Self Esteem

Top PDF Self Esteem:

Self Esteem Harga Diri. pdf

Self Esteem Harga Diri. pdf

Dari sebuah penelitian tentang hubungan self esteem dengan usia, disebutkan bahwa harga diri cenderung menurun di masa remaja, meningkat di usia 20 tahun, mendatar di usia 30, meningkat di rentang 50-60 tahun dan menurun di usia 70 dan 80 tahun. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 326.641 responden, dengan rentang usia 9 hingga 90 tahun.

Baca lebih lajut

Book Review: Self Esteem Research, Theory, and Practice (Toward a Positive Psychology of Self Esteem).

Book Review: Self Esteem Research, Theory, and Practice (Toward a Positive Psychology of Self Esteem).

Bab dua, berfokus pada isu-isu metodologi tentang problem-problem dalam penelitian- penelitian Self Esteem, Problem-problem yang antara lain muncul adalah isu paradox misalnya apakah Self Esteem adalah trait atau state, atau apakah Self Esteem merupakan produk dari perkembangan atau proses perkembangan. Problem lain yang muncul adalah tentang cara pengukuran Self Esteem serta keilmiahan pengukuran. Bab tiga berisi penelitian-penelitian ilmiah terbaru dalam beberapa tahun terakhir. Penulis menambahkan kurang lebih 150 referensi penelitian terbaru dalam buku ini dibandingkan edisi sebelumnya. Melalui bab ini pembaca dapat memperoleh informasi tentang sumber-sumber pembentuk ataupun faktor-faktor yang mempengaruhi Self Esteem. Bab empat berisi tentang teori tentang Self Esteem mulai dari pendekatan tradisional seperti Jamesian Tradition, pendekatan kontemporer seperti Terror Management Theory and Sociometer Theory, bahkan sampai program-program yang dapat digunakan untuk meningkatkan Self Esteem seperti “Ten days to Self Esteem” dari Burns.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

NARSISME FACEBOOKER DITINJAU DARI SELF ESTEEM  Narsisme Facebooker Ditinjau Dari Self Esteem.

NARSISME FACEBOOKER DITINJAU DARI SELF ESTEEM Narsisme Facebooker Ditinjau Dari Self Esteem.

Perilaku aktif, mahasiswa menggunakan layanan online dapat dipengaruhi oleh kegunaan dan pemuasan kebutuhan pengguna, beberapa diantaranya adalah narsisme. Dimana terjadinya kecenderungan narsisme umumnya memiliki self esteem yang rendah, karena jatuhnya angan-angan ideal. Dalam kaitannya dengan penggunaan facebook, self esteem dapat membantunya untuk terhindar dari perasaan kecewa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara self esteem dengan narsisme facebooker. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara self esteem dengan narsisme facebooker. Hipotesis yang diajukan yaitu ada hubungan negatif antara self esteem dengan narsisme facebooker. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 orang, mahasiswa yang berusia 18-20 tahun, memiliki akun facebook yang aktif, dan merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah incidental sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis korelasi product moment menggunakan program bantu SPSS 19,0 For Windows Program. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh hasil koefisien korelasi rxy= -0,310 dengan sig= 0,001 (p ≤ 0,01). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara narsisme facebooker dengan self esteem. Sumbangan efektif (SE) self esteem terhadap narsisme facebooker sebesar 9,6% ditunjukkan oleh koefisien determinasi (r²) sebesar 0,096. Tingkat narsisme pengguna facebook tergolong rendah sedangkan tingkat self esteem tergolong tinggi.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

NARSISME FACEBOOKER DITINJAU DARI SELF ESTEEM  Narsisme Facebooker Ditinjau Dari Self Esteem.

NARSISME FACEBOOKER DITINJAU DARI SELF ESTEEM Narsisme Facebooker Ditinjau Dari Self Esteem.

Perilaku aktif, mahasiswa menggunakan layanan online dapat dipengaruhi oleh kegunaan dan pemuasan kebutuhan pengguna, beberapa diantaranya adalah narsisme. Dimana terjadinya kecenderungan narsisme umumnya memiliki self esteem yang rendah, karena jatuhnya angan-angan ideal. Dalam kaitannya dengan penggunaan facebook, self esteem dapat membantunya untuk terhindar dari perasaan kecewa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara self esteem dengan narsisme facebooker. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara self esteem dengan narsisme facebooker. Hipotesis yang diajukan yaitu ada hubungan negatif antara self esteem dengan narsisme facebooker. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 orang, mahasiswa yang berusia 18-20 tahun, memiliki akun facebook yang aktif, dan merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah incidental sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis korelasi product moment menggunakan program bantu SPSS 19,0 For Windows Program. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh hasil koefisien korelasi rxy= -0,310 dengan sig= 0,001 (p ≤ 0,01). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara narsisme facebooker dengan self esteem. Sumbangan efektif (SE) self esteem terhadap narsisme facebooker sebesar 9,6% ditunjukkan oleh koefisien determinasi (r²) sebesar 0,096. Tingkat narsisme pengguna facebook tergolong rendah sedangkan tingkat self esteem tergolong tinggi.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DENGAN SELF ESTEEM PADA WANITA DEWASA AWAL PENGGUNA SKINCARE  Hubungan Antara Body Image Dengan Self Esteem Pada Wanita Dewasa Awal Pengguna Skincare.

HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DENGAN SELF ESTEEM PADA WANITA DEWASA AWAL PENGGUNA SKINCARE Hubungan Antara Body Image Dengan Self Esteem Pada Wanita Dewasa Awal Pengguna Skincare.

This study aims to determine the relationship between body image and self esteem in early adult women who use skincare, to determine the role of body image with self-esteem in early adult women who use skincare and to determine the level of body image and the level of self-esteem in early adult women who use skincare. Researchers used quantitative methods to achieve the objectives of this research. Subjects used in this study is a student at the Faculty of Economics and Business, University of Muhammadiyah Surakarta 18-22 years old who use skincare products. The results of the correlation coefficient (r) of 0.234 with p value = 0.008 < 0.01, which means there is a very significant positive relationship between body image with self esteem in early adult women of skincare users. Based on the results of analysis variables self esteem has the empirical mean (RE) of 74.71 and the mean hypothetical (RH) of 60 which means that self-esteem is the subject of research is high. Variable body image have the empirical mean (RE) of 81.51 and the mean hypothetical (RH) of 75 which means that self-esteem is being classified as research subjects. The effective contribution of 5.5% of body image to self esteem.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Antara Self Esteem dengan Frekuensi Merokok Pada Remaja Putri Perokok di Lingkungan UKSW T1 802012704 BAB II

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Antara Self Esteem dengan Frekuensi Merokok Pada Remaja Putri Perokok di Lingkungan UKSW T1 802012704 BAB II

Self esteem dijelaskan Coopersmith (1967) sebagai penilaian yang dibuat individu tentang dirinya yang menimbulkan perasaan mampu, berarti, berhasil dan berharga. Penilaian diri ini selanjutnya mewarnai tingkah laku individu dan gaya berespon dalam menghadapi suatu stimulus atau situasi. Self esteem sebagai penilaian individu mengenai sejauh mana dirinya sebagai orang yang mampu, berarti, berhasil dan berharga, bersifat umum, dan relatif menetap selama beberapa tahun. Hal ini dipertegas oleh Lecky (1960) (dalam Marieta, 2000) bahwa penilaian diri relatif bertahan terhadap perubahan karena adanya kebutuhan akan keseimbangan psikologis dalam diri.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Cahaya Makbul, Harmaini, Ivan Muhammad Agung Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau email: harmainiuin-suska.ac.id Abstrak - Self Esteem, Siri’, dan Perilaku Agresif pada Suku Bugis: Sisi Gelap Self Esteem Tingg

Cahaya Makbul, Harmaini, Ivan Muhammad Agung Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau email: harmainiuin-suska.ac.id Abstrak - Self Esteem, Siri’, dan Perilaku Agresif pada Suku Bugis: Sisi Gelap Self Esteem Tingg

Secara umum hasil penelitian ini men- unjukkan bahwa self esstem dapat mening- katkan siri’, sehingga siri’ meningkatkan per- luang untuk berperilaku agresif. Namun hal yang patut dicatat adalah bukan berarti orang yang memiliki siri’ tinggi mempengaruhi ter- bentuknya perilaku agresif. Siri’ merupakan salah satu nilai positif yang meliputi harga diri, martabat dan kehormatan individu dalam memegang nilai-nilai yang ada dalam budaya Bugis. Perilaku agressf akan muncul melibat- kan banyak faktor baik internal dan eksternal. Perilaku agresif akan lebih mudah muncul jika individu berada pada situasi tertentu sep- erti, stuasi yang mengancam terhadap ego, dan kehormatan diri (Baumeister, dkk., 1996; Bushman, & Baumeister, 1998, Salmivalli, 2001). Dengan demikian indvidu yang memi- liki siri’ tinggi akan mudah melakukan perlaku agresif jika dihadapkan pada situasi yang dipersepsikan membuat drinya terancam atau yang tidak menyenangkan.Beberapa keterbatasan dalam penelitian, pertama, jum- lah dan variasi subjek belum mewakili data demografi yang ada sehingga belum dapat menggambarkan secara keseluruhan. Ked- ua, eksplorasi konsep siri’ belum dilakukan secara mendalam karena keterbatasan refer- ensi khususnya dalam pengukuran siri’ terse- but, ketiga, pengujian hubungan self esteem, siri’, dengan perilaku perilaku agresif tidak di- lakukan pada situasi yang spesifik dan hanya secara umum.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERSAHABATAN DENGAN SELF ESTEEM  Hubungan Antara Persahabatan Dengan Self Esteem.

HUBUNGAN ANTARA PERSAHABATAN DENGAN SELF ESTEEM Hubungan Antara Persahabatan Dengan Self Esteem.

Abstraksi : Rendahnya self esteem (harga diri rendah) sering dihubungkan dengan permasalahan gangguan mental seperti, depresi, kecemasan, dan permasalahan belajar. salah satu faktor yang mempengaruhi self esteem adalah persahabatan. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui hubungan antara persahabatan dengan self esteem , sehingga penulis mengajukan hipotesis ”Ada hubungan positif antara persahabatan dengan self esteem ”.

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERSAHABATAN DENGAN SELF ESTEEM  Hubungan Antara Persahabatan Dengan Self Esteem.

HUBUNGAN ANTARA PERSAHABATAN DENGAN SELF ESTEEM Hubungan Antara Persahabatan Dengan Self Esteem.

Rendahnya self esteem (harga diri rendah) sering dihubungkan dengan permasalahan gangguan mental seperti, depresi, kecemasan, dan permasalahan belajar. salah satu faktor yang mempengaruhi self esteem adalah persahabatan. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui hubungan antara persahabatan dengan self esteem , sehingga penulis mengajukan hipotesis ”Ada hubungan positif antara persahabatan dengan self esteem ” . Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa psikologi, UMS angkatan 2013 yang berjumlah 320. Teknik pengambilan sampel adalah incidental non random sampling yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Alat ukur yang digunakan untuk mengungkap variabel-variabel penelitian ada 2 macam alat ukur, yaitu : (1) skala persahabatan, dan (2) skala self esteem . Analisis data dalam penelitian ini menggunakan korelasi product moment. Berdasarkan hasil analisis maka diperoleh korelasi antara persahabatan dengan self esteem (r) sebesar 0,425 dengan p= 0,000 dimana p < 0,01, hal ini berarti ada hubungan positif yang sangat signifikan antara persahabatan dengan self esteem . Artinya, semakin tinggi persahabatan maka semakin tinggi self esteem subyek, dan sebaliknya semakin rendah persahabatan maka semakin rendah pula self esteem subyek.Rerata empirik variabel persahabatan sebesar 104,69 dengan rerata hipotetik sebesar 90. Jadi rerata empirik > rerata hipotetik yang menggambarkan bahwa pada umumnya subyek mempunyai persahabatan yang tinggi. Selanjutnya rerata empirik variabel self esteem sebesar 95,96 dengan rerata hipotetik sebesar 87,5. Jadi rerata empirik > rerata hipotetik yang berarti pada umumnya subyek juga mempunyai self esteem yang tinggi. Peranan persahabatan terhadap self esteem (SE) sebesar 18% artinya masih terdapat 82% yang mempengaruhi self esteem misalnya antara lain: pengalaman dalam keluarga, umpan balik dalam performance, perbandingan sosial, dan orang tua
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Penelitian - HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DAN SELF ESTEEM DENGAN PROKRASTINASI PADA SISWA SMK DARUL MUKMININ JAKARTA - Repository Fakultas Ekonomi UNJ

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Penelitian - HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DAN SELF ESTEEM DENGAN PROKRASTINASI PADA SISWA SMK DARUL MUKMININ JAKARTA - Repository Fakultas Ekonomi UNJ

Self esteem diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Romin W. Tafarodi and W.B. Swann yang disebut dengan self liking and self competence scale-revised (SLCS-R Items). Instrumen yang digunakan terdiri menjadi 4 bagian yang terdiri dari self competence negative item (SC-), self competence positive item (SC+), self liking negative item (SL-), dan self liking positive item (SL+). Instrumen ini telah digunakan oleh Eric Jabal dengan reabilitas sebesar 0,90 6 dan Ross B Wilkinson dengan reabilitas sebesar 0,90 7

18 Baca lebih lajut

Rancangan Program Pelatihan Untuk Meningkatkan Pengetahuan Ibu Mengenai Cara Mengembangkan Self Esteem (Harga Diri) Anak Usia 6-8 Tahun.

Rancangan Program Pelatihan Untuk Meningkatkan Pengetahuan Ibu Mengenai Cara Mengembangkan Self Esteem (Harga Diri) Anak Usia 6-8 Tahun.

Harga diri adalah dasar dari keberadaan anak dan kunci sukses ketika dia dewasa nanti . Berdasarkan hasil asesmen, peneliti tertarik untuk melakukan perancangan program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman Ibu mengenai cara mengembangkan harga diri anak usia 6-8 tahun. Dasar teori yang digunakan pada penelitian ini adalah Self Esteem,Susan Harter (1999) dalam Self Esteem Research, Theory and Practice (Mruck, 2006) dan Self Esteem: The Foundation of Good Behavior (Sears and Sears, 1995) Perancangan Program pelatihan menggunakan pendekatan Pengembangan Program Pelatihan (Kohls, 1995) dengan metode pembelajaran orang dewasa. Rancangan penelitian dalam uji coba program pelatihan ini menggunakan desain one group pre test – post test. Subjek dalam uji coba program pelatihan ini sebanyak 7 orang Ibu, usia berada pada rentang 36-40 tahun, memiliki anak yang duduk dikelas 1-3 SD, dengan latar belakang pendidikan SLTA sampai dengan S1. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan objective test dan observasi selama proses pelatihan. Pengujian hipotesis menggunakan statistik uji Wilcoxon Signed Rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan Ibu mengenai konsep dasar harga diri dan cara meningkatkan harga diri anak usia 6-8 tahun sebesar 12,17% dan peningkatannya signifikan (p = 0,018 < α=0,05) . Adapun peningkatan pengetahuan masing-masing subjek pada dimensi 1 adalah berkisar 6% hingga 26% dan peningkatan pengetahuan pada dimensi 2 berkisar 2% hingga 23,92%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rancangan program pelatihan cara mengembangkan harga diri anak usia 6-8 tahun dapat meningkatkan pengetahuan Ibu.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Hubungan Self esteem........ 2007

Hubungan Self esteem........ 2007

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran hubungan harga diri dengan ariable akademik mahasiswa prodi Psikologi FIP UPI Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan strategi korelasional (Sevilla et. Al., 1993). Objek penelitian ini adalah harga diri (self-esteem) mencakup rasa percaya diri (confidence) dan rasa mencintai diri (self-love); serta ariable akademik (academic achievement) yang diukur dari Indek Prestasi yang dicapainya.Penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik cluster sampling, yakni proses pemilihan satuan sampel yang dilakukan melalui pengelompokkan anggota populasi ke dalam cluster (kelas) dari dua angkatan. (Sugiarto et. Al., 2003). Penelitian ini secara keseluruhan dilaksnakan sesuai dengan jadwal setiap tahap kegiatan yang sudah ditetapkan. Lokasi penelitian ini adalah program studi psikologi Fakultas Ilmu Pemdidikan UPI Bandung. Alat ukur yang digunakan untuk menjaring harga diri Mahasiswa Prodi Psikologi UPI, dikembangkan berdasarkan variabel self-esteem dari Arnold H. Buss (1995). Pengembangan dari mulai operasionalisasi variabel, penjabaran aspek, sub-aspek, indikator dan pengembangan item. Setiap indikator dikembangkan menjadi beberapa item, dengan tujuan jika ada item yang tidak valid masih ada item lain yang mewakilinya. Berdasarkan hasil uji korelasi antar ariable diketahui secara berurutan bahwa harga diri (self-esteem) berkorelasi positif dengan angkatan 2004 (0,382 dengan p.< 0,01); dan Prestasi Akademik (0,483 dengan p. < 0,01) Sedangkan nilai self-esteem dengan aspek dan sub-aspek pembangunnya memiliki nilai korelasi positif dengan p. < 0,01. Gambaran tersebut melahirkan permasalahan menarik harga diri secara empirik terbukti memiliki peran dalam memprediksi prestasi. Secara lebih spesifik korelasi antara masing-masing dimensi harga diri berdasarkan konsep Buss (1985) dengan prestasi akademik. Artinya sistem pembelajaran di UPI ini mendorong prestasi akademik. Status dan pengalaman kehidupan di kampus dapat menjadi sumber peningkatan harga diri, mengingat dimensi harga dirinya seperti penampilan, kemampuan, kekuasaan, penghargaan sosial, pengalaman dan moralitasnya mendapat penguatan dari jati dirinya sebagai mahasiswa program psikologi yang termasuk katagori prodi faporit.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

S PSI 0806951 Chapter3

S PSI 0806951 Chapter3

Dimensi ini merujuk pada bagaimana seseorang mempersepsikan dirinya berdasarkan pandangan orang lain. pada dimensi ini jika individu mempercayai orang lain terutama seseorang yang berarti bagi individu tersebut menghargai dan menerima dirinya, maka individu tersebut dapat memiliki aspek self esteem sosial yang tinggi. individu yang memiliki social self esteem yang rendah seringkali mengalami kecemasan sosial dan selalu perhatian dengan keadaan dirinya ketika berada di tengah lingkungan, individu tersebut khawatir dengan bagaimana orang lain melihat dirinya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB III METODOLOGI PENELITIAN - PENGARUH HARGA DIRI DAN LOKUS KONTROL TERHADAP KINERJA PADA KARYAWAN PT TOSAMA ABADI DI BOGOR - Repository Fakultas Ekonomi UNJ

BAB III METODOLOGI PENELITIAN - PENGARUH HARGA DIRI DAN LOKUS KONTROL TERHADAP KINERJA PADA KARYAWAN PT TOSAMA ABADI DI BOGOR - Repository Fakultas Ekonomi UNJ

Penelitian dilaksanakan di PT Tosama Abadi yang beralamat di Jalan KH. Rafel Gg. Masjid At-Taqwa No. 29 Nagrak, Bogor. Tempat tersebut dipilih sebagai tempat penelitian karena merupakan perusahaan pemasok komponen otomotif yang berstatus OEM dan telah mendistribusikan produk- produknya ke berbagai perusahan otomotif di Indonesia. Menurut hasil pengamatan peneliti pada saat observasi, bahwa self esteem dan locus of control yang dimiliki karyawan mempunyai pengaruh terhadap kinerja yang dihasilkan karyawan tersebut.

Baca lebih lajut

Asuhan Keperawatan Konsep Diri Self Este

Asuhan Keperawatan Konsep Diri Self Este

yang tinggi. Sebaliknya remaja yatim piatu yang memiliki evaluasi yang rendah terhadap dirinya cenderung memiliki tingkat self esteem yang rendah. Menurut Branden (1994) bahwa remaja yatim piatu dengan self esteem tinggi mempunyai pikiran yang rasional dan realistis, tidak mudah cemas, kreatif, mandiri, fleksibel, mampu menghadapi perubahan, optimis, cenderung berambisi tinggi, bersifat bijaksana, Sedangkan pada remaja yatim piatu dengan self esteem rendah memiliki pikiran yang tidak rasional, gagal melihat realitas, kaku, ketakutan dengan hal baru, depresi, tidak tepat dalam menyesuaikan diri, banyak menggunakan mekanisme pertahanan diri, terlalu mengontrol perilaku, takut menghadapi permusuhan dengan orang lain, hidupnya pesimis, mudah kecil hati dengan usahanya, penetapan tujuan hidup rendah, individu cenderung tidak ingin berprestasi tinggi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

S PSI 0806951 Chapter4

S PSI 0806951 Chapter4

Angka -0,042 (b) merupakan bilangan konstan yang bila dikalian dengan tiap nilai variabel Y (Self Esteem) dan 15,185 (a) adalah bilangan konstan yang ditambahkan kepada setiap hasil kali b dengan variabel X (Sensation Seeking). Artinya jika level sensation seeking naik maka level self esteem akan turun sebesar -0,042; disini terjadi penurunan level dikarenakan nilai (b) merupakan minus dan tidak terdapat hubungan yang linear antara 2 variabel tersebut.

Baca lebih lajut

Efektivitas Rational Emotive Behavior Therapy Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Anak Enuresis (Effectiveness of Rational Emotive Behavior Therapy To Improve Self-Esteem In Enuresis Children)

Efektivitas Rational Emotive Behavior Therapy Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Anak Enuresis (Effectiveness of Rational Emotive Behavior Therapy To Improve Self-Esteem In Enuresis Children)

Bernard, M.E. (2008). Albert Ellis and The World of Children . Paper presented as part of the symposium “Albert Ellis: A Tribute To The Grandfather of Cognitive Behaviour Therapy” presented at the 43td Annual Conference of The Australian Psyhological Society, Hobart, Tasmania, September 2008. Branden, N. (1979) The Psychology of Self Esteem . New York. Bantam Book Burns. R.B. (1993). Konsep Diri. Teori, Pengukuran, Perkembangan dan

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN SELF-ESTEEM DENGAN PENCAPAIAN PRESTASI ATLET UKM SOFTBALL UPI BANDUNG.

HUBUNGAN SELF-ESTEEM DENGAN PENCAPAIAN PRESTASI ATLET UKM SOFTBALL UPI BANDUNG.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran self-esteem, gambaran prestasi dan hubungan antara self-esteem dengan pencapaian prestasi atlet UKM Softball UPI Bandung. Self-esteem sebagai variabel bebas dan prestasi sebagai variabel terikat. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Asosiatif dengan sampel sebanyak 18orang. Teknik pengambilan sampel ini menggunakan teknikStratified Random Sampling karena pengambilan sampel berdasarkan strata tertentu. Instrumen dalam penelitian ini adalah menggunakan angket SEI (Self Esteem Inventory) yang disusun oleh Coopersmith dan adaptasi dari Ryden (1978) kemudian dimodifikasi oleh peneliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Pearson Correlation dengan alpha level 0,01 dan dioperasikan dengan menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS) for Windows versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran dari self-esteem dan prestasi termasuk ke dalam kategori ”Sedang” dan terdapat korelasi yang positif dan signifikan antara self-esteem dengan pencapaian prestasi atlet UKM Softball UPI Bandung.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI  PENGARUH ROLE STRESS FIT TERHADAP KOMITMEN ORGANISASIONAL DENGAN SELF-ESTEEM SEBAGAI VARIABEL PEMODERASIAN PADA PEGAWAI PELAKSANA BEA DAN CUKAI YOGYAKARTA.

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI PENGARUH ROLE STRESS FIT TERHADAP KOMITMEN ORGANISASIONAL DENGAN SELF-ESTEEM SEBAGAI VARIABEL PEMODERASIAN PADA PEGAWAI PELAKSANA BEA DAN CUKAI YOGYAKARTA.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa self-esteem merupakan keyakinan karyawan terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka sangat penting dan berharga untuk organisasi. Individu dengan self-esteem yang tinggi memiliki kemampuan coping yang lebih efektif, sehingga kemampuannya dalam menghadapi tantangan serta kesehatan mentalnya dapat terjaga (Wilburn dan Smith, 2005). Engko (2006) membagi self- esteem menjadi dua dimensi yang dapat ditinjau dari kondisinya yaitu kondisi kuat dan kondisi lemah.

15 Baca lebih lajut

Show all 7407 documents...