Sektor Pertanian Tanaman Pangan

Top PDF Sektor Pertanian Tanaman Pangan:

Analisis Pernan Sektor Pertanian Tanaman Pangan Terhadap Perekonomian Provinsi Jawa Timur

Analisis Pernan Sektor Pertanian Tanaman Pangan Terhadap Perekonomian Provinsi Jawa Timur

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peranan sektor pertanian terhadap perekonomian Provinsi Jawa Timur danketerkaitan sektor pertanian dengan sektor-sektor lain. Dimana pengukurannya menggunakan metode analisis Input – Output.Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tabel Input – Output Provinsi Jawa Timur 2005 – 2010 klasifikasi 19 sektor yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur dan PDRB Provinsi Jawa Timur tahun 2010 atas Dasar Harga Berlaku yang diperoleh dari BadaPusat Statistik Provinsi Jawa Timur. Pembangunan sektor pertanian tanaman pangan arti luas akan memberikan dampak terbesar dalam meningkatkan output yang dihasilkan oleh perekonomian Provinsi Jawa Timur secara keseluruhan melalui sektor tanaman pangan dengan nilai keterkaitan langsung tidak langsung kebelakang sebesar 1,331. Sementara itu, sektor peternakan dan hasil-hasilnya merupakan sektor yang mengalami peningkatan output terbesar sebagai akibat adanya perubahan permintaan akhir Provinsi Jawa Timur secara keseluruhan yang dilihat dari hasil keterkaitan langsung tidak langsung kedepan dengan nilai 1,375.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Analisis Peranan Sektor Pertanian Tanaman Pangan Terhadap Perekonomian Provinsi Jawa Timur

Analisis Peranan Sektor Pertanian Tanaman Pangan Terhadap Perekonomian Provinsi Jawa Timur

Penurunan sektor pertanian pada Provinsi Jawa Timur akan menjadi masalah serius jika tidak ditangani dengan segera. Selain itu, potensi pertanian di Provinsi Jawa Timur juga tersebar di seluruh wilayahnya, dimana Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu penyumbang terbesar penyandang (lumbung) pangan nasional, terutama padi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peranan sektor pertanian terhadap perekonomian Provinsi Jawa Timur danketerkaitan sektor pertanian dengan sektor-sektor lain. Dimana pengukurannya menggunakan metode analisis Input – Output.Hasil pengukuran menunjukkan perubahan permintaan akhir terhadap sektor pertanian akan memberikan dampak peningkatan output yang dihasilkan oleh Perekonomian Provinsi Jawa Timur melalui sektor tanaman pangan dengan nilai keterkaitan langsung tidak langsung kebelakang sebesar 1,331. Sementara itu pembangunan akan memberikan dampak yang cukup baik dalam menggerakkan aktivitas sektor hulunya melalui sektor peternakan dan hasil-hasilnya dengan daya penyebaran sebesar 1.003 dan mendorong aktivitas sektor hilirnya melalui sektor perikanan dengan derajat kepekaan sebesar 0,971.
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

Pengembangan Komoditas Unggulan Sektor Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Karangasem Melalui Pendekatan Agribisnis

Pengembangan Komoditas Unggulan Sektor Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Karangasem Melalui Pendekatan Agribisnis

cukup besar dari pemerintah dikarenakan peranannya yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi adalah sektor pertanian. Sektor pertanian dalat menjadi basis dalam menggambarkan kegiatan ekonomi pedesaan melalui usaha berbasis pertanian yaitu agribisnis. Agribisnis merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penanganan komoditi pertanian dalam arti luas meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi. Pengolahan masukan dan keluaran produksi (agroindustri), pemasaran dan kelembagaan penunjang kegiatan [2]–[3]–[4].
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Identifikasi Kawasan Agropolitan  Di Kecamatan Wanasalam

Identifikasi Kawasan Agropolitan Di Kecamatan Wanasalam

Wanasalam memiliki potensi besar dalam sektor pertanian tanaman pangan seperti padi,palawija, hortikultura dan perikanan Sektor pertanian memberikan andil cukup besar bagi perekonomian di Wanasalam, selain memiliki area yang cukup luas yaitu sekitar 4.466 ha, juga ditunjang dengan berbagai program usaha tani yang berwawasan bisnis danpencanangan daerah kawasan agropolitan di kabupaten Lebak yaitu pengembangan keterpaduan antara pemerintah dan petani, Wanasalam memiliki potensi sumber daya alam yang beragam diantaranya adalah subsector perikanan tangkap laut dan perikanan budidaya, perikanan tangkap laut merupakan salah satu sumber kehidupan masyarakat wanasalam terutama bagi penduduk yang berada diwilayah pesisir, pola kehidupanya sebagai nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya laut, dengan berbagai macam aturan dan kearifan lokal yang sudah menjadi tradisi dan budaya turun temurun.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ARAHAN PENGEMBANGAN USAHATANI TANAMAN PA

ARAHAN PENGEMBANGAN USAHATANI TANAMAN PA

Hal ini mengakibatkan tingkat produksi pertanian yang ada di Kecamatan Toroh belum mampu mengangkat perekonomian masyarakat sekitar sehingga perekonomian Kabupaten Grobogan masih tertinggal dan tidak berkembang. Melihat kondisi demikian diperlukan adanya upaya komplementasi antara sektor pertanian tanaman pangan dengan potensi lain dalam melanjutkan pembangunan. Cerminan ini menyiratkan bahwa pentingnya pengembangan sektor pertanian tanaman pangan di Kecamatan Toroh yang berfungsi sebagai penyediaan lapangan kerja, penyediaan keanekaragaman komoditas, dan mengurangi penduduk miskin dengan konteks kelokalan dan modernisasi serta berorientasi pada pasar. Untuk itu perlu adanya pengembangan sektor pertanian tanaman pangan melalui konsep agribisnis di Kecamatan Toroh guna mendukung perekonomian Kabupaten Grobogan. Konsep agribisnis sendiri adalah suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengelolaan hasil dan pemasaran yang ada hubungannya dengan pertanian dalam arti luas (Arsyad dkk, 1985). Keberhasilan pembangunan di Kabupaten Grobogan tentunya masih perlu ditingkatkan melalui pengembangan pertanian tanaman pangan di Kecamatan Toroh, mengingat produksi pertanian tanaman pangan per kesatuan luas (produktivitas) belum seperti yang diharapkan dan masih banyak potensi pertanian yang belum tergarap dengan baik seiring dengan berkembangnya industrialisasi (Harian Kompas, September 2008).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

DETERMINAN PRODUKTIVITAS LAHAN PERTANIAN SUBSEKTOR TANAMAN PANGAN DI INDONESIA

DETERMINAN PRODUKTIVITAS LAHAN PERTANIAN SUBSEKTOR TANAMAN PANGAN DI INDONESIA

Faktor lain yang tidak kalah penting memengaruhi produktivitas lahan pertanian tanaman pangan adalah tenaga kerja. Namun peningkatan jumlah tenaga kerja yang melim- pah jika tidak disertai kualitas tenaga kerja yang memadai akan menyebabkan dampak produktivitas yang negatif. Proporsi tenaga kerja di Indonesia khususnya di Pulau Jawa terutama pada agroekosistem lahan sawah relatif terdistribusi lebih merata antarkelompok umur, dibandingkan dengan di luar Jawa yang lebih banyak dilakukan pekerja muda (Susilo- wati dkk, 2008). Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS, sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja Indonesia dalam jumlah yang besar dari tahun 2005–2009, namun demikian tenaga kerja yang bekerja pada sektor pertanian tanaman pangan di pedesaan cenderung mengalami penurunan dari 19,37 juta orang menjadi 18,335 juta orang (BPS-Kementerian Pertanian, 2010).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Dampak Pembangunan Sektor Pertanian Pangan Terhadap Penyerapan Dan Pendapatan Tenaga Kerja Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Dampak Pembangunan Sektor Pertanian Pangan Terhadap Penyerapan Dan Pendapatan Tenaga Kerja Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Studi ini bertujuan untuk menganalisis dampak pembangunan sektor pertanian pangan terhadap penyerapan tenaga kerja dan pendapatan sektor pertanian pangan di Nusa Tenggara Barat. Sumber data dalam studi ini adalah Tabel Input-Output Nusa Tenggara Barat Tahun 2004. Hasil analisis menyimpulkan (1) setiap seribu rupiah peningkatan permintaan akhir akan berdampak terhadap peningkatan lapangan kerja sebanyak 3,81 orang, sebagian besar (69,25%) merupakan dampak dari konsumsi rumahtangga, sisanya 0,85%, 17,88%, dan 12,02% dampak dari konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor, (2) setiap seribu rupiah peningkatan permintaan akhir akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan tenaga kerja sebesar 253,06 rupiah yang sebagian besar (67,93%) merupakan dampak dari konsumsi rumahtangga, sisanya 0,54%, 18,06%, dan 13,46% dampak dari konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor. Dengan mempertimbangkan daya serap tenaga kerja, maka dalam upaya mengurangi pengangguran terbuka di perdesaan sektor pertanian pangan paling tepat dijadikan sebagai fokus pembangunan. Namun, mengingat tingkat pendapatan tenaga kerja di sektor pertanian pangan hampir tiga kali lebih rendah dibanding rata-rata keseluruhan sektor maka kebijakan pembangunan pertanian pangan lebih diarahkan kepada peningkatan infrastruktur seperti jalan, jembatan, saluran irigasi serta peningkatan kualitas tenaga kerja dalam rangka meningkatkan produktivitas.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Lakip Dinas Pertanian

Lakip Dinas Pertanian

Tujuan pembangunan pertanian tanaman pangan dan hortikultura tahun 2016-2020 adalah : 1) Meningkatkan produksi padi; 2) Meningkatkan produksi jagung; 3) Meningkatkan produksi kedelai; 4) Meningkatkan produksi Hortikultura; 5) Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM aparat pertanian; 6) Meningkatkan insfrastruktur pertanian dalam upaya peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura ; 7) Meningkatkan Penggunaan teknologi dalam efektifitas dan efisien usaha tani dilapangan ; 8) Mengendalikan hama dan penyakit tanaman serta mengantisipasi perubahan iklim yang dapat menyebabkan kegagalan panen ; 9) Memberdayakan masyarakat melalui usaha tanaman hortikultura dalam peningkatan kesejahteraan petani.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

bab III - bab IV LakIN DPPK  2016

bab III - bab IV LakIN DPPK 2016

Sasaran ketiga dari Indikator Kinerja Utama Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan adalah Menurunkan Kasus Penyakit Hewan dan Ternak. Indikator yang diukur pada sasaran ketiga adalah Kasus Kejadian Penyakit Zoonosis. Realisasi kasus kejadian penyakit zoonosis pada tahun 2016 tidak terjadi atau 0 (nol) kasus jika realisasi dibanding dengan target 2016 sebesar 0 (nol) kasus maka persentase capaian kinerja untuk indikator ketersediaan daging itik adalah sebesar 100%. Sedangkan angka realisasi kinerja dan persentase capaian tahun lalu 2016 yaitu 0 (nol) kasus atau 100% jika realisasi kinerja tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2016 maka upaya dinas Pertanian, perikanan dan Kehutanan dalam mencegah terjadinya kasus zoonosis dapat dikatakan sangat berhasil hal ini dikarenakan inovasi Dokter Hewan Keliling (Dokkeling) yang dilakukan oleh Tim secara simultan dan terkoordinir dengan baik sehingga hal ini diharapkan dapat dipertahankan sesuai target angka pada perencanaan jangka menengah yaitu 0 (nol) kasus. Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2014 - 2016 menjadikan Penyakit Rabies sebagai kejadian luar biasa terdapat sebanyak 30 orang meninggal. Tidak terdapat korban dari di Kota Pontianak.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Petunjuk Teknis Pengelolaan Sarana Pascapanen dan Pengelolaan Hasil Tanaman Pangan  2016

Petunjuk Teknis Pengelolaan Sarana Pascapanen dan Pengelolaan Hasil Tanaman Pangan 2016

Jenis sarana pascapanen dan pengolahan hasil tanaman pangan secara rinci tertera pada Tabel 1 dan Tabel 2. Untuk Unit Pengolahan Hasil (UPH) jagung dan kedelai apabila sarana yang dibutuhkan tidak tertera pada Tabel 2 tersebut, maka dapat menyesuaikan dengan kebutuhan poktan/gapoktan. Jenis sarana pascapanen dan UPH Jagung/Kedelai yang menggunakan mesin (engine ) memiliki Sertiikat Produk Pengguna Tanda Standar Nasional Indonesia (SPPT-SNI) atau minimal memiliki laporan uji/Test Report yang masih berlaku dari lembaga pengujian yang ditunjuk oleh Kementerian.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

PERATURAN GUBERNUR 2017  sulselprovgoid SK KADIS RENJA

PERATURAN GUBERNUR 2017 sulselprovgoid SK KADIS RENJA

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu membentuk Keputusan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan tentang Rencana Kerja Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015;

Baca lebih lajut

Sensus Pertanian 2013 Hasil Pencacahan Survei Pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian

Sensus Pertanian 2013 Hasil Pencacahan Survei Pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian

Tabel/Table 24.8. Rata-rata Pendapatan Rumah Tangga Pertanian dengan Sumber Pendapatan Utama Dari Penangkaran Tumbuhan/Satwa Liar Menurut Provinsi dan Sumber Pendapatan/Penerimaan Selama Setahun (000 Rp) Average of Income of Agricultural Household with Breeding of Wild-Life Plant/Animals as the Main Source of Income by Province and Sources of Income/ Revenue During a Year (IDR 000)

160 Baca lebih lajut

Pengelolaan Pertanian Tanaman Pangan di

Pengelolaan Pertanian Tanaman Pangan di

Paul Vidal de la Blache (1845–1918) mengemukakan konsep Genres de vie” (ways of life) atau kebiasaan hidup, yang menggambarkan pola-pola kehidupan (dengan subjek historis dan budaya). Genres de vie meliputi semua gagasan, kebiasaan, dan hal-hal yang berkaitan dengan budaya sebagai kesatuan hidup. Hal-hal tersebut meliputi tradisi, rumah adat, aktivitas pertanian, dan kebiasaan nyata lainnya. Berkaitan dengan konsep tersebut terhadap pola perilaku petani Indonesia yang sering mengggunakan pengetahuan lokal dalam aktivitas sektor pertanian diantaranya yaitu budaya masyarakat sunda menyimpan padi pada sebuah lumbung padi (leuit) yang dapat mempertahankan kualitas dari padi tersebut meskipun disimpan selama puluhan tahun, hal tersebut karena mereka menyimpan padi tanpa melepas dari tangkainya, ini berbeda dengan yang saat ini dilakukan oleh masyarakat modern yaitu menyimpan beras bukan padi. Cara menyimpan hasil panen (beras) yang dilakukan oleh masyarakat modern tidak dapat mempertahankan kuliatas dari beras tersebut jika disimpan terlalu lama.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Pengaruh Investasi Swasta dan Tenaga Kerja terhadap PDRB Sektor Pertanian, Sub-sektor Tanaman Pangan, Perkebunan, Peternakan

Pengaruh Investasi Swasta dan Tenaga Kerja terhadap PDRB Sektor Pertanian, Sub-sektor Tanaman Pangan, Perkebunan, Peternakan

Berdasarkan hasil estimasi di atas dapat dilihat bahwa investasi yang diukur melalui PMA dan PMDN riil serta tenaga kerja berperan dalam mendorong kinerja PDRB sektor pertanian, sub-sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan. Seperti halnya investasi, peningkatan tenaga kerja juga berperan dalam mendorong PDRB sektor pertanian, sub-sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan, hasil ini secara umum sesuai dengan hipotesis penelitian. Secara teoritis, modal dan tenaga kerja merupakan input produksi, dengan demikian peningkatan kedua input ini akan mendorong peningkatan output. Bila dilihat secara detail pada Tabel 16, pengaruh parsial dari investasi (PMDN dan PMA) tidak sebesar tenaga kerja, hal ini terlihat dari nilai elastisitas PMA riil yang berkisar antara 0.020-0.039 sedangkan PMDN riil berkisar antara 0.031-0.069. Elastisitas tenaga kerja berkisar antara 0.160 – 0.793. Hasil ini mengimplikasikan bahwa PDRB sektor pertanian, sub-sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan lebih didorong oleh faktor tenaga kerja dibandingkan investasi. Temuan dalam studi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki karakteristik padat karya (labor intensive) dibandingkan dengan capital intensive. Secara empiris hasil ini juga dapat dilihat berdasarkan data BPS dimana selama beberapa dekade terakhir sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja sektor-sektor yang lain.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

STRATEGI PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN SUB SEKTOR TANAMAN PANGAN DALAM UPAYA PENINGKATAN PDRB KABUPATEN PATI

STRATEGI PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN SUB SEKTOR TANAMAN PANGAN DALAM UPAYA PENINGKATAN PDRB KABUPATEN PATI

Pada dasarnya perencanaan merupakan sebuah upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi pada sebuah keseimbangan awal. Salah satu peran perencanaan adalah sebagai acuan bagi proses pembangunan untuk berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai. Permasalahan yang dikaji dalam skripsi ini adalah (1) Komoditas tanaman pangan apa saja yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif di Kabupaten Pati, (2) Bagaimana perencanaan pengembangan sub sektor tanaman pangan berdasarkan kelengkapan infrastruktur yang dimiliki di Kabupaten Pati. Subjek dalam penelitian ini adalah komoditas tanaman pangan di Kabupaten pati. Metode pengumpulan data menggunakan dokumentasi. Metode analisis data meliputi (1) Location Quotient (LQ), (2) Shift Share Esteban-Marquillas, (3) Tipologi Klassen, (4) Skalogram, (5) Overlay.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

PERENCANAAN PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN SUB SEKTOR TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN KULONPROGO

PERENCANAAN PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN SUB SEKTOR TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN KULONPROGO

Teori basis ekonomi menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah. Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumberdaya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja. Teori basis ekonomi menguraikan tentang potensi yang dimiliki suatu daerah dalam upaya untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Teori basis ini mengelompokkan struktur perekonomian menjadi dua sektor:

12 Baca lebih lajut

Analisis Kesejahteraan Rumah Tangga Peta (1)

Analisis Kesejahteraan Rumah Tangga Peta (1)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 63 Dari tabel 3.10 diatas, menunjukkan komponen pengeluaran rumah tangga tani atau yang disebut indeks yang dibayar oleh petani umumnya pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk biaya usahatani (biaya produksi dan penambahan barang modal). Besarnya persentase pengeluran konsumsi rumah tangga tani antara 42,22% (sub sektor peternakan, SPDT 2012) sampai 81,22% (sub sektor hortikultura, SPDT 2007), sementara persentase untuk biaya produksi dan penambahan barang modal dari 18,78% (sub sektor hortikultura, SPDT 2007) sampai 57,78% (sub sektor peternakan, SPDT 2012). Hal ini menunjukkan apabila terjadi kenaikan harga kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga yang cukup besar akan cepat mempengaruhi indeks yang dibayar petani, terutama pada sub sektor tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan.
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

ANALISIS SPASIAL PERKEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN  Analisis Spasial Perkembangan Sektor Pertanian Di Kabupaten Ngawi Tahun 2004 - 2013.

ANALISIS SPASIAL PERKEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN Analisis Spasial Perkembangan Sektor Pertanian Di Kabupaten Ngawi Tahun 2004 - 2013.

Komoditas Palawija berupa tanaman Jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai dan kacang hijau. Masing-masing tanaman memiliki karakteristik fisik yang berbeda, seperti tanaman jagung lebih banyak di produksi di Kecamatan Karanganyar karena tanaman jagung hanya sesuai pada topografi dataran rendah dengan kelerengan < 2 - 5 % dan ketinggian 50 - 200 meter di atas permukaan air laut dengan iklim kering. Karena Kecamatan Karanganyar termasuk wilayah yang bergelombang termasuk zona antiklinorium yaitu perbukitan pegunungan kendeng dengan bermacam-macam jenis tanah yang berupa grumusol, alluvial karena dilewati oleh DAS Bengawan Solo, mediteran, litosol dan andosol.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS PENERAPAN STRATEGI PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN SUB SEKTOR TANAMAN PANGAN DALAM UPAYA PENINGKATAN PDRB KAB. LAMPUNG SELATAN - Raden Intan Repository

ANALISIS EFEKTIVITAS PENERAPAN STRATEGI PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN SUB SEKTOR TANAMAN PANGAN DALAM UPAYA PENINGKATAN PDRB KAB. LAMPUNG SELATAN - Raden Intan Repository

Perencanaan merupakan sebuah upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi pada sebuah keseimbangan awal. Salah satu peran perencanaan adalah sebagai acuan bagi proses pembangunan untuk berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai. Proses lajunya pertumbuhan ekonomi suatu daerah ditunjukkan dengan menggunakan tingkat pertambahan PDRB. Besar kecilnya kontribusi pendapatan setiap sektor ekonomi merupakan hasil perencanaan serta pertumbuhan yang dilaksanakan di daerah. Pada tahun 2011- 2015 sub sektor tanaman pangan selalu memberikan kontribusi yang besar terhadap PDRB sektor pertanian, akan tetapi laju pertumbuhannya mengalami fluktuasi. Keberhasilan pelaksanaan pembangunan daerah berkaitan erat dengan kualitas perencanaan pembangunan daerah, langkah yang telah diambil dalam pengembangan perekonomian Kabupaten Lampung Selatan dilakukan dengan strategi pengembangan sektor pertanian khususnya sub sektor tanaman pangan. Untuk melihat apakah suatu perencanaan strategi pengembangan telah berjalan efektif, maka dapat dilihat dari hasil yang telah didapatkan.
Baca lebih lanjut

163 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...