Respon Uni-Eropa Terhadap Program Nuklir Iran

Top PDF Respon Uni-Eropa Terhadap Program Nuklir Iran:

Kebijakan uni eropa dalam menghentikan proliferasi nuklir Iran Tahun 2009-2013

Kebijakan uni eropa dalam menghentikan proliferasi nuklir Iran Tahun 2009-2013

Dalam konteks saat itu, intervensi Uni Eropa dalam konflik atas program nuklir Iran dilatarbelakangi oleh dua krisis nuklir lainnya. Pertama, pada tanggal 11 Januari 2003, Korea Utara telah mengumumkan pengunduran dirinya dari Non Proliferation Treaty tahun 1968. 244 Kedua, pada tahun yang sama, aksi militer terhadap Irak, dijustifikasi oleh dugaan kepemilikan senjata pemusnah masal (meskipun akhirnya tidak terbukti). Melihat Korea Utara yang menarik diri dari NPT, Uni Eropa khawatir jika Iran akan melakukan hal serupa. Jika hal ini terjadi, tentunya akan melemahkan dan mengurangi kredibilitas rezim proliferasi dunia tersebut. Uni Eropa melihat Iran sebagai negara yang menjadi ujian bagi kelangsungan rezim nonproliferasi. Sebuah rezim penjaga proliferasi yang selalu diperjuangkan oleh Uni Eropa.
Baca lebih lanjut

145 Baca lebih lajut

BAB 2 PROGRAM NUKLIR IRAN

BAB 2 PROGRAM NUKLIR IRAN

Upaya Iran dalam mengembangkan program nuklirnya ini mendapatkan dukungan dari negara-negara non-blok. Pada September 2003 dalam pertemuan Board of Governors IAEA, perwakilan negara non-blok memuji dan mendukung upaya Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir, dan menyatakan bahwa setiap anggota NPT memiliki hak untuk mengembangkan program nuklir damai. 63 Namun demikian, IAEA tetap menuntut dan menentukan tenggat waktu untuk Iran untuk segera menyetujui protokol tambahan yang juga didukung oleh negara-negara barat. Tekanan terhadap Iran untuk menyetujui protokol tambahan tersebut semakin kuat terutama dari Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa. Tuntutan IAEA terhadap Iran dan program nuklir Iran kemudian mencuat menjadi kontroversi internasional karena negara-negara Arab memiliki pandangan yang berbeda terhadap IAEA. Mesir, Suriah, dan Arab Saudi mengkritik keras IAEA pada Sidang Umum PBB, dengan menyatakan bahwa IAEA dan negara-negara Barat diskriminatif dan menggunakan standar ganda dalam melakukan pengawasan karena pada saat yang bersamaan hanya mengawasi Iran dan mengabaikan fakta bahwa Israel secara terang-terangan memiliki senjata nuklir dan menolak untuk meratifikasi NPT. 64 Kritik keras terhadap IAEA ini menguatkan kesan bahwa memang terdapat standar ganda dalam menilai program nuklir Iran. Persepsi ini juga berkembang kuat di Iran sehingga pada Oktober 2003 Menteri Luar Negeri Kamal Kharazzi menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan siapapun mengambil dengan paksa hak sah Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir damainya sebagai mana dikutip berikut: 65
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

Program Pengembangan Nuklir Iran dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat Iran ( M)

Program Pengembangan Nuklir Iran dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat Iran ( M)

Iran sebagai negara yang mempunyai peranan yang cukup penting dalam kawasan Timur Tengah khususnya di wilayah Teluk Persia dikarenakan minyak yang berlimpah. Sehingga respon yang diberikan oleh setiap negara Timur Tengah terkait pada ambisi dalam mengembangkan program nuklir Iran berbeda-beda. Negara Timur Tengah yang memberikan respon tehadap nuklir Iran diantaranya adalah Turki. Respon Negara Turki terkait Nuklir Iran adalah sebagai penengah tentang masalah nuklir yang terjadi di Iran. Turki sebagai negara yang berdekatan dengan Iran, melihat permasalahan yang terjadi pada negara tetangganya dikhawatirkan akan memberikan dampak buruk bagi Turki sendiri. Turki yang berhubungan baik dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat dalam masalah nuklir Iran, membuat negara Turki menjadi dilema, dimana Turki tidak bisa memihak salah satu dari negara tersebut, dikarenakan Turki tergabung kedalam NATO pada tanggal 18 Februari 1952 sampai saat ini dan sebagian besar persenjataan Turki berasal dari Amerika Serikat, selain itu pemasok senjata Turki berasal dari Jerman, Israel, Inggris, Perancis dan Rusia. Kemudian disisi lain Turki juga mempunyai hubungan baik dengan Iran sebagai negara yang sama-sama berada di kawasan Timur Tengah. Karena selain kondisi geografis Turki, kondisi ekonomi dan militer serta dukungan dari rakyat Turki dan negara lain juga menjadi pendukung Turki untuk menengahkan kasus nuklir Iran, dan pada saat pertemuan antara Perdana Menteri Turki, Reccep Tayyib Erdogan di Washington. Presiden Barack Obama mengatakan bahwa Turki bisa menjadi “pemain penting” dalam menyelesaikan kasus tersebut.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB II PROGRAM PENGEMBANGAN NUKLIR IRAN. Pada Bab II ini menjelaskan sejarah, latar belakang, tujuan program nuklir Iran

BAB II PROGRAM PENGEMBANGAN NUKLIR IRAN. Pada Bab II ini menjelaskan sejarah, latar belakang, tujuan program nuklir Iran

26 Barat (Recknagel, Iran: Election Of Ahmadinejad Unlikely To Affect Nuclear Negotiations , 2005). Pada bulan yang sama setelah resmi menjabat sebagai presiden, dalam sebuah pertemuan dengan Sekjen PBB Kofi Annan Presiden Ahmadinejad menjelaskan niatnya untuk melanjutkan proses negosiasi dengan negara-negara Eropa terutama UE3 segera setelah pemerintahannya resmi terbentuk. Presiden Ahmadinejad juga menegaskan konsistensi Iran untuk meneruskan program nuklirnya (nti.org, 2005) Dalam sebuah pidato resmi di sidang umum PBB tanggal 18 September 2005, Presiden Ahmadinejad menyampaikan bahwasanya terdapat negara-negara Adidaya yang menghalangi secara terang-terangan akses terhadap teknologi nuklir Iran yang damai. Menurut Presiden Ahmadinejad, negara-negara ini salah dalam mempersepsikan niat dan tujuan Iran sehingga menggunakan propaganda yang mendeskripsikan program nuklir damai milik Iran. Presiden Ahmedinejad kemudian mengundang negara-negara maupun perusahaan swasta secara terbuka untuk ikut berpartisipasi membantu program nuklir Iran. Hal tersebut dilakukan sebagai sarana untuk Confidence Building Measures (news.bbc.co.uk, 2005).Pemimpin Agung Iran Ayatulah Ali Khamenei yang menyatakan bahwa Iran tidak memiliki niat untuk membuat bom nuklir, dan bahwa Amerika Serikat telah memberikan informasi yang keliru dan menyesatkan publik, seperti dikutip sebagai berikut (Smith, 2005)
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Program Pengembangan Nuklir Iran dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat Iran (1957-2006 M)

Program Pengembangan Nuklir Iran dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat Iran (1957-2006 M)

Iran sebagai negara yang mempunyai peranan yang cukup penting dalam kawasan Timur Tengah khususnya di wilayah Teluk Persia dikarenakan minyak yang berlimpah. Sehingga respon yang diberikan oleh setiap negara Timur Tengah terkait pada ambisi dalam mengembangkan program nuklir Iran berbeda-beda. Negara Timur Tengah yang memberikan respon tehadap nuklir Iran diantaranya adalah Turki. Respon Negara Turki terkait Nuklir Iran adalah sebagai penengah tentang masalah nuklir yang terjadi di Iran. Turki sebagai negara yang berdekatan dengan Iran, melihat permasalahan yang terjadi pada negara tetangganya dikhawatirkan akan memberikan dampak buruk bagi Turki sendiri. Turki yang berhubungan baik dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat dalam masalah nuklir Iran, membuat negara Turki menjadi dilema, dimana Turki tidak bisa memihak salah satu dari negara tersebut, dikarenakan Turki tergabung kedalam NATO pada tanggal 18 Februari 1952 sampai saat ini dan sebagian besar persenjataan Turki berasal dari Amerika Serikat, selain itu pemasok senjata Turki berasal dari Jerman, Israel, Inggris, Perancis dan Rusia. Kemudian disisi lain Turki juga mempunyai hubungan baik dengan Iran sebagai negara yang sama-sama berada di kawasan Timur Tengah. Karena selain kondisi geografis Turki, kondisi ekonomi dan militer serta dukungan dari rakyat Turki dan negara lain juga menjadi pendukung Turki untuk menengahkan kasus nuklir Iran, dan pada saat pertemuan antara Perdana Menteri Turki, Reccep Tayyib Erdogan di Washington. Presiden Barack Obama mengatakan bahwa Turki bisa menjadi “pemain penting” dalam menyelesaikan kasus tersebut.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Sejarah dan Perkembangan Program Nuklir Iran  

Studi Kasus: Tingginya Masyarakat Berisiko Akibat Program 

Nuklir Iran (1957-2006 M)

Sejarah dan Perkembangan Program Nuklir Iran Studi Kasus: Tingginya Masyarakat Berisiko Akibat Program Nuklir Iran (1957-2006 M)

diplomasi internasional dengan pihak-pihak terkait khusunya IAEA dan Uni Eropa kemudian mengumumkan ke masyarakat luas bahwa telah melakukan pengembangan PLTN dan mengundang IAEA sebagai bukti bahwa program nuklir Iran bertujuan untuk damai dan demi kepentingan masyarakat sipil. Dan dimasa pemerintahan Ahmadinejad sangat berbeda sekali dengan Khatami yang ingin menormalisasikan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Pada masa Ahmadinejad Iran semakin gigih untuk mengerjakan program nuklir Iran dan menentang keras Amerika Serikat dan Israel.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

BAB IV RESPON AMERIKA SERIKAT TERHADAP PERKEMBANGAN NUKLIR IRAN PADA MASA AHMADINEJAD

BAB IV RESPON AMERIKA SERIKAT TERHADAP PERKEMBANGAN NUKLIR IRAN PADA MASA AHMADINEJAD

56 dengan jatuhnya rezim Shah Pahlevi oleh kelompok mullah Syi’ah di bawah kepemimpinan Imam Khomeini. Hubungan Iran dan AS menjadi rumit setelah terjadinya revolusi Islam Iran pada tahun 1979, yang menjadi awal terputusnya hubungan diplomasi kedua negara. Iran di bawah kepemimpinan Khomeini sangat menentang penindasan Barat, khususnya AS. Amerika sendiri tidak tinggal diam merespon negara para mullah tersebut. Berbagai cara dan kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah AS untuk mendiskreditkan Iran pasca revolusi Islam. Amerika Serikat menggunakan kekuatan hegemoniknya untuk “menyerang” program nuklir Iran. Ini sangat tampak ketika Iran dipimpin Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan AS berada di bawah kepemimpinan Presiden George W. Bush. Kedua pihak saling serang kata- kata dan saling mendeskreditkan. Ahmadinejad, misalnya, dalam suatu kesempatan menyatakan bahwa pemberitaan negatif yang dikeluarkan oleh Amerika dan sekutunya terhadap negara Republik Islam Iran adalah kebohongan; yang menyampaikan berita tersebut adalah sebuah kejahatan. Ia juga menyatakan bahwa demokrasi dan isu hak asasi manusia merupakan alat imperialis Amerika dan sekutunya sebagai dalih hegemoni dan untuk memperkokoh kekuatan Amerika di dunia internasional.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Status Perjanjian Nuklir antara Iran dengan E3/eu+3(Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan Dk Pbb Ditinjau dari Hukum Internasional

Status Perjanjian Nuklir antara Iran dengan E3/eu+3(Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan Dk Pbb Ditinjau dari Hukum Internasional

Pada tahun 2003, International Atomic Energy Agency (IAEA) atau dikenal dengan Badan Energi Atom Internasional menyatakan bahwa mereka menemukan pabrik uranium berkadar tinggi di Natanz, Iran. Produksi uranium Iran sempat dihentikan, namun pada tahun 2006 Iran kembali memperoduksinya. Pada akhir tahun 2006 Dewan Keamanan PBB mengeluarkan sanksi terhadap Iran karena tidak juga menghentikan program nuklirnya. Sanksi kemudian meluas menjadi larangan jual beli senjata, larangan berkunjung, larangan jual beli minyak dan larangan bertransaksi dengan bank di Iran selama tujuh tahun.Hingga dua pekan menjelang tenggat waktu Resolusi PBB 1737, pemerintah Iran sama sekali tidak berusaha mematuhi tuntutan internasional untuk menghentikan program atomnya. Sanksi tersebut melumpuhkan perekonomian Iran karena harga minyak turun dan mata uang Iran turun 80%. Tahun 2012 Iran bahkan mengalami inflasi.Tapi seakan tidak jera setelah diselidiki oleh AS, Iran malah menambah produksi uraniumnya menjadi 19 ribu sentrifugal yang awalnya hanya berjumlah 3.000 sentrifugal pada tahun 2007. 6
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Status Perjanjian Nuklir Antara Iran dengan E3/EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan DK PBB Ditinjau Dari Hukum Internasional

Status Perjanjian Nuklir Antara Iran dengan E3/EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan DK PBB Ditinjau Dari Hukum Internasional

Pada awal tahun 1957, Amerika Serikat dalam hal ini dapat disingkat AS meluncurkan program nuklir dengan Iran. Saat itu, Iran yang dipimpin oleh Shah, memang memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat. Iran pun mengembangkan program nuklirnya pada 1970-an atas dukungan Amerika Serikat. Amerika Serikat mulai berhenti mendukung program nuklir Iran ketika Shah digulingkan pada Revolusi Islam tahun 1979. Setelah Revolusi Islam, Iran semakin mengembangkan tenaga nuklir yang mereka klaim untuk dijadikan sebagai tenaga pembangkit listrik. Namun Amerika menilai bahwa negara tersebut belum perlu mengganti tenaga listriknya dengan nuklir. Negara-negara Barat pun curiga pengembangan nuklir di Iran bertujuan untuk membuat bom atom. Menurut juru bicara Menteri Luar Negeri Iran Hamid Reza Asefi, Iran sendiri berang terhadap tudingan Amerika bahwa mereka mengembangkan senjata nuklir. Menurut Iran, seharusnya sebelum menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, AS lebih dulu membuktikan tuduhan mereka terhadap Irak yang sampai sekarang ternyata tak terbukti. 12
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Status Perjanjian Nuklir Antara Iran dengan E3 EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan DK PBB Ditinjau Dari Hukum Internasional

Status Perjanjian Nuklir Antara Iran dengan E3 EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan DK PBB Ditinjau Dari Hukum Internasional

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaturan pembatasan penggunaan nuklir dalam berbagai perjanjian internasional yang berlaku saat ini, bagaimana status perjanjian nuklir antara Iran dengan E3/EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang disahkan DK PBB ditinjau dari hukum Internasional, bagaimana sanksi hukum yang timbul bila terjadi pelanggaran terhadap perjanjian nuklir antara Iran dengan E3/EU+3(Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang disahkan DK PBB ditinjau dari hukum internasional.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Status Perjanjian Nuklir Antara Iran dengan E3 EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan DK PBB Ditinjau Dari Hukum Internasional

Status Perjanjian Nuklir Antara Iran dengan E3 EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan DK PBB Ditinjau Dari Hukum Internasional

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaturan pembatasan penggunaan nuklir dalam berbagai perjanjian internasional yang berlaku saat ini, bagaimana status perjanjian nuklir antara Iran dengan E3/EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang disahkan DK PBB ditinjau dari hukum Internasional, bagaimana sanksi hukum yang timbul bila terjadi pelanggaran terhadap perjanjian nuklir antara Iran dengan E3/EU+3(Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang disahkan DK PBB ditinjau dari hukum internasional.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Status Perjanjian Nuklir Antara Iran dengan E3 EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan DK PBB Ditinjau Dari Hukum Internasional

Status Perjanjian Nuklir Antara Iran dengan E3 EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan DK PBB Ditinjau Dari Hukum Internasional

Pada awal tahun 1957, Amerika Serikat dalam hal ini dapat disingkat AS meluncurkan program nuklir dengan Iran. Saat itu, Iran yang dipimpin oleh Shah, memang memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat. Iran pun mengembangkan program nuklirnya pada 1970-an atas dukungan Amerika Serikat. Amerika Serikat mulai berhenti mendukung program nuklir Iran ketika Shah digulingkan pada Revolusi Islam tahun 1979. Setelah Revolusi Islam, Iran semakin mengembangkan tenaga nuklir yang mereka klaim untuk dijadikan sebagai tenaga pembangkit listrik. Namun Amerika menilai bahwa negara tersebut belum perlu mengganti tenaga listriknya dengan nuklir. Negara-negara Barat pun curiga pengembangan nuklir di Iran bertujuan untuk membuat bom atom. Menurut juru bicara Menteri Luar Negeri Iran Hamid Reza Asefi, Iran sendiri berang terhadap tudingan Amerika bahwa mereka mengembangkan senjata nuklir. Menurut Iran, seharusnya sebelum menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, AS lebih dulu membuktikan tuduhan mereka terhadap Irak yang sampai sekarang ternyata tak terbukti. 12
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Status Perjanjian Nuklir Antara Iran dengan E3 EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan DK PBB Ditinjau Dari Hukum Internasional

Status Perjanjian Nuklir Antara Iran dengan E3 EU+3 (Jerman, Perancis, Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa) yang Disahkan DK PBB Ditinjau Dari Hukum Internasional

Pengaruh bom yang sangat buruk ,melemparkan bayangan menakutkan selama era baru perdamaian dan kemakmuran. Setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, banyak orang menyerukan larangan menggunakan senjata nuklir. Untuk menghindari perlombaan senjata nuklir dan risiko bencana di masa depan seperti yang di Hiroshima dan Nagasaki. Baik Amerika Serikat dan Uni Soviet menyatakan bahwa mereka mendukung untuk menempatkan bom atom di bawah kontrol internasional. Meskipun mendeklarasikan hal ini, negara-negara besar pada kenyataannya tidak pernah siap untuk menyerah pada program senjata nuklir mereka sendiri. Pada akhir tahun 1946 itu jelas bagi semua orang bahwa upaya untuk mencegah perlombaan senjata nuklir telah gagal. Memang, Uni Soviet telah meluncurkan sebuah program rahasia senjata nuklir kecepatan penuh dalam upaya untuk mengejar ketinggalan dari Amerika Serikat. Sebagian berkat spionase, para ilmuwan Soviet mampu membangun blueprint dari bom fisi
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

BAB IV ANALISIS KEBIJAKAN RUSIA TERHADAP IRAN DALAM KEJASAMA PROGRAM REAKTOR NUKLIR IRAN TAHUN

BAB IV ANALISIS KEBIJAKAN RUSIA TERHADAP IRAN DALAM KEJASAMA PROGRAM REAKTOR NUKLIR IRAN TAHUN

Rusia semestinya sadar ketika Rusia setuju dengan perjanjian yang dijalin dengan Iran tersebut dunia akan berputar dan Rusia menjadi pusat perhatian seketika. Lalu apakah ini yang diinginkan Rusia? Merupakan salah satu strategi untuk mengambil perhatian dunia, bila dilihat setelah Perang Dingin serta runtuhnya Uni Soviet pada waktu yang bersamaan pamor Rusia sebagai Negara maju bila dibandingkan dengan Uni Soviet sebelumnya tentu sangat jauh berbeda. Tidak menutup kemungkinan cara Rusia untuk kembali muncul kepermukaan dengan membantu Iran, mengapa Iran? Karena Iran merupakan salah satu negara yang memiliki pengaruh kuat di Timur Tengah dan bila dibandingkan hubungan Rusia – Iran walaupun tidak lepas dari gejolak dan berunsur musuh dalam selimut namun hubungan yang terjalin tidak lebih buruk dari hubungan Iran- AS.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kroasia Bergabung dengan Uni Eropa

Kroasia Bergabung dengan Uni Eropa

8 dikarenakan canangan dalam kerjasama Balkan barat dalam aspek ekonomi tidak terjadi. Penelitian ke tiga yang didapatkan penulis adalah David Albright yang berjudul Understanding the IAEA’s Mandate in Iran: Avoiding Misinterpretations. 11 Dalam penelitian ini menjelasakan pengembangan Nuklir Iran Mendapat respon keras dunia Internasioanal. Menjelaskan Iran menyetujui bergabung dengan IAEA menggunakan konsep Policy Influence System berdasarkan pengaruh partai-partai politik yang mendukung perdamaian. Partai- partai yang berada di Iran menekan kebijakan luar negeri dalam aspek kepemilikan nuklir, para pengambil kebijakan Iran mempertimbangkan kondisi- kondisi yang ada dikarenakan melihat kepentingan para elit politik membutuhkan suara dari mayoritas partai tersebut. Pada perkembangannya Iran bergabung dengan IAEA dikarenakan untuk menjaga agar Kerjasama Internasionalnya terjamin dan kepentingan pemerintah terhadap suara yang masih mereka butuhkan dalam mayoritas partai-partai di Iran.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

DIPLOMASI PEMERINTAH IRAN TERHADAP TEKANAN INTERNASIONAL PADA PROGRAM PENGEMBANGAN NUKLIR TAHUN

DIPLOMASI PEMERINTAH IRAN TERHADAP TEKANAN INTERNASIONAL PADA PROGRAM PENGEMBANGAN NUKLIR TAHUN

Uni Eropa yang diwakili UE-3 yang aktif melakukan diplomasi dan negosiasi dengan Iran agar Iran medapat kepercayaan dari internasional terkait program nuklirnya juga disambut baik oleh Iran selama tidak melemahkan hak Iran sebagai negara yang berdaulat dan yang meratifikasi NPT. Iran merespon dengan baik setiap permintaan UE-3 dan melakukan pembicaraan beberapa kali untuk mencari solusi dalam isu nuklirnya. Hal tersebut sebagai upaya persuasif Iran. Iran juga berkompromi memenuhi permintaan UE-3 dan proposal berkaitan dengan confidence building yang ingin dibangun Iran, dan tentunya selama masih dalam kewajaran yang di sisi lain Iran juga harus mempertahankan pendirian dan keteguhannya serta kepercayaan negara lain terhadap nuklir Iran. Tidak jarang adanya tarik ulur dengan UE seperti penolakan Iran terhadap proposal UE untuk menghentikan aktifitas nuklir, 137 siap mengadakan pembicaraan lagi, dan meminta klarifikasi tentang penangguhan sementara. Iran juga meminta UE untuk membantu menciptakan kawasan bebas senjata pemusnah masal di Timur Tengah. Iran juga menawarkan beberapa kerjasama dengan organisasi-organisasi dunia dalam upaya kerjasama multilateral, diantaranya Ahmadinejad menawarkan kerjasama energi kepada China dan negara-negara lain, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Tengah di Shanghai, Presiden Iran menghadiri KTT Organisasi Kerjasama Shanghai (Shanghai Cooperation Organisation/ SCO). 138 Iran memiliki posisi sebagai pemantau di SCO yang beranggotakan Rusia, China,
Baca lebih lanjut

111 Baca lebih lajut

Pengebangan Nuklir Iran dan Diplomasi Kepada IAEA

Pengebangan Nuklir Iran dan Diplomasi Kepada IAEA

Untuk meredakan ketegangan masalah program nuklir ini, maka Menteri Luar Negeri Inggris, Jerman, dan Perancis yang bertindak atas nama Uni Eropa (EU3) memutuskan untuk melakukan jalur diplomasi dan memberi jaminan bahwa Iran mau bekerjasama dengan IAEA secara transparan. Merasa berada di posisi yang tidak aman dan khawatir akan mendapat sanksi ataupun isolasi internasional, maka pada 21 Oktober 2003 Iran bersedia menandatangani Protokol Tambahan, bekerjasama secara transparan dengan IAEA, dan menghentikan proses pengayaan uranium untuk waktu yang tertentu. Hingga pada tanggal 18 Desember 2003, Iran bersedia menandatangani Protokol Tambahan dan akan memberikan akses kepada IAEA untuk memeriksa fasilitas nuklirnya. Setelah menandatangani Protokol Tambahan, Iran memberikan akses kepada IAEA secara luas untuk memeriksa fasilitas nuklirnya. Akan tetapi pada Februari 2004, Iran mulai membatasi ruang gerak IAEA. Hal ini membuat IAEA mengkritik pemerintah Iran, dan melapor ke PBB tentang sikap Iran yang tidak memberikan informasi secara lengkap tentang pengujian material dan mekanik yang terkait dengan program pengayaan uranium, khususnya pengembangan Low Enriched Uranium (LEU),
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ISRAEL DAN PROGRAM NUKLIR IRAN

ISRAEL DAN PROGRAM NUKLIR IRAN

Revolusi Islam di bawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini tahun 1979 telah mengubah Iran sebagai negara yang tidak sejalan dengan nilai-nilai liberal dan sekuler modern, yang menjadi ciri khas model universal Barat dari demokrasi liberal. Dengan pandangan seperti itu, kepemilikan senjata nuklir oleh Iran merupakan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan kawasan maupun global. Apalagi setelah menandatangani perjanjian JCPOA tahun 2015, perekonomian Iran maju pesat karena dihapusnya berbagai sanksi ekonomi yang diberlakukan sejak 1979. Kemajuan Iran tersebut memberinya kesempatan memperluas daerah pengaruh. Tulisan ini menganalisis sikap Israel yang selalu berusaha melakukan sabotase terhadap instalasi nuklir Iran di Natanz karena dianggap instalasi itu bukan untuk tujuan sipil, tapi kepentingan militer. Israel tidak menginginkan ada negara lain di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir karena akan mengancam dominasi militernya di Timur Tengah, dan bahkan akan mengancam eksistensinya. Sabotase dianggap sebagai pilihan terbaik karena pendekatan secara diplomasi akan sulit menghentikan keinginan Iran untuk memiliki senjata nuklir.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Program Proliferasi Nuklir Iran Era Pres

Program Proliferasi Nuklir Iran Era Pres

Dari beberapa negara pengembang nuklir di dunia, Iran merupakan salah satu negara yang mengembangkan energi nuklir yang terbilang cukup lama, Dari pertama kali masuknya nuklir tahun 1957 sampai sekarang pengembangan nuklir Iran tetap berjalan, berawal ketika Iran dipimpin oleh Dinasti Shah (1921-1979). Pada pemerintahan shah pahlevi di pertengahan tahun 1960 Iran mulai melibatkan diri dalam penelitian dan pengembangan nuklir atas dukungan Amerika serikat dalam kerjasama billateral antar kedua negara. Amerika dan Iran menandatangani nuclear cooperation agreement pada tahun 1957 yang mulai berlaku pada 1959 (william:2009). kedekatan Iran dan Amerika waktu itu mengasihlkan sebuah fasilitas nuklir yang pertama kali di bangun di Tehran Nuclear Research Center di tahun 1967 yang bertempat di tehran University dan di jalankan oleh atomic oragnization of Iran (AEOI) yang memiliki 5 megawat reaktor nuklir yang di suplai oleh Amerika serikat tahun tahun 1967.(sahimi :2003) hingga pada 1 juli 1968 Iran menandatangani traktat non- proleferasi (NPT) dan berlaku pada 5 maret 1970 setelah di ratifikasi oleh majlis. Dalam traktat tersebut Iran memiliki hak untuk mengembangkan penelitian, memproduksi, dan menggunakan nuklir untuk tujuan damai tanpa diskriminasi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KERJASAMA CINA UNI EROPA DALAM PROGRAM N

KERJASAMA CINA UNI EROPA DALAM PROGRAM N

K eadaan emisi gas yang cukup besar yang dihasilkan oleh C ina membuat banyak negara memaksa C ina untuk melakukan pengurangan emisi gas karbon, karena keadaan tersebut dapat merugikan seluruh negara di D unia. Desakan mengurangi emisi gas karbon berasal dari berbagai pihak, salah satunya negara- negara di bawah organisasi Uni E ropa yang merupakan negara A nnex I dimana negara-negara tersebut merupakan negara penyumbang emisi gas di dunia, A dapun negara-negara yang dikategorikan sebagai negara Annex I antara lain : A ustralia, A ustria, B elarus, B elgia, B ulgaria, K anada, K roasia, C ypruz, R epublik C eko, D enmark, E stonia, F inlandia, Perancis, J erman, Y unani, Hungaria, Iceland, Irlandia, Italia, J epang, L atvia, L iechtenstein, L ituania, L uxemburg, Malta, Monako, B elanda, Selandia B aru, Norwegia, Polandia, Portugal, R omania, R usia,
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...