rambu solo

Top PDF rambu solo:

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral T2 752011033 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral T2 752011033 BAB V

dalam siklus hidup orang Toraja. Ekspresi penerimaan terhadap kematian tersebut tertata sedemikian rupa dalam rambu solo’ . Mereka menghayati dukacita kematian sebagai dukacita bersama. Penghayatan inilah yang mendorong terbentuknya kumpulan massa yang besar dalam rambu solo’.

5 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral T2 752011033 BAB IV

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral T2 752011033 BAB IV

Dengan uraian tersebut di atas, kita dapat memperoleh gambaran apa dan bagaimana Aluk Todolo di Sarang Dena’ Simbuang mengelola dukacita mereka secara kreatif dan efektif dalam kebersamaan untuk saling mendampingi. Mereka hadir dalam rambu solo’ karena didorong oleh rasa keprihatinan terhadap peristiwa kematian kerabatnya yang tidak lain adalah darah mereka sendiri. Keprihatinan tersebut mereka wujudkan dalam upacara pemakaman yang layak menurut aturan tradisi yang sudah tertata berdasarkan strata sosial almarhum.

17 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral

Sampai sejauh ini rambu solo’ hanya dipahami sebagai tradisi upacara pemakaman dalam Aluk Todolo yang di kemudian hari juga diwarisi oleh jemaat Kristen di Toraja untuk mengupacarakan warga jemaatnya yang meninggal. Oleh karena beberapa sebab, pelaksanaan tradisi rambu solo’ di dalam jemaat Kristen telah mengalami pergeseran. Beberapa ritus penting dalam rambu solo’ Aluk Todolo dihilangkan tanpa ada ritus pengganti yang dipersiapkan oleh gereja.Kesakralan upacara pemakaman telah tergantikan dengan kemeriahan “pesta orang mati”. Sebagai akibatnya, tradisi rambu solo’ Kristen menjadi kehilangan makna dan tujuan sebagai wadah solidaritas kelompok yang mendampingi anggota keluarganya yang sedang berduka karena peristiwa kematian.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERSEPSI MASYARAKAT TORAJA RANTAU ATAS UPACARA RAMBU SOLO’

PERSEPSI MASYARAKAT TORAJA RANTAU ATAS UPACARA RAMBU SOLO’

2.3.1 Upacara Adat Toraja ................................................... 2.3.1.1. Tradisi Upacara.............................................. 2.3.2. Aluk Todolo ............................................................... 2.3.2.1. Rambu Solo’.................................................. 2.3.2.2. Proses umum Rambu Solo ........................... 2.3.3. Teori Konflik Lewis Coser .......................................

12 Baca lebih lajut

PERSEPSI MASYARAKAT TORAJA RANTAU ATAS UPACARA RAMBU SOLO’

PERSEPSI MASYARAKAT TORAJA RANTAU ATAS UPACARA RAMBU SOLO’

Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum dilaksanakannya upacara Rambu Solo’ maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit. Karena statusnya masih ‘sakit’, maka orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh arwah, harus terus dijalankan seperti biasanya. (Frans Bararuallo,2010) .

9 Baca lebih lajut

Gambaran fase dukacita saat upacara tradisional rambu solo pada keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.

Gambaran fase dukacita saat upacara tradisional rambu solo pada keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.

Prosesi Rambu Solo’ tidak seperti upacara-upacara kematian yang banyak dilakukan di berbagai tempat di Tanah Air yang biasanya kental dalam suasana dukacita, pada upacara kematian di Tana Toraja kesan kesedihan itu sama sekali tak muncul ke permukaan. Tak ada ratap tangis, tak ada wajah-wajah duka (www.kompas.com, 2005). Dalam upacara tersebut, kesedihan tampaknya cuma terucap lewat busana hitam dan lagu ratapan yang berisi puji-pujian bagi tokoh yang tengah diupacarai. Itu pun kalau orang yang mengikuti upacara tersebut mengerti makna kada-kada atau syair dari lagu-lagu yang dikidungkan. Kenyataannya, tak banyak orang yang paham makna dari untaian kata yang dilantunkan, baik dalam ma’badong maupun ma’katia ( tarian dan lagu daerah khusus untuk pemakaman) itu, bahkan di kalangan orang-orang Tana Toraja sekalipun. Hal itu bisa dimengerti karena kada-kada yang ada dalam nyanyian ma’badong dan ma’katia menggunakan bahasa tinggi, yang biasanya hanya dipakai oleh kalangan tominaa atau para penghulu adat (www.kompas.com, 2005).
Baca lebih lanjut

129 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral T2 752011033 BAB I

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral T2 752011033 BAB I

yaitu: pertama, miskin ekonomi yang disebabkan oleh hilangnya ethos kerja karena pengaruh budaya konsumtif yang sangat bergantung pada kiriman keluarga dari rantau; kedua, miskin budaya dalam arti kebangkrutan nilai-nilai budaya karena tergerus gengsi, yang praktis sudah menjadi “predator budaya” karena mematikan nilai-nilai autentik aluk yang menjadi sumber nilai-nilai budaya Toraja. Pengeroposan budaya dari dalam seperti ini memudahkan masuknya pengaruh dari luar yang masuk melalui pintu ekonomi dan agama. Selanjutnya, ia berpendapat bahwa penyebab dari “kemiskinan kultural ganda” tersebut di atas adalah justru berakar pada interpretasi gelombang pertama sejak 1913 dimana interpretasi tersebut telah memisahkan aluk dari adat – dengan kata lain mencabut nilai religius aluk – dan menghapus stratifikasi sosial tanpa instrument pengganti yang sekurang-kurangnya sama kuatnya untuk membatasi jumlah pemotongan hewan kurban pada ritual rambu solo’. Lih. Reinterpretasi Dan Reaktualisasi Budaya Toraja – Refleksi Seabad Kekristenan Masuk Toraja (Yogyakarta: Penerbit Gunung Sopai, 2012), 5-9.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Upacara Kematian Di Tana Toraja : Rambu Solo

Upacara Kematian Di Tana Toraja : Rambu Solo

Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan, disebut dengan Puya, yang terletak di bagian selatan tempat tinggal manusia. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian. Dikatakan demikian, karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman, bahkan selalu diajak berbicara.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Studi Perubahan Sosial terhadap Peranan Perempuan dalam Upacara Rambu Solo’ Toraja

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Studi Perubahan Sosial terhadap Peranan Perempuan dalam Upacara Rambu Solo’ Toraja

Studi Perubahan Sosial Terhadap Peran Perempuan Toraja Dalam Upacara Rambu Solo Penelitian ini bertujuan untuk melihat bentuk-bentuk perubahan sosial yang terjadi sehingga mengakibatkan peran perempuan Toraja tergeser bahkan dihilangkan dari salah satu tradisi yang ada di dalam masyarakat Toraja, yaitu tradisi upacara orang mati atau yang dikenal sebagai Rambu Solo’ . Selain melihat melalui kacamata sosial, penelitian ini tentu saja juga menggunakan kacamata dari perspektif feminis yang juga ikut melihat serta mengkaji lebih lanjut tentang peranan perempuan dalam sebuah kebudayaan terlebih lagi budaya dalam masyarakat yang menganut paham patriaki. Adapun dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik analisa deksriptif. Penelitian ini dilakukan di T oraja, khususnya di daerah Bori’, sehingga Jemaat Bori’ Klasis Sasi Toraja Utara menjadi narasumber penulis serta penulis juga melihat beberapa hasil temuan-temuan dari penelitian yang dilakukan mahasiswa STAKN Toraja sebagai tambahan informasi untuk penelitian ini. Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perubahan sosial dan teori feminis. Menurut Sztompka, perubahan-perubahan akan terus terjadi di dalam masyarakat seiring berjalanya waktu. Masyarakat akan dipengaruhi oleh majunya perkembangan zaman, terutama di Barat, dan juga karena terus maju dan berkembangnya pola pikir masyarakat dari masyarakat kuno menjadi berubah ke masyarakat modern. Hal inilah yang kemudian salah satu bentuk perubahan yang terjadi di dalam masyarakat Toraja, terlebih lagi ketika Agama khususnya Agama Kristen masuk ke Toraja. Segala bentuk praktik animisme dilarang bahkan dihilangkan dalam masyarakat Toraja. Kemudian dalam prosesnya, masyarakat Toraja terutama kaum perempuan memiliki ruang gerak yang terbatas karena dianggap sebagai manusia kelas dua. Hal inilah yang menyebabkan sehingga perempuan tidak mampu mempertahankan keeksistensian dirinya dalam sebuah tradisi yang ada di Toraja. Sehingga dengan demikian, harapan yang ingin dicapai adalah para perempuan Toraja kemudian sadar dan mau bangkit serta belajar akan tradisi dan ritus-ritus yang ada dalam masyarakat Toraja. Diharapkan juga agar Sinode Gereja Toraja mampu untuk meneliti dan mengeksekusi lebih lanjut akan praktik ritual adat yang sekiranya masih merangkul kaum perempuan, agar tidak hanya berperan sebagai pekerja domestik dalam sebuah upacara adat.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

TRADISI PEMAKAMAN NEGERI DI ATAS AWAN TA

TRADISI PEMAKAMAN NEGERI DI ATAS AWAN TA

• Dunia sudah mengetahui dan mengenal akan keindahan budaya dan tradisi masyarakat Tana toraja. Dari sekian banyaknya budaya dan tradisi yang dimiliki, yang paling banyak diekspos adalah Rambu solo’ atau yang disebut dengan upacara kematian. Rambu solo’ adalah upacara besar-besaran yang sering diadakan oleh masyarakat Toraja, sehingga tidak heran jika dari semua acara baik itu acara perkawinan maupun acara syukuran, upacara rambu solo’ menduduki urutan pertama. Masyarakat Tana Toraja bahkan tidak segan-segan untuk

14 Baca lebih lajut

KONFLIK KEBUDAYAAN MENURUT TEORI LEWIS ALFRED COSER DAN RELEVANSINYA DALAM UPACARA PEMAKAMAN (

KONFLIK KEBUDAYAAN MENURUT TEORI LEWIS ALFRED COSER DAN RELEVANSINYA DALAM UPACARA PEMAKAMAN (

Sebagai kelompok atau pun suku yang berbeda dengan yang lainnya, suku Toraja juga memiliki budaya yang menjadikannya unik di tengah-tengah kemajemukan suku-suku bangsa di Indonesia. Salah satu budaya yang sangat terkenal dari Tana Toraja bahkan dikenal sampai ke mancanegara ialah budaya Rambu Solo’ atau upacara pemakaman. Upacara tersebut biasanya dilaksanakan dengan memperhatikan strata sosial orang yang meninggal. Bagi mereka yang termasuk dalam kelompok the have, biasanya mereka melangsungkan upacara ini dengan kesan meriah. Hal itu dikarenakan mereka perlu menunjukkan bahwa mereka memang berasal dari kelompok masyarakat kalangan atas. Berbeda dengan kelompok masyarakat yang tidak punya, atau berasal dari kelompok hamba/rakyat merdeka biasa, mereka tidak dapat melakukan upacara sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok bangsawan. Upacara Rambu Solo’ merupakan sebuah upacara yang sarat dengan nilai-nilai adat-istiadat (aluk) yang mengikat masyarakat Toraja. Kepercayaan lama percaya bahwa “Aluk diciptakan di langit. Oleh karena itu, aluk itu ilahi pula dan seluruh makhluk tunduk kepada Aluk.” 1
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Tradisi Dari Wikipedia bahasa Indonesia

Tradisi Dari Wikipedia bahasa Indonesia

Dalam upacara kematian Rambu Solo, kesedihan tidak terlau tergambar di wajah-wajah keluarga yang berduka, sebab mereka punya waktu yang cukup untuk mengucapkan selamat jalan kepada si mati, sebab jenazah yang telah mati biasanya disimpan dalam rumah adat ( tongkonan ), disimpan bisa mencapai hitungan tahun. Maksud dari jenazah disimpan ada beberapa alasan, pertama adalah menunggu sampai keluarga bisa atau mampu untuk melaksanakan upacara kematian Rambu Solo, kedua adalah menunggu sampai anak-anak dari si mati datang semua untuk siap menghadiri pesta kematian ini. Karena mereka menganggap bahwa orang yang telah mati namun belum diupacarakan tradisi Rambu Solo ini dianggap belum mati dan dikatakan hanya sakit, karena statusnya masih “ sakit “. Orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan sebagai orang yang masih hidup.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

T1 802007071 Full text

T1 802007071 Full text

Kedua partisipan mengalami konflik perasaan lainnya, yaitu berbaurnya rasa sepi, sedih dan bahagia selama Rambu Solo’ berlangsung. Kesepian dan kesedihan yang dirasakan oleh keduanya merupakan manifestasi dari dukacita karena kehilangan orang yang dicintai. Rasa sepi dan sedih tersebut semakin kuat dirasakan keduanya oleh karena hari pemakaman yang semakin dekat. Rasa bahagia yang dirasakan kedua partisipan oleh karena melalui Rambu Solo’ mereka dapat berjumpa dengan keluarga besarnya yang datang dari Toraja, khususnya di luar daerah Toraja. Bagi kedua partisipan Rambu Solo’ merupakan salah satu media yang berhasil mengumpulkan keluarga besar mereka, sehingga menciptakan rasa kekeluargaan yang lebih erat di antara mereka. Kekeluargaan itu sendiri juga merupakan salah satu aspek penting di dalam Rambu Solo. Menurut Sarira, J.A., (1996) dalam upacara Rambu Solo’ hubungan kekeluargaan diperbaharui dan dipulihkan. Dalam ritual Rambu Solo’ nyata bahwa hubungan kekeluargaan tidak putus, ada reuni keluarga supaya ikatan kekeluargaan tetap utuh. Kekeluargaan yang dimaksudkan di sini adalah kekeluargaan yang berdasarkan keturunan (geneologis). Peran dan Manfaat Melaksanakan Ritual Rambu Solo
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

T1 712012073 Full text

T1 712012073 Full text

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bentuk-bentuk perubahan sosial yang terjadi sehingga mengakibatkan peran perempuan Toraja tergeser bahkan dihilangkan dari salah satu tradisi yang ada di dalam masyarakat Toraja, yaitu tradisi upacara orang mati atau yang dikenal sebagai Rambu Solo’ . Selain melihat melalui kacamata sosial, penelitian ini tentu saja juga menggunakan kacamata dari perspektif feminis yang juga ikut melihat serta mengkaji lebih lanjut tentang peranan perempuan dalam sebuah kebudayaan terlebih lagi budaya dalam masyarakat yang menganut paham patriaki. Adapun dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik analisa deksriptif. Penelitian ini dilakukan di Toraja, khususnya di daerah Bori‟, sehingga Jemaat Bori‟ Klasis Sasi Toraja Utara menjadi narasumber penulis serta penulis juga melihat beberapa hasil temuan- temuan dari penelitian yang dilakukan mahasiswa STAKN Toraja sebagai tambahan informasi untuk penelitian ini. Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perubahan sosial dan teori feminis. Menurut Sztompka, perubahan-perubahan akan terus terjadi di dalam masyarakat seiring berjalanya waktu. Masyarakat akan dipengaruhi oleh majunya perkembangan zaman, terutama di Barat, dan juga karena terus maju dan berkembangnya pola pikir masyarakat dari masyarakat kuno menjadi berubah ke masyarakat modern. Hal inilah yang kemudian salah satu bentuk perubahan yang terjadi di dalam masyarakat Toraja, terlebih lagi ketika Agama khususnya Agama Kristen masuk ke Toraja. Segala bentuk praktik animisme dilarang bahkan dihilangkan dalam masyarakat Toraja. Kemudian dalam prosesnya, masyarakat Toraja terutama kaum perempuan memiliki ruang gerak yang terbatas karena dianggap sebagai manusia kelas dua. Hal inilah yang menyebabkan sehingga perempuan tidak mampu mempertahankan keeksistensian dirinya dalam sebuah tradisi yang ada di Toraja. Sehingga dengan demikian, harapan yang ingin dicapai adalah para perempuan Toraja kemudian sadar dan mau bangkit serta belajar akan tradisi dan ritus-ritus yang ada dalam masyarakat Toraja. Diharapkan juga agar Sinode Gereja Toraja mampu untuk meneliti dan mengeksekusi lebih lanjut akan praktik ritual adat yang sekiranya masih merangkul kaum perempuan, agar tidak hanya berperan sebagai pekerja domestik dalam sebuah upacara adat.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keragaman Makna di Balik Sepu’ bagi Orang Toraja di Salatiga: Analisa Semiotika Roland Barthes

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keragaman Makna di Balik Sepu’ bagi Orang Toraja di Salatiga: Analisa Semiotika Roland Barthes

Ibaratnya itu seperti ini, sekalipun saya ini seorang anak patalo di kampung saya, tapi saat saya masuk dalam kampung lain untuk mengikuti rambu solo’ atau rambu tuka’, yah saya harus t[r]

11 Baca lebih lajut

this PDF file KAJIAN SEMIOTIK | Embon | BAHASA DAN SASTRA 1 PB

this PDF file KAJIAN SEMIOTIK | Embon | BAHASA DAN SASTRA 1 PB

Abstrak - Permasalahan dalam penelitian ini mengenai simbol-simbol apakah yang terdapat dalam upacara adat Toraja rambu solo, dan bagaimanakah penggunaan simbol- simbol pada prosesi dan tahap pelaksanaan upacara adat rambu solo. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan mengungkapkan simbol-simbol dalam upacara adat Toraja rambu solo. Rambu solo adalah suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat suku Toraja untuk mengadakan upacara terakhir bagi orang yang telah meninggal. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif, dengan menggunakan desain penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, dan rekaman. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian yang ditemukan bahwa simbol- simbol yang terdapat dalam upacara rambu solo terdiri dari simbol verbal dan simbol nonverbal. Adapun simbol verbal yang terdapat dalam upacara adat rambu solo adalah berupa doa-doa yang diucapkan oleh To Minaa yang bermakna sebagai pemujaan, permohonan, dan untuk pengagungan. Sedangkan simbol nonverbal berupa alat-alat sebagai perlengkapan upacara yang bermakna sebagai persembahan kepada para leluhur serta penghormatan terakhir bagi almarhum dan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

rambu rambu lalu lintas tambang.docx

rambu rambu lalu lintas tambang.docx

ketika kita mau mengemudikan mobil di area tambang maka syarat yang dimiliki oleh pengguna yaitu memiliki SIM Polisi dan juga SIM Pertambangan, jadi ketika kita hanya memiliki SIM Polisi[r]

6 Baca lebih lajut

RAMBU RAMBU LALU LINTAS ppt

RAMBU RAMBU LALU LINTAS ppt

pejalan kaki sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (5) huruf e harus didahului dengan menempatkan rambu peringatan banyak lalu lintas pejalan kaki menggunakan fasilitas penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (6) huruf a.

193 Baca lebih lajut

Rambu rambu dan proposal skripsi

Rambu rambu dan proposal skripsi

Contoh: Senter hasil perancagan ini diharapkan dapat digunakan untuk mengatasi kendala kehabisan energi baterai yang dapat terjadi pada saat senter sebagai sumber cahaya benar-benar dip[r]

10 Baca lebih lajut

Show all 5433 documents...