Potensi Interaksi

Top PDF Potensi Interaksi:

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN ASMA  RAWAT INAP DI RSUD DR. MOEWARDI   Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Asma Rawat Inap Di Rsud Dr. Moewardi Tahun 2014.

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN ASMA RAWAT INAP DI RSUD DR. MOEWARDI Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Asma Rawat Inap Di Rsud Dr. Moewardi Tahun 2014.

Penelitian ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai derajat Sarjana Farmasi (S. Farm) pada Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Judul yang penulis ajukan adalah “Potensi Interaksi Obat pada Pasien Asma Rawat Inap di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2014”. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini.

13 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN RAWAT INAP PENYAKIT DALAM  Identifikasi Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Rawat Inap Penyakit Dalam Di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2014.

IDENTIFIKASI POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN RAWAT INAP PENYAKIT DALAM Identifikasi Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Rawat Inap Penyakit Dalam Di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2014.

Pasien penyakit dalam biasanya mendapat kombinasi lebih dari dua obat yang berpotensi terjadi interaksi obat. Pasien yang menderita penyakit dalam biasanya tidak hanya menderita satu jenis penyakit saja, sehingga kombinasi obat yang diberikan lebih banyak dan potensi kejadian interaksi obat semakin besar. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi interaksi obat pada pasien rawat inap penyakit dalam di RS X tahun 2014. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pengambilan data secara retrospektif dan disusun dengan metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive dan sampel dianalisis menggunakan database www.drugs.com/drug_interactions.. Pasien rawat inap penyakit dalam yang dijadikan sampel yaitu 5 penyakit dalam yang kejadiannya tertinggi di tahun 2014 meliputi non-insulin dependent diabetes mellitus, anemia, sepsis, gagal jantung kongestif dan pneumonia. Dari 100 sampel yang diambil terdapat 92 pasien (92%) berpotensi mengalami interaksi obat. Potensi interaksi dilihat dari tingkat keparahan yaitu moderate 322 kasus (69,75%), minor 96 kasus (20,17%), dan major 48 kasus (10,08%). Interaksi moderate paling banyak terjadi pada obat seftriakson dan furosemid 24 kasus (7,23%). Potensi interaksi obat pada fase farmakodinamik yaitu 329 kasus (69,12%), fase farmakokinetik 74 kasus (15,55%), dan mekanisme interaksi obat yang tidak diketahui 73 kasus (15,33%).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Potensi Interaksi Obat Antidiabetes pada Pasien Rawat Inap Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Dr. Pirngadi Medan Juli-Desember 2014

Potensi Interaksi Obat Antidiabetes pada Pasien Rawat Inap Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Dr. Pirngadi Medan Juli-Desember 2014

Hasil penelitian menunjukkan dari 90 rekam medik ditemukan kejadian potensi interaksi obat sebesar 68,90%, obat antidiabetes yang berpotensi interaksi adalah insulin aspart (38,40%), metformin 30%, dan insulin detemir 20,80%, mekanisme potensi tertinggi adalah farmakodinamik (72%), potensi dengan tingkat keparahan terbanyak adalah moderate (82,40%), serta tidak ada hubungan antara usia dengan kejadian potensi interaksi (p=0,215) dan adanya hubungan yang signifikan antara jumlah obat dan kejadian potensi interaksi obat (p=0,000). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat potensi interaksi antidiabetes pada pasien rawat inap diabetes melitus tipe 2 di RSUD Dr. Pirngadi Medan Juli-Desember 2014.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

aIDENTIFIKASI POTENSI INTERAKSI ANTIBIOTIK  DENGAN OBAT LAIN PADA TERAPI PNEUMONIA DI RSUD  DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2014- 2015.

aIDENTIFIKASI POTENSI INTERAKSI ANTIBIOTIK  DENGAN OBAT LAIN PADA TERAPI PNEUMONIA DI RSUD  DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2014- 2015.

Potensi interaksi antara dua obat ini terjadi pada 3 peresepan yaitu pada pasien nomor 43,55, dan 59, untuk data penyakit penyerta pasien dapat dilihat pada lampiran 1. Kondisi klinis pasien pada saat keluar rumah sakit pada 2 pasien membaik, namun pada 1 pasien masih dalam kondisi lemah. Perbedaan kondisi klinis pasien ini terjadi mungkin karena perbedaan lama waktu pemberian azithromycin dan digoxin. Pasien yang memiliki kondisi klinis membaik menerima azithromisin dan digoxin secara bersamaan hanya 1 hari, sedangkan pada pasien yang memiliki kondisi klinis lemah menerima azithromisin dan digoxin secara bersamaan selama 3 hari. Interaksi obat ini memiliki signifikansi mayor, efek interaksi obat mayor dapat mengancam jiwa pasien atau menyebabkan kerusakan permanen. Hentikan terapi kedua obat ini secara bersamaan dan gunakan alternatif obat lain untuk mencegah interaksi obat yang tidak diinginkan.
Baca lebih lanjut

89 Baca lebih lajut

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN ASMA  RAWAT INAP DI RS X   Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Asma Rawat Inap Di Rsud Dr. Moewardi Tahun 2014.

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN ASMA RAWAT INAP DI RS X Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Asma Rawat Inap Di Rsud Dr. Moewardi Tahun 2014.

Asma merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian terbesar di dunia. Pengobatan asma pada beberapa pasien masih belum menunjukkan hasil yang optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi interaksi obat pada pasien rawat inap penderita asma di RS X tahun 2014. Jenis penelitian ini adalah non-eksperimental dengan pengambilan data retrospektif dan analisis data secara deskriptif. Sampling dilakukan dengan metode purposive sampling dengan kriteria inklusi pasien didiagnosa asma, mendapatkan minimal 2 obat digunakan bersama, dan data rekam medik lengkap. Didapatkan data sebanyak 95 sampel. Sampel dianalisis untuk mendapatkan gambaran potensi interaksi obat dilihat dari tingkat keseriusan serta dilihat dari mekanisme interaksi yang terjadi berdasarkan literatur “Drug Interaction Facts” dan database http://www.drugs.com/drug_interactions.htm. Obat anti asma yang paling sering diresepkan golongan kortikosteroid adalah metilprednisolon (58 peresepan), turunan xantin aminofilin (47 peresepan), simpatomimetik salbutamol (42 peresepan), antikolinergik ipratropium bromid (26 peresepan) dan obat penunjang n-asetilsistein (32 peresepan). Dari 95 pasien ditemukan potensi interaksi obat sebanyak 512 kasus pada 74 pasien (77,89%). Potensi interaksi obat tingkat keseriusan mayor sebesar 9,18%, moderate 65,82% dan minor 25%. Potensi interaksi obat mekanisme interaksi farmakodinamik sebesar 52,34%, farmakokinetik 29,09% dan unknown 18,62%. Obat yang paling sering mengalami interaksi adalah aminophylline dengan methylprednisolone sebanyak 25 kasus (4,88%, n = 512). Kata kunci : Interaksi obat, Asma, Rawat inap.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

menggambarkan hasil potensi interaksi dan menyarankan intervensi yang tepat. Hal ini juga tugas pada profesional kesehatan untuk dapat menerapkan literatur yang tersedia untuk setiap situasi. Profesional kesehatan harus mampu untuk merekomendasi secara individu berdasarkan parameter-pasien tertentu. Meskipun beberapa pihak berwenang menyarankan efek samping yang dihasilkan dari interaksi obat mungkin kurang sering daripada yang dipercaya, profesional perawatan kesehatan harus melindungi pasien terhadap efek berbahaya dari obat- obatan, terutama ketika interaksi tersebut dapat diantisipasi dan dicegah (Tatro, 2009).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Potensi Interaksi Obat Antidiabetes pada Pasien Rawat Inap Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Dr. Pirngadi Medan Juli-Desember 2014

Potensi Interaksi Obat Antidiabetes pada Pasien Rawat Inap Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Dr. Pirngadi Medan Juli-Desember 2014

Profesional perawatan kesehatan perlu menyadari sumber interaksi obat yang mengidentifikasi kedekatan dan tingkat keparahan interaksi, dan mampu menggambarkan hasil potensi interaksi dan menyarankan intervensi yang tepat. Hal ini juga tugas bagi profesional kesehatan untuk dapat menerapkan literatur yang tersedia untuk setiap situasi. Profesional harus mampu untuk merekomendasi secara individual berdasarkan parameter-pasien tertentu. Meskipun beberapa pihak menyarankan efek samping yang dihasilkan dari interaksi obat mungkin kurang sering daripada yang dipercaya, profesional perawatan kesehatan harus melindungi pasien terhadap efek berbahaya dari obat-obatan, terutama ketika interaksi tersebut dapat diantisipasi dan dicegah (Tatro, 2009).
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai potensi interaksi obat pada pasien hipertensi yang mendapatkan terapi obat antihipertensi di puskesmas di kota Medan. Penelitian dilaksanakan di 4 puskesmas yaitu Puskesmas Medan Deli, Puskesmas Helvetia, Puskesmas Darussalam dan Puskesmas Teladan.

6 Baca lebih lajut

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Frekuensi potensi interaksi obat antihipertensi yang dilakukan di keempat puskesmas ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan di poliklinik usia lanjut instalasi rawat jalan RS Dr Sardjito yogyakarta pada kajian keamanan pemakaian obat antihipertensi, yaitu terdapat 41,3% pasien menerima kombinasi antihipertensi yang terjadi potensi interaksi, 8,7% diantaranya mempunyai gejala klinis yang diperkirakan berkaitan dengan kemungkinan berkembangnya efek interaksi obat (Putu, dkk., 2008). Berdasarkan hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa angka kejadian potensi interaksi obat antihipertensi lebih tinggi di puskesmas daripada di rumah sakit. Beberapa studi memperkirakan kejadian interaksi obat berkisar antara 2,2% sampai 30% pada pasien yang ada di rumah sakit dan 9,2% sampai 70,3% pada pasien rawat jalan (Walker dan Edwards, 1999 ).
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kejadian potensi interaksi obat antihipertensi di puskesmas adalah tinggi dengan pola mekanisme interaksi farmakodinamik. Jenis obat antihipertensi yang paling sering berinteraksi captopril dengan tingkat keparahan minor. Jumlah obat mempengaruhi potensi interaksi.

2 Baca lebih lajut

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

13 Baca lebih lajut

Potensi Interaksi Obat Antidiabetes pada Pasien Rawat Inap Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Dr. Pirngadi Medan Juli-Desember 2014

Potensi Interaksi Obat Antidiabetes pada Pasien Rawat Inap Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Dr. Pirngadi Medan Juli-Desember 2014

c. obat antidiabetes yang sering berpotensi terjadi interaksi adalah insulin, pola mekanisme potensi interaksi obat antidiabetes meliputi farmakodinamik, farmakokinetik, dan unknown, dan tingkat keparahan interaksi obat antidiabetes yang berpotensi terjadi pasien rawat inap diabetes melitus tipe 2 meliputi major, moderate, minor.

7 Baca lebih lajut

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GANGGUAN GINJAL KRONIS DI INSTALASI RAWAT INAP RS “X” TAHUN 2014  Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Gangguan Ginjal Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Tahun 2014.

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GANGGUAN GINJAL KRONIS DI INSTALASI RAWAT INAP RS “X” TAHUN 2014 Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Gangguan Ginjal Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Tahun 2014.

Kelemahan penelitian ini adalah penelitian dilakukan secara retrospektif yang hanya bisa melihat potensi interaksi obat tanpa bisa melihat apakah potensi interaksi obat tersebut benar-benar terjadi pada pasien atau tidak. Dengan demikian perlu adanya penelitian secara prospektif untuk melihat efek yang ditimbulkan pada pasien akibat interaksi obat.Penelitian tidak mempertimbangkan T ½ obat. Penelitian hanya melihat potensi interaksi obat pada obat yang digunakan secara bersama. Sebagai contoh obat A memiliki T ½ panjang berinteraksi pada fase ekskresi dengan obat B yang tidak digunakan secara bersama, maka interaksi obat yang terjadi tidak dipertimbangkan. Selain itu penulisan rekam medis yang tidak lengkap pada profil penggunaan obat seperti rute pemberian, waktu pemberian, frekuensi dan dosis, menyulitkan peneliti untuk mengidentifikasi obat yang digunakan pasien. Peneliti hanya menulis data sesuai dengan yang ada di dalam rekam medis pasien.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GANGGUAN GINJAL KRONIS DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD DR. MOEWARDI TAHUN  Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Gangguan Ginjal Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Tahun 2014.

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GANGGUAN GINJAL KRONIS DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD DR. MOEWARDI TAHUN Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Gangguan Ginjal Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Tahun 2014.

Potensi interaksi obat yang diambil dari 100 sampel pasien didapatkan sebanyak 84 pasien (84%) mengalami potensi interaksi obat dengan 336 kasus interaksi obat. Interaksi obat berdasarkan mekanisme didapatkan hasil 44,94% mengalami mekanisme farmakodinamik, 29,76% mengalami mekanisme farmakokinetik, dan 25,29% yang tidak diketahui mekanismenya. Interaksi obat berdasarkan tingkat keparahan didapatkan hasil pada interaksi obat moderat sebesar 63,98%, minor sebesar 29,46% dan mayor sebesar 6,55% . Interaksi obat yang paling banyak terjadi adalah furosemid dan seftriakson sebanyak 27 kasus untuk interaksi moderat.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GANGGUAN LAMBUNG (DISPEPSIA, GASTRITIS, TUKAK PEPTIK)  Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Gangguan Lambung (Dispepsia, Gastritis, Tukak Peptik) Rawat Inap Di Rumah Sakit Keluarga Sehat Pati Tahun 2015.

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GANGGUAN LAMBUNG (DISPEPSIA, GASTRITIS, TUKAK PEPTIK) Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Gangguan Lambung (Dispepsia, Gastritis, Tukak Peptik) Rawat Inap Di Rumah Sakit Keluarga Sehat Pati Tahun 2015.

Interaksi obat terjadi ketika efek suatu obat berubah karena kehadiran obat lain. Karena banyak efek merugikan yang diakibatkan interaksi, maka instalasi farmasi di Rumah Sakit harus memantau kejadian interaksi obat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi interaksi obat pada pasien tukak peptik rawat inap di Rumah Sakit Keluarga Sehat tahun 2015. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non-eksperimental dengan metode pengambilan data secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling . Didapatkan data sebanyak 97 sampel. Kemudian dianalisis berdasarkan database http://www.drugs.com/drug_interactions.htm.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

POTENSI INTERAKSI OBAT ANTIDEPRESAN DI RUMAH SAKIT JIWA Prof. Dr. SOEROJO MAGELANG PERIODE  Potensi Interaksi Obat Antidepresan Di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang Periode Januari September Tahun 2015.

POTENSI INTERAKSI OBAT ANTIDEPRESAN DI RUMAH SAKIT JIWA Prof. Dr. SOEROJO MAGELANG PERIODE Potensi Interaksi Obat Antidepresan Di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang Periode Januari September Tahun 2015.

Hasil penelitian menunjukkan obat antidepresan yang paling banyak digunakan adalah amitriptilin sebanyak 65,3%. Pasien yang mengalami potensi interaksi farmakokinetik sebanyak 59,19%, interaksi farmakodinamik 40,80%. Pasien yang mengalami potensi interaksi dengan level minor sebanyak 0,61%, level signifikan sebanyak 51,18% dan level serius sebanyak 41,21%.

13 Baca lebih lajut

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA RESEP PASIEN PEDIATRI STUDI RETROSPEKTIF DI 3 APOTEK KOTA SURAKARTA   Potensi Interaksi Obat Pada Resep Pasien Pediatri Studi Retrospektif di 3 Apotek Kota Surakarta Periode Juli - Desember 2014.

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA RESEP PASIEN PEDIATRI STUDI RETROSPEKTIF DI 3 APOTEK KOTA SURAKARTA Potensi Interaksi Obat Pada Resep Pasien Pediatri Studi Retrospektif di 3 Apotek Kota Surakarta Periode Juli - Desember 2014.

Dari analisis 140 sampel resep obat ditemukan 73 sampel (52,14) mengalami 169 kejadian potensi interaksi obat, sedangkan 67 sampel (47,86) tidak terjadi interaksi obat. Distribusi potensi interaksi obat dibedakan berdasarkan dokter penulis resep, jumlah obat per lembar resep, tingkat keparahan dan mekanisme interaksi.

16 Baca lebih lajut

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA RESEP PASIEN PEDIATRI STUDI RETROSPEKTIF DI 3 APOTEK KOTA  Potensi Interaksi Obat Pada Resep Pasien Pediatri Studi Retrospektif di 3 Apotek Kota Surakarta Periode Juli - Desember 2014.

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA RESEP PASIEN PEDIATRI STUDI RETROSPEKTIF DI 3 APOTEK KOTA Potensi Interaksi Obat Pada Resep Pasien Pediatri Studi Retrospektif di 3 Apotek Kota Surakarta Periode Juli - Desember 2014.

Dari 140 lembar resep pasien pediatri di 3 Apotek wilayah Kota Surakarta pada bulan Juli- Desember 2014 ditemukan 73 sampel (52,14%) mengalami 169 kejadian potensi interaksi obat. Obat yang paling banyak mengalami interaksi adalah CTM – Triprolidin yaitu sebanyak 25 kejadian. Bila dilihat dari tingkat keparahannya ditemukan kejadian interaksi moderate 134 kejadian (79,29%) dan minor 35 kejadian (25%). Bila dilihat dari mekanismenya ditemukan interaksi farmakodinamik 123 kejadian (72,78%) dan interaksi farmakokinetik 23 kejadian (13,61%).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

POTENSI INTERAKSI OBAT RESEP PASIEN HIPERTENSI DI SALAH SATU RUMAH SAKIT PEMERINTAH DI KOTA SAMARINDA Risna Agustina, Nurul Annisa, Wisnu Cahyo Prabowo Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia email: aaisyahrisnayahoo.com ABSTRACT - V

POTENSI INTERAKSI OBAT RESEP PASIEN HIPERTENSI DI SALAH SATU RUMAH SAKIT PEMERINTAH DI KOTA SAMARINDA Risna Agustina, Nurul Annisa, Wisnu Cahyo Prabowo Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia email: aaisyahrisnayahoo.com ABSTRACT - V

potensi tersebut di persentasikan kembali berdasarkan klasifikasinya terhadap jumlah keseluruhan potensi interaksi obat-obat maka didapatkan hasil dengan klasifikasi yaitu, interaksi minor sejumlah 36,07%, interaksi moderat sejumlah 54,1%, dan interaksi mayor sejumlah 0,84%, maka dapat disimpulkan potensi interaksi yang terbesar pada lembar resep pasien hipertensi adalah potensi interaksi klasifikasi moderat, sehingga hal ini menuntut kewaspadaan dari tenaga kefarmasian dan dokter untuk mencegah atau meminimalisasi kejadian tersebut untuk meningkatkan kualitas pengobatan pasien, hasil kajian DDIs ini dapat dilihat pada tabel 2.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Di Kota Medan

Fauci, S.A., Kasper, L.D., Longo, L.D., Braunwald, E., Hauser, L.S., Jameson, L.J., dan Loscalzo, J. (2008). Harrison's Principles of Internal Medicine. Edisi ketujuh belas. New York: Mc Graw Hills Company. Hal. 1403. Fradgley, S. (2003). Interaksi obat, dalam Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy)

3 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...