soal HOT

Top PDF soal HOT:

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BIOLOGI DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING)  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi Dalam Pembuatan Soal Hot (Higher Order Thinking) Di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten.

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BIOLOGI DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi Dalam Pembuatan Soal Hot (Higher Order Thinking) Di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten.

Berdasarkan pembahasan diatas, menunjukkan bahwa kemampuan guru Biologi di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten dalam membuat soal HOT sangat kurang baik (21,2%) karena soal ulangan harian didominasi oleh soal LOT (78,8%). Berdasarkan latar belakang guru, guru Biologi di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten yang bergelar S-2 dan memiliki pengalaman mengajar lebih lama memiliki kemampuan membuat soal HOT lebih besar dibanding guru yang bergelar S-1, sehingga dapat disimpulkan bahwa guru Biologi di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten kemampuan membuat soal HOT sangat kurang baik (21,2%) serta tidak sesuai dengan soal-soal yang terdapat PISA dan TIMSS (dalam Puspendik, 2011) yang seharusnya diterapkan pada siswa tingkat SMA yang akan lebih menuntut pada kemampuan menalar tinggi, memecahkan masalah, membuat keputusan, berargumentasi, berfikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikannya daripada soal-soal yang mengukur kemampuan teknis baku yang berkaitan dengan ingatan dan perhitungan semata.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PELATIHAN PENGEMBANGAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING)SEBAGAI PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU.

PELATIHAN PENGEMBANGAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING)SEBAGAI PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU.

Sebagai sasaran PPM adalah guru-guru kimia SMA se-Kabupaten Sleman yang dipilih secara random sampling, artinya dipilih satu dari beberapa guru kimia untuk setiap SMA yang ada di Kabupaten Sleman. Kegiatan PPM dilaksanakan pada hari Sabtu berturut-turut pada tanggal 23 April, 11 Juni, dan 23 Juli 2016 masing-masing di SMA 1 Seyegan, SMA N 1 Mlati, dan SMA N 1 Kalasan, menggunakan ceramah, diskusi, dan tanya jawab tentang permasalahan yang berkaitan pengembangan soal HOT, sekaligus latihan mengubah soal biasa menjadi HOT dan tugas kelompok berupa pengembangan soal HOT dan mempresentasikannya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN IPA DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) DAN KESESUAIAN  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN IPA DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) DAN KESESUAIAN Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional Sagala (2009). Salah satu komponen kompetensi pedagogik adalah evaluasi hasil belajar. Guru diharuskan dapat menyusun instrumen evaluasi belajar dengan baik agar tujuan dari evaluasi hasil belajar siswa dapat tercapai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan guru mata pelajaran IPA dalam pembuatan soal HOT dan kesesuaian penulisan soal di SMP Negeri 1 Kragan Rembang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif. Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan kemampuan guru mata pelajaran IPA dalam membuat soal HOT tergolong rendah (1,1%). Kemampuan guru membuat soal HOT berdasarkan taksonomi Bloom di SMP Negeri 1 Kragan Rembang adalah rendah (1,1%) sedangkan kemampuan guru membuat soal LOT berdasarkan taksonomi Bloom di SMP Negeri 1 Kragan Rembang tinggi (98,9%). Persentase soal ulangan buatan guru berdasarkan kesesuaian soal dengan kaidah penulisan soal untuk soal pilihan ganda (31,7%) dan soal uraian (62,2%).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BIOLOGI DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING)  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi Dalam Pembuatan Soal Hot (Higher Order Thinking) Di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten.

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BIOLOGI DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi Dalam Pembuatan Soal Hot (Higher Order Thinking) Di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “ Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten ”.

16 Baca lebih lajut

T1  Abstract Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Deskripsi Kemampuan LogicalMathematical dalam Menyelesaikan Soal Hot bagi Siswa Kelas X SMA N 1 Salatiga

T1 Abstract Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Deskripsi Kemampuan LogicalMathematical dalam Menyelesaikan Soal Hot bagi Siswa Kelas X SMA N 1 Salatiga

Deskripsi Kemampuan Logical-mathematical dalam Menyelesaikan Soal HOT bagi Siswa Kelas X SMA N 1 Salatiga Octaviana Ayu Harini1 , Kriswandani2 1 Program Studi Pendidikan Matematika[r]

1 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN IPA DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) DAN KESESUAIAN  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN IPA DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) DAN KESESUAIAN Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN IPA DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) DAN KESESUAIAN PENULISAN SOAL DI SMP NEGERI 1 KRAGAN REMBANG. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan guna mencapai derajat S-1 Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

PENDAHULUAN Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

Higher Order Thinking (HOT) merupakan tingkat pemahaman tinggi siswa dalam menyelesaikan soal. Disebut tinggi karena dalam menyelesaikan soal siswa diharuskan berpikir kritis dengan cara menganalisis soal dan mencari jawaban secara mandiri. Pada taksonomi Bloom baru versi Anderson (2010) yang termasuk dalam HOT adalah kategori soal C4 (menganalisis), C5 (menilai), dan C6 (mencipta). Kebalikan dari HOT adalah LOT (Lower Order Thinking) yang mencakup kategori soal C1 (mengingat), C2 (memahami), dan C3 (menerapkan). Pada penelitian ini dikhususkan pada soal HOT dikarenakan HOT mengarah pada kemampuan siswa berpikir kritis dalam menjawab soal dalam memecahkan permasalahan sehingga dapat diketahui kemampuan siswa secara mendalam.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Materi Bedah Kisi-Kisi Bahasa Indonesia | KKG Genuk SOAL HOT

Materi Bedah Kisi-Kisi Bahasa Indonesia | KKG Genuk SOAL HOT

Sabar dan Bijak Ala Gandhi http://www.andriewongso.com/articles/details/14525/Sabar-dan-Bijak-Ala-Gandhi Alkisah dahulu, ketika Mahatma Gandhi 1869-1948 sedang belajar Ilmu Hukum di U[r]

10 Baca lebih lajut

Model Kisi-kisi Soal HOTs Untuk Keterampilan Berpikir KISI SOAL HOT BIO 3

Model Kisi-kisi Soal HOTs Untuk Keterampilan Berpikir KISI SOAL HOT BIO 3

Disajikan pernyataan-tempat proses dan hasil akhir dalam 3 tahapan respirasi aerob , peserta didik dapat mengurutkan tempat dan produk yang dihasilkan pada proses respirasi aerob dengan[r]

2 Baca lebih lajut

 16672 20653 1 PB

16672 20653 1 PB

91 menerjemahkan informasi yang ada pada gambar dengan baik. Pada langkah selanjutnya yaitu merencanakan pemecahan soal, sebelumnya subjek SS mengumpulkan terlebih dahulu informasi yang diketahui pada soal dan gambar. Subjek SS menyebutkan langkah-langkah yang direncanakan untuk menyelesaikan permasalahan dengan lengkap yaitu mencari perbedaan dari penyajian diagram yang ada. Dalam menjelaskan rencana penyelesaiannya Subjek SS secara tidak langsung telah mampu untuk menentukan karakteristik soal terutama cara penyajian data sehingga dapat menentukan langkah yang tepat untuk menjawab pertanyaan. Selanjutnya yaitu melaksanakan rencana pemecahan soal. Subjek SS mampu menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana yang dibuat, meskiput masih salah dalam pengerjaannya. Subjek SS juga mampu menganalisis penyajian data yang berbentuk diagram dan mampu menyebutkan informasi yang ada pada diagram. Tahap terakhir yaitu memeriksa kembali. Pada saat memeriksa kembali penyelesaian yang sudah dikerjakan, Subjek ST mencermati kembali gambar diagram yang ada. Selanjutnya setelah tidak menemukan kesalahan, ketika subjek ST tidak mampu memberikan alternatif jawaban lain yang. 3. Hasil pemecahan soal HOT Subjek SR.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Lapak Biokimia Pengenalan Alat. docx

Lapak Biokimia Pengenalan Alat. docx

medan magnet berputar menyebabkan batang pengaduk terrendam dalam cairan berputar sangat cepat, sehingga aduk. Reaksi yang kimia terjadi dalam pembuluh kaca bar pengaduk magnet bekerja dengan baik dalam pembuluh kaca. Di sisi lain, keterbatasan ukuran bar berarti bahwa pengaduk magnet hanya dapat digunakan untuk percobaan yang relatif kecil. Prosedur kerja dari hot plate adalah menggunakan bidang magnetik berputar untuk membuat stir bar atau batang pengaduk yang tercelup didalam cairan menjadi berputar dengan sangat cepat sehingga mengaduk cairan tersebut hingga merata. Bidang beputar tersebut dapat dibuat baik dengan magnet berputar atau dengan satu set eletktromanet statis yang diletakkan dibawah bejana dengan cairan. Magnetic stirrer seringkali dilengkapi dengan lempengan pemanas untuk memanaskan cairan dalam bejana.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

327 Pengaruh Kekasaran Permukaan Terhadap Ketebalan Lapisan Hasil Hot Dipped Galvanizing (HDG)

327 Pengaruh Kekasaran Permukaan Terhadap Ketebalan Lapisan Hasil Hot Dipped Galvanizing (HDG)

Proses hot dipped galvanizing banyak digunakan dikarenakan efisien bisa dikerjakan dalam kondisi cuaca apapun, dalam skala besar cenderung lebih murah, proses pengerjaan yang cepat, lapisan hasil cenderung lebih tahan lama dibandingkan pelapisan lainnya, bisa melapis area tertentu misalnya daerah tepi (edges) maupun area bersudut, meningkatkan ketahanan abrasi dan korosi dan kekuatan ikatannya lebih besar. Kerugian hot dipped galvanizing ketebalan lapisan dari permukaan hot dipped galvanizing kurang merata dan rawan sekali terjadi distorsi jika dalam perencanaan prosesnya kurang maksimal. Hal tersebut beresuaian dengan penelitian yang dilakukan oleh Yadav [2] yang menyatakan bahwa bahwa lapisan paduan Fe-Zn hasil proses hot dip galvanizing memiliki laju korosi terendah dibanding lapisan lain.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH WAKTU TAHAN PROSES HOT DIPPING BAJA KARBON RENDAH TERHADAP KETEBALAN LAPISAN, KEKUATAN TARIK DAN HARGA IMPAK DENGAN BAHAN PELAPIS ALUMINUM.

PENGARUH WAKTU TAHAN PROSES HOT DIPPING BAJA KARBON RENDAH TERHADAP KETEBALAN LAPISAN, KEKUATAN TARIK DAN HARGA IMPAK DENGAN BAHAN PELAPIS ALUMINUM.

Pelapisan hot dipping adalah pelapisan logam dengan cara mencelupkan pada sebuah material yang terlebih dahulu dilebur dari bentuk padat menjadi cair pada sebuah pot atau tangki, menggunakan energi dari gas pembakaran atau menggunakan energi alternatif seperti panas listrik. Titik lebur yang digunakan pada pelapisan material ini adalah biasanya beberapa ratus derajat celcius (tidak melebihi 1000 o C). Yang harus dilakukan untuk mengerjakan proses hot dip adalah persiapan permukaan, komposisi kimia yang berhubungan dengan larutan kimia yang berhubungan dengan material logam (kemurnian dan komposisi campuran) dan temperatur.
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

isprsannals II 4 W2 137 2015

isprsannals II 4 W2 137 2015

In our work, we established a weighted bipartite network model to explore regularities in regional users ’ access behaviour. First, the accessed geographic information (tiles) was clustered to form hot access areas according to regional characteristics, then we analyzed the accessed interests and the regional characteristics of users when accessing hot access areas. Our results show that regional users WebGIS access patterns exhibit spatiotemporal regularity in both interests and visiting volume.

5 Baca lebih lajut

Kajian Metode Imputasi dalam Menangani Missing Data

Kajian Metode Imputasi dalam Menangani Missing Data

Pada sebuah survey, adakalanya tidak semua pertanyaan pada kuisioner dijawab atau diisi dengan lengkap oleh responden. Hal ini menyebabkan adanya missing data. Missing data akan mengakibatkan pendugaan parameter menjadi tidak tepat karena berkurangnya ukuran data. Telah dikembangkan beberapa metode untuk meminimalkan dampak negatif dari data hilang. P ada penelitian ini diambil sebuah contoh kasus penilaian mahasiswa terhadap dosen. Terhadap data ini, dilakukan analisis terhadap data set yang utuh. Kemudian dilakukan penghilangan data utuh sebesar 4,9% secara acak, sehingga diperoleh missing data. Kemudian missing data ini dianalisis menggunakan beberapa metode yaitu dengan menghapus data yang tidak lengkap, selain itu menggunakan metode imputasi. Metode imputasi yang dilakukan yaitu pertama menginput missing data dengan suatu nilai konstan, yang kedua dengan metode Hot Deck. Metode imputasi Hot Deck memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan menghapus data yang tidak lengkap maupun bila dibandingkan metode imputasi dengan nilai konstan. Besar nilai persentase kesalahan relatif berkaitan erat dengan banyaknya item yang diinput, semakin banyak item yang diinput maka semakin besar nilai persentase kesalahan relatif.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

BAGIAN UMUM RUP PENYEDIA

BAGIAN UMUM RUP PENYEDIA

LAM HOT HUTASOIT PEM BINA Tk.[r]

4 Baca lebih lajut

Decision Tree for PlayTennis

Decision Tree for PlayTennis

Training Examples Day Outlook Temperature Humidity Wind PlayTennis D1 Sunny Hot High Weak No D2 Sunny Hot High Strong No D3 Overcast Hot High Weak Yes D4 Rain Mild High Weak Yes D5[r]

29 Baca lebih lajut

DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN  TEKNIK PRESENTASI DAN NEGOSIASI PT. MACANAN JAYA CEMERLANGDALAM MEMENANGKAN TENDER.

DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN TEKNIK PRESENTASI DAN NEGOSIASI PT. MACANAN JAYA CEMERLANGDALAM MEMENANGKAN TENDER.

5 Hot Binding Machine Perusahaan memiliki lima 5 buah mesin Hot Binding/ Guing sehingga dapat merealisasi hasil produk dengan cepat dan kuat, dengan kualitas yang menjadi prioritas.. [r]

14 Baca lebih lajut

Hot Sauce   Heating Things Up

Hot Sauce Heating Things Up

Take a few peppers the number wholly depends on how hot your sauce will be like habanera or tabasco, a cup of water, 1/3 cup red wine vinegar, one bell pepper, a tablespoon of paprika, s[r]

1 Baca lebih lajut

Hot Chocolate Hits The Spot

Hot Chocolate Hits The Spot

I love the colder weather, I love the snow that falls to cover the ground and tree limbs, and I love taking any chance I get to be outside and enjoy the unique time of year.. There is no[r]

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...