sistem sadap

Top PDF sistem sadap:

ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI BERBAGAI SISTEM SADAP PADA PANEL BO TANAMAN KARET (STUDI KASUS KEBUN BATUJAMUS JAWA TENGAH)

ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI BERBAGAI SISTEM SADAP PADA PANEL BO TANAMAN KARET (STUDI KASUS KEBUN BATUJAMUS JAWA TENGAH)

Pada panel BO, diperoleh hasil bahwa semua sistem sadap mampu menekan biaya lebih rendah daripada kontrol (S/2d2) melalui penghematan tenaga kerja penyadap karena intensitas sadapnya lebih jarang daripada d2 (kontrol), yang ditunjukkan dengan nilai ∆VC ≤ 0. Untuk nilai ∆NI > 0 dicapai oleh perlakuan sistem sadap B, C, E, F dan K. Perlakuan sistem sadap K (S/2d3.ET.2,5%.Ga.1. m/3) memiliki nilai ∆NI tertinggi, yang artinya sistem sadap K mampu menghasilkan p e n d a p a t a n b e r s i h p a l i n g t i n g g i dibandingkan sistem sadap lainnya. Dengan demikian, perlakuan sistem sadap B, C, E, F dan K masuk dalam kriteria ∆NI > 0 dan ∆VC ≤ 0 sehingga sistem sadap tersebut dapat diadopsi atau diterima untuk diterapkan lebih lanjut. Sejalan dengan pendapat Horton (1982) bahwa jika pendapatan bersih (NI) meningkat dan biaya variabel sama atau lebih rendah, maka teknologi baru sebaiknya diterima karena jelas lebih menguntungkan daripada teknologi konvensional yang sudah ada
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

OPTIMASI PRODUKSI KLON IRR SERI 200 DENGAN MENGGUNAKAN BEBERAPA SISTEM SADAP DI PENGUJIAN PLOT PROMOSI

OPTIMASI PRODUKSI KLON IRR SERI 200 DENGAN MENGGUNAKAN BEBERAPA SISTEM SADAP DI PENGUJIAN PLOT PROMOSI

Pendugaan karakteristik tipologi klonal setiap klon dapat dilakukan dengan mengamati respons tanaman terhadap beberapa sistem sadap yang diterapkan dan mengamati karakteristik metabolisme lateks berdasarkan hasil analisis diagnosis lateks. . Klon IRR 202, IRR 208, IRR 210 dan IRR 220 diduga memiliki metabolisme lateks yang tinggi dan tergolong dalam klon quick starter. Kecenderungan produktivitas yang tinggi diperoleh pada penyadapan dengan interval tinggi namun kurang responsif terhadap pemberian stimulan dan penambahan panjang irisan. Aplikasi stimulan dengan konsentrasi 2,5% hanya meningkatkan produksi kurang dari 5%. Selain itu, kulit pulihan kurang potensial sehingga pada irisan ganda (DC) produktivitas tanaman tidak meningkat. Secara spesifik klon quick starter lebih responsif terhadap irisan pendek ke arah atas dengan intensitas pemberian stimulan yang relatif rendah (Junaidi et al., 2010).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman karet, penelitian sistem eksploitasi terus dilakukan untuk mencari metode yang paling tepat untuk menghasilkan produksi yang tinggi dengan terhindar dari stres. Salah satu upaya yang sering dilakukan untuk meningkatkan produksi tersebut adalah dengan menggunakan stimulan (Sumarmadji, 2009). Hal ini juga dijelaskan oleh Junaidi dan Karyudi (2010) bahwa pemakaian stimulan pada pohon karet dewasa, sudah merupakan bagian integral dari sistem sadap terutama pada perkebunan besar.

12 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Pemilihan sistem sadap pada klon karet metabolisme rendah maupun tinggi sangat menentukan keberlanjutan produktivitas karet. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas karet disebabkan klon karet yang dikelola saat ini belum disertai dengan paket teknologi sadap yang spesifik. Masalah utama adalah penyadapan klon QS yang sering dijumpai antara lain KAS pada panel kulit perawan sehingga panel B0-I, sering tidak tuntas disadap. Diiringi dengan konsumsi kulit yang tinggi menyebabkan umur ekonomis tanaman lebih pendek (Siregar et al.,1997).

8 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Hasil penelitian menunujukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dari jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar sukrosa, fosfat anorganik, dan hasil antara klon PB 260 dan BPM 1 baik pada kulit pulihan maupun kulit perawan. Tetapi diperoleh kesimpulan khusus kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 dibandingkan dengan BPM 1. Hasil penelitian respons fisiologi dan produksi akibat perlakuan sistem sadap pada dua klon diperoleh bahwa kadar sukrosa lebih tinggi pada klon BPM 1 dibandingkan klon PB 260. Kadar sukrosa yang tinggi untuk klon BPM 1 menggunakan sistem sadap S/4 d3 ET/15d di bulan lembab, S/2U d ETG/9d (bulan basah) dan S/2U d3ETG/18d (bulan kering). Kadar FA lebih tinggi pada klon BPM 1 dibulan basah (S/2d3ETG/9d). dibandingkan klon PB 260. Akan tetapi pada bulan kering (S/2U d3ETG/18d) dan lembab (S/2U d3 ETG/9d) FA PB 260 lebih tinggi. Kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 di bulan basah dan kering (S/2U d3 ETG/9d) dibandingkan BPM 1. Pada bulan lembab perubahan sistem sadap dan stimulan tidak mempengaruhi kadar tiol pada klon PB 260. Kadar Karet Kering di bulan kering (S/4d3ETG/9d) dan lembab (S/2d3ET/15d) klon BPM 1 lebih tunggi dibandingkan PB 260. Kecuali di bulan basah PB 260 lebih tinggi dari BPM 1 (S/2 d3 ETG/9d). Indeks penyumbatan pada klon BPM 1 lebih rendah di bulan basah (S/2U d3 ET/15d), kering (S/4U d3 ETG/9d) dan lembab (S/4 d3 ETG/18d) dibandingkan klon PB 260. Produksi lateks dan indeks produksi pada klon BPM 1 lebih tinggi di bulan lembab dengan sistem sadap S/2U d3ETG/27d dibandingkan klon PB 260. Akan tetapi pada bulan basah dan kering (S/2U d3ET/15d) produksi dan indeks produksi tertinggi pada PB 260. Sistem eksploitasi S/2U d3 ET/15d pada klon PB260 pada bulan basah dapat meningkatkan hasil 135,51%. Sistem eksploitasi S/2U d3 ETG/27d pada klon BPM 1 dapat meningkatkan hasil 39,52% pada bulan kering dan 185,67% pada bulan lembab. Sistem eksploitasi S/2U d3 ETG/27d pada BPM 1 dapat meningkatkan hasil karet sampai 185.67% pada bulan lembab, sedangkan untuk klon PB 260 sistem eksploitasi S/2U d3 ET/15d dapat meningkatkan hasil 135,51% pada bulan basah. Selama satu tahun pengujian pemberian semua perlakuan stimulan pada klon
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

3. Denah percobaan lokasi Kebun Sungei Putih, PT. Perkebunan Nusantara III di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang dengan ketinggian 25 m di atas permukaan laut dan jenis tanah Ultisol……………………………………………………………... 121 4. Kecepatan Aliran Lateks Lateks klon BPM1 dengan perlakuan sistem sadap pada bulan Basah……………………………..…… 122 5. Kecepatan Aliran Lateks Lateks klon BPM1 dengan perlakuan sistem sadapi pada bulan Kering………………………………… 123

18 Baca lebih lajut

KOMBINASI SISTEM SADAP FREKUENSI RENDAH DAN PENGGUNAAN STIMULAN UNTUK OPTIMASI PRODUKSI DAN PENURUNAN BIAYA PENYADAPAN DI PANEL BO

KOMBINASI SISTEM SADAP FREKUENSI RENDAH DAN PENGGUNAAN STIMULAN UNTUK OPTIMASI PRODUKSI DAN PENURUNAN BIAYA PENYADAPAN DI PANEL BO

Produksi rata – rata karet kering (Kg/Ha/tahun) selama periode pengamatan pada panel BO-2 ditampilkan pada Tabel 1. Dari hasil pengamatan memperlihatkan bahwa rata – rata produksi karet kering (Kg/Ha/tahun) menunjukkan bahwa perlakuan sistem sadap perlakuan K menghasilkan produktivitas tertinggi dibandingkan dengan kontrol (A) dan perlakuan yang lain, namun tidak beda nyata dibandingkan kontrol secara statistik. Sedangkan pada perlakuan sadap frekuensi rendah (perlakuan E, F, dan H) menghasilkan produktivitas yang tidak beda nyata dibandingkan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan sadap frekuensi rendah potensi untuk diterapkan. Permasalahan pengusahaan perkebunan karet saat ini, yaitu harga karet yang cenderung fluktuatif dan sulitnya mencari tenaga sadap dapat diatasi dengan kombinasi sadap frekuensi rendah dan stimulan. Eschbach & Banchi (1985) dan Vijayakumar et al. (2001) menyatakan bahwa aplikasi etepon pada tanaman karet dapat menaikkan produktivitas lahan dan pekerja, sementara frekuensi sadap berkurang. Hasil penelitian ini memberikan harapan pada kawasan perkebunan karet yang memiliki permasalahan kelangkaan tenaga sadap. Sistem sadap F dan H dengan frekuensi sadap rendah masing-masing d4 dan d5 dapat dijadikan alternatif sistem sadap yang dapat diterapkan sebagai kompensasi tenaga sadap yang langka.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

ALTERNATIF SISTEM SADAP KLON RRIC 100 MULAI BUKA SADAP

ALTERNATIF SISTEM SADAP KLON RRIC 100 MULAI BUKA SADAP

Berdasarkan fakta tersebut, timbul pemikiran untuk mengubah arah sadap dari sadapan ke arah bawah menjadi sadapan ke arah atas sejak buka sadap. Sadapan ke arah atas pada klon GT 1 dan RRIM 600 dapat meningkatkan produksi hingga 54% pada tahun pertama sadap (Sivakumaran et al., 1985). Selain itu, Lukman (1995) melaporkan bahwa sadapan ke arah atas pada klon GT 1 meningkatkan produksi sebesar 34 - 46% di atas sadapan ke arah bawah. Junaidi dan Kuswanhadi (1995) menyatakan respons klon terhadap sadapan ke arah atas berbeda antar klon. Dengan sistem sadap ini, hubungan antara bidang sadap dan tajuk tanaman tetap terpelihara, sehingga gejala penyumbatan/blockage dapat dihindari dan aliran asimilat lebih efektif (D'Auzac dan Jacob, 1984). Selain itu, aliran lateks pada sadapan ke arah atas akan meningkat dengan dukungan gaya gravitasi (Junaidi dan Kuswanhadi, 1997).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas Chapter III V

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas Chapter III V

klon SS dan QS. Walaupun secara genetik klon PB 260 memiliki potensi hasil yang lebih tinggi, akan tetapi pada penelitian ini (Tabel 3.1), tidak terdapat perbedaan jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar sukrosa, fosfat anorganik, dan hasil antara klon PB 260 dengan BPM 1 pada kulit pulihan maupun perawan. Perbedaan yang khas pada karet umur >15 tahun ini adalah pada kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 dibandingkan dengan BPM 1, begitu juga kulit pulihan mengandung kadar tiol lebih tinggi dibandingkan dengan kulit perawan. Dalam tanaman, tiol berfungsi sebagai aktivator enzim yang berhubungan dengan stabilitas membran lutoid, memperpanjang lama aliran lateks dan mendukung produksi tinggi saat penyadapan (Sumarmadji et al, 2004). Tiol juga digunakan sebagai parameter pengontrol terjadinya kering alaur sadap (KAS). Dengan kata lain klon PB 260 yang tergolong kedalam klon QS pada umur >15 tahun masih memperlihatkan kemampuannya untuk melindungi dan menjaga stabilitas aliran lateks yang merupakann ciri dari klon QS.
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

DATA CURAH HUJAN KEBUN SUNGAI PUTIH TAHUN BULAN Kalsifikasi Iklim berdasarkan Oldeman Tipe Iklim berdasarkan Ilkim Oldeman a... Jenis klon Klon Metabolisme Rendah BPM 24 Klon Meta[r]

19 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Sumarmadji. 2011. Sistem Eksploitasi Tanaman berdasarkan Tipologi Klon (QS dan SS) dan Alternatif Sistem Eksploitasi lainnya (Expex-315 dan SS-CUT). Workshop Penggunaan Klon Unggul Baru dan Sistem Eksploitasi Tanaman Karet yang Tepat dalam Menghadapi Peningkatan Karet Alam Dunia. Medan 6 – 9 Desember 2011.

12 Baca lebih lajut

PENGARUH PRODUKTIVITAS TERHADAP HARGA POKOK KEBUN KARET DI JAWA TENGAH

PENGARUH PRODUKTIVITAS TERHADAP HARGA POKOK KEBUN KARET DI JAWA TENGAH

Kondisi lain yang membedakan antar kebun antara lain komposisi umur tanam, topografi, jumlah pohon, dan luas areal. Kebun E memiliki tren produksi naik, namun capaian produksi berkisar antara 750 – 1200 Kg/Ha/tahun dikarenakan merupakan kebun yang baru memiliki areal TM-1 pada tahun 2013. Pada tahun 2015 memiliki TM 1 hingga TM 3, sehingga seiring berjalannya waktu dan bertambahnya komposisi TM maka potensi produksinya juga akan memiliki tren kenaikan. Agar capaian produksi optimum diperlukan strategi seperti disiplin penerapan sistem sadap berdasarkan tipologi klon, anca tuntas, pemenuhan HK sadap dan manajemen tap recovery serta tapping school (Mahmudi, 2012; Rouf et al., 2016).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

AKTIFITAS METABOLISME BEBERAPA KLON KARET PADA BERBAGAI FREKUENSI SADAP DAN STIMULASI

AKTIFITAS METABOLISME BEBERAPA KLON KARET PADA BERBAGAI FREKUENSI SADAP DAN STIMULASI

maupun stimulasi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa mulai April 2010 sampai Maret 2012 dengan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan sistem sadap dan 3 ulangan, menggunakan klon PB 260, RRIM 600, dan PB 217 tahun tanam 2004. Hasil penelitian menunjukkan klon berproduksi tinggi (quick starter) dengan kandungan sukrosa rendah dan fosfat anorganik tinggi seperti PB 260, hanya membutuhkan pelukaan (wounding) untuk mengaktifkan metabolisme sel lateks, tidak membutuhkan stimulan dengan frekuensi yang tinggi untuk meningkatkan produksi. Stimulasi pada klon berproduksi tinggi hanya berfungsi untuk mengurangi adanya hambatan aliran. Sementara klon RRIM 600 dan PB 217 membutuhkan stimulan untuk mengaktifkan metabolisme sel lateks. Frekuensi stimulasi optimal untuk RRIM 600 dan PB 217 masing-masing adalah 12/y dan 24/y.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN STIMULAN SEJAK AWAL PENYADAPAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KLON IRR 39

PENGGUNAAN STIMULAN SEJAK AWAL PENYADAPAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KLON IRR 39

Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa, jenis tanah podsolik merah kuning, tinggi tempat 10 m diatas permukaan laut (dpl), dan curah hujan rata-rata 2267 mm/th. Penelitian dimulai Mei 2005 sampai Desember 2011, menggunakan klon IRR 39 tahun tanam 1999/2000 dengan jarak tanam 6 m x 3 m (populasi 555 pohon/ha). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan aplikasi stimulan dan dua ulangan. Pelumasan stimulan lateks dilakukan pada alur sadap (groove application = ga), yaitu dengan cara mengoles stimulan lateks sebanyak 0,5 g/p/aplikasi. Aplikasi dilakukan pada bidang sadap BO-1 pada 5 tahun pertama dan BO-2 pada periode selanjutnya setiap 15 hari sekali (2 kali per bulan) sebanyak 18 kali per tahun. Perlakuan stimulan lateks adalah sebagai berikut: (1) S/2 d3 + Ethrel 2%, (2) S/2 d4 + Ethrel 2%, (3) S/2 d3 + Ethrel 2,5%, (4) S/2 d4 + Ethrel 2,5 %, dan (5) Kontrol (tanpa perlakuan stimulan dengan sistem sadap S/2 d2. Jumlah sampel sebanyak 30 pohon untuk setiap perlakuan dan setiap ulangan, sehingga total tanaman yang digunakan adalah 300 pohon. Tanaman dipupuk secara teratur dua kali setahun sesuai anjuran Balai Penelitian Sembawa.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Disain dan kinerja pisau sadap elektrik untuk tanaman karet (hevea brasiliensis)

Disain dan kinerja pisau sadap elektrik untuk tanaman karet (hevea brasiliensis)

Tanaman karet pada umumnya disadap menggunakan pisau sadap manual. Pisau sadap manual tidak memiliki kendali konsumsi kulit dan kedalaman sadap. Untuk mengatasi konsumsi kulit dan kedalaman sadapan yang terkontrol maka dikembangkan pisau sadap mekanis atau elektris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendisain dan menguji kinerja pisau sadap elektrik. Adapun penentuan daya pemotongan dilakukan dengan mengukur tahanan pemotongan kulit tanaman karet umur 5-17 tahun menggunakan pisau sadap manual yang dilengkapi dengan sebuah ring transducer. Mekanisme gerak pahat bolak-balik telah dipilih untuk memotong kulit tanaman karet dan penggerak menggunakan motor listrik DC. Pisau sadap elektrik telah di disain untuk sistem sadap ke arah bawah dan dilengkapi dengan rol roda pengatur konsumsi kulit dan pengatur kedalaman irisan. Pisau sadap elektrik menggunakan daya motor listrik DC 66 Watt dan dioperasikan oleh seorang penyadap. Prototipe pisau sadap elektrik diujikan pada tanaman karet umur 5, 6 dan 8 tahun.
Baca lebih lanjut

250 Baca lebih lajut

Disain dan kinerja pisau sadap elektrik untuk tanaman karet (hevea brasiliensis)

Disain dan kinerja pisau sadap elektrik untuk tanaman karet (hevea brasiliensis)

Tanaman karet pada umumnya disadap menggunakan pisau sadap manual. Pisau sadap manual tidak memiliki kendali konsumsi kulit dan kedalaman sadap. Untuk mengatasi konsumsi kulit dan kedalaman sadapan yang terkontrol maka dikembangkan pisau sadap mekanis atau elektris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendisain dan menguji kinerja pisau sadap elektrik. Adapun penentuan daya pemotongan dilakukan dengan mengukur tahanan pemotongan kulit tanaman karet umur 5-17 tahun menggunakan pisau sadap manual yang dilengkapi dengan sebuah ring transducer. Mekanisme gerak pahat bolak-balik telah dipilih untuk memotong kulit tanaman karet dan penggerak menggunakan motor listrik DC. Pisau sadap elektrik telah di disain untuk sistem sadap ke arah bawah dan dilengkapi dengan rol roda pengatur konsumsi kulit dan pengatur kedalaman irisan. Pisau sadap elektrik menggunakan daya motor listrik DC 66 Watt dan dioperasikan oleh seorang penyadap. Prototipe pisau sadap elektrik diujikan pada tanaman karet umur 5, 6 dan 8 tahun.
Baca lebih lanjut

137 Baca lebih lajut

FORDA - Jurnal

FORDA - Jurnal

Beberapa teknik penyadapan pinus secara manual sudah banyak dikembangkan di Perum Perhutani. Teknik yang dimaksud di sini adalah cara penyadapan yang dilakukan, seperti cara penyadapan dengan menggunakan alat bor, alat kedukul/pethel atau dengan pisau sadap khusus untuk menghasilkan bentuk “V”. Alat pembuat luka batang pada kegiatan penyadapan pinus t e r s e b u t k e m u d i a n d i g u n a k a n u n t u k menyebutkan teknik penyadapan yang digunakan, misalnya teknik penyadapan bor berarti alat penyadapan yang digunakan adalah bor, demikian seterusnya. Sutjipto (1975) menyatakan bahwa cara penyadapan pinus yang dilakukan di Indonesia pada waktu itu (era 1975 an) adalah dengan cara quarre bentuk “U” terbalik. Lebih lanjut disebutkan bahwa teknik tersebut menyebabkan berkurangnya hasil kayu (karena pinus masih diprioritaskan untuk menghasilkan kayu bukan getah) dan pohon mudah roboh karena koakan batang pinus yang dibuat cukup lebar dan tinggi. Teknik sadapan bentuk ”V” atau disebut pola India (Sumantri dan Endom, 1989) j u g a s u d a h p e r n a h d i u j i c o b a k a n d a n direkomendasikan penggunaannya bersamaan dengan stimulan CAS 35% untuk memenuhi tujuan ganda pengelolaan hutan pinus, yaitu hasil
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Uji Antagonisme Jamur Trichoderma koningii dan Trichoderma harzianum Terhadap Penyakit Bidang Sadap Tanaman Karet Mouldy rot (Ceratocystis fimbriata) di Laboratorium

Uji Antagonisme Jamur Trichoderma koningii dan Trichoderma harzianum Terhadap Penyakit Bidang Sadap Tanaman Karet Mouldy rot (Ceratocystis fimbriata) di Laboratorium

Harif Nepen Marbun. 2016. “Uji Antagonisme Trichoderma koningii dan Trichoderma harzianum Terhadap Penyakit Bidang Sadap Tanaman Karet Mouldy rot (Ceratocystis fimbriata) di Laboratorium”,dibimbing oleh Hasanuddin dan Fatimah Zahara. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya antagonisme jamur Trichoderma koningii dan Trichoderma harzianum terhadap Ceratocystis fimbriatadi Laboratorium. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pusat Penelitian Karet Sungei Putih mulai bulan April sampai Desember 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan tiga perlakuan dan delapan ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur Trichoderma koningii dan Trichoderma harzianum berpotensi sebagai agen hayati untuk mengendalikan jamur Ceratocystis fimbriata. Hasil yang diperoleh untuk mengendalikan Ceratocystis fimbriata pada daerah hambatan adalah Trichoderma koningii 19,69% dan Trichoderma harzianum21,82%.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Perancangan Form Pemeriksaan bukti digit

Perancangan Form Pemeriksaan bukti digit

 Didalam file forensics.zip terdapat file Network.pcapng yang berisi account dari korban yang di sadap oleh pelaku dengan rincian penemuan yaitu user : tejo dan password : permisi  [r]

6 Baca lebih lajut

T JEP 1107282 Chapter3

T JEP 1107282 Chapter3

Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan teknik sadap, teknik sadap bebas libat cakap, rekam dan catat. Penyimakan dilakukan secara tertulis dengan teknik sadap yaitu penyadapan bahasa dilakukan dengan mencatat di mana peneliti akan melakukan pencatatan pada kartu data yang di dalamnya mencakup nomor kalimat, contoh kalimat, dan sumbernya terdiri dari nama penulis, tahun dan halamannya dari data yang bersumber pada karya cetak, sedangkan dari data yang bersumber dari data non cetak akan dilakukan pencatatan yang di dalamnya terdiri dari sumber dan waktu data diambil, lalu data kemudian akan dianalisis.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...