Safety Stock

Top PDF Safety Stock:

MODEL PERENCANAAN SAFETY STOCK TERINTEGRASI UNTUK SISTEM MANUFAKTUR DENGAN FREKUENSI PENGIRIMAN TINGGI

MODEL PERENCANAAN SAFETY STOCK TERINTEGRASI UNTUK SISTEM MANUFAKTUR DENGAN FREKUENSI PENGIRIMAN TINGGI

Safety stock di satu sisi dapat menekan atau menghilangkan ongkos yang terjadi akibat keterlambatan pengiriman produk kepada konsumen (opportunity cost) tetapi di sisi lain akan menimbulkan ongkos persediaan (inventory cost). Pada sistem manufaktur dengan frekuensi pengiriman yang tinggi (frequent delivery manufacturing) dan tingkat permintaan berfluktuasi, keterlambatan pengiriman merupakan permasalahan yang sering ditemui. Penyebabnya antara lain karena ketersediaan material tidak sesuai kebutuhan produksi dan/atau hasil produksi tidak sesuai permintaan konsumen. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan perencanaan yang terintegrasi, mulai dari penentuan kuantitas material yang harus dipesan hingga penentuan kuantitas produk jadi yang harus dibuat. Makalah ini membahas model optimasi perencanaan safety stock untuk material dan produk jadi yang dilakukan secara terintegrasi. Tujuan yang ingin dicapai adalah meminimumkan total ongkos yang terdiri dari ongkos memiliki persediaan dan ongkos akibat keterlambatan pengiriman.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Minimasi Nilai Safety Stock Guna Mengurai Biaya Safety Stock Di CV. Sumber Bangunan

Minimasi Nilai Safety Stock Guna Mengurai Biaya Safety Stock Di CV. Sumber Bangunan

Based on the classification of ABC to 416 types of goods are known category A has 85 items that have high levels of absorption of funds and types of larger items. In addition, the calculation of the average ITR obtained during the year amounted to 2.58 times / year. From the results of the proposed Safety Stock calculations based on the level of service in the company is 93% with the funds to be spent on the service level of Rp15.678.148, -. While yangdiberlakukan safety stock company with the necessary funds Rp39.050.760, -.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero)

Laporan Kerja Praktek di PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero)

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa klasifikasi spare part pada seksi SWH didominasi oleh suku cadang yang sifatnya esensial dengan nilai aset yang kecil yaitu kategori CE sebesar 34%. Yang artinya tanpa spare part tersebut pabrik masih dapat beroperasi namun mempengaruhi kualitas produksi seperti mesin tidak bekerja dengan optimal yang mengakibatkan turunnya efektifitas dan efisiensi mesin produksi menurun. Nilai safety stock pada item kategori CE dapat ditingkatkan pada titik maksimum karena tidak memberikan pengaruh yang terlalu besar terhadap biaya penyimpanan dan beban biaya saat disposal. Safety stock dimaksimalkan dengan maksud untuk memenuhi permintaan user terhadap spare part kategori CE pada saat itu juga agar tidak menyebabkan turunnya efektifitas dan efisiensi mesin produksi.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Ardian Dwi Cahyo1 , Ilham Priadythama2 , Renny Christi Y3 , Herlina Wulan Sari4

Ardian Dwi Cahyo1 , Ilham Priadythama2 , Renny Christi Y3 , Herlina Wulan Sari4

Ketika peramalan material MCB dilakukan terdapat penyimpangan antara demand actual dengan hasil peramalan sebesar 7 buah. Penyimpangan ini harus ditangani dengan baik, jika tidak akan berakibat pada tidak terlayaninya pelanggan dengan baik yang pada akhirnya akan mengurangi kepuasan pelanggan. Penanganan yang bisa dilakukan oleh perusahaan adalah dengan cara menyiapkan safety stock yang sesuai dengan penyimpangan ini. Terdapat beberapa opsi pemilihan kebijakan penentuan safety stock, yaitu pada service level 80%. 85%, 87%, 90% atau 95%. Dari hasil rekapitulasi perhitungan safety stock yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan kebijakan penentuan safety stock yang terbaik adalah dengan menerapkan service level sebesar 95%. Dengan diterapkannya kebijakan tersebut maka permasalahan penyimpangan antara demand actual dengan hasil peramalan dapat diatasi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

2 (Q,r) Inventory System with Crashing Lead Time Condition

2 (Q,r) Inventory System with Crashing Lead Time Condition

Performance of the companies can be improved by controlling their inventory system properly. This paper explains one of continues probabilistic inventory model to solving inventory problem, that is called Q model. Condition of back order and creasing lead time are allowed in this model. Back order is the condition when lacking of goods happened because of unexpected demand at lead time period. The objective of this model is to minimizing inventory cost by founding the optimal of quantity order, reorder point and level of safety stock. And also, demand is assumed following normal distribution and this model will compute by using Delphi. Simulation of this model shows that inventory cost is affected by several variables, such as, reorder point, safety stock, service level and creasing lead time.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perbaikan Sistem Persediaan Gudang 2012

Perbaikan Sistem Persediaan Gudang 2012

Total Cost I (TC) G=A+B+C+D Rp487.350.815,10 Rp487.249.048,97 Seperti penjelasan sebelumnya, pada Tabel 2 total biaya persediaan sistem usulan lebih besar karena terdapat sistem persediaan usulan mempertimbangkan masalah safety stock. Jika safety stock tidak dimasukkan dalam perhitungan, total biaya relevan persediaan lebih kecil dari usulan, meskipun pemesanan dilakukan lebih sering. Pemesanan yang lebih sering ini memang meningkatkan biaya pesan, namun sekaligus mengurangi biaya simpan karena turn over produk yang tinggi, sehingga barang tidak perlu disimpan terlalu lama. Jika dibandingkan dengan perhitungan EOQ awal (9 unit), EOQ yang disesuaikan ini (21 unit) memiliki biaya pesan yang lebih kecil karena terjadi pengurangan frekuensi dari 415 kali menjadi 178 kali, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Namun terjadi kenaikan pada biaya simpan, karena barang tersimpan lebih lama.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

View of ANALISIS SCHEDULE INSTABILITY PADA SISTEM RANTAI PASOK MULTI ESELON MELALUI PENDEKATAN EKSPERIMENTAL

View of ANALISIS SCHEDULE INSTABILITY PADA SISTEM RANTAI PASOK MULTI ESELON MELALUI PENDEKATAN EKSPERIMENTAL

Simulasi terdiri dari tiga skenario yaitu: (1) Skenario Normal, yaitu tidak adanya common components maupun safety stock; (2) Skenario Commonality, yaitu adanya common components yang digunakan pada struktur produk baik oleh pemanufaktur maupun pemasok; dan (3) Skenario Safety Stock, yaitu penggunaan persediaan pengaman pada end item yang dimiliki oleh pemanufaktur dan pemasok. Eksperimen faktorial penuh dilakukan dengan mempertimbangkan seluruh faktor dan direplikasi sebanyak 20 kali (hasil yang digunakan adalah nilai rata-rata), sehingga total menghasilkan 1080 sel eksperimen. Informasi lengkap ditampilkan pada Tabel 1 berikut ini:
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Klasifikasi Data Mining id. docx

Klasifikasi Data Mining id. docx

Pada hal ini jika PT. ART melakukan pemesanan barang dalam jumlah sedang dan safety stock barang pada gudang sedikit maka tidak akan menambah atau meningkatkan biaya inventory cost perusahaan. Jumlah safety stock yang sedikit dinilai sangat wajar dimiliki oleh suatu perusahaan sebagai batas aman jumlah barang yang dimiliki menyangkut adanya waktu menunggu terhadap pesanan yang dilakukan apalagi kuantitas pesan yang diminta perusahaan dalam jumlah yang tidak banyak tetapi tidak sedikit juga.

Baca lebih lajut

Laporan Klasifikasi Data Mining (2)

Laporan Klasifikasi Data Mining (2)

Pada hal ini jika PT. ART melakukan pemesanan barang dalam jumlah sedang dan safety stock barang pada gudang sedikit maka tidak akan menambah atau meningkatkan biaya inventory cost perusahaan. Jumlah safety stock yang sedikit dinilai sangat wajar dimiliki oleh suatu perusahaan sebagai batas aman jumlah barang yang dimiliki menyangkut adanya waktu menunggu terhadap pesanan yang dilakukan apalagi kuantitas pesan yang diminta perusahaan dalam jumlah yang tidak banyak tetapi tidak sedikit juga.

Baca lebih lajut

Laporan Klasifikasi Data Mining. docx

Laporan Klasifikasi Data Mining. docx

Pada hal ini jika PT. ART melakukan pemesanan barang dalam jumlah sedang dan safety stock barang pada gudang sedikit maka tidak akan menambah atau meningkatkan biaya inventory cost perusahaan. Jumlah safety stock yang sedikit dinilai sangat wajar dimiliki oleh suatu perusahaan sebagai batas aman jumlah barang yang dimiliki menyangkut adanya waktu menunggu terhadap pesanan yang dilakukan apalagi kuantitas pesan yang diminta perusahaan dalam jumlah yang tidak banyak tetapi tidak sedikit juga.

Baca lebih lajut

Usulan Penerapan Perencanaan Agregat guna Meningkatkan Efisiensi Biaya Produksi pada Pabrik Kerupuk PD. Seruni, Bandung.

Usulan Penerapan Perencanaan Agregat guna Meningkatkan Efisiensi Biaya Produksi pada Pabrik Kerupuk PD. Seruni, Bandung.

A good and accurate aggregate planning definitely must be supported by a good and accurate forecasting and planning strategies which are appropriate as well. In this research, the author uses various forecasting methods and the chosen method is the trend linear method because after tested for accuracy, this method has the best level of accuracy than other methods. The results of forecasting then used as the basis for conducting aggregate planning. The chase strategy without considering the safety stock which cost Rp. 231.808. is chosen, while the total cost for the company’s present strategy is Rp. 249.532.753. this the chase strategy without considering the safety stock then proposed, because the total cost for this strategy is Rp. 17.724.083 less then the present strategy.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

ANALISA PENGENDALIAN BAHAN BAKU PADA DEPOT MIE DAN LEMPER 168 DI SURABAYA | Jayadi | Jurnal Hospitality dan Manajemen Jasa 5984 11270 1 SM

ANALISA PENGENDALIAN BAHAN BAKU PADA DEPOT MIE DAN LEMPER 168 DI SURABAYA | Jayadi | Jurnal Hospitality dan Manajemen Jasa 5984 11270 1 SM

1. Perhitungan metode konvensional dihitung berdasarkan dari data penjualan dan pembelian bulan mei 2016 sampai april 2017 kemudian hasil wawancara dengan penerus usaha, Pak Rusmin Effendi. Rata-rata EOQ setiap bulan untuk ayam dan ketan adalah 51 kilo, sedangkan kelapa sebesar 10.5 kilo. Safety stock ayam dan ketan sebesar 7 kilo setiap bulannya, sedangkan kelapa 0, karena kelapa dibeli setiap hari. Reorder Point ayam dan ketan 25 kilo, sedangkan kelapa 0. Rata-rata Order Frequency ayam dan ketan setiap bulannya adalah 15 kali, sedangkan kelapa sebesar 29 kali. Rata-rata Total cost ayam sebesar Rp 20.657.456, ketan sebesar Rp 11.087.935. dan kelapa sebesar Rp 2.064.313.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KEKURANGAN PERSEDIAAN DALAM SUATU PERUSA

KEKURANGAN PERSEDIAAN DALAM SUATU PERUSA

Adanya pendapat menyatakan bahwa menyimpan persediaan termasuk pemborosan. Kenyataannya persediaan merupakan salah satu sistem investasi perusahaan. Agar perusahaan mempunyai safety stock dan menjaga adanya lonjakan atau fluktuasi harga dikemudian hari. Safety stock bertujuan untuk menentukan berapa banyak persediaan yang dibutuhkan perusahaan selama masa tenggang untuk memenuhi besarnya permintaan konsumen.

Baca lebih lajut

Key to Solve Nervous System at PT. Schneider Electric Manufacturing Batam | Widarso | Jurnal Titra 4580 8714 1 SM

Key to Solve Nervous System at PT. Schneider Electric Manufacturing Batam | Widarso | Jurnal Titra 4580 8714 1 SM

The purpose of warehouse space requirement plant is to know whether warehouse capacity is able to storage materials or not in six months ahead. There are two type of replenishment strategy in this company. First is normal replenishment strategy, which means order with PO then the supplier process it then delivers to SEMB. Then, special replenish- ment strategy like consignment, kanban, etc. This strategy let the supplier know the stock in SEMB and let the supplier manage about the replenishment. SEMB just manage the safety stock and the forecast, then job description of the supplier is to fulfil the quantity until the safety stock level. This special strategy will influence the calculation in this project. That replenishment strategy will impact on the calculation space needed. The calculation for special replenishment strategy is used calculation space with the safety stock quantity. Because of the target of this strategy is stock level in the safety stock quantity every day. The space calculation is directly uses roundup from safety stock divided by quantity per box then times with dimension packing box. Otherwise, the normal replenishment is uses several calculations.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh Potongan Harga pada Sistem Inventori (Q,R) yang Mempertimbangkan Ketergantungan antara Lot Size dan Lead Time | Indrianti | Forum Teknik 1607 2980 1 SM

Pengaruh Potongan Harga pada Sistem Inventori (Q,R) yang Mempertimbangkan Ketergantungan antara Lot Size dan Lead Time | Indrianti | Forum Teknik 1607 2980 1 SM

Lot size dan safety stock yang saling mem- pengaruhi dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu me- lalui frekuensi pemesanan dan melalui pan-jang lead time. Jika permintaan pertahun adalah D ma- ka frekuensi pemesanan adalah D/Q. Apabila D tetap dan Q menurun, maka frekuensi pemesanan akan bertambah. Naiknya frekuensi pemesanan mengakibatkan meningkatnya probabilitas terjadinya stock-out. Untuk mengendalikannya maka diperlukan biaya persediaan dan safety stock yang lebih tinggi. Hal ini disebut sebagai efek frekuensi pemesanan, dan digunakan sebagai dasar untuk menentukan cycle-service level.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perencanaan Aktivitas Distribusi Dengan Menggunakan Konsep Supply Chain Management pada PT. Pusaka Prima Mandiri

Perencanaan Aktivitas Distribusi Dengan Menggunakan Konsep Supply Chain Management pada PT. Pusaka Prima Mandiri

3.1.4.2. Peramalan Kuantitatif...................................... III-7 3.1.4.3. Metode Time Series ......................................... III-8 3.1.4.4. Metode Proyeksi Kecenderungan Regresi ...... III-8 3.1.5. Kriteria Performance Peramalan.................................. III-11 3.1.6. Pengujian Hipotesa Distribusi F................................... III-12 3.1.7. Proses Verifikasi .......................................................... III-12 3.2. Supply Chain (Rantai Pasok) .................................................... III-13 3.3. Economic Order Quantity (EOQ) ............................................ III-16 3.4. Safety Stock .......................................................................... III-17 3.5. Pengertian Distribusi ................................................................ III-17 3.6. Value Chain .............................................................................. III-18
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Laporan Kerja Praktik di Seksi SWH PT. INALUM (Persero)

Laporan Kerja Praktik di Seksi SWH PT. INALUM (Persero)

Pada Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa hasil klasifikasi item dengan pendekatan MUSIC-3D lebih baik atau optimum dari hasil kombinasi analisis ABC dan VED sebelumnya. Hasil pengelompokkan item dengan MUSIC-3D lebih spesifik sesuai dengan tingkat criticality, lead time, dan usage value setiap item. Contohnya saja pada kategori 6 hanya terdapat satu item. Hal tersebut dikarenakan spare parts sifatnya tidak non-critical, lead time singkat namun memiliki nilai aset yang cukup besar. Artinya spare parts tersebut tidak membutuhkan safety stock yang banyak, karena jika berlebihan akan membutuhkan biaya yang besar. Jika dianalisa lebih lanjut pada hasil perhitungan ideal stock level dengan faktor K, safety stock yang ditetapkan oleh seksi SWH belum optimum karena jumlahnya lebih besar dari ideal stock level yang diperoleh dari hasil perhitungan. Sebaiknya seksi SWH mengurangi safety stock karena spare part kategori 6 sifatnya non-critical dan waktu pengadaannya singkat (short lead time). Di sisi lain resiko kerugian yang ditanggung juga semakin kecil saat spare part tersebut disposal. Jikalaupun spare parts tersebut habis karena jumlah safety stock sedikit, masih bisa ditunggu dalam waktu yang singkat berhubung sifatnya non- critical terhadap proses produksi. Analisis Tabel 5.5 dan Tabel 5.6 lebih lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5 nomor 6.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Penjadwalan Distribusi Produk Dengan Menggunakan Metode Distribution Resources Planning (DRP) di PT. Pabrik Es Siantar

Penjadwalan Distribusi Produk Dengan Menggunakan Metode Distribution Resources Planning (DRP) di PT. Pabrik Es Siantar

Safety Stock ............................................................................. VI-3 6.2.1. Analisis Perhitungan Order Quantity .......................... VI-3 6.2.2. Analisis Perhitungan Safety Stock ............................... VI-5 6.2.3. Analisis Perhitungan Reorder Point ............................. VI-5 6.3. Analisis Distribution Resources Planning Worksheet .......... VI-6

11 Baca lebih lajut

Perencanaan Agregat Jadwal Induk Produks

Perencanaan Agregat Jadwal Induk Produks

Pada bab pengolahan data menguraikan tentang perhitungan Safety Stock untuk masing-masing item, perhitungan kapasitas produksi, perencanaan agregat dengan menggunakan metode First In First Out (FIFO) dan Least Cost, permintaan masing-masing item, penentuan famili yang akan diproduksi, jadwal produksi induk disagregasi, posisi inventory, dan perhitungan perencanaan kebutuhan kapasitas kasar.

79 Baca lebih lajut

Identifikasi Faktor yang Mempengaruhi Total Biaya Inventori Obat-obatan Golongan A di Rumah Sakit Swasta Tipe B di Jakarta Tahun 2015 | Susanto | JMMR (Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit) 2340 6469 1 PB

Identifikasi Faktor yang Mempengaruhi Total Biaya Inventori Obat-obatan Golongan A di Rumah Sakit Swasta Tipe B di Jakarta Tahun 2015 | Susanto | JMMR (Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit) 2340 6469 1 PB

Peramalan kebutuhan masa mendatang yang dilakukan bagian Farmasi rumah sakit untuk obat-obat golongan fast moving atau obat golongan A adalah didasarkan pada riwayat pemakaian masa lampau dalam periode 15 hari untuk memprediksikan kebutuhan di periode 15 hari berikutnya dan ditambahkan dengan kebutuhan safety stock yang dihitung sebagai kebutuhan untuk 5 hari. Pemesanan obat-obat golongan fast moving ini dilakukan secara periodik setiap 15 hari. Jumlah atau volume pemesanan disesuaikan dengan sisa stok yang ada di gudang.

8 Baca lebih lajut

Show all 3941 documents...