Regrouping sekolah

Top PDF Regrouping sekolah:

T2__BAB I Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dampak Regrouping Sekolah Dalam Peningkatkan Mutu Pendidikan Di SD Negeri Kuncir ecamatan Wonosalam Kabupaten Demak T2  BAB I

T2__BAB I Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dampak Regrouping Sekolah Dalam Peningkatkan Mutu Pendidikan Di SD Negeri Kuncir ecamatan Wonosalam Kabupaten Demak T2 BAB I

Untuk mengatasi permasalahan beberapa SD yang persaingannya tidak sehat dalam satu kampus maka regrouping sekolah merupakan kebijakan yang tepat, dilihat dari tujuan regroupingsangatlah tepat yaitu untuk peningkatan mutu dan efisiensi tenaga pendidik maupun biaya perawatan sarana dan prasarana (Kepmendagri, 2003), maka peneliti tertarik meneliti tentang dampak regrouping sekolah terhadap peningkatan mutu.

17 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PROGRAM REGROUPING SEKOLAH DASAR 1 UNDAAN TENGAH KECAMATAN UNDAAN KUDUS.

PELAKSANAAN PROGRAM REGROUPING SEKOLAH DASAR 1 UNDAAN TENGAH KECAMATAN UNDAAN KUDUS.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user i PELAKSANAAN PROGRAM REGROUPING SEKOLAH DASAR 1 UNDAAN TENGAH KECAMATAN UNDAAN KUDUS TESIS Disusun untuk Memenuhi Seba[r]

1 Baca lebih lajut

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Manajemen Regrouping Sekolah Di SDN Ungaran 01, 03, 06 UPTD Pendidikan Kecamatan Ungaran Barat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Manajemen Regrouping Sekolah Di SDN Ungaran 01, 03, 06 UPTD Pendidikan Kecamatan Ungaran Barat

Pengorganisasian (Organizing) regrouping sekolah merupakan penyatuan beberapa organisasi sekolah menjadi satu organisasi sekolah yaitu dari SD Negeri Ungaran 01, SD Negeri Ungaran 03, dan SD Negeri 06 menjadi SD Negeri Ungaran 01, 03, 06 atau lebih dikenal dengan nama SD Induk Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang dan di bulan Januari 2015 menggunakan nama SDN Ungaran 01. Dengan demikian pembagian tugas bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan pun diperbarui menjadi pengajar di kelas reguler dengan sebutan kelas A, B, C maupun Kelas Unggulan untuk guru kelas dan guru mata pelajaran dengan jumlah jam mengajar 30 jam pelajaran sampai dengan 38 jam pelajaran serta tugas sampiran yaitu minimal mengampu 1 kegiatan ekstra kurikuler dan 1 kegiatan bimbingan siswa untuk lomba .
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

T2__BAB IV Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dampak Regrouping Sekolah Dalam Peningkatkan Mutu Pendidikan Di SD Negeri Kuncir ecamatan Wonosalam Kabupaten Demak T2  BAB IV

T2__BAB IV Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dampak Regrouping Sekolah Dalam Peningkatkan Mutu Pendidikan Di SD Negeri Kuncir ecamatan Wonosalam Kabupaten Demak T2 BAB IV

Regrouping sekolah di SD Negeri Kuncir 2 dan SD Negeri Trengguli 2 merupakan sebuah implementasi kebijakan yang lahir karena ada faktor-faktornya yaitu kedua sekolah tersebut terletak pada satu kampus sehingga ada persaingan atau kompetesi sekolah, bila kompetisi tersebut positif perlu didukung, namun fakta terjadi kompetsi yang tidak sehat terutama dalam menghadapi penerimaan peserta didik baru (PPDB) masing-masing saling menjelekkan sehingga dalam persahabatan antar sesama guru semakin renggang.

21 Baca lebih lajut

BAB II LANDASAN TEORI - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Manajemen Regrouping Sekolah Di SDN Ungaran 01, 03, 06 UPTD Pendidikan Kecamatan Ungaran Barat

BAB II LANDASAN TEORI - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Manajemen Regrouping Sekolah Di SDN Ungaran 01, 03, 06 UPTD Pendidikan Kecamatan Ungaran Barat

Program regrouping sekolah pada awalnya dilakukan pada sekolah yang mengalami kekurangan siswa, sehingga dibutuhkan adanya regrouping sekolah. Namun untuk saat ini regrouping sekolah dilakukan bukan karena kekurangan siswa namun tujuan penyatuan tiga atau empat SDN menjadi satu kepsek, terutama yang lokasinya berada dalam satu kawasan adalah efisiensi anggaran berupa tunjangan jabatan, selain itu juga untuk menghemat alokasi tunjangan kinerja daerah (TKD) kepsek sebab TKD kepsek lebih besar dari pada guru (Bataviase, 2010: 1). Alasan pelaksanaan penggabungan sekolah dasar berdasarkan pada Peraturan Bupati Semarang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Teknis Penggabu- ngan SDN kabupaten Semarang yang menyatakan bahwa:
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Manajemen Regrouping Sekolah Di SDN Ungaran 01, 03, 06 UPTD Pendidikan Kecamatan Ungaran Barat

BAB I PENDAHULUAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Manajemen Regrouping Sekolah Di SDN Ungaran 01, 03, 06 UPTD Pendidikan Kecamatan Ungaran Barat

tersebut adalah untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga guru, peningkatan mutu, efisiensi biaya bagi perawatan gedung sekolah (pasal 2 ayat 1). Menyatakan penggabungan regrouping dibutuhkan bila terjadi efisiensi biaya untuk kemajuan sekolah (Depdagri, 1998).

8 Baca lebih lajut

T2__BAB II Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dampak Regrouping Sekolah Dalam Peningkatkan Mutu Pendidikan Di SD Negeri Kuncir ecamatan Wonosalam Kabupaten Demak T2  BAB II

T2__BAB II Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dampak Regrouping Sekolah Dalam Peningkatkan Mutu Pendidikan Di SD Negeri Kuncir ecamatan Wonosalam Kabupaten Demak T2 BAB II

Dengan demikian, hasil pendidikan yang bermutu memiliki nuansa kuantitatif dan kualitatif. Artinya, disamping ditunjukkan oleh indikator seberapa banyak siswa yang berprestasi sebagai mana dilihat dalam perolehan nilai yang tinggi, juga ditunjukkan oleh seberapa baik kepemilikian kualitas pribadi para siswanya, seperti tampak dalam kepercayaan diri, kemandirian, disiplin, kerja keras dan ulet, terampil, berbudi pekerti, beriman dan bertaqwa, bertanggung jawab sosial dan kebangsaan, apresiasi, dan lain sebagainya. Analisis di atas memberikan pemahaman yang jelas bahwa konsep Efektivitas Sekolah berkaitan langsung dengan mutu kinerja sekolah.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Manajemen Regrouping Sekolah Di SDN Ungaran 01, 03, 06 UPTD Pendidikan Kecamatan Ungaran Barat

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Manajemen Regrouping Sekolah Di SDN Ungaran 01, 03, 06 UPTD Pendidikan Kecamatan Ungaran Barat

23. Siapa yang menjadi motivator dalam pergerakan manajemen regrouping di SDN Ungaran 01-03-06? Sebutkan alasannya! Tuntutan kwalitas pendidikan membuat semua tenaga pendidik untuk bisa melakukan terobosan dan peningkasetan hingga mampu menggadakan perubahan untuk memenuhi tuntutan era globalisasi membuat SD tidak ketinggalan di tingkat nasional maupun di tingkat internasional.

32 Baca lebih lajut

T2  Lampiran Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dampak Regrouping Sekolah Dalam Peningkatkan Mutu Pendidikan Di SD Negeri Kuncir ecamatan Wonosalam Kabupaten Demak

T2 Lampiran Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dampak Regrouping Sekolah Dalam Peningkatkan Mutu Pendidikan Di SD Negeri Kuncir ecamatan Wonosalam Kabupaten Demak

Prestasi siswa sebelim regrouping memang kurang menggembirakan, namun setelah ada regrouping prestasi SN Kuncir 2 baik akademik maupun non akademik, serta nilai ujian meningkat. Di bidang Akademik pernah juara I LCC Tingkat Kecamatan tahun 2012, Juara I Siswa berprestasi Putri Tahun 2012, Juara MIPA ( matematika ) Juara I tahun 2012 dan tahun 2013

22 Baca lebih lajut

hal awal puji waluyo S2TP S811308029

hal awal puji waluyo S2TP S811308029

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa regrouping merupakan penggabungan beberapa sekolah dasar menjadi satu dalam rangka efisiensi dan efektifitas pengelolaan sekolah serta maksimalnya proses pembelajaran. Penggabungan merupakan kata lain dari merger yang biasanya terjadi di kalangan perusahaan profit seperti dalam dunia usaha perbankan. Penggabungan (regrouping) sekolah dasar bertujuan agar pelaksanaan manajemen sekolah dapat berlangsung secara efektif dan efisien serta pembelajaran mampu mencapai standar yang ditetapkan. Pelaksanaan program regrouping di SD 1 Undaan Tengah Kecamatan Undaan Kudus berjalan dengan maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Pengelolaan sekolah menjadi lebih efisien dan efektif serta pembelajaran mampu mencapai standar yang ditetapkan. Sarana dan prasarana mengalami peningkatan, meskipun masih perlu perbaikan dan pengadaan. Kendala pelaksanaan regrouping tidak signifikan dan dapat dipecahkan dengan baik.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KEBIJAKAN SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN BUDAYA MUTU PADA SEKOLAH REGROUPING DI SD N UNGARAN 1 YOGYAKARTA.

KEBIJAKAN SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN BUDAYA MUTU PADA SEKOLAH REGROUPING DI SD N UNGARAN 1 YOGYAKARTA.

3. Latar Belakang dibuatnya kebijakan pengembangan budaya mutu di SD N Ungaran 1 Yogyakarta pasca kebijakan regrouping yaitu; 1) adanya kesulitan para warga sekolah dalam melakukan adaptasi kembali dengan lingkungan sekolah pasca regrouping karena masih terbentuknya kelompok-kelompok atau gep sesuai dengan asal sekolahnya masing- masing, 2) masih adanya konflik di antara guru karena masih mengunggul-unggulkan sekolah asalnya masing-masing sehingga timbul saling ketidaksukaan, 3) dan sekolah belajar dari konflik-konflik yang terjadi pada sekolah lain yang diregrouping yang salah satunya adalah masalah pengelolaan sekolah yang kurang baik dan ketidaksiapan mereka terhadap kebijakan regrouping yang menyebabkan turunnya kualitas sekolah pasca regrouping. Sekolah sadar bahwa jika masalah-masalah tersebut tidak segera mendapatkan solusi maka bisa jadi kualitas SD N Ungaran 1 Yogyakarta dapat menurun. Sehingga kebijakan ini lebih tepat disebut sebagai upaya preventif terhadap penurunan kualitas SD N Ungaran 1 Yogyakarta.
Baca lebih lanjut

237 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN   Pengelolaan Sekolah Regrouping SD Negeri Grabag 1, 2, dan 4 Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang.

PENDAHULUAN Pengelolaan Sekolah Regrouping SD Negeri Grabag 1, 2, dan 4 Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang.

Regrouping dilaksanakan sesuai dengan Surat Nomor 421.2/2501/Bangda/1998 tentang pedoman pelaksanaan penggabungan (Regrouping) Sekolah Dasar. Tujuan penggabungan tersebut adalah untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga guru, peningkatan mutu, efisiensi biaya bagi perawatan gedung sekolah dan sekolah yang ditinggalkan dimungkinkan penggunaannya untuk rencana pembukaan SMP kecil/SMP kelas jauh atau setara sekolah lanjutan sesuai ketentuan setempat untuk menampung lulusan sekolah dasar.

7 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN Manajemen Konflik Sekolah Regrouping di SD Negeri Pucangsawit Surakarta.

PENDAHULUAN Manajemen Konflik Sekolah Regrouping di SD Negeri Pucangsawit Surakarta.

Kebijakan pemerintah tentang regrouping sekolah yang tertuang dalam SK Mendagri Nomor 421.2/2501/Bangda/1998 tentang Pedoman Pelaksanaan Penggabungan (Regrouping) Sekolah Dasar bertujuan untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga guru, peningkatan mutu, efisiensi biaya bagi perawatan gedung sekolah dan sekolah yang ditinggalkan dimungkinkan penggunaannya untuk rencana pembukaan SMP kecil/SMP kelas jauh atau setara sekolah lanjutan sesuai ketentuan setempat untuk menampung lulusan sekolah dasar. Kebijakan tersebut sudah dilaksanakan di berbagai sekolah yang dianggap layak untuk di-regroup dengan berbagai alasan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

LAPORAN PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) PROGRAM REGROUPING DI SEKOLAH DASAR NEGERI LEMPUYANGAN WANGI.

LAPORAN PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) PROGRAM REGROUPING DI SEKOLAH DASAR NEGERI LEMPUYANGAN WANGI.

Istilah penggabungan dalam dunia pendidikan atau yang lebih dikenal regrouping dilakukan untuk menggabungkan dua sekolah dasar dengan tujuan tertentu seperti efisiensi dan efektivitas pengelolaan sekolah. Dasar dari penggabungan sekolah adalah Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000-2004 yang menjelaskan bahwa salah satu kegiatan pokok dalam mengupayakan pemerataan pendidikan dasar adalah melaksanakan revitalisasi serta penggabungan (regrouping) sekolah- sekolah terutama SD, agar tercapai efisiensi dan efektivitas sekolah yang didukung dengan fasilitas yang memadai. Penggabungan sekolah yang dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Pelaksanaan Penggabungan Sekolah (regrouping) SD pada tanggal 16 November 1998 kepada Gubernur Seluruh Indonesia yaitu: Penggabungan (regrouping) SD adalah usaha penyatuan dua unit SD atau lebih menjadi satu kelembagaan (institusi) SD dan diselenggarakan dalam satu pengelolaan; (2) Lingkup penggabungan SD meliputi SD yang terdapat antar desa/kelurahan yang sama dan atau di desa/kelurahan yang berbatasan dan atau antar kecamatan yang berbatasan; (3) Sekolah Dasar kemudian disingkat dengan SD adalah bentuk satuan pendidikan dasar milik pemerintah yang menyelenggarakan program pendidikan enam tahun; (4) SD inti adalah SD yang terpilih antara beberapa SD dalam satu gugus sekolah yang berfungsi sebagai pusat pengembangan di dalam gugus SD tersebut; (5) SD imbas adalah anggota satu gugus sekolah yang menjadi binaan SD inti; (6) SD kecil adalah SD di daerah terpencil yang belum memenuhi syarat pembakuan. (Undang-undang Nomor 25 . 2000 : 104 ).
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

DAKWAH TRANSFORMATIF (Studi Pemikiran Moeslim Abdurrahman)

DAKWAH TRANSFORMATIF (Studi Pemikiran Moeslim Abdurrahman)

Moeslim Abdurahman memberikan alasan dasar aksi dakwah transformatif. Sebabnya: (1) kemiskinan agama sebagai rasionalisasi hidup. Agama yang sekarang menjadi mainstream tidak mampu menjelaskan kenapa mereka miskin. Juga agama tidak mampu menjadi kekuatan spiritual dan moralitas yang membela keadaan mereka. Agama tidak menjadikan orang miskin sebagai pelaku agama, tetapi hanya sebagai konsumen agama. (2) kemiskinan institusi agama, seperti majlis taklim. Tidak ada cirlcle — seperti majlis taklim — yang menghimpun orang marginal, tempat mereka memperbincangkan nasibnya, circle yang menjadi wadah perbincangan yang transenden tentang problem kehidupan sehari-harinya. (3) kemiskinan di bidang kelembagaan sosial ekonomi. Moeslim melihat tidak adanya upaya regrouping orang- orang miskin di dalam komunitas ekonomi, walaupun mungkin kecil pada mulanya.
Baca lebih lanjut

131 Baca lebih lajut

BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) - Analisis Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Jumlah Produksi pada Tahun 2014 PTPN IV Kota Medan

BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) - Analisis Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Jumlah Produksi pada Tahun 2014 PTPN IV Kota Medan

Tahun 1996, Tahap Peleburan menjadi PTPN Berdasarkan Peraturan Pemerintah pada tahun 1996, semua PTP yang ada di Indonesia di-regrouping kembali dan dilebur menjadi PTPN I sampai deng[r]

13 Baca lebih lajut

BUDAYA SMK NEGERI 1 SAMARINDA

BUDAYA SMK NEGERI 1 SAMARINDA

6.4. Literacy Day. Kegiatan ini biasa disebut dengan hari sastra, yaitu kegiatan yang dilakukan dengan mengadakan bedah buku atau pameran buku, lomba menulis, lomba membaca cepat, lomba meresume. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak dan menumbuhkan gemar membaca bagi setiap orang serta kegiatan memperkenalkan sekolah kepada masyarakat luas.

9 Baca lebih lajut

PERUBAHAN DAN TAMBAHAN UNDANG-UNDANG NO. 36 TAHUN 1953 TENTANG BANK TABUNGAN POS (LEMBARAN NEGARA TAHUN 1953 NO. 86)

PERUBAHAN DAN TAMBAHAN UNDANG-UNDANG NO. 36 TAHUN 1953 TENTANG BANK TABUNGAN POS (LEMBARAN NEGARA TAHUN 1953 NO. 86)

Menimbang : a. bahwa berhubung dengan adanya Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 94 tahun 1962 tentang regrouping Kabinet Kerja, Bank Tabungan Pos yang selama ini termasuk bidang Distribusi dibawah kekuasaan Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata perlu dipindahkan kebidang Keuangan dibawah kekuasaan Menteri Urusan Bank Sentral; b. bahwa berhubung dengan pemindahan tersebut diatas perlu

0 Baca lebih lajut

J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat

J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat

2. Penyerahan sekolah-sekolah kepada Pemerintah daerah dijaman Belanda hanya mengenai sekolah rendah saja (vervolgschool) dan diatur dalam Staatsblad 1936 No. 585 untuk Jawa dan Madura dan dalam Staatsblad 1937 No. 511 untuk daerah-daerah di luar Jawa dan Madura, Vervolgschool diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten dan Haminte Kota, dan volksschool yang terkenal juga dengan nama sekolah desa, tetap diurus oleh desa, sebagai yang diciptakan Van Heutz pada tahun 1907. Hanya yang memberi subsidi tak lagi Pemerintah Pusat tetapi Kabupaten. Sekolah-sekolah pertukangan (Ambachtsleergang) diserahkan juga kepada Kabupaten dan Haminte Kota. Begitupun pendidikan guru-guru; sekolah normal diserahkan kepada propinsi, dan sekolah guru desa (Cursus voor volksonderwijzers) kepada Kabupaten dan Haminte Kota.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengelolaan Sekolah Dasar Berbasis Regrouping (Study Situs SDN Umbulrejo dan SDN Ponjong IV Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul).

PENDAHULUAN Pengelolaan Sekolah Dasar Berbasis Regrouping (Study Situs SDN Umbulrejo dan SDN Ponjong IV Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul).

Sejak reformasi bergulir di Indonesia pada tahun 1998, perhatian pemerintah pada bidang pendidikan semakin besar. Hal itu di tandai dengan berbagai macam kebijakan yang diluncurkan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional yang masih sangat kurang termasuk didalamnya pada tingkat pendidikan dasar. Berbagai kebijakan tersebut seperti pembaharuan Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), penerapan Managemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), otonomi di bidang pendidikan, dan pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) pada tingkat sekolah dasar (Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 1)
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...