serat kulit rotan

Top PDF serat kulit rotan:

Analisa Termal Bionanokomposit Filler Serat Kulit Rotan

Analisa Termal Bionanokomposit Filler Serat Kulit Rotan

Dari Gambar 5, 6, dan 7 terlihat dengan pengisian serat kulit rotan secara umum tidak mempengaruhi sifat termalnya karena hampir sama dengan Gambar 9 yaitu hanya matrik berupa polipropillen saja tanpa penambahan serat, yang membedakan hanya kecuraman puncaknya saja. Hal ini terjadi karena massa sampel yang diuji sedikit dengan variasi 5 %, 10 %, dan 15 %. Ikatan serat dengan matriknya sangat kurang sehingga ketika bahan uji diambil dari sampel kemungkinan yang terambil adalah sebagian besar matriknya. Adanya perbedaan kecuraman puncak pada antara Gambar dengan perbedaan komposisi maupun matrik yang tidak ada penambahan seratnya menunjukkan bahwa bahan uji tersebut masih mengandung serat kulit rotan tetapi dengan jumlah relatif sedikit, sehingga efek pada pola termogram tidak terlalu banyak berpengaruh.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Biokomposit filler nanopartikel serat kulit rotan sebagai material pengganti komposit sintetis fiber glass pada komponen kendaraan bermotor

Biokomposit filler nanopartikel serat kulit rotan sebagai material pengganti komposit sintetis fiber glass pada komponen kendaraan bermotor

Dari keseluruhan hasil yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa bionanokomposit filler nanopartikel serat kulit rotan merupakan material baru yang bersumber dari kekayaan alam Indonesia khususnya pemanfaatan limbah pertanian yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan komposit sintetis. Diantaranya komposit ramah lingkungan dengan densitas yang kecil dan sifat mekanik (tensile breaking elongation, impact strength, modulus elasticity, hardness) yang lebih baik dari komposit sintetis yang saat ini digunakan pada aplikasi komponen sepeda motor, namun masih belum bisa diterapkan untuk mengganti atau mengurangi komposit sintetis pada industri. Hal ini dikarenakan sifat kelenturan dan kekuatan tarik yang masih berada dibawah standar, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut pada homogenisasi nanoselulosa, peningkatan kualitas ukuran dengan frekuensi ultrasonik > 20 kHz dan dilakukannya blending sebelum sintesa bionanokomposit dengan metode injeksi molding untuk meningkatkan tensile strength dan flexural strength.
Baca lebih lanjut

324 Baca lebih lajut

Pembuatan Dan Karakterisasi Papan Akustik Dari Campuran Serat Kulit Rotan Dan Perekatpolivinil Asetat

Pembuatan Dan Karakterisasi Papan Akustik Dari Campuran Serat Kulit Rotan Dan Perekatpolivinil Asetat

Telah dilakukan penelitian mengenai penyerapan energi bunyi oleh papan akustik dari campuran serat kulit rotan dan perekat polivinil asetat menggunakan metode tabung impedansi. Sampel dengan perbandingan komposisi serat kulit rotan : perekat PVAc sebesar 100% : 0 dan 90% : 10% memiliki NRC terbesar yaitu 0,9. Papan akustik serat kulit rotan telah memenuhi standar sebagai peredam bunyi berdasarkan ISO 11654 den gan α w 0,15 - 1. Densitas papan aksutik dari campuran

15 Baca lebih lajut

Sintesis Nanopartikel Serat Kulit Rotan dengan Metode Ultrasonikasi

Sintesis Nanopartikel Serat Kulit Rotan dengan Metode Ultrasonikasi

Sintesis nanopartikel serat kulit rotan dapat dilakukan dengan metode ultrasonikasi. Pada metode ini tidak diperbolehkan menggunakan larutan yang berupa asam kuat (pH < 7), hal ini dikarenakan larutan akan bereaksi dengan alat ultrasonikasi. Pemberian gelombang ultrasonik (frekuensi 20 kHz, amplitudo 30% dan daya 130 Watt) dalam medium cair pada serat kulit rotan dengan variasi waktu dan jenis surfaktan akan menimbulkan peristiwa kavitasi. Pada peristiwa kavitasi terjadi perubahan suhu dan perubahan tekanan pada gelembung, namun belum diketahui berapa tekanan yang diperlukan untuk gelembung saat mengalami collapse.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Biokomposit filler nanopartikel serat kulit rotan sebagai material pengganti komposit sintetis fiber glass pada komponen kendaraan bermotor

Biokomposit filler nanopartikel serat kulit rotan sebagai material pengganti komposit sintetis fiber glass pada komponen kendaraan bermotor

Pengolahan data SEM berdasarkan deteksi elektron sekunder (pantul) dari permukaan cuplikan. Elektron tidak menembus sampel tetapi hanya pantulan hasil dari tumbukan elektron dengan permukaan cuplikan yang ditangkap oleh detektor dan diolah menjadi gambar struktur obyek yang sudah diperbesar. Pada proses operasinya, SEM tidak memerlukan cuplikan yang ditipiskan, sehingga bisa digunakan untuk melihat obyek dari sudut pandang 3 dimensi. Morfologi permukaan nanopartikel serat kulit rotan menunjukkan semakin lama waktu ultrasonik, semakin kecil ukuran partikelnya, meskipun belum tercapainya ukuran yang homogen. Hal ini sesuai dengan pengamatan PSA bahwa hanya 32% dari keseluruhan cuplikan yang memiliki ukuran nanopartikel yang sama. Sementara 68% memiliki ukuran yang berbeda. Gambar 3.19 menunjukkan hasil morfologi permukaan nanopartikel serat kulit rotan pada waktu ultrasonik 0, 1 dan 3 jam yang berbentuk serat bulat memanjang ± 10 μm - 50 µm dengan diameter mengecil ± 100 nm seiring dengan bertambahnya waktu ultrasonikasi hingga 3 jam. Hal ini membuktikan bahwa selama proses ultrasonikasi telah terjadi fenomena kavitasi yaitu pecahnya partikel mikro menjadi nano karena pengaruh gelombang ultrasonik.
Baca lebih lanjut

171 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Serat Kulit Rotan yang Disintesa dalam Bentuk Nanopartikel pada Aplikasi Bionanokomposit dengan Metode High Energy Milling.

Pemanfaatan Serat Kulit Rotan yang Disintesa dalam Bentuk Nanopartikel pada Aplikasi Bionanokomposit dengan Metode High Energy Milling.

Ekstrusi merupakan proses pengolahan yang merupakan kombinasi dari pencampuran (mixing), pengulenan (kneading), pengadukan (shearing), pemanasan (heating), pendinginan (cooling), pencetakan (shaping). Prinsip pengoperasian untuk semua ekstruder adalah sama. Bahan baku dimasukkan dan dialirkan sepanjang ekstruder. Ketika bergerak sepanjang ekstruder, die yang kecil membatasi volume dan menghambat pergerakan bahan. Akibatnya bahan mengalami tekanan yang tinggi. Selama bergerak sepanjang ekstruder, screw memutar bahan dan mengubahnya menjadi semisolid yang bersifat plastis. Campuran PP, MAPP dan serat kulit rotan sebelum dicetak melalui proses compression dilakukan blending menggunakan single screw extrusion empat kali ulangan dengan kecepatan 45 rpm 19 . Didapatkan hasil berupa bulatan-bulatan bola (Gambar 18 a). Setelah itu dilakukan proses compression colin P 300P. Dan dilanjutkan dengan pemotongan sesuai dengan uji mekanik (Gambar 18 b).
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

Pembuatan Dan Karakterisasi Papan Akustik Dari Campuran Serat Kulit Rotan Dan Perekatpolivinil Asetat

Pembuatan Dan Karakterisasi Papan Akustik Dari Campuran Serat Kulit Rotan Dan Perekatpolivinil Asetat

Grafik 4.1 menunjukkan bahwa densitas papan akustik serat kulit rotan – perekat polivinil asetat yang dihasilkan meningkat dengan menurunnya komposisi serat kulit rotan. Hal ini disebabkan karena dengan massa total yang sama, pengurangan komposisi serat kulit rotan dan penambahan komposisi perekat PVAc memungkinkan dihasilkannya sampel dengan ketebalan yang sesuai dengan cetakan. Sedangkan pada komposisi serat kulit rotan 100% sampai 80%, sampel yang dihasilkan mengalami pemekaran (mengembang) setelah dikeluarkan dari cetakan karena jumlah perekat yang sedikit tidak memadai untuk mengikat serat secara merata dan menahan bentuk sampel agar tetap padat dan sesuai dengan cetakan sehingga ketebalannya bertambah. Bertambahnya ketebalan sampel menyebabkan volumenya membesar dan densitasnya menurun.
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

Pemanfaatan limbah kulit rotan sebagai short fiber filler biokomposit pada aplikasi box luggage sepeda motor

Pemanfaatan limbah kulit rotan sebagai short fiber filler biokomposit pada aplikasi box luggage sepeda motor

Pengembangan teknologi bioplastik dewasa ini mengalami kemajuan sangat pesat. Berbagai riset telah dilakukan di Indonesia dan negara maju dalam menggali berbagai potensi bahan baku biokomposit. Penelitian sebelumnya tentang selulosa biokomposit dibidang transportasi di antaranya pada industri perkapalan, Sisworo (2009) meneliti aplikasi biokomposit berbasis serat kulit rotan dalam bentuk anyaman dengan penguat polimer pada bodi kapal laut dengan hasil sifat mekanik komposit belum memenuhi standarisasi BKI. Produsen global Toyota (2002) mengembangkan dan memproduksi bioplastik berpenguat serat kenaf pada aplikasi bemper mobil dan hasilnya dapat diperoleh biokomposit yang lebih ringan, konsumsi energi produksi lebih rendah dengan sifat fisis dan mekanis yang sebanding dengan komposit sintetis yang selama ini digunakan. Sementara itu penelitian, pengembangan dan produksi biokomposit khususnya di bidang industri komponen sepeda motor belum pernah dilakukan, sehingga penelitian short fiber filler komposit serat kulit rotan dengan metoda injeksi molding merupakan kajian yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut, dengan penekanan pada pengujian sifat mekanis yang ditunjang dengan sifat termal. B. Perumusan Masalah
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pemanfaatan dan Pemasaran Rotan Oleh Masyarakat Kabupaten Samosir (Studi Kasus di Desa Huta Galung Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir)

Pemanfaatan dan Pemasaran Rotan Oleh Masyarakat Kabupaten Samosir (Studi Kasus di Desa Huta Galung Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir)

Batang rotan yang sudah tua banyak dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan dan perabot rumah tangga. Batang yang muda digunakan untuk sayuran, akar dan buahnya untuk bahan obat tradisional. Getah rotan dapat digunakan untuk bahan baku pewarnaan pada industri keramik dan farmasi. Manfaat tidak langsung dari rotan adalah kontribusinya meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan, peranannya dalam membentuk budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat. Batang rotan dapat dibuat bermacam- macam bentuk perabot rumah tangga atau hiasan- hiasan lainnya. Misalnya mebel, kursi, rak, penyekat ruangan, keranjang, tempat tidur, lemari, lampit, sofa, baki, pot bunga, da n seba gainya (Januminro, 2000 dalam Sinambela, 2011).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK SERAT KULIT WARU YANG DISUSUN LAMINASI BERMATRIK POLYESTER DENGAN ORIENTASI SERAT (45 Karakteristik Serat Kulit Waru yang Disusun Laminasi Bermatrik Polyester dengan Orientasi Serat (450,500,550) terhadap Sifat Fisis dan Mekanis.

KARAKTERISTIK SERAT KULIT WARU YANG DISUSUN LAMINASI BERMATRIK POLYESTER DENGAN ORIENTASI SERAT (45 Karakteristik Serat Kulit Waru yang Disusun Laminasi Bermatrik Polyester dengan Orientasi Serat (450,500,550) terhadap Sifat Fisis dan Mekanis.

Unsur utama dari bahan komposit adalah serat, serat inilah yang menentukan karakteristik suatu bahan seperti kekuatan, keuletan, kekakuan dan sifat mekanik yang lain. Serat berfungsi untuk menahan sebagian besar gaya yang bekerja pada material komposit, sedangkan matrik berfungsi untuk mengikat serat, melindungi, dan meneruskan gaya antar serat. Serat kulit Waru diperoleh dari pohon Waru (Hibiscu Tiliacius) merupakan serat yang mempunyai sifat mekanik yang baik. Sifat mekanik dari serat kulit waru dengan metode perlakun alkali dengan variasi arah serat sehingga didapatkan pemanfaatan yang tepat terhadap properties kekuatannya.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Karakteristik kekuatan komposit serat kulit pohon terap dengan variasi jumlah lapisan serat.

Karakteristik kekuatan komposit serat kulit pohon terap dengan variasi jumlah lapisan serat.

Penelitian yang telah dilakukan ini menggunakan serat alam yaitu kulit pohon Terap dengan variasi jumlah lapisan serat dengan susunan serat searah. Resin yang digunakan adalah resin Yukalac 235, katalis Mepoxe, dan hand body sebagai release agent. Komposit dibuat dengan menggabungkan 30% serat, 69,7% resin dan 0,3% katalis. Proses pencetakan komposit dilakukan dengan cetakan kaca berukuran 15 cm x 30 cm x 0,5 cm. Metode pengambilan data dilakukan dengan menguji tarik pada setiap benda uji komposit.

80 Baca lebih lajut

Pembuatan dan Karakterisasi Papan Komposit Berbasis Serat Durian (Durio Zibethinus Murr) Dengan Resin Poliester Chapter III V

Pembuatan dan Karakterisasi Papan Komposit Berbasis Serat Durian (Durio Zibethinus Murr) Dengan Resin Poliester Chapter III V

Dari Grafik 7. tampak bahwa kuat lentur tertinggi komposit serat kulit durian-resin polieter terdapat pada komposisi serat 0,3gr yaitu 46,439MPa dan kuat lentur terendah terdapat pada komposisi serat kulit durian 0gr, yaitu 12,736 MPa. Kuat lentur komposit bertambah seiring dengan bertambahnya serat kulit durian yang digunakan , namun mengalami penurunan pada komposisi 0,4gr yaitu 43,621MPa disebabkan komposisi serat yang terlalu banyak sehingga resin poliester tidak mampu mengikat secara homogen, penurunan kekuatan lentur komposit serat pendek acak ini disebabkan oleh
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pembuatan Tali Serat Berbahan Serat Alami Kulit Dalam Batang Melinjo (Gnetum Gnemon)

Pembuatan Tali Serat Berbahan Serat Alami Kulit Dalam Batang Melinjo (Gnetum Gnemon)

Biji melinjo panjangnya 2-2,5 cm dengan bentuk elipse, ujung meruncing pendek, dan terdiri dari tiga lapis kulit yaitu: sarcotesta, sclerotesta, dan endotesta. Sarcotesta (kulit luar) sewaktu muda berwarna hijau berangsur-angsur berubah warna menjadi kuning dan merah tua setelah masak. Sclerotesta (kulit tengah) berwarna cokelat dan keras apabila biji telah tua. Kulit yang keras dan kedap air ini merupakan salah satu faktor penghambat perkecambahan biji. Sedangkan endotesta (kulit dalam) merupakan selaput tipis yang melekat pada inti biji. Biji melinjo bersifat istimewa, yaitu sangat lamban dalam berkecambah. Sejak biji masak dan jatuh dari pohon, biji itu akan tidur dalam waktu yang cukup lama, bisa mencapai setahun atau lebih. Pada waktu itulah biji tidak mau berkecambah (Tim Penulis PS, 2002).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

KADAR SERAT DAN ORGANOLEPTIK MIE KULIT SINGKONG (Manihot utillisima) DENGAN PENAMBAHAN PEWARNA EKSTRAK  Kadar Serat Dan Organoleptik Mie Kulit Singkong (Manihot utillisima) Dengan Penambahan Pewarna Ekstrak Daun Katuk (Sauropus androgynus).

KADAR SERAT DAN ORGANOLEPTIK MIE KULIT SINGKONG (Manihot utillisima) DENGAN PENAMBAHAN PEWARNA EKSTRAK Kadar Serat Dan Organoleptik Mie Kulit Singkong (Manihot utillisima) Dengan Penambahan Pewarna Ekstrak Daun Katuk (Sauropus androgynus).

Hasil yang berbeda pada variabel B (ekstrak daun katuk) yaitu tidak ada pengaruh penambahan ekstrak daun katuk terhadap kadar serat dari mie. Hal ini karena kadar serat daun katuk sendiri rendah daripada tepung kulit singkong yang sekitar 1,5 g per 100 g (Haviva, 2007). Selain itu, daun katuk merupakan jenis pangan golongan sayuran B yaitu hemiselulosa (Waspadji (1990) dalam Kusharto, 2006). Hemiselulosa sendiri tergolong dari serat tidak terlarut (insoluble-fiber) (DepGis, 2012). Dengan demikian, penambahan daun katuk dalam bentuk ekstrak tidak berpengaruh terhadap kadar serat mie kulit singkong.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pembuatan Tali Serat Berbahan Serat Alami Kulit Dalam Batang Melinjo (Gnetum Gnemon)

Pembuatan Tali Serat Berbahan Serat Alami Kulit Dalam Batang Melinjo (Gnetum Gnemon)

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pembuatan Tali Serat Berbahan Serat Alami Kulit Dalam Batang Melinjo (Gnetum gnemon)”. Skripsi ini sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

8 Baca lebih lajut

II. TINJAUAN PUSTAKA  KUALITAS BISKUIT DENGAN KOMBINASI TEPUNG KACANG METE (Annacardium occidentale L.) DAN TEPUNG KULIT SINGKONG (Manihot esculenta).

II. TINJAUAN PUSTAKA KUALITAS BISKUIT DENGAN KOMBINASI TEPUNG KACANG METE (Annacardium occidentale L.) DAN TEPUNG KULIT SINGKONG (Manihot esculenta).

Umbi singkong memiliki diameter 2-8 cm dan panjang 10-50 cm. Bentuk umbi singkong lonjong dan tidak beraturan. Umbi singkong mengandung air sekitar 60%, pati 23%-25% serta protein, mineral, serat, kalsium dan fosfat. Menurut Ubaidillah (2009), umbi singkong terdiri dari kulit luar, kulit dalam, lapisan kambium, daging buah, dan inti buah. Kulit lapisan luar merupakan bagian umbi singkong yang bersentuhan dengan tanah. Di bawah kulit luar terdapat kulit dalam. Lapisan kulit dalam ini berupa kortex sehingga lapisan ini saling terikat dan sedikit keras. Lapisan inilah yang nantinya akan dikupas menjadi limbah kulit yang dapat dilihat pada Gambar 2.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Analisa struktur mikro pemanfaatan limbah kulit rotan menjadi nanopartikel selulosa sebagai

Analisa struktur mikro pemanfaatan limbah kulit rotan menjadi nanopartikel selulosa sebagai

Pada saat ini semakin meningkatnya penggunaan serat sintetis pada berbagai industri seperti industri perabot rumah tangga (panel, kursi, meja), industri kimia (pipa, tangki), alat- alat olah raga, industri transportasi (door trim, Box luggage, badan pesawat, baling-baling helikopter, body speed boat), dapat menimbulkan permasalahan akan limbah nonorganik serat sintetis yang semakin bertambah sehingga mampu mendorong perubahan trend teknologi komposit menuju natural composite yang ramah lingkungan. Serat alam mencoba untuk menggeser serat sintetis, seperti fiber glass, Kevlar-49, Carbon/ Graphite, Silicone carbide, Aluminium Oxide, dan Boron. Salah satu jenis serat alam yang tersedia secara melimpah adalah serat biomass kulit rotan (Jones, 1980).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

bahan 1

bahan 1

2. Bagaimana pengaruh penambahan selulosa nanokristal dari rotan dengan plasticizer gliserol dan co-plasticizer asam sitrat karakteristik biokomposit pati sagu meliputi analisa Scanning Electron Microscopy (SEM), karakteristik Fourier Transform Infra Red (FTIR), uji densitas ( density ), uji kekuatan tarik ( tensile strength ), pemanjangan pada saat putus ( elongation at break ) dan penyerapan air.

6 Baca lebih lajut

TUGAS AKHIR KARAKTERISTIK SERAT KULIT WARU YANG DISUSUN LAMINASI  Karakteristik Serat Kulit Waru yang Disusun Laminasi Bermatrik Polyester dengan Orientasi Serat (450,500,550) terhadap Sifat Fisis dan Mekanis.

TUGAS AKHIR KARAKTERISTIK SERAT KULIT WARU YANG DISUSUN LAMINASI Karakteristik Serat Kulit Waru yang Disusun Laminasi Bermatrik Polyester dengan Orientasi Serat (450,500,550) terhadap Sifat Fisis dan Mekanis.

Syukur Alhamdulillah, saya panjatkan kepada allah SWT atas segala rahmat dan nikmat-Nya sehingga penyusunan laporan penelitian ini dapat terselesaikan. Tugas akhir berjudul “ KARAKTERISTIK SERAT KULIT WARU YANG DISUSUN LAMINASI BERMATRIK POLYESTER DENGAN ORIENTASI SERAT (45 0 ,50 0 ,55 0 ) TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS ” dapat terselesaikan atas dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu dlam kesempatan ini saya selaku penulis dengan segala hormat dan ketulusan hati ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan sebesar – besarnya kepada :
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Studi Pembuatan Serat Makanan Dari Beberapa Kulit Sayuran

Studi Pembuatan Serat Makanan Dari Beberapa Kulit Sayuran

Daya serap air dari setiap kulit sayuran berbeda-beda. Hal ini tergantung dari unit yang menyusun serat tersebut, dimana semakin besar berat molekulnya maka daya serap semakin kecil. Kemampuan serat makanan untuk menyerap air dipengaruhi oleh ukuran partikel, distribusi dan jenis bahan. Sebagai contoh selulosa murni ( β - 1,4 melobiosa) dengan grade/kadar komersial, umumnya akan berkurang kemampuannya mengikat air dengan berkurangnya ukuran partikel. Menurut Grace et al., (1991) kemampuan mengikat air dari total dietary fiber tergantung dari besar pH dan jenis makanan. Kemampuan mengikat air akan berkurang jika pH mendekati netral, dan struktur akan pecah pada pH yang terlalu asam. pH optimal dalam mengikat air berada pada pH 4,5 sampai pH 5,5.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...