Prevalensi Malaria Burung

Top PDF Prevalensi Malaria Burung:

SKRIPSI PREVALENSI MALARIA BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides) DI PANTAI TRISIK, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA, MENGGUNAKAN METODE NESTED PCR.

SKRIPSI PREVALENSI MALARIA BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides) DI PANTAI TRISIK, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA, MENGGUNAKAN METODE NESTED PCR.

Malaria burung merupakan penyakit yang berpotensi menurunkan jumlah populasi burung. Malaria burung disebabkan oleh parasit dari Filum Apicomplexa, terutama Plasmodium spp. dan Haemoproteus spp. yang menginfeksi burung melalui perantaraan vektor serangga seperti nyamuk, biting midges dan hippoboscid flies. Pantai Trisik digunakan sebagai tempat persinggahan burung migran, sehingga dapat terjadi perpindahan parasit antara burung lokal dan burung migran. Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) adalah salah satu burung lokal yang hidup di pantai Trisik, memiliki habitat yang luas seperti padang rumput, semak belukar dan persawahan sehingga rentan terhadap infeksi parasit malaria burung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui tingkat prevalensi malaria burung terhadap burung Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) di pantai Trisik, Kulonprogo, Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu penangkapan burung untuk pengambilan sampel darah, analisis molekuler yang terdiri dari ekstraksi DNA dengan metode Phenol Chloroform Extraction, amplifikasi DNA dengan metode nested PCR, visualisasi DNA menggunakan elektroforesis gel agarosa dan analisis data. Nested PCR menggunakan pasangan primer Haem NF I dan Haem NR 3 pada
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

I. PENDAHULUAN PREVALENSI MALARIA BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides) DI PANTAI TRISIK, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA, MENGGUNAKAN METODE NESTED PCR.

I. PENDAHULUAN PREVALENSI MALARIA BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides) DI PANTAI TRISIK, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA, MENGGUNAKAN METODE NESTED PCR.

Introduksinya di Hawaii dua abad lalu memainkan kunci penting terhadap kepunahan 25 jenis dari spesies burung endemik (Sturrock & Tompkins, 2008). Penelitian yang dilakukan di New Zealand menemukan bahwa prevalensi tertinggi penyakit malaria burung adalah pada spesies introduksi, walaupun demikian, temuan tersebut telah membangkitkan perhatian pada potensi infeksi parasit darah pada spesies lokal, seperti yang pernah terjadi di Hawaii (Tompkins & Gleeson, 2006).

7 Baca lebih lajut

II. TINJAUAN PUSTAKA PREVALENSI MALARIA BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides) DI PANTAI TRISIK, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA, MENGGUNAKAN METODE NESTED PCR.

II. TINJAUAN PUSTAKA PREVALENSI MALARIA BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides) DI PANTAI TRISIK, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA, MENGGUNAKAN METODE NESTED PCR.

Plasmodium yang menginfeksi burung memiliki morfologi dan ciri-ciri perkembangan yang sama dengan parasit dari Marga Haemoproteus dan Leucocytozoon tapi dibedakan karena adanya reproduksi aseksual (merogony) pada eritrosit yang beredar dalam darah (Atkinson dkk., 2008). Plasmodium disebarkan oleh nyamuk betina, umumnya dari Marga Culex tersebar di seluruh daerah di dunia kecuali di Antartika, dan memiliki kisaran inang yang luas. Infeksi plasmodium dilaporkan terjadi pada semua Bangsa burung dengan pengecualian pada Struthioniformes (ostriches), Coliiformes (mousebirds), dan Trogoniformes (trogons dan quetzals) sedangkan keanekaragaman Plasmodium paling besar ditemukan dari Bangsa Galliformes, Columbiformes, dan Passeriformes (Valkiunas, 2005). Gambar nyamuk Culex pipiens disajikan pada Gambar 1.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

V. SIMPULAN DAN SARAN PREVALENSI MALARIA BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides) DI PANTAI TRISIK, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA, MENGGUNAKAN METODE NESTED PCR.

V. SIMPULAN DAN SARAN PREVALENSI MALARIA BURUNG BONDOL JAWA (Lonchura leucogastroides) DI PANTAI TRISIK, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA, MENGGUNAKAN METODE NESTED PCR.

Bensch, S., Hellgren, O. dan Pe’rez-triz, J. 2009. MalAvi: a public database of malaria parasites and related haemosporidians in avian hosts based on mitochondrial cytochrome b lineages. Mol. Eco. 9: 1353–1358. Bensch, S., M. Stjernman, D. Hasselquist, O. Ostman, B. Hansson, H. Westerdahl,

11 Baca lebih lajut

PREVALENSI MALARIA PADA BURUNG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI DENGAN METODE NESTED PCR.

PREVALENSI MALARIA PADA BURUNG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI DENGAN METODE NESTED PCR.

Tingkat prevalensi yang rendah ini dapat disebabkan karena resistensi dan imunitas yang telah dikembangkan oleh spesies-spesies yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini. Penelitian serupa dengan hasil prevalensi rendah lainnya telah dilakukan. Meskipun di dalam tinjauan pustaka telah disinggung bahwa peran penyakit tidak signifikan di dalam penurunan populasi burung, akan tetapi beberapa penelitian yang dilakukan menjukkan indikasi awal peran penting penyakit bagi penurunan populasi. Yuda (2008) melakukan penelitian pada Gelatik Jawa (Padda oryzivora). Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan tingkat prevalensi malaria burung pada Gelatik Jawa adalah 28,95 % dengan jenis parasit yang menyerang burung berupa Plasmodium dan Haemoproteus. Bukti lain yang menunjukkan indikasi awal peran penting penyakit dalam penurunan populasi burung di Indonesia adalah penelitan yang dilakukan Marjen (2012). Pada penelitiannya mengenai tingkat prevalensi malaria burung dengan menggunakan burung Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) ditemukan tingkat prevalensi pada sampel darah burung Bondol Jawa sebesar 20%.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

SKRIPSI  PENENTUAN PREVALENSI MALARIA UNGGAS PADA BURUNG MADU SRIGANTI (Cinnyris jugularis) DENGAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR).

SKRIPSI PENENTUAN PREVALENSI MALARIA UNGGAS PADA BURUNG MADU SRIGANTI (Cinnyris jugularis) DENGAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR).

Burung madu sriganti (Cinnyris jugularis) merupakan burung bertengger yang memiliki persebaran di Asia timur, Oceania, Asia selatan dan Asia tenggara . Trisik sebagai tempat persinggahan burung migran, sehingga terjadi interaksi antara burung penetap /resident dengan burung migran. Salah satu penyakit yang berpotensi sebagai faktor pengancam populasi burung adalah malaria unggas, yang disebabkan oleh parasit darah Hematozoa (Plasmodium spp. dan Haemoproteus spp.). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui prevalensi malaria burung terhadap burung madu sriganti di Pantai Trisik, Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah analisis molekuler dengan teknik nested PCR. Analisis molekuler ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu ekstraksi DNA dari darah sampel, elektroforesis DNA, visualisasi DNA, amplifikasi DNA dan analisis data. Reaksi nested PCR menggunakan pasangan primer Haem NFI, Haem NR 3 pada tahap pertama, dan pasangan primer Haem F,
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

V. SIMPULAN DAN SARAN  PREVALENSI MALARIA PADA BURUNG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI DENGAN METODE NESTED PCR.

V. SIMPULAN DAN SARAN PREVALENSI MALARIA PADA BURUNG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI DENGAN METODE NESTED PCR.

Marjen, E. E. 2012. Prevalensi Malaria Burung Bondol Jawa Lonchura leucogastroides di Pantai Trisik, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakrata, Menggunakan Metode Nested PCR . Skripsi . Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.

8 Baca lebih lajut

Pemodelan Prevalensi Malaria di Indonesia dengan Regresi Lasso Terboboti Geografis

Pemodelan Prevalensi Malaria di Indonesia dengan Regresi Lasso Terboboti Geografis

Pada peta sebaran nilai dugaan parameter b2 (Gambar 22) diketahui bahwa peubah proporsi penduduk yang medapat obat ACT dalam 24 jam berpengaruh nyata terhadap prevalensi malaria terjadi di enam belas provinsi. Parameter b2memiliki selang nilai dari -0.361 sampai 0.261. Proporsi penduduk yang medapat obat ACT dalam 24 jam telah berhasil menurunkan prevalensi malaria di tujuh provinsi diantaranya Provinsi Papua Barat, Kalimantan Barat, Lampung, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau Kalimantan Tengah dan Sulawesi Barat sedangkan di sembilan provinsi lainnya yaitu Provinsi Bengkulu, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Barat proporsi penduduk yang mendapat obat ACT dalam 24 jam belum dapat menurunkan prevalensi malaria.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

epidemiologi penyakit malaria dan id

epidemiologi penyakit malaria dan id

Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap orang dapat terkena penyakit malaria. Perbedaan prevalensi menurut umur dan jenis kelamin karena berkaitan dengan perbedaan tingkat kekebalan dan frekuensi keterpaparan gigitan nyamuk. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanaan seseorang adalah :

7 Baca lebih lajut

Hubungan antara Penggunaan Kontrasepsi dengan Gambaran Hasil Papsmear pada PSK dan Ibu Rumah Tangga di Yogyakarta | Asih | Jurnal Mutiara Medika 1623 4479 1 PB

Hubungan antara Penggunaan Kontrasepsi dengan Gambaran Hasil Papsmear pada PSK dan Ibu Rumah Tangga di Yogyakarta | Asih | Jurnal Mutiara Medika 1623 4479 1 PB

This is a non-experimental research by reviewing the medical records of patients with malaria in Primary Health Care in Kokap I and Girimulyo I in 2002-2004. Significance of the relationship between risk factors with the prevalence of malaria were analyzed by Chi-Square. The result show that malaria prevalence in Kokap I in 2002-2004 are 37,43%; 2,174%; 0,246% respectively and in Girimulyo I are 3,632%; 0,183%; 0,013% respectively. Chi-squares analyze show that there is significant correlation (p<0,05) between age group, gender and the occupation and the prevalence of malaria. There is unsignificant correlation between education level and the prevalence of malaria (p>0,05) in Kokap and Girimulyo.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Perbedaan Kecepatan Tumbuh Pada Anak 6-10 Tahun Di Daerah Endemik Dan Non Endemik Malaria

Perbedaan Kecepatan Tumbuh Pada Anak 6-10 Tahun Di Daerah Endemik Dan Non Endemik Malaria

Malaria sebagai salah satu penyakit infeksi mendapatkan perhatian yang serius baik secara nasional maupun internasional karena mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Angka kesakitan malaria masih cukup tinggi terutama di luar Jawa dan Bali oleh karena di daerah tersebut terdapat campuran penduduk yang berasal dari daerah endemik dan non endemik. 1 Penyakit malaria menyebabkan anak menderita gangguan gizi yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan kecepatan tumbuh. 4

55 Baca lebih lajut

II. TINJAUAN PUSTAKA  PENENTUAN PREVALENSI MALARIA UNGGAS PADA BURUNG MADU SRIGANTI (Cinnyris jugularis) DENGAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR).

II. TINJAUAN PUSTAKA PENENTUAN PREVALENSI MALARIA UNGGAS PADA BURUNG MADU SRIGANTI (Cinnyris jugularis) DENGAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR).

Haemoproteus spp. adalah protozoa intraseluler, parasit hemotropik yang menginfeksi sel darah merah burung, kura-kura, dan reptil (Bowman, 2003; Friend dan Franson, 1999). Haemoproteus spp. Plasmodium spp., dan Leucocytozoon spp. termasuk marga Haemosporidia (Weisman et al., 2007). Lebih dari 120 spesies Haemoproteus diketahui dan paling sering ditemukan pada burung (Swayne dan Fadly, 2003). Parasit darah ini ditemukan di seluruh dunia dan mampu menginfeksi berbagai burung termasuk gamebirds (Galliformes), burung air (Anseriformes), raptors (Accipitriformes, Falconiformes, Strigiformes), burung dara dan merpati (Columbiformes), dan burung bertengger atau burung berkicau (Passeriformes). Infeksi Haemoproteus spp. tidak menghasilkan tanda-tanda klinis yang signifikan (Weisman et al., 2007).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

DAMPAK PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN TERHADAP PREVALENSI PENYAKIT TB PARU, DEMAM BERDARAH DENGUE, DAN MALARIA DI KABUPATEN TANGGAMUS

DAMPAK PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN TERHADAP PREVALENSI PENYAKIT TB PARU, DEMAM BERDARAH DENGUE, DAN MALARIA DI KABUPATEN TANGGAMUS

Patogenesis malaria akibat dari interaksi kompleks antara parasit, inang dan lingkungan. Patogenesis lebih ditekankan pada terjadinya peningkatan permeabilitas pembuluh darah daripada koagulasi intravaskuler. Oleh karena skizogoni menyebabkan kerusakan eritrosit maka akan terjadi anemia. Beratnya anemia tidak sebanding dengan parasitemia menunjukkan adanya kelainan eritrosit selain yang mengandung parasit. Hal ini diduga akibat adanya toksin malaria yang menyebabkan gangguan fungsi eritrosit dan sebagian eritrosit pecah melalui limpa sehingga parasit keluar. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya anemia mungkin karena terbentuknya antibodi terhadap eritrosit (Harijanto, 2000).
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

KONSEP PERENCANAAN BIDANG CIPTA KARYA

KONSEP PERENCANAAN BIDANG CIPTA KARYA

Fokus MDG pada tiga bidang utama, yaitu dari valorising modal manusia, memperbaiki infrastruktur, dan meningkatkan hak-hak sosial, ekonomi dan politik, dengan mayoritas fokus akan menuju peningkatan standar dasar hidup. Tujuan dipilih dalam fokus modal manusia termasuk perbaikan gizi, kesehatan (termasuk mengurangi tingkat kematian anak , HIV / AIDS , tuberkulosis dan malaria , serta meningkatkan kesehatan reproduksi), dan pendidikan. Untuk fokus infrastruktur, tujuan termasuk meningkatkan infrastruktur melalui peningkatan akses terhadap air minum yang aman, energi dan informasi / komunikasi teknologi modern, output pertanian penguatan melalui praktek- praktek berkelanjutan, meningkatkan infrastruktur transportasi, dan melestarikan lingkungan. Terakhir, untuk sosial, ekonomi dan politik fokus hak tujuan termasuk pemberdayaan perempuan, mengurangi kekerasan, meningkatkan suara politik, menjamin akses yang sama ke pelayanan publik, dan meningkatkan keamanan hak milik. Tujuan yang dipilih dimaksudkan untuk meningkatkan individu kemampuan manusia dan "memajukan sarana untuk kehidupan yang produktif". MDGs menekankan bahwa kebijakan individu yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini harus disesuaikan dengan kebutuhan negara individu, sehingga sebagian saran kebijakan bersifat umum.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

GAMBARAN KLINIS DAN TATALAKSANA PASIEN RAWAT INAP MALARIA FALCIPARUM DI RSUP DR KARIADI SEMARANG PERIODE 2009 – 2013 - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

GAMBARAN KLINIS DAN TATALAKSANA PASIEN RAWAT INAP MALARIA FALCIPARUM DI RSUP DR KARIADI SEMARANG PERIODE 2009 – 2013 - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

4) Tatalaksana malaria falciparum sudah sesuai dengan standar pemberian terapi yang sudah ditentukan. Pasien malaria falciparum ringan menggunakan terapi ACT (contohnya: Arsuamoon, DHP), sedangkan malaria falciparum berat menggunakan Artesunat iv.

2 Baca lebih lajut

MALUKU & PAPUA new

MALUKU & PAPUA new

• Ada sekitar 650 spesies burung subspeciesnya di Papua Barat, di dalamnya beragam burung paradise, burung beo, burung kakak tua, burung bangau, Elang Papua Harpy, burung Bower dan Arfak[r]

17 Baca lebih lajut

Malaria Pascabencana Alam di Kabupaten Nias Selatan

Malaria Pascabencana Alam di Kabupaten Nias Selatan

Sampel dengan keluhan demam atau riwayat demam satu minggu terakhir dengan atau tanpa tanda-tanda klinis malaria, diperiksa secara simultan untuk menegakkan diagnosa malaria. Pemeriksaan itu meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan apusan darah tepi malaria (sediaan tebal dan tipis). Sebelum pemeriksaan dilakukan, sampel diberi penjelasan tentang apa yang akan dilakukan sambil menanyakan kesediaannya untuk ikut dalam penelitian. Kesediaan untuk ikut penelitian ditandai dengan penandatanganan informed consent (Gambar 1).

6 Baca lebih lajut

Burung Cendet atau Burung Pentet

Burung Cendet atau Burung Pentet

digunakan umumnya terbuat dari rumput, ranting, lumut, bunga-bunga, bulu, dan wol yang diikat dengan sarang laba-laba kemudian dikaitkan ke pohon/semak-semak dengan ketinggian 4-6 m dari permukaan tanah. Burung cendet dapat bertelur antara 3 – 6 butir/periode. Biasanya telurnya akan menetas setelah dierami kurang lebih 2 minggu.

2 Baca lebih lajut

Berikut ini adalah Soal Ulangan

Berikut ini adalah Soal Ulangan

Pil kina yang diambil dari kulit pohon kina, digunakan untuk mengobati penyakit malaria influenza demam berdarah hepatitis 6.. Jenis bentuk paruh burung kolibri adalah runcing mel[r]

9 Baca lebih lajut

Ira Indriaty Paskalita Bule Sopi, Yona Patanduk

Ira Indriaty Paskalita Bule Sopi, Yona Patanduk

Usia anak merupakan prediktor yang signifikan untuk densitas kekambuhan parasitemia. Berdasarkan dari beberapa studi yang pernah dilakukan, diperoleh bahwa hampir sebagian besar malaria pada anak di bawah umur lima tahun adalah malaria falciparum. Menurut Djauhari, malaria yang berbahaya pada anak di bawah umur lima tahun adalah yang disebabkan oleh P. falciparum karena dapat menginfeksi semua jenis sel darah merah sehingga anemia ini

7 Baca lebih lajut

Show all 4678 documents...