semiotika John Fiske

Top PDF semiotika John Fiske:

KESIMPULAN DAN SARAN  REPRESENTASI PEREMPUAN DEWASA YANG TERBELENGGU DALAM TAYANGAN IKLAN TELEVISI Analisis Semiotika John Fiske pada Tayangan TVC Tri Always On versi Perempuan.

KESIMPULAN DAN SARAN REPRESENTASI PEREMPUAN DEWASA YANG TERBELENGGU DALAM TAYANGAN IKLAN TELEVISI Analisis Semiotika John Fiske pada Tayangan TVC Tri Always On versi Perempuan.

Metode analisis semiotika John Fiske bisa digunakan untuk mengkaji konstruksi realita sosial yang ada dalam tayangan iklan televisi. Struktur pengkajian kosntruksi realita sosial dilakukan dengan mengaplikasikan kode-kode televisi untuk membantu proses pemaknaan terhadap tanda-tanda, simbol-simbol, serta kode-kode budaya yang terdapat dalam setiap cuplikan iklan televisi. Kode-kode televisi terbagi ke dalam tiga tahapan, yakni level realitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas meliputi segala macam aspek dan unsur yang dinampakkan secara permukaan, misalnya: perilaku, lingkungan, penampilan, gerak isyarat, tata ria, dan kostum. Level representasi merupakan tahapan yang digunakan untuk mempertegas dan memperkuat makna level realitas dengan perspektif sinematografi, misalnya: camera work (shot, angle), tata cahaya (lighting), suara (sound), dan musik
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

REPRESENTASI PEREMPUAN DEWASA YANG TERBELENGGU DALAM TAYANGAN IKLAN TELEVISI Analisis Semiotika John Fiske pada Tayangan TVC Tri Always On versi Perempuan.

REPRESENTASI PEREMPUAN DEWASA YANG TERBELENGGU DALAM TAYANGAN IKLAN TELEVISI Analisis Semiotika John Fiske pada Tayangan TVC Tri Always On versi Perempuan.

Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif, paradigma kritikal, dan metode analisis semiotika yang menggunakan kode-kode televisi. Kode-kode televisi meliputi level realitas, level representasi, dan level ideologi. Ketiga level tersebut merupakan tools dari analisis semiotika yang berfungsi untuk mengkaji kode-kode, tanda-tanda, yang dibingkai dalam media televisi sehingga dapat membantu peneliti memaknai pesan komunikasi dari iklan tersebut.

15 Baca lebih lajut

Representasi Paternalisme Dalam Film The Lone Ranger (Analisis Semiotika John Fiske Mengenai Paternalisme dalam Film The Lone Ranger Karya GOre Vabinski)

Representasi Paternalisme Dalam Film The Lone Ranger (Analisis Semiotika John Fiske Mengenai Paternalisme dalam Film The Lone Ranger Karya GOre Vabinski)

Dari The Code of Television John Fiske di bawah diadaptasi bahwa kode-kode sosial pada level pertama adalah realitas dalam sequence dan realitas tersebut terdiri dari penampilan, busana, make-up, environment (lingkungan), behavior (kelakuan), speech (cara berbicara), gesture (bahasa tubuh), ekspresi. Kemudian realitas dalam sequence tersebut direpresentasikan melalui kamera, pencahayaan, editing, musik dan sound. Dan pada level ketiga hasil dari hubungan antara realitas dan representasi dalam sequence diterima secara sosial oleh ideological codes atau kode-kode ideologi, seperti: individualisme, patriarki, ras, kelas (penggolongan berdasar kelas sosial).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Representasi Cinta Tanah Air dalam Film 5 cm (Analisis Semiotika John Fiske mengenai Representasi Cinta Tanah Air dalam Film 5 cm)

Representasi Cinta Tanah Air dalam Film 5 cm (Analisis Semiotika John Fiske mengenai Representasi Cinta Tanah Air dalam Film 5 cm)

Film anak-anak diproduksi tidak sebanyak film roman dan horor namun film bertema ini seringkali sukses besar di pasaran. Film umumnya berkisah tentang perjuangan seorang anak atau sekelompok anak-anak untuk menggapai impian dan cita-citanya. Film-film anak-anak yang populer antara lain Denias, Senandung di Atas Awan karya John De Rantau. Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi (2009) karya Riri Reza diangkat dari novel best seller karya Andrea Hirata. Laskar Pelangi (2008) menjadi film terlaris di Indonesia dengan penonton mencapai 4.606.785. Film anak-anak tidak jarang pula dipadukan dengan genre olah raga, seperti Garuda di Dadaku (2009), King (2009), dan Tendangan Dari Langit (2011). Industri perfilman kita melakukan terobosan dengan memproduksi film animasi musikal melalui Meraih Mimpi (2009).
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  REPRESENTASI PEREMPUAN DEWASA YANG TERBELENGGU DALAM TAYANGAN IKLAN TELEVISI Analisis Semiotika John Fiske pada Tayangan TVC Tri Always On versi Perempuan.

PENDAHULUAN REPRESENTASI PEREMPUAN DEWASA YANG TERBELENGGU DALAM TAYANGAN IKLAN TELEVISI Analisis Semiotika John Fiske pada Tayangan TVC Tri Always On versi Perempuan.

20 Semiotika secara ringkas dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang tanda dan kode-kodenya serta penggunaannya dalam masyarakat. Beberapa definisi tentang semiotika telah dikemukakan oleh tokoh semiotika, seperti menurut Charles S. Pierce (Budiman, 2011:3) bahwa semiotika tidak lain daripada sebuah nama lain bagi logika, yakni doktrin formal tentang tanda-tanda. Sementara Ferdinand de Saussure berpendapat bahwa semiologi merupakan sebuah ilmu umum tentang tanda, suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda- tanda di dalam masyarakat (Budiman, 2011:3). Namun demikian, kedua tokoh semiotika di atas memiliki perspektif sendiri-sendiri tentang semiotika yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, bagi Pierce semiotika adalah suatu cabang dari filsafat; sedangkan menurut Ferdinand semiologi merupakan bagian dari disiplin ilmu psikologi sosial. Baik istilah semiotika maupun semiologi dapat digunakan untuk merujuk kepada ilmu tentang tanda-tanda tanpa adanya perbedaan pengertian yang terlalu tajam. Satu hal yang membedakan di antara keduanya, menurut Hawkens (Budiman, 2011:4) adalah bahwa istilah semiologi lebih banyak dikenal di Eropa yang mewarisi tradisi linguistik Saussurean, sementara istilah semiotika cenderung dipakai oleh para penutur bahasa inggris atau mereka yang mewarisi tradisi Peircian. Semiotika Media
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Rasisme Dalam Film Selma (Analisis Semiotika John Fiske Mengenai Realitas, Representasi Dan Ideologi Rasisme Dalam FilM Selma Karya Ava Du Vernay)

Rasisme Dalam Film Selma (Analisis Semiotika John Fiske Mengenai Realitas, Representasi Dan Ideologi Rasisme Dalam FilM Selma Karya Ava Du Vernay)

pemikiran John Fiske. Semiotika yang dikaji oleh Fiske antara lain membahas bahwa semiotika adalah studi tentang pertandaan dan pemaknaan dari sistem tanda, ilmu tentang tanda, tentang bagaimana makna dibangun, dalam “teks” media, atau studi bagaimana tanda dari jenis karya apapun dalam masyarakat yang mengkomunikasikan makna. Film merupakan merupakan bidang kajian yang sangat relevan bagi analisis srtuktural atau semiotika. Film umumnya dibangun oleh banyak tanda-tanda yang bekerja sama dengan baik dalam upaya mencapai efek yang diharapkan. Dalam menganalisis teks berbentuk gambar bergerak atau moving picture yang sering digunakan adalah teori tentang The Codes of Television. Teori ini menyatakan bahwa sebuah peristiwa yang digambarkan dalam sebuah gambar bergerak memiliki kode-kode sosial, kode- kode teknik, kode-kode representasional serta kode-kode konvesional
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Pesan Budaya Empat Etnik dalam Program "Gelar Seni" di TVRI Sulawesi Selatan (Suatu Analisis Semiotika John Fiske) - Repositori UIN Alauddin Makassar

Pesan Budaya Empat Etnik dalam Program "Gelar Seni" di TVRI Sulawesi Selatan (Suatu Analisis Semiotika John Fiske) - Repositori UIN Alauddin Makassar

Secara singkat kita dapat menyatakan bahwa analisis semiotika (semiotical analysis) merupakan cara atau metode untuk menganalisis dan memberikan makna- makna terhadap lambang-lambang yang terdapat suatu paket lambang-lambang pesan atau teks. Teks yang dimaksud dalam hubungan ini adalah segala bentuk serta sistem lambang (signs) baik yang terdapat pada media massa (seperti berbagai paket tayangan televisi, karikatur media cetak, film, sandiwara radio, dan berbagai bentuk iklan) maupun yang terdapat di luar media massa (seperti karya lukis, patung, candi, monumen, fashion show, dan menu masakan pada suatu food festival). Urusan analisis semiotik adalah melacak makna-makna yang diangkut dengan teks berupa lambang-lambang (signs). Dengan kata lain, pemaknaan terhadap lambang-lambang dalam tekslah yang menjadi pusat perhatian analisis semiotik. 16
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

Representasi Maskulinitas dalam Film (Analisis Semiotika John Fiske Mengenai Maskulinitas dalam Film “Miracle In Cell No.7”)

Representasi Maskulinitas dalam Film (Analisis Semiotika John Fiske Mengenai Maskulinitas dalam Film “Miracle In Cell No.7”)

Dalam pendekatan ini dikembangkan oleh Jaques Derrida (1967). Pendekatan post struktural ini dapat mengakomodasikan dinamika, ketidakpastian, gejolak, dan kegelisahan-kegelisahan yang mencirikan budaya ketidakberaturan serta lebih ditekankan pada proses penciptaan kreatif tanda dan kode-kode yang tanpa batas. Dengan begitu semiotika post struktural lebih mengarah kepada penciptaan suatu rantai pertandaaan yang baru dengan menanggalkan makna- makna konvensional dan kemudian secara bebas mencari makna-makna baru. Dalam pendekatan semiotika struktural terdapat dua model makna yang sangat berpenagruh. Dua model makna tersebut dikembangkan oleh Charles Sandes Pierce dan Ferdinand de Saussure, kedua model yang dikembangkan oleh mereka berpengaruh terhadap model-model berikutnya. Model makna dari Pierce yang melihat tanda, acuannya, dan penggunaannya sebagai sebuah titik dalam segitiga, serta masing-masing dari setiap elemen saling terkait satu sama lain, dan dapat dipahami hanya dalam artian pihak lain.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Representasi Maskulinitas dalam Film (Analisis Semiotika John Fiske Mengenai Maskulinitas dalam Film “Miracle In Cell No.7”)

Representasi Maskulinitas dalam Film (Analisis Semiotika John Fiske Mengenai Maskulinitas dalam Film “Miracle In Cell No.7”)

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena atas berkatNya yang luar biasa, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “ Representasi Maskulinitas dalam Film (Analisis Semiotika John Fiske Representasi Maskulinitas dalam Film “ Miracle In Cell No.7 ”). Penulisan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa tanpa adanya bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangat sulit bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada keluarga penulis, terutama kepada kedua orangtua penulis yakni ayahanda J. T. Purba dan Ibunda S. Sianturi yang setia memberikan semangat dan dukungan baik secara moril maupun materil kepada penulis.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PEMAKNAAN SAMPUL DEPAN BUKU JOHN FISKE (Studi Semiotik Terhadap Sampul Depan Buku Karya John Fiske yang berjudul “Cultural And Communication Studies, Sebuah Pengantar Paling Komprehensif”).

PEMAKNAAN SAMPUL DEPAN BUKU JOHN FISKE (Studi Semiotik Terhadap Sampul Depan Buku Karya John Fiske yang berjudul “Cultural And Communication Studies, Sebuah Pengantar Paling Komprehensif”).

sebuah ekspositor (dan karena itu pemikir) seperti Anda." antusiasme abad kesembilan belas untuk ukuran otak sebagai ukuran sederhana dari kinerja manusia, yang diperjuangkan oleh beberapa ilmuwan yang sangat cerdas (termasuk Darwin sepupu Francis Galton dan neurolog Perancis Paul Broca) dipimpin Fiske percaya pada keunggulan rasial dari "ras Anglo-Saxon" . Namun, tidak ada alasan yang baik untuk mempertimbangkan Fiske rasis asli atau Darwinis Sosial. Dalam bukunya "The Destiny of Man" (1884), ia mencurahkan satu bab ke "Akhir dari kerja seleksi alam atas manusia", dan menggambarkannya sebagai "fakta keagungan tak tertandingi." Dalam pandangannya, "tindakan seleksi alam sebagai manusia telah dasarnya berkurang melalui operasi kondisi sosial."
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

REPRESENTASI BUDAYA KORUPSI ( Studi Semiotik Terhadap Representasi Budaya Korupsi Dalam Iklan Rokok Djarum 76 Versi “Wani Piro” di Televisi ).

REPRESENTASI BUDAYA KORUPSI ( Studi Semiotik Terhadap Representasi Budaya Korupsi Dalam Iklan Rokok Djarum 76 Versi “Wani Piro” di Televisi ).

Berdasarkan analisis pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa dalam iklan produk rokok Djarum 76 versi “wani piro” menggunakan pendekatan John Fiske, maka disimpulkan dalam visualisasi iklan rokok Djarum 76 versi “wani piro” secara keseluruhan mengandung sindiran tentang ideologi budaya korupsi yang terdapat pada semua lapisan masyarakat di Negara kita. Hal tersebut dapat dilihat pada saat pegawai negeri tersebut meminta sogokan pungutan liar kepada pemuda, bahkan sampai jin pun meminta sogokan kepada pemuda tersebut, maka dapat menimbulkan kesan bahwa korupsi, sogokan, dan pungutan liar kerap kali terjadi di setiap lapisan masyarakat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MESAKKE BANGSAKU : STAND UP COMEDY BERISI KRITIK SOSIAL.

MESAKKE BANGSAKU : STAND UP COMEDY BERISI KRITIK SOSIAL.

Stand Up Comedy is a kind of comedy which delivered in a monologue to tell opinion, reveal anxiety to the audience. It is a media to convey social critics as a protest about any particular situation. Social critics are conveyed in a satire way and wordplays, but still in comedy context which brings laughter to the audiences. This research brings Pandji Pragiwaksono ’s Special Stand Up video “Mesakke Bangsaku” as an object analyzed in John Fiske’s semiotics method using realistic level with speech code and dress code where’s found 13 bits which represented social critics, representation level with action code which is supporting code for social critics representation, and ideological level with liberalism code which is g eneral description about “Mesakke Bangsaku”. The levels used to analyze how social critics represented in this video. This research shows that Stand Up Comedy is not just a humor but also a media of social critics.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

REPRESENTASI PILKADA DALAM FILM “KENTUT” (Analisis Semiotik Representasi Pilkada dalam Film “Kentut”) - FISIP Untirta Repository

REPRESENTASI PILKADA DALAM FILM “KENTUT” (Analisis Semiotik Representasi Pilkada dalam Film “Kentut”) - FISIP Untirta Repository

Film Kentut merupakan sebuah film komedi yang mengangkat pilkada sebagai tema cerita. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana representasi pilkada dalam film Kentut. Film diteliti menggunakan teori semiotika Roland Barthes dan dramaturgi Erving Goffman. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Analisis semiotika Roland Barthes yang digunakan adalah proses signifikasi dua tahap menggunakan tanda denotasi dan konotasi. Secara denotasi film ini menceritakan permasalahan sakitnya Patiwa yang akan mengikuti pilkada putaran kedua. Secara konotasi film ini menceritakan strategi pilkada dari pasangan calon yang lolos ke pilkada putaran kedua. Sedangkan dalam dramaturgi Erving Goffman penelitian difokuskan pada panggung depan dan panggung belakang tokoh. Masing-masing tokoh memiliki karakter yang berbeda ketika berada di panggung depan dan panggung belakang dan terdapat kesenjangan citra diri di dalamnya. Pilkada direpresentasikan sebagai sebuah praktek politik yang kotor karena banyak unsur negatif ditampilkan melalui film ini. Misalnya praktek politik uang, pemanfaatan popularitas artis, pemanfaatan peran agamawan, dan kuatnya kepercayaan terhadap unsur klenik sehingga respon masyarakat cenderung apatis. Oleh karena itu sineas harus berhati-hati dalam membuat film yang berkaitan dengan kepentingan rakyat seperti pilkada. Karena rakyat cenderung menerima apa yang ditampilkan sebagai bagian dari kenyataan. Penonton juga harus bersikap kritis dan mampu melakukan filterisasi sehingga hanya mengambil hal-hal positif dalam film.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

REPRESENTASI NILAI-NILAI DAKWAH ISLAM DALAM FILM AIR MATA SURGA KARYA HESTU SAPUTRA - Test Repository

REPRESENTASI NILAI-NILAI DAKWAH ISLAM DALAM FILM AIR MATA SURGA KARYA HESTU SAPUTRA - Test Repository

RAI (jaringan televisi). Pada 1962, Eco menerbitkan Opera apera (The Open Work). Tulisan-tulisannya muncul dalam II giorno, La stampa, Corriere della Sera, La Repubblica, L’Espresso dan II Manifesto. Pada 1966 dia pindah ke Milan dan menerbitkan Le poetisce di Joyce: dall “summa” al “Finneans Wake”. Di Milan dia mulai menyusun teorinya tentang semiotika La Struttura assente (The Absent Structure). Tahun 1976, ia menerbitkan A Theory of Semiotics. Lalu, pada 1979 Eco menyunting A Semiotic Landscape, kumpulan esai semiotika. Kemudian The Role of the Reader: Explorations in the Semiotics of Texts (1981) dan Semiothics and the Philosophy of Language (1984). Novel-novelnya antara lain The Name of the Rose (1983), Foucault’s Pendulum (1988), dan The Island of the Day Before. Eco mengenyam pendidikan dan lulus bidang filsafat dari University of Turin pada tahun 1954.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 2504 documents...