Rendahnya Motivasi Belajar

Top PDF Rendahnya Motivasi Belajar:

FAKTOR–FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI RENDAHNYA MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SMU ISLAM BAITUR ROHMAH MALANG

FAKTOR–FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI RENDAHNYA MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SMU ISLAM BAITUR ROHMAH MALANG

bersifat hiburan semata. Ditambah lagi tuntutan akan standar kelulusan yang semakin meningkat dengan disertai banyaknya siswa yang tidak lulus sekolah karena nilai yang tidak mencukupi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang melatarbelakangi rendahnya motivasi belajar siswa SMU. Sampel yang di gunakan adalah 3 siswa SMU Islam Baiturrohmah Malang yang memiliki motivasi belajar yang rendah. Untuk menggali data digunakan alat tes dan teknik wawancara bebas terpimpin, yang dimaksudkan agar terjalin komunikasi yang bebas namun terarah sehingga terkesan lebih luwes dan fleksibel.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

RENDAHNYA MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SMU PGRI KEPANJEN

RENDAHNYA MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SMU PGRI KEPANJEN

Motivasi belajar mempunyai beberapa faktor, faktor internal : bakat, minat, intlegensi. Faktor eksternal : keluarga (orang tua) dalam kehidupan sehari-hari menjadi faktor utama di dalam belajar seseorang. Orang tua turut berperan dalam mengatur jadwal, memberi rasa tangung jawab pada kewajibannya yang akan menunjang potensi anak, suasana ramah, ekonomi keluarga, hampir semua kebutuhan memerlukan biaya, sekolah, masyarakat. Faktor yang dapat

2 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (Stad) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Sd/Mi (Penelitian Tindakan Kelas Di Sdn Cengkareng Timur 01 Pagi - Jakarta Barat)

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (Stad) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Sd/Mi (Penelitian Tindakan Kelas Di Sdn Cengkareng Timur 01 Pagi - Jakarta Barat)

Selain itu, berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap siswa didapat beberapa informasi yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa yaitu: 1) beberapa siswa kurang bersemangat saat mengikuti pembelajaran matematika, 2) siswa masih membutuhkan dorongan dari guru dalam mengajukan pertanyaan atau mengungkapkan pendapat, 3) masih ada siswa yang tidak mengerjakan tugas atau PR, 4) siswa merasa sudah puas dan paham tentang materi yang diajarkan namun ketika diajukan pertanyaan siswa terlihat kebingungan, 5) siswa kurang berminat dalam memecahkan soal matematika yang bersifat menantang, 6) beberapa siswa terlihat masih mengobrol dengan temannya pada saat guru menjelaskan materi pelajaran, 7) masih ada siswa yang datang terlambat, dan 8) beberapa siswa masih terlihat bermain-main di luar kelas ketika guru telah memasuki ruang kelas.
Baca lebih lanjut

165 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PKN DENGAN MODEL PEMBALAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ( CTL ) KOMPETENSI DASAR ( KD ) KONSTITUSI SISWA KELAS X E SMA NEGERI 1 KEJOBONG SEMESTER GENAP 2013-2014 - repository perpus

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PKN DENGAN MODEL PEMBALAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ( CTL ) KOMPETENSI DASAR ( KD ) KONSTITUSI SISWA KELAS X E SMA NEGERI 1 KEJOBONG SEMESTER GENAP 2013-2014 - repository perpus

Menurut Maryuwono, S.Pd kelamahan pembelajaran yang terjadi pada kelas X E SMA Negeri 1 Kejobong semester genap ini yaitu mengenai pembahasan materi Konstitusi pada motivasi Belajar Siswa. Penyebab menurunnya motivasi belajar siswa kelas X E SMA Negeri 1 Kejobong adalah karena rendahnya motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn dan khususnya pada kompetensi dasar yang sedang dibahas yaitu Konstitusi dan juga dilatar belakangi kemauan siswa untuk memiliki buku paket rendah yang seharusnya sangat bermanfaat sebagai sumber belajar siswa.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Komparasi Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Status Sosial Ekonomi Orang Tua dan Motivasi Belajar pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMK Bhina Karya Karanganyar Tahun 2015/2016.

PENDAHULUAN Komparasi Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Status Sosial Ekonomi Orang Tua dan Motivasi Belajar pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMK Bhina Karya Karanganyar Tahun 2015/2016.

Dari hasil pengamatan pengajaran matematika di SMK Bhina Karya Karanganyar ditemukan beberapa kelemahan bahwa hasil belajar matematika yang dicapai oleh siswa masih rendah. Fakta tersebut ditunjukkan oleh nilai hasil belajar matematika siswa SMK Bhina Karya Karanganyar adalah 77 dan hal ini berarti masih belum maksimal dan belum memuaskan karena kriteria ketuntasan minimal (KKM) seperti yang ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan yaitu 75. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa khususnya pada siswa kelas XI dalam pembelajaran matematika diantaranya yaitu masih rendahnya motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa. Rendahnya motivasi belajar siswa dapat dilihat dari rendahnya respon dan antusias siswa SMK Bhina Karya Karanganyar terhadap kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Pada saat proses belajar mengajar berlangsung, masih ada siswa yang ramai sehingga tidak memperhatikan penjelasan guru, terlambat masuk kelas, serta bermain handphone secara diam-diam . Pada saat mengerjakan latihan soal juga masih mengandalkan jawaban dari teman. Hal-hal tersebut menunjukan bahwa motivasi belajar siswa masih rendah.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD SWASTA GKPS MEDAN.

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD SWASTA GKPS MEDAN.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, peneliti menemukan masalah- masalah yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung, yaitu: rendahnya motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA, menggunakan metode yang tidak bervariasi, jarangnya penggunaan media oleh guru pada saat pembelajaran, kurangnya sarana dan prasarana di sekolah, dan kondisi yang kurang kondusif. Penelitian ini bertujuan agar metode demonstrasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi pokok cahaya dan sifat-sifatnya di kelas V SD Swasta GKPS M edan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER UNTUK MATA DIKLAT MENGOPERASIKAN MESIN CNC DASAR DI SMK NEGERI 2 DEPOK SLEMAN YOGYAKARTA.

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER UNTUK MATA DIKLAT MENGOPERASIKAN MESIN CNC DASAR DI SMK NEGERI 2 DEPOK SLEMAN YOGYAKARTA.

Rendahnya prestai belajar siswa desebabkan karena: (1) kurangnya motivasi siswa untuk belajar mengikuti proses belajar mengajar di dalam kelas; (2) kurangnya perhatian atau konsentrasi siswa terhadap apa yang disampaikan oleh guru; (3) penyampain materi oleh guru kurang jelas sehingga siswa kurang menangkap materi pelajaran; (4) penulisan kata-kata dan gambar dari guru sebagai visualisasi materi pelajaran kurang jelas; (5) peran guru sebagai fasilitator dan moderator bagi terciptanya situasi belajar yang kondusif bagi siswa belum dilaksanakan secara optimal; (6) sebagian besar guru mengajar masih menggunakan metode ceramah dan menulis pada papan tulis yang tidak melibatkan siswa secara aktif; (7) belum adanya media pembelajaran berbasis komputer yang sesuai untuk mata diklat Mengoperasikan Mesin CNC Dasar, sehingga tujuan kompetesi dasar dan KKM yang telah ditetapkan tidak dapat tercapai.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kompetensi penyuluh dalam pembangunan pertanian di Provinsi Jawa Barat

Kompetensi penyuluh dalam pembangunan pertanian di Provinsi Jawa Barat

Dalam kaitannya dengan pola mengajar yaitu (1) pola mengajar direktif, materi disampaikan secara terprogram, sistematik dan terorganisasi oleh guru kepada siswa, dan (2) pola non direktif, materi bisa disampaikan secara langsung dan secara mandiri, tampaknya Rogers lebih cenderung menekankan pentingnya pengembangan pada pola mengajar non direktif. Beberapa alasan yang mendasari antara lain; (1) materi yang disampaikan oleh guru kepada peserta didik tidak hanya berlangsung secara tatap muka, seperti pada direktif tetapi juga langsung melalui belajar mandiri baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok kecil dan besar sesuai dengan kesepakatan bersama, (2) ranah kognitif jelas ada hubungannya yang terkait dengan pola pengajaran non direktif, tetapi dengan pola pengajaran ini lebih banyak penekanannya atau hubungannya dengan ranah afektif dengan tidak melupakan ranah psikomotorik. Dengan belajar mandiri sesuai dengan hasil kesepakatan antara guru dan peserta didik, maka peserta didik dapat melakukan observasi, penggalian permasalahan sendiri dan memecahkannya sendiri. Dengan berkreativitas sendiri dan dibantu oleh guru maka akan terjadi perubahan sikap dan peningkatan keterampilan peserta didik. Konsep belajar yang dikemukakan oleh Rogers ini, tampaknya sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan dalam penyuluhan yaitu pendidikan untuk orang dewasa dengan maksud terjadinya perubahan perilaku sesuai dengan yang direncanakan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MELALUI METODE PERMAINAN SEE OUR FEET PADA SISWA KELAS VB SD DERESAN YOGYAKARTA.

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MELALUI METODE PERMAINAN SEE OUR FEET PADA SISWA KELAS VB SD DERESAN YOGYAKARTA.

Menurut Thomas F. Staton (dalam Sunhaji, 2009: 16) mengemukakan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar, yaitu motivasi, konsentrasi, reaksi, organisasi, pemahaman, dan ulangan. Dari beberapa faktor tersebut, motivasi belajar merupakan salah satu faktor yang memiliki peran penting dalam pencapaian tujuan belajar. Menurut Woldkowsky sebagaimana dikutip dalam Sugihartono (2007: 78), “ motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut ” . Hal serupa juga diungkapkan oleh Muhibbin Syah (2008: 136) bahwa motivasi merupakan keadaan internal seseorang yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Hamzah B. Uno (2013: 23) juga mendefinisikan motivasi sebagai konsep hipotetis untuk suatu kegiatan yang dipengaruhi oleh persepsi dan tingkah laku seseorang untuk mengubah situasi yang tidak memuaskan atau tidak menyenangkan. Berdasarkan uraian tersebut, motivasi merupakan suatu keadaan yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan tertentu guna mencapai tujuannya.
Baca lebih lanjut

167 Baca lebih lajut

Hakikat Motivasi Belajar

Hakikat Motivasi Belajar

Analisis tentang motivasi harus memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang mendorong dan mengarahkan kegiatan seseorang (J.W. Atkinson, An Introduction to Motivation. 1964). Motivasi berhubungan dengan bagaimana perilaku itu bermula, diberi tenaga, disokong, diarahkan, dihentikan, dan reaksi subyektif yang ada dalam organisme ketika semua itu berlangsung (Mr. Jones. ed., Nebraska Symposium on Motivation. 1955).

Baca lebih lajut

tugas akhir wawancara

tugas akhir wawancara

Analisis tentang motivasi harus memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang mendorong dan mengarahkan kegiatan seseorang (J.W. Atkinson, An Introduction to Motivation. 1964). Motivasi berhubungan dengan bagaimana perilaku itu bermula, diberi tenaga, disokong, diarahkan, dihentikan, dan reaksi subyektif yang ada dalam organisme ketika semua itu berlangsung (Mr. Jones. ed., Nebraska Symposium on Motivation. 1955).

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Eksperimen Pembelajaran Matematika Dengan Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) Dan Snowball Throwing Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Minat Belajar Siswa.

PENDAHULUAN Eksperimen Pembelajaran Matematika Dengan Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) Dan Snowball Throwing Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Minat Belajar Siswa.

kondisi awal yang di amati, tampak masih banyak siswa yang berbincang dengan teman sebangku di luar materi, ada juga yang sibuk bermain sendiri, kurang perhatian siswa terhadap penjelasan guru serta kurang kerjasama antar siswa saat dibentuk kelompok. Tetapi ada juga yang selalu bertanya kepada guru jika ada materi yang tidak paham, mendengarkan dengan baik jika ada teman yang berpendapat serta memberi gagasan yang cemerlang. Berdasarkan uraian tersebut keaktifan dalam proses pembelajaran siswa kelas VIII di SMP N 1 Cepogo tampak berbeda. Dengan situasi ini dimungkinkan hasil belajar matematika juga berbeda.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR IPS MENGGUNAKAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN DI KELAS IV SD NEGERI LEMPUYANGAN I YOGYAKARTA.

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR IPS MENGGUNAKAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN DI KELAS IV SD NEGERI LEMPUYANGAN I YOGYAKARTA.

Permasalahan yang muncul ketika guru mengajarkan pokok bahasan perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi antara lain adalah siswa kurang antusias dan tidak memperhatikan, hal ini terlihat ketika mereka melakukan kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa keadaan siswa selama proses pembelajaran pasif. Siswa hanya duduk, mendengar, dan mencatat. Guru kelas menyampaikan bahwa salah satu kendala yang menyebabkan kegiatan belajar mengajar menjadi tidak efektif adalah minimnya media. Media yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran hanya buku paket dan gambar-gambar sederhana dengan tulisan yang terlalu kecil untuk diamati oleh siswa satu kelas. sehingga kedua sumber belajar ini tentu kurang sesuai jika digunakan secara klasikal. Selain itu media buku paket dan gambar, kurang sesuai jika digunakan untuk menjelaskan materi perkembangan teknologi industri, komunikasi, dan transportasi karena media buku paket dan gambar sederhana kurang dapat menggantikan keadaan benda konkret sehingga kurang sesuai dengan karakteristik materi perkembangan teknologi industri dan komunikasi. Guru juga menyampaikan bahwa perolehan nilai siswa untuk mata pelajaran IPS pokok bahasan perkembangan teknologi industri, komunikasi dan transportasi masih rendah yaitu hanya 50% siswa yang sudah mencapai KKM KD.
Baca lebih lanjut

201 Baca lebih lajut

PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA, KONSEP DIRI DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA TENTANG MATEMATIKA KELAS VIII SMP NEGERI DI KECAMATAN SAUSU KABUPATEN PARIGI MOUTONG | Sumiyati | Mitra Sains 8532 28027 1 PB

PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA, KONSEP DIRI DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA TENTANG MATEMATIKA KELAS VIII SMP NEGERI DI KECAMATAN SAUSU KABUPATEN PARIGI MOUTONG | Sumiyati | Mitra Sains 8532 28027 1 PB

Hasil penelitian mengenai motivasi belajar pada siswa kelas VIII SMP Negeri di Kecamatan Sausu, pada umumnya termasuk dalam kategori tinggi Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif dari motivasi belajar siswa memiliki rata-rata total 2,43. Data ini memberikan gambaran bahwa motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri di Kecamatan Sausu sudah tinggi. Motivasi belajar siswa yang tinggi memberikan semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan proses pembelajaran. Demikian sebaliknya, siswa yang memiliki motivasi belajar yang sangat rendah dalam proses pembelajaran, maka tidak akan mungkin aktivitas belajar terlaksana dengan baik.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN FISIK SEKOLAH DENGAN MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA DI SMK GITA KIRTTI 2 JAKARTA - Repository Fakultas Ekonomi UNJ

BAB I PENDAHULUAN - HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN FISIK SEKOLAH DENGAN MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA DI SMK GITA KIRTTI 2 JAKARTA - Repository Fakultas Ekonomi UNJ

Percaya diri sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Siswa yang tidak percaya diri akan takut untuk belajar. Rasa takut belajar tersebut terjalin secara komplementer dengan rasa takut gagal lagi. terlebih lagi diiringi dengan penyesalan dan celanaan dari lingkungannya. Akibatnya siswa yang tidak memiliki kemampuan mengeksplorasi kemampuannya dan tidak memiliki keberanian yang cukup untuk melakukan sesuatu, apalagi sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Semakin kurang rasa percaya diri siswa, maka akan semakin rendah motivasinya untuk belajar. Dan lebih buruknya siswa itu akan membenci pelajaran tersebut.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah - Hubungan Dukungan Sosial Orangtua Dengan Motivasi Belajar Siswa SMP Cahaya Harapan Bekasi. - Ubharajaya Repository

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah - Hubungan Dukungan Sosial Orangtua Dengan Motivasi Belajar Siswa SMP Cahaya Harapan Bekasi. - Ubharajaya Repository

“Ibu I” berpendapat ada beberapa faktor yang merupakan penyebab menurunnya motivasi pada siswa-siswi tersebut seperti kesibukan orangtuanya dirumah, anak sulit konsentrasi dikelas karena kelelahan mengikuti kegiatan diluar sekolah, seperti bimbingan belajar, les privat. Ada juga faktor lain yaitu siswa-siswi dikelas VIII sangat menurun sejak peraturan pemerintah bahwa Ujian Nasional (UN) tidak menjadi patokan untuk kelulusan. Sejak saat itu motivasi siswa-siswi dalam belajar menurun. Faktor lainnya yaitu kesibukan dari orangtuanya dan menyerahkan seutuhnya anak untuk dibimbing disekolah dan melepaskan semua tanggungjawab kepada guru-guru disekolah. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama assisten rumah tangga.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

S POR 1005849 chapter1

S POR 1005849 chapter1

Terlebih lagi, masalah kurangnya motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran penjas disebabkan kurang menariknya metode pembelajaran yang diajarkan oleh guru, kemudian rendahnya partisipasi siswa dalam melakukan aktivitas pembelajaran bolabasket karena pada umumnya bagi siswa SMP pembelajaran bolabasket merupakan pembelajaran baru bagi mereka, sehingga hasil belajar yang diharapkan tidak sesuai.

7 Baca lebih lajut

View of HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA

View of HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA

Keterlibatan dan dukungan orangtua bermanfaat bagi proses belajar dan prestasi siswa (Ratelle, dkk., 2005). Adanya berbagai dukungan yang diberikan oleh keluarga akan membuat siswa mampu untuk mengenal dan mampu memahami tentang dirinya sendiri terutama dari hal kewajibannya sebagai siswa dalam menempuh pendidikan di sekolah, selain itu lingkungan keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling utama dalam kehidupan manusia, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial dalam hubungan interaksinya dengan kelompoknya sehingga dengan komunikasi dan hubungan yang hangat antara orangtua dengan anak akan membantu anak dalam memecahkan masalahnya terutama pada siswa dalam proses belajar (Purnamaningsih dalam Widanarti & Indati, 2002).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Motivasi Belajar Dan Gaya Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mutu Pelayanan Kebidanan Di Akademi Kebidanan Giri Satria Husada Wonogiri

Pengaruh Motivasi Belajar Dan Gaya Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mutu Pelayanan Kebidanan Di Akademi Kebidanan Giri Satria Husada Wonogiri

matist (19,1%) pada peringkat kedua pada mahasiswa Kebidanan Giri Satria Husada Wonogiri. Mahasiswa yang mempunyai gaya belajar reß ector cenderung terbuka terhadap pengalaman baru. Mereka akan ber Þ kir dan menganalisa pengalaman tersebut. Pada saat bertindak orang-orang dengan gaya belajar ini akan menempatkan pandangan orang lain sebagai pertimbangan. Kelebihan orang dalam gaya belajar reß ector adalah mampu mencari informasi-informasi di balik sebuah berita.. Keadaan tersebut membuat mereka tidak sanggup melihat dengan arif dan detail jika permasalahan yang dihadapi terlalu ba- nyak. Orang-orang dengan gaya belajar re- ß ector tidak senang memberikan kritik yang keras karena mereka juga tidak suka dikritik. Aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan oleh orang-orang dengan gaya belajar reß ector yaitu dengan diskusi berpasangan, diskusi kelompok, metode problem based learning ( PBL), presentasi dari berbagai karakteristik yang berbeda, serta mengobservasi kegiatan. Hal yang paling mencolok pada gaya belajar reß ector adalah mereka akan belajar dengan sangat efektif jika tidak ada tekanan dari pi- hak luar (Honey dan Mumford, 1986). Gaya belajar peringkat kedua pada mahasiswa Ke- bidanan Giri Satria Husada Wonogiri adalah pragmatist. Gaya belajar pragmatist merupa- kan gaya belajar yang suka menguji apakah pemahamannya sesuai sehingga dapat dite- rapkan. Mereka yang berada dalam kelom- pok ini sangat senang mengaplikasikan ide- idenya secara praktis. Seorang pragmatist cenderung mampu bereaksi secara cepat dan lebih senang berhubungan langsung dengan orang lain.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...