PUTUSAN SERTA MERTA

Top PDF PUTUSAN SERTA MERTA:

Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

Hukum kepailitan Indonesia mengenal adanya putusan serta merta , hal ini dapat dilihat dalam UUK terdapat ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang putusan serta merta tersebut. Pelaksanaan putusan serta merta harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam HIR/RBg, SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001. Ketentuan dalam UU Kepailitan dan ketetapan dalam SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001 mengenai pemberian uang jaminan yang nilai sama dengan objek/barang yang dieksekusi oleh pemohon eksekusi kepada pengadilan, merupakan ketentuan yang menjamin perlindungan hukum kepada si debitor apabila dikemudian hari pernyataan pailit dibatalkan. Kasus CCGL dengan TPI yang mendapat putusan akhir pailit TPI dibatalkan, menjadikan TPI mengajukan judicial review sebagai bentuk ketidakpuasan TPI terhadap kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas dan telah merugikan TPI. Permohonan provisi maupun permohonan pokok TPI ditolak oleh Hakim MK dengan pertimbangan bahwa MK tidak berwenang untuk melakukan pemberhentian kurator, MK hanya memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara yang bersifat abstrak bukan konkret seperti kasus TPI, dan MK berpendapat bahwa mengenai kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas, memiliki batasan-batasan yang diatur oleh UU kepailitan itu sendiri.
Baca lebih lanjut

125 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

PENDAHULUAN PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

Terdapat pengecualiannya yaitu Pasal 180 ayat (1) HIR dan atau Pasal 191 ayat (1) RBG yang memberikan kesempatan agar putusan Pengadilan Negeri dapat langsung dieksekusi walaupun diajukan upaya hukum terhadap putusan tersebut atau dalam SEMA No.3 Tahun 2000 biasa disebut sebagai putusan serta-merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad).

11 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

Muncul berbagai Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) untuk mencoba mencegah dan mengatasi persoalan yang ada, SEMA yang pertama diedarkan adalah SEMA No.13 Tahun 1964. Setelah SEMA tersebut diedarkan lalu ada lagi SEMA yang mengatur lebih lanjut yaitu SEMA No. 5 Tahun 1969. Kemudian diedarkan lagi SEMA No.3 Tahun 1971 yang mencabut 2(dua) SEMA sebelumnya. Diatur lebih lanjut dalam SEMA No.6 Tahun 1975 dan SEMA No.3 Tahun 1978. Terakhir yang digunakan sebagai pedoman oleh hakim dalam menjatuhkan putusan serta- merta adalah SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001, sedangkan SEMA yang lainnya dinyatakan tidak berlaku lagi. Yang menjadi pokok pembahasan adalah apakah berbagai macam SEMA yang dikeluarkan dan dicabut Mahkamah Agung sudah memenuhi cita-cita hukum khususnya keadilan dan kepastian hukum? Berdasarkan dengan fenomena tersebut penulis bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul : “ Perkembangan Pengaturan Putusan Serta-Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) dari Pendekatan Keadilan dan Kepastian Hukum ”
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

MASALAH PUTUSAN SERTA MERTA DALAM PRAKTEK DI PENGADILAN NEGERI (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta).

MASALAH PUTUSAN SERTA MERTA DALAM PRAKTEK DI PENGADILAN NEGERI (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta).

Dalam Surat Edaran Mahkamah Agung No. 06 tahun 1975 Mahkamah Agung meminta kepada para ketua Pengadilan Tinggi dan para ketua Pengadilan Negeri agar supaya tidak menjatuhkan putusan serta-merta walaupun syarat-syarat dalam pasal 180 ayat 1 HIR/pasal 191 ayat 1 RBg telah terpenuhi. Hanya dalam hal-hal yang tidak dapat dihindarkan keputusan yang demikian yang sangat ekseptional sifatnya dapat dijatuhi. Dalam hal itupun hendaknya diingat bahwa keputusan itu diberikan:

15 Baca lebih lajut

SKRIPSI  PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

SKRIPSI PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

Puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat yang dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat mengatasi segala rintangan dan hambatan guna menyelesaikan skripsi dengan judul “ PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (Uitvoerbaar Bij Voorraad) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM ” sesuai dengan yang diharapkan.

13 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA  PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta).

PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta).

Dengan mengucapkan puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta)”.

14 Baca lebih lajut

PENUTUP  PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

PENUTUP PERKEMBANGAN PENGATURAN PUTUSAN SERTA-MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DARI PENDEKATAN KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM.

1. Seharusnya masalah yang cukup serius seperti putusan serta-merta ini tidak hanya diatur dalam SEMA tetapi PERMA, karena PERMA memang memiliki keunggulan dibandingkan SEMA baik dari segi jangkauan, daya mengikat maupun tingkat kebutuhan mendesaknya .

4 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Permasalahan putusan serta merta dan provisionil . SEMA tersebut diterbitkan oleh Mahkamah Agung guna mengatur kembali penggunaan putusan serta merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan putusan provisionil yang dijatuhkan majelis hakim dalam menyelesaikan perkara di pengadilan. Dengan dikeluarkannya SEMA tersebut agar tidak menimbulkan kerugian bagi pihak debitor. Teori pendukung yaitu teori perlindungan hukum. Perlindungan hukum merupakan konsep universal dari negara hukum. Perlindungan hukum diberikan apabila terjadi pelanggaran maupun tindakan yang bertentangan dengan hukum yang dilakukan oleh pemerintah, baik perbuatan penguasa yang melanggar undang-undang maupun masyarakat yang harus diperhatikannya. Pengertian dalam kata perlindungan hukum terdapat suatu usaha untuk memberikan hak-hak yang dilindungi sesuai dengan kewajiban yang harus dilakukan. 26
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta).

PENDAHULUAN PELAKSANAAN PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM SUATU PERKARA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta).

Metode Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan Yuridis sosiologis. Yuridis Sosiologis yaitu suatu pendekatan dengan cara pandang dari aspek hukum mengenai segala sesuatu yang terjadi didalam masyarakat yang mempunyai akibat hukum untuk dihubungkan dengan ketentuan perundang- undangan yang ada berlaku saat ini. 5 Sehingga dapat diketahui pelaksanaan Putusan Serta Merta (Uit Voerbaar Bij Voorraad) dalam suatu perkara perdata di Pengadilan Negeri Surakarta.

15 Baca lebih lajut

Penerapan Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) Oleh Hakim Dalam Perkara Perdata Berdasarkan Pasal 180 Ayat (1) HIR Dan Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia No 4 Tahun 2001 Tentang.

Penerapan Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) Oleh Hakim Dalam Perkara Perdata Berdasarkan Pasal 180 Ayat (1) HIR Dan Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia No 4 Tahun 2001 Tentang.

Setiap orang yang berada di Indonesia dapat mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Indonesia, dengan tujuan untuk mencegah adanya eigenrichting (tindakan menghakimi sendiri). Terkadang dalam mengajukan gugatan, tergugat memiliki itikad tidak baik kepada penggugat. Untuk melindungi dari itikad tidak baik tersebut, setiap pengajuan gugatan dapat dimintakan diputus dengan putusan serta merta. Penerapan putusan serta merta seringkali tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya, sehingga akhirnya Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA RI No. 13 Tahun 1964, No. 5 Tahun 1968, No. 3 Tahun 1971, No. 6 Tahun 1975, dan No. 3 Tahun 1978. Setelah surat edaran yang terakhir dikeluarkan Mahkamah Agung masih banyak penyimpangan- penyimpangan dalam penerapan putusan serta merta, sehingga akhirnya Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA RI No. 3 Tahun 2000 disusul dengan SEMA RI No. 4 Tahun 2001. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan putusan serta merta setelah SEMA RI No. 4 Tahun 2001 dikeluarkan, serta perlindungan hukum bagi pihak tergugat yang menerima putusan serta merta.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Eksekusi putusan serta merta (Studi Putusan Nomor 08/Pdt.G/2011/PN.Pwr di Pengadilan Negeri Purworejo) COVER

Eksekusi putusan serta merta (Studi Putusan Nomor 08/Pdt.G/2011/PN.Pwr di Pengadilan Negeri Purworejo) COVER

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul : EKSEKUSI PUTUSAN SERTA MERTA (STUDI PUTUSAN NOMOR 08/PDT.G/2011/PN.PWR DI PENGADILAN NEGERI PURWOREJO) adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) ini diberi tanda citasi dan ditujukan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

Hukum kepailitan Indonesia mengenal adanya putusan serta merta , hal ini dapat dilihat dalam UUK terdapat ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang putusan serta merta tersebut. Pelaksanaan putusan serta merta harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam HIR/RBg, SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001. Ketentuan dalam UU Kepailitan dan ketetapan dalam SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001 mengenai pemberian uang jaminan yang nilai sama dengan objek/barang yang dieksekusi oleh pemohon eksekusi kepada pengadilan, merupakan ketentuan yang menjamin perlindungan hukum kepada si debitor apabila dikemudian hari pernyataan pailit dibatalkan. Kasus CCGL dengan TPI yang mendapat putusan akhir pailit TPI dibatalkan, menjadikan TPI mengajukan judicial review sebagai bentuk ketidakpuasan TPI terhadap kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas dan telah merugikan TPI. Permohonan provisi maupun permohonan pokok TPI ditolak oleh Hakim MK dengan pertimbangan bahwa MK tidak berwenang untuk melakukan pemberhentian kurator, MK hanya memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara yang bersifat abstrak bukan konkret seperti kasus TPI, dan MK berpendapat bahwa mengenai kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas, memiliki batasan-batasan yang diatur oleh UU kepailitan itu sendiri.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

STUDI KOMPARASI PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENGABULKAN PERMOHONAN PUTUSAN SERTA MERTASEBELUM DAN SESUDAH BERLAKUNYASEMA NOMOR 3 TAHUN 2000 TENTANG PUTUSAN SERTA MERTA ( UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD ) DA

STUDI KOMPARASI PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENGABULKAN PERMOHONAN PUTUSAN SERTA MERTASEBELUM DAN SESUDAH BERLAKUNYASEMA NOMOR 3 TAHUN 2000 TENTANG PUTUSAN SERTA MERTA ( UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD ) DA

Pertimbangan hakim dalam Putusan Hakim Nomor 94/Pdt.G/2002/PN.Ska yang mengabulkan permohonan putusan serta merta Penggugat menyatakan bahwa “oleh karena dasar gugatan maupun alat bukti yang diajukan Penggugat adalah suatu putusan badan peradilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka permohonan Penggugat tersebut adalah memenuhi ketentuan Pasal 180 HIR dan oleh karenanya patut dikabulkan.” Menurut penulis, bahwa putusan serta merta tersebut dikabulkan oleh hakim karena dasar gugatannya maupun alat bukti yang diajukan Penggugat adalah suatu putusan badan peradilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap memenuhi syarat yang ditentukan dalam Pasal 180 ayat (1) HIR yaitu pengadilan negeri dapat menjatuhkan putusan serta merta jika ada hukuman lebih dahulu dengan keputusan yang sudah mendapat kekuasaan pasti (inkracht van gewijsde). Pertimbangan hukum tersebut menurut penulis kurang terperinci, yaitu tidak menyebutkan putusan badan peradilan mana yang dijadikan syarat dikabulkannya permohonan putusan serta merta yang diajukan Penggugat.
Baca lebih lanjut

161 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN EKSEKUSI TERHADAP PUTUSAN SERTA MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD)

PELAKSANAAN EKSEKUSI TERHADAP PUTUSAN SERTA MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD)

Hukum Acara Perdata di pengadilan digunakan apabila ada perselisihan atau persengketaan antara para pihak di mana mereka yang berselisih menempuh jalan lembaga peradilan untuk mengakhiri perse1isihannya. Hal ini terlihat dengan adanya putusan Hakim yang dikeluarkan untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.

38 Baca lebih lajut

BUKU PEDOMAN II 2013.pdf

BUKU PEDOMAN II 2013.pdf

(5) Untuk pelaksanaan eksekusi putusan serta merta, ketua pengadilan agama/mahkamah syar’iyah wajib memperhatikan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2000 dan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2001, yang mengatur bahwa dalam pelaksanaan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) harus disertai penetapan sebagaimana diatur dalam butir 7 Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2000 yang menyebutkan “Adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang/objek eksekusi sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain jika ternyata dikemudian hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan pengadilan tingkat pertama”.
Baca lebih lanjut

379 Baca lebih lajut

DASAR HUKUM PUTUSAN SELA tentang

DASAR HUKUM PUTUSAN SELA tentang

Menurut M. Yahya Harahap, S.H. dalam buku Hukum Acara Perdata, (penerbit Sinar Grafika, Jakarta 2005), hal. 429 mendalilkan berdasar Pasal 9 ayat (1) UU No. 20 Tahun 1947 tentang Pengadilan Ulangan di Jawa dan Madura, dan menyatakan bahwa Putusan Pengadilan Negeri yang dapat dibanding adalah hanya putusan akhir. Sedangkan yang bukan putusan akhir, seperti putusan sela hanya dapat dimintakan banding bersama- sama dengan putusan akhir. Oleh karena itu, terhadap putusan sela yang dijatuhkan terhadap eksepsi kompetensi, tidak dapat diajukan banding secara tersendiri. Sedangkan dalam Pasal 136 HIR, putusan penolakan eksepsi kompetensi adalah putusan sela yang tidak dapat dibanding tersendiri, tetapi harus diputuskan bersama-sama dengan pokok perkara. Dengan demikian, terdapat kontroversi dapat-tidaknya eksepsi diajukan banding, baik bersama-sama, atau tersendiri dan terpisah dari pokok perkara.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Wajib diumumkan serta merta | Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sleman

Wajib diumumkan serta merta | Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sleman

Kegiatan Peningkatan Pelayanan Publik Dalam Bidang Kependudukan pada tahun 2016 dengan output kegiatan yaitu pelayanan penerbitan dokumen pendaftaran penduduk, jemput bola bagi difabel[r]

26 Baca lebih lajut

Upaya Hukum Kasasi oleh Jaksa Penuntut U

Upaya Hukum Kasasi oleh Jaksa Penuntut U

Dikaitkan dengan teori-teori keadilan maka penulis berpendapat dalam perkara-perkara yang biasa apalagi sederhana, terhadap putusan bebas seharusnya Jaksa Penuntut Umum tidak melakukan upaya hukum kasasi karena jika memang terdakwa tidak terbukti melakukan tindak pidana yang didakwakan maka itu merupakan keadilan bagi diri terdakwa dan penulis berkeyakinan terhadap perkara biasa tersebut tidak diajukannya kasasi tidak akan menimbulkan masalah karena tidak menyangkut kepada kepentingan masyarakat luas. Lain halnya kalau menyangkut perkara. besar dan penting, apalagi ramai mendapat perhatian masyarakat melalui sorotan media sebagai contoh pada perkara-perkara korupsi, dengan adanya putusan bebas kadang-kadang tidak dapat diterima oleh penuntut umum dan sukar dimengerti oleh masyarakat. Hal ini jika dikaitkan dengan teori keadilan John Rawls, dimana keadilan itu harusnya memberikan kemanfaatan bagi masyarakat maka sesungguhnya ketentuan Pasal 244 KUHAP yang terlalu positivistik tersebut bisa membuat masyarakat tidak mendapat keadilan. Maka dari itu timbullah usaha untuk menerobos jalan buntu yang diciptakan oleh putusan bebas dengan diajukannya upaya hukum kasasi oleh Jaksa Penuntut Umum terhadap putusan bebas.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

Upaya Meraih Rahmat Allah swt

Upaya Meraih Rahmat Allah swt

Begitulah hendaknya, manusia sebagai hamba yang lemah tidak dibenarkan terlalu merasa aman dengan amal ibadah yang telah kita kerjakan.. Karena hal itu tidak serta merta mampu menyelamat[r]

5 Baca lebih lajut

Print this article Studi Kasus di Pengadilan Tinggi Agama Semarang | Muhajarah | Sawwa: Jurnal Studi Gender 1 PB

Print this article Studi Kasus di Pengadilan Tinggi Agama Semarang | Muhajarah | Sawwa: Jurnal Studi Gender 1 PB

Akibat Akibat Akibat Akibat HukumHukumHukum Putusan Pengadilan Agama dalam Perkara Hukum Putusan Pengadilan Agama dalam Perkara Putusan Pengadilan Agama dalam Perkara Putusan Pengadila[r]

20 Baca lebih lajut

Show all 7505 documents...