Sediaan Injeksi

Top PDF Sediaan Injeksi:

UJI EFEKTIVITAS KLOROBUTANOL 0,2 % b/v SEBAGAI PENGAWET PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA

UJI EFEKTIVITAS KLOROBUTANOL 0,2 % b/v SEBAGAI PENGAWET PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA

Rumah sakit atau puskesmas di Indonesia dalam penggunaan sediaan dosis ganda masih sangat kurang memperhatikan keaseptisan ruangan, cara pengambilan, serta cara penyimpanan sediaan kembali sehingga sangat rentan terkontaminasi mikroba yang akan menyebabkan sediaan rusak dan sangat berbahaya apabila digunakan kembali pada pasien.Berdasarkan hasil penelitian evaluasi penggunaan sediaan farmasi intravena untuk penyakit infeksi penderita rawat inap periode Oktober-Desember 2005 pada salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung, diperoleh salah satu data bahwa pelaksanaan penyiapan sediaan farmasi intravena sudah dilakukan dengan baik, yaitu adanya kesesuaian antara takaran obat yang direkonstitusi dengan jumlah pelarut yang digunakan serta persyaratan kompatibilitasnya. Namun, penyiapan sediaan tersebut belum dilakukan dengan teknik aseptis yang baik (Surahman et al, 2008). Oleh karena itu perlu dilakukan uji untuk mengetahui adanya kontaminasi yang terjadi selama penggunaan sediaan injeksi dengan penusukan sekali dan penyimpanan 28 hari.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

STUDI INAKTIVASI PENGAWET BENZIL ALKOHOL 2 % v/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

STUDI INAKTIVASI PENGAWET BENZIL ALKOHOL 2 % v/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

Sterilitas merupakan salah satu syarat sediaan injeksi terutama sediaan injeksi dosis ganda seperti injeksi Difenhidramin Hidroklorida dimana rentan terkontaminasi mikroba karena pemakaian berulang. Oleh sebab itu sediaan injeksi dosis ganda ditambah dengan bahan pengawet salah satunya Benzil alkohol 2% v/v. Namun adanya bahan pengawet tersebut akan mempengaruhi hasil uji sterilitas sehingga harus di inaktivasi terlebih dahulu. Salah satu cara untuk melakukan inaktivasi pengawet adalah dengan metode pengenceran.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

UJI EFEKTIVITAS PENGAWET KLOROBUTANOL 0.35% b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA

UJI EFEKTIVITAS PENGAWET KLOROBUTANOL 0.35% b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA

Wadah untuk sediaan injeksi dibagi menjadi dua macam antara lain: dosis tunggal (single dose) dan dosis ganda (multiple doses). Wadah dosis tunggal adalah suatu wadah yang kedap udara yang mempertahankan jumlah obat steril yang dimaksudkan untuk pemberian parenteral sebagai dosis tunggal, dan yang bila dibuka tidak dapat ditutup rapat kembali dengan jaminan tetap steril. Sedangkan wadah dosis ganda adalah wadah yang memungkinkan pengambilan isinya perbagian berturut- turut tanpa terjadi perubahan kekuatan, kualitas atau kemurnian bagian yang tertinggal (Ansel, 2005).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PENGARUH FREKUENSI PENGAMBILAN TERHADAP STERILITAS SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA DENGAN PENGAWET KLOROBUTANOL 0,35% b/v

PENGARUH FREKUENSI PENGAMBILAN TERHADAP STERILITAS SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA DENGAN PENGAWET KLOROBUTANOL 0,35% b/v

Seperti kita ketahui yang terjadi di beberapa puskesmas, rumah sakit dan praktek dokter penanganan sediaan injeksi dosis ganda masih terlihat tidak aseptis dikarenakan kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung. Seperti yang terjadi di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung menurut hasil penelitian Surahman dkk., 2005, salah satu kesimpulannya menyebutkan bahwa, penyiapan sediaan intravena belum dilakukan dengan teknik aseptis yang baik. Sediaan ini biasanya diambil dan disimpan diruang terbuka (tidak ada ruang khusus yang aseptis) sehingga suatu sediaan injeksi dosis ganda memiliki kemungkinan terkontaminasi yang besar karena cara pengambilan dan penyimpanan tersebut.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENGARUH FREKUENSI PENGAMBILAN TERHADAP STERILITAS SEDIAAN INJEKSI VITAMIN B KOMPLEKS DOSIS GANDA (Pada Pemakaian Berulang)

PENGARUH FREKUENSI PENGAMBILAN TERHADAP STERILITAS SEDIAAN INJEKSI VITAMIN B KOMPLEKS DOSIS GANDA (Pada Pemakaian Berulang)

Untuk sediaan injeksi, wadah yang terbaik adalah wadah dosis tunggal karena obat steril yang terkandung dimaksudkan sebagai suatu dosis tunggal yang sekali dibuka tidak dapat disegel kembali dengan jaminan bahwa sterilitasnya terjaga sehingga kemungkinan terkena kontaminasi mikroorganisme lebih rendah, dibandingkan wadah dosis ganda dengan pengambilan berulang dan penyimpanan yang kurang baik memungkinkan terkontaminasi mikroorganisme lebih besar. Keuntungan lain yang bisa didapat dari wadah dosis tunggal diantaranya identifikasi positif dari masing ± masing unit dosis setelah obat tidak berada di tangan ahli farmasi atau perawat dan mengakibatkan kurangnya kesalahan karena obat, berkurangnya kontaminasi dari obat tersebut berdasarkan pembungkusan pelindungnya, mengurangi penyiapan dan waktu penyaluran, memudahkan pengontrolan barang di apotek dan tempat perawatan, dan mengeliminasi sisa melalui manajemen obat yang lebih baik dengan lebih sedikitnya obat yang dibuat (Ansel, 2005).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

OPTIMASI METODE PENETAPAN KADAR VITAMIN C DALAM SEDIAAN INJEKSI SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL DENGAN AGEN PENGKOMPLEKS

OPTIMASI METODE PENETAPAN KADAR VITAMIN C DALAM SEDIAAN INJEKSI SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL DENGAN AGEN PENGKOMPLEKS

kapsul. Melihat adanya peningkatan penggunaan vitamin C dalam bidang farmasi dan pentingnya vitamin ini dalam tubuh, maka diperlukan suatu metode analitik yang praktis, cepat, akurat, dan sensitif. Spektrofotometri visibel sebagai salah satu metode yang menarik karena keakuratan, kecepatan, dan sensitifitasnya dapat digunakan untuk penetapan kadar vitamin C. Penulis melakukan optimasi metode ini dikarenakan metode spektrofotometri visibel untuk penetapan kadar vitamin C belum pernah dilakukan sebelumnya, sehingga perlu dilakukan optimasi menggunakan sampel yang sederhana. Sediaan injeksi dipilih sebagai sampel karena sediaan ini spesifik hanya mengandung vitamin C. Harapannya, hasil dari optimasi metode ini dapat diaplikasikan pada sediaan lain yang lebih kompleks dan mengandung vitamin C.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

STUDI INAKTIVASI PENGAWET KLOROBUTANOL 0,35% b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

STUDI INAKTIVASI PENGAWET KLOROBUTANOL 0,35% b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

Sediaan injeksi disuntikan dengan cara menembus, atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir (Lukas, 2006). Sterilitas sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi yang dapat terjadi dengan mudah (Ansel, 2005). Salah satu bentuk sediaan injeksi adalah injeksi dosis ganda. Injeksi dosis ganda mutlak harus ditambahkan pengawet karena pemakaiannya berulang rentan terkontaminasi mikroorganisme. Namun, adanya pengawet dalam sediaan akan mempengaruhi uji sterilitas yang akan dilakukan. Sehingga sebelum dilakukan uji sterilitas, dilakukan uji inaktivasi pengawet.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

STUDI INAKTIVASI PENGAWET BENZIL ALKOHOL 1% v/vPADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCI DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

STUDI INAKTIVASI PENGAWET BENZIL ALKOHOL 1% v/vPADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCI DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

Alhamdulillahirobbilalamin penulis ucapkan karena skripsi yang berjudul berjudul “STUDI INAKTI VASI PENGAWET BENZIL ALKOHOL 1% v/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCI DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN” telah terselesaikan. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang. Dengan penuh rasa syukur dan hormat penulis ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini. Adapun pihak-pihak tersebut adalah :
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

STUDI INAKTIVASI PENGAWET KLOROBUTANOL 0,5% b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

STUDI INAKTIVASI PENGAWET KLOROBUTANOL 0,5% b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

Sediaan injeksi merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral, suntikan dengan cara menembus, atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir (Lukas, 2006). Sterilitas harus terjamin pada sediaan parenteral karena sediaan mengelakkan garis pertahanan pertama dari tubuh yang paling efisien, yakni membran kulit dan mukosa, sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan komponen toksik, dan harus mempunyai tingkat kemurnian tinggi atau luar biasa. Selain itu di suntikkan langsung ke cairan tubuh, apabila mengandung mikroorganisme dan komponen toksis maka akan tersebar ke seluruh tubuh. Sediaan injeksi yang paling rentan terkontaminasi mikroorganisme adalah sediaan injeksi dosis ganda karena penggunaannya secara berulang-ulang.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Penetapan Kadar Epinefrin Dalam Sediaan Injeksi Obat Pemacu Kerja Jantung Dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

Penetapan Kadar Epinefrin Dalam Sediaan Injeksi Obat Pemacu Kerja Jantung Dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

Sampel yaitu Epinephrine Injeksi yang berbentuk ampul. Baku pembanding yang digunakan adalah Baku pembanding ASEAN Epinephrine Bitartrat No I 100112. Fase gerak adalah Dapar posfat : methanol (85 : 15). Kemudian fase gerak akan dialirkan dengan laju 2 ml/menit kedalam kolom yang berisi fase diam oktasilane. Baku Epinephrine dan larutan sampel disuntikkan secara terpisah dengan volume penyuntikan masing-masing 20 µ l dan pada sampel dilakukan perlakuan dua kali penyuntikan (duplo). Kemudian hasil pemisahan akan dibaca oleh detektor dengan panjang gelombang 280 nm. Dari hasil percobaan diperoleh luas area sampel Epinephrine Injeksi adalah I= 1125662 dan II= 1135484, kemudian dengan rumus ditentukan kadar dari epinefrin tersebut yaitu diperoleh PKI= 91,20 % dan PKII= 92,00% sehingga dirata-ratakan menjadi 91,60 %. Hal ini berarti kadar epinefrin dalam sediaan injeksi obat pemacu kerja jantung memenuhi syarat sesuai dengan yang tertera pada USP 32 Volume 2 yaitu tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 115,0 %.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

STUDI INAKTIVASI PENGAWET BENZALKONIUM KLORIDA 0,01% b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

STUDI INAKTIVASI PENGAWET BENZALKONIUM KLORIDA 0,01% b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

Salah satu contoh sediaan parenteral yaitu sediaan injeksi. Sediaan injeksi merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral, suntikan dengan cara menembus, atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir (Lukas, 2006). Dalam hal ini, sterilitas sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi yang dapat terjadi dengan mudah (Ansel, 2005). Oleh karena itu, sediaan yang diberikan secara injeksi harus aman ditinjau dari dua hal yaitu sifat komponen formulasi produk dan efek anatomi/fisiologi dari sediaan selama dan sesudah penyuntikan (Agoes, 2009).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH FREKUENSI PENGAMBILAN TERHADAP EFEKTIVITAS BENZIL ALKOHOL 1% v/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA

PENGARUH FREKUENSI PENGAMBILAN TERHADAP EFEKTIVITAS BENZIL ALKOHOL 1% v/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA

Telah dilakukan penelitian tentang Pengaruh Frekuensi Pengambilan Terhadap Efektivitas Benzil alkohol 1% v/v Pada Sediaan Injeksi difenhidramin hidroklorida Dosis Ganda. Pengujian dilakukan menggunakan metode inokulasi langsung dimana pengambilan sediaan menggunakan spuit injeksi 3 ml yang dilakukan secara teknik aseptis, kemudiaan sampel dimasukkan ke dalam media thioglikolat dan media kassamino. Pengambilan sampel difenhidramin HCl diambil berulang sebanyak 5 kali dalam waktu selama 5 hari, sebelum sampel dimasukkan kedalam media terlebih dahulu sampel tersebut diencerkan menggunakan Water For Injection (WFI), pada media tioglikolat sampel dilakukan pengenceran dengan perbandingan 1:0, sedangkan untuk media kassamino sampel diencerkan dengan perbandingan 1:1 kemudian media tioglikolat diinkubasi pada suhu 30 o -35 o C selama 14 hari, sedangkan untuk media kassamino diinkubasi pada suhu 20 o -25 o C selama 14 hari. Penafsiran dari penelitian ini dapat dilihat dari kontrol positif, dimana pada kontrol positif menunjukkan adanya pertumbuhan mikroba, dan kontrol negatif, dimana pada kontrol negatif media tetap jernih tidak terdapat pertumbuhan bakteri. Jenis mikroba yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bacillus subtilis untuk media thioglikolat dan Candida albicans untuk media kassamino. Hasil data yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pengawet benzil alkohol dengan konsentrasi 1% efektif mempunyai daya antibakteri dan mampu mempertahankan sediaan injeksi difenhidramin hidroklorida dosis ganda tetap dalam kondisi steril setelah dilakukan pengambilan berulang sebanyak 5 kali pengambilan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

UJI EFEKTIFITAS BENZALKONIUM KLORIDA 0,02% b/v SEBAGAI PENGAWET PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA

UJI EFEKTIFITAS BENZALKONIUM KLORIDA 0,02% b/v SEBAGAI PENGAWET PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA

Telah dilakukan penelitian mengenai uji efektifitas pengawet benzalkonium klorida dengan konsentrasi 0,02 % b/v terhadap sediaan injeksi difenhidramin hidroklorida dosis ganda. Pengujian dilakukan dengan metode inokulasi langsung yaitu mengambil sediaan menggunakan spuit injeksi secara aseptis yang kemudian dimasukkan ke dalam media tioglikolat dan kasamino. Sampel diambil sebanyak 5 kali dalam jangka waktu penyimpanan 28 hari, sebelum dimasukkan kedalam media sampel diencerkan terlebih dahulu menggunakan aqua pro injeksi, untuk media tioglikolat sampel diencerkan dengan perbandingan 1 : 2 sedangkan untuk kasamino sampel diencerkan dengan perbandingan 1 : 10, yang kemudian diinkubasi, media tioglikolat diinkubasi pada suhu 30 - 35°C selama 14 hari, sedangkan untuk media kasamino diinkubasi pada suhu 20 - 25°C selama 14 hari. Penafsiran hasil dalam penelitian ini dapat dilihat dari kontrol positif yang menunjukan adanya pertumbuhan mikroba, sedangkan kontrol negatif menunjukan sterilnya sediaan, Mikroba yang di pakai dalam penelitian ini adalah Bacillus subtilis untuk media tioglikolat sedangkan Candida albicans untuk media kasamino. Data yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukan bahwa pengawet benzalkonium klorida dengan konsentrasi 0,02 % b/v efektif mempunyai daya antibakteri atau mampu mempertahankan sediaan tetap steril dalam jangka waktu penyimpanan 28 hari setelah segel kemasan terbuka dan penusukan sediaan.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS BENZIL ALKOHOL 2% v/v SEBAGAI PENGAWET SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA (Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus)

EFEKTIVITAS BENZIL ALKOHOL 2% v/v SEBAGAI PENGAWET SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA (Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus)

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberika rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul : EFEKTIVITAS BENZIL ALKOHOL 2% v/v SEBAGAI PENGAWET SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA (Terhadap Bakteri Staphycoccus aureus). Dibuat untuk memenuhi syarat mencapai gelar sarjana farmasi pada program studi fakultas ilmu kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang.

18 Baca lebih lajut

STUDI INAKTIVASI PENGAWET BENZALKONIUM KLORIDA 0,02% b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

STUDI INAKTIVASI PENGAWET BENZALKONIUM KLORIDA 0,02% b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HCl DOSIS GANDA DENGAN METODE PENGENCERAN

Pengawet antimikroba mutlak harus digunakan terutama pada wadah dosis ganda untuk menghambat pertumbuhan mikroba yang dapat masuk secara tidak sengaja selama atau setelah proses produksi (Depkes RI, 1995). Selain itu, penambahan pengawet antimikroba juga berfungsi untuk melindungi konsumen dari kontaminasi mikroba serta untuk mempertahankan potensi dan stabilitas dari sediaan. Pengawet yang biasa digunakan dalam sediaan injeksi meliputi turunan alkohol, komponen ammonium quartener, komponen fenol, serta komponen merkuri organik (Agoes, 2009). Salah satu pengawet antimikroba yang sering digunakan dalam sediaan injeksi adalah benzalkonium klorida yang merupakan komponen ammonium quartener dengan konsentrasi 0,01% - 0,02% . Larutan benzalkonium klorida aktif terhadap berbagai macam bakteri, ragi, dan jamur serta lebih aktif terhadap bakteri gram positif daripada gram negatif. Namun, benzalkonium klorida tidak efektif terhadap beberapa strain Pseudomonas aeruginosa, Mycobacterium tuberculosis, Trichophyton interdigitale, dan T. Rubrum. Tetapi, jika dikombinasikan dengan disodium edetat (0.01-0.1 % w/v), benzil alkohol, feniletanol, atau fenilpropanol, aktivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa akan meningkat (Rowe, 2006).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

UJI EFEKTIVITAS PENGAWET KLOROBUTANOL 0,5 %b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA

UJI EFEKTIVITAS PENGAWET KLOROBUTANOL 0,5 %b/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA

Sediaan injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral, suntikan dengan cara menembus, atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lender. Salah satu bentuk sediaan injeksi adalah sediaan injeksi dosis ganda. Sediaan injeksi dosis ganda temasuk sediaan farmasi yang berpeluang terkontaminasi mikroba, sehingga dapat membahayakan kesehatan, kerusakan produk, perubahan estetika, dan perubahan efikasi sediaan. Meninjau dari dfinisi sediaan injeksi dosis ganda, maka injeksi dosis ganda mutlak harus ditambahkan pengawet untuk menghambat pertumbuhan mikroba yang dapat masuk secara tidak sengaja selama atau setelah proses produksi.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENGAWET BENZIL ALKOHOL 1,5% v/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA (Terhadap Bakteri Escherichia coli)

EFEKTIVITAS PENGAWET BENZIL ALKOHOL 1,5% v/v PADA SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA (Terhadap Bakteri Escherichia coli)

Wadah untuk sediaan injeksi ditempatkan didalam wadah dosis tunggal dan wadah dosis ganda (multiple dose). Wadah dosis tunggal merupakan suatu wadah kedap udara yang mempertahankan jumlah obat steril dengan tujuan pemberian parenteral sebagai dosis tunggal dan yang bila dibuka tidak dapat ditutup rapat kembali dengan jaminan tetap steril. Sedangkan wadah dosis ganda adalah wadah yang memungkinkan pengambilan isinya berturut-turut tanpa terjadi perubahan kekuatan, kualitas atau kemurnian bagian yang tertinggal (Ansel, 2005). Wadah dosis ganda dilengkapi dengan penutup karet dan plastik yang memungkinkan untuk melakukan penusukan jarum suntik tanpa membuka atau merusak tutup. Apabila jarum ditarik kembali ke wadah, lubang tusukan akan tertutup rapat kembali dan melindungi isi dari pengotoran udara bebas. Apabila dinyatakan lain dalam monografi, obat dosis ganda diharuskan mengandung zat pengawet antimikroba, dengan jumlah total yang ada didalam sediaan tidak boleh lebih besar dari 30 ml. sehingga dapat membatasi jumlah tusukan yang dibuat pada penutupnya dan dapat terjaga sterilitasnya serta untuk membatasi jumlah pengawet antimikroba yang ada dalam sediaan (Ansel, 2005).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Pengujian Potensi Sediaan Injeksi Kering Amoksisilin Dalam Aqua Pro Injeksi Pada Variasi Suhu Penyimpanan Dan Konsentrasi.

Pengujian Potensi Sediaan Injeksi Kering Amoksisilin Dalam Aqua Pro Injeksi Pada Variasi Suhu Penyimpanan Dan Konsentrasi.

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh konsentrasi dan suhu penyimpanan terhadap penurunan potensi sediaan injeksi kering amokisislin. Variasi konsentrasi sampel amoksisilin adalah 100 mg/ml dan 200 mg/ml. Sampel-sampel tersebut disimpan pada suhu kamar (±25°C) dan suhu lemari es (±4°C). Sampel tersebut kemudian di uji potensinya setelah 0, 1, 3, 6, 12, dan 24 jam penyimpanan, dengan menggunakan metode difusi agar dengan bakteri uji Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penurunan potensi sediaan injeksi kering amoksisilin 100 mg/ml dan 200 mg/ml pada suhu kamar (±25°C) dengan bakteri uji Escherichia coli adalah 79,3671% dan 88,2634%. Sedangkan penurunan potensi pada suhu lemari es (±4°C) adalah 71,4979% dan 86,7877%. Penurunan potensi sediaan injeksi kering amokisilin 100 mg/ml dan 200 mg/ml pada suhu kamar (±25°C) dengan bakteri uji Staphylococcus aureus adalah 89,3525% dan 97,4978%. Sedangkan penurunan potensi pada suhu lemari es (±4°C) adalah 89,2561% dan 94,1323%. Berdasarkan hasil analisis statistik, konsentrasi dan suhu penyimpanan berpengaruh terhadap penurunan potensi sediaan injeksi kering amoksisilin.
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS BENZIL ALKOHOL 1,5% v/v SEBAGAI PENGAWET SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA (Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus)

EFEKTIVITAS BENZIL ALKOHOL 1,5% v/v SEBAGAI PENGAWET SEDIAAN INJEKSI DIFENHIDRAMIN HIDROKLORIDA DOSIS GANDA (Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus)

Cara pengujian efektivitas pengawet. Bila kemasan sediaan dapat ditembus dengan menggunakan jarum suntik, maka disiapkan 5 wadah asli dari sediaan.Tetapi bila wadah tidak dapat ditembusi secara aseptic, maka pindahkan 20 ml contoh kedalam tabung reaksi yang bertutup sebanyak 5 buah.Selanjutnya dilakukan inokulasi suspense mikroorganisme uji sebanyak 0,1 ml yang setara dengan 20 ml sediaan. Dilakukan penetapan jumlah mikroorganisme hidup pada setiap suspense inokulum. Hitung angka awal mikroorganisme per ml sediaan yang di uji dengan metode taburan atau pour plate. Dilakukan pengamatan pada hari ke 0, 7, 14 dan 28 setelah dilakukan inokulasi (Natsir, 2008)
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Show all 3960 documents...

Related subjects