Pulau di Kepulauan Riau

Top PDF Pulau di Kepulauan Riau:

Analisis Potensi Pariwisata di Pulau Karimun Provinsi Kepulauan Riau

Analisis Potensi Pariwisata di Pulau Karimun Provinsi Kepulauan Riau

Ada banyak upaya yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah, baik itu wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Salah satunya dengan cara melakukan pembangunan baik itu pembenahan objek wisata berupa sarana maupun prasarana yang menunjang kegiatan pariwisata. Menurut Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional (RIPPNAS) Tahun 2010-2025, Pembangunan adalah suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik yang didalamnya meliputi upaya- upaya perencanaan, implementasi, dan pengendalian dalam rangka penciptaan nilai tambah sesuai yang dikehendaki. Selain itu promosi juga merupakan hal penting dalam pengembangan pariwisata. Hal ini telah dilakukan oleh berbagai daerah tujuan wisata yang ada di Provinsi Kepulauan Riau. Provinsi Kepulauan Riau memiliki 5 kabupaten dan 2 kota diantaranya Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan, Kabupaten Anambas, Kabupaten Lingga, Kabupaten Natuna, Kota Batam dan Kota Tanjung Pinang. Masing-masinjg kabupaten/kota memiliki keunikan daya tarik wisata tersendiri. Dilihat dari letak geografis Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan negara luar membuat setiap daerah berlomba-lomba untuk meningkatkan daya tarik wisata masing-masing. Dan tidak dipungkiri Pulau Karimun merupakan salah satu tujuan wisatawan khususnya dari Singapura, Vietnam, Philipina dan Malaysia
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Distribusi Logam Berat Timbal (Pb) dan Tembaga (Cu) Dalam Air dan Sedimen di Perairan Pulau Bunguran Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau.

Distribusi Logam Berat Timbal (Pb) dan Tembaga (Cu) Dalam Air dan Sedimen di Perairan Pulau Bunguran Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi logam berat Pb dan Cu dalam air dan sedimen, membandingkan kadar logam berat tersebut dengan baku mutu untuk mengetahui tingkat pencemaran perairan, serta mengetahui hubungan antara kandungan logam berat di air dan sedimen di Perairan Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi pengambilan sampel air dan sedimen dilakukan pada 12 titik stasiun pengamatan dan analisis kandungan logam berat dilakukan di Laboratorium Pencemaran Logam Berat P2O-LIPI, Jakarta. Dari hasil penelitian diperoleh data kandungan logam timbal (Pb) dalam air berkisar antara 0,002-0,004 ppm dengan rata-rata sebesar 0,003 ppm, kandungan Cu dalam air tidak terdeteksi (<0,001 ppm)-0,001 ppm, bila dibandingkan dengan Baku Mutu Air Laut berdasarkan KEPMENLH/51/2004, kandungan logam Pb dan Cu dalam air masih berada dibawah ambang batas. Kandungan Pb dalam sedimen berkisar antara 3,27-19,1 ppm dengan rata-rata sebesar 9,05 ppm dan kandungan Cu bekisar antara 1,79- 6,47 ppm dengan rata-rata sebesar 4,06 ppm, kandungan Pb dan Cu dalam sedimen tersebut masih berada dibawah ambang batas baku mutu yang dikeluarkan oleh negara Australia dan Selandia Baru (ANZECC/ARMCANZ, 2000).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Penilaian Risiko Kualitatif Pemasukan Rabies Dari Pulau Sumatera Ke Provinsi Kepulauan Riau

Penilaian Risiko Kualitatif Pemasukan Rabies Dari Pulau Sumatera Ke Provinsi Kepulauan Riau

Rute Kapal ferry adalah Dumai-Tanjung Balai Karimun-Batam- Tanjungpinang dengan lama perjalanan kuranglebih 7 jam, melakukan pelayaran 1 kali per hari. Kapal roro tujuan Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau berasal dari Tanjung Balai Karimun dan biasanya merupakan kapal yang membawa kendaraan pengangkut dari Sumatera. Kapal roro dalam seminggu 2 kali berlayar. Dari hasil wawancara dengan nahkoda/ABK kapal, modus anjing yang dilalulintaskan adalah dititip kepada ABK kapal kemudian diambil di pelabuhan tujuan. Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang pada bulan November 2013 telah melakukan pemusnahan 1 ekor anjing yang dititipkan kepada supir angkutan dari sumatera barat menggunakan kapal roro. Diketahui tujuan anjing tersebut dilalulintaskan adalah untuk berburu. Hasil wawancara yang lain diketahui bahwa pernah ada 5 ekor anjing berburu yang mau dititipkan ke Nahkoda walaupun dalam pengakuannya tidak jadi dilalulintaskan. Hal ini berisiko terhadap pemasukan rabies di Pulau Bintan mengingat sebelum dilalulintaskan tidak ada pemeriksaan terhadap rabies,baik pemeriksaan titer serum maupun pemeriksaan kesehatan secara fisik. Jika melihat waktu lama perjalanan kapal adalah 7 jam - 4 hari, maka apabila anjing terjangkit rabies kemungkinan belum bisa terdeteksi. Karena waktu timbulnya gejala klinis setelah gigitan antara beberapa hari hingga tahunan. Masa inkubasi rabies pada anjing umumnya 9-182 hari, kebanyakan kasus menunjukkan gejala klinis dalam 21-56 hari (FDH 2014). Sudarshan et al. (2007), menyebutkan juga bahwa masa inkubasi rabies antara 2 minggu hingga 6 bulan. Sehingga kemungkinan risiko pemasukan rabies tetap tinggi. Pada tahap ini mempunyai ketidakpastian (uncertainty) yang rendah.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

Analisis Perubahan Garis Pantai Di Pantai Timur Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau

Analisis Perubahan Garis Pantai Di Pantai Timur Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau

Beberapa kegiatan riset ilmiah yang pernah dilaksanakan penulis antara lain Inventarisasi Potensi Ekosistem Terumbu Karang untuk Pengembangan Ekowisata Bahari Snorkeling dan Diving di Pulau Beralas Pasir Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau (2013), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau (2014), Perencanaan Pengelolaan Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua (2014), Rencana Zonasi Kawasan Perbatasan Laut Provinsi Nangroe Aceh Darussalam-Provinsi Sumatera Utara (2015), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Palu Provinsi Sulawesi Tengah (2015) dan Analisis Perubahan Garis Pantai Timur Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau (2015) yang merupakan riset ilmiah dari tesis ini.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Dampak Penambangan Bauksit pada Lahan Hutan di Pulau Kas Kepulauan Riau

Dampak Penambangan Bauksit pada Lahan Hutan di Pulau Kas Kepulauan Riau

Pulau Kas merupakan salah satu pulau kecil di Kabupaten Karimun yang menjadi lokasi penambangan bauksit. Aktivitas penambangan dapat menimbulkan kerusakan yang sangat besar dan bukan tidak mungkin menenggelamkan pulau tersebut. Lahan-lahan bekas areal penambangan memiliki kesuburan tanah yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perubahan sifat fisik dan kimia tanah di Pulau Kas, Kabupaten Karimun, Propinsi Kepulauan Riau sebelum dan sesudah menjadi lahan penambangan bauksit. Penelitian ini menggunakan data hasil analisis laboratorium sifat fisik dan kimia tanah yang diperoleh dari Tim Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Karimun. Data hasil uji laboratorium sifat fisik dan kimia tanah, dianalisis secara deskriptif dan statistik dengan menggunakan uji T pada selang kepercayaan 95%. Hasil analisis menunjukan bahwa kegiatan penambangan menyebabkan perubahan pada sifat fisik tanah yakni peningkatan nilai pada variabel bulk density dan penurunan pada variabel porositas, pori drainase, air tersedia dan permeabilitas. Sedangkan pada sifat kimia tanah menunjukan peningkatan pada variabel pH, Ca, Mg, dan K dan penurunan kandungan pada variabel C-organik, N total, P bray, dan Na. Hasil analisis data secara statistik menunjukan perbedaan yang nyata pada semua variabel sifat fisik tanah yang dianalisis. Pada sifat kimia tanah yang berbeda nyata yaitu pada variabel : C-organik, N total dan P bray. Sedangkan yang tidak berbeda nyata yaitu pada variabel sifat kimia tanah yaitu : pH, Ca, Mg, K, dan Na.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Identifikasi pulau-pulau di kabupaten Lingga provinsi Kepulauan Riau berdasarkan kaidah toponimi

Identifikasi pulau-pulau di kabupaten Lingga provinsi Kepulauan Riau berdasarkan kaidah toponimi

Pulau-pulau yang tersebar di perairan laut merupakan salah satu sumberdaya yang sangat potensial sebagai lokasi pengembangan industri wisata, perikanan baik laut maupun budidaya, pemukiman, lokasi penelitian, konservasi alam maupun budaya dan lain sebagainya. Pengelolaan yang baik dengan dukungan data yang lengkap diharapkan akan menghasilkan ketahanan ekonomi daerah yang mantap dalam menghadapi persaingan regional maupun global (Dahuri, 2000).

18 Baca lebih lajut

ANALISIS POTENSI PARIWISATA DI PULAU KARIMUN PROVINSI KEPULAUAN RIAU.

ANALISIS POTENSI PARIWISATA DI PULAU KARIMUN PROVINSI KEPULAUAN RIAU.

Untuk menempuh perjalanan ke Tanjung Balai Karimun, dari Kota Bandung menuju ke Jakarta menggunakan Travel atau mobil pribadi sekitar 2,5-3 jam, setelah tiba Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta dilanjutkan dengan perjalanan ke Batam dengan menggunakan pesawat udara (Lion, Garuda, Merpati, Sriwijaya, City Link, dll) dengan lama tempuh sekitar 1 jam 40 menit dengan kisaran harga tiket tergantung hari pemesanan (weekend lebih mahal) biasanya harga termurah bias mencapai 400ribu. Setelah tiba di Bandara Internasional Hang Nadim perjalanan dilanjutkan ke pelabuhan sekupang dengan menggunakan taksi dengan lama tempuh 30 menit. Setelah tiba di pelabuhan sekupang dilanjutkan dengan perjalanan laut menggunakan kapal ferry yang cukup besar dan nyaman dengan fasilitas AC menuju Pelabuhan Tanjung Balai Karimun dengan lama tempuh 1 jam 30 menit dengan harga tiket sebesar 75ribu. Setelah itu anda akan tiba di Pulau Tanjung Balai Karimun.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

permasalahan dan isu strategis

permasalahan dan isu strategis

Beberapa faktor eksternal yang menjadi tantangan dalam pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau antara lain: sebanyak 19 Pulau Terdepan di Provinsi Kepri (Karimun 2, Batam 4, Bintan 1, Natuna 7, Anambas 5), yang Berbatasan langsung dengan Negara Tetangga menjadi tantangan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jarak Tempuh Antar Kab/Kota dan jarak tempuh antar kecamatan yang cukup lama juga menjadi tantangan untuk penyediaan sarana dan prasarana perhubungan laut untuk mempercepat waktu tempuh. Jumlah penduduk semakin bertambah, menjadi tantangan dalam penyediaan infrastruktur dan pemanfaatan ruang, serta penyediaan lapangan kerja. Persaingan antar daerah dalam menarik investasi dan promosi daerah semakin besar, menjadi tantangan bagi Provinsi Kepulauan Riau dalam menarik investasi guna meningkatkan lapangan kerja. Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Asean menjadikan persaingan produk dengan negara lain semakin besar, menjadi tantangan dalam peningkatan standarisasi, mutu dan keahlian tenaga kerja.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

bab4 permasalahan dan isu strategis

bab4 permasalahan dan isu strategis

Beberapa faktor eksternal yang menjadi ancaman dalam pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau antara lain: sebanyak 19 Pulau Terdepan di Provinsi Kepri (Karimun 2, Batam 4, Bintan 1, Natuna 7, Anambas 5), yang berbatasan langsung dengan negara tetangga menjadi tantangan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jarak tempuh antar kab/kota dan jarak tempuh antar kecamatan yang cukup lama juga menjadi tantangan untuk penyediaan sarana dan prasarana perhubungan laut untuk mempercepat waktu tempuh. Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadikan persaingan produk dengan negara lain semakin besar, menjadi tantangan dalam peningkatan standarisasi, mutu produk-produk daerah dan menjadi acaman pula terhadap kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

data Potensi

data Potensi

 kawasan strategis Pulau Dompak di Kota Tanjungpinang merupakan kawasan strategis Provinsi dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi, yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pusat pelayanan dan pusat pertumbuhan baru di Provinsi Kepulauan Riau;

1 Baca lebih lajut

this PDF file Konstruksi Identitas Nasionalisme Masyarakat Perbatasan di Kepulauan Batam | Dedees | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 1 PB

this PDF file Konstruksi Identitas Nasionalisme Masyarakat Perbatasan di Kepulauan Batam | Dedees | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 1 PB

membandingkan kurs mata uang, nilai Rupiah cenderung selalu berada di bawah mata uang Singapura (SGD 1 = Rp9.700,00) dan mata uang Malaysia (MYR 1 = Rp3.100). Kondisi ini tentu saja berpengaruh terhadap kehidupan warga negara yang tergolong kaya dan maju seperti Singapura (pendapatan per kapitanya sebelas kali lipat daripada Indonesia) dan Malaysia (pendapatan per kapitanya tiga kali lipat daripada Indonesia) dengan masyarakat di Kepulauan Batam, Indonesia. Pada akhir pekan, Kepulauan Batam, khususnya pusat perbelanjaan dan kawasan wisata, kerap diramaikan oleh orang-orang yang datang dari Singapura dan Malaysia dari berbagai etnis suku. Mereka memilih Kepulauan Batam sebagai tempat menghabiskan libur akhir pekan karena kawasan ini berjarak cukup dekat dengan Singapura dan Malaysia (sekitar 45 menit menumpang kapal ferry). Selain itu, juga karena anggapan dan pengalaman bahwa di Kepulauan Batam sangat berbeda dengan di Singapura atau Malaysia. Mulai dari harga produk, harga penginapan, harga makanan yang cenderung lebih murah, hingga berbagai aturan yang tidak terlalu ketat dan mengikat seperti di Singapura atau Malaysia (Hamsani Rahmat, 65 tahun, pensiun Dinas Kesehatan Pemerintah Singapura. Wawancara pada 7 Desember 2014). Oleh karena itu, Kepulauan Batam kerapkali dianggap sebagai kawasan ‘surga’ bagi orang- orang asing yang datang dari Singapura maupun Malaysia.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Analisis dugaan subsiden (subsidence) di Pulau Padang Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau

Analisis dugaan subsiden (subsidence) di Pulau Padang Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau

Presentasi Oka Karyanto (UGM) dan Raflis 1 (2012) menyatakan bahwa dengan asumsi: (a) tinggi elevasi lahan gambut dari muka air laut sekarang 5 m, (b) laju kenaikan muka air laut 4 mm/tahun, dan (c) laju subsiden tanah gambut 4 cm/tahun (akibat HTI), maka dalam jangka waktu 60 tahun diduga Pulau Padang akan tenggelam. Pernyataan ini perlu dikaji secara ilmiah bagaimana pendugaan subsiden di lahan gambut.

15 Baca lebih lajut

S STR 1202002 Chapter3

S STR 1202002 Chapter3

Dengan melakukan hal tersebut peneliti berharap mendapatkan hasil penelitian yang optimal sehingga bisa menjelaskan apa yang terjadi dilapangan berdasarkan pengetahuan serta bukti nyata dalam fungsi, struktur Koreografi, rias dan busana tari melemang bentan penaga yang berada di Desa Penaga Kabupaten Bintan Kepulauan Riau. Hal ini akan menjadi identitasnya sendiri untuk daerahnya agar tetap mempertahankan seni tradisinya.

16 Baca lebih lajut

Analisis Potensi dan Pengembangan Wisata Alam Air Terjun Silimalima di Kabupaten Tapanuli Selatan

Analisis Potensi dan Pengembangan Wisata Alam Air Terjun Silimalima di Kabupaten Tapanuli Selatan

Penelitian terdahulu yang telah dilakukan mengenai potensi dan strategi pengembangan wisata alam antara lain oleh Kartini et al. (2011) dengan judul penelitian Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Kepulauan Banda. Kartini et al. (2011) mendapati bahwa faktor- internal yang mendukung adalah keragaman atraksi, image kawasan yang sudah terkenal sejak VOC, sifat keterbukaan, keamanan, dan kemudahan mencapai lokasi. Sementara yang menghambat adalah belum adanya pusat informasi wisata, sifat terhadap lingkungan yang sangat rendah, SDM bidang pariwisata masih rendah, dan belum memadainya infrastruktur pendukung. Faktor-faktor eksternal yang mendukung adalah aksesibilitas, perkembangan teknologi dan informasi, regulasi, serta tingginya potensi dan minat wisatawan. Sementara yang menghambat adalah interusi budaya dan perusakan lingkungan. Strategi prioritas berdasarkan SWOT adalah pengembangan wisata diving dan snorkeling, membangun jaringan dengan wisata lain, bekerjasama dengan agen perjalanan, dan membuat website.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Tampilkan DIP: ANAMBAS ABSEN DALAM PEMETAAN URUSAN DAN PENGALIHAN P3D

Tampilkan DIP: ANAMBAS ABSEN DALAM PEMETAAN URUSAN DAN PENGALIHAN P3D

Lain halnya dengan kabupaten Natuna, yang meskipun letaknya berdekatan dengan Kepulauan Anambas, namun tetap hadir dalam rapat pemetaan urusan dan pengalihan P3D. Hal ini karena terdapat bandar udara di Kabupaten Natuna, sehingga meskipun secara jarak sangat jauh, namun ada alternatif alat transportasi selain transportasi laut yang sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan pasang surut air laut. Kabupaten lain seperti Kabupaten Lingga juga memerlukan waktu sekitar 4 jam untuk tiba di Kota Tanjung Pinang dengan menggunakan transportasi laut.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...