PUTUSAN SERTA MERTA

Top PDF PUTUSAN SERTA MERTA:

PENDAHULUAN  PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta).

PENDAHULUAN PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta).

bukti, atau jika ada hukuman dahulu dengan keputusan yang sudah mendapat kekuatan keputusan pasti demikian juga jikalau tuntutan sementara dikabulkan tambahan pula dalam perselisihan hak milik. Oleh sebab itu penggugat dapat mengajukan pada pengadilan agar putusan itu dapat dijalankan lebih dahulu. Putusan semacam ini lebih dikenal dengan Putusan Serta Merta atau Uit Voerbaar Bij Voorraad.

15 Baca lebih lajut

STUDI KOMPARASI PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENGABULKAN PERMOHONAN PUTUSAN SERTA MERTASEBELUM DAN SESUDAH BERLAKUNYASEMA NOMOR 3 TAHUN 2000 TENTANG PUTUSAN SERTA MERTA ( UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD ) DA

STUDI KOMPARASI PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENGABULKAN PERMOHONAN PUTUSAN SERTA MERTASEBELUM DAN SESUDAH BERLAKUNYASEMA NOMOR 3 TAHUN 2000 TENTANG PUTUSAN SERTA MERTA ( UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD ) DA

Secara yuridis, keberadaan SEMA Nomor 3 Tahun 2000 merupakan sebuah instrumen hukum yang mengatur mengenai lembaga putusan serta merta, meskipun kekuatan hukumnya hanya mengikat kepada hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan. Dari analisis yang penulis lakukan, bahwa pada Putusan Hakim Nomor 94/Pdt.G/2002/PN.Ska dalam pertimbangan hukumnya tidak menyebutkan SEMA Nomor 3 Tahun 2000 sebagai instrumen hukum yang dijadikan alasan untuk mengabulkan permohonan putusan serta merta yang diajukan oleh Penggugat. Akan tetapi, dalam pertimbangan hakim disebutkan bahwa dasar gugatan maupun alat bukti yang diajukan oleh Penggugat adalah suatu putusan badan peradilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, yang menurut penulis adalah Putusan Pengadilan Negeri Surakarta No. 106/Pdt.G/ 1997/PN.Ska jo Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No. 534/Pdt/ 1998/PT.Smg jo Putusan Mahkamah Agung RI 2000 No. 3118K/Pdt/1999, sehingga telah memenuhi syarat dalam Pasal 180 ayat (1) HIR dan sebagaimana juga petunjuk dalam butir ke-4 huruf f SEMA Nomor 3 Tahun 2000 yang mengatur hal yang sama bahwa hakim pengadilan negeri tidak boleh menjatuhkan putusan serta merta kecuali gugatan berdasarkan putusan yang telah memperoleh kakuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) dan mempunyai hubungan dengan pokok gugatan yang diajukan.
Baca lebih lanjut

161 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

Putusan serta merta yaitu putusan yang dapat dilaksanakan atau dieksekusi terlebih dahulu meskipun putusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Pelaksanaan putusan serta merta harus berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk mencegah terjadinya masalah baru akibat pelaksanaan putusan serta merta itu sendiri. Salah satu masalah yang terjadi akibat pelaksanaan putusan serta merta adalah sulit melakukan pemulihan kembali atas harta pailit yang telah dieksekusi apabila pailit dibatalkan Mahkamah Agung. Hal tersebut akan merugikan debitor dan mengganggu kelangsungan usaha debitor itu sendiri. Sebagai contoh kasus TPI dengan CCGL. Penelitian ini membahas beberapa permasalahan yaitu mengenai putusan serta merta dalam hukum kepailitan, perlindungan hukum terhadap debitor yang telah dijatuhi putusan serta merta dalam hukum kepailitan, dan pertimbangan Mahkamah Konstitusi terhadap putusan judicial review Nomor 144/PUU-VII/2009.
Baca lebih lanjut

125 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

Putusan serta merta yaitu putusan yang dapat dilaksanakan atau dieksekusi terlebih dahulu meskipun putusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Pelaksanaan putusan serta merta harus berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk mencegah terjadinya masalah baru akibat pelaksanaan putusan serta merta itu sendiri. Salah satu masalah yang terjadi akibat pelaksanaan putusan serta merta adalah sulit melakukan pemulihan kembali atas harta pailit yang telah dieksekusi apabila pailit dibatalkan Mahkamah Agung. Hal tersebut akan merugikan debitor dan mengganggu kelangsungan usaha debitor itu sendiri. Sebagai contoh kasus TPI dengan CCGL. Penelitian ini membahas beberapa permasalahan yaitu mengenai putusan serta merta dalam hukum kepailitan, perlindungan hukum terhadap debitor yang telah dijatuhi putusan serta merta dalam hukum kepailitan, dan pertimbangan Mahkamah Konstitusi terhadap putusan judicial review Nomor 144/PUU-VII/2009.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Penerapan Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) Oleh Hakim Dalam Perkara Perdata Berdasarkan Pasal 180 Ayat (1) HIR Dan Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia No 4 Tahun 2001 Tentang.

Penerapan Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) Oleh Hakim Dalam Perkara Perdata Berdasarkan Pasal 180 Ayat (1) HIR Dan Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia No 4 Tahun 2001 Tentang.

Setiap orang yang berada di Indonesia dapat mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Indonesia, dengan tujuan untuk mencegah adanya eigenrichting (tindakan menghakimi sendiri). Terkadang dalam mengajukan gugatan, tergugat memiliki itikad tidak baik kepada penggugat. Untuk melindungi dari itikad tidak baik tersebut, setiap pengajuan gugatan dapat dimintakan diputus dengan putusan serta merta. Penerapan putusan serta merta seringkali tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya, sehingga akhirnya Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA RI No. 13 Tahun 1964, No. 5 Tahun 1968, No. 3 Tahun 1971, No. 6 Tahun 1975, dan No. 3 Tahun 1978. Setelah surat edaran yang terakhir dikeluarkan Mahkamah Agung masih banyak penyimpangan- penyimpangan dalam penerapan putusan serta merta, sehingga akhirnya Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA RI No. 3 Tahun 2000 disusul dengan SEMA RI No. 4 Tahun 2001. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan putusan serta merta setelah SEMA RI No. 4 Tahun 2001 dikeluarkan, serta perlindungan hukum bagi pihak tergugat yang menerima putusan serta merta.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

MASALAH PUTUSAN SERTA MERTA DALAM PRAKTEK DI PENGADILAN NEGERI (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta).

MASALAH PUTUSAN SERTA MERTA DALAM PRAKTEK DI PENGADILAN NEGERI (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta).

Mengingat banyaknya permasalahan yang berhubungan dengan putusan serta-merta, maka untuk menjaga agar skripsi ini tidak menyimpang dari materi yang hendak disajikan perlu kiranya penulis memberikan pembatasan masalah sesuai dengan judul skripsi, yaitu: “Masalah Putusan Serta Merta dalam Praktek di Pengadilan Negeri” (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta).

15 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Permasalahan putusan serta merta dan provisionil . SEMA tersebut diterbitkan oleh Mahkamah Agung guna mengatur kembali penggunaan putusan serta merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan putusan provisionil yang dijatuhkan majelis hakim dalam menyelesaikan perkara di pengadilan. Dengan dikeluarkannya SEMA tersebut agar tidak menimbulkan kerugian bagi pihak debitor. Teori pendukung yaitu teori perlindungan hukum. Perlindungan hukum merupakan konsep universal dari negara hukum. Perlindungan hukum diberikan apabila terjadi pelanggaran maupun tindakan yang bertentangan dengan hukum yang dilakukan oleh pemerintah, baik perbuatan penguasa yang melanggar undang-undang maupun masyarakat yang harus diperhatikannya. Pengertian dalam kata perlindungan hukum terdapat suatu usaha untuk memberikan hak-hak yang dilindungi sesuai dengan kewajiban yang harus dilakukan. 26
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN EKSEKUSI TERHADAP PUTUSAN SERTA MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD)

PELAKSANAAN EKSEKUSI TERHADAP PUTUSAN SERTA MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD)

Hukum Acara Perdata di pengadilan digunakan apabila ada perselisihan atau persengketaan antara para pihak di mana mereka yang berselisih menempuh jalan lembaga peradilan untuk mengakhiri perse1isihannya. Hal ini terlihat dengan adanya putusan Hakim yang dikeluarkan untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.

38 Baca lebih lajut

Eksekusi putusan serta merta (Studi Putusan Nomor 08/Pdt.G/2011/PN.Pwr di Pengadilan Negeri Purworejo) COVER

Eksekusi putusan serta merta (Studi Putusan Nomor 08/Pdt.G/2011/PN.Pwr di Pengadilan Negeri Purworejo) COVER

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul : EKSEKUSI PUTUSAN SERTA MERTA (STUDI PUTUSAN NOMOR 08/PDT.G/2011/PN.PWR DI PENGADILAN NEGERI PURWOREJO) adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) ini diberi tanda citasi dan ditujukan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA  PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta).

PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta).

Dengan mengucapkan puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta)”.

14 Baca lebih lajut

BUKU PEDOMAN II 2013.pdf

BUKU PEDOMAN II 2013.pdf

(5) Untuk pelaksanaan eksekusi putusan serta merta, ketua pengadilan agama/mahkamah syar’iyah wajib memperhatikan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2000 dan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2001, yang mengatur bahwa dalam pelaksanaan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) harus disertai penetapan sebagaimana diatur dalam butir 7 Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2000 yang menyebutkan “Adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang/objek eksekusi sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain jika ternyata dikemudian hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan pengadilan tingkat pertama”.
Baca lebih lanjut

379 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

PENDAHULUAN PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

2. ” Eksekusi Putusan Serta-Merta ( Uitvoerbaar Bij Voorraad ) dalam Sengketa Perdata ( Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta ) ” ditulis oleh Tanjung Ayu Dyah Wulaningrum. NIM: 1103161, Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret. 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan eksekusi putusan serta merta ( UVB ) yang dijalankan oleh Pengadilan Negeri Surakarta dan mengetahui tindakan atau langkah yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Surakarta apabila timbul suatu problematika dalam eksekusi putusan serta merta yang dijalankan. Berbeda dengan penelitian yang akan penulis lakukan, bahwa penulis menitikberatkan pokok permasalahan pada perkembangan pengaturan putusan serta-merta yang dilakukan oleh Mahkamah Agung.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Laporan Individu Pendampingan Keluarga KKN PPM UNUD Periode XIII Tahun 2016 Desa Temesi - Kecamatan Gianyar - Kabupaten Gemesi.

Laporan Individu Pendampingan Keluarga KKN PPM UNUD Periode XIII Tahun 2016 Desa Temesi - Kecamatan Gianyar - Kabupaten Gemesi.

Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa di tiap-tiap desa yang telah ditentukan adalah program pendampingan keluarga (KK Dampingan). Program pendampingan keluarga adalah program unggulan yang dikembangkan sebagai muatan lokal dalam pelaksanaan program KKN-REVOLUSI MENTAL Universitas Udayana. KK dampingan merupakan salah satu program pokok, yaitu program pokok non-tema yang wajib dilaksanakan selama masa KKN-REVOLUSI MENTAL. Maksud dari program pendampingan keluarga atau KK dampingan adalah untuk membantu pemberdayaan keluarga melalui penerapan ilmu dan teknologi dalam bidang wirausaha, pendidikan dan keterampilan, KB dan kesehatan, serta pembinaan lingkungan untuk membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera. Tujuan program pendampingan keluarga bagi mahasiswa adalah untuk meningkatkan kepedulian dan kemampuan mahasiswa dalam mengatasi permasalahan keluarga melalui penerapan ilmu dan teknologi yang telah dipelajari. Dalam KKN-REVOLUSI MENTAL UNUD ini, setiap mahasiwa wajib mendampingi satu keluarga pra-sejahtera atau kurang mampu. Kegiatan KK dampingan dilaksanakan pada beberapa keluarga yang terdapat di setiap dusun desa temesi, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar. Pada KKN- TEMATIK RM UNUD periode XIII ini penulis mendapat kesempatan untuk mendampingi salah satu keluarga yang ada di Desa Temesi, yaitu keluarga Pande Wayan Merta.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

Jika ditinjau dari cita-cita hukum, maka fenomena tersebut tidak sesuai dengan keadilan dan kepastian hukum. Terdapat pro-kontra terhadap putusan serta-merta. Menurut Bagir Manan putusan ini sering menimbulkan masalah karena bisa jadi putusan bandingnya berkebalikan dengan putusan tingkat pertama. Ini justru jadi bumerang bagi pengadilan karena nantinya pengadilan yang disalahkan. 1 Pendapat tersebut mengungkapkan bahwa putusan serta-merta sebenarnya tidak diperlukan lagi karena lebih banyak membawa masalah. Tetapi mengutip pendapat Subekti, sesungguhnya apabila Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung dapat melaksanakan tugasnya dengan cepat, yang dimaksud adalah apabila
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENUTUP  PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

PENUTUP PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

1. Seharusnya masalah yang cukup serius seperti putusan serta-merta ini tidak hanya diatur dalam SEMA tetapi PERMA, karena PERMA memang memiliki keunggulan dibandingkan SEMA baik dari segi jangkauan, daya mengikat maupun tingkat kebutuhan mendesaknya .

4 Baca lebih lajut

SKRIPSI  PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

SKRIPSI PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

Judul tersebut penulis pilih dikarenakan ketertarikan penulis terhadap Hukum acara perdata, khususnya tentang putusan serta-merta, mengingat banyak masalah dalam penerapan aturannya. Sehingga penulis bermaksud membahas perkembangan pengaturan putusan serta-merta jika disesuaikan dengan keadilan dan kepastian hukum.

13 Baca lebih lajut

Show all 7505 documents...