Preferensi Pakan

Top PDF Preferensi Pakan:

Uji Kemampuan Makan pada Burung Gereja (Passer montanus Oates) dan Uji Preferensi Pakan serta Umpan Beracun Pada Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) dan Bondol Peking (Lonchura punctulata Linnaeus)

Uji Kemampuan Makan pada Burung Gereja (Passer montanus Oates) dan Uji Preferensi Pakan serta Umpan Beracun Pada Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) dan Bondol Peking (Lonchura punctulata Linnaeus)

Padi merupakan salah satu komoditi pangan yang sangat besar peranannya bagi mayoritas penduduk dunia terutama Indonesia, yang merupakan sumber karbohidrat utama. Salah satu faktor pembatas dalam produksi padi yaitu hama burung. Jenis-jenis hama burung yang cukup penting pada pertanaman padi yaitu burung gereja (Passer montanus Oates), bondol jawa (Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore) dan bondol peking (Lonchura punctulata Linnaeus). Diperlukan adanya alternatif cara pengendalian untuk menekan serangan hama burung tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat konsumsi makan burung gereja terhadap gabah dan biji-bijian lainnya, mengetahui jenis pakan yang disukai oleh burung bondol serta mengetahui jenis racun yang disukai sehingga dapat dijadikan sebagai umpan dalam pemerangkapan maupun umpan beracun sebagai cara alternatif pengendalian burung. Pengujian dalam pernelitian ini yaitu pengujian individu dengan tiga perlakuan. Perlakuan pertama yaitu uji kemampuan makan burung gereja terhadap gabah. Tingkat konsumsi burung gereja rata-rata 1.969 g per hari. Perlakuan kedua yaitu uji preferensi pakan dengan metode pilihan (choice test) dan tanpa pilihan (no choice test). Pada uji preferensi pakan burung gereja dengan metode pilihan diletakkan enam jenis pakan (gabah, milet, jewawut, pelet, jagung pipilan, dan beras merah) secara bersamaan pada kandang. Pada uji preferensi burung bondol dengan metode pilihan diletakkan enam jenis pakan (gabah, ulat hongkong, ketan putih, ketan hitam, beras, dan sorgum). Sedangkan dengan metode tanpa pilihan dilakukan uji kemampuan makan burung bondol tiga jenis pakan (beras, ketan putih dan ketan hitam). Jenis pakan yang paling banyak dikonsumsi oleh bondol pada uji preferensi pakan dengan metode pilihan maupun tanpa pilihan setelah gabah yaitu ketan putih. Perlakuan ketiga yaitu uji preferensi racun dengan metode pilihan. Pada pengujian menunjukkan konsumsi racun yang paling banyak dikonsumsi adalah yang berbahan aktif bromadiolon.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Aktivitas Makan dan Preferensi Pakan Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson, 1827) di Resort Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser

Aktivitas Makan dan Preferensi Pakan Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson, 1827) di Resort Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser

Orangutan merupakan salah satu primata yang dikenal dengan julukan kera besar dan merupakan satwa endemik di Pulau Sumatera. Penelitian dilakukan di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Bukit Lawang. Tujuan penelitian untuk mengetahui aktivitas makan dan preferensi pakan orangutan sumatera. Metode yang digunakan berupa Focal Animal Sampling dengan mengikuti satu individu orangutan selama kurun waktu tertentu dan metode petak tunggal di tiga plot berbeda. Hasil pengamatan menunjukkan aktivitas makan orangutan lebih kecil dibandingkan aktivitas istirahat dan berpindah. Ditemukan 47 jenis pakan orangutan yang terdiri dari 5 habitus, yaitu pohon, liana, herba, rumpun, dan epifit. Bagian jenis tumbuhan yang paling banyak dikonsumsi adalah daun dengan nilai persentase sebesar 48,61%, buah 27,49%, lainnya (rayap, semut, serangga, tanah) 12,75%, kulit 7,17%, dan yang terakhir adalah bunga 3,98%. Berdasarkan preferensi pakan, jenis pakan yang disukai adalah sibolangit (Garcinia lateriflora), rotan (Calamus sp.), dan rambung (Vernonia arborea).
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Preferensi Pakan Imago Aulacophora indica (Gmelin) (Coleoptera: Chrysomelidae) terhadap Empat Jenis Tanaman Cucurbitaceae.

Preferensi Pakan Imago Aulacophora indica (Gmelin) (Coleoptera: Chrysomelidae) terhadap Empat Jenis Tanaman Cucurbitaceae.

Kumbang A. indica yang digunakan adalah imago yang dikoleksi dari Kampung Hulurawa, Desa Bantar Sari, RT 03 RW 05, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Imago yang diambil adalah imago yang masih muda, dengan ciri warna integumen yang masih pucat dan belum kawin. Dua kelompok kumbang digunakan pada percobaan ini, yaitu sebagian imago kumbang langsung digunakan untuk pengujian preferensi pakan dan sebagian lain dipelihara lebih lanjut untuk pengujian perilaku makan. Kumbang dipelihara di dalam sebuah kurungan kasa plastik berukuran 21 cm x 21 cm x 30 cm. Pemeliharaan dilakukan dengan cara memberi pakan daun tanaman inang dan tanah sebagai media peletakan telur.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Pengujian preferensi pakan, perangkap dan umpan beracun pada tikus rumah, Rattus rattus diardii L. dan mencit rumah, Mus musculus L.

Pengujian preferensi pakan, perangkap dan umpan beracun pada tikus rumah, Rattus rattus diardii L. dan mencit rumah, Mus musculus L.

Pada mencit rumah konsumsi pakan pada ketiga pengujian (uji preferensi pakan, uji pakan versus perangkap, dan pakan versus rodentisida), menunjukkan bahwa konsumsi pelet pada uji preferensi pakan adalah yang paling banyak dikonsumsi dengan rata-rata kosumsi 9,57 g. Selanjutnya pelet (8,22 g) dan gabah (8,08 g) pada uji pakan versus rodentisida. Ketiganya menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada uji Duncan dengan taraf α =5 %. Hal ini berarti konsumsi pelet dan gabah masih lebih disukai walaupun ada jenis pakan lain, apalagi terhadap pakan yang mengandung rodentisida. Konsumsi pakan pada uji pakan versus perangkap lebih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi pakan pada kedua pengujian lainnya (uji preferensi pakan dan uji pakan versus rodentisida). Hal ini disebabkan hewan uji yang sudah terperangkap tidak dapat lagi mengonsumsi pakan yang terdapat di luar perangkap. Dengan kata lain, pemasangan perangkap dengan umpan yang disukai oleh hewan uji masih lebih efektif dibandingkan dengan pemasangan umpan beracun (rodentisida).
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Preferensi Pakan dan Kebutuhan Nutrien Anoa Gunung (Bubalus

Preferensi Pakan dan Kebutuhan Nutrien Anoa Gunung (Bubalus

tan Melalui Analisis Digesta Rumen Setelah dilakukan analisis digesta rumen, diperoleh hasil berupa urutan preferensi setiap jenis pakan anoa asal hutan berdasarkan proporsi setiap pakan di dalam digesta rumen (Tabel 1). Berdasarkan urutan preferensi pakan (terutama yang menempati urutan 1-4) pada Tabel 1, menunjukkan bahwa anoa di hutan memilih pakan yang disukai dimulai dari buah, kemudian pucuk/daun muda dan terakhir daun muda/batang muda dari rumput-rumputan. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa anoa termasuk hewan ruminansia yang menyukai pakan buah dan pucuk (browser) juga sedikit rumput-rumputan (grazer). Hewan ini sangat menyukai buah pokae, kemudian menyukai pucuk dan rumput karena adanya seleksi rumen-retikulumnya terhadap jenis pakan yang dikonsumsi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perilaku Makan dan Preferensi Pakan Orangutan {Pongo Pygmaeus (Linnaeus 1760)} Muda di Penangkaran

Perilaku Makan dan Preferensi Pakan Orangutan {Pongo Pygmaeus (Linnaeus 1760)} Muda di Penangkaran

Abstrak-Perilaku harian adalah aktivitas yang terarah yang merupakan respons individu terhadap kondisi dan sumber daya lingkungan. Penelitian bertujuan mengetahui pola perilaku makan dan preferensi pakan individu orangutan (Pongo pygmaeus) muda di penangkaran. Penelitian dilakukan pada dua ekor orangutan betina muda, individu I berusia 1 tahun dan individu II berusia 2 tahun. Penelitian dilakukan selama empat bulan menggunakan kombinasi metode focal animal dan libitum sampling. Pencatatan difokuskan pada pemanfaatan waktu makan dan jenis-jenis pakan yang dipilih. Hasil menunjukkan persentasi perilaku makan yaitu individu I sebesar 23,48% dan Individu II sebesar 22,24%. Preferensi jenis asupan pakan pada masing-masing individu muda adalah pada individu I yaitu daun 76,83%, kulit kayu 16,69%, buah 4,02%, susu 2,04%, lainnya 0,38%, dan serangga 0,04%, sedangkan individu II yaitu daun 60,12%, kulit kayu 22,43%, buah 14,70%, susu 1,98%, serangga 0,72%, dan lainnya 0,05%. Hasil mengindikasikan adanya pengaruh perkembangan individu muda da ketersediaan pakan terhadap perilaku makan dan preferensi pakan orangutan muda seiring peningkatan usia.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Preferensi Pakan dan Perilaku Makan Walabi Lincah (Macropus agilis Peters and Doria,1875) di Kebun Binatang Gembira loka Yogyakarta.

Preferensi Pakan dan Perilaku Makan Walabi Lincah (Macropus agilis Peters and Doria,1875) di Kebun Binatang Gembira loka Yogyakarta.

Walabi lincah (Macropus agilis Peters and Doria, 1875) merupakan satwa berkantung endemik Papua. Populasi walabi lincah di alam mengalami penurunan. Permasalahan yang dihadapi di habitat aslinya yaitu perburuan, perubahan habitat savana, persaingan habitat oleh Rusa Timor (Rusa Timorensis) dan pembakaran hutan. Salah satu upaya konservasi ex-situ yang dilakukan yaitu melalui penangkaran, salah satunya di kebun binatang. Pengelolaan mengenai preferensi pakan dan perilaku makan penting untuk diketahui sebagai dasar dalam upaya konservasi walabi lincah. Metode yang digunakan yaitu Focal Animal Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi pakan yang paling tinggi yaitu kangkung (Ipomea reptans) dengan nilai indeks preferensi pakan sebesar 1.58. Berdasarkan hasil Uji Chi-Square (X 2 ) diketahui nyata (P > 0.05), bahwa perilaku makan walabi jantan dan betina tidak jauh berbeda dengan pola perilaku makan yaitu berjalan, mendekati, mengambil, mengunyah dan memamahbiak. Jumlah rataan konsumsi, palatabilitas serta preferensi pakan tertinggi pada jenis kangkung dan perilaku makan walabi lincah yaitu berjalan mendekati makanan dengan mengendus-endus, mengambi, mengunyah dan memamahbiak makanan tersebut. Kata kunci: konsumsi, palatabilitas pakan, perilaku makan, preferensi pakan, walabi lincah
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

PREFERENSI PAKAN ORANGUTAN SUMATERA (PONGO ABELII LESSON) PADA WAKTU TIDAK MUSIM BUAH DI PUSAT PENGAMATAN ORANGUTAN SUMATERA (PPOS) BUKIT LAWANG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER, SUMATERA UTARA.

PREFERENSI PAKAN ORANGUTAN SUMATERA (PONGO ABELII LESSON) PADA WAKTU TIDAK MUSIM BUAH DI PUSAT PENGAMATAN ORANGUTAN SUMATERA (PPOS) BUKIT LAWANG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER, SUMATERA UTARA.

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan kuasaNya yang telah memberi kesehatan, hikmat kepada penulis sehingga penelitian skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah di rencanakan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang di laksanakan sejak April – Juni 2012 adalah “ Preferensi Pakan Orangutan Sumatera ( Pongo abelii Lesson) Pada Waktu Tidak Musim Buah Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS) Bukit Lawang Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara”

20 Baca lebih lajut

Preferensi Pakan dan Kebutuhan Nutrien Anoa Gunung (Bubalus quarlesi Ouwens 1910) pada Kondisi Prabudidaya

Preferensi Pakan dan Kebutuhan Nutrien Anoa Gunung (Bubalus quarlesi Ouwens 1910) pada Kondisi Prabudidaya

tan Melalui Analisis Digesta Rumen Setelah dilakukan analisis digesta rumen, diperoleh hasil berupa urutan preferensi setiap jenis pakan anoa asal hutan berdasarkan proporsi setiap pakan di dalam digesta rumen (Tabel 1). Berdasarkan urutan preferensi pakan (terutama yang menempati urutan 1-4) pada Tabel 1, menunjukkan bahwa anoa di hutan memilih pakan yang disukai dimulai dari buah, kemudian pucuk/daun muda dan terakhir daun muda/batang muda dari rumput-rumputan. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa anoa termasuk hewan ruminansia yang menyukai pakan buah dan pucuk (browser) juga sedikit rumput-rumputan (grazer). Hewan ini sangat menyukai buah pokae, kemudian menyukai pucuk dan rumput karena adanya seleksi rumen-retikulumnya terhadap jenis pakan yang dikonsumsi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Preferensi Pakan, Tingkah Laku Makan dan Kebutuhan Nutrien Rusa Sambar (Cervus unicolor) dalam Usaha Penangkaran di Provinsi Jambi

Preferensi Pakan, Tingkah Laku Makan dan Kebutuhan Nutrien Rusa Sambar (Cervus unicolor) dalam Usaha Penangkaran di Provinsi Jambi

Hasil pengukuran rataan lama ruminasi rusa Sambar (Tabel 2) berkisar antara 254,92– 281,28 (266,85±13,67) menit per 12 jam. Hasil penelitian Fajri (2000), pada rusa Totol menunjukkan bahwa aktivitas ruminasi 145,30 menit per 12 jam. Perbedaan ini dapat disebab- kan oleh bobot rusa Sambar yang lebih besar sehingga konsumsi pakan lebih besar diban- dingkan dengan rusa Totol. Noorgaard (1994) menyatakan bahwa lama ruminasi ternak berkisar 5–10 jam per hari, tergantung pada konsumsi pakan dan kualitas hijauan. Yang & Beauchemin (2006) menyatakan meningkatnya degradasi pakan akan menyebabkan penurunan lama waktu ruminasi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

“Preferensi Pakan Katak Pohon Jawa (Rhacophorus margaritifier)”.

“Preferensi Pakan Katak Pohon Jawa (Rhacophorus margaritifier)”.

R. margaritifer merupakan jenis katak pohon yang sebagian besar aktivitasnya dilakukan pada malam hari (nokturnal). Dalam melakukan aktivitasnya, R. margaritifer tidak pernah berada di lantai hutan. Oleh karena itu, jenis katak ini memanfaatkan jenis mangsa yang aktif di malam hari dan beraktivitas juga secara arboreal terutama di permukaan daun. Katak pohon mencari mangsa dengan cara duduk dan menunggu hingga mangsa yang cocok datang dan mendekat hingga jarak yang dapat dicapai oleh lidahnya (Duellman dan Trueb 1994). Jenis mangsa yang diperoleh beragam. Jenis mangsa yang paling banyak dimanfaatkan adalah Orthoptera (23,08%). Orthoptera merupakan ordo serangga yang hidup di permukaan daun sehingga mudah ditemukan oleh R. margaritifer. Perilaku yang sama ditunjukkan oleh jenis katak serasah yaitu Leptobrachium hasseltii dan Leptophryne cruentata. Berdasarkan hasil penelitian Sasikirono (2007), L. hasseltii tinggal dan mencari makan di lantai hutan sehingga memanfaatkan Araneae sebagai pakan utamanya. Ordo Arthropoda tersebut merupakan jenis yang tinggal di lantai hutan sehingga dapat dengan mudah ditangkap oleh L. hasseltii. Hasil yang sama diperlihatkan oleh L. cruentata (Kusrini et al. 2007). Jenis katak serasah ini selalu berada di lantai hutan untuk melakukan aktivitasnya. Katak ini memanfaatkan serangga ordo Hymenoptera yang juga hidup di lantai hutan sebagai pakan utamanya. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa katak selalu memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekitar dan terjangkau oleh jenis katak tersebut.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Jenis Kupu-Kupu Sub Ordo Rhopalocera di Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS) Bukit Lawang Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat Sumatera Utara

Jenis Kupu-Kupu Sub Ordo Rhopalocera di Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS) Bukit Lawang Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat Sumatera Utara

Bariyah, K. 2011. Hubungan Panjang Probosis Kupu-kupu dengan Preferensi Pakan di Areal Kampus I Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. [Skripsi]. Program Sarjana. Universitas Islam Negeri Hidayatullah Jakarta.

5 Baca lebih lajut

Potensi Konflik Penggembalaan Kuda pada Habitat Rusa Timor (Rusa timorensis Blainville 1822) di Kawasan Tanjung Torong Padang, Nusa Tenggara Timur | - | Jurnal Ilmu Kehutanan 24866 49921 1 PB

Potensi Konflik Penggembalaan Kuda pada Habitat Rusa Timor (Rusa timorensis Blainville 1822) di Kawasan Tanjung Torong Padang, Nusa Tenggara Timur | - | Jurnal Ilmu Kehutanan 24866 49921 1 PB

Pada sisi lain, hewan ternak yang berada di wilayah Desa Sambinasi dan Desa Sambinasi Barat, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat Suku Baar. Hampir menentukan distribusi kuda di habitat rusa timor. Preferensi pakan dari ternak kuda dan rusa timor dikumpulkan menggunakan identifikasi spesies dari kotoran dan dibandingkan dengan plot berukuran 1 x 1 m 2 di daerah makan dari kedua hewan tersebut selama musim kering dan hujan pada 2014 dan 2015. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada indikasi yang jelas dari persaingan antara rusa timor dan penggembalaan liar kuda di kawasan Tanjung Torong Padang. Rusa timor dan kuda tidak terjadi tumpang tindih spasial dalam distribusi mereka di lokasi tersebut. Ternak kuda menempati savana perbukitan, sedangkan rusa lebih suka menempati savana dengan pohon rengit (Albizia lebbeck (L.) Benth) dan lembah dengan vegetasi hutan tropis kering. Selain itu, rusa timor lebih menyukai makan semak dan dedaunan (browser), sementara kuda lebih menyukai rumput (grazer). Kehadiran ternak lepas kuda di kawasan Tanjung Torong Padang tidak berpengaruh negatif untuk rusa timor dan habitatnya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Welcome to ePrints Sriwijaya University - UNSRI Online Institutional Repository ARTIKEL WENTY UNSRI

Welcome to ePrints Sriwijaya University - UNSRI Online Institutional Repository ARTIKEL WENTY UNSRI

Jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap kemampuan rumah dan lingkungan untuk me- nampung semua kegiatan dan aktivitas masing-masing anggota keluarga dalam rumah dan lingkungan perumahannya. Rumah dengan kondisi yang sama tetapi menampung jumlah anggota keluarga yang berbeda maka akan memiliki kualitas rumah dan lingkungan berbeda karena semakin besar jumlah anggota keluarga maka kauntitas dan kualitas rumah dan lingkungan yang dibutuhkan semakin besar ju- ga. Masyarakat berpenghasilan rendah di Kota Palembang terdiri atas keluarga dengan anak 1-3 orang dan keluarga dekat 1-3 orang sehingga masyarakat berpenghasilan rendah di Kota Palembang merupakan ke- luarga besar yang membutuhkan luasan ruang besar untuk menampung semua aktivitas. Preferensi peru- mahan berdasarkan pada jumlah anggota keluarga berbanding lurus dengan luasan ruang yang dibutuh- kan walaupun belum ada pemisahan setiap jenis kegiatan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Aplikasi Metode ANP (Analytic Network Process) dan TOPSIS (Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution) Untuk Pengambilan Keputusan Alternatif Pemasaran Terbaik Pada Hotel Citi Inn Medan

Aplikasi Metode ANP (Analytic Network Process) dan TOPSIS (Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution) Untuk Pengambilan Keputusan Alternatif Pemasaran Terbaik Pada Hotel Citi Inn Medan

Kota Medan merupakan salah satu kota tujuan wisata, bisnis/perdagangan dan juga sebagai kota persinggahan, sehingga kota Medan tidak lepas dari potensinya dalam akomodasi Hotel. Tujuan dari sebuah hotel adalah occupancy rate yang tinggi. Sedangkan pada hotel Citi Inn Medan, dimana occupancy rate pada tahun 2012 dalam beberapa bulan terakhir ini hanya mencapai angka yang rendah. Pihak manajemen harus melakukan perbaikan dalam memasarkan jasa perhotelannnya. Pemilihan suatu teknik pemasaran yang tepat sasaran akan sangat bermanfaat bagi perusahaan dalam menarik pelanggan. Oleh karena itu perusahaan dituntut teliti dalam pemilihan teknik pemasaran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pemasaran yang sesuai dengan kondisi perusahaan dan konsep pemasaran (marketing mix) serta menyusun prioritas alternatif pemasaran yang akan diterapkan. Pendekatan yang dilakukan adalah Analitycal Network Process (ANP) untuk pemilihan kriteria pemasaran didasari oleh konsep marketing mix 7P (product, price, place, promotion, people, physical evidence, dan process), metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS), dipertimbangkan adanya solusi ideal positif dan solusi ideal negatif, sehingga dapat digunakan dalam pemilihan alternatif teknik pemasaran terbaik. Penelitian ini menggunakan pendapat pakar sebagai alat pengumpulan data. Melalui hasil hasil pendapat pakar mengenai perbandingan berpasangan didapatkan bobot masing-masing kriteria dalam 7P. Hasil perhitungan bobot ANP pada perbandingan berpasangan menunjukkan bahwa kriteria promotion memiliki bobot terbesar 26,89%, artinya promotion merupakan kriteria pemasaran paling potensial untuk dikembangkan. Untuk mendapatkan bentuk teknik pemasaran yang tepat digunakan metode TOPSIS dimana ada 3 altrenatif dari kriteria pemasaran promotion yang akan dibandingkan untung dan ruginya yaitu sales people, social media dan advertising. Dari hasil perhitungan TOPSIS didapatkan bahwa nilai preferensi advertising merupakan nilai preferensi terbesar yakni dengan nilai 0,69003, artinya pengambilan keputusan dengan fokus pada kriteria promotion dan alternatif advertising merupakan teknik pemasaran yang paling sesuai dan menguntungkan untuk dijalankan perusahaan guna meningkatkan occupancy rate hotel.
Baca lebih lanjut

153 Baca lebih lajut

Pemanfaatan kulit ari kelapa sebagai alternatif bahan pakan untuk ikan nila (oreochromis niloticus)

Pemanfaatan kulit ari kelapa sebagai alternatif bahan pakan untuk ikan nila (oreochromis niloticus)

Kulit ari kelapa yang diperoleh dari pasar tradisional di daerah Depok. Kulit ari kelapa dikeringkan pada suhu 50-60°C lalu diblender hingga halus dan siap dicampurkan dengan bahan baku pakan lain sesuai formulasi pakan. Uji pakan terhadap ikan dilakukan selama 21 hari, pengukuran dilakukan sebanyak 4 kali setiap tujuh hari sekali meliputi panjang total dan bobot ikan. Penelitian ini tidak menggunakan resirkulasi, sehingga air di akuarium dibersihkan seper- tiganya setiap hari. Kualitas air yang diukur yaitu suhu, derajat keasaman (pH), kandungan oksigen terlarut (DO), dan kandungan ammoniak (NH 3 ) pada awal dan akhir
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Analisis faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen produk air minum dalam kemasan di Bogor

Analisis faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen produk air minum dalam kemasan di Bogor

memuaskan kebutuhan dan konsurnen pemasar berkewajiban untuk keinginan, preferensi dan belanja pelanggan litian yang akan yang preferensi konsumen merek produk air minum dalam ke[r]

11 Baca lebih lajut

Preferensi Konsumen Terhadap Merek Smartphone Berdasarkan Sistem Operasi.

Preferensi Konsumen Terhadap Merek Smartphone Berdasarkan Sistem Operasi.

Pada bulan Oktober 2003 Android, Inc. didirikan di Palo Alto, California, oleh Andy Rubin (pendiri Danger), Rich Miner (pendiri Wildfire Communications, Inc.), Nick Sears (mantan VP T-Mobile), dan Chris White (kepala desain dan pengembangan antarmuka WebTV) untuk mengembangkan “perangkat smartphone yang lebih sadar akan lokasi dan preferensi penggunanya”. Awal tujuan pengembangan Android yaitu untuk menggembangkan sebuah sistem operasi canggih yang ditujukan untuk kamera digital, namun pasar untuk perangkat kamera digital tidak cukup besar, dan pengembangan Android lalu dialihkan bagi pasar smartphone untuk menyaingi Symbian dan Windows Mobile (iPhone Apple belum dirilis saat itu). Android, Inc. dioperasikan secara diam-diam, hanya diungkapkan para pengembang sedang menciptakan sebuah perangkat lunak untuk smartphone (Salbino, 2014). Google mengakusisi Android, Inc. pada tanggal 17 Agustus 2005, menjadikannya sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Google (Salbino, 2014)
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 6930 documents...