Proses jawaban siswa dalam menyelesaikan soal matematika

Top PDF Proses jawaban siswa dalam menyelesaikan soal matematika:

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DAN KARAKTER SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH SISWA KELAS X MIA SMA NEGERI 1 PURBA.

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DAN KARAKTER SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH SISWA KELAS X MIA SMA NEGERI 1 PURBA.

Pada kenyataannya saat siswa dihadapkan pada soal-soal yang tidak rutin, contohnya soal cerita yang terkait pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, nilai yang diperoleh oleh siswa biasanya akan lebih rendah jika dibandingkan dengan soal pilihan berganda. Sehingga, masih terlihat kesenjangan yang cukup besar antara apa yang diharapkan dalam belajar matematika dengan kenyataan yang akan dicapai. Hal ini menjadi salah satu masalah bagi guru karena pemecahan masalah sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya nalar dan melatih siswa agar mampu berpikir kritis, logis dan berkarakter.Dari jawaban yang diberikan siswa dapat dilihat bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah yang diberikan ke dalam bentuk matematika. Dalam penyelesaian soal sering didapati siswa hanya mementingkan jawaban akhir tanpa memahami bagaimana proses jawabannya apakah sudah benar atau belum. Hal ini sering mengakibatkan proses jawaban siswa yang tidak benar. Siswa juga sering merasa kesulitan dalam menentukan konsep apa yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mereka cenderung menyelesaikan masalah tersebut dengan operasi hitung yang menurut mereka benar tanpa memahami masalah yang ada terlebih dahulu.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

PROBLEMATIKA DAN KASUS PENGAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH

PROBLEMATIKA DAN KASUS PENGAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH

Dari soal-soal yang diberikan kepada siswa diatas, ternyata siswa dapat menyelesaikan dengan mudah, walupun masih ada yang mengalami kesulitan pada saat melakukan subtitusi dari satu persaman ke persaman yang lain dan untuk menentukan sebuah titik potong pada grafik siswa masih mengalami kesulitan. Dimana siswa ada yang menjawab dengan prosedur yang berbeda dan jawaban siswa tersebut benar, namun ada juga siswa yang tidak tepat menjawab karena tidak dibuat grafiknya atau grafik tidak tepat walaupun proses mencari titik potong sudah diperoleh dengan benar, ada yang proses mencari titik potongnya benar tapi nilai yang diperoleh salah sehingga grafik yang dibuatnya pun menjadi salah, dan kesalahan karena mengerjakan proses dari awal sudah tidak sesuai sama sekali.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

S PGSD 1202760 Chapter1

S PGSD 1202760 Chapter1

Pada soal cerita bukan hanya hasil akhir yang dinilai akan tetapi proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika tersebut, dimulai dari memahami maksud dari soal cerita tersebut seperti menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan secara lengkap, mengubah kalimat verbal ke bentuk kalimat matematik, menyusun perencanaan penyelesaian soal dengan menghubungkan konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dengan masalah yang sedang dihadapi, sampai pada akhirnya menemukan jawaban yang tepat untuk permasalahan tersebut.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi himpunan pada siswa kelas vii smp swasta Al-Washliyah 8 Medan tahun ajaran 2017/2018 - Repository UIN Sumatera Utara

Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi himpunan pada siswa kelas vii smp swasta Al-Washliyah 8 Medan tahun ajaran 2017/2018 - Repository UIN Sumatera Utara

dan menarik kesimpulan.Jika terdapat kesalahan pada salah satu langkah penyelesaian maka mengakibatkan kesalahan pada langkah selanjutnya. 11 Untuk menyelesaikan soal dalam bentuk soal cerita dapat digunakan dengan berbagai prosedur, salah satunya adalah dengan menggunakan Prosedur Newman. Prosedur Newman dapat digunakan untuk menyelesaikan soal cerita. Newman menyebutkan ada 5 prosedur yang harus dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika antara lain: (1) Membaca soal (Reading errors) yaitu tahap siswa membaca soal yang disajikan dan memahami dengan benar cara membaca simbol-simbol dan makna dari simbol- simbol tersebut. (2) Memahami Masalah (Comprehension errors) yaitu tahap siswa untuk menentukan hal-hal yang diketahui dan hal-hal yang ditanyakan pada soal. (3) Mentransformasikan Masalah (Transformation error) yaitu tahap siswa menentukan operasi hitung yang digunakan atau rumus dalam menyelesaikan soal. (4) Keterampilan Proses (Process Skill errors) adalah tahap siswa menerapkan keterampilan yang dimilikinya untuk melakukan proses perhitungan matematika berdasarkan rumus atau operasi yang digunakan untuk menjawab masalah dalam soal. Dan (5) Penulisan Jawaban (Encoding errors) yaitu tahap siswa menuliskan jawaban akhir atau kesimpulan dari penyelesaian soal yang telah dilakukan.
Baca lebih lanjut

153 Baca lebih lajut

ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA PADA SISWA SMP  Analisis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Pada Siswa Smp.

ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA PADA SISWA SMP Analisis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Pada Siswa Smp.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan juga menunjukkan penyebab kesulitan yang dialami siswa yaitu siswa kurang teliti dalam melakukan operasi hitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian). Kesulitan yang dialami mengakibatkan siswa memberikan hasil yang berbeda dengan jawaban yang diminta. Sikap terburu-buru dari siswa dalam menyelesaiakan soal juga memicu kesalahan pada penyelesaian soal. Kurangnya ketelitian siswa dalam membaca soal cerita yang diberikan juga menyebabkan kesulitan yang lain yaitu siswa kurang memahami maksud dari soal sehingga siswa tidak mengetahui langkah-langkah penyelesaian yang harus dilakukan. Faktor lainnya yaitu kemalasan siswa untuk membaca ulang soal cerita dikarenakan banyaknya bacaan pada soal. Hal ini menyebabkan siswa banyak melewatkan informasi-informasi penting yang berada pada soal. Hasil wawancara siswa juga menunjukan siswa yang kesulitan dalam memahami pelajaran pada saat proses belajar mengajar tidak berani bertanya kepada guru karena malu.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PROFIL PEMECAHAN MASALAH BERBENTUK OPEN ENDED BERDASARKAN TAHAPAN POLYA PADA MATERI PECAHAN SISWA SMP KELAS VII

PROFIL PEMECAHAN MASALAH BERBENTUK OPEN ENDED BERDASARKAN TAHAPAN POLYA PADA MATERI PECAHAN SISWA SMP KELAS VII

Pada penelitian ini, masalah yang digunakan adalah masalah terbuka (open ended). Open-ended dalam matematika merupakan masalah yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga memiliki banyak solusi yang benar dan terdapat banyak cara untuk mencapai solusi tersebut (Poppy, 2002). Open-ended menuntut siswa untuk dapat melihat suatu masalah dari berbagai macam persepsi sehingga memungkinkan beragam jawaban benar baik dipandang dari cara maupun hasil (Ristiani, 2014). Selanjutnya Heddens dan Speer (Mustikasari, 2010) mengungkapkan bahwa dengan pemberian open ended, dapat memberi rangsangan kepada siswa untuk meningkatkan cara berfikirnya, siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan hasil eksplorasi daya nalar dan analisisnya secara aktif dan kreatif dalam upaya menyelesaikan suatu permasalahan. Open ended merupakan pendekatan yang memudahkan siswa untuk dapat lebih bebas dalam menumbuhkan ide-ide kreatifnya dalam menemukan dan memeahami konsep matematika dengan baik, karena open-ended menyajikan permasalahan yang memiliki metode penyelesaian atau penyelesaian yang benar lebih dari satu Syaban (Sulaiman, Trisoni dkk, 2014). Menurut Becker dan Epstein (Wijaya, 2012) suatu soal dapat tebuka (open) dalam dua kemungkinan sebagai berikut: proses yang terbuka yaitu ketika soal menekankan pada acara dan srategi yang berbeda dalam menemukan solusi yang tepat. Jenis soal semacam ini masih mungkin memiliki satu solusi tunggal, hasil akhir yang terbuka yaitu ketika soal memiliki jawaban akhir yang berbeda- beda.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

KUNCI SOAL MAT IPA TO1 A DAN B 2016 2017

KUNCI SOAL MAT IPA TO1 A DAN B 2016 2017

KUNCI JAWABAN SOAL MATEMATIKA IPA LAT UN I TP... KUNCI JAWABAN SOAL MATEMATIKA IPA LAT UN I TP.[r]

2 Baca lebih lajut

Identifikasi Kemampuan Literasi Matematika Siswa Kelas XIA-4 SMA Negeri 1 Ambulu

Identifikasi Kemampuan Literasi Matematika Siswa Kelas XIA-4 SMA Negeri 1 Ambulu

Gambar 4.5 Jawaban S21 untuk Pertanyaan Kedua p ada Tema “Nilai Tukar” Cara menjawab yang dilakukan oleh S21 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5 tidak berpengaruh pada kemampuan siswa dalam memenuhi indikator pada level ini, tetapi telihat lebih efisien karena lebih mudah dalam melakukan perhitungan. Jika menjawab dengan cara yang dilakukan oleh S12 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.3 siswa harus melakukan perhitungan dengan angka yang mencapai jutaan, sedangkan cara yang dilakukan oleh S21 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5 siswa hanya perlu melakukan perhitungan dengan angka ratusan. Meskipun cara penyelesaian masalah dari 15 siswa yang menjawab seperti S21 berbeda dengan cara penyelesaian masalah dari 20 siswa yang menjawab seperti cara yang digunakan oleh S12. Lima belas siswa tersebut tetap memenuhi indikator-indikator pada level 2 karena mereka mampu mengenali situasi, memilah informasi yang relevan dari sumber tunggal, mengerjakan algoritma dasar, menggunakan rumus, melaksanakan prosedur atau konvensi sederhana, menjabarkan secara spontan, dan melakukan penafsiran harfiah.
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

BAB 1 PENDAHULUAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peningkatan Proses dan Hasil Belajar Matematika Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving pada Siswa Kelas 5 SDN Blaru 02 Kabupaten Pati Semester I Tahun Pelaj

BAB 1 PENDAHULUAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peningkatan Proses dan Hasil Belajar Matematika Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving pada Siswa Kelas 5 SDN Blaru 02 Kabupaten Pati Semester I Tahun Pelaj

Pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar mempunyai peranan yang sangat penting sebab jenjang ini merupakan pondasi yang sangat menentukan dalam membentuk sikap, kecerdasan, dan kepribadian anak. Pada pembelajaran matematika anak tidak hanya diajarkan tentang menulis dan menghitung angka tetapi juga tentang penalaran serta konsep yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga dapat mengembangkan kecerdasan anak. Selain itu dalam pembelajaran matematika juga memerlukan ketelitian dan ketepatan dalam menyelesaikan masalah/soal yang diberikan sehingga dapat membentuk sikap dan kepribadian anak untuk lebih disiplin dan menghargai waktu.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CO-OP CO-OP (COOPERATION IN EDUCATION) PADA POKOK BAHASAN ARITMATIKA SOSIAL DI KELAS VII SMP N 6 TEBING TINGGI T.A 2011/2012.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CO-OP CO-OP (COOPERATION IN EDUCATION) PADA POKOK BAHASAN ARITMATIKA SOSIAL DI KELAS VII SMP N 6 TEBING TINGGI T.A 2011/2012.

Dalam http://etd.eprints.ums.ac.id/11710/3/03._BAB_I.pdf (11 juli 2011) “Rendahnya hasil belajar matematika siswa diduga disebabkan oleh kesulitan memahami matematika. Hal ini tidaklah mengherankan karena selama ini pembelajaran matematika masih bersifat konvensional dan monoton. Guru lebih banyak mendominasi dalam proses pembelajaran. Guru lebih aktif berceramah dibandingkan dengan siswa. Akibatnya, perasaan bosan belajar matematika sewaktu-waktu bisa muncul pada diri siswa. Banyak fakta menunjukkan pada saat pembelajaran berlangsung sebagian besar siswa kurang antusias menerimanya, siswa lebih bersifat pasif, enggan, takut atau malu untuk mengemukakan pendapatnya “
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESA (1)

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESA (1)

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan letak dan jenis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi sistem persamaan linear dua variabel serta untuk mengetahui faktor penyebab kesalahannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian diambil sebanyak tiga orang siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan reduksi, penyajian, dan penyimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa letak kesalahan siswa yaitu kesalahan dalam menentukan apa yang diketahui, membuat model matematika, menyelesaikan model matematika, dan jawaban akhir. Jenis kesalahan yang dilakukan siswa yaitu kesalahan konsep, prinsip dan opersi. Faktor penyebab kesalahan yaitu tidak mampu menerjemahkan kalimat soal ke dalam kalimat matematika; lemah tentang konsep variabel, metode eliminasi dan substitusi; lemah dalam menentukan hasil perhitungan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENERAPANPEMBELAJARANMATEMATIKADENGANSOALTERBUKA (OPEN-ENDED) UNTUKMENINGKATKANKEMAMPUAN BERPIKIR KRITISDANKREATIFSISWASMPNEGERI17MEDANT.A2016/2017.

PENERAPANPEMBELAJARANMATEMATIKADENGANSOALTERBUKA (OPEN-ENDED) UNTUKMENINGKATKANKEMAMPUAN BERPIKIR KRITISDANKREATIFSISWASMPNEGERI17MEDANT.A2016/2017.

Rendahnya mutu pendidikan matematika di Indonesia dibuktikan data hasil Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS) yang diikuti oleh siswa kelas VIII Indonesia tahun 2011. Penilaian yang dilakukan International Association for the Evaluation and Educational Achievement (IAE) study center boston college tersebut diikuti 600.000 siswa dari 63 negara. Untuk bidang matematika Indonesia berada di urutan ke-38 dengan skor 386 dari 42 negara yang siswanya dites. Skor Indonesia ini turun 11 poin dari penilaian tahun 2007. Sementara itu studi tiga (3) tahunan PISA, yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) sebuah badan PBB yang berkedudukan di Paris, yang bertujuan untuk mengetahui literasi matematika siswa, dimana fokus studi PISA adalah kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan memahami serta menggunakan dasar-dasar matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari pada tahun 2012 menempatkan Indonesia pada posisi 64 dari 65 negara yang disurvei.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Kesulitan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika pada Siswa SMP

Kesulitan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika pada Siswa SMP

Menulis informasi (apa yang diketahui maupun ditanyakan) sangatkah penting untuk meminimalisir kesalahan siswa. Pada aspek ini sangat berkaitan dengan aspek bahasa, jika siswa tidak paham maksud soal maka sudah dapat dipastikan tidak dapat menulis apa yang diketahui maupun ditanyakan dalam soal. Indikator pada aspek prasyarat ini dijelaskan lebih lanjut oleh Widodo (2013: 108) bahwa indikator kesalahan saat membuat rencana pemecahan masalah adalah siswa tidak mengetahui kecukupan dan keperluan syarat dari suatu masalah dan tidak menggunakan semua informasi yang telah dikumpulkan dari permasalahan. Berdasarkan pernyataan di atas alternatif solusinya adalah siswa harus menuliskan/mengidentifikasi secara detail kata-kata kunci apa yang diketahui atau ditanyakan pada soal, sehingga dapat meminimalsir kesalahan dalam mensubtitusikan apa yang diketahui pada rumus dan meningkatkan ketelitian siswa.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Analisis tingkat berpikir siswa dalam pemecahan masalah persamaan kuadrat.

Analisis tingkat berpikir siswa dalam pemecahan masalah persamaan kuadrat.

Penelitian mengenai analisis tingkat kemampuan siswa dalam memecahkan masalah bentuk soal cerita pada materi sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) telah dilakukan. Dasar penelitian merupakan 4 tingkat pemecahan masalah menurut George Polya. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang dilaksanakan di kelas VIII-A SMP Negeri 2 Buduran, Sidoarjo. Penelitian menggunakan metode pemberian tes pemecahan masalah kepada 35 siswa dan wawancara kepada 5 siswa. Hasil penelitian ini adalah 5 siswa pada tingkat kemampuan 1, 9 siswa pada tingkat kemampuan 2, 8 siswa pada tingkat kemampuan 3, dan 8 siswa pada tingkat kemampuan 4 serta 5 siswa pada tingkat kemampuan 5 (Minarti dan Kursini, 2013). Penelitian ini mampu mendiskripsikan tingkat kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan dan mengecek kembali penyelesaian yang diperoleh dari masalah mengenai SPLDV. Penelitian terbatas untuk siswa SMP dan pada materi SPLDV sehingga subjek dalam penelitian ini kurang beragam.
Baca lebih lanjut

237 Baca lebih lajut

PROFIL PROSES BERPIKIR SISWA DALAM MENYELESAIKAN  SOAL-SOAL PYTHAGORAS DITINJAU DARI   Profil Proses Berpikir Siswa Dalam Menyelesaikan Soal-Soal Pythagoras Ditinjau Dari Gaya Belajar Dan Gaya Kognitif.

PROFIL PROSES BERPIKIR SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL PYTHAGORAS DITINJAU DARI Profil Proses Berpikir Siswa Dalam Menyelesaikan Soal-Soal Pythagoras Ditinjau Dari Gaya Belajar Dan Gaya Kognitif.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil proses berpikir siswa dalam menyelesaikan soal-soal pythagoras ditinjau dari gaya belajar dan gaya kognitif. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan desain penelitian fenomenologi. Responden penelitian adalah siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Margorejo. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket, tes, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan metode tiga jalur yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Validitas data menggunakan triangulasi metodologis dengan metode tes, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Margorejo dalam menyelesaikan soal-soal pythagoras ditinjau dari gaya belajar visual, auditorial, kinestetik dan gaya kognitif field dependent & field independent menggunakan proses berpikir yang bebeda. Siswa tipe visual – field dependent dan tipe auditorial – field dependent menggunakan proses berpikir semi konseptual. Siswa tipe visual – field independent, tipe auditorial – field independent, tipe kinestetik – field dependent, dan tipe kinestetik – field independent menggunakan proses berpikir konseptual.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA BERBASIS MASALAH

KEMAMPUAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA BERBASIS MASALAH

Pengambilan data pertama dilakukan dengan meminta subyek untuk mengerjakan soal tes matematika berbasis masalah saat jam pelajaran matematika. Seluruh subyek penelitian mengerjakan soal tes matematika berbasis masalah dengan waktu 80 menit. Pengerjaan soal tes matematika berbasis masalah dilakukan di perpustakaan SMP Negeri 11 Yogyakarta. Selanjutnya, siswa diberikan angket respon siswa terhadap soal matematika berbasis masalah yang diberikan. Peneliti melakukan wawancara kepada siswa dan guru untuk mengetahui hubungan kemampuan menyelesaikan soal matematika berbasis masalah dengan menggunakan soal tes yang diberikan. Wawancara dilakukan di beberapa tempat yaitu perpustakaan, halaman sekolah, dan ruang kelas. Kegiatan wawancara direkam dengan alat perekam video, yaitu handphone, atas seizin siswa dan guru. Durasi pengambilan video beraneka ragam, berkisar antara 5 sampai 15 menit. Proses pengumpulan data penelitian berlangsung selama empat hari. Data yang diambil berupa hasil tes matematika berbasis masalah, angket, dan wawancara. Adapun jadwal pengambilan data tes matematika berbasis masalah, angket maupun wawancara, dapat dilihat pada Tabel 2.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Menyelesaikan Soal cerita matematika

Menyelesaikan Soal cerita matematika

tokoh psikologi pembelajaran berkebangsaan Amerika Serikat. Langkah- langkah pembelajaran yang dimaksud dimulai dari konkrit (enactive), semi konkrit (econic), dan diakhiri dengan abstrak (symbolic). Ketika diujicobakan di SD binaan ternyata hasilnya sukses besar. Indikatornya adalah bahwa dalam tes soal cerita di kelas I, dari 22 siswa, 8 siswa mendapat nilai 10; 4 siswa mendapat nilai 9; 3 siswa mendapat nilai 8; 3 siswa mendapat nilai 7; 2 siswa mendapat nilai 6, dan hanya 1 siswa yang mendapat nilai di bawah 6. Oleh sebab itu dirasa perlu untuk memberitahukan pengalaman ini kepada guru SD di seluruh Indonesia melalui penulisan paket fasilitasi KKG dan MGMP Matematika di tahun 2008 ini.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

63 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian 1. Studi Pendahuluan - TINGKAT BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS X IIS DALAM MENYELESAIKAN SOAL OPEN ENDED PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR TIGA VARIABEL (SPLTV) DI MA HASYIM ASY’ARI KARANGREJO

63 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian 1. Studi Pendahuluan - TINGKAT BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS X IIS DALAM MENYELESAIKAN SOAL OPEN ENDED PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR TIGA VARIABEL (SPLTV) DI MA HASYIM ASY’ARI KARANGREJO

MZAH W-23 Berdasarkan hasil wawancara diatas, diketahui bahwa subjek MZAH tidak mengalami kesulitan mengerjakan soal nomor tiga akan tetapi ketika proses mengeliminasi kurang teliti sehingga hasil akhir yang diberikan salah. Pada kode MZAH W-17 mampu menjelaskan cara-cara penyelesaian yang ia gunakan dengan lancar dan runtut. Subjek MZAH tidak meneliti jawabannya, sehingga ketika mengeliminasi 6x + 2y +2z = -6 dan 6x – 3y = -24 yang seharusnya hasilnya 5x + 2z = 18 menjadi 5x + 2z = -30 (MZAH W-19). Karena dari langkah awal yang ia kerjakan sudah salah, maka hasil akhirnya pun juga salah. Akan tetapi subjek MZAH mampu mengerjakan soal nomor tiga dengan dua metode juga yang terlihat pada kode MZAH W-21. Pada kode MZAH W-22 menunjukkan subjek MZAH tidak mengetahui cara yang berbeda untuk menyelesaikan sistem persamaan linear tiga variabel. Selain itu subjek MZAH belum menuliskan himpunan penyelesaiannya dikarenakan waktunya sudah habis, padahal ia sudah mampu membedakan antara penyelesaian dan himpunan penyelesaian. Hal ini terlihat dari jawaban nomor satu dan nomor dua yang sudah benar.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Upaya Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Dengan Model Experiential Learning (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas Viii Smp Negeri 9 Kota Tangerang Selatan)

Upaya Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Dengan Model Experiential Learning (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas Viii Smp Negeri 9 Kota Tangerang Selatan)

Mencermati kondisi pendidikan matematika di negeri kita dewasa ini, sebagian besar pelaksanaannya baru sebatas menghasilkan peserta didik yang hafal apa yang mereka pelajari tanpa mengerti secara utuh apa yang mereka pelajari. 6 Siswa dituntut untuk memahami suatu konsep tanpa tahu bagaimana pembentukan konsep itu berlangsung, hal ini menyebabkan siswa kita lupa terhadap apa yang dipelajari hingga akhirnya berdampak pada menurunnya hasil belajar. Sistem pembelajaran yang ditetapkan di sekolah-sekolah pada umumnya berpusat pada guru. Cara yang dipakai guru dalam pembelajaran matematika adalah menerangkan, memberi contoh soal dan memberi latihan pada siswa, begitupun siswa hanya dilatih untuk dapat menyelesaikan soal- soal dengan contoh yang diberikan oleh guru. 7 Lemahnya penguasaan konsep dan prinsip oleh siswa, dapat mengakibatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akan lemah pula.
Baca lebih lanjut

271 Baca lebih lajut

ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK. pdf

ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK. pdf

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan komunikasimatematis Siswa Sekolah Menengah Pertama pada Kelas XI materi bangun ruang sisi lengkung. Jenis penelitian adalah kualitatif deskriptif.Subjek penelitian berjumlah tiga puluh orang.Indikator komunikasi yang diteliti adalah menyatakan dan mengilustrasikan ide matematika ke dalam bentuk model matematika. Penelitian ini difokuskan pada penguasaan komunikasi matematik siswa terhadap soal-soal bangun ruang sisi datar dengan menggunakan model Jigsaw . Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah soal komunikasi matematik pada materi bangun ruang sisi datar materi tabung dan kerucut. Pengolahan data untuk melihat adanya kemampuan komunikasi matematika dengancara melihat jawaban siswa pada lembar jawaban. Setelah melihat jawaban siswa, disimpulkan bahwa siswa memberikan tanggapan yang bervariasi dalam menyelesaikan soal, yang menggambarkan kemampuan komunikasi siswa.Tidak semua siswa dapat menyelesaikan soal komunikasi matematis.namun demikian, 60% siswa memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan Kriteria Ketuntasan Mimimal.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...