 Ha dan meningkat menjadi 477.881 Ha ditahun 2014. Produksi tebu di tahun 2013 adalah 2.551.026 Ton dan meningkat di tahun 2014 menjadi 2.632.242 Ton. Sedangkan untuk produktivitasnya, di tahun 2013 produktivitas tebu sebesar 5.467 Kg/Ha dan meningkat di 2014 menjadi 5.561 Kg/Ha (BPS, 2015).

3 Baca lebih lajut

PENGARUH INTIFADA TERHADAP BENTUK RELASI KEKUASAAN PALESTINA-ISRAEL.

PENGARUH INTIFADA TERHADAP BENTUK RELASI KEKUASAAN PALESTINA-ISRAEL.

Negara Israel menggunakan kekuasaannya untuk menekan Bangsa Palestina dalam 4 bentuk yaitu, ekonomi, sosial, ideologi, dan politik. Dalam ekonomi Bangsa Palestina yang bekerja pada pemerintah Israel berjumlah 250.000 orang dan bekerja sebagai buruh. Perlakuan mereka sangat berbeda dengan rekan sekerja mereka yang warga asli Israel. Mereka mendapatkan upah 50 sampai 70 persen lebih rendah untuk pekerjaan yang sama 3 . Pemerintah Israel melarang buruh-buruh yang berasal dari Palestina untuk dapat keluar secara bebas pada malam hari, kegiatan mereka diatur, pelanggarnya akan dipenjarakan, buruh-buruh tersebut tidak dapat melakukan apa-apa karena tekanan dari pemerintah Israel. 4 Secara sosial Bangsa Palestina diperlakukan sebagai orang
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS SILO DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KANDUNGAN FRAKSI SERAT (NDF, ADF, SELULOSA DAN HEMISELULOSA) SILASE RANSUM KOMPLIT BERBASIS LIMBAH TEBU.

PENGARUH JENIS SILO DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KANDUNGAN FRAKSI SERAT (NDF, ADF, SELULOSA DAN HEMISELULOSA) SILASE RANSUM KOMPLIT BERBASIS LIMBAH TEBU.

Kendala dalam pemanfaatan limbah tebu salah satunya adalah ketersediaannya yang berfluktuasi. Hal ini disebabkan oleh fluktuasi permintaan terhadap gula tebu. Pada saat bulan puasa atau hari-hari besar lainnya permintaan banyak, sehingga produksi gula tebu meningkat yang otomatis meningkatkan jumlah limbah tebu yang dihasilkan. Sebaliknya pada waktu yang lain produksi tidak banyak, sedangkan kebutuhan pakan relatif stabil sepanjang tahun. Pangestu (2003), menyatakan limbah tebu menjadi sumber pakan alternatif bagi pengembangan ternak ruminansia, karena limbah tebu toleran terhadap musim panas, tahan hama dan penyakit, serta mudah tersedia pada musim kemarau.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Resistensi Buruh Terhahap Kebijakan Sistem Outsourcing ( Studi kasus : Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) di kota Medan)

Resistensi Buruh Terhahap Kebijakan Sistem Outsourcing ( Studi kasus : Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) di kota Medan)

Sebagai sebuah organisasi serikat pekerja/serikat buruh yang selalu memiliki prinsip melawan terhadap setiap perlakuan tidak adil kepada buruh, maka semua itu akan dapat diperbuat di dalam sistem yang diciptakan serikat buruh tersebut. Serikat pekerja tercipta diharapkan dapat menjalankan peranannya dan tugasnya dengan baik terutama sebagai kekuatan sosial menyelenggarakan pendidikan politiksehingga seluruh anggotanya menghayati dan mengamalkan hak dan keawajiban sebagai warga negara yang baik. Pendidikan politik mengarahkan anggota akan kesadaran nasional, disiplin nasional dan menguasai perkembangan nasional, menyangkut semua aspek kehidupan Negara dan Bangsa berdasarkan Organisasi GSBI bersifat Independen, terbuka, militan, nasional patriotik, demokratis, dan bertangung jawab serta tidak menjadi bagian atau onderbouw dari salah satu partai politik. Sedangkan Bentuk dari organisasi GSBI adalah organisasi Pusat Perjuangan Buruh dari berbagai macam bentuk organisasi serikat buruh sektoral dan non-sektoral. Organisasi GSBI berazaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta Solidaritas Buruh Seluruh Dunia
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM KOMUN

PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM KOMUN

Bisa juga disebut sebagai aliran Marxisme. Pola pikir Marx sangatlah dipengaruhi oleh Filsuf Jerman bernama G.W.F. Hegel dan Ludwig Feuerbach, sehingga Marx pun mengambil dua elemen paling penting dari kedua pemikir tersebut, yakni dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach, lalu mengombinasi keduanya ke dalam orientasi tersendiri. Marx mengambil posisi yang berbeda dengan menyatakan bahwa masalah kehidupan modern dapat dilacak kembali pada sumber riil dan material. Maka dari itu, solusinya hanya dapat ditemukan dengan dihancurkannya sistem-sistem tersebut melalui aksi kolektif orang-orang dalam jumlah besar. Kalau Hegel lebih memilih untuk ‘meletakkan dunia di atas kepalanya’ (yakni terfokus pada kesadaran bukan pada dunia material riil), maka Marx secara tegas menempatkan dialektikanya pada basis material (dalam hal ini: ekonomi) (Ritzer & Goodman, 2008: 22). Dalam buku Teori Sosiologi (2008: 23) juga dijelaskan bahwa Marx dipengaruhi oleh gambaran ekonomi politik tentang kejamnya sistem kapitalis dan eksploitasi buruh. Namun, kalau para buruh dijadikan potret buruk dari sistem kapitalisme, Marx mengkritik para ahli ekonomi politik karena melihat keburukan potret tersebut sebagai komponen yang tak terhindarkan dari kapitalisme.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pengaruh Perbandingan Sari Belimbing Wuluh dengan Sari aMangga Kweni dan Konsentrasi Gum Arab Terhadap aMutu Sorbet Nira Tebu

Pengaruh Perbandingan Sari Belimbing Wuluh dengan Sari aMangga Kweni dan Konsentrasi Gum Arab Terhadap aMutu Sorbet Nira Tebu

Penelitian ini berguna untuk memperoleh data dalam penyusunan skripsi, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana teknologi pertanian di Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Sebagai informasi dalam proses pembuatan sorbet nira tebu dengan mutu terbaik, dan sebagai bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya yang ingin membuat sorbet dengan mutu terbaik.

4 Baca lebih lajut

FAKTOR – FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP RENDEMEN TEBU STUDI KASUS DI PABRIK GULA TOELANGAN SIDOARJO JAWA TIMUR.

FAKTOR – FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP RENDEMEN TEBU STUDI KASUS DI PABRIK GULA TOELANGAN SIDOARJO JAWA TIMUR.

mengakibatkan rendemen rendah. Hasil rendemen tebu yang di peroleh dalam kurun waktu lima tahun kedepan sangat berpengaruh positif dalam meningkatakan hasil produksi gula di Pabrik Gula Toelangan. Faktor yang ada di pabrik juga berperan serta dalam mengatur rendemen tebu seperti alat penggilingan yang telah berumur atau sudah tak layak lagi dipakai untuk melakukan pengilingan yang akan mengakibatkan kerusakan saat menggiling tanaman tebu sehingga mengakibatkan pemberhentian sementara untuk melakukan perbaikan. Keadaan tersebut dapat menyebabkan kualitas tebu yang akan digiling menjadi menurun saat tanaman tebu berada di pabrik gula. Terlalu lama tanaman tebu berada di emplasemen berjam-jam untuk menunggu di giling juga bisa mengakibatkan rendemen yang dihasilkan tanaman tebu mengalami penurunan.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Teknik Industri: Soal UAS Pengantar Ilmu Ekonomi.

Teknik Industri: Soal UAS Pengantar Ilmu Ekonomi.

Sekarang ini banyak demo buruh, adakah hubungannya demo buruh ini dengan masalah perekonomian yang ada2. Apakah dampaknya demo buruh itu terhadap masalah ekonomi.[r]

1 Baca lebih lajut

Aliran Fabian dalam Gerakan Politik di M

Aliran Fabian dalam Gerakan Politik di M

Walaupun KSUM tidak menjadikan aliran Fabian dalam Malayan Forum sebagai prinsip falsafahnya, tetapi dari segi keberanian dan pendekatan intelektualnya mempunyai persamaan. Hal ini boleh dilihat melalui keberanian dan nilai-nilai intelektual KSUM dalam memperjuangkan semangat kebangsaan dan anti-kolonial yang diterjemahkan dalam artikel yang bertajuk ‘Student Speak Up’. Ia diakui sendiri Sir John Nicol (Gabenor Singapura) melalui suratnya kepada Sir Malcom Macdonald (Canselor UM) pada 10 Julai 1954 (CO 1030/361). Kesannya, pada tahun 1954 ramai pemimpin kanan KSUM terutamanya lembaga penyunting ‘Fajar’ ditangkap atas alasan tuduhan menghasut membenci British. Penangkapan ini berikutan selepas tersiarnya artikel kontroversi yang bertajuk ‘Aggression in Asia’. 7 Dari sudut ini terutamanya dalam tempoh enam tahun pertama selepas penubuhan KSUM, organisasi pelajar ini dilihat cukup berpengaruh dalam menjanakan idea politik baru pada waktu itu. Hal ini kerana ahli-ahli KSUM dianggotai mereka yang lebih muda dan bersifat ideological decentalization dalam melihat situasi sosio-politik yang pelbagai kaum di Tanah Melayu dan Singapura. Pada masa yang sama juga kekuatan KSUM sekitar tahun 1950-an adalah terletak kepada pendirian mereka yang tidak dipengaruhi oleh mana-mana organisasi politik dan buruh sama ada di Tanah Melayu atau Singapura seperti Parti Buruh Singapura, Parti Tindakan Rakyat (PETIR), UMNO, Kesatuan Buruh Singapura (SFTU) dan Kesatuan Buruh Malaya (MTUC). Tradisi ideological decentalization ini diteruskan KSUM selepas UM berpindah ke Kuala Lumpur dari Bukit Timah, Singapura pada awal tahun 1960-an dan melahirkan pemimpin-pemimpin pelajar seperti Dr Sanusi Osman, Syed Hamid Ali dan Hishammuddin Rais (1970-an). Malahan pada pertengahan 1960-an, lidah rasmi KSUM iaitu Siaran Kelab Sosialis meneruskan legasi keberanian Fajar sebelum ini (Hassan Karim dan Siti Nor Hamid, 1984).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...