Rheumatoid Arthritis

Top PDF Rheumatoid Arthritis:

The Effects of Rheumatoid Arthritis in Hearing Loss: Preliminary Report

The Effects of Rheumatoid Arthritis in Hearing Loss: Preliminary Report

Rheumatoid arthritis is a chronic progressive autoimmune disease [1,2] that can cause articular, extraarticular and systemic effects [2]. Joints destruction due to RA leads to some malfunctions of the body, decreased quality of life, and disabilities of working performance [3]. Furthermore, RA also contributes to impairment of other organs such as eyes, heart, lung, and skin [4]. Auditory system can also be affected by the various pathologies that occur in this disease because incudomalleolar and incudostapedial joints are true diarthrosis that can be subjected to rheumatoid lesions [5,6]. Previous studies reported that RA is usually correlated with hearing impairment [5-8]. Impairment in ossicular joints in the middle ear, vasculitis, neuritis, and the effect of ototoxic drugs used could be the causes, although pathogenesis of hearing impairment is yet to be ascertained [5,8]. Ozcan M et al., found hearing impairment at 51.4% in RA group and only at 14.3% in control group. In RA patients who were suffering from Sensorineural Hearing Loss (SNHL) [4-10], Conductive Hearing loss (CHL) [4,8,9], as well as Mixed Hearing Loss (MHL) [4] had been reported [9]. SNHL was the most frequently reported; up to 72% and correlated with inner ear impairment [4]. CHL was reported at lower prevalence rate of 0-24.3% [8,9], meanwhile MHL was reported at 10.8% [7]. Previous study stated that SNHL in RA patients had significant correlation with ESR increased [10]. Dikici O et al., also reported that hearing impairment could correlate with increasing ESR, disease duration, and platelet count [5]. They found a concurrent in the hearing threshold increased with ESR increased as well as platelet count in patients with rheumatoid nodules.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS RHEUMATOID  Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Rheumatoid Arthritis Ankle Billateral Di RSUD Saras Husada Purworejo.

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS RHEUMATOID Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Rheumatoid Arthritis Ankle Billateral Di RSUD Saras Husada Purworejo.

Dari hasil yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan modalitas fisioterapi berupa infra red, terapi latihan (resisted active movement dan static contraction) massage dapat membantu mengurangi masalah pada kasus rheumatoid arthritis. Setelah dilakukan terapi sebanyak 6 kali keluhan nyeri, penurunan kekuatan otot, dan oedema pada kedua ankle pasien ini berkurang cukup banyak.

15 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa[Boerl.] Scheff.) TERHADAP SKALA NYERI RHEUMATOID ARTHRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAUH KOTA PADANG - Repositori Universitas Andalas

PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa[Boerl.] Scheff.) TERHADAP SKALA NYERI RHEUMATOID ARTHRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAUH KOTA PADANG - Repositori Universitas Andalas

Efek samping dari pemakaian terapi farmakologi cukup berbahaya dan sebaiknya dihindari. Karena alasan tersebut banyak pasien mulai melihat kepada terapi non-farmakologi alternatif obat dan terapi komplementer / Complementary and Alternative Medicine (CAM) sebagai pilihan dalam mengatasi penyakit. Menurut Soeken, Miller & Ernst (2003) dalam penelitian tentang terapi herbal sebagai obat Rheumatoid Arthritis menunjukkan bahwa orang yang menderita sakit kronis, seperti Rheumatoid Arthritis merasa puas dengan pengobatan saat ini yang menggunakan pengobatan alternatif dan diperkirakan 60-90% orang dengan arthritis menggunakan terapi komplementer (Soeken, Miller & Ernst 2003).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Gangguan Tidur Klien dengan Rheumatoid Arthritis di Puskesmas Stabat Kabupaten Langkat

Kualitas Tidur dan Gangguan Tidur Klien dengan Rheumatoid Arthritis di Puskesmas Stabat Kabupaten Langkat

Rheumatoid Arthritis adalah penyakit peradangan sistemis kronis yang tidak diketahui penyebabnya dengan manifestasi pada sendi perifer dengan pola simetris (Helmi, 2013). Rheumatoid arthritis dapat terjadi pada semua umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut dan gangguan rematik akan meningkat dengan meningkatnya umur. (Felson, 1993, Soenarto dan Wardoyo, 1994). Lebih dari 355 juta orang di dunia ternyata menderita penyakit rematik. Itu berarti, diperkirakan angka ini terus meningkat hingga tahun 2025. Insidensi rheumatoid arthritis lebih banyak mengenai wanita dibanding pria dengan perbandingan 2-3:1.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Asuhan Keperawa tan Rheumatoid Arthritis

Asuhan Keperawa tan Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan struktur – struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang.

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN STRATEGI KOPING AKTIF NYERI PADA PENDERITA RHEUMATOID ARTHRITIS

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN STRATEGI KOPING AKTIF NYERI PADA PENDERITA RHEUMATOID ARTHRITIS

Rasa nyeri merupakan sensasi dan keadaaan yang tidak menyenangkan. Rasa nyeri kronik mengaktifasi emosi, dan pada keadaan tertentu, emosi yang mengaktifasi nyeri (Tamzuri, 2007). Dengan demikian, emosi dan nyeri merupakan fenomena yang tidak terpecahkan dari penyakit dan gangguan nyeri kronik. Penderita rheumatoid arthritis cenderung mengalami tekanan emosi seperti kecemasan dan depresi sebagai dampak nyeri berkepanjangan. Mereka pun harus menghadapi kondisi ini dengan koping yaitu upaya melakukan tindakan- tindakan yang bertujuan mengendalikan stresor akibat penyakit dan meningkatkan kesehatan mereka (Zeidner & Endler, 1996). Strategi koping aktif terhadap nyeri dipandang memiliki dampak terhadap toleransi nyeri sehingga membantu penderita menyesuaikan diri lebih baik untuk jangka panjang.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Gangguan Tidur Klien dengan Rheumatoid Arthritis di Puskesmas Stabat Kabupaten Langkat

Kualitas Tidur dan Gangguan Tidur Klien dengan Rheumatoid Arthritis di Puskesmas Stabat Kabupaten Langkat

Secara umum klien rheumatoid arthritis mengalami gangguan tidur karena beberapa kondisi fisik dan kondisi lingkungan yang dialaminya. Kondisi ini berdampak terhadap ketidaknyamanan yang mempengaruhi kualitas tidurnya di malam hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas tidur dengan gangguan tidur pada klien dengan rheumatoid arthritis di Puskesmas Stabat Kabupaten Langkat dengan menggunakan desain deskriptif dengan metode pengambilan sampel secara convenient sampling terhadap 38 orang. Subjek penelitian yang diidentifikasi menggunakan kuisioner dan wawancara terstruktur meliputi data demografi responden, kualitas tidur dangan gangguan tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden tidak dapat tidur dengan baik yang dapat dilihat dari total waktu tidur pada malam hari 5-6 jam (45%), waktu yang dibutuhkan responden untuk dapat tertidur dan memulai tertidur>60 menit (47%), frekuensi terbangun 3-4 kali (63%). Sedikit mengantuk(74%), kenyenyakan tidur dimalam hari tidur dan kemudian terbangun (42%), perasaan segar saat bangun pagi sedang (61%), dan sedikit lemah atau lelah saat beraktivitas di pagi hari (61%). Dari 7 parameter tidur tersebut maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilainya maka semakin baik pula kualitas tidurnya. Responden mengalami gangguan tidur baik fisik seperti nyeri dan perasaan lelah (84%), pusing dan gelisah (78%); maupun gangguan tidur baik lingkungan seperti suara bising (76%), suhu ruangan (68%), cahaya lampu (57%), ruang dan tempat tidur yang nyaman (63%), ventilasi (71%), bau yang tidak nyaman (89%), dan jumlah teman kamar (44%).Maka hasilnya semakin tinggi nilainya semakin tinggi pula gangguan tidurnya. Berdasarkan hasil penelitian diperlukan adanya rekomendasi untuk mengatasi kualitas tidur yang buruk dengan gangguan tidur pada klien dengan rheumatoid arthritis.
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

A Study on Brown Seaweed Therapy (Sargassum sp.) toward MDA Levels and Histological Improvement on Rat Foot Suffering Rheumatoid Arthritis

A Study on Brown Seaweed Therapy (Sargassum sp.) toward MDA Levels and Histological Improvement on Rat Foot Suffering Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis (AR), an autoimmune disease, is characterized by the inflammation in the joint area caused an excessive of free radicals. An excessive of free radicals in the body cause oxidative stress, that increasing the levels of malondialdehyde (MDA) as an indicator of lipid peroxidation and the decreasing levels of anti-oxidants. The treated with extract of brown seaweed (Sargassum sp.) intended to find out the MDA levels in serum and the histological of the foot joints rheumatoid arthritis rats. MDA levels are determined through a TBA test (Thio Barbituric acid), meanwhile the histological of the rat foot joints was determined by Hematoxylen-Eosin staining (HE). The results showed the brown seaweed extract therapy (Sargassum sp.) was significantly (p<0.01) reduce levels of MDA in the serum of 21.24% and improving histological foot joint rheumatoid arthritis rats.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Gamabaran Pengetahuan Dan Sikap Lansia Dalam Mengatasi Rheumatoid Arthritis Di Kelurahan Binjai Serbangan Kecamatan Air Joman Kabupaten Asahan

Gamabaran Pengetahuan Dan Sikap Lansia Dalam Mengatasi Rheumatoid Arthritis Di Kelurahan Binjai Serbangan Kecamatan Air Joman Kabupaten Asahan

Komplikasi yang sering terjadi pada penyakit rheumatoid arthritis adalah penyakit sistim pencernaan misalnya gastritis dan ulkus peptic yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi non steroid (OAINS dan obat pengubah perjalanan penyakit atau disease modfiyeng anti rheumatoid drugs, DMARD) yang menjadi faktor penyeba Morbiditas dan mortalitas utama pada rheumatoid arthritis. Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas, sehingga susah dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatiker. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidak setabilan vertebral servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis. Jadi rhematoid arthritis merupakan penyakit autoimun yang dapat menyebabkan inflamasi pada sendi terutama mengenai membran synovial pada sendi dan mengarah pada destruksi kartilago sendi sehingga menyebabkan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas dan keletihan. Dapat terjadi pada semua jenjang umur (Mansjour, 2001) 1. Terganggunya aktifitas karena nyeri
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Rheumatoid Arthritis - Ubaya Repository

Rheumatoid Arthritis - Ubaya Repository

Penegakkan diagnosis RA berdasarkan (i) pemeriksaan fisik terhadap semua jari-jari, pergelangan tangan, siku, bahu, dan lutut dengan seksama sesuai kriteria American College of Rheumatology (ACR), (ii) pemeriksaan biomarker inflamasi, misalnya: Laju Endap Darah (LED), C-reactive protein (CRP), dan (iii) pemeriksaan auto antibody , misalnya: rheumatoid factor (RF) dan anti cyclic citrullinated peptide (Anti CCP). Tinjauan klinis penyakit rheumatoid arthritis akan dibahas lebih lengkap dalam artikel bulletin RASIONAL yang ditulis oleh dr. Ketut Martiana, Sp.OT, FICS.

1 Baca lebih lajut

Rheumatoid Arthritis (Studi Pustaka).

Rheumatoid Arthritis (Studi Pustaka).

Rheumatoid arthritis merupakan suatu penyakit inflamasi dengan manifestasi utamanya polyarthritis progresif dan kelainan primer pada synovial dengan karakteristik yang khas dimana sendi yang terkena simetris bilateral. Manifestasi klinik dari rheumatoid arthtritis khas dimana tidak hanya menyerang sendi saja tapi juga organ-organ di luar sendi.

9 Baca lebih lajut

Pola Aktivitas dan Perilaku Nyeri Rheumatopid Arthritis pada Lansia di Kelurahan Tanjung Selamat Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat

Pola Aktivitas dan Perilaku Nyeri Rheumatopid Arthritis pada Lansia di Kelurahan Tanjung Selamat Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat

The number of old-aged people is increasing each year. Today, the number of old-aged people is estimated to reach 500 million with an average of 60 years old throughout the world. There are 1,032 old-aged people at Kelurahan Tanjung Selamat, Padang Tualang Subdistrict. Health problems, caused by aging, occur in various body systems, and one of them is rheumatoid arthritis. The worst symptom of rheumatoid arthritis will cause the change of activity in patients. One of them is the feeling of pain and causes different kinds of pain in different patients. This descriptive study was aimed to identify activity pattern and pain behavior of rheumatoid arthritis in old- aged people. The samples consisted of 56 old-aged people suffered from rheumatoid arthritis at Kelurahan Tanjung Selamat, Padang ualang Subdistrict, Langkat District, taken by using purposive sampling technique. The data were gathered from May 26 to June 16, 2013. The result of the analysis of data showed that 91.1% of old-aged people’s activity was disturbed because the movement of the joints was limited. In the pain behavior, 60.8% respondents indicated moderate pain. The result of the study was used as the example for nurses in providing nursing care to old- aged people who suffer from rheumatoid arthritis.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Lanjut Usia 1.1. Pengertian Lanjut Usia - Pola Aktivitas dan Perilaku Nyeri Rheumatopid Arthritis pada Lansia di Kelurahan Tanjung Selamat Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Lanjut Usia 1.1. Pengertian Lanjut Usia - Pola Aktivitas dan Perilaku Nyeri Rheumatopid Arthritis pada Lansia di Kelurahan Tanjung Selamat Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat

Ketika penyakit ini aktif gejala dapat termasuk kelelahan, kehilangan energi, kurangnya nafsu makan, demam kelas rendah, nyeri otot dan sendi dan kekakuan. Otot dan kekauan sendi biasanya paling sering di pagi hari. Disamping itu juga manifestasi klinis rheumatoid arthritis sangat bervariasi dan biasanya mencerminkan stadium serta beratnya penyakit. Rasa nyeri, pembengkakan, panas, eritema dan gangguan fungsi merupakan gambaran klinis yang klasik untuk rheumatoid arthritis (Smeltzer & Bare, 2002). Gejala sistemik dari rheumatoid arthritis adalah mudah capek, lemah, lesu, takikardi, berat badan menurun, anemia (Long, 1996).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perbedaan Kompres Hangat Jahe dan Back Massage Terhadap Penurunan Skala Nyeri Ekstrimitas Bawah Pada Lansia dengan Rheumatoid Athritis.

Perbedaan Kompres Hangat Jahe dan Back Massage Terhadap Penurunan Skala Nyeri Ekstrimitas Bawah Pada Lansia dengan Rheumatoid Athritis.

Terapi panas dengan teknik kompres hangat adalah suatu terapi yang dapat meningkatkan aliran darah dan meringankan rasa sakit dan kekakuan sendi (NiHSeniorHealt, 2014). Kompres hangat seringkali di kombinasikan dengan rempah-rempah. Salah satu jenis rempah-rempah yang sering digunakan adalah jahe. Secara historis jahe telah digunakan dalam pengobatan Asia untuk mengobati sakit perut, mual, dan diare. Sekarang jahe digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasai gejala mual karena kemoterapi dan kehamilan, nyeri rheumatoid arthritis dan osteoarthritis. Rimpangnya yang mengandung zingiberol dan kurkuminoid terbukti berkhasiat mengurangi peradangan dan nyeri sendi melalui aktifitas COX-2 yang menghambat produksi PGE2, leukotrien dan TNF- pada sinoviosit dan sendi manusia (NCCAM, 2006). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2014), dengan judul ”Pengaruh Kompres Hangat Jahe Terhadap Penurunan Skala Nyeri
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

The Prognostic Value of Nailfold Capilla

The Prognostic Value of Nailfold Capilla

expression of a particular disease: eight (62%) of these developed sclero- derma spectrum disorders, one expressed systemic lupus erythematosus, and one had undifferentiated connective tissue disease. We concluded that there were no specific capillary changes predictive for future development of systemic lupus erythematosus, juvenile onset rheumatoid arthritis/rheuma- toid arthritis, and undifferentiated connective tissue disease in children and adolescents with Raynaud phenomenon. Most of our study subjects with Raynaud phenomenon who developed these diseases had normal capillary findings or nonspecific changes. Children and adolescents who developed scleroderma spectrum disorders showed a sclerodermatous type of capillary changes 6 months before the expression of the disease, indicating that this type of capillary changes in children and adolescents with Raynaud phe- nomenon highly correlated with further development of scleroderma spec- trum disorders.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan 2.1.1 Defenisi pengetahuan menurut beberapa ahli

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan 2.1.1 Defenisi pengetahuan menurut beberapa ahli

Komplikasi yang sering terjadi pada penyakit rheumatoid arthritis adalah penyakit sistim pencernaan misalnya gastritis dan ulkus peptic yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi non steroid (OAINS dan obat pengubah perjalanan penyakit atau disease modfiyeng anti rheumatoid drugs, DMARD) yang menjadi faktor penyeba Morbiditas dan mortalitas utama pada rheumatoid arthritis. Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas, sehingga susah dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatiker. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidak setabilan vertebral servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis. Jadi rhematoid arthritis merupakan penyakit autoimun yang dapat menyebabkan inflamasi pada sendi terutama mengenai membran synovial pada sendi dan mengarah pada destruksi kartilago sendi sehingga menyebabkan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas dan keletihan. Dapat terjadi pada semua jenjang umur (Mansjour, 2001) 1. Terganggunya aktifitas karena nyeri
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Telomere Dysfunction in Autoimmune Diseases

Telomere Dysfunction in Autoimmune Diseases

Rheumatoid arthritis bukan merupakan penyakit yang mendapat perhatian seperti penyakit jantung, kanker dan AIDS, tetapi merupakan masalah kesehatan yang terjadi di mana-mana. Fakta statistik adalah sebesar 14,3% dari populasi Amerika Serikat men- derita RA. Data di Amerika Serikat me- nunjukkan bahwa prevalensi tertinggi dari RA adalah pada suku Indian dibanding dengan suku non Indian. Lebih dari 36 juta penduduk Amerika menderita 1 dari 100 jenis. Di Indonesia diperkirakan kasus rheumatoid berkisar antara 0,1% sampai dengan 0,3% di kelompok orang dewasa dan 1:100 ribu jiwa dikelompok anak-anak (Price et al., 2003).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB 16. GANGGUAN MUSKULOSKELETAL

BAB 16. GANGGUAN MUSKULOSKELETAL

Terdapat empat tahap dari perjalanan klinis penyakit gout yang tidak diobati. Tahap pertama adalah hiperurisemia asimtomatik. Dalam tahap ini penderita tidak menunjukkan gejala-gejala selain dari peningkatan asam urat serum. Hanya 20% dari penderita hiperurisemia asimptomatik yang menjadi serangan gout akut. Tahap kedua adalah arthritis gout akut. Pada tahap ini terjadi pembengkakan mendadak dan nyeri yang luar biasa, biasanya pada sendi ibu jari kaki dan metatarsofalangeal. Arthritis bersifat monoartikular dan menunjukkan tanda-tanda peradangan lokal. Mungkin terdapat demam dan peningkatan jumlah sel darah putih. Serangan dapat dipicu oleh pembedahan, trauma, obat-obatan, alkohol, atau stress emosional. Tahap ini biasanya mendorong pasien untuk mencari pengobatan segera. Sendi-sendi lain dapat terserang, termasuk sendi jari-jari tangan, lutut, mata kaki, pergelangan tangan, dan siku. Serangan gout akut biasanya pulih tanpa pengobatan, tetapi dapat memakan waktu 10 sampai 14 hari.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

GANGGUAN MUSKULOSKELETAL

GANGGUAN MUSKULOSKELETAL

Beberapa hasil uji laboratorium dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis arthritis reumatoid. Sekitar 85% penderita arthritis reumatoid mempunyai autoantibodi didalam serumnya yang dikenal sebagai faktor rheumatoid. Autoantibodi ini adalah suatu faktor anti-gama globulin (IgM) yang bereaksi terhadap perubahan IgG. Titer yang tinggi, lebih besar dari 1:160, biasanya dikaitkan dengan nodula rheumatoid, penyakit yang berat, vaskulitis, dan prognosis yang buruk. Faktor reumatoid adalah suatu indikator diagnosis yang membantu, tetapi uji untuk menemukan faktor ini bukanlah suatu uji untuk menyingkirkan diagnosis arthritis rheumatoid. Hasil yang positif dapat juga menyatakan adanya penyakit jaringan penyambung seperti lupus eritematosus sistemik, sklerosis sistemik progresif, dan dermatomiositis. Selain itu, sekitar 5% orang normal memiliki faktor reumatoid yang positif dalam serumnya. Insidens ini meningkat dengan bertambahnya usia. Sebanyak 20% orang normal yang berusia diatas 60 tahun dapat memiliki faktor rheumatoid dalam titer yang rendah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

M Abdul Rochman 22010110130191 BAB 1

M Abdul Rochman 22010110130191 BAB 1

Deksametason adalah golongan sintetis kelas glukokortikoid golongan obat steroid yang memiliki efek anti-inflamasi dan imunosupresan. Onset deksametason segera berlangsung dengan durasi yang pendek. 8 Waktu oset deksametason yang cepat yang mencapai efek puncak pada 30-60 menit dengan durasi 1-3 hari. Deksametason digunakan untuk mengobati berbagai kondisi inflamasi dan autoimun, seperti rheumatoid arthritis dan bronkospasme. 9 Salah satu efek dari deksametason adalah meningkatkan glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein sehingga beresiko meningkatkan gula darah. 10
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 217 documents...